Feng Ying

Feng Ying
67 -Jian II


__ADS_3

"Apa kau bilang?!" ucap Han Liangyi geram. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat sambil menatap tajam bocah yang berjarak beberapa meter darinya itu.


Jian yang kini mengendalikan tubuh Feng Ying membalas tatapan Han Liangyi, "Kau pikir.. Kau siapa menatapku seperti itu?" ucapnya dengan penuh penekanan.


Han Liangyi terkejut ketika bocah itu malah membalas tatapan serta ucapannya, "Berani sekali kau membalas ucapanku!"


"Tentu saja. Aku ini bukan benda, yang bila diajak bicara hanya diam!" ucap Jian dengan tegas.


"Kau..!!"


"Hahaha Jian, kau pandai sekali berbicara. Aku tak menyangka itu" ucap Feng Ying di dalam ruang jiwa sambil tertawa. Ia menyaksikan apa yang sedang terjadi di sana. Yang diketahui Feng Ying, Jian cukup jarang berbicara dengannya. Jadi ia tidak terlalu tau bagaimana cara bicara Jian. Tak ia sangka, ternyata Jian pandai berdebat, sama seperti dirinya.


Jian mengabaikan suara Feng Ying di kepalanya. "Apa, hah? Kau mau bicara apa?" ucap Jian dengan sinis.


"Kurang ajar! Berani sekali berbicara seperti itu padaku!" ucap Han Liangyi. Ia langsung melakukan tinjuan dengan tangan terkepal ke arah wajah Jian.


Jian memiringkan kepala ke samping untuk menghindari serangan, "Mudah ditebak."


Han Liangyi tambah geram. Ia langsung melakukan tendangan bawah, namun lagi lagi dihindari Jian dengan sangat cepat. "Akan kuhabisi kau!" ucap Han Liangyi.


Han Liangyi langsung melesat dan mencengkram leher Jian. Ia bahkan mendorongnya dan menabrakkan tubuh Jian ke dinding ruangan.


Krraakkk


Tembok yang seharusnya sangat kuat kini retak. Darah langsung keluar dari kepala Jian. Melihat itu, Han Liangyi tersenyum. Namun ia belum puas bila belum menyiksa bocah ini dan membunuhnya. Jadi ia memperkuat cengkraman tangannya pada leher Jian.


Sudut bibir Jian mengeluarkan darah. Ia menggertakkan gigi nampak kesulitan bernafas. Ia menatap Han Liangyi dengan tajam.


"Hahaha, tidak perlu memberikanku tatapan menyedihkan seperti itu!" ucap Han Liangyi. Matanya langsung berkilat, dirinya juga nampak senang ketika melihat tatapan Jian.


Detik berikutnya, Jian tiba tiba membuat seringaian di bibirnya yang mungil. Iapun mencengkram balik tangan Han Liangyi yang mencengkram lehernya. Ia meremas dengan kuat, "K- kau pikir.. Bisa membunuhku.. Seperti.. Ini?" ucapnya dengan agak kesulitan.


Jian meremas tangan Han Liangyi dengan kuat. Ketika merasakan bahwa remasan yang dilakukan Jian semakin kuat, Han Liangyi melepaskan cengkraman tangannya dan melompat mundur untuk menjaga jarak.


Jian juga melepas cengkramannya ketika Han Liangyi sudah melepaskan tangannya itu dari lehernya. Walaupun dirinya terluka, namun seringaian masih terdapat di bibirnya.

__ADS_1


Han Liangyi mengibas ngibaskan tangannya. Ia merasa bahwa tulang lengannya retak, bahkan seperti akan patah. Iapun menatap Jian dengan tajam, "Beraninya kau melawan dan melukaiku!"


"Apa aku harus diam saja, sementara kau menyerang? Bukankah itu tidak adil? Jika seperti itu, kau sudah menunjukan diri bahwa kau lemah!" cemooh Jian.


"Bocah sialan! Akan kubuat kau menyesal!", Han Liangyi tidak pernah merasa semarah ini dan belum pernah merasa sangat ingin membunuh seseorang hanya karna ucapan. Namun kini bocah didepannya membuat kesabarannya habis.


Han Liangyi menghilang dari tempatnya. Karna ia melakukan teleportasi. Ia kembali muncul di samping Jian dan melakukan tendangan, juga pukulan bertubi tubi tanpa jeda.


Jian dengan instingnya yang tajam langsung menepis semua serangan dengan cepat. Ia saat ini harus fokus, karna lawannya memiliki kemampuan untuk berteleportasi dengan sangat cepat. Dia bisa muncul di mana saja.


Dua kilatan beradu di kamar Kaisar. Debaman juga terdengar disegala sudut ruangan. Membuat suara berisik hingga terdengar sampai luar kamar.


Han Liangyi tak mempedulikan adanya keanehan pada mata Jian. Ia juga tak mempedulikan bila satu mata bocah itu tidak ada. Toh dia terlalu kesal dan ingin mencincang habis tubuh Jian. Pertarungan berlangsung sampai puluhan menit.


"Kau mudah terbawa emosi!" ucap Jian. Ia menangkis pukulan yang dilayangkan ke arahnya. Iapun langsung berputar di udara dan menendang perut Han Liangyi hingga membuat iblis itu terlempar menabrak dinding.


"Tendangannya sangat.. Kuat. Bagaimana bisa.. Dia sekuat itu?" batin Han Liangyi. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit.


Jian berdiri di depan Han Liangyi dengan tatapan sinis. "Hmph! Lemah! Kau bahkan tak bisa mengalahkanku! Bagaimana mungkin kau menjadi penguasa dunia?! Omong kosong!"


Jian menengok ke atas. Ketika melihat Han Liangyi, dirinya langsung melompat mundur untuk menghindari pukulan yang akan Han Liangyi layangkan padanya.


Namun, Han Liangyi tiba tiba menghilang dan muncul di belakang.


Jian membalikkan tubuhnya dan mencengkram kepalan tangan Han Liangyi, "Sudah cukup! Kau sudah bertindak terlalu jauh, aku takkan memaafkanmu."


"Heh, siapa yang butuh 'maaf' darimu? Kau hanyalah bocah ingusan!" ucap Han Liangyi. Ia tetap tidak akan mengakui bahwa Jian sangat kuat untuk anak seumurannya.


Han Liangyi langsung melakukan tendangan. Namun kakinya ditahan oleh tangan Jian yang satunya. Han Liangyi menggertakkan gigi. Kumpulan Qi terbentuk diantara kedua tanduknya dan membentuk bola kecil berwarna biru muda dengan aura dingin.


Melihat itu, Jian langsung melompat mudur. Ia juga melepaskan cengkraman tangannya dari kaki dan tangan Han Liangyi.


"Rasakan ini!", Han Liangyi menembakkan bulatan berwarna biru itu tepat ke arah Jian. Dengan sangat cepat, bola itu melesat ke arah bocah yang terlihat berumur 12 tahun.


"Takkan sempat" gumam Jian. Ia langsung mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan. Seketika, sebuah tembok berwarna hitam muncul dari permukaan lantai dan memanjang ke atas hingga setinggi 2 meter. Benda berwarna hitam itu adalah sebuah bayangan.

__ADS_1


Bhuuss


Bola kecil berwarna biru itu masuk ke dalam tembok bayangan dan lenyap begitu saja. Hal ini membuat Han Liangyi terkejut. Belum sempat merespon, tiba tiba tembok bayangan muncul dari arah sampingnya dan mengeluarkan bola biru yang melesat.


Whuuuss


Bola biru langsung menghantam tubuh Han Liangyi ke tembok, bahkan menghancurkan tembok. Tembok bayangan masuk ke permukaan lantai dan lenyap begitu saja. Jian pun berlari ke arah Han Liangyi terlempar.


***


Bukan hanya menembus satu tembok saja, bahkan Han Liangyi menembus satu tembok lainnya dan membuatnya keluar dari ruangan manapun dan berada di koridor saat ini. Tubuhnya tergeletak di lantai.


Serangan yang mengenainya tadi dua kali lebih kuat dari pada serangan yang ia buat. Separuh tubuhnya, dari dada bagian kiri sampai kaki bagian kiri saat ini membeku karna terkena serangan sendiri.


Kepala belakang dan susut bibirnya mengeluarkan darah. Iapun terbatuk dan membuat darah menyiprat ke lantai, "Siapa.. Dia sebenarnya? Bagaimana mungkin.. Dia memiliki kemampuan.. Seperti itu?"


Jian berdiri di depan Han Liangyi yang tergeletak. Ia pun langsung berjongkok di depan iblis itu yang kini dalam keadaan telungkup. Nampak tatapan dingin dari mata Jian.


"Kau sudah melupakan diriku?" ucap Jian.


Han Liangyi menengadahkan wajahnya ke arah Jian. "Siapa.. Kau? Aku tak mengenalmu, dasar bocah sialan!"


Jian langsung mengangkat Han Liangyi dengan mencengkram leher iblis itu. Iapun langsung menghantamkan tubuh iblis itu ke dinding yang berada di koridor.


Braakkk


Dinding koridor menjadi retak setelah tubuh Han Liangyi menghantamnya. "Aarrkhh."


***


Zhang Jiazhen yang mendengar keributan dari arah kamar Kaisar, langsung pergi dengan cepat ke tempat itu, "Apa yang terjadi? Apa mungkin dia sedang berlatih? Tidak, bukan. Tidak mungkin dia berlatih di dalam kamar" batinnya.


Zhang Jiazhen segera bergegas menuju kamar Kaisar. Dirinya tadi sudah menghabisi orang aliran hitam yang tersisa sampai menjadi abu. Lalu ketika dirinya berjalan jalan di istana, ia mendengar suara gaduh dari arah tempat Han Liangyi. Jadi dirinya memutuskan pergi ke tempat itu untuk mengecek apa yang terjadi.


Ketika sampai di tempat suara berisik, Zhang Jiazhen terpaku di tempatnya. Ia melihat bahwa Han Liangyi nampak dicekik oleh seorang bocah berusia 12 tahun.

__ADS_1


__ADS_2