
Tanda 'OPEN' yang tergantung dipintu, itu menandakan kedai Double P kembali dibuka. Saat ice cream dan pizza datang, Pedro memasang tanda CLOSED, yaitu kedai ditutup hingga kedatangan Judith.
Torres mengusap usap pahanya, dengan menyangga rahangnya dengan telapak tangan dan sikunya menumpu diatas meja. Rahangnya serasa lepas dan pahanya? Train menggigit pahanya hingga serasa panas dan tersayat. Jared tidak berhenti terbahak bahkan semuanya, melihat Torres yang terkena batunya akibat ulahnya sendiri. Kalau Leyka tidak melerainya, entah apa jadinya.
"Black coffee robusta" Penelope meletakkan 3 cangkir kopi dimeja Valentino. Lalu, Penelope mengambil satu box pizza lalu meletakkannya dimeja. Pizza kembali hangat karena di panaskan kembali ke Microwave, keju yang berlimpah tampak meleleh, Valentino meminta pizza yang dibelinya dihangatkan kembali. Valentino menyantapnya, begitupun Jared dan Torres.
Torres terlihat meringis, sesungguhnya Valentino tidak tega, tapi apa mau dikata, ketika miliknya di usik maka itu akan menjadi masalah besar dan Jared juga Torres sangat mengetahuinya.
"Satu box pizza panas 45 euro!" ujar Penelope lagi dan Jared nyaris tersedak. Penelope berlalu dan Leyka terlihat telah keluar dari toilet membersihkan tubuh Train. Ia mengganti bajunya karena Train cepat berkeringat.
"Kau harus membayar 45 euro dengan Pizza yang telah kamu beli seharga 22 euro di Mall? Leyka mengambil keuntungan lebih dari 100%, ini gilaa!" ujar Jared melanjutkan menyantap pizza.
*22 uero \= 352.000 IDR, 45 euro \= 720.000 IDR
"Karena semua yang tiba disini menjadi milikku dan kami menggunakan listrik untuk memanaskannya kembali dan itu tidak gratis" ujar Leyka sambil lewat dan Train duduk begitu saja dipangkuan Valentino yang terdiam menikmati pizzanya. Ia malas memberi komentar karena ia terbiasa makan dengan diam dalam ketenangan.
"Kau mau?" tanya Valentino sambil menciumi rambut Train. Jared memperhatikan dan Torres mendelikkan matanya kearah Train dan yang dipandangi dengan kesal. Train justru menirukan gaya Torres, ia memiringkan kepala dan menyangganya dengan telapak tangannya menumpu pada meja. Valentino tersenyum melihatnya dan Jared menahan tawanya.
"No-- Mommy membuat salmon untukku" ujar Train dengan menggosok hidungnya dan ia menguap.
"Apa kau membayarnya juga untuk salmonmu?" tanya Jared pada Train.
"Si!" jawab Train lantang. Valentino tersenyum dan mencium pipi Train lalu memasukkan pizza lagi kedalam mulutnya.
"Apaa?! Leyka kejam sekali. Bahkan pizza yang kau beli dijual lagi untuk kita. Hahaha-- kau yang membeli lalu kau membelinya lagi! Ini sangat menggelikan. Apa wanita Spanyol sangat perhitungan?" Jared. Di kenal Mister Serius, dia sangat sulit diajak becanda.
Terkadang ia menjadi bulan bulanan kawannya karena menanggapi segala sesuatu dengan serius. Karena itulah pandangannya terhadap segala sesuatu sangat cermat dan teliti. Karena itulah ia menduduki Divisi Keuangan sekaligus wakil Valentino di Divisi Konstruksi.
"Semua wanita seperti itu, jangankan 45 euro. Kalau Leyka menjual 45.000 euro aku akan membelinya" kata Valentino dengan tersenyum kearah Train yang menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu Valentino menciumnya.
"Benar, wanita seperti itu. Jangan bersikap seperti Jared yang selalu saja menganggap wanita seperti bilangan matematika. Kalau kau terlalu berhitung dengan wanita, apalagi pada wanita secantik Leyka, maka sebaiknya serahkan saja-- Dia padaku.. Shittt.. Aku kelepasan bicara. Torres menghentikan perkataannya dan melanjutkannya didalam hatinya, karena dua pasang mata biru keabu abuan itu, menatap tajam kearahnya. Train memegangi garpu dengan cemberut seakan garpu ingin melesat kearahnya.
"Maksudku-- Ehmm. Itu. Ehh. Serahkan pada Train. Ya! Benar pada Train!" Torres sangat gugup ia hanya meringis, dengan mentalnya yang semakin menciut ditambah Jared menendang kakinya, untuk tidak mencari masalah.
Sementara Raja Setan dan Setan Cilik menunggu penjelasan, Train justru mengancam, "Torres kau tidak boleh nakal sama Mommy! Aku kan menggigitmu sampai tulang! Seperti Vampir di Castello de Monte!"
Bukan hanya Valentino, bahkan Jared dan Torres membulatkan matanya. Jared dan Torres dengan segala dugaannya dan Valentino dengan rasa bangga akan kenangan yang terkunci disana.
Valentino semakin yakin bahwa Leyka masih menyimpan kenangan mereka, jantungnya berdegub kencang dan dialiri rasa hangat. Valentino, ia menciumi Train dengan gemas dan bertanya, "Train? Bagaimana kau tahu Castello de Monte?"
"Itu kata Mommy, kalau aku tidak mau mematikan video game- ku. Mommy akan cerita Vampir di Castello de Monte dan itu sangat seru!" ujarnya terkekeh, ia selalu seru sendiri dengan apa yang ia katakan. Valentino kembali menciumnya dengan gemas.
Kau bercerita banyak hal tentang kita kepada Train.. Ini manis sekali Leyka. Valentino.
Jika kau menceritakan kisahmu pada Train, anak sekecil ini.. Wahh.. Ini luar biasa.. Mengapa aku merasa, Train anak dari Gallardiev! Aku harus memastikannya pada Leyka. Jared.
Berbeda dengan Torres, ia memberondong pertanyaan dengan cepat, "Train apa Mommymu bercerita apa itu Castello de Monte?! Pernahkah Mommymu kesana? Apa kau tahu dengan siapa Mommymu kesana?"
"Noo Torres! Noo! Torres diam!" namun karena Train mempunyai rasa sentimentil yang tinggi pada Torres, ia justru marah. Hanya karena Torres melihat bokongg Leyka. Train biasanya akan marah berkepanjangan kepada siapapun yang bertindak 'nakal' pada Mommynya, dan khususnya Torres untuk saat ini, sikapnya ditunjukkan dengan memanggil nama dan itu sudah tidak aneh.
"Hissst, anak ini! Dia masih saja marah padaku! Pendendam sekali, dia ini seperti Gallardiev! Cihh!" gerutunya dengan mata melihat Train tapi wajahnya mendekat kearah Jared yang berada disampingnya.
"Carino, makananmu sudah siap di mejamu. Makanlah dengan baik. Lalu Maria akan mengantarmu ke Apartemen Abuella. Ayah dan Ibumu akan menjemputmu nanti. Maria telah kembali mengantarkan ice cream ke tetangga. Kau harus tidur siang. Apa kau mau makan ala bangsawan?" Tanya Leyka melepas celemeknya dan menghampiri Train.
Trainpun merentangkan tangannya dan menggoyangkan kakinya dipangkuan Valentino yang menatap kagum pada Leyka, Train berseru dengan suara mungilnya, "Si Mommy! Mommy aku akan membayar makan siangku-- Uncle Jared, Mirar (lihat)! Aku akan membayar makan siangku"
Jared pun melihatnya begitupun Torres, yang selalu saja terpana dengan kecantikan Leyka, dan Valentino mendekap perut Train, ia tidak mengizinkan Train turun dari pangkuannya, Leyka hanya tersenyum lalu ia mendekati Train dan menunduk.
"Baiklahh, ayo bayar Carino" ujar Leyka dengan lembut dan membuat Valentino berdebar. Leyka menunduk berjarak sangat dekat hingga rambutnya meriap diwajah Valentino. Leyka menahan nafasnya saat kedua tangan mungil Train, menangkup dipipinya.
"Torres kau tidak boleh melihat Mommy ku dengan mata seperti itu"
Setan cilikk.. Cihhh.. sempat sempatnya kau melirikku.. Dia benar benar fotocopy Gallardiev.. Torrespun mendengus dan memalingkan pandangannya, Jaredpun menahan tawanya.
"Uhhhmmm-- Mommy.. Mommy.. Mommy-- Train memberi ciuman dikedua pipi dan bibir Leyka sambil berbisiik menyebutkan Mommy, lalu ia menempelkan hidungnya dihidung Leyka dan berkata, "Gracias Mommy. Te Quiero, La mejor Mommy, La Mommy más bella del mundo (Aku mencintaimu, Mommy terbaik, Mommy tercantik di dunia)"
Jadi begitu cara membayarnya.. Huhh.. Aku pikir menggunakan uang. Jared.
Train kemudian melingkarkan tanganya dileher Leyka dan memeluknya. Hingga wajah Leyka terdorong maju semakin dekat dengan wajah Valentino. Sikap Train yang romantis dan manis menunjukan, bahwa ia adalah orang Italy yang sejati, Jared semakin terkesan, dan 100% ia menyakini.
Jared, penganalisa dari Divisi Keuangan, ia sangat cermat memahami situasi. Jared di ibaratkan, sebuah mesin test DNA dengan memakai logika dan instingnya, bukan hanya Valentino yang berdebar karena tatapan Leyka, Jaredpun turut berdebar karena Valentino mencuri ciuman dikening Leyka.
Diev!! Train adalah Putramu. Jared.
"Apa artinya?" tanya Torres tanpa melihat, ia menanyakan bahasa Spanyol yang digunakan Train.
"Artinya.. Aku mencintaimu-- Leyka menatap Valentino yang menjawab pertanyaan Torres, suaranya terdengar lembut dan menghanyutkan -- Mommy terbaik... Ehm, Kau Mommy tercantik.. didunia, Leyka. Lo siento" kata maafnya terdengar lirih, hingga mata Leyka memerah.
Ia pun mengurai pelukan Train dan dengan gemas ia meminta ciuman lagi dalam bahasa Spanyol, "Besame mucho mucho mucho! My sweet Pretoria" Mereka saling serang ciuman dan tawa disertai jeritan Train begitu melengking karena Leyka menggelitikinya.
"Apa kau bilang?" Tanya Valentino, memastikan apa yang baru saja ia dengar, karena ia mendengar Leyka menyebut Pretoria.
"Bukan apa apa!" kata Leyka ketus dan ia menegakkan tubuhnya lalu menarik tangan Train dengan lembut agar turun dari pangkuan Valentino.
"No Mommy bilang, My sweet Pretoriaa! Yeaayy! Aku makaan! Yeay! My sweet Pretoria" Train pun berlarian menuju mejanya dimana telah tersedia makanannya, Leyka tersenyum melihatnya. Saat ia ingin berlalu, Valentino meraih tangan Leyka dan menahannya.
"Apa maksudnya My sweet Pretoria? Kau mengenang manisnya percintaan kita yang panas?"
__ADS_1
Hanya kemesuman yang dia ingat, huuh. Leyka.
"Si-- Ada masalah?" Leyka memiringkan kepalanya dengan setengah menunduk, ia menatap Valentino dengan pandangan menantang. Valentino tersenyum dengan mendengus, Leyka mengakuinya dan justru itu membuatnya tidak percaya.
"Tidak. Aku merasa sangat senang-- Ehm. Apa aku bisa membayarnya dengan cara Train?"
"Bisa-- Leyka mendekat wajahnya ke telinga Valentino dengan berjarak ia kemudian berbisik "Tapi hanya dalam mimpimu, Gallardiev"
Leyka menegakkan tubuhnya dan Valentino melepaskan genggamannya dengan kesal, ia berdecak kesal, "Ckk, apa kau tidak mau mengucapkan terima kasih atas sandiwara tadi?"
"Aku?? Mengucapkan terima kasih? Hahaha-- Apa kau bercanda? Hahaha-- Kau yang seharusnya berterima kasih padaku!" Dan Leykapun berlalu, menuju si Red Velvetnya berada.
"Kalian lihat? Wanita siluman itu sulit di takhlukan. Dia memiliki sihir!" Valentino menyesap kopinya kemudian. Ia kesal.
"Aku rasa dia benar, kau yang harus berterima kasih-- Diev, aku ingin membahas sesuatu yang penting denganmu" kata Jared.
"Mengenai?" Valentino mengernyitkan alisnya.
"Kau dan Train"
"Aku dan Train?" Valentinopun meletakkan cangkir kopinya dan meladeni Jared.
"Kau tidak memperhatikan kemiripanmu dan dia? Kalian sangat mirip" bisik Jared sangat antusias.
"Benarkah? Itu berarti bagus. Karena aku akan mengungkapkan status pernikahanku nanti di hadapan Raja dan Ratu Spanyol. Jika orang menganggap aku dan Train mirip, itu sangat menguntungkan karena orang akan memandangku, Ayah sambung yang bisa menerima anak dari laki laki lain. Itu sangat bagus Jared! Aku akan mencari wanitaku. Dia manis sekali menyebut Train, My Sweeet Pretoria. Dia sangat menggemaskan!" Valentinopun bangkit berdiri dan berlalu. Torres melengos dengan dan Jared menggelengkan kepalanya.
"Diev!" Jared.
"Nanti kita bahas lagi!" ujar Valentino tanpa menoleh.
"Shitttt! Bodoh sekali temanmu itu!" kata Torres dengan kesal.
"Cihhh, kalau bodoh berarti temanmu! Temanku pintar semua!" dengus Jared.
"Dia sedang jatuh cinta, orang yang sedang jatuh cinta, logikanya akan tertutup. Kita akan membahasnya nanti" ujar Torres melanjutkan makannya.
-
-
-
...Di Waktu Yang Sama...
...(Area Kasir dan Barista)...
Leyka duduk dilantai tidak jauh dari Train sehingga dari luar ia tidak terlihat dan dari luar orang harus menghampiri mesin kasir agar bisa melihatnya, ia mencatat pembukuan dan stok barang. Valentino berjalan kearah suara yang begitu menyejukkan hatinya belakangan ini.
Train akan ke gereja. Valentino membatin.
"Umm-- Itu. Aku.. Aku hanya.. Mommy, sejak hadiah Daddy itu datang, aku berjanji tidak akan membahas ini. Tapi aku berjanji ini.. Umm.. Surat terakhirku untuk Tuhan. Aku ingin bertemu Pastor Gilberto" Leyka mendekati Train dan menciumnya. Kesedihannya hilang saat Train menyinggung Daddynya, itu karena Valentino kini berada di Barcelona.
Valentino menghentikan langkahnya, ia tiba tiba berdebar, ia memutuskan untuk tidak mengganggu perbincangan Leyka dan Train. Tapi ia mengingat sesuatu yang penting. Dolores!
Ohhh Shiitt!! Mengapa aku lupa.. Bukankah seharusnya aku menemui Pastor Gilberto.. Train.. Surat untuk Tuhan? Hadiah Daddy? Apa Daddynya mengirim hadiah.. Shiitt.. Siapa Daddynya? Mengapa aku harus menemui Pastor Gilberto? Apa hubungannya denganku.
Leyka meraih dagu Train, ia menyeka mayonaise disudut bibirnya, lalu mencium kening Train dan berkata dengan lembut "Ohh My Sweet Carino. Kau boleh kesana kapan pun kau mau. Berapapun surat yang kau tulis untuk Tuhan, Mommy tidak masalah. Hanya saja, kau jangan nakal dan selalu dalam penjagaan Maria. Dan kau harus membawa inhalermu"
Apa yang di alami Train? Mengapa dadaku sesak sekali.. Aku harus ke Gereja.. Mungkin Pastor tahu, siapa Ayah Train..
"Si Mommy! Graciaaaas! I love you Mommy" Trainpun bersorak dan memeluk Leyka dengan mulut penuh makanan. Leyka menciumi pipi Train hingga berbunyi dan tertawa bahagia. Valentino sangat iri mendengarnya.
"I Love you too, Carino" jawab Leyka kemudian.
"Nah kembali ke kursimu, dan makanlah ala bangsawan. Jangan lupa makan asparagusmu"
Leykapun bergeser kembali ke tempatnya dan menyelesaikan pembukuannya.
"Noo Mommy! Ini tidak enak" suara mungil itu menolak memakannya. Baru akan berkata lagi, Valentino muncul dengan merentangkan kedua tangannya di meja kasir. Se-saat ia menatap Leyka dengan penuh kekaguman.
Dia wanita bangsawan, dia yang aku cintai, dia duduk di lantai dan bekerja. Leyka, bisakah aku membahagiakanmu dan Train? Aku tidak perduli bila suatu hari Daddynya datang, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun membawanya dari sisi kita.
Valentino berdehem yang bertujuan menghalau sesuatu di tenggorokkannya yang tercekat, ia menatap Train, "Ehem! Apa kau tahu? Asparagus bila marah, akan mengutukmu, jemari kaki dan tanganmu akan menjadi Asparagus"
"Uncle" gumamnya.
"Ohh Noo! Bagaimana kalau malam, tumbuh semakin memanjang" Leyka menanggapi Valentino agar Train mau makan asparagusnya.
"Dan pagi harinya, akan ada tukang kebun yang memotongnya. Itu sangat mengerikan" Valentino menambahkan.
"Uhhhss!! Aku akan makan sebelum dia tumbuh! Uhhss!" Train mendengus dan memakannya. Valentino tertawa bersama Leyka, setelah tersadar mereka saling berpandangan, dan tawa itu lenyap saat kehadiran seseorang yang Leyka tunggu.
__ADS_1
"Damian?" ujar Leyka membuat Valentino menoleh kearah Damian yang berjalan menuju ruang barista, yang tembus ke area kasir menemui Leyka dan Train disana, hatinya terbakar seketika. Ia seperti melihat kotak opera dari luar. Namun Leyka menyadari itu dan ia merasa tidak nyaman, karena pandangan Valentino menahan amarah.
"Damiaann!" Pekik Train.
"Haii!" Sesampainya disana, Damian mencium kening Leyka dan duduk didekat Train kemudian mencium kening Train lalu mengacak rambutnya.
"Aku merindukan kalian, apa kau merindukanku?" Damian mencium Train lagi dengan penuh kerinduan.
"No Damian! Karena kau nakal!" jawab Train dengan penuh makanan dimulutnya.
"Train, makanlah yang benar. Jangan sambil bicara atau kau bisa tersedak dan asmamu bisa kambuh" ujar Valentino dengan ketus.
"Si Uncle! Tinggal satu suapan terakhir! Nam Nam Nam Nam Nam" Train justru mengunyah sambil berdendang, agar ia melupakan rasa tidak enak pada suatu makanan.
"No, Nam nam (nyam nyam), Train" kata Leyka sambil bangkit berdiri, dan meletakkan buku buku keuangan dan stoknya di laci meja kasir.
"Si Mommy"
Train meminum air mineralnya lalu menyekanya kemudian ia bertanya pada Damian, "Damian, mengapa kau nakal pada Mommy? Mengapa kau bohong. Mengapa menghindari Mommy?"
"Lo siento, Baby. Aku sibuk dan aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu. Train, aku ingin berbicara dengan Mommymu, apa boleh? Ada hal yang ingin aku bicarakan-- Aku tidak akan melakukan apapun pada Mommymu, percayalah" Valentino menajamkan penglihatannya lalu Leyka menghadang pandangannya dengan berkacak pinggang dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain menumpu pada bibir meja kasir. Mereka saling memandang.
"Damian apa kau melupakanku? Aku temanmu, mengapa kau tidak pernah datang?"
Damian meraih tangan Train, lalu dipeluknya. Tidak perduli mata Valentino tajam seakan ingin membunuhnya, Damian memeluknya dan mengungkapkan isi hatinya, "Aku sangat merindukanmu! Percayalah"
Train membalas pelukan itu, tapi entah mengapa ia buru buru melepaskannya, pandangan mata Valentino, membuatnya perasaan Train gusar, ia pun mengambil tasnya dan berkata, "Damian, aku juga merindukanmu. Tapi aku harus pulang ke Apartemen Abuella. Karena aku harus tidur siang dan ke gereja bersama Maria"
"Anak pintar. Semoga Daddymu yang bodoh, bisa melihat anak sepintar dirimu" lirikan Damian menghunus jantung Valentino.
Mengapa aku tidak suka, Damian mengatakan Daddy Train bodoh?
"Dan kau Nona Felipe, aku memesan 100 cup kopi robusta, antarkan ke Proyekku! Dan kue kue camilan itu, bawakan kesana semuanya!" Valentino mengeluarkan kartunya, kartu yang sama yang Valentino berikan kepadanya. Penelope yang berada di area Barista, menghampiri Leyka dan merangkul pundaknya.
"Sertakan biaya kirimnya" ujar Penelope menyeringai.
Leyka menghitung lalu menggesek kartu Valentino beberapa saat kemudian lalu menyodorkan mesin kartu agar Valentino memberikan pinnya.
"Kau tau pin nya berapa. Bukankah kau telah menggunakannya untuk berbelanja hari ini?" Leyka membelalakan matanya, dan Damian hanya menghela nafas panjang, ia pun mendekati Leyka.
Shittt! Dia mengatakannya didepan Damian.. Dia sengaja..
"Leyka? Tidak usah memikirkan diriku, aku akan membantumu membuat 100 cup kopi" ujar Damian menyambar pipi Leyka dihadapan Valentino, Penelope menyeringai dan berlalu mengikuti Damian yang telah pergi ke area barista.
"Maria, Vamos a casa (ayo kita pulang)" kata Train diantara ketegangan itu. Ia berjalan kearah Maria yang berada di area rak kue.
"Maria, bawa semua paperbag itu dan Simon akan mengantarmu, berikan paperbag itu pada keluarga Fernandez aku telah menamainya. Punyaku, Manuella, Diego dan Train letakkan di apartemen Abuella" pinta Leyka kepada Maria sambil menyerahkan kartunya kepada Valentino namun Valentino justru menangkap tangannya.
"Sepertinya kau Sinterklaas di keluarga Fernandez"
Leyka menepis tangan Valentino dan meletakkan kartu ditangannya dan berbisik, "Mereka semua adalah Sinterklaas bagiku, kalau tidak ada mereka selama 8 tahun ini, entah apa jadinya aku dan Train"
Valentino melembut, ia meletakkan kembali kartunya di meja. Sambil berlalu ia berbisik dengan penuh penekanan "Maka semua yang ada padaku, adalah milikmu. Gunakan sesuka hatimu. Bahkan membeli lingeriee untuk kau tunjukkan pada kekasihmu"
"Seandainya aku bisa, aku akan melakukannya bahkan sejak 8 tahun yang lalu" kata Leyka hingga membuat Damian menoleh, kemudian tersenyum getir. Valentino mendengus sesaat dan kembali ke mejanya dengan kesal. Ia mengepalkan tangannya dan menyangga dahinya. Jared dan Torres, menghela nafas panjang, sedari tadi mereka menyimak kawannya yang tengah jatuh cinta namun cinta itu dikuasai kemarahan.
"Uncleee! Adios (sampai ketemu). Nanti malam, aku mengundangmu main Playstation baru, bersamaku!" Pekik Train berpamitan dari kejauhan.
"Si Trainn! Uncle akan lewat pintu bukan lewat balkon!" Valentino sengaja menaikkan volume suaranya agar Damian mendengarnya. Tapi saat menoleh ke area Barista, Leyka dan Damian bersiap pergi. Hati Valentino semakin kacau melihat Leyka berlalu begitu saja tanpa menoleh.
Memang siapa diriku? Dia kekasihnya.. Aku suami bodoh yang tidak sanggup mengatakan, hanya karena takut diceraikan.. Shitt..
"Diev! Buka matamu! Apa yang menutupi pikiranmu?" Kicau Jared setelah Leyka menghilang dari balik pintu.
"Apa maksudmu? Aku kalah. Aku tidak bisa mendapatkan hatinya, Huhh" jawabnya lesu.
"Hati apa! Kau bahkan telah memilikinya! Dia masih mencintaimu! Diev, buka matamu dan lihat Train-- Valentino menoleh dan melihat Train dari kejauhan, ia berjalan sesekali melompat dengan tangan mungilnya digandeng Simon --Diev, TRAIN PUTRAMU! Laki laki asing yang di maksud Leyka adalah DIRIMU! Apa kau sebuta ini, hingga kau tak menyadarinya?!" Valentino menegang mendengar perkataan Jared. Otaknya terstimulasi dengan lancar yang menyingkirkan perlahan mindset 'RAMUAN PENCEGAH KEHAMILAN SUKU XHOSA'.
"Tapi-- Itu.. Tidak.. Mungkin.. Itu--
"Diev! My Sweet Pretoria adalah Train! Karena dia BUAH CINTAMU DISANA!! FU*CCKK DIEV! KAU SANGAT BODOHH!! Sesuatu bisa saja terjadi karena kebodohan kalian! Seperti Pernikahan Massal!" kata Jared dengan geram.
Penelope dan Pedro, membulatkan matanya!
-
-
-
Alurku itu : Mengalir.... Mengalun.. Lalu.. Bermuara pada sebuah Tit... ehh Titik 🤭🤣 yang muter muter itu kalian sendiri pasti efek maljum.. goyaang bae sihh ! denda kopi deh 🤣🤣
Up di perkirakan Senin.
-
-
-
__ADS_1