Feng Ying

Feng Ying
133 -Kejadian Memalukan


__ADS_3

"Sekarang kita sudah jauh dari desa itu. Tahan sebentar ya.." Ucap Wang Chen pada anak kecil yang digendongnya.


"Hiks.." Anak itu mengangguk singkat sebagai jawaban.


Wang Chen menurunkan anak yang digendongnya ke bawah pohon. Ia menyandarkan punggung anak itu pada pohon. Sementara, Feng Ying hanya menatap aktivitas Wang Chen saat ini.


Wang Chen mengeluarkan sapu tangan dari dalam cincin ruangnya. Iapun mengelap noda darah yang ada pada tubuh anak itu. "Apa kau baik baik saja?"


Anak itu terlihat sudah berhenti menangis. Namun air matanya masih ada di pipinya. Ia menatap Wang Chen, "K-kenapa kau menolongku.. Kakak?"


Wang Chen tersenyum, "Tak ada alasan untukku menolongmu. Lagi pula, penduduk itu memang tidak seharusnya melakukan itu padamu."


Anak itu terdiam. Ia sesekali meringis kala Wang Chen membersihkan lukanya.


"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menolongmu. Maaf, aku tidak memiliki pil untuk orang biasa sepertimu." Ucap Wang Chen dengan nada menyesal.


"T-tidak apa apa, kak.. Aku sudah sangat berterimakasih karna kakak mau menolongku dari tempat itu." Ucap bocah laki laki dengan agak ketakutan.


Wang Chen akhirnya selesai mengelap darah yang ada di tubuh anak itu. Iapun mengeluarkan salep dari dalam cincin ruangnya. Ia memang tak memiliki pil untuk digunakan orang biasa seperti anak di depannya. Tapi ia memiliki salep yang bisa digunakan untuk meringankan setiap luka yang didapat, baik orang biasa maupun kultivator. "Tahan sedikit, ini mungkin sakit.." Ia mulai mengoleskan salep pada setiap luka di tubuh anak itu


"Akh.. Sstt.. S-sakit.." Ringisnya.


Feng Ying memutar bola matanya malas. Kenapa Wang Chen ingin menolong bocah yang bahkan tak dikenalnya sama sekali? Bila itu dirinya, maka ia akan membiarkannya saja.


"Apa kau sudah selesai? Lama sekali.." Ucap Feng Ying pada Wang Chen. Ia bersandar pada pohon sambil berdiri dan melipat kedua tangan di dada.


Wang Chen tak menjawab. Karna ia tidak mendengar apa yang dikatakan Feng Ying. Ia terlalu fokus dengan luka yang ada pada tubuh anak di depannya. "Sekarang sudah selesai." Wang Chen tersenyum. Ia memasukkan salep kembali ke dalam cincin ruangnya.


"T-terimakasih kakak, karna sudah menolong.. Dan.. Mengobatiku.. Bila kakak tidak ada, mungkin sekarang.. Aku masih ada di sana dan dipukul oleh mereka." Ucap anak itu dengan wajah sedih.


Wang Chen mengelus kepala anak laki laki itu, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?"


Anak itu mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Siapa namamu?"


Anak laki laki mulai menatap wajah Wang Chen yang duduk di sisi kirinya, "N-namaku Jiang Fu.."


"Nah, perkenalkan namaku Wang Chen dan sahabatku itu Feng Ying." Wang Chen menunjuk Feng Ying yang berdiri sambil menyandar pada batang pohon.


Jiang Fu mengangguk paham.


"Ngomong ngomong, dimana rumahmu?"


Jiang Fu terdiam sejenak, "Aku tidak memiliki rumah yang tetap. Aku selalu berpindah pindah ke tempat lain, bila aku diusir orang lain. Aku hanya sendiri.."


Wang Chen menatap Jiang Fu yang bereskpresi sedih, "Pasti sulit bagimu untuk hidup seperti itu." Wang Chen terdiam sejenak. Ia pun tersenyum lebar, "Bagaimana bila kau ikut denganku saja? Aku juga akan memberikanmu pakaian yang lebih baik dari ini. juga makanan untukmu. Kau pun takkan sendirian lagi."


Jiang Fu menatap Wang Chen, "Aku tidak mau merepotkan kak Chen lebih dari ini.."


"Apa yang kau katakan?! Kenapa kau mengajaknya?!" Kesal Feng Ying.

__ADS_1


Wang Chen melirik ke belakang, dimana Feng Ying berada, "Apa kau tidak kasihan padanya? Dia hanya tinggal sendiri.. Tidak punya rumah.. Tidak ada yang melindunginya.. Padahal dia masih kecil.."


"Hmph! Kau pikir aku peduli?!" Cuek Feng Ying. Ia memalingkan wajah dari Wang Chen.


***


1 jam kemudian, Wang Chen dan Feng Ying sudah kembali melanjutkan perjalanan. Keduanya tidak hanya berdua, tetapi bersama dengan Jiang Fu. Setelah puluhan menit tadi, akhirnya Feng Ying setuju Jiang Fu ikut dengan mereka. Walaupun dengan agak terpaksa. Bila saja Wang Chen tak melakukan 'itu' tadi, ia takkan mengizinkan Jiang Fu ikut.


Wang Chen tersenyum ke arah Feng Ying. Ia pun merangkul lehernya, "Hehe.. Terimakasih karna sudah mengizinkannya ikut, Ying!"


Feng Ying menatap Wang Chen kesal. Ia menghempaskan tangan Wang Chen yang dirangkulkan pada lehernya. "Cih, kau sangat menyebalkan! Lain kali jangan melakukan 'itu' lagi!" Wajahnya nampak merah. Bukan karna malu, tetapi karna marah.


"Hehe, maaf.. Maaf.. Aku terpaksa melakukannya, agar kau mengizinkan Fu'er untuk ikut." Wang Chen hanya cengengesan.


Feng Ying membuang muka kesal. Wang Chen benar benar keterlaluan tadi. Wang Chen bahkan membuatnya kehilangan muka di depan Jiang Fu. Anak laki laki itu seharusnya tidak melihat kelakuannya dan Wang Chen tadi. Kejadian tadi membuat Feng Ying malu. Kejadian tadi pun tak seharusnya dilihat oleh Jiang Fu. Memalukan.


"Hei kau, jangan menyusahkanku nanti!" Ketus Feng Ying sambil menatap Jiang Fu.


Jiang Fu menundukkan kepalanya seakan takut melihat tatapan Feng Ying, "I-iya.."


"Tenang saja, Ying. Aku akan mengurusnya dengan baik. Dia pasti takkan menyusahkanmu." Ucap Wang Chen.


Feng Ying mendengus, "Hmph! Apa ucapanmu yang sekarang bisa dipercaya? Secara.. Kau saja tadi melanggar perintah dariku saat di desa."


Wang Chen bereskpresi menyesal, "Maaf.. Maaf.. Maafkan aku.. Aku tak bisa diam saja ketika melihat Fu'er disiksa seperti itu tadi. Jadi aku harus menolongnya, sehingga aku tidak melakukan perintah darimu."


"Ingatlah, semakin banyak kau melanggar perintahku, maka kepercayaanku padamu juga akan semakin sedikit. Maka dari itu, jangan membantah perintah dariku. Apa kau mengerti?" Feng Ying menatap Wang Chen dengan dingin. Tatapannya saat ini sangat tidak bersahabat, tidak seperti biasanya.


Wang Chen mengangguk cepat. "Aku akan berusaha melakukannya. Karna aku tidak ingin kehilangan kepercayaan darimu."


Wang Chen mengangguk, "Maka dari itu, kita harus pergi ke kota untuk membelinya."


"Tapi kau harus membelinya menggunakan uang sendiri. Aku tidak ingin ikut campur masalah kebutuhan bocah itu." Feng Ying menunjuk Jiang Fu dengan dagunya.


"Baiklah, itu tak masalah. Lagi pula, uangku juga akan bertambah. Karna kau 'kan membayarku." Wang Chen tersenyum riang.


Feng Ying memutar bola mata malas. Ia pun mengambil sesuatu dari dalam cincin ruangnya. Ia melemparkan itu pada Wang Chen, "Sebagai bayaran awal untukmu. Untuk kedepannya, aku akan membayarmu lagi."


Wang Chen menatap Feng Ying setelah menangkap kantung kain tadi, "Jadi ini bayaranku? Kau sungguh sungguh?! Kantung ini terasa agak berat. Berapa jumlah uangnya?" Ucapnya dengan semangat dan antusias.


"Buka saja sendiri." Ucap Feng Ying dengan tak acuh.


Wang Chen segera membukanya dengan semangat. Ketika kantung kain itu ia buka, Wang Chen berekspresi terkejut. "Ying.. Apa kau yakin dengan ini?"


"Tentu saja aku yakin! Itu adalah bayaran untukmu selama ini."


Wang Chen, "Kenapa kau membayarku dengan batu? Apa kau tidak memiliki uang?! Kemana semua uangmu?"


"Lihatlah dengan baik!"


Wang Chen memasukkan tangannya ke dalam tas. Ia pun mengambil beberapa koin emas. "I-ini untuk bayaranku? Kenapa sedikit sekali? Ini hanya 3 koin emas."

__ADS_1


1 koin emas\= 100 koin perak.


100 koin perak\= 1 koin emas.


Feng Yung menatap Wang Chen acuh tak acuh, "Itu urusanmu. Bukan urusanku. Bayaranmu itu sesuai dengan semua ketentuan yang kuberikan padamu. Bila kedepannya, mungkin bayaranmu akan lebih besar." Ia mengangkat kedua bahu tak peduli.


Wang Chen cemberut. "Tega sekali kau ini padaku.."


"Hmph! Terserahku saja!"


***


Hari kini berganti. Hari sudah siang dan ketiganya telah menemukan sebuah kota yang cukup besar. Mereka pergi ke toko pakaian terlebih dahulu. Tepatnya, Wang Chen dan Jiang Fu saja yang pergi ke toko pakaian. Setelah selesai, keduanya pergi ke penginapan dimana Feng Ying sudah menyewa kamar.


Setelah sampai di kamar dimana Feng Ying berada, keduanya lantas masuk ke dalam. "Ying, kau sedang apa?" Ucap Wang Chen ketika melihat Feng Ying duduk pada jendela sambil menatap ke luar. Kamar ini terletak di lantai 3.


Feng Ying melirik sekilas ke arah keduanya, "Oh, kau sudah mengganti pakaianmu? Baguslah.."


Jiang Fu mengangguk, "Iya kak Y-Ying.." Ia mencoba agar bisa dekat dengan Feng Ying. Dimulai dengan menyebutkan namanya.


"Ah iya! Aku lupa. Aku seharusnya memesan makanan tadi untuk dibawa ke kamar ini. Ying, aku pergi dulu. Aku akan meninggalkan Fu'er sebentar bersamamu. Tidak apa 'kan?" Ucap Wang Chen dengan hati hati.


"Iya! Sana pergi!" Usir Feng Ying tanpa memandang pemuda itu.


Wang Chen tersenyum. Ia pun menatap Jiang Fu, "Kau dari kemarin belum makan. Jadi kau pasti lapar. Kau tunggu saja sebentar di sini."


"Iya." Balas Jiang Fu.


Setelah mendapat balasan dari Jiang Fu, Wang Chen segera pergi untuk ke bawah dan memesan makanan. Bukan hanya untuk Jiang Fu, tetapi dirinya dan Feng Ying. Walaupun sebenarnya ia dan Feng Ying sedang tidak lapar saat ini.


Cekleekk


Pintu sudah tertutup dan Wang Chen sudah tidak ada. Jiang Fu berjalan hati hati mendekat pada Feng Ying. "Kak Ying.."


Feng Ying melirik sekilas. Ia pun kembali menatap keluar, "Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu? Kalau kau menginginkan sesuatu, katakan dan minta saja pada Chen. Bila kau memintanya padaku, maka itu hanya akan sia sia saja." Ketusnya.


Jiang Fu menggelengkan kepala, "T-tidak.. Aku hanya.. Ingin bertanya." Ia terdiam sejenak. Hingga akhirnya, melanjutkan ucapannya, "Kenapa kak Ying seperti tak suka padaku? Apa karna aku orang asing? Atau karna aku mengetahui kejadian saat di hutan itu, saat kak Chen meminta izin agar aku bisa ikut? Bila seperti itu, maka.. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun tentang kejadian 'itu'.."


Wajah Feng Ying terasa memanas ketika tahu bila Jiang Fu masih mengingat kejadian memalukan itu. Ia langsung berdiri dan mendekat pada Jiang Fu, berdiri tepat di depannya. "Sebaiknya kau tidak perlu mengingat kejadian itu. Karna kau tidak seharusnya melihat itu dan jangan mengatakan kejadian saat itu pada orang lain, kau mengerti?" Tegas Feng Ying.


Jiang Fu mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Feng Ying. Dilihatnya pipi Feng Ying yang agak memerah. Jiang Fu mengangguk, "I-iya.. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Jadi sekarang, apa kak Ying memaafkanku? Apa kak Ying sekarang sudah menerima kehadiranku?" Matanya nampak menatap Feng Ying penuh harap.


Feng Ying menghela nafas, "Bila aku mengatakan 'ya', dia pasti takkan menceritakan kejadian 'itu' pada orang lain. Baiklah, kujawab saja." Batinnya. Ia mengangguk, "Ya.. Sekarang aku sudah tak marah lagi padamu. Aku juga sudah menerimamu."


Jiang Fu tersenyum, "Terimakasih kak Ying!"


Kejadian memalukan yang dimaksud adalah ketika Wang Chen meminta izin Feng Ying agar ia mengizinkannya membawa Jiang Fu. Bagi Feng Ying, kelakuan Wang Chen sangat keterlaluan jika untuk mendapatkan izin darinya tentang Jiang Fu.


Saat itu, Wang Chen secara diam diam memasukkan tali ke pakaian Feng Ying saat ia mulai meminta izin. Ia mengalihkan perhatian Feng Ying cukup lama. Tak lama setelah ia memasukkan tali itu, Wang Chen berteriak tentang ular yang masuk ke pakaiannya. Sontak saja Feng Ying terkejut. Ia nampak agak panik pada saat itu. Ia berlarian ke sana kemari dan berusaha mengeluarkan ular yang dimaksud Wang Chen. Karna ia juga merasakan ada sesuatu dalam pakaiannya. Ketika Feng Ying agak panik, Wang Chen mengatakan untuk meminta izin diperbolehkannya Jiang Fu ikut. Ia juga mengatakan bila ia akan membantu Feng Ying mengeluarkan ular itu. Tanpa banyak mengatakan hal lain, Feng Ying mengatakan 'iya' agar Wang Chen membantunya.


Tetapi sebelum itu, karna kepanikan dan kecerobohannya, Feng Ying menabrak batang pohon hingga membuat keningnya memerah bahkan sedikit berdarah. Pohon juga menjadi agak miring karenanya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, baru Wang Chen mengeluarkan tali yang dimasukkannya tadi ke dalam pakaian Feng Ying. Pemuda itu bahkan tertawa melihat ekspresi Feng Ying. Bukan hanya dirinya, Jiang Fu juga menahan tawa.


Feng Ying yang terlihat hebat itu membentur batang pohon karna ketakutan terhadap tali? Lelucon macam apa itu?! Bahkan kejadian itu disaksikan oleh seorang bocah. Hal ini membuat Feng Ying malu sekaligus kesal pada Wang Chen. Bila ia tahu sejak awal itu hanyalah tali, maka tidak akan terjadi kejadian seperti itu. Ia juga menjadi kehilangan muka di depan Jiang Fu. Kejadian saat itu adalah kejadian yang sangat memalukan bagi Feng Ying.


__ADS_2