Feng Ying

Feng Ying
141 -Dimanfaatkan II


__ADS_3

Pagi pun kini telah tiba. Feng Ying membuka mata perlahan. "Ahk?!" Ia terkejut karna melihat wajah Wang Chen berada di dekatnya. Ia langsung mendorong wajah Wang Chen dan membuat Wang Chen yang sedang berjongkok di samping Feng Ying terjatuh ke belakang.


"Apa yang ingin kau lakukan?!" Teriak Feng Ying. Ia langsung mengubah posisinya menjadi berdiri sambil masih memandang Wang Chen dengan kesal.


"Akh, ssttt... Aduh.. Sakit.." Wang Chen mengelus punggungnya yang terasa agak sakit setelah Feng Ying mendorong wajahnya. Ia pun mengubah posisinya menjadi duduk. "Kenapa kau mendorongku?!"


"Kau sendiri, kenapa kau ada di dekatku tadi?!"


Wang Chen memegangi tangannya yang masih agak sakit karna pertarungan dengan Feng Ying saat itu. "Akhh.. Ssttt.. Aku tadi hanya ingin menunggumu bangun dan kau malah mendorongku!" Kesalnya. Ia meringis kesakitan karna lukanya yang masih belum sembuh.


Feng Ying mendengus, "Kalau begitu, kenapa harus sedekat itu?!"


"Aku hanya ingin memastian bila kau takkan berpura pura tidur nantinya!" Kesal Wang Chen.


Feng Ying membuang muka dengan kesal, "Memangnya ada apa? Tidak biasanya kau sudah bangun."


"Aku tidak tidur karna aku menunggumu bangun. Aku sangat penasaran dengan ucapanmu semalam. Jadi aku menunggumu bangun saja." Jelas Wang Chen.


Feng Ying menatap Wang Chen dan memasang ekspresi bingung, "Memangnya ucapan apa yang kau maksud?"


Wang Chen sedikit merintih sakit. Namun, ia menjelaskan, "Kau mengatakan bila...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Feng Ying mendengus. Ia pun tersenyum, "Mana mungkin aku merindukan mereka? Lagi pula, mereka bisa menjaga diri sendiri. Bila aku kembali, maka mereka mungkin takkan membiarkanku keluar lagi. Huft.. Sangat menyebalkan." Ia terdiam sejenak, "Dan juga.. Aku tidak mau dimanfaatkan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wang Chen mengingatkan Feng Ying tentang ucapan pemuda itu saat malam. "Apa sekarang kau sudah ingat?"


Feng Ying bersikap acuh tak acuh, "Aku lupa."


"Mana mungkin kau lupa! Kau pasti berpura pura lupa. Ayolah~ katakan padaku Ying, aku sangat penasaran~" Rengek Wang Chen.


Feng Ying mendengus, "Apa peduliku? Itu salahmu, karna kau penasaran dengan ucapanku. Jadi bila rasa penasaranmu tak terjawab, itu bukanlah salahku."


Nyawn?


Wang Feng mulai bangun. Ia meregangkan tubuhnya seperti seekor kucing. Setelahnya, ia menatap kedua pemuda yang berada di dekatnya dengan heran.


Nyawn?


"Ah, tidak apa. Aku hanya sedang bertanya sesuatu pada Ying." Ucap Wang Chen sambil tersenyum menatap Wang Feng. Ia pun kembali menatap Feng Ying "Ayolah, katakan padaku Ying.."


"Tidak, aku malas mengatakannya." Feng Ying berjalan pergi tanpa memperdulikan Wang Chen yang kini mulai mengikutinya dan masih merengek.


Nyawn?


Wang Feng masih heran. Namun, ia langsung mengikuti Feng Ying dan Wang Chen.


Selama perjalanan mencari danau, Wang Chen masih terus mencoba membujuk Feng Ying. Hingga akhirnya, kini Feng Ying menyerah. Ia berhenti berjalan dan berdiri menghadap Wang Chen. "Kau ingin mengetahuinya bukan?"

__ADS_1


Wang Chen mengangguk antusias. "Ayo katakan padaku sekarang! Apa maksudmu dimanfaatkan? Siapa yang memanfaatkanmu?"


Feng Ying menarik nafas dan membuangnya. Bila ia memberitahu Wang Chen, pemuda itu pasti tidak akan mengoceh lagi. "Yang kumaksud adalah keluargaku. Kau sekarang sudah tahu bila aku adalah orang yang berasal dari keluarga Zhang, bukan?"


Wang Chen mengangguk. Ia mendengarkan dengan seksama ucapan yang akan dikatakan Feng Ying.


"Mereka ingin menjadikanku sebagai alat untuk balas dendam atas pembantaian keluarga Zhang. Maka dari itu, mereka melatihku dengan keras. Karna mereka ingin menjadikanku sebagai alat balas dendam. Aku mengetahuinya sendiri, tanpa mereka beritahu. Tapi aku tidak mau dijadikan sebagai alat oleh seseorang. Aku tidak berniat untuk balas dendam. Karna keluarga Zhang yang dibantai pun, tidak ada urusannya denganku. Aku tidak mengenal mereka, mereka juga tak pernah membantuku. Lalu untuk apa aku membalaskan dendam mereka? Mereka sudah mati, mereka takkan bisa memberikan apapun padaku bila aku berhasil membalaskan dendam mereka. Aku lebih suka bebas dan aku tak suka diatur oleh siapapun." Jelas Feng Ying dengan jelas dan tegas.


Wang Chen sempat terkejut ketika mendengar bila Feng Ying ingin dijadikan alat balas dendam. Tapi ia bersyukur karna ternyata Feng Ying tak tertarik untuk melakukan balas dendam. Wang Chen mengangguk angguk, "Ah.. Begitu. Sekarang aku mengerti ucapanmu saat malam itu."


"Sudah? Tidak ada yang ditanya lagi 'kan?" Feng Ying menatap Wang Chen dengan malas.


Wang Chen tersenyum hingga menampilkan giginya yang putih, "Hihi.. Sudah. Maaf tadi aku memaksamu."


"Hah.. Lupakan. Sekarang kuberi kau perintah untuk pergi mencari danau yang ada di sekitar tempat ini. Jangan lama dan jangan terlalu jauh dari tempat ini." Perintah Feng Ying.


"Eh? Kenapa tidak kita cari berdua saja? Kenapa hanya aku?" Ucap Wang Chen.


"Kau 'kan bawahanku. Lebih baik memanfaatkan kehadiranmu saja untuk mencarinya." Ucap Feng Ying dengan santai.


Wang Chen mendengus kesal, "Baiklah.. Baiklah.. Tapi kau tunggu di sini." Ia langsung berjalan pergi meninggalkan Feng Ying.


"Hehe.." Feng Ying hanya tertawa pelan.


***


Setelah keduanya membersihkan diri, Feng Ying dan Wang Chen berdiri di dekat danau. Keduanya nampak mengeluarkan pedang kembar bunga phoenix. "Aku akan mencoba mengendalikan air danau!" Ucap Wang Chen dengan antusias.


Wang Chen memegang pedang dengan bagian tajam ke atas. Ia membayangkan bila kumpulan air berputar mengelilingi pedangnya.


Tak lama dari itu, sekumpulan air di danau mendekat dan langsung berputar mengelilingi pedang Wang Chen secara perlahan. Namun lama kelamaan, putarannya semakin cepat.


Wang Chen membuka mata, "Kau lihat Ying?! Ini menakjubkan! Aku tidak perlu memakai Qi untuk melakukannya, aku juga sekarang bisa menggunakan serangan air, walaupun aku tak memiliki elemen air." Ucapnya antusias sambil mengamati pedang yang ia pegang.


Feng Ying mendengus, "Hanya begitu saja kau sudah senang, dasar.. Bila kau membuat hutan ini tenggelam dengan air, itu baru menganggumkan."


Air yang mengelilingi pedang Wang Chen kini kembali lagi ke danau karna Wang Chen yang mengendalikannya. Pemuda itu menatap Feng Ying, "Mana mungkin aku melakukan itu? Bisa bisa, semua hewan ataupun tanaman yang ada di tempat ini terendam air dan malah mati."


"Hm.. Terserahmu saja. Berikan pedang itu!" Feng Ying langsung merebut pedang di tangan Wang Chen secara tiba tiba.


Wang Chen terkejut, "Apa yang ingin kau lakukan? Kembalikan padaku!" Ia berniat mengambilnya kembali. Namun, satu tangan Feng Ying langsung menahan tangan Wang Chen. "Aku hanya meminjamnya saja. Nanti akan kukembalikan. Tidak perlu khawatir." Ucap Feng Ying dengan malas.


Wang Chen pun menurut. Ia berdiri mengamati apa yang mungkin akan dilakukan Feng Ying.


Feng Ying kini mulai memegang pedang di setiap tangannya. "Hm.. Bagaimana caraku menggunakannya?" Gumam Feng Ying. Dalam buku tertulis bila ingin mengeringkan sebuah tempat atau menengglamkan sebuah kota, maka harus memakai kedua pedang kembar sekaligus. Feng Ying ingin mencoba membuat hutan ini menjadi gersang.


Feng Ying berpikir sejenak. Ia pun mulai menancapkan pedang ke tanah secara bersamaan sambil mengalirkan Qi nya ke dalam pedang, berharap dengan cara ini, ia bisa melakukannya.


Whuusss


Angin berhenbus dari kedua pedang yang tertancap. Feng Ying dan Wang Chen menutup mata agar debu tidak masuk ke dalam mata mereka.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Feng Ying mulai berhenti menyalurkan Qi nya setelah kedua pedang tidak lagi mengeluarkan angin. Ia membuka mata perlahan.


Wang Chen ikut membuka mata karna ia tidak lagi merasakan angin yang berhembus seperti tadi. Ia melihat pada pedang dan tidak melihat adanya keanehan apapun. "Sebenarnya kau ini ingin melakukan apa, Ying?" Bingungnya.


Feng Ying sendiri terkejut karna apa yang ia bayangkan tidak terjadi. Apa yang ia inginkan tidak terjadi. "Kenapa tidak bisa?! Aku sudah menggunakan keduanya secara bersamaan, seharusnya itu bisa membuat tempat ini menjadi gersang!" Kesalnya.


Nyawn~


Wang Feng kini datang dengan membawa buruan rusa sebesar 1 meter lebih di mulutnya. Ia meletakkannya di permukaan tanah.


Wang Chen mengalihkan tatapannya dan menatap Wang Feng, "Kau sudah kembali? Bagaimana? Apa kau sudah puas berburu makanan tadi?" Ucapnya dengan senyum.


Nyawn! Nyawn!


Wang Feng mengatakan hewan hewan apa yang dirinya buru. Ia sudah makan banyak dari buruannya itu. Dirinya bahkan sangat kenyang sekarang, mungkin berat badannya bertambah saat ini. Ia juga mengatakan membawa daging untuk dimakan Feng Ying dan Wang Chen.


Wang Chen memeluk Wang Feng dan mengelusnya, "Kau baik sekali, Wang Feng.. Kau tau saja bila aku lapar. Terimakasih." Ia tersenyum senang.


Nyawn!


Wang Feng ikut berekspresi senang. Ia mengeluskan kepalanya pada Wang Chen.


Ketika Wang Chen sedang memeluk tubuh Wang Feng yang lembut, sesuatu menimpuk kepalanya. "Aduh.." Wang Chen mengelus kepalanya dan melihat sebuah benda jatuh. Itu adalah 'kucing'nya.


"Huh, pedang tidak berguna! Padahal aku tidak perlu mencarinya saat itu, bila tau akan seperti ini! Ahk, hanya membuang buang waktuku saja!" Teriak kesal Feng Ying.


Wang Chen berdiri sambil mengambil pedangnya. Ia menatap Feng Ying dengan kesal, "Kenapa kau melemparnya?! Ini pedangku! Untung saja yang mengenai kepalaku adalah bagian pegangannya tadi! Bagaimana bila yang mengenai kepalaku adalah bagian tajam?!"


Feng Ying berekspresi acuh tak acuh saat memandang Wang Chen, "Huh.. Mudah saja.. Kepalamu tertusuk, sekarat, mati, tubuhmu menjadi dingin, lalu setelah itu, aku membakarmu."


Wang Chen cemberut ketika mendengar ucapan Feng Ying. "Enak saja, aku tidak mau mati dengan cara seperti itu!" Ia mendengus kesal.


Feng Ying nampak tak peduli ketika mendengar ucapan Wang Chen. Tatapannya pun tak sengaja melihat sebuah kalung yang tergantung di leher Wang Chen. Ia biasanya hanya akan melihat tali dari kalung Wang Chen saja, karna pemuda itu memasukkannya ke dalam pakaian. Saat tadi membersihkan diri pun, keduanya tak melepas pakaian. Jadi Feng Ying tak melihat bagaimana kalung Wang Chen. Lalu ketika berganti pakaian yang basah, keduanya berada di tempat berbeda. Namun sekarang, kalung itu terlihat oleh Feng Ying. Mungkin Wang Chen lupa memasukkan liontin kalung ke dalam pakaiannya.


Feng Ying berjalan mendekat ke arah Wang Chen. Ia pun langsung melepaskan kalung Wang Chen secara paksa, membuat tali kalung terlepas dari leher pemuda itu. Wang Chen terkejut dengan apa yang dilakukan Feng Ying, "Apa yang kau lakukan?! Kembalikan itu!" Kesal Wang Chen. Ia berniat mengambil kalungnya kembali. Namun, Feng Ying mencegah tangannya.


"Aku akan pinjam saja sebentar!"


"Jika pinjam, kenapa tidak mengatakannya saja?! Kau malah langsung mengambilnya, seperti ingin mencuri!" Kesal Wang Chen.


"Enak saja kau menyebutku pencuri!" Kesal Feng Ying. Ia memukul kepala Wang Chen dengan keras dan membuat pemuda itu merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Sstt.. Aduh.. Ying! Kenapa kau memukulku?!"


"Karna kau sudah mengatakan bila aku pencuri! Aku ini bukan pencuri, aku hanya ingin meminjam saja!" Feng Ying mendengus.


"T-tapi 'kan kau bisa mengatannya terlebih dahulu bila ingin meminjamnya. Aku juga akan mengizinkanmu melihatnya sebentar." Wang Chen masih mengelus kepalanya yang benjol.


"Terserah aku saja!" Feng Ying menatap Wang Chen dengan angkuh.


Wang Chen mendengus melihat Feng Ying yang bersikap angkuh di hadapannya. "Kalau begitu, jangan lama lama. Jangan sampai hilang!"

__ADS_1


"Baiklah.. Baiklah.. Kau tidak perlu mencemaskan itu."


__ADS_2