Feng Ying

Feng Ying
128 -Feng Ying Dan Wang Chen


__ADS_3

Feng Ying perlahan membuka matanya. Awalnya pandangannya buram, tapi perlahan menjadi jelas. Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah Wang Chen yang nampak memejamkan mata dan tertidur. Wang Chen menjadikan kakinya yang bersila sebagai bantalan untuk kepala Feng Ying.


Hari sudah malam karna langit nampak gelap dan hanya disinari bintang bintang. "Apa yang terjadi?" Gumam Feng Ying. Ia perlahan mulai duduk.


Feng Ying melirik Wang Chen yang duduk di depannya saat ini dan tertidur. Feng Ying menepuk kaki Wang Chen. "Bangun! Hei, bangun!"


Tetapi sia sia saja, Wang Chen tidak juga bangun. Feng Ying melihat sekitar dan menyadari bila tempat ini bukanlah gua. Tempat ini seperti terdapat di dalam sebuah lubang besar yang di memiliki air terjun, danau dan juga pepohonan dengan daun berwarna oren. Tak jauh dari tempatnya berada pun terlihat gua.


Feng Ying kini berdiri dan menatap Wang Chen, "Dia susah sekali dibangunkan." Ia menatap Wang Chen dengan kesal.


"Hei, bangunlah! Jangan terus tidur seperti itu!" Feng Ying menendang tubuh Wang Chen hingga membuat tubuh pemuda itu terjatuh ke tanah. Walau begitu, Wang Chen belum juga bangun.


"He? Apa dia susah mati?" Gumam Feng Ying. Ia mendekat dan berjongkok di depan Wang Chen yang masih memejamkan mata.


"Apa kau sudah mati? Atau belum?" Feng Ying menusuk nusukan jarinya pada pipi Wang Chen. Feng Ying pun kembali berdiri setelah melakukan itu, "Dia belum mati."


Feng Ying melihat ke arah danau dan tersenyum jahil. "Hehe.."


Feng Ying mengangkat tubuh Wang Chen dan langsung menceburkannya ke danau yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Byuurrr


"A-ah?! Hah?! Aakkhh, dingin!" Wang Chen langsung membuka mata dan terkejut ketika mengetahui dirinya berada di dalam danau.


"Ternyata cara paling efektif untuk membangunkamu adalah dengan menceburkan dirimu ke dalam danau, hahaha!" Ucap Feng Ying ditambah dengan tawanya.


Wang Chen melihat ke arah Feng Ying, "Akh! Ying! Kenapa kau malah menceburkanku ke danau?! Sekarang sudah malam. Tapi kau malah menceburkanku ke danau yang dingin ini.. Apa kau ingin aku sakit, huh?" Ia memeluk dirinya sendiri agar lebih hangat. Tapi tetap saja sia sia. Karna ini adalah respon dari tubuhnya.


Feng Ying tersenyum, "Hehe.. Biarkan saja. Salahkan dirimu sendiri yang sangat sulit dibangunkan!"


Wang Chen mendengus kesal. Ia merasa benar benar kedinginan saat ini. "Bantu aku naik!"


"He? Kenapa memerintahku? Aku adalah Tuan dan Tuan yang memerintah bawahan. Bukan sebaliknya. Jadi kau harus naik ke atas sini sendiri." Ucap Feng Ying.


Wang Chen mamanyunkan bibir dengan kesal. Ia pun melirik ke belakang Feng Ying, "Akhh! Di belakangmu ada ular Ying!"


Feng Ying melirik ke bawah dekat tempatnya berdiri untuk mengetahui apakah Wang Chen berbohong atau tidak. Namun, ketika dirinya lengah pada pemuda itu, Wang Chen langsung menarik kaki Feng Ying hingga akhirnya Feng Ying ikut masuk ke dalam danau.


Byuurrr


"Bhuufftt.. Haha.. Kau juga ikut sekarang. Jadi kita impas!" Ucap Wang Chen sambil tertawa.


Feng Ying mengeluarkan kepalanya dari dalam danau. Ia pun menatap Wang Chen kesal, "Kau membohongiku!" Ia langsung memukul kepala Wang Chen dengan keras.


"Aduh.. Sstt.. Apa kau tidak bisa untuk tidak memukulku seperti itu?!"


"Apa?! Apa?! Kau mau protes?!" Feng Ying menatap Wang Chen dengan tajam.

__ADS_1


Wang Chen tertawa canggung, "Hehe.. Tidak.. Aku tadi hanya menyampaikan pendapatku saja.. Kau boleh memukul kepalaku sebanyak yang kau mau, hehe."


Feng Ying kembali memukul kepala Wang Chen.


"Aduh.. Kenapa kau memukulku?!" Protes Wang Chen.


"Kau yang mengatakan bila aku boleh memukul kepalamu sebanyak yang kumau." Ketus Feng Ying.


"Tidak jadi! Aku tarik kembali ucapanku. Bisa bisa, kepalaku menjadi seperti buah berduri, bila kau terus memukulnya!" Wang Chen berenang lebih ke tepi danau agar bisa naik ke atas permukaan.


"Hmph! Itu akan menakjubkan. Tapi karna kau bawahanku, maka bila tampilanmu seperti itu, sama saja akan mempermalukanku." Ucap Feng Ying sambil mendengus dan tersenyum. Ia ikut berenang lebih ke tepi agar bisa naik ke permukaan danau.


Setelah berada di atas permukaan, Wang Chen merebahkan tubuhnya di dekat danau. Ia merasa agak kedinginan. Bila saja ia memiliki elemen api, maka ia sudah membuatnya sekarang. Tapi sayangnya, ia tidak memiliki elemen itu. "Bbrrr dingin.."


Feng Ying yang baru saja akan naik ke permukaan, tak bisa naik ke atas. Kakinya seperti tak bisa digerakkan. "Chen! Tarik aku ke atas!"


Wang Chen langsung membuka mata yang sempat ia pejamkan ketika mendengar bila Feng Ying memanggil namanya lagi untuk kedua kalinya dalam perkenalan yang kedua ini. "Ying? Ada apa?"


"Bantu aku naik! Kaki kananku tak bisa kugerakkan!" Teriak Feng Ying yang sedang mencoba berenang ke tepi.


"Kau pasti ingin memasukkanku ke dalam danau lagi, bukan? Hmph! Tidak mau!" Ucap Wang Chen.


"Ini perintah! Apa kau mau aku tenggelam?"


"Kau 'kan bisa terbang.." Gumam Wang Chen. Ia akhirnya berdiri dan menggapai gapai tangan Feng Ying. "Pegang tanganku."


Feng Ying dengan cepat memegang tangan Wang Chen dan ia pun ditarik ke tepi. Feng Ying dengan segera naik ke atas permukaan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam Feng Ying. Ia pun melihat kakinya, apakah ia terluka atau mungkin sesuatu terjadi.


Pada kaki kanan Feng Ying terdapat warna keunguan, bahkan seperti agak hitam. Warna kulit itu seperti semakin meluas di kakinya. "Racun?!" Feng Ying terkejut ketika mengetahui bila dirinya terkena racun. Kapan ia terkena racun? Apa mungkin saat ia berusaha menjauh dari ular ular di gua itu tadi?


Wang Chen juga melihat racun itu. Ia terkejut, "Apa kau tadi pingsan bukan karan takut berlebih pada ular?"


Mendengar ucapan Wang Chen, Feng Ying langsung menatapnya kesal. "Kau kira aku akan pingsan hanya karna rasa takut?!"


Wang Chen mengangkat kedua bahunya, "Mungkin saja itu bisa terjadi. Kau 'kan takut ular.. Dan tadi kita sudah menemukan banyak ular di gua. Jadi kau ketakutan, lalu pingsan."


Feng Ying masih menatap Wang Chen kesal, "Sudah kubilang, bila aku tidak takut dengan ular! Aku tidak takut pada apapun!"


"Hehe.. Terserah apa katamu sekarang. Kita kesampingkan hal itu karna sekarang itu tak penting. Yang lebih penting adalah racun yang ada di kakimu." Wang Chen menunjuk kaki Feng Ying yang berwarna kehitaman.


"Ah.. Iya.. Apa kau membawa pil untuk menyembuhkan racun atau sejenisnya?" Ucap Feng Ying. Ia menatap Wang Chen.


Wang Chen menggelengkan kepala, "Aku saja ikut denganmu secara tiba tiba, jadi tidak memiliki banyak persiapan."


Feng Ying mendengus, "Huh.. Tak berguna. Kukira kau membawanya. Karna aku sudah kehabisan pil untuk racun."

__ADS_1


"Kalau begitu, kita pakai cara lain saja untuk menyembuhkanmu dari racun." Ucap Wang Chen. Ia mengambil sebuah belati dari dalam cincin ruang miliknya. Ia memang memiliki satu buah belati di dalam cincin ruangnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?!" Teriak Feng Ying.


"Maaf, aku harus melukai kakimu dulu agar aku bisa mengeluarkan racunnya."


Feng Ying diam mendengar ucapan Wang Chen. Ia mengerti apa yang akan dilakukan Wang Chen untuk mengeluarkan racun itu.


Melihat bila Feng Ying tak protes atau menolak, Wang Chen langsung sedikit menyayat bagian kaki Feng Ying. Sebenarnya ia tak mau melukai Feng Ying. Tapi ia harus melakukannya.


Darah mengucur keluar dari luka yang diberikan Wang Chen pada kaki Feng Ying. Ia pun menaruh belati kembali ke dalam cincin ruang. Ia menempelkan mulutnya pada kaki Feng Ying dan menyedot racun yang ada di kaki temannya. Hanya ini yang bisa ia lakukan.


Feng Ying memalingkan wajah ke arah lain, "Kenapa kau mau melakukan itu?"


Wang Chen meludah ke tanah untuk membuang racun yang ada di mulutnya. Ia pun menatap Feng Ying sejenak dan berbicara, "Karna aku adalah bawahanmu. Sekaligus sahabatmu." Ia kembali menyedot racun yang ada di kaki temannya.


"Hm.. Kau lumayan berguna juga." Ucap Feng Ying.


Perlahan, racun yang awalnya akan menyebar dari kaki Feng Ying mulai habis karna Wang Chen membuangnya.


Akhirnya, Wang Chen selesai. Ia meludahkan racun yang ada di mulutnya untuk terakhir kali. "Sekarang semua racun yang ada di kakimu sudah kukeluarkan. Apa sekarang kau bisa berdiri?"


Feng Ying kini mencoba berdiri dan langsung bisa. Tidak seperti tadi yang kakinya terasa tak bisa digerakkan. "Haha, kau hebat juga."


Wang Chen tersenyum bangga, "Kalau begitu, berterimakasih'lah padaku!"


Feng Ying mendengus mendengar ucapan Wang Chen, "Berterimakasih? Aku tidak perlu mengatakan itu. Karna ini memang tugasmu untuk melindungiku."


Wang Chen memanyunkan bibirnya, "Walau begitu.. Aku tetap sudah berusaha. Jadi kau harus mengatakan terimakasih."


"Terimakasih." Ucap Feng Ying dengan cuek.


Walaupun nada bicaranya seperti itu, tetapi Wang Chen tetap senang. "Nah, seperti itu."


Feng Ying melihat racun yang dikeluarkan Wang Chen tadi yang saat ini ada di permukaan tanah, "Warnanya gelap sekali. Mungkin racun itu dapat melumpuhkan seseorang dalam waktu lama atau bahkan bisa saja merenggut nyawa."


Wang Chen mengangguk dan setuju dengan ucapan Feng Ying. Ia pun berdiri di samping Feng Ying. Ia menunjuk air terjun. "Kita ke sana!"


Feng Ying menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa kita ke sana? Untuk apa?"


"Ada sesuatu di sa–"


Tiba tiba saja, sebuah benda keluar dari dalam cincin ruang milik Feng Ying. Padahal, ia tidak mengeluarkannya ataupun berniat mengeluarkannya. Benda itu tak lain adalah pedang dengan pegangan berwarna merah, bercorak bunga dan burung phoenix.


Pedang melayang di atas permukaan tanah. Namun tak lama kemudian, pedang melesat pergi menuju air terjun dan masuk ke dalam.


"Bagaimana bisa pedang itu keluar begitu saja?!" Ucap Feng Ying dengan nada terkejut.

__ADS_1


Wang Chen pun terkejut melihatnya. Namun, ia langsung menatap Feng Ying, "Kita ikuti pedang itu, Ying."


Feng Ying mengangguk. Ia dan Wang Chen pun berlari di pinggir danau untuk menuju air terjun. Setelah sampai di dekat air terjun, keduanya melompati bebatuan yang ada di danau untuk mencapai air terjun.


__ADS_2