
Setelah hari sudah pagi, Wang Chen dan Feng Ying bersiap siap untuk pergi. Mereka sudah membersihkan diri dan makan yang banyak. Juga, membawa perbekalan makanan.
Mereka pun keluar dari kota yang mereka singgahi saat kemarin.
"Ying?"
Feng Ying menoleh ke samping kala mendengar suara Wang Chen, "Ada apa?"
"Kau mengatakan bahwa kemarin Wang Feng membawa kau dan aku dengan wujud sebesar harimau biasa. Bukankah berarti banyak orang yang melihat Wang Feng?" ucap Wang Chen. Wang Feng ada di atas kepala Feng Ying saat ini.
"Lalu, maksudmu.. Apakah orang orang yang sudah melihatnya akan mengejar kita dan memaksa untuk menyerahkan Wang Feng. Namun tidak ada satu pun orang yang melakukan itu, begitu?" ucap Feng Ying yang seakan sudah mengetahui apa yang dipikirkan Wang Chen.
Wang Chen mengangguk, "Bukankah seharusnya seperti itu? Tapi.. Selama kita meninggalkan kota, tidak ada orang yang mengejar kita sama sekali. Bahkan mereka seperti tak tertarik dengan Wang Feng?"
"Hem.. Bagaimana menjelaskannya, ya?", Feng Ying menatap ke arah langit. Ia saat ini berjalan di depan Wang Chen. "Intinya, mereka tidak tertarik dengan demonic beast. Bahkan demonic beast seperti harimau bulan yang langka."
"Tapi saat itu.. Kita menemui beberapa orang yang menginginkan Wang Feng di benua tengah ini. Bagaimana mungkin orang orang di kota itu tak memiliki keinginan juga untuk memilikinya?" ucap Wang Chen dengan heran.
"Aku tadi sudah mengatakannya. Mereka memang tidak tertarik dengan demonic beast. Bahkan yang langka sekalipun. Apa kau masih ragu dengan jawabanku ini?" ucap Feng Ying. Iapun melirik ke belakang dan menatap Wang Chen dengan penuh selidik.
Melihat tatapan itu, membuat Wang Chen gugup, "Bu- bukan begitu. Aku tidak meragukan ucapanmu sama sekali, Ying. Aku hanya khawatir saja."
Feng Ying kembali menatap ke depan, "Kau tidak perlu memikirkan hal hal yang tidak penting."
Feng Ying menutup mata kanannya dengan telapak tangan kala merasakan sedikit perih, "Untung saja tidak ada banyak orang yang memiliki tingkat yang sangat tinggi dariku. Hah.. Menggunakan ilusi pada banyak orang yang berada dalam sebuah kota memang sulit. Karna aku juga harus waspada akan seseorang yang mungkin menyadari mataku" batinnya.
Saat kemarin Feng Ying mulai memasuki kota, dirinya memerintahkan Wang Feng untuk mengubah ukurannya menjadi kecil dan diam di atas kepalanya.
Sehingga, ketika mulai memasuki kota, Feng Ying menggendong Wang Chen di punggungnya. Bukan hanya itu saja. Ia bahkan harus menggunakan kemampuan ilusinya untuk membuat orang lain melihat Wang Feng hanya sebagai topi saja. Ia melakukan itu karna sedang tak ingin membawa masalah hanya karna Wang Feng. Ia juga membuat ilusi seolah semua orang melihat iris matanya yang berwarna biru.
Karna hari sudah sore pada saat itu dan kondisi di kekaisaran Naga api juga belum terlalu stabil, jadi tak banyak orang yang keluar rumah. Sehingga membuat Feng Ying cukup mudah untuk membuat ilusi pada orang orang yang ditemui olehnya, karna tak terlalu banyak orang yang berada di luar, membuat orang orang di kota tak bisa terlewatkan dari ilusi miliknya.
Walaupun begitu, bisa saja ada orang lain yang melihat warna iris mata Feng Ying asli tanpa sepengetahuan Feng Ying. Maka dari itu, sangat beresiko bila memakai kemampuan ilusi pada tempat yang ramai. Sama seperti yang terjadi di turnamen ujian ketiga saat itu. Bila saja tidak ada banyak orang di colloseum saat itu, maka Feng Ying sudah menggunakan kemampuannya untuk melawan patriarch Wu Pen yang merupakan patriarch dari sekte bambu kuning.
__ADS_1
***
Feng Ying, Wang Chen dan Wang Feng menghabiskan waktu sekitar satu minggu lebih untuk sampai di pelabuhan. Setelah sampai, mereka mulai menaiki kapan yang akan pergi ke benua timur. Tidak ada hambatan besar dalam perjalanan mereka bertiga.
Hanya beberapa hambatan hambatan kecil saja yang diakibatkan oleh kehadiran Wang Feng saat perjalanan menuju pelabuhan. Mengetahui tentang itu, Feng Ying langsung membeli kantung dan memasukkan Wang Feng ke dalamnya. Walaupun sempat ada penolakan dari Wang Chen yang tak setuju dengan cara Feng Ying untuk tak menarik perhatian, tapi akhirnya Wang Chen setuju setelah beberapa waktu. Sehingga, di pelabuhan mereka tak mendapat masalah.
Dalam perjalanan berlayar pun, kondisi laut dan cuaca sangat mendukung. Membuat pelayaran tidak mendapat hambatan dan bisa sampai sesuai jadwal yang sudah diperkirakan.
***
Setelah menghabiskan waktu 1 bulan lebih di perjalanan, ketiganya telah sampai di pelabuhan benua timur.
"Ukh.. Aku lapar.." ucap Feng Ying. Iapun langsung mengajak Wang Chen dan Wang Feng pergi ke restoran terdekat. ( Wang Feng masih berada di dalam tas yang terbuka, dibawa oleh Wang Chen.)
Ketika sampai di sebuah restoran, Feng Ying dan Wang Chen berniat masuk. Namun sebelum itu terjadi..
Bruukk
Feng Ying segera menghindar. Sementara, Wang Chen tak sempat menghindar, sehingga tubuhnya langsung terjatuh ketika seseorang menabraknya. Begitupun orang yang menabraknya.
"Ugh, cepatlah bangun!" ucap Wang Chen dengan agak kesal.
Seorang bocah yang menimpa tubuh Wang Chen mulai berdiri perlahan, "Ma- maaf.. Aku.. Aku tidak sengaja.. Maaf.."
"Heh, sekarang datang dua bocah ingusan lainnya! Kalian pasti ingin mengemis ngemis padaku dan meminta makanan seperti teman kalian itu!" ucap seorang wanita paruh baya sambil menunjuk Feng Ying dan Wang Chen yang mulai berdiri.
"Heh, enak saja. Siapa yang ingin mengemis, huh? Aku bukanlah pengemis seperti yang kau bicarakan, dasar nenek tua!" ucap Feng Ying dengan agak kesal.
"Apa kau bilang?! Nenek tua?! Aku ini masih cantik!", wanita paruh baya dengan geram sambil menatap Feng Ying tajam.
"Huh, cantik? Apanya yang cantik? Kau hanyalah nenek tua keriput pemarah!" tukas Feng Ying yang juga menatap wanita paruh baya itu tajam.
"Bocah sialan! Beraninya kau mengatakan itu padaku!", wanita itu langsung mengepalkan tangan dan berniat memukul perut Feng Ying.
__ADS_1
"Heh, kau kira aku takut padamu?" ucap Feng Ying. Iapun mengepalkan dan bersiap untuk menyerang maupun menahan tinju.
Bugh!
Sebelum tinju sempat mengenai Feng Ying, seseorang berdiri di depan Feng Ying dan membuatnya terbatuk karna pukulan keras itu. "M- mereka tak ada hubungannya.. Uhuk! Jangan.. Sakiti mereka."
Wanita paruh baya menarik tangannya dari tubuh bocah yang baru saja terkena pukulannya, "Kenapa kau malah menghalangiku, dasar bocah!"
Seorang bocah laki laki yang nampak berumur 12 tahun dan seumuran dengan Feng Ying nampak melindungi Feng Ying.
"Tck, dia malah menghalangiku" batin Feng Ying dengan ekspresi cemberut.
"Ying," Wang Chen segera menghampiri Feng Ying dan berdiri di sampingnya sambil menghadap temannya itu, "Apa kau baik baik saja?"
Feng Ying mengangkat kedu bahunya dan menunjuk bocah yang berada di depannya dengan dagu, "Dia menahan pukulan nenek lampir itu dengan tubuhnya."
Wang Chen menatap ke arah bocah yang dimaksud. Iapun langsung membantu bocah itu untuk berdiri dan melihat bahwa bocah itu kesakitan sambil memegang perutnya. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku.. Baik baik saja.." ucap bocah itu sambil tersenyum memaksakan.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini! Aku tak mau melihat kalian berkeliaran di sekitar restoranku!" ucap wanita paruh baya dengan tatapan tajam menatap ketiga bocah di depannya.
"Cih, tidak kau usir pun, aku memang ingin pergi! Restoran yang sangat buruk, pelayanannya juga buruk!" ucap Feng Ying dengan sinis. Ia menatap wanita paruh baya dengan persaingan.
"Apa kau bilang?!"
"Pelayanan yang sangat buruk! Dan reatoran yang juga buruk!" ucap Feng Ying yang kini dengan suara keras. Hingga membuat banyak orang mendengarnya. Bahkan beberapa dari mereka langsung menatap ke arah Feng Ying.
Wajah wanita paruh baya itu mulai memerah. Kini dirinya menjadi pusat perhatian, "Sialan!" batinnya. Iapun dengan segera masuk ke dalam restoran miliknya dengan perasaan yang sangat kesal karna merasa sudah dipermalukan di depan umum.
"Apa yang terjadi tadi?"
"Entahlah.. Jangan bertanya padaku."
__ADS_1
Satu persatu orang mulai pergi dan meninggalkan tiga orang bocah yang berada di depan restoran. Mereka seakan melupakan kejadian yang baru saja terjadi.