Feng Ying

Feng Ying
112 -Mencari Kamar Liu Mei


__ADS_3

Wang Chen dan patriarch Lao kini berada di tempat yang cukup jauh dari kamar tempat Feng Ying berada. "Ada apa Chen'er?" Ucap patriarch Lao.


"Guru.. Ying seperti tidak mengingat diriku ataupun Wang Feng sama sekali. Tidak mungkin Ying akan melupakanku dan Wang Feng begitu saja tanpa mengingat kami sama sekali. Bahkan dia terlihat kebingungan denganku. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Ying, hingga membuatnya melupakan sebagian ingatannya?" Ucap Wang Chen cemas. Ia tadi memotong ucapan gurunya saat di kamar Feng Ying karna merasa bahwa Feng Ying tetap takkan mengerti, walaupun gurunya menjelaskan semuanya. Jadi dirinya memilih untuk berbicara dengan gurunya saja berdua.


"Aku juga melihat adanya kebingungan pada raut wajahnya. Sepertinya junior Ying memang tidak mengenalmu saat ini, Chen'er. Sesuatu terjadi padanya dan membuatnya melupakanmu." Ucap patriarch Lao.


Wang Chen menundukkan kepalanya dan tangannya terkepal erat, "Kalau saja aku ikut dengan Ying saat itu, mungkin hal ini takkan terjadi. Dia takkan melupakanku ataupun Wang Feng."


Patriarch menjadi agak sedih melihat muridnya seperti ini. Sepertinya Wang Chen sangat kecewa dengan keadaan Feng Ying saat ini yang melupakan dirinya. Patriarch Lao menyentuh pucuk kepala Wang Chen dan mengelusnya, "Ini bukan salahmu, Chen'er.. Walaupun junior Ying tidak memiliki ingatan tentangmu ataupun Wang Feng saat itu, tapi kau bisa membuat ingatan yang baru bersamanya."


Wang Chen mengangkat wajahnya dan menatap gurunya dengan antusias, "Guru benar! Aku bisa membuat kenangan yang lebih... Baik dengannya!"


Patriarch Lao tersenyum senang karna muridnya kini kembali bersemangat. Wang Chen pun tiba tiba teringat sesuatu, "Tapi.. Apakah aku boleh ikut pergi dengan Ying, guru?"


Patriarch Lao tersenyum, "Tentu saja. Lagi pula, tujuan pertamamu memang untuk bertemu dan melakukan petualangan dengan junior Ying, bukan?" Walaupun ia mengatakan hal seperti ini, tapi sebenarnya ia sedih bila Wang Chen pergi meninggalkannya.


Wang Chen tersenyum senang mendengar ucapan gurunya. Walaupun ia juga sedih karna harus berpisah dengan orang yang sudah mendidiknya selama beberapa tahun ini, tapi ia tetap ingin mengikuti Feng Ying. Lagi pula, tujuannya belajar dari patriarch Lao memanglah untuk mencapai tujuannya itu.


***


Di suatu tempat, di dalam ruangan yang sangat tenang. Namun menegangkan bagi satu orang yang sedang menghadap pria di depannya.


"T-Tuan.. Maaf.. Mereka.. Tak bisa menyelesaikan tugas untuk mengambil benda pemutar waktu yang Tuan cari." Ucap seorang pria muda sambil berlutut. Ia merasa sangat cemas ketika menyampaikan informasi ini. Orang yang ia panggil Tuan adalah orang yang kejam. Ia takut akan dibunuh olehnya.


Pria di depannya masih duduk dengan tenang. Namun tatapannya tidak seperti itu. "Hm.. Gagal? Mereka gagal.. Tidak berguna."


Pria itu menggerakkan tangan ke depan secara menyamping dari atas ke bawah.


CRRUAATT


Darah membasahi lantai. Tubuh pria muda tadi terbelah menjadi dua dan mati tanpa adanya teriakan sama sekali. Serangan tadi begitu mendadak dan cepat, membuatnya tak bisa menghindar.


Mata pria yang duduk di kursi nampak berkilat merah. "Cih, apa orang orang di tempat ini tak bisa menyelesaikan satu tugas saja?! Mereka tidak berguna! Apa kuhabisi saja mereka semua?"


"Kurasa itu cukup menarik.. Lebih menarik daripada harus menunggu di tempat ini tanpa melakukan apapun." Seseorang muncul dari belakang sebuah pilar yang ada di ruangan itu. Ia memakai jubah hitam dan kepalanya tertutupi oleh tudung jubah.


"Bukankah kau sedang melatihnya? Kenapa kau masuk ke dalam tempat ini?" Ucap pria yang duduk di kursi.

__ADS_1


"Memangnya apa masalahmu? Kau tidak ingin aku masuk ke ruangan ini?"


"Aku tidak peduli kau ingin masuk ke tempat ini ataupun tidak. Tapi yang jelas, kita harus memikirkan cara lain untuk mengambil benda itu dan mendapatkan informasi lain tentangnya setelah menghabisi orang orang tak berguna di tempat ini."


"Sepertinya menarik."


***


Pada malam hari, Feng Ying keluar dari dalam kamar yang ia tempati. Wang Feng saat ini sudah ada bersama Wang Chen di kamar lain dalam istana ini. Jadi Feng Ying tidak perlu mencemaskan bila ada orang lain yang mengetahui tindakan diam diamnya ini.


Feng Ying pergi dengan cepat tanpa menimbulkan suara. Sebagian tubuhnya dikendalikan oleh Jian agar dirinya bisa menghilangkan hawa keberadaannya sepenuhnya dari orang orang kuat lebih dari dirinya yang ada di dalam istana.


"Menurutmu, dimana kamar putri itu?"


"Kenapa kau ingin pergi ke kamarnya? Terlebih malam malam? Hm.. Apa yang akan kau lakukan dengan putri itu malam ini? Apa kau akan bersenang senang dengannya? Menurutku, dia lumayan cantik dan kau bisa menjadikannya selir." Ucap Jian dengan nada menggoda.


Rasanya, Feng Ying ingin sekali memukul kepala Jian dengan keras, bila saja Jian sedang ada di hadapannya. Orang itu kini menjadi orang yang cukup sering bercanda dengannya. Padahal, awalnya orang itu jarang berbicara. Mungkin penyebabnya karna Jian sudah lama bersama dengan Feng Ying. Jadi ia sudah merasa dekat dengan Feng Ying.


"Sebenarnya apa yang dipikirkan otakmu itu?! Kau pasti tau apa yang sedang kupikirkan dan apa yang akan aku lakukan padanya malam ini!" Ucap Feng Ying pada Jian dengan membentak.


"Sejak kapan kau berpikiran seperti itu?! Aku tak habis pikir, kau bisa menjadi orang yang.. Akh! Lupakan!" Feng Ying menyesal karna sudah bertanya pada orang seperti Jian. Ia menjadi marah sendiri dengan Jian saat ini.


"Hahaha, tenang.. Tenang.. Aku hanya bercanda.. Apa kau tidak bisa bercanda?" Ucap Jian.


"Aku bisa bercanda! Hanya saja, ini bukan waktunya. Aku harus segera menemukan kamar putri itu dan mendapatkan informasi, juga benda pemutar waktu yang diincar oleh orang orang sekte lembah tengkorak."


"Aku tau, tanpa kau beritau tujuanmu itu."


Feng Ying berekspresi datar. "Kalau begitu, bagaimana caraku menemukan kamarnya? Aku harus menemukan kamar yang tepat. Jangan sampai, yang kutemukan adalah kamar orang lain."


"Tck, apa racun itu juga mempengaruhi otakmu?! Sehingga sekarang kau menjadi bodoh?!" Ejek Jian.


"Jian! Kau menyebalkan! Katakan saja apa idemu?!" kini, Feng Ying merasa seperti darahnya naik turun karna marah.


"Haha, baik.. Baik. Caranya cukup mudah. Kau hanya perlu menggunakan kemampuan ilusimu."


"Ilusi? Maksudmu, aku pengaruhi orang lain agar dia melihatku sebagai Kaisar, lalu aku menanyakan kamar putri itu berada?"

__ADS_1


"Tepat sekali.. Ternyata otakmu masih dapat dipakai."


Alis Feng Ying berkedut. Iapun menahan sementara rasa kesalnya. Agar tidak menghancurkan rencananya. Feng Ying pergi mencari seorang prajurit ataupun pelayan yang sedang berada di sekitar, agar ia bisa mempengaruhinya.


Beberapa kali prajurit ataupun pelayan melintas di dekat Feng Ying. Namun, Feng Ying tidak mempengaruhi mereka. Karna ia hanya butuh satu orang saja, tidak lebih.


Setelah menunggu beberapa saat, Feng Ying menemukan seorang prajurit yang sedang berjalan di dekat tempatnya berada. Iris matanya berubah menjadi merah dan Feng Ying pun keluar dari balik pilar dan langsung menghadap prajurit. Untungnya, prajurit itu tak sengaja langsung melihat ke arah matanya. Jadi Feng Ying bisa segera menggunakan ilusinya pada prajurit itu.


Prajurit terkejut melihat kedatangan Kaisar Liu Changhai secara tiba tiba di depannya. Ia menundukkan kepala, "Y-Yang Mulia."


Feng Ying yang dilihatnya sebagai Liu Changhai mengangguk, "Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tapi kau tidak boleh mengatakannya pada orang lain. Apa kau paham?"


"B-baik!"


"Dimana kamar putriku? Aku lupa letak kamarnya karna istana ini terlalu besar."


Prajurit mengernyitkan kening. Iapun mengangguk, "Yang Mulia tinggal lurus dan ketika ada dua arah, kanan dan kiri, maka Yang Mulia pergi ke arah kanan terus sampai berada di ujung ruangan."


Feng Ying mengangguk, "Sepertinya faktor umur membuatku menjadi orang yang mulai pelupa sekarang." Gumamnya dengan sengaja.


Prajurit mengangguk ketika mendengar ucapan Feng Ying. Mungkin apa yang dikatakan Feng Ying ada benarnya. Terlebih karna Liu Changhai juga yang jarang berada di sekitar istana, selain tempat kerja dan kamarnya, membuatnya tidak tahu kamar putrinya sendiri. Liu Changhai terkadang sering juga keluar untuk mengecek kondisi rakyatnya secara langsung.


"Lanjutkan tugasmu. Jangan sampai ada penyusup yang masuk ke dalam istana." Feng Ying berjalan pergi setelah menepuk pundak prajurit satu kali.


"Baik Yang Mulia!" prajurit menatap kepergian Feng Ying dari belakang. "Hah.. Yang Mulai sering sekali seperti itu. Dia selalu saja menanyakan lokasi kamar putrinya berada." Ia menggelengkan kepala dan mulai pergi.


Bila Feng Ying mengetahui apa yang dikatakan prajurit itu dalam hatinya, maka Feng Ying akan terkejut. Dirinya tak akan menyangka bila Liu Changhai sering menanyakan lokasi kamar putrinya sendiri, karna tak mengetahui letaknya.


"Alasanku tadi memang agak aneh. Tapi semoga saja dia tidak curiga." Batin Feng Ying.


"Jangan memikirkan itu untuk saat ini. Lebih baik kau langsung pergi saja ke tempat dia sekarang. Mungkin dia sedang menunggumu malam ini." Goda Jian.


Feng Ying mendengus, "Bila saja kau sedang ada di hadapanku saat ini.. Maka aku akan langsung memukul wajahmu!"


"Uh~ aku takut, haha."


Feng Ying tidak lagi mempedulikan ucapan Jian dan terus pergi menuju kamar Liu Mei.

__ADS_1


__ADS_2