Feng Ying

Feng Ying
109 -Pengkhianat


__ADS_3

"Maaf saja.. Tapi aku tidak mau mati saat ini. Aku mengejarmu untuk menghentikanmu membawa putri itu dan menggagalkan rencana kalian."


"Coba saja bila kau bisa." Ucap tetua dengan sinis. Ia memberikan isyarat tangan dan membuat Feng Ying melihat ke arah samping. Dilihatnya, seorang pria keluar dari balik pilar yang ada di dekat tempat itu.


Feng Ying mengerutkan kening. Pria itu adalah Jenderal yang bertarung dengannya tadi. Bernama Chu Kaili. Ia melihat ke arah tangan pria itu, namun ia tak melihat bila pria itu memakai cincin berhias giok merah ataupun jari kelingking yang dipotong. "Hoho.. Ternyata kau bukan anggota dari sekte itu. Tapi kau adalah pengkhianat di istana ini. Kau yang sudah memberitaukan informasi tentang ulang tahun putri pada orang orang sekte lembah tengkorak. Bukan bergitu, Jenderal?" Ucap Feng Ying sinis.


Jenderal itu hanya menatap Feng Ying dengan datar. Ia tidak peduli, Feng Ying mengatakan hal buruk tentangnya. Karna memang itu adalah kenyataan. Dirinya menjadi pengkhianat sejak 5 bulan lalu. Tetapi, ia juga terpaksa melakukannya. Keluarga kecilnya berada di tangan orang orang jahat itu. Bila ia tidak mengirimkan informasi tentang 'sesuatu' yang diincar mereka, maka mereka akan membunuh keluarganya.


Tentu saja Chu Kaili tidak ingin itu terjadi. Keluarga kecilnya sangat penting bagi dirinya. Bahkan ia rela untuk mengkhianati Kaisar demi melindungi keluarganya.


Bila Feng Ying mendengar alasan ini, maka pemuda itu pasti akan tertawa. Salah satu orang Jenderal yang dikatakan paling kuat di kekaisaran Liu berkhianat hanya demi menyelamatkan keluarganya. Sudah jelas bila kelemahannya adalah orang orang itu. Menurut Feng Ying, itu adalah tindakan bodoh.


Inilah alasan mengapa Feng Ying tak mau terikat dengan siapapun. Ia tidak ingin membuat kelemahan bagi dirinya sendiri.


Bila menurut orang lain, mereka pasti akan setuju dengan tindakan Jenderal. Keluarga atau orang terdekat lebih penting bagi mereka. Bila mereka harus mengorbankan sesuatu demi keselamatan orang orang itu, maka mereka akan melakukannya. Bahkan bila harus menjadi musuh satu kekaisaran.


"Kalian mengincar benda pemutar waktu bukan?", Feng Ying menatap tetua.


Tetua mengerutkan kening. Bagaimana bisa pemuda di hadapannya tau tentang itu?


"Dari informasi yang diberikan Jenderal itu pada kalian, maka benda pemutar waktu ada di tangan putri. Kalian ingin membawanya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari dia. Kalian juga takkan membawa putri keluar dari istana. Tetapi kalian hanya akan membawanya ke suatu tempat di istana ini. Semacam.. Ruang rahasia yang dibuat oleh Jenderal itu di istana tanpa sepengetahuan orang lain." Lanjut Feng Ying.


Tetua itu terkejut. Feng Ying mengetahui secara detail apa tujuan mereka. Siapa yang sudah memberitahu pemuda itu?


Tetua langsung melirik ke arah Jenderal. Ekspresi yang diperlihatkan Jenderal itu juga sama dengannya. Berarti bukan dia yang sudah mengatakan informasi ini. Lalu siapa? Apakah salah satu diantara temannya yang menyusup ke tempat ini?


"Baiklah, sudah cukup berbasa basi." Feng Ying mengeluarkan belati dari dalam cincin ruang miliknya dan langsung melemparkan itu ke permukaan tanah tepat di depan dua musuh.


Krraakkk


Tanah dimana belati tertancap lansung retak dan membuat kedua musuh Feng Ying menjaga jarak dengan melompat mundur.


"Kau urus dia. Aku yang akan membawa putri ke tempat persembunyian itu." Ucap tetua yang langsung diangguki Jenderal Chu Kaili. Iapun langsung berlari cepat dengan membawa Liu Mei menjauh.

__ADS_1


"Ugh.." Feng Ying memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. "Racun itu.. Ternyata sangat kuat. Dimana pak tua itu mendapatkannya?"


"Sebaiknya kau berhenti saja. Keadaanmu sangat kacau."


"Tidak perlu khawatir padaku seperti itu. Aku baik baik saja."


"Cih, siapa yang khawatir padamu? Aku tidak mengkhawatirkanmu sama sekali."


"Uh, kejam sekali.." Feng Ying tersenyum dalam hati.


"Berhenti mengatakan hal tidak penting. Sekarang kau urus saja dia dengan cepat!"


"Iya.. Iya.. Kau cerewet juga ternyata."


Feng Ying menyeka darah di sudut bibirnya. Iapun menatap Chu Kaili. Sebelum dirinya berucap, Chu Kaili sudah terlebih dahulu memulai pembicaraan. "Kau sepertinya sedang terluka. Wajahmu pucat. Kenapa masih memaksakan diri, huh?"


"Memangnya itu penting bagimu?" Feng Ying menaikkan sebelah alisnya.


Feng Ying menaikkan sebelah alisnya sambil terus menatap pil di tangannya, "Kenapa aku harus membantumu? Aku bahkan tidak meminta pil seperti ini darimu."


"Hanya kau di sini yang dapat kumintai bantuan. Bila kau sudah mengalahkan orang tadi, maka aku minta tolong padamu agar menanyakan tentang keberadaan keluargaku yang mereka sekap." Ucap Chu Kaili sambil berlutut di depan Feng Ying.


"Bentuk dan ukuran pil ini.. Sepertinya tak asing bagiku." Batin Feng Ying sambil terus memperhatikan pil yang ada di tangannya. "Itu tidak penting. Yang jelas, pil ini memang bisa menyerap sebagian racun yang masuk ke dalam tubuh."


Feng Ying menatap Chu Kaili yang berlutut di depannya, "Untuk apa aku membantumu? Aku tidak mau!"


"Tapi.. Aku sudah memberikan pil berharga itu padamu. Kau harus membantuku." Chu Kaili menggertakkan gigi dengan kesal. Iapun langsung berdiri.


"Bila keluargamu disekap oleh orang orang seperti mereka, maka berarti keluargamu sudah tamat. Kau pikir, mereka mau mengurus keluargamu itu? Tentu saja mereka tak mau repot repot mengenai hal itu. Bila kau marah pada mereka, mereka bisa menghabisimu dengan mudah. Secara.. Mereka tidak hanya ada satu orang. Terlebih, mereka juga tidaklah terlalu lemah. Kenapa kau berfikir keluargamu masih hidup? Sejak keluargamu sudah ada di tangan mereka, kematian keluargamu sudah ditentukan." Jelas Feng Ying tanpa menghiraukan perasaan Jenderal Chu Kaili.


Chu Kaili mengepalkan tangan, "Apa maksudmu, hah?!"


"Tidak mungkin seorang Jenderal sepertimu tak mengerti apa yang kumaksud. Keluargamu.. Sudah tidak ada.. Mereka sudah mati."

__ADS_1


Chu Kaili menatap Feng Ying marah. Ia tidak terima pemuda itu mengatakan hal seperti ini. "Sialan! Akan kubungkam mulutmu itu, karna sudah mengatakannya!"


"Mengatakan apa? Kebenaran? Yah.. Terkadang orang orang akan marah ketika aku mengatakan kebenaran dan kenyataan tentang mereka." Ucap Feng Ying santai. Ia langsung menelan pil yang diberikan Jenderal itu dan perlahan, rasa sakitnya karna racun sedikit berkurang.


"Kurang ajar! Kau menerima pil dariku, tapi kau tidak mau membantuku!"


"Tidak baik menolak kebaikan orang lain. Maka dari itu, aku makan saja pil ini. Lagi pula, pil ini dapat menyerap sebagian racun bukan?" Feng Ying tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Kau tidak tahu diri!", Jenderal Chu Kaili menarik pedang dari sarungnya. Ia melesat dengan sangat cepat ke arah Feng Ying.


Grrraaooo!!


Sebelum pedang mengenai tubuh Feng Ying, seekor harimau langsung melakukan gerakan menerkam dan membuat Chu Kaili langsung melompat mundur ke belakang.


Gggrrrrr


Harimau itu tak lain Wang Feng. Ia menggeram marah melihat Chu Kaili ingin menyakiti ibunya.


"Hm.. Aku masih tak mengerti, kenapa dia mau menolongku." Batin Feng Ying. Ia menggelengkan kepala untuk mengusir pertanyaan itu. Karna yang penting, sekarang ia mendapat bantuan. Walupun ia tak terlalu menginginkannya.


"Wang Feng..!! Ying..!!"


"Kau datang tepat waktu. Aku akan pergi untuk menyusul tetua tadi. Kau di sini bersama dengan harimau mu itu untuk menyelesaikan Jenderal ini." Feng Ying langsung berlari pergi tanpa menghiraukan Wang Chen yang baru saja datang.


"Tapi.. Ying..! Ying..!"


"Heh, kau mau lari? Takkan kubiarkan!", Jenderal Chu Kaili langsung berdiri tepat di depan Feng Ying dengan sebuah serangan yang mengarah pada pemuda itu.


Melihat itu, Wang Chen tak tinggal diam. Ia mengeluarkan belati dari balik pakaiannya dan langsung melemparkan itu pada pedang yang hampir saja mengenai Feng Ying. "Lawan aku!"


Pedang Chu Kaili agak bergeser, sehingga tak mengenai Feng Ying dan pemuda itu sudah pergi darinya. "Kenapa kau menggangguku?!" Chu Kaili menatap Wang Chen marah.


"Kau berniat melukai Ying. Maka dari itu, aku akan menghentikanmu di tempat ini. Lawan aku!" Ucap Wang Chen dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2