Feng Ying

Feng Ying
116 -Gerbang Dunia II


__ADS_3

Feng Ying dan yang lainnya telah sampai di depan sebuah gua. Mereka awalnya bertanya tentang lokasi dari gerbang dunia yang dimaksudkan oleh pengunjung restoran tadi ke warga sekitar. Jadi sekarang di sinilah mereka. Di dekat gerbang dunia berada. Bukan hanya ada mereka bertiga, namun ada ratusan orang lainnya yang berada di depan gua. Mereka memakai pakaian dari sebuah sekte yang berbeda beda. Bahkan di tempat itu terdapat orang dari aliran hitam. Namun orang orang aliran putih maupun netral tidak mengusik mereka. Karna mereka tak membuat keributan.


"Ternyata di tempat ini sangat ramai." Gumam Wang Chen.


"Sepertinya gerbang dunia yang mereka maksudkan belum muncul. Jadi mereka hanya diam di tempat ini." Ucap Feng Ying sambil mengamati keadaan sekitar.


Wang Chen mengangguk setuju. "Apa kita akan benar benar masuk ke dalam sana nanti, Ying? Mungkin di sana berbahaya. Bagaimana bila kita tidak bisa keluar dengan selamat dan malah mati di tempat yang entah dimana itu." Ucapnya dengan ragu.


Feng Ying memandang Wang Chen dengan remeh, "Kalau begitu mudah. Kau tidak perlu ikut denganku. Aku sudah mengatakan bila petualanganku akan berbahaya. Tapi kau tetap ikut. Jadi jangan salahkan aku bila kau tetap ikut denganku dan malah mati." Ucapnya dengan nada ejekan.


Wang Chen menggelembungkan pipi dengan kesal, "Tentu saja aku akan tetap ikut denganmu! Dan juga, jangan meremehkanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri nanti."


Feng Ying tersenyum enteng, "Baiklah.. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, jangan menyalahkanku bila kau mati nanti."


"Aku tidak akan mati dan tidak akan meninggalkanmu sendiri di tempat berbahaya itu!"


Feng Ying menepuk wajahnya, "Haish.. Kau sangat keras kepala. Sepertinya percuma saja bila aku membujukmu agar berhenti ikut denganku."


Wang Chem tersenyum penuh kemenangan. "Itu karna aku takkan meninggalkanmu!"


Nyawn! Nyawn! Grraaoo!!


Wang Feng menggeram sambil menatap gua yang berada cukup jauh di depan barisan. Hanya dengan melihat gerak gerik Wang Feng, Wang Chen tahu bila harimau bulan itu tengah waspada akan sesuatu di dalam gua.


"Gerbang sudah muncul! Gerbang sudah muncul!"


Seseorang yang berada di depan berteriak dengan girang. Tepatnya, ia berada di dalam gua.


Wang Chen dan Feng Ying menatap ke arah suara. Secara bergantian, barisan manusia di depan mereka mulai maju dan masuk ke dalam gua. Keduanya pun hanya mengikuti di belakang. Begitupun Wang Feng. Walaupun harimau bulan itu bersikap waspada.


"Sebaiknya kita berhati hati saat di dalam." Wang Chen memasang wajah serius.

__ADS_1


"Tentu saja! Kau kira aku akan melakukan hal ceroboh dan akan membuat diriku sendiri mati konyol? Heh, itu takkan terjadi. Karna bila itu terjadi, maka akan sangat memalukan bagiku!" Ucap Feng Ying percaya diri. Walaupun dalam hati bersikap serius.


Setelah masuk ke dalam gua, mereka melihat sebuah portal dan orang orang masuk ke dalam portal itu. "Kukira bentuknya akan seperti pintu." Gumam Wang Chen.


"Aku juga berpikir begitu. Tapi ternyata tidak." Ucap Feng Ying. Ia masuk ke dalam bersamaan dengan masuknya Wang Chen dan Wang Feng.


***


Wang Chen memejamkan mata ketika baru saja masuk ke dalam portal. Cahaya yang sangat menyilaukan membuatnya harus melakukan ini.


Setelah beberapa saat, Wang Chen kembali membuka mata. Iapun terkejut ketika melihat bila dirinya berada di tempat yang entah dimana ini. "Ying, sekarang kita harus ke–"


Wang Chen kembali terkejut karna Feng Ying maupun Wang Feng tak ada di sisinya. Ia hanya sendiri di tempat ini. Tak ada orang selain dirinya. Wang Chen menggaruk tengkuknya bingung. "Aku harus kemana? Tidak ada apapun di tempat ini."


Tempat dimana Wang Chen berada saat ini hanyalah hamparan padang pasir yang luas, tanpa adanya tanaman ataupun makhluk lain selain dirinya. "Dimana mereka? Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa mereka baik baik saja?" gumam Wang Chen cemas.


"..Kalau saja aku tahu akan berpisah dengan Ying dan Wang Feng seperti ini, maka aku akan berusaha keras mencegah Ying!" kesalnya pada diri sendiri.


Akhirnya, Wang Chen memilih untuk terus berjalan ke depan dan mencari Feng Ying dan Wang Feng ataupun warga setempat yang mungkin ada di tempat ini.


Aarrgghh!


Aarrkkhh!


Dia monster!


Cepat habisi dia!


Triingg


Triinggg

__ADS_1


Wang Chen menangkap adanya suara tak jauh dari tempatnya berpijak. Dari kejauhan juga terlihat ada sesuatu di tempat itu. Wang Chen berlari secepat yang dirinya bisa. Ia juga menggunakan elemen petirnya.


***


Setelah sampai, Wang Chen terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya. Banyak mayat tergeletak dimana mana dengan tubuh yang terpotong potong. Darah membasahi tanah tandus dan bau anyir tercium kemana mana. Beberapa orang nampak bertarung melawan seseorang.


Belum sempat merespon, pandangan Wang Chen menjadi gelap. Ia tidak bisa melihat apapun selain kegelapan tanpa cahaya. Wang Chen pun tersadar setelah beberapa saat. "A-apa itu tadi? D-dan dimana aku sekarang?"


Belum lama setelah Wang Chen berucap, kakinya terasa basah dan pemandangan di depannya tidak lagi gelap, karna Wng Chen kini berada di padang pasir tandus yang berbeda. Bau anyir yang begitu menyengat menusuk penciuman Wang Chen kembali. Pemuda itu melihat ke bawah untuk mengetahui apa yang membasahi kakinya.


Mata Wang Chen membola terkejut. Di bawah kakinya terdapat genangan darah. Tak jauh dari kakinya juga terdapat potongan tubuh seseorang. Ia langsung mundur beberapa langkah ke belakang. Dirinya terkejut, juga takut melihat darah sebanyak ini.


Ketika mundur, Wang Chen menginjak sesuatu di belakang. Ia menurunkan pandangannya dan berbalik melihat ke belakang. Hal yang lebih mengerikan daripada apa yang ia lihat saat ini. Mayat mayat bergelimpangan sangat banyak.


HAHAHA!!


Wang Chen mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah suara berasal. Seseorang saat ini tengah mencengkram leher seorang wanita dengan tangannya yang berlumuran banyak darah.


Wang Chen terkejut ketika menyadari siapa wanita itu, "I-ibu?!"


Wang Chen berniat lari untuk menyelamatkan ibunya. Namun, kakinya seakan tak bisa digerakkan sama sekali untuk pergi. "Aarghh! Ada apa ini?! Kenapa aku tak bisa pergi?!" Wang Chen meraung marah.


Wang Chen terus memberontak untuk pergi. Namun, ia tetap tak bisa maju. Sehingga, dirinya hanya bisa menatap ibunya yang kesakitan, tanpa bisa menolong. "Sialan! Lepaskan ibuku!"


"Haha, kau lihat? Aku sudah membunuh ibunya! Bagaimana kau bisa menghadap padanya nanti? Kau tak bisa melakukan apapun lagi. Dirimu sudah berada pada kendaliku!" pemuda yang nampak berusia 25 tahun itu tersenyum menyeringai. Kukunya yang tajam menembus leher ibu Wang Chen dan membuat wanita itu mati seketika.


"Sialan!" Wang Chen menatap pemuda yang mencengkram mayat ibunya dengan marah. "Aku akan menghabisimu, sialan!"


Wang Chen berusaha kembali melepaskan diri dan mencoba pergi untuk menemui ibunya. Namun lagi lagi, dirinya tak bisa melakukan itu. Mata Wang Chen sudah basah dengan air mata. Ia sangat sedih karna ibunya mati. Bukan hanya sedih, tapi juga marah. Dirinya tak bisa melakukan apapun untuk membantu dan hanya bisa diam mengamati orang yang disayanginya mati di depannya.


Tangan pemuda yang mengangkat mayat ibu Wang Chen menusuk perut wanita itu. Ia menarik dan mengeluarkan organ dalam yang panjang yang tak lain adalah usus.

__ADS_1


"Dia.. Beraninya dia.. Aku akan membunuhmu! Aargghh!!" Wang Chen hanya bisa berteriak. Bahkan setelah dirinya berteriak, pemuda itu nampak tak mendengarkannya, atau memang.. Dia tak bisa mendengarnya?


Pemuda itu menjatuhkan mayat ibu Wang Chen setelah mengobrak abrik organ dalam wanita itu. Iapun langsung mengubah posisi berdirinya menghadap pada tempat dimana Wang Chen berada. Pakaian dan tubuhnya begitu basah dengan darah. Wajahnya pun tak luput dari cipratan darah. Tatapan tajam meremehkan dan senyuman sinisnya menatap Wang Chen.


__ADS_2