Feng Ying

Feng Ying
85 -Mati Karna Sang Ayah


__ADS_3

Setelah membunuh satu orang lawannya, Wang Chen langsung menghampiri Feng Ying. Ia sudah menyarungkan kembali pedangnya. "Ying.. aku sudah menyelesaikan lawanku."


Feng Ying melirik ke arah Wang Chen dan berjalan menjauh dari depan pembunuh yang sudah ia ikat, "Baguslah kalau begitu."


"Apa yang terjadi padanya Ying? Kenapa dia terlihat ketakutan? Apa yang sudah kau lakukan padanya?", Wang Chen memperhatikan pembunuh itu dan kemudian menatap Feng Ying.


"Aku tidak melakukan apapun padanya. Dia hanya ketakutan saja pada Wang Feng karna dia sudah memakan semua temannya," Feng Ying menunjuk Wang Feng kecil yang sudah duduk dengan wajah imutnya. Bahkan nampak Wang Feng menggerak gerakan ekornya sambil menatap Wang Chen dengan wajah polos.


Nyawn?


"Jangan pura pura tidak tau! Kau lah yang membuat dia jadi seperti itu." Ucap Feng Ying sambil masih menunjuk Wang Feng.


Nyawn? Nyawn!


Feng Ying mendengus setelah mendengar ucapan Wang Feng, "Tentu saja kau memang hanya makan. Tapi yang kau makan adalah teman teman dia, hingga membuatnya takut padamu."


Wang Chen memperhatikan wajah Wang Feng, "Sejak kapan kau memakan manusia lagi, Wang Feng?", ia mengerutkan kening dengan heran.


Wang Feng memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan Wang Chen.


"Tak perlu menanyakan itu padanya. Lagi pula, tak masalah bila ia melakukan itu. Karna bagaimanapun, Wang Feng tetaplah demonic beast," Feng Ying berjalan ke arah pembunuh yang masih terduduk di tanah. Iapun langsung berjongkok di depannya.


"Kau tadi berkata bahwa orang yang menyewa kalian adalah Hao Jin?" Ucap Feng Ying.


Pembunuh itu langsung mengangguk dengan cepat. Ia tidak mau mendapatkan masalah lebih dari ini, bila ketahuan berbohong. Lagi pula, dirinya lah orang yang sudah memberitaukan siapa Tuan yang menyewa mereka.


Feng Ying kembali membuka suara, "Siapa Hao Jin? Apakah dia ayah dari Hao Yu?"


Pembunuh kembali mengangguk.


"Apa tujuannya menyewa kalian?", walaupun Feng Ying sudah tau apa yang mungkin menjadi tujuan Hao Jin, ia tetap bertanya untuk memastikan saja.


"Di- dia ingin ka- kami membunuhmu dan membawa kepalanya pada dirinya."


Feng Ying tertegun sejenak, "Apa jumlah kelompok kalian hanya ini saja? Tidak ada yang lainnya?", ia langsung memegang dagu pembunuh itu dan mengangkatnya agar dia bisa melihat wajah pembunuh itu.


"Ka- kami hanya kelompok kecil saja. Tidak ada orang lain." Ucapnya dengan takut takut.


Melihat tatapan kejujuran yang diperlihatkan pembunuh itu, membuat Feng Ying mempercayainya. "Lalu di mana tempat tinggal Hao Jin? Antarkan aku ke tempat itu!"

__ADS_1


Pembunuh itu tertegun ketika mendengar ucapan Feng Ying. Ia seharusnya tak boleh memberitaukan di mana letak tempat tinggal orang yang sudah menyewanya. Namun, dagunya semakin dicengkram kuat oleh Feng Ying dan membuatnya meringis, "Ba- baiklah.. Tapi biarkan aku pergi nanti!"


Feng Ying melepaskan cengkraman tangannya dari dagu pembunuh itu dengan kasar, "Baik. Aku akan melepaskanmu nanti," ia menyeringai.


Pembunuh itu tidak mencurigai apapun dari ucapan Feng Ying dan hanya mengangguk cepat.


***


BRRAAKK


"Tu- Tuan Muda.. sabar Tuan.." Ucap seorang pria paruh baya.


Ia berada di dalam sebuah ruangan yang nampak berantakan. Bukan hanya ada dirinya di sana. Namun, ada juga seorang pemuda dengan tongkat yang mengacak acak ruangan. Pemuda itu sudah beberapa hari ini terus saja mengacak acak barang yang ada di dalam ruangan.


Pemuda yang diketahui sebagai Hao Yu itu dipulangkan ke rumahnya pada saat semua orang dari sekte bambu kuning yang menginap, kembali ke sekte. Alasannya karna dirinya kini hanya memiliki satu kaki dan dirinya akan sulit untuk berlatih lagi di sekte. Sehingga, patriarch memutuskan untuk mengeluarkannya dari sekte dan mengantarkan Hao Yu pulang.


Hao Jin yang merupakan ayahnya langsung marah ketika tahu kondisi anaknya. Ia menyewa pembunuh bayaran yang ada di dekat kotanya tinggal untuk membunuh Feng Ying. Karna Feng Ying hanya seorang bocah, ia meremehkannya dan hanya menyewa pembunuh bayaran yang bisa dibayar lebih murah, dari pada pembunuh bayaran lainnya.


"AARGGHH!! Sialan! Kenapa dia belum juga ditemukan?!", Hao Yu langsung melemparkan sebuah vas bunga ke lantai hingga pecah.


"Tu- Tuan Muda.. Kau harus sabar.." Pelayan yang bersama Hao Yu tidak tau harus melakukan apa agar ia bisa menghentikan Tuan Mudanya berhenti


Awalnya pembunuh bayaran akan mencari Feng Ying di sekte phoenix api. Namun, karna mendengar kabar bahwa Feng Ying pergi dari sekte, membuat pembunuh bayaran mencarinya di luar sekte phoenix api.


"Orang yang sudah mencelakai Tuan Muda pasti akan segera ditemukan, percayalah Tuan Muda. Anda bisa membalaskan dendam Anda padanya nanti setelah dia ditemukan. Tidak ada gunanya terus merusak barang di tempat ini. Jadi sebaiknya Anda bersabar saja." Ucap pelayan pribadi Hao Yu.


"Cih!", akhirnya Hao Yu tidak lagi merusak benda. Ia berjalan ke arah tempat tidur dengan menggunakan tongkat. Karna kakinya tinggal satu saja. Ia langsung duduk di tepi kasur.


Ceklekk


Pintu yang tertutup mulai terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya yang masuk ke dalam kamar, "Yu'er.. Bagaimana keadaanmu sekarang?"


Hao Yu menatap ke arah suara dan mengetahui bahwa itu adalah Hao Jin, ayahnya. "Aku tidak baik baik saja ayah. Kau sudah tau bagaimana kondisiku dengan jelas, bukan?", ia menatap Hao Jin dengan kesal.


Hao Jin sudah biasa ketika melihat kamar anaknya berantakan. Karna beberapa hari ini, keadaan kamarnya memang seperti ini. Ia menghampiri Hao Yu dengan makanan dan air putih di atas nampan.


"Sekarang lebih baik kau makan terlebih dahulu. Dari kemarin, kau belum makan. Bila kau sakit nanti, bagaimana dirimu bisa membalaskan dendam pada bocah bernama Feng Ying itu?" Ucapnya Hao Jin dengan tatapan lembut.


Hao Yu menatap ke arah ayahnya, "Aku tidak mau ayah!"

__ADS_1


"Yu'er.. Dengarkan ucapan ayahmu ini, makan sekarang."


Hao Yu akhirnya mengangguk ketika Hao Jin terus memaksa. Iapun mengambil makanan yang ada di atas meja dan mulai memakannya dengan perasaan yang masih kesal.


Hao Jin tersenyum lembut dan mengelus kepala Hao Yu, "Kalau begitu, ayah akan pergi. Habiskan makanannya."


Setelah mengatakan itu, Hao Jin pergi keluar kamar Hao Yu.


"Hah.. Aku akui, aku sekarang memang sedang lapar." Batin Hao Yu sambil tersenyum tipis. Ia langsung menghabiskan makanan dengan cepat dan setelah selesai, ia mengambil minum yang ada di atas meja dan menegaknya.


Pelayan pribadinya tersenyum ketika melihat Hao Yu sudah menghabiskan makanan.


"Ugh.. Kenapa kepalaku terasa pusing?", Hao Yu memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia mulai berteriak kala rasa panas mulai terasa di tenggorokan, "A- ada apa ini? Ke.. Kenapa tenggorokanku terasa panas?", Hao Yu melirik ke arah pelayan pribadinya yang tidak terkejut sama sekali setelah melihat keadaannya. Bahkan nampak bila pelayannya itu tersenyum sinis.


"K- Kau.. Apa yang kau lakukan padaku?!" Ucap Hao Yu sambil menunjuk pelayannya.


"Bukan saya Tuan Muda.. Tapi ayah Tuan yang melakukannya. Dia memasukkan racun ke dalam makananmu." Pelayan itu masih tersenyum, walaupun dirinya melihat Hao Yu terjatuh dari tempat tidur dan mulai semakin mengerang kesakitan di lantai.


"A- ayah? Tidak mungkin!", Hao Yu masih memegangi lehernya.


Ceklekk


Pintu kembali terbuka dan seorang pria paruh baya masuk ke dalam kamar. Ia adalah Hao Jin!


"Percayalah.. anakku.." Hao Jin tersenyum sambil menatap Hao Yu yang tidak berhenti mengerang kesakitan.


"Ke- kenapa?", Hao Yu menatap tak percaya ayahnya yang berdiri tak jauh dari ambang pintu.


"Kenapa? Hm.. Tentu saja karna kehadiranmu saat ini adalah aib bagi keluarga. Kau yang sekarang lumpuh dan kehilangan satu kakimu, menjadi orang tak berguna. Bahkan kau dikeluarkan dari sekte. Apa yang bisa kau lakukan saat ini? Kau hanya bisa marah marah di rumah, tanpa bisa melakukan apapun. Tapi tenang saja. Walaupun begitu, aku akan tetap membalaskan dendam mu pada bocah bernama Feng Ying itu. Bukankah aku ini sudah menjadi ayah yang baik?", Hao Jin tersenyum seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan dirinya tak ragu mengatakan semua itu.


Hao Yu menggelengkan kepala. Ia semakin berteriak kesakitan dan memuntahkan seteguk darah ke lantai. Menyebabkan bercak noda pada lantai yang putih. "Aku.. Membencimu!"


Itulah kata kata terakhir yang keluar dari mulut seorang anak pada ayahnya. Ia yang tak pernah mengira mati oleh ayahnya sendiri, menjadi sangat membencinya.


Hao Jin menatap pelayan pribadi anaknya dengan dingin, "Kau bereskan anak itu dan bereskan semua kekacauan yang ia lakukan di kamar ini."


"Baik Tuan," pelayan menunduk hormat pada Hao Jin.


"Karna sekarang aku sudah membersihkan sampah tak berguna itu, kini aku hanya tinggal menunggu pembunuh bayaran menemukan bocah Feng yang sudah melumpuhkan anakku." Hao Jin pergi keluar kamar anaknya setelah mengatakan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2