
Pada malam hari, Feng Ying pergi keluar dari penginapan. Walaupun hari sudah malam, nyatanya masih banyak orang yang berkeliaran di luar.
Feng Ying terus berjalan. "Tempatnya tak jauh dari sini" gumamnya. Feng Ying langsung menghilang dalam keramaian.
***
Di dalam sebuah kamar, seorang pemuda nampak terbaring di atas tempat tidur. Matanya yang tertutup perlahan membuka, "Kenapa perasaanku tidak enak hari ini?" gumamnya. Ia adalah Bai Li, orang yang sudah membuat masalah dengan Feng Ying dan Wang Chen.
Bai Li langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Iapun mengingat kejadian saat di restoran. Ketika mengingat itu, ia mengepalkan tangan karna kesal, "Bocah itu sudah mempermalukanku di depan umum. Besok aku akan mencarinya dan memberinya pelajaran."
Yang dimaksud adalah Wang Chen. Karna bocah itulah yang mengalahkan semua pengawal Bai Li disaat masih ada banyak orang di restoran.
Ketika dirinya sedang mengingat kejadian di restoran, tiba tiba seseorang mengetuk pintu dengan kencang. "Tuan muda! Tuan muda!"
Bai Li langsung menatap ke arah pintu, "Cih, kenapa dia menggangguku?!" gumamnya. "Cepatlah masuk!"
Segera, seseorang dari luar masuk ke dalam. Ia langsung menutup pintu dan pergi menuju Bai Li dengan tergesa gesa. "Ada apa? Kenapa raut wajahmu seperti itu?" ucap Bai Li dengan heran.
Seorang pria paruh baya yang pergi menghampiri Bai Li nampak berwajah ketakutan, "Di.. Di luar.. Di luar Tuan muda."
Bai Li mengerutkan kening, "Ada apa? Katakan yang jelas!"
"Semua penjaga yang ada di luar telah tewas! Saat ini, Tuan Bai melawan seseorang yang membunuh semua penjaga. Tuan Bai menyuruh saya untuk membawa anda pergi dari sini. Tuan Bai mengatakan bahwa dia tidak bisa.. Tidak bisa menahan orang itu lebih lama lagi" ucap pria paruh baya itu dengan panik.
Bai Li terkejut ketika mendengar bahwa ayahnya tak bisa menahan orang itu lebih lama. Sekuat apa seseorang itu? Dan apa tujuannya menyerang tempat ini?
"Bagaimana keadaan ayahku?" ucap Bai Li. Ia berdiri dari posisi duduknya.
"Saat saya kemari, Tuan Bai masih baik baik saja. Tapi dia berkata agar saya membawa anda pergi dari sini sekarang juga! Ini demi keselamatan anda!"
"Kalau begitu, sekarang kita pergi! Aku tak mau mati di sini!" ucap Bai Li. Iapun langsung bergegas keluar setelah mengambil pedangnya. Lalu, diikuti pria paruh baya di belakangnya.
Ketika membuka pintu, Bai Li terkejut melihat banyaknya mayat pelayan berada di mana mana. Apakah orang itu sudah masuk ke dalam rumah?
Bai Li pun melihat seseorang yang ia kenal ada di depannya. "K- kau.. Kenapa kau bisa ada di sini?!"
Bai Li melihat Feng Ying berdiri di depannya sambil menyilangkan tangan di depan dada dan tersenyum. "Aku datang berkunjung saja. Tapi ternyata keadaan di sini sangat berantakan. Kau seharusnya membersihkan rumahmu."
Bai Li menggertakkan gigi. "Apa kau yang melakukan semua ini?!"
Feng Ying mengangkat kedua bahu seakan tak peduli. Senyuman masih terpampang di wajah bocah itu. Ia seakan tidak terpengaruh oleh semua kekacauan dan mayat mayat ini.
Bai Li mengeluarkan pedang yang ia bawa tadi. Iapun berlari ke arah Feng Ying, "Aku akan menghabisimu!" teriaknya.
__ADS_1
Feng Ying hanya berdiri diam tanpa melakukan apapun. Bahkan senyuman tak pernah pudar dari wajahnya.
Srratt
Bai Li langsung melakukan tusukan pada Feng Ying dan tepat mengenai dada bocah itu. Mata Feng Ying melebar dan darah keluar dari sudut bibirnya dan juga luka tusukan. Melihat hal tersebut, Bai Li menyeringai, "Hahaha.. Kau terlalu sombong padaku! Maka inilah akibatnya, kau langsung mati hanya dengan satu gerakanku saja!"
Bai Li berhenti tertawa ketika tiba tiba saja pandangan di depannya seakan luntur seperti air yang jatuh ke bawah dengan gerakan lambat. Iapun melihat ke sekitar. Ternyata, keadaan yang sama juga terjadi di samping maupun belakangnya.
"Li'er.."
Mendengar suara lirih itu, Bai Li langsung menatap kembali ke depan. Matanya melebar melihat apa yang ada di depannya. Ia terkejut ketika orang yang ia tusuk bukanlah Feng Ying. Melainkan ayahnya sendiri, Bai Hao.
Bai Hao nampak diikat di kursi. Sementara dadanya tertusuk pedang dan pelakunya adalah Bai Li. Ia tak percaya bahwa dirinya akan mati di tangan anaknya sendiri. Bai Hao langsung memuntahkan kembali seteguk darah dari mulutnya.
"Bagaimana.. Bagaimana mungkin..," Bai Li langsung menarik pedangnya dari tubuh Bai Hao dan langsung menjatuhkannya. Tatapannya mengandung ketidak percayaan dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Kau membunuh ayahmu sendiri, hm?"
Mendengar suara dari belakangnya, Bai Li langsung berbalik dan menatap orang itu. Iapun kembali terkejut ketika pria paruh baya yang ikut dengannya tadi dari belakang kini adalah Feng Ying. Namun yang lebih mengejutkan adalah iris mata bocah itu. "K- kau.. Bagaimana keluarga dari-"
"Sstt.. Tidak perlu mengatakan apapun" ucap Feng Ying. Ia tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali. Iapun berjalan mendekat ke arah Bai Li dengan wajah polosnya. "Kenapa kau membunuh ayahmu sendiri?"
Bai Li tidak bisa mengatakan apapun. Ia juga tidak bisa mundur maupun melangkah maju. Tatapannya masih terarah pada Feng Ying. Nafasnya tak beraturan karna terkejut dan takut. Ia tak percaya dapat bertemu dengan anggota keluarga yang seharusnya sudah musnah.
Bai Li agak menundukkan kepalanya seakan menjauhi tatapan Feng Ying, "Ini pasti hanyalah ilusi. Tidak mungkin orang yang kutusuk adalah ayah" batinnya. Iapun melirik ke belakang. Tetapi, kenyataannya orang yang ia tusuk memang'lah Bai Hao dan pria paruh baya itu kini sudah tewas.
"Ada apa.. Tuan Muda.. Bai?" ucap Feng Ying sambil menekankan kata disetiap kalimatnya. Ia berhenti berjalan. Kini jarak antara dirinya, juga Bai Li hanya tinggal 3 langkah lagi.
Bai Li berkata tanpa menatap mata Feng Ying sama sekali, "Ini semua salahmu.. Kau lah yang sudah membunuh ayahku!"
Feng Ying mengangkat sebelah alisnya, "Bukankah itu adalah salahmu sendiri? Pedang yang menusuk tubuh ayahmu adalah pedangmu dan orang yang menusuknya juga adalah dirimu. Lalu kenapa kau menyalahkanku?" ucapnya dan lagi lagi selalu memperlihatkan wajah polosnya.
"Ini semua.. takkan terjadi.. bila kau tidak ada di sini" ucap Bai Li yang tidak mau kalah dengan ucapan Feng Ying.
Feng Ying berjalan dan berpapasan dengan Bai Li. Ketika dirinya tepat berada di samping pemuda itu, ia langsung menatap Bai Hao yang ada di belakang Bai Li. "Bukankah nasibnya sangat tragis? Dibunuh oleh anaknya sendiri dan kini anaknya menyalahkan orang lain atas kematian dari ayahnya?," Feng Ying menggelengkan kepala.
Bai Li berbalik dan ia menatap ke arah Feng Ying. Namun tidak ke mata bocah itu, "Omong kosong!"
Feng Ying mengulurkan tangan dan berjalan lebih dekat pada Bai Hao. Iapun menempelkan telapak tangannya ke luka yang ada di dada pria paruh baya itu.
Setelahnya, Feng Ying menarik tangannya. Bersamaan dengan itu, dari tubuh Bai Hao keluar darah yang melayang ke arah telapak tangan Feng Ying yang masih terulur. Darah itu terlihat mulai membentuk sebuah pedang.
Bai Li terkejut ketika melihat bahwa Feng Ying dapat mengendalikan darah. Setaunya, keluarga yang seharusnya kini musnah itu tidak memiliki kemampuan mengerikan untuk mengendalikan darah semacam ini. "Ini tidak mungkin..! Ini pasti hanyalah ilusi" batinnya. Iapun mundur beberapa langkah ke belakang dan menjauh dari Feng Ying.
__ADS_1
Feng Ying berbalik dan menatap Bai Li yang kini berjarak 3 langkah darinya. Pedang yang terbuat dari darah itu kini melayang di atas telapak tangan Feng Ying yang terulur dan sedikit terangkat ke atas. "Tuan Bai.. Kau pasti sangat kecewa karna anakmu sendiri membunuhmu. Tapi kau tenang saja, aku akan membuatnya menemuimu dan kalian akan bersama kembali. Kau pasti ingin bertemu ayahmu lagi 'kan, Tuan muda Bai?", mata Feng Ying berkilat merah.
"Ti- tidak! Aku tidak mau menemui ayah!" ucap Bai Li dengan takut. Ia terus mundur ke belakang dan berbalik. Setelahnya, ia mulai lari menjauhi Feng Ying.
Feng Ying mendengus, "Kau kira, aku akan melepaskanmu setelah kau mengetahui identitasku? Hmph! Tidak akan kubiarkan!"
Pedang yang terbuat dari darah Bai Hao pun melesat ke arah Bai Li dan langsung menusuk dada pemuda itu. "Ugh..," Bai Li langsung terjatuh. Ia berlutut di tanah dan memuntahkan seteguk darah.
Bai Li tak bisa mengatakan apapun. Pandangannya pun agak buram. Namun, ia bisa melihat wajah orang yang tergeletak di lantai tak jauh darinya. Orang itu adalah pria paruh baya yang masuk ke dalam kamarnya tadi. Namun pria paruh baya itu sudah menjadi mayat.
Tak lama kemudian, tubuh Bai Li jatuh ke arah depan dan membentur lantai. Kini, ia sudah menjadi mayat. Bersamaan dengan itu, pedang darah yang menancap di tubuhnya mencair dan berubah kembali menjadi cairan darah. Cairan darah itu membasahi punggung Bai Li.
Sekarang, di tempat itu hanya ada Feng Ying yang masih hidup. Iris matanya kembali normal, berwarna biru. "Sekarang aku hanya perlu mencari harta mereka. Kira kira ada berapa, ya?"
Feng Ying langsung berjalan pergi dan meninggalkan belasan mayat di ruangan itu.
>> Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tingkat kekuatan di dunia ini:
*Pemula\=1-9
*Qi condensation\=1-9
*Qi foundation\=1-9
*Master\=1-9
*Grandmaster\=1-9
*Prajurit\=1-9
*Jenderal\=1-9
*Kaisar\=1-9
*Bumi\=1-7
*Langit\=1-7
*Immortal
__ADS_1