
Feng Ying terus berjalan mengikuti instingnya. Karna ia percaya bila instingnya dapat membawa dirinya ke tempat orang orang yang membuat jurus di kekaisaran Naga api ini.
Feng Ying berhenti berjalan. Ia langsung bersembunyi di balik tembok kala seseorang berpakaian hitam lewat tak jauh darinya. "Sial, kekuatannya berada di atasku. Dia pasti menyadari kehadiranku" batin Feng Ying sambil menggertakkan gigi.
"Keluarlah dari tempat persembunyianmu! Aku tau kau ada di sana!" teriak orang berpakaian hitam. Ia adalah salah satu tetua sekte aliran hitam yang ikut berpartisispasi dalam melawan anggota kekaisaran sebelumnya.
Feng Ying tidak langsung menyahuti ucapan wanita paruh baya itu. Ia malah melukai dirinya sendiri dengan belati yang baru ia keluarkan dari cincin ruang miliknya.
Iris mata Feng Ying berubah menjadi merah. "Cih, aku jadi terlalu sering mengendalikan darah seperti ini" batinnya.
Selama ini, Feng Ying memang jarang menggunakan kemampuan pengendalian darah miliknya. Hanya saja, beberapa waktu terakhir ini dirinya sering menggunakannya.
Feng Ying merasa bahwa lawannya masih ada banyak di istana. Sehingga ia tidak mau berlama lama bertarung dengan mereka. Karna musuh yang sebenarnya belum muncul dan belum lagi musuh lainnya yang kuat masih tersebar di kekaisaran Naga api ini.
Bila ia bertarung dengan peran 'pembantu', maka dirinya hanya akan kelelahan. Karna peran 'pembantu' di tempat ini juga ada banyak dan kuat. Jadi Feng Ying memilih menggunakan kemampuan pengendalian darah miliknya. Sehingga dapat menyelesaikan orang orang itu dengan cepat.
Darah milik Feng Ying membentuk sebuah jarum di atas kepalanya. Ia berniat keluar. Hanya saja, wanita paruh baya tadi kini sudah ada di depannya sambil mengayunkan sebuah pedang.
Feng Ying refleks menghindar ke samping dan membuat tembok yang menjadi sandarannya tadi tergores. Tembok istana memang sangat kuat. Padahal serangan wanita paruh baya itu cukup menekan.
Feng Ying melompat mundur ke belakang. Untung saja dirinya memiliki insting yang sangat baik. "Huft.."
Wanita paruh baya mengubah posisi berdirinya jadi menghadap Feng Ying. "Seorang bocah? Cih, awalnya kukira kau bocah biasa yang salah masuk istana. Tetapi sepertinya tidak, setelah aku melihat bagaimana kau menghindari serangan milikku, aku tau kau bukanlah bocah biasa."
Feng Ying tersenyum. Ia masih menggenggam belati miliknya.
Pandangan wanita paruh baya di depan Feng Ying tiba tiba saja berubah ketika ia melihat kilat merah dari arah Feng Ying. Awalnya ia berada di istana. Namun kini dirinya berada di atas awan. Di depannya juga bukan lagi Feng Ying. Melainkan seorang pria paruh baya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tidak bisa berkata apapun ketika ia melihat suaminya yang seharusnya sudah mati akibat melawan anggota kekaisaran sebelumnya.
"Sayang.. Kenapa diam saja? Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada kotoran di wajahku?" ucap pria paruh baya. Ia memegangi sudut bibirnya dan mengira bila di sana ada kotoran makanan yang baru saja ia makan.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala dengan cepat, "Tidak.. Suamiku sudah mati. Orang di depanku ini pasti hanyalah orang lain."
Pria paruh baya di depan mendengar ucapan wanita itu. Iapun berjalan mendekat, "Apa maksudmu sayang? Aku masih hidup.. Lihatlah, aku ini sangat sehat."
Wanita paruh baya mundur perlahan. Namun tatapannya masih tertuju pada pria paruh baya di depan yang kini mulai mengulurkan tangan dan berhenti berjalan mendekat.
"Sayang.. Kenapa kau terus mundur seperti itu? Apa kau ingin menjauhiku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" ucap pria paruh baya dengan sedih.
Wanita paruh baya membulatkan mata. Iapun menusukkan pedang ke arah pria paruh baya di depan dan tepat mengenai dada pria itu. "Kau bukanlah suamiku! Jangan menyamar menjadi dirinya dan kembalikan aku ke dunia nyata!"
Wanita paruh baya sudah mengetahui bila semua yang terjadi di tempat ini hanyalah ilusi. Termasuk pria di depannya. Jadi, bila ia membunuh pria di depan, maka ia akan kembali. Itulah pikirannya.
Wanita paruh baya terkejut. Ia menarik pedangnya dari tubuh pria paruh baya itu. "A- aku.."
"Kenapa? Kenapa kau.. membunuh suamimu sendiri? Kenapa kau melakukan.. ini? Aku kecewa.. Aku kecewa.. Padamu.. Aku.. Membencimu" ucap pria paruh baya. Tatapannya pada wanita paruh baya kini bukan lagi kasih sayang. Melainkan kebencian.
Wanita paruh baya tersentak ketika ditatap seperti itu. "A- aku minta maaf.. Aku tidak.. Tidak bermaksud seperti ini," matanya mulai berkaca kaca seakan ingin menangis.
Pria paruh baya perlahan berdiri sambil memegangi dadanya yang terluka. Iapun mengulurkan tangan ynag satunya, "Bila kau ingin kita bersama lagi.. Maka ikutlah denganku."
Wanita paruh baya mengulurkan tangan kepada pria paruh baya dan langsung memegangi tangannya.
***
__ADS_1
Di dunia nyata, Feng Ying sudah melemparkan jarum darah dan tepat mengenai leher wanita paruh baya. Beberapa detik setelahnya, tubuh wanita paruh baya tumbang ke belakang dan mati.
"Heh, mentalnya sangat lemah. Sangat mudah terjebak dalam ilusiku" gumam Feng Ying sambil tersenyum sinis menatap mayat wanita paruh baya. Feng Ying mengeluarkan 3 mayat prajurit yang ia masukkan ke dalam cincin rungnya tadi. Feng Ying memutuskan untuk menyimpan semua mayat di tempat itu.
Feng Ying menaruh mayat di tempat itu agar banyak prajurit yang berdatangan dan memperketat penjagaan di daerah ini. Bila itu terjadi, maka Wang Chen akan lebih mudah menemukan penjara yang letaknya cukup jauh dari tempat Feng Ying sekarang. Karna para prajurit akan disibukkan mencari penjahat di daerah ini.
Feng Ying hanya menebak saja bila tempat para tahanan di tahan ada di tempat yang cukup jauh darinya. Walaupun hanya tebakan, tapi Feng Ying sangat yakin dengan instingnya itu.
Feng Ying berjalan pergi meninggalkan semua mayat. Iris matanya berubah kembali berwarna biru. "Bila aku sudah mengumpulkan dan membunuh Kaisar baru, juga musuh musuh kuat. Maka aku akan mulai bersenang senang," matanya berkilat merah. Senyuman terukir di bibirnya yang mungil.
***
Di tempat lain, Wang Chen dan Wang Feng memang berada cukup jauh dari Feng Ying. Beberapa kali keduanya hampir diketahui oleh musuh. Namun, Wang Chen dan Wang Feng segera bersembunyi. Wang Chen juga melakukan apa yang dikatakan Feng Ying padanya. Yaitu mengalirkan Qi pada liontin dan memegangi liontin kalung yang ia pakai.
Setelah melakukan itu, musuh yang berada sangat jauh tingkat kultivasinya dengan Wang Chen saja tidak bisa menemukan dirinya dan seakan tidak dapat merasakan hawa keberadaannya. Maka semua musuh musuh yang hampir menemukan Wang Chen tadi langsung pergi.
Wang Chen kini tau bila kalungnya itu bisa menyembunyikan hawa keberadaannya ketika ia mulai mengalirkan Qi pada kalung. Ia tidak tau saja, bila kalung itu dapat menyembunyikan hawa keberadaannya juga ketika ia menggunakan Qi, walaupun tidak disalurkan pada kalung.
"Menurutmu penjara berada di tempat itu, Wang Feng?" bisik Wang Chen sambil bersembunyi di balik tembok. Ia sesekali melirik ke tempat yang berjarak belasan meter darinya. Tempat yang ia lihat ada sebuah pintu besar dengan banyak yang berjaga di sekitar. Bukan prajurit yang berjaga. Tetapi orang orang aliran hitam.
Wang Feng mengangguk di pundak Wang Chen. Ia yakin bila penjara berada di balik pintu itu.
"Tapi bagaimana kita bisa mengalahkan mereka semua? Mereka banyak dan kuat. Semuanya berada di atasku" gumam Wang Chen dengan bingung.
Ia memegangi liaontin dan mengalirkan Qi pada lionting itu sehingga para penjaga yang ada di depan pintu besar di depannya tidak mengetahui keberadaan Wang Chen dan tak merasakan hawa kehadirannya.
Ketika sedang berfikir, Wang Chen tiba tiba saja mendapatkan ide. Ia akan melakukan apa rencana Feng Ying saat akan menyusup ke dalam istana.
__ADS_1