
Ketika sampai di sebuah kota, Feng Ying, Wang Chen dan Wang Feng turun dari kereta kuda. Feng Ying berterimakasih pada paman kusir itu karna sudah memperbolehkan mereka menumpang.
Setelahnya, mereka langsung pergi berjalan di kota. Hari sudah sore saat ini. Feng Ying harus terus menarik tangan Wang Chen, agar bocah itu tidak tertinggal olehnya. Tatapan Wang Chen masih tetap sama, kosong.
Feng Ying berhenti menarik Wang Chen. Iapun berbalik dan menatap temannya. Wang Chen nampak masih sangat bersalah atas kejadian kemarin sore. Feng Ying memegang pundak temannya dengan erat. Di sekitar tempat itu, tidak terlalu ramai saat ini.
"Chen.. Tatap aku" ucap Feng Ying.
Wang Chen mengangkat wajahnya dan menatap mata Feng Ying dengan sendu.
Feng Ying semakin mencengkram kuat kedua pundak Wang Chen. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Bandit bandit itu adalah orang jahat. Kau tidak perlu merasa bersalah karna sudah membunuh orang orang itu."
"Tapi.. Ying-" Wang Chen tak bisa melanjutkan ucapannya karna dipotong oleh Feng Ying.
"Di dunia kejam seperti ini, akan selalu ada pembunuhan, pembantaian, mayat mayat manusia dan pertempuran. Bila kau selalu berbaik hati melepaskan semua musuh mu, maka musuh mu bisa saja menyerangmu kembali. Berbuat baik pada orang lain bukan berarti orang itu juga akan berbaik hati padamu, Chen.
Jika kau terus saja seperti ini, takut membunuh ataupun takut melihat mayat, maka tidak akan ada kemajuan pada dirimu. Kau juga tidak akan bisa melindungi orang orang yang kau sayangi dan bukankah kau ingin menyelamatkan semua paman dan bibimu? Maka dari itu, ubahlah semua sifat yang kusebutkan tadi.
Jangan merasa bersalah setelah kau membunuh orang jahat dan jangan pula kau takut melihat mayat manusia. Bukankah kau adalah kultivator? Maka dari itu, kau harus terbiasa dengan semua pembunuhan dan pertarungan yang bisa saja terjadi. Apa kau mengerti? Kau tidak mau semua orang yang kau sayangi terbunuh, bukan?"
Tatapan Wang Chen yang awalnya kosong kini mulai membaik. Ia mengangguk faham mendengar ucapan Feng Ying. "Aku.. Tidak mau kehilangan orang orang yang kusayangi, Ying."
Feng Ying mengangguk, "Maka dari itu, dengarkan ucapanku tadi. Kau sudah faham 'kan?"
Wang Chen mengangguk. Walaupun ia sudah faham, bukan berarti semua rasa bersalah itu sudah hilang sepenuhnya.
Feng Ying menurunkan tangannya dari pundak Wang Chen. Ia menyadari bahwa rasa bersalah Wang Chen belum hilang sepenuhnya. Iapun berniat bersenang senang bersama Wang Chen terlebih dahulu. "Ikut aku," Feng Ying menarik tangan Wang Chen.
"Kemana?" ucap Wang Chen.
"Ikut saja," Feng Ying terus menarik tangan Wang Chen ke suatu tempat.
***
Hari kini sudah malam dan Feng Ying pun berhenti menarik tangan Wang Chen. Tempat mereka berada saat ini adalah sebuah hutan. Di depan mereka ada danau. Danau nampak indah dilihat saat malam, terlebih ketika danau terkena sinar bulan. Di atas danau terdapat banyak bunga teratai.
"Kita sudah sampai" ucap Feng Ying sambil tersenyum menatap ke arah danau.
Wang Chen nampak takjub ketika melihat indahnya danau di depan mereka. Ia seakan melupakan kejadian kemarin sore setelah melihat danau ini.
"Bagaimana? Bukankah tempat ini sangat indah?" ucap Feng Ying dengan bangga. Ia merasa bangga karna tempat ini adalah tempat yang ia pilih untuk menenangkan pikiran Wang Chen.
Wang Chen mengangguk. Ia tersenyum, "Tempat ini sangat indah Ying! Ditambah, banyak bunga teratai di danau itu" ucapnya dengan nada semangat.
Feng Ying tersenyum karna berhasil mengalihkan pikiran Wang Chen dari pembunuhan saat kemarin sore. Ia langsung duduk di tepi danau. "Kemarilah, duduk di sini," Feng Ying menepuk permukaan tanah di sampingnya dan mengajak Wang Chen untuk duduk.
Wang Chen mengangguk. Ia langsung duduk di samping Feng Ying. Sementara, Wang Feng si harimau bulan melompat turun dari kepala Feng Ying dan duduk di samping Wang Chen.
Nyawn~
__ADS_1
Harimau bulan menatap Wang Chen dengan raut bahagia.
Seakan mengerti apa yang diucapkan Wang Feng, Wang Chen tersenyum. "Aku takkan sedih lagi."
Feng Ying menatap Wang Chen. Ia memiliki pemikiran jahil saat ini. "Chen, coba kau lihat ke atas. Bukankah bulan itu terlihat indah?"
Wang Chen melihat ke atas. Iapun mengangguk. Ketika dirinya sedang lengah, Feng Ying langsung mendorong Wang Chen hingga membuat Wang Chen terdorong dan masuk ke dalam danau beberapa meter dari tempatnya duduk.
"Hahaha," Feng Ying tertawa ketika temannya itu kini masuk ke dalam danau, "Apa kau belum mandi Chen, sampai sampai kau menceburkan diri ke dalam danau, haha."
"Aaahh, Ying! Aku tak bisa berenang!", tangan Wang Chen menggapai gapai ke atas. Kepalanya naik turun ke permukaan air.
"Kau pasti bercanda, agar aku juga basah sepertimu" ucap Feng Ying sambil tersenyum.
"Aahh, Ying! Aku tidak... Bercanda," tubuh Wang Chen langsung tenggelam ke danau.
"Haha Chen, jangan bercanda seperti itu. Aku tau kau pasti sedang bercanda. Jangan kira aku akan percaya padamu" ucap Feng Ying.
Nyawn?
Harimau bulan memanggil Wang Chen. Hanya saja, bocah itu tidak juga keluar dari danau.
Nyawn!
Kedua kaki depan Wang Feng langsung terangkat dan memegang tangan Feng Ying. Ia seakan berkata bahwa Wang Chen tidak sedang berbohong.
Feng Ying mengamati tempat di mana Wang Chen menghilang. Namun tiba tiba Wang Feng mencakar tangannya hingga berdarah. Feng Ying melirik Wang Feng. Ia mengangkat tangannya dan menjauhkannya dari harimau bulan itu. "Kenapa kau mencakarku? Aku tak melakukan apapun padamu."
Nyawn!
Luka ditangan Feng Ying menghilang hanya dalam hitungan detik. Iapun menatap ke arah danau tempat Wang Chen menghilang, "Sepertinya dia tidak sedang bercanda."
Tanpa pikir panjang, Feng Ying langsung masuk ke dalam danau dan berenang menuju tempat Wang Chen tenggelam. Setelah itu, ia masuk ke dalam dasar danau. Ia melihat ke sekitar dan akhirnya ia menemukan Wang Chen yang cukup jauh darinya di bawah sana.
"Aku harus segera menyelamatkannya," Feng Ying berenang semakin dalam ke dasar danau. Tangannya menggapai gapai ke arah Wang Chen. Ia juga mempercepat gerakan untuk dapat semakin dekat dengan Wang Chen.
"Sedikit.. Lagi," akhirnya tangan Feng Ying menggenggam tangan Wang Chen. Ia pun langsung bergegas membawa Wang Chen untuk naik ke permukaan.
***
Feng Ying menekan nekan dada Wang Chen agar temannya itu mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia dan temannya saat ini sudah berada di daratan.
Tak lama kemudian, Wang Chen memuntahkan air dari dalam mulutnya. Ia langsung terduduk di tanah dan terbatuk. Setelah sadar, Wang Chen memeluk Feng Ying yang ada di sampingnya.
"E- eh?!" Feng Ying terkejut karna tiba tiba saja temannya itu memeluknya. Bahkan ia dapat mendengar sedikit isakan dari bocah itu. Walaupun demikian, Feng Ying tidak menolak ketika Wang Chen memeluknya. Iapun mengelus punggung temannya. "Kau kenapa?"
Wang Chen bercerita bahwa ia takut dengan air yang dalam. Karna ia tak bisa berenang. Sementara, ketika ujian waktu itu ia tak tenggelam setelah Feng Ying menceburkannya ke dalam sungai. Karna sungai itu tidak dalam. Jadi dia tidak tenggelam. Sementara di danau, airnya sangat dalam dan cukup dingin.
Wang Chen juga bercerita bahwa sebelum dirinya tak sadarkan diri, ia melihat dua kilat berwarna hijau yang menakutkan dan ia takut dengan itu.
__ADS_1
Dua alasan itulah yang membuat Wang Chen takut dan menangis.
Feng Ying juga mengingat ketika dia akan membawa Wang Chen ke permukaan. Ia melihat dua kilat hijau menyeramkan yang dikatakan Wang Chen. Namun itu tidak membuatnya takut sama sekali. Dua kilat hijau itu adalah sepasang mata demonic beast yang hidup di dalam air danau.
Demonic beast itu menyerang Feng Ying ketika dirinya akan membawa Wang Chen ke permukaan. Karna ia berada di dalam air, membuat Feng Ying cukup kesulitan melawan demonic beast itu.
Namun ia dapat mengalahkan demonic beast dengan kemampuan matanya. Feng Ying hanya perlu menggoreskan luka pada demonic beast itu dan ia langsung mengendalikan darah yang berada di dalam tubuh demonic beast dan membuat demonic beast mati dengan darah di tubuhnya yang menajam. Bahkan darah yang tajam itu menembus tubuhnya hingga mati.
Sebenarnya Feng Ying tak menyangka bahwa di dalam danau itu terdapat demonic beast. Namun untungnya, demonic beast tak terlalu kuat. Walaupun penampakannya cukup menyeramkan.
"Sudah.. Jangan menangis.." ucap Feng Ying dengan pelan tepat di dekat telinga Wang Chen.
Wang Chen melepaskan pelukannya dari Feng Ying. Ia juga terlihat menghapus air matanya.
"Kau ini cengeng sekali Chen. Kau takut dengan banyak hal. Kau ini laki laki, tapi sering menangis" ejek Feng Ying.
"Mana ada! Aku tidak menangis dan aku juga bukanlah orang yang cengeng" ucap Wang Chen yang masih menghapus air matanya. Iapun menatap Feng Ying dengan cemberut.
"Hahaha," Feng Ying tertawa melihat Wang Chen seperti itu, "Aku benar. Kau memang cengeng dan penakut."
"Tidak! Aku tidak cengeng dan penakut seperti apa yang kau katakan!" tegas Wang Chen.
Walaupun Wang Chen sudah berkata seperti itu, namun Feng Ying belum juga berhenti tertawa. Ia terus mengejek Wang Chen. Sebenarnya ia merasa sifat Wang Chen sangat unik. Walaupun Wang Chen kultivator dan dia seorang laki laki, namun Wang Chen terkadang bisa sangat cengeng dengan hal hal kecil bagi Feng Ying.
>> Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tingkat kekuatan di dunia ini:
*Pemula\=1-9
*Qi condensation\=1-9
*Qi foundation\=1-9
*Master\=1-9
*Grandmaster\=1-9
*Prajurit\=1-9
*Jenderal\=1-9
*Kaisar\=1-9
*Bumi\=1-7
*Langit\=1-7
__ADS_1
*Immortal