
Maaf dua hari kemarin Author ga update, soalnya tugas lagi banyak banget, pusing Authornya ladenin tugas terus. Jadi ga bisa bikin eps baru.. Ok, sekarang Author update lagi. Oh ya, Author punya novel baru. Bikinnya waktu itu, tapi baru di up sekarang. Author baru buat 12 eps. 3 chapter selama 3 hari pertama~
Jangan lupa mampir ya.. Judulnya MY BROTHER. Tag: Reinkarnasi, balas dendam, komedi. Bergenre fiksi modern. Seperti biasa, di novel Author tidak ada genre romance. Sekian~
*****
Wang Chen dan Feng Ying kini telah masuk ke balik air terjun. Ternyata di balik air terjun terdapat gua. Lebar dari gua ini tidak terlalu besar. Tinggi dari gua pun hanya 2,5 meter.
Setelah belasan menit masuk ke dalam gua yang gelap, mereka akhirnya melihat cahaya di ujung jalan. Keduanya saling bertatapan dan setelahnya, mereka berlari ke arah tempat cahaya berada.
Ternyata di ujung gua pada dinding dinding terdapat bunga malam yang menempel pada permukaan dinding. Disebut bunga malam karna mereka akan menyala indah di malam hari, berbeda saat siang atau pagi yang mana bunga ini akan terlihat jelek dan layu.
Di ujung gua ini tempatnya cukup luas. Bahkan di tengahnya terdapat danau kecil. Di tengah danau pun terlihat permukaan tanah yang tidak terlalu luas dengan satu pohon yang tumbuh di atasnya. Di bagian atap gua, nampak bila tempat itu tak tertutupi oleh batu gua. Sehingga menampakkan langit malam yang dipenuhi bintang.
Dengan daun bercahaya yang ada di pohon tengah danau dan juga bunga bunga malam, membuat ujung gua ini terlihat terang.
"Tempat ini sangat indah.." Gumam Wang Chen dengan takjub. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling gua.
"Pedang itu ternyata di sana!" Ucap Feng Ying sambil menatap permukaan tanah yang ada di tengah tengah danau.
Wang Chen melihat ke arah yang sedang ditatap Feng Ying. Di dekat pohon yang tumbuh di tengah danau, terdapat pedang milik Feng Ying yang melayang di atas permukaan tanah. Pedang itu seakan ingin memberitahu bila ada sesuatu pada pohon di dekatnya.
Feng Ying sudah berlari terlebih dahulu ke arah pohon berada. Terdapat jalan kecil yang menghubungkan permukaan tanah ini dengan permukaan tanah yang ada di tengah danau.
"Ying, tunggu! Kenapa kau meninggalkanku?!" Wang Chen berlari menyusul Feng Ying.
***
Setelah tepat berada di depan pedangnya, Feng Ying berniat mengambilnya. Namun, Wang Chen lebih dahulu menepuk pundaknya, membuat Feng Ying tak jadi mengambil pedang itu. "Ada apa?" Ia melirik Wang Chen sambil mengerutkan kening.
Belum lama setelah Feng Ying mengatakan itu, sebuah pedang keluar dari balik rimbunnya dedaunan. Pedang itu langsung melesat ke arah Feng Ying dan Wang Chen.
Feng Ying yang mengetahui itu, langsung berputar ke samping. Begitupun Wang Chen yang menyadarinya.
Pedang kembali melesat. Ia melesat ke arah Feng Ying dan seakan ingin melukainya. Namun, Feng Ying terus menangkis serangan yang dilakukan pedang itu dengan tangan ataupun kaki. "Pedang ini.." Feng Ying mengembangkan senyum kala menyadari bila pedang yang menyerangnya adalah pedang yang sedang ia cari.
Feng Ying terus bergerak sambil menangkis. Ia mendekat pada Wang Chen, "Kau ambil pedang milikku! Biarkan aku yang menangani pedang ini."
Wang Chen yang mendengar suara Feng Ying langsung mengangguk. Ia berniat mengambil pedang Feng Ying yang melayang dia atas permukaan tanah. Namun, pedang dengan gagang biru yang tadi menyerang Feng Ying kini malah berbalik dan menyerang Wang Chen, membuat Wang Chen harus melompat mudur untuk menghindar.
Wang Chen terkejut karna diserang tiba tiba. Namun untungnya ia tidak lengah. Ia pun menghindari berbagai serangan yang diarahkan padanya. "Ying! Aku tidak bisa mendekati pedangmu."
__ADS_1
"Pegang pedang itu! Berikan aku waktu untuk mengambil pedangku!" Ucap Feng Ying.
Wang Chen terkejut. Namun ia kembali merubah ekspresinya menjadi biasa. Ia dengan cepat menangkap pedang yang menyerangnya dengan mencengkram bagian besi dari pedang, hingga membuatnya terluka. "Akh.. Sstt.." Wang Chen meringis kesakitan. Ditambah, pedang ini tidak mau diam membuat tangan Wang Chen terluka semakin parah. "Cepatlah, Ying!"
Belum sempat Feng Ying beranjak dari tempat berdirinya, sebagian air di danau membentuk panah maupun pedang dan langsung melesat—Menyerang Feng Ying dari belakang.
Tentunya Feng Ying dapat menyadarinya. Ia dengan cepat melompat ke atas pohon untuk menghindar, sehingga air danau tadi menempel pada pohon lalu menghilang, kembali berubah menjadi air biasa.
"Walaupun dia sudah memegangnya, tetap saja pedang itu masih bisa melawan. Hm.. Menarik.. Pedang itu seakan menjauhkanku dan dia untuk memegang pedang merah itu." Gumam Feng Ying. Ternyata ini yang dimaksud oleh buku. Pedang kembar bunga phoenix. Kedua pedang yang hanya bisa digunakan sekaligus, tidak bisa digunakan satu saja. Pedang saling melengkapi satu sama lain dan mereka seakan satu jiwa.
Mungkin karna itu, pedang berwarna biru tak mengizinkan pedang berwarna merah disentuh oleh siapapun saat ini. Karna pedang biru bukanlah milik siapapun sekarang, jadi ia juga tidak mau bila pedang berwarna merah dimiliki siapapun ataupun disentuh siapapun ataukah karna hal lainnya? Feng Ying tidak tau apakah tebakannya benar atau salah. Tapi itu tidak penting sama sekali baginya. Alasan apapun itu, Feng Ying akan tetap mengambil kembali pedangnya.
Air danau kembali membentuk sesuatu. Namun sebelum itu terjadi, air danau tiba tiba saja kembali tenang seperti tak terjadi sesuatu.
"Ying, kau sekarang bisa mengambil pedangmu." Ucap Wang Chen. Ia kenatap ke atas pohon dan melihat Feng Ying berdiri di atas sana.
Feng Ying agak terkejut mendengar ucapan Wang Chen. Terlebih, pedang biru itu kini sudah berada di genggaman tangan Wang Chen tanpa melawan. Apa yang terjadi?
"Kau apakan pedang itu? Kau meracuninya dan membuatnya mati?" Ucap Feng Ying dengan disertai candaan.
"Heh, kau kira pedang itu makhluk hidup? Benda mati seperti pedang tidak akan bisa mati. Karna mereka memang sudah mati dan tak memiliki nyawa!" Ucap Wang Chen dengan malas.
Feng Ying melompat turun dari atas pohon. Ia pun langsung saja mengambil pedang miliknya dan pedang langsung bisa ia genggam tanpa masalah sama sekali. "Apa yang kau lakukan pada pedang itu, sampai dia mau diam seperti itu?"
Feng Ying menaikkan alisnya dan sedikit terkejut, "Benarkah?! Bagaimana bisa kau bertemu dengan roh di pedang itu saat membuat kontrak? Aku saja tidak pernah bertemu dengan roh yang ada di pedang ini. Bahkan aku juga tak pernah melakukan kontrak. Karna kukira, pedang ini tidak memiliki roh. Jika begitu, berarti pedang ini memiliki level antara 7 sampai 10. Tapi jika 10, sepertinya tak mungkin. Karna tingkat itu masih misteri."
Wang Chen memegang dagunya seakan berfikir, "Aku juga tidak tau pedang ini berada di level berapa. Tapi kenapa kau mengatakan 'kau saja tak pernah bertemu dengan roh di pedang itu'?," ia menunjuk pedang yang dipegang Feng Ying. "Memangnya apa hubungannya pedang itu dengan pedangku ini?"
Feng Ying menepuk wajahnya. Ia langsung memukul kepala Wang Chen kesal. "Aduh.. Ying.. Apa kau tak bisa untuk tidak memukulku? Selalu saja seperti itu!" Protes Wang Chen.
"Hmph! Kau menyebalkan dan bodoh! Dengan memukul kepalamu, mungkin saja itu akan membuat otakmu menjadi pintar!" Ucap Feng Ying sambil mendengus. Iapun kembali berucap, "Apa kau tidak lihat? Pedangmu dan pedangku memiliki ukiran yang sama, hanya berbeda warna saja. Menurutmu, kenapa aku mengatakan itu tadi?!"
Wang Chen masih mengelus kepalanya yang sedikit berjol. "Jadi maksudmu, pedang ini adalah satu pasang? Atau bisa dikatakan kembar dengan pedang milikmu?"
"Akhirnya kau mengerti. Cara yang paling baik untuk membuatmu pintar adalah dengan memukul kepalamu itu!" Feng Ying mendengus.
Wang Chen langsung memegangi kepalanya dan seakan melindunginya, "Kau jahat sekali. Bagaimana bila kepalaku jadi botak karna kau terus memukulku?!"
"Mana mungkin kepala menjadi botak hanya karna dipukul!" Kesal Feng Ying.
"Hehe.. Aku bercanda. Tentu saja hal itu tak mungkin terjadi."
__ADS_1
Feng Ying mendengus. Iapun menyayat tangannya dengan pedang kembar berwarna merah yang dipegangnya.
"Eh?! Apa yang ingin kau lakukan?! Apa kau mau bunuh diri?!" Kaget Wang Chen.
"Kurasa otakmu semakin bodoh semenjak ada di tempat ini!" Cibir Feng Ying. "Aku tidak mungkin bunuh diri. Aku akan mencoba melakukan kontrak."
"Untuk apa?" Bingung Wang Chen.
"Aku saat ini hanya menjadi pemilik. Tapi belum menjadi pemilik sesungguhnya dari pedang ini. Jadi aku akan memilikinya dengan membuat kontrak. Lagi pula, pedang ini terlihat keren." Feng Ying tersenyum.
Tiba tiba, pandangan Feng Ying kini berubah menjadi putih. Hanya ada warna putih di tempat ini. Tidak ada warna lainnya. "Dimana roh itu? Seharusnya dia ada di sini, bukan?" Gumamnya.
Tak lama setelah mengatakan itu, terdengar suara di belakang Feng Ying. "Hei, bocah!"
Feng Ying langsung berbalik, tapi tak melihat siapapun di depannya.
"Dasar bodoh! Aku di bawah sini!" Ucap suara itu lagi.
Feng Ying menurunkan pandangannya ke bawah dan melihat seorang anak perempuan yang mungkin berumur sekitar 7 tahun. Ia terkejut karna tak menyangka bila roh di dalam pedang hanyalah anak berumur 7 tahun.
"Kau ingin membuat kontrak denganku bukan?" Ucap anak perempuan. Ia nampak manis dan menggemaskan.
Feng Ying mundur satu langkah ke belakang karna saking terkejutnya, "Kau roh di dalam pedang ini?"
Anak perempuan itu tersenyum sombong. "Tentu saja! Siapa lagi bila bukan aku yang hebat dan kuat ini?!"
Feng Ying menenangkan diri dan menatap anak perempuan itu sejenak. Ia pun menatapnya dengan acuh tak acuh, penuh ketidaktertarikan. "Maaf.. Aku tidak jadi membuat kontrak, bila itu dengan anak perempuan lemah sepertimu."
Anak perempuan itu menatap Feng Ying dengan marah, "Siapa yang kau bilang anak perempuan hah?! Aku laki laki!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sedikit tentang novel MY BROTHER, berkisah tentang seorang anggota mafia mati (Caessa) karna dikhianati. Ia bereinkarnasi menjadi seorang anak kecil yang tinggal di panti asuhan (Farel).
1 tahun setelah ia bereinkarnasi ke tubuh anak kecil itu, Farel diadopsi oleh seorang wanita cantik yang memiliki 1 orang anak laki laki.
Note:
-Tidak banyak membahas mafia.
-Bercerita tentang kakak adik.
__ADS_1
-Hanya karangan Author.