Feng Ying

Feng Ying
131 -Keluar Dari Gerbang Dunia


__ADS_3

Feng Ying dan Wang Chen bersandar pada pohon yang ada di tengah danau. Keduanya berbincang bincang santai dan terkadang tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan. Pembicaraan tidak penting, tapi membuat mereka bisa bahagia dengan tawa.


Ketika keduanya berbincang, tiba tiba saja pohon bercahaya dan membuat Feng Ying maupun Wang Chen merasa silau. Keduanya lantas menutupi mata dengan tangan.


Perlahan, tanpa disadari mereka, keduanya mulai berubah menjadi transparan dan menghilang begitu saja dari tempat ini. Lebih tepatnya, keluar dari gerbang dunia ini.


***


Feng Ying membuka mata perlahan kala merasa bila dirinya tak merasa silau lagi. Ia terkejut ketika melihat bila dirinya berada di dekat sebuah desa. Ia merasa pernah ke tempat ini. Tentunya tempat ini tidak berada di gerbang dunia. "Apa yang terjadi?"


Wang Chen yang mendengar suara Feng Ying ikut membuka mata perlahan. Ia ikut terkejut karna dirinya berada di dekat sebuah desa. "Kenapa kita bisa tiba tiba berada di sini?"


Feng Ying berdiri. Ia melihat pohon yang ia sandari. Pohon ini berbeda dengan pohon yang ia sandari saat di tengah danau itu. Yang membuatnya sama hanyalah tinggi, ukuran dan sebuah gambar yang terlihat sangat samar pada batangnya. "Apa mungkin ini semacam alat teleportasi?"


Wang Chen berdiri. Ia ikut melihat pohon yang ia sandari tadi. "Apakah yang kau katakan itu benar, Ying? Kalau begitu, berarti sekarang kita berada dimana sekarang?"


Feng Ying memasang ekspresi kesal, "Aarghh! Aku belum mengambil harta di dalam gerbang dunia itu! Bagaimana bisa pohon ini mengembalikan kita?!" Ia memukul pohon dengan keras, hingga membuat pohon akhirnya tumbang dan menghasilkan suara keras yang dapat didengar penduduk desa. Hari ini sudah malam dan terdengar suara keributan di dekat desa mereka, tentu mereka akan panik dan langsung mengeceknya.


Wang Chen menepuk punggung Feng Ying, "Tenanglah.. Tidak ada gunanya marah marah seperti itu. Yang terpenting kita bisa kembali dengan selamat bukan?"


Feng Ying menatap Wang Chen, "Aku tak bisa menerimanya! Kembali tanpa membawa hasil apapun, sama saja sia sia." Kesalnya.


"Kita bisa cari tempat lain dan mendapatkan banyak harta yang kau mau di tempat lain."


Feng Ying mendengus kesal, "Cih.. Lain kali aku tak ingin masuk ke dalam gerbang dunia itu lagi. Tempat itu sangat sedikit harta!"


Wang Chen hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Feng Ying.


Belum lama setelah Feng Ying berucap demikian, tiba tiba datang banyak warga desa menghampiri mereka dengan membawa obor untuk menerangi jalan. "Ada apa ini?" Ucap salah satu warga ynag merupakan kepala desa.


Semua warna melihat ke arah pohon yang roboh dengan terkejut. Mereka langsung menatap dua orang pemuda yang berada dekat pohon. "A-apa kalian yang merobohkan pohon itu?" Salah satu warga menunjuk pohon dengan suara gemetar.


Feng Ying menatap warga itu dengan ekspresi santai, seolah bukan maslah. "Iya! Memangnya kenapa? Kau mau protes?"


Para warga terkejut mendengar ucapan Feng Ying. Mereka melihat kedua pemuda di depannya dari atas sampai bawah. Mereka tak melihat adanya kapak pada kedua pemuda itu. Hanya ada pedang yang menggantung di pinggang mereka. Menandakan bila mereka seorang petarung ataupun kultivator. "S-siapa kalian sebenarnya?" Ucap kepala desa dengan suara yang juga gemetar.


Feng Ying menaikkan sebelah alisnya dengan heran. Ia heran, mengapa para penduduk bereskpresi ketakutan seperti itu. "Aku dan dia adalah kultivator yang sedang berkelana."


Setelah mendengar jawaban Feng Ying, para warna mundur ke belakang. "Ka-kalian kultivator?"


"Iya," Wang Chen mengerutkan kening. Ia juga sama herannya dengan Feng Ying.

__ADS_1


Mendengar ucapan Wang Chen, penduduk desa saling berpandangan. Setelah itu, mereka langsung lari dengan cepat seakan takut dengan Feng Ying dan Wang Chen.


"Cepat, selamatkan diri!" Teriak beberapa warga. Mereka kembali berlari menuju kediaman masing masing. Mereka bahkan menutup pintu dengan rapat rapat.


Wang Chen berkedip beberapa kali melihat tingkah para warga. Ia pun menatap Feng Ying dengan polos, "Apa aku terlihat menyeramkan bagi mereka, sehingga mereka lari?"


Feng Ying menatap Wang Chen balik. "Kau sangat menyeramkan."


Wang Chen memegangi wajahnya dengan ekspresi heran, "Kenapa? Kurasa tak ada yang salah denganku."


Feng Ying memukul kepala Wang Chen keras dan membuat sang korban merintih kesakitan, "Ying! Ada apa denganmu?! Kenapa malah memukulku?!" Protesnya.


"Hmph! Aku baru menyadari, ternyata mereka takut karna kita adalah kultivator." Ucap Feng Ying sambil mendengus kesal.


"Memangnya kenapa? Kita tidak terlihat menyeramkan. Kenapa mereka malah lari?"


"Apa kau tidak memperhatikan mereka tadi?! Tidak ada satupun diantara mereka yang merupakan kultivator. Mereka semua hanya warga biasa. Mereka takut bila kita melukai mereka dan mereka takkan bisa melawan sama sekali." Ucap Feng Ying kesal. Kenapa pemuda di sampingnya ini selalu saja tak pernah mengerti? Dia selalu saja bertanya. Sehingga membuatnya terkadang kesal dan ingin selalu memukul kepalanya.


Wang Chen mengangguk paham, "Jadi begitu. Kalau begitu, lebih baik kita temui mereka dan katakan bila kita tidak memiliki niatan jahat sama sekali pada mereka. Jadi mereka tak perlu takut pada kita."


"Kau pikir mereka akan percaya? Tentu saja mereka takkan percaya begitu saja."


Feng Ying berekspresi acuh tak acuh, "Jangan pedulikan mereka. Lagi pula, kita tidak akan menginap di desa ini."


"Tapi.."


"Ayo pergi." Feng Ying lebih dahulu pergi meninggalkan Wang Chen. Ia bergerak menjauh dari desa. Bila para warga tak menyukai kehadirannya, maka ia akan pergi. Lagi pula, ia tak memiliki urusan apapun dengan desa ini.


Wang Chen berjalan mengejar Feng Ying, "Apa tidak apa bila kita langsung pergi saja seperti ini?" Ucapnya dengan ragu.


"Tidak apa. Tak perlu memikirkan mereka." Ucap Feng Ying dengan tak acuh.


Wang Chen melihat ke belakang untuk memastikan. Iapun kembali menatap ke depan dan akhirnya mengangguk, "Baiklah.."


***


Wang Chen dan Feng Ying telah beristirahat di dalam hutan semalam. Jadi, kini keduanya kembali melanjutkan perjalanan tanpa arah. Feng Ying mengatakan bila saat ini, mereka berada di benua lain, benua selatan. Entah bagaimana mereka sekarang bisa berada di benua ini.


"Aku tidak banyak tau tempat tempat di benua ini. Desa tempat dimana kita muncul saat malam pun, salah satu tempat yang pernah kulalui. Maka dari itu, aku bisa tau bila tempat kita berada saat ini adalah benua selatan. Tapi saat itu, aku tidak bertemu dengan satu penduduk pun di sana. Jadi aku tidak tau bila mereka seperti itu." Feng Ying mengangkat kedua bahu menjelaskan apa yang ia ketahui.


"Jadi begitu.." Wang Chen mengangguk. Ia pun berekspresi khawatir, "Kalau begitu.. Bagaimana dengan Wang Feng? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik baik saja? Dia berpisah denganku semenjak masuk ke gerbang dunia. Apa dia juga akan dipindahkan ke tempat lain? Bagaiman bila aku tidak bisa bertemu dengannya lagi?"

__ADS_1


Feng Ying menatap Wang Chen. Ia hampir melupakan tentang harimau bulan yang selalu bersama pemuda itu. "Aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Lagi pula, setelah keluar dari tempat gelap itu, aku terus bersama denganmu." Ia pun terdiam sejenak, "Bukankah saat itu kau bilang bila kau percaya dengan kemampuan harimau bulan itu? Jadi kau tak perlu mencemaskannya."


Wang Chen tertegun mendengar ucapan Feng Ying. "Kau benar.. Wang Feng pasti baik baik saja. Dia bukanlah harimau bulan yang sama dengan harimau bulan 5 tahun lalu. Dia sudah menjadi lebih kuat lagi."


"Kalau begitu, tak perlu mencemaskannya." Ucap Feng Ying acuh tak acuh.


Wang Chen mengangguk dan tersenyum, "Terimakasih."


Feng Ying menaikkan sebelah alisnya, "Untuk apa kau mengatakan terimakasih?"


Wng Chen hanya tersenyum tanpa menjawabnya. Hal ini pun membuat Feng Ying jengkel, "Sudahlah! Kita cari restoran! Aku lapar!" Feng Ying berjalan pergi.


"Eh? Tunggu aku. Kau selalu saja meninggalkanku. Bagaimana bila kita terpisah nanti?" Wang Chen berjalan di samping Feng Ying.


Feng Ying mendengus, "Biarkan saja. Bila kau terpisah denganku, maka aku akan lebih bebas dan leluasa bergerak."


"Tapi saat ini pun, kau bebas bergerak. Kau tidak terkekang jeruji besi ataupun rantai. Lalu kenapa kau mengatakan 'leluasa bergerak'?"


Feng Ying memukul kepala Wang Chen, "Hah.. Kau memang payah. Bukan payah, tapi sangat payah!"


"Ugh.." Wang Chen mengelus kepalanya yang benjol. Setiap Feng Ying memukul kepalanya, pemuda itu selalu memukulnya cukup keras. "Kau hobi sekali memukulku."


"Itu memang hobi baruku." Feng Ying menatap Wang Chen dan tersenyum.


Kini, giliran Wang Chen yang memukul kepala Feng Ying. "Kalau begitu, rasakan pukulanku!"


"Ugh.." Feng Ying mengelus kepalanya yang juga benjol. Ia mengelusnya dan menatap Wang Chen dengan kesal, "Apa yang kau lakukan?!"


Wang Chen tersenyum santai, "Tidak ada.. Aku hanya memberi pelajaran padamu saja tadi, agar kau tau bagaimana rasanya dipukul."


Feng Ying menggertakkan gigi kesal. Ia pun tanpa aba aba, langsung menarik telinga Wang Chen. "Kalau begitu, terima hukumanmu."


"E-eh?! Aduh.. Akkhh.. Ssttt Apa yang kau lakukan Ying?! Lepaskan aku! Ini sangat menyakitkan!"


Feng Ying terus menyeret Wang Chen dengan menarik telinga pemuda itu, "Kau sudah memukul kepalaku. Maka aku memberimu hukuman. Jadi jangan mengeluh!"


"Aakkhh.. Ying.. Aku 'kan hanya memukul kepalamu satu kali.. Ssttt.. Sakit.." Wang Chen mencoba melepaskan tarikan tangan Feng Ying pada telinganya. Tapi malah, tarikan Feng Ying semakin kuat, membuat Wang Chen terus menjerit kesakitan. Bahkan kini terlihat bila matanya berkaca kaca menahan perih. "Aakhh.. Ying..! Kau sangat menyebalkan!"


"Terimakasih, itu pujian bagiku." Ucap Feng Ying dengan senyum. Ia tanpa belas kasihan, terus menarik telinga Wang Chen tanpa mempedulikan ucapan dan teriakan kesakitan Wang Chen.


"Aakhh! Ying..!!"

__ADS_1


__ADS_2