
Wang Chen akhirnya kembali ke kamar. Ia melihat Jiang Fu sedang berbicara dengan Feng Ying. Ia pun berdehem, "Ekhem.. Jadi sekarang kalian sudah akrab ya?" Ia berjalan mendekat pada keduanya sambil tersenyum.
Feng Ying memutar bola matanya malas ketika mendengar ucapan Wang Chen, "Memangnya apa urusannya denganmu?!"
Wang Chen hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. Ia tidak ingin menjawab ucapan Feng Ying tadi. Ia pun menatap Jiang Fu, "Pelayan akan segera membawakan makanan ke kamar ini. Jadi kau bisa makan sepuasnya nanti."
Jiang Fu menatap Wang Chen dan tersenyum senang, "Benarkah?! Aku bisa makan sepuasnya?"
Wang Chen mengangguk. Ia mengelus kepala Jiang Fu. "Melihatmu, membuatku ingat tentang diriku dan Ying saat seumuran denganmu."
Feng Ying menaikkan sebelah alisnya. "Aku sudah mengatakan berkali kali bila aku tak pernah bertemu denganmu. Kita bertemu belum terlalu lama."
"A-ha-ha-ha lupakan saja ucapanku tadi." Wang Chen tertawa kaku.
***
Setelah beberapa menit, ketukan pada pintu terdengar. Wang Chen segera membukanya dan melihat 3 orang pelayan wanita yang membawakan makanan dan minuman di atas nampan. "Tuan.. Ini pesananmu.." Ucap salah satunya.
Wang Chen mengangguk. Ia pun mempersilahkan ketiganya untuk masuk ke dalam.
Ceklekk
Setelah semua pelayan menyimpan makanan di meja dan pergi, Wang Chen segera menutup pintu. "Fu'er, Ayo makan. Kau pasti sudah lapar."
Jiang Fu mengangguk dan mendekat pada Wang Chen. Ia melihat makanan yang diperlihatkan oleh pemuda itu. "Kak.. Chen.. Aku alergi dengan makanan itu. Aku tak bisa memakannya. Yang itu juga terlihat pedas, sementara yang satunya lagi, aku tidak menyukainya. Karna di sana terdapat sayuran." Ucapnya sambil menatap Wang Chen.
"Haish.. Kenapa kau tidak bilang bila kau memiliki alergi? Kau juga tidak mengatakan bila kau tidak menyukai pedas. Ditambah, kau juga tak mengatakan bila kau tak menyukai sayuran. Jadi kau tidak bisa memakan semua makanan yang kupesan bila seperti itu.." Wang Chen menghela nafas.
"Kak Chen tidak bertanya dahulu padaku." Celetuk Jiang Fu.
Wang Chen tertegun mendengar ucapan Jiang Fu. Ia seharusnya menanyakan itu tadi terlebih dahulu. "Kukira kau bisa makan apa saja. Jadi aku tidak bertanya padamu tadi. Hah.. Yasudah.. Aku akan memesankan makanan lain untukmu. Apa yang kau sukai?"
"Kak Chen bisa memberikan aku roti tawar saja. Karna itu makanan kesukaanku." Jiang Fu tersenyum riang.
"Baiklah, aku akan membelikanmu 10. Kau tunggu sebentar di sini."
Jiang Fu mengangguk. Wang Chen pun pergi keluar untuk membeli roti tawar. Di penginapan sekaligus restoran ini, pasti ada.
"Kau banyak pilih pilih makanan." Ucap Feng Ying ketus ketika dirinya mengambil salah satu mangkuk yang ada di atas meja. Makanan yang ia ambil adalah makanan berkuah yang memiliki rasa pedas, terlihat dari kuahnya yang berwarna kemerahan.
Jiang Fu menggaruk tengkuknya, "Maaf.. Bila aku pilih pilih makanan.." Ucapnya dengan menyesal.
Feng Ying mendengus. Ia pun duduk di kursi dekat kasur. Ia langsung memakannya tanpa menunggu Wang Chen datang. "Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya.." Batin Feng Ying. Ia sedikit melirik ke arah Jiang Fu. Namun ketika Jiang Fu melihat ke arahnya, Feng Ying memalingkan muka dan menatap makanan kembali.
"Ada apa kak Ying?" Jiang Fu memasang ekspresi bingung.
Feng Ying menggelengkan kepala, "Tidak ada." Ia pun terdiam sejenak dan meletakkan sendoknya. Ia menghadapkan kursi pada Jiang Fu, "Sejak kapan kau tinggal sendiri?"
__ADS_1
Jiang Fu tertegun sejenak. Ia pun menjawab, "Sejak umurku 10 tahun. Saat itu, ada demonic beast yang datang ke desaku dan memakan banyak penduduk. Termasuk ayah, ibu dan adikku. Aku berhasil selamat karna ayah menahan demonic beast pada saat itu, untuk memberikan jalan bagiku kabur. Bila saja saat itu tidak ada demonic beast yang masuk ke desa, mungkin aku masih memiliki keluarga. Aku pun tidak akan seperti ini." Jiang Fu bereskpresi sedih.
Feng Ying hanya menatap Jiang Fu datar. Ia sama sekali tidak merasa iba pada anak laki laki itu. "Hm.. Begitu.." Ia kembali menghadapkan kursi ke makanan dan kembali makan tanpa mempedulikan Jiang Fu.
Tak lama kemudian, Wang Chen masuk ke dalam kamar membawakan satu keranjang roti. Ia langsung memberikan itu pada Jiang Fu. "Nah, Fu'er.. Ini untukmu."
Jiang Fu menerimanya dengan mata berbinar, "Wah.. Terimakasih kak Chen. Kau sangat baik sekali. Ini terlihat enak~"
Wang Chen terkekeh melihat ekspresi Jiang Fu yang menggemaskan. "Sekarang makanlah. Kau pasti sudah lapar."
Jiang Fu mengangguk dengan ceria. Ia mulai duduk di lantai dan memakan beberapa roti dengan agak cepat. "Um.. Ini sangat enak kak Chen."
Wang Chen tersenyum, merasa senang bila Jiang Fu menyukai roti itu. Ia juga mulai ikut makan.
***
Pada malam hari..
"Kenapa hanya kau yang tidur di atas tempat tidur? Kenapa aku harus tidur di lantai, bukankah tempat tidur itu masih luas? Ditambah dengan Fu'er pun masih muat." Protes Wang Chen.
Feng Ying duduk di tepi kasur saat ini. "Aku yang memesan dan membayar kamar ini. Jadi aku yang menentukan peraturannya. Kalian berdua tidur di lantai." Ucapnya dengan malas.
"Apa kau tidak kasihan dengan Fu'er? Dia masih terluka. Apa kau tega melihatnya tidur di lantai dan kedinginan?" Ucap Wang Chen dengan mata berbinar.
Feng Ying memalingkan muka, tak acuh. "Bila aku mengatakan tidak, ya tidak. Kalau kau mau bocah itu tidur di atas, kau pesan kamar lain saja. Aku mau tidur. Jangan mengganggu." Feng Ying berbaring di tempat tidur dan memunggungi Wang Chen, juga Jiang Fu.
"Aku tidak apa apa tidur di lantai. Tidak perlu mengkhawatirkanku, kak Chen.. Kak Ying juga terlihat sangat lelah hari ini." Jiang Fu tersenyum.
Wang Chen ikut tersenyum, "Maaf ya.."
***
Pagi hari, Feng Ying mulai bangun. Ia menguap karna baru saja bangun tidur. Ia melihat bila Wang Chen dan Jiang Fu pun masuh tidur di lantai. Ia sedikit menendang tubuh Wang Chen dan menginjaknya, "Hei, bangunlah tukang tidur! Kau mau aku mematahkan tulangmu terlebih dahulu, baru bangun?"
Feng Ying berkali kali menginjak tubuh Wang Chen. Namun, Wang Chen tetap tidak juga bangun. "Dasar tukang tidur!"
"Ugh, Kak Ying?" Jiang Fu terbangun setelah mendengar suara Feng Ying yang agak berisik tadi. Ia menggosok mata.
Feng Ying menatap Jiang Fu, "Setelah kita sarapan nanti, kita akan langsung pergi. Namun sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Jiang Fu memiringkan kepala, "Apa yang ingin kak Ying tanyakan?"
"Kenapa saat malam kau pergi? Kau pergi kemana? Terlebih, kau tidak memberitahuku atau tukang tidur ini bila kau ingin pergi." Feng Ying menyipitkan mata saat menatap Jiang Fu.
Jiang Fu nampak gugup ketika ditatap seperti itu oleh Feng Ying, "Kenapa kak Ying menatapku seperti itu?"
"Jawab saja pertanyaanku. Kenapa kau pergi diam diam saat malam? Kau pikir, aku tidak tahu?"
__ADS_1
"Itu.." Jiang Fu sulit menjelaskan pada Feng Ying. Ia menghela nafas dan akhirnya angkat bicara, "Saat malam aku pergi menemui pengemis tua yang saat itu aku lihat ketika kak Chen dan aku pergi untuk membeli pakaian. Aku kasian padanya. Jadi saat makan tadi aku mengatakan menyukai roti tawar agar aku bisa menyisakan beberapa untuk dimakan olehnya. Saat malam aku memberikan beberapa rotiku padanya. Aku tidak mau mengatakan hal ini pada kak Chen atau kak Ying. Aku takut kalian marah karna aku malah memberikan makanan yang dibelikan kak Chen untukku, diberikan pada pengemis itu." Ia menundukkan kepala, "Maafkan aku kak Ying.."
Feng Ying melihat Jiang Fu dari atas ke bawah. Ucapannya tadi memang meyakinkan, ditambah dengan ketika ia melihat keranjang yang sudah tidak terdapat roti lagi. Tapi instingnya mengatakan bila kejadian yang terjadi bukanlah seperti itu. Namun Feng Ying berpura pura percaya dan mengangguk, "Tapi lain kali katakan terlebih dahulu padaku atau Chen bila kau ingin pergi. Tukang tidur itu pasti takkan melarangmu memberikan makanan yang diberikannya untukmu, diberikan pada orang lain. Lagi pula, dia adalah orang yang payah. Tidak perlu takut bila dia marah."
Jiang Fu mengangguk, "Kukira kak Ying akan marah setelah aku bercerita seperti tadi."
"Untuk apa aku marah? Yang membelikanmu makanan bukanlah aku, tapi tukang tidur itu." Ucp Feng Ying dengan tak acuh. Ia pun berjalan ke arah kamar mandi, "Aku akan membersihkan diri. Sementara kau, bangunkan dia." Ia melirik ke belakang.
Jiang Fu mengangguk, "Iya kak Ying."
***
Feng Ying keluar dari kamar mandi. Ia melihat bila Wang Chen masih belum juga bangun. Bahkan Jiang Fu sudah memukul mukulnya pun tidak bangun. Wajahnya seketika berubah suram dan kesal, "Sialan! Dia belum juga bangun!" Ia berjalan mendekat dengan marah.
Jiang Fu yang mendengar teriakan kesal Feng Ying mulai agak menjauh dari Wang Chen. Ia tidak mau ikut terkena masalah.
Feng Ying membuka jendela. Ia pun langsung mengangkat tubuh Wang Chen, "Sebaiknya setelah ini kau bangun. Bila tidak, maka aku akan memberikan tubuhmu pada hewan buas untuk disantap!" Ucapnya dengan kejam.
Feng Ying melemparkan tubuh Wang Chen keluar jendela. Tidak hanya dilempar biasa, tetapi ia menambahkan Qi membuat kecepatan jatuh semakin cepat.
Whuuuss
Bruuukkk
Kraakkk
Orang orang yang berlalu lalang pada pagi hari terkejut ketika sesuatu menghantam tanah dengan keras. Dedebuan menutupi pandangan semua orang.
"Apa itu?" Suara penduduk terdengar. Mereka menatap ke tempat dedebuan. Untungnya beberapa warga yang melintas tadi tidak terkena benda kuat yang menghantam tanah itu.
"Aduh.. Aarghh.. Ssttt.." Terdengar suara seseorang dari balik dedebuan.
Feng Ying tersenyum sinis menatap ke bawah lewat jendela, "Akhirnya kau mau bangun juga, dasar tukang tidur!"
Dedebuan akhirnya menghilang dan memperlihatkan seorang pemuda yang nampak berantakan. Tubuh dan pakaiannya kotor oleh debu. Bukan itu saja, tetapi tangan dan keningnya terlihat berdarah.
Para penduduk terkejut bila benda yang menghantam tadi adalah manusia. Padahal suara tadi terdengar sangat keras, seharusnya bila itu manusia biasa, maka dia akan mati.
"Uhuk.. Uhuk.." Wang Chen terbatuk karna dedebuan. Ia mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah agar dedebuan menjauh dari wajahnya.
Setelah dirasa debunya sudah berkurang, Wang Chen melihat bila dirinya dikerumuni banyak orang. Mereka bahkan berbisik bisik dan menatapnya dengan berbagai ekspresi.
"Hei, apa kau baik baik saja?" Ucap salah satu warga dengan tatapan sulit diartikan.
Wang Chen melihat ke arah warga itu. Ia tak menjawab dan ia malah melihat ke atas. Ia melihat Feng Ying duduk di jendela sambil tersenyum tanpa rasa bersalah padanya. "Ying..!! sialan! Kau menjatuhkanku?!" Wang Chen dengan segera masuk kembali ke penginapan dengan marah. Ia tidak langsung terbang dan ke kamar Feng Ying, karna tak mau membuat keributan. Wang Chen menahan rasa sakit di kepala dan tangannya saat ini.
Para warga melongo melihat reaksi Wang Chen. Bukannya meminta pertolongan pada mereka, ia malah pergi begitu saja dan bahkan ia sempat berteriak marah tadi.
__ADS_1