Feng Ying

Feng Ying
97 -Feng Chao


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan? Apa kau rindu padaku?" Ucap Feng Ying.


"Hmph! Tidak sama sekali.." Ucap seorang pemuda di depan Feng Ying. Ia adalah orang yang memperhatikan Feng Ying saat di restoran. Kali ini, mereka sedang berada di jalanan kecil yang sempit dan tidak ada orang lain selain mereka berdua di jalan kecil ini. Pemuda ini tak lain adalah kakak laki laki Feng Ying, bernama Feng Chao yang berumur 17 tahun.


"Kalau begitu, kenapa kau terus memperhatikanku saat di restoran?! Apa kau tau, itu sangat tidak nyaman!" Gerutu Feng Ying.


"Aku tidak peduli. Aku hanya tak sengaja saja bertemu denganmu. Jadi jangan terlalu percaya diri seperti itu."


"Kalau kau hanya tak sengaja bertemu denganku, lalu kenapa kau ikut aku ke jalanan sepi dan kecil seperti ini? Apa sebenarnya maumu?" Ucap Feng Ying dengan kening mengernyit.


"Kau memang sangat cermat setelah dilatih pribadi oleh ayah dan kakek."


"Tck, katakan saja apa yang kau inginkan?!" Feng Ying berdecak kesal. Karna kakak laki lakinya itu terlalu banyak berbasa basi saat ini.


"Ayo kita bertarung. Aku ingin tau, sejauh mana kekuatan dan kemampuanmu saat ini." Feng Chao memandang Feng Ying dengan sinis.


"Cih, kau kira aku mau melakukannya denganmu?"


"Kenapa? Apa kau sekarang menjadi orang yang penakut setelah masuk ke dalam sekte phoenix api?"


"Heh, tidak sama sekali. Aku hanya tak ingin saja bila kau harus mendapatkan kekalahan pertama saat bertarung denganku."


"Jangan terlalu percaya diri. Aku tetap akan menang sampai kapanpun, bila bertarung denganmu."


"Heh, tapi kali ini pasti akan berubah. Kau yang akan menelan kekalahan kali ini. Aku akan terima tantanganmu untuk bertarung, bila kau mau bertaruh denganku." Feng Ying memberikan smirk.


"Aku tidak mau!" Tolak mentah mentah dari Feng Chao.


"Kenapa? Apa kau takut kalah bila bertaruh denganku? Jadi sekarang kakakku ini sudah tidak mempercayai kemampuannya sendiri, ya? Ah, pasti memang seperti itu." Feng Ying memperlihatkan tatapan mencemooh.


Feng Chao mulai tersinggung dengan ucapan adiknya. Jadi, iapun memilih untuk setuju. "Baik! Aku akan terima taruhan darimu! Bila aku menang, maka kau harus mengabulkan satu permintaanku. Lalu bila aku yang kalah, maka kau bisa meminta satu permintaan padaku."


Feng Ying tersenyum percaya diri, "Hehe.. Aku setuju."

__ADS_1


***


Mereka pergi ke sebuah hutan yang tak jauh dari kota. Terlihat bila tempat keduanya berdiri adalah lapangan luas tanpa pepohonan. Hanya bagian pinggir pinggir dari lapangan luas itu yang tertanami oleh pohon.


"Kuyakin tujuannya tidak hanya ingin menilai kemampuan dan kekuatanku. Tapi sudahlah.. Aku tidak peduli." Batin Feng Ying. Ia menatap kakak laki lakinya yang berdiri di jarak belasan meter darinya.


"Sebaiknya kita mulai saja." Ucap Feng Chao.


"Heh, kau sudah tidak sabar untuk kalah ya?" Ejek Feng Ying.


"Hmph! Kita lihat saja."


Tatapan keduanya yang awalnya biasa kini menjadi tajam. Seakan keduanya sedang berhadapan dengan musuh kuat dan saling mewaspadai.


"Pada pertarungan kali ini, aturannya tidak boleh menggunakan ilusi. Apa kau tidak masalah, huh?" Ucap Feng Ying.


"Tidak sama sekali."


Keduanya segera menghilang setelah sebuah daun yang terjatuh dari pohon mengenai permukaan tanah. Pergerakan ketika menghilangnya dua orang itu menyebabkan dedebuan beterbangan ke segala arah.


Tak lama setelah dua kakak beradik menghilang, terdengar suara benturan senjata yang saling bertabrakan dengan alur cepat. Bahkan terlihat percikan percikan api di segala titik tempat.


"Aku yang akan memenangkan taruhan ini, Ying'er.." Batin Feng Chao. Ia berada di tingkat prajurit bintang 9. Tentunya itu berada 8 bintang diatas kekuatan Feng Ying saat ini. Kakak laki lakinya ini memang sangat jenius. Namun bukan hanya karna ketekunan dan bakat saja yang membuatnya bisa mencapai kekuatan setinggi ini. Tetapi juga karna sebuah pil yang dibuat ibunya.


Pil itu adalah pil penambah kekuatan yang hanya bisa dikonsumsi satu kali seumur hidup bagi seseorang. Pil ini juga hanya berfungsi pada orang yang memiliki kekuatan tingkat Qi foundation. Bila orang itu meminum pil ini, maka kekuatannya akan bertambah, sehingga langsung berada di tingkat grandmaster puncak. Itupun tergantung pada keberuntungan orang yang menggunakan pil itu.


Bila orang itu tidak beruntung, maka dantiannya akan hancur dan dia akan mati. Lalu bila beruntung, maka orang itu akan memiliki peningkatan kekuatan yang besar. Yang awalnya hanya berada di tingkat Qi foundation, akan meningkat menjadi tingkat grandmaster-jenderal. Tetapi untuk Feng Chao, ia hanya bisa sampai tingkat prajurit. Tetapi, itupun sudah dianggap sangat beruntung. Karna Feng Chao masih selamat dan mendapat peningkatan pada kekuatannya.


Feng Chao memiliki niat tersembunyi mengajak Feng Ying bertarung. Tentunya, pertemuannya dengan Feng Ying pun bukan secara kebetulan dan bukan hanya untuk mengetes kemampuan maupun kekuatannya.


***


Setelah beberapa waktu, nampak bila Feng Ying tergeletak di tanah dengan nafas tersengga sengga. Pakaiannya sudah robek di beberapa bagian dan terlihat juga bercak bercak darah di pakaiannya. Walau begitu, luka yang dialaminya perlahan pulih.

__ADS_1


Sementara Feng Chao nampak berdiri di depan Feng Ying dengan bertumpu pada pedang yang tertancap di tanah. Nafasnya tersengga sengga. Walaupun adiknya memiliki kekuatan di bawahnya, namun adiknya itu memiliki regenerasi yang hebat. Setiap luka yang diberikan dirinya untuk Feng Ying, akan sembuh dengan cepat. Terlebih dengan kekuatan fisik Feng Ying dengan dirinya, memiliki tingkatan yang sama. Jadi dirinya harus ekstra bekerja keras.


"Kau sudah kalah, Ying'er." Walaupun Feng Chao terluka cukup parah, namun dirinya tetap berbicara dan menagih ucapan Feng Ying.


"Hah..! Menyebalkan! Baiklah.. Aku akan menepati ucapanku." Feng ying langsung mengubah posisi menjadi duduk.


Feng Chao perlahan mengatur nafas terlebih dahulu. Setelah merasa cukup baik, ia langsung menyimpan kembali pedang miliknya ke dalam sarung pedang yang ada di pinggang. Ia berjalan mendekat pada Feng Ying dan berdiri tepat di depannya. "Berdirilah."


"Memangnya kenapa? Kenapa aku harus berdiri, huh? Kau bisa katakan saja sekarang apa yang kau inginkan." Ucap Feng Ying ketus. Ia bersikap seperti ini karna merasa agak kesal, tidak bisa mengalahkan kakak laki lakinya ini.


"Lakukan saja apa perintahku. Bukankah kau sudah mengatakan bahwa aku bisa meminta apapun darimu, bila aku menang? Maka dari itu, kau harus berdiri."


Feng Ying menatap Feng Chao dengan terkejut dan senang. Ia langsung berdiri dengan tegak, "Jadi permintaanmu hanya itu? Mudah sekali! Aku sudah berdiri, berarti aku sudah menepati ucapanku tadi. Karna aku sudah melakukan apa yang kau inginkan."


Reaksi Feng Ying dan Feng Chao berbeda. Bila Feng Ying bahagia, maka Feng Chao mulai berekspresi jengkel. Ia merasa bahwa dirinya sudah mengucapkan kesalahan atau salah merangkai kata. Ditambah, Feng Ying sang adik yang sangat cermat, mampu menemukan kesalahan kata itu dan langsung bisa melawan ucapannya. "Tadi itu bukanlah keinginanku!"


"Kau sudah mengatakannya tadi, agar aku berdiri. Karna aku sudah melakukannya, maka aku sudah membuktikan ucapanku tadi dan kau tidak bisa meminta permintaan lagi padaku," Feng Ying menggelengakan kepala.


"Tck!" Feng Chao berdecak kesal. "Baiklah.. Yang terpenting sekarang aku sudah mengetahui sejauh mana kekuatan dan kemampuanmu. Kau memang memiliki peningkatan yang sangat cepat. Aku kagum padamu."


Setelah mengatakan itu, Feng Chao sedikit merendahkan tubuhnya dan memeluk Feng Ying tiba tiba. Hal ini membuat Feng Ying tersentak kaget. Ia tak pernah menyangka bila Feng Chao akan memeluknya seperti ini. Tidak pernah sekalipun kakaknya melakukan ini sebelumnya. Namun sekarang? Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan pemuda itu?


"Aku merindukanmu, Ying'er.. Kau tidak pernah memberikan kabar ataupun pulang lagi ke rumah. Ini membuatku khawatir.." Ucap Feng Chao dengan suara rendah.


"Sejak kapan kau mengkhawatirkan-uhk"


Feng Chao semakin mempererat pelukan itu pada adiknya, hingga kini keduanya dapat saling merasakan detak jantung satu sama lain. Bahkan kini, Feng Ying dapat mendengar deru nafas kakaknya yang tepat berada di samping telinga. Ketika dirinya akan protes dan melepas paksa pelukan ini, suara kakaknya kembali terdengar.


"Ying'er.. Apa kau tidak tau, seberapa cemasnya diriku ini karna kau pergi dari rumah, huh? Apa kau tidak tau, semua orang mencemaskanmu? Sementara kau disini.. Tidak mencemaskan apapun atau mempedulikan kami."


"...Aku tau, kau takkan peduli pada kami. Kau hanya sedang memikirkan temanmu itu dan agak merindukannya, benar bukan?"


"A- Apa maksudmu?" Ucap Feng Ying.

__ADS_1


__ADS_2