FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Kau Milikku, Selamanya


__ADS_3

Setelah makan malam bersama di kamar, Mansion Kerajaan dan menghabiskan semua isi trolley makanan, Leyka menghempaskan tubuh Train diranjang dan menyerbunya, menciumi dan memeluknya. Train penuh tawa berguling guling mengindarinya. Tak sanggup melukiskan kebahagiaannya, Leyka sangat senang dan merasa aman bersama Valentino dan Train.


Valentino ikut menyergap keduanya, berebut mencium Train dan mencuri curi ciuman pada sang Mommy. Mereka bercerita pada Leyka bagaimana, Matthew menolongnya bersama Maria. Menyelinapkan Train di trolley makanan dan membuat Valentino berada di dalam daftar pelayan Kerajaan.


"Jadi lampu padam ini ulah kalian" tanya Leyka dengan memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan telapak tangannya dan siku tangannya menumpu pada bantal.


"Si-- Ahahaha.. Ini sangat keren! Aku seperti berada di dalam sebuah film Holywood Mommy. Aku menjadi detektif dan menumpas kejahatan!" ujar Train berapi api saat Leyka mengungkung tubuhnya dan sesekali menciumi rambut Train.


"Hahh.. Itu karena putraku.. Ehm.. Putra kita, tidak bisa menghubungimu. Dia tidak bisa aku kendalikan. Beruntung Matthew sedang bersama Maria di Kedai dan setelah Train pulang sekolah kami merencanakan ini semua" cerita Valentino sambil menyibakkan anak rambut Leyka dan menyelipkan di belakang telinganya. Posisi Valentino sama seperti Leyka, memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan telapak tangannya, hanya saja siku tangannya menumpu pada guling.


"Uhs! Aku takut! Train takut! Bagaimana bila orang jahat menyakiti Mommy"


"Carino, disetiap lorong ada petugas dan ada pengawal Rosemary yang menjaga Mommy" kata Leyka dengan mengusap dahi Train lalu menciumnya.


"Tidurlah Blue, besok pagi pagi kita harus kembali atau Mommy akan mendapat masalah" ujar Valentino bangun lalu memperbaiki letak bantal Train. Leyka dan Valentino mengapitnya.


"Si, Buenas noches (selamat malam) Mommy Daddy! Los amo chicos (aku cinta kalian)" ujar Train dan mencium kedua orangtuanya. Lalu ia mencari posisi yang nyaman, Train menguap dan mengucek matanya lalu menggosok hidungnya, menghadap kearah Valentino dan menelusupkan tangannya mencari rambut Daddynya.


Mereka membalas ucapan itu dan menciumi Train. Mata Valentino tidak bisa lepas dari pesona Leyka malam itu, ia pun basa basi bertanya, "Apa yang kau lakukan seharian ini?" tanya Valentino dengan pandangan menikam dan tangannya mengusap punggung Train yang mulai memejamkan matanya.


"Hanya melakukan sesi perawatan tubuh. Aku malas mengikuti apapun. Aku tidak tenang seharian ini. Aku tidak tahu mengapa signal lumpuh total begini" ujar Leyka sambil memainkan rambut Train.


"Iya wajahmu terlihat lelah" Valentino meletakkan dagunya di pelipis Train hingga nafas Train begitu hangat menerpa dadanya. Nafas yang teratur dan Train telah tertidur pulas.


"Aku sangat stress Val" keluh Leyka dengan menahan nafas, karena Valentino menggesekkan dagunya ke tangan Leyka yang menyangga kepala. Leyka merubah posisinya menjauh dari Valentino. Kegugupan, kecangguhan juga perasaan aneh hinggap, dan menjalari tubuhnya.


"Ley.. Bolehkah aku meminta, kau jangan memakai gaun itu? Itu-- Itu terlalu turun belahan dadanya Ley" Leyka tercenung dengan permintaan Valentino. Leyka akhirnya menyadari bahwa ia salah menduga, Leyka pikir Valentino telah berubah, tidak akan mengusik hal hal kecil yang dulu selalu memancing emosinya, Valentino tetap tidak menyukai gaun itu. Dalam hatinya Leyka tertawa.


Jadi dari kemarin kau menahannya? Hahaha.. Kau terlalu gengsi untuk mengakuinya.. Dasar Raja Setan.. Seberapa kuat kau menahannya, aku pun juga tidak menyukai gaun itu.. Huh..


"Jadi kau kesini hanya karena gaun itu?"


"Ekh.. Ehmm.. Itu.. Itu juga dan Train juga" jawab Valentino dengan gugup dan ia mencium Train untuk menghindari tatapan Leyka yang menghunus.


"Dan aku yakin kau membawa gaun pilihanmu" cibir Leyka dengan sangat yakin karena ia masih mengingat bagaimana sikap Valentino di Pretoria.


"Ahh Iya. Aku akan mengambilnya" Valentinopun bangun dan bangkit berdiri lalu menuju trolley makanan, kemudian sesampainya disana Valentino mengambil satu box packaging baju yang begitu mewah dari brand kenamaan Versace.



Leyka pun bangkit berdiri lalu menghampiri Valentino yang masih berdiri memegang kemasan box gaun yang di pilihnya untuk Leyka.


"Aku tidak memaksamu untuk memakainya, tapi-- itu yang akan kau pakai akan sangat mencolok dan mengundang perhatian. Bila kau memakai yang aku pilih ini, akan terlihat sederhana tapi elegan, siapa tahu kau tidak akan terpilih. Dan bila tetap terpilih, gaun ini sangat ringan untuk bergerak bebas untuk melarikan diri dari acara" Valentino menggaruk hidungnya yang tidak terasa gatal saat Leyka menerimanya dan membuka gaun itu.


"Warna putih? Ckk, seperti pengantin saja" gumamnya namun Valentino mendengarnya.


Itu memang gaun pengantin. Batin Valentino dalam hatinya.


Leyka mengernyitkan alisnya, ia terpesona dengan gaun itu, tapi ia malas untuk mengakuinya, ia kemudian menutupnya dan membawanya ke walk in closet lalu sambil berjalan ia berkata, "Aku akan meletakkannya, tapi aku akan memikirnya terlebih dahulu. Aku tidak tahu apakah aku akan memakainya atau tidak. Aku tidak janji akan memakainya"


Valentino menghela nafas dalam, lalu ia mengikuti Leyka ke arah walk in closet atau ruang ganti pakaian, yang bersebelahan dengan kamar mandi yang sangat mewah. Ada manekin gaun merah pilihan Rosemary disana.


__ADS_1


Leyka meletakkan gaun itu dimeja rias yang berada di ruang ganti, ia terkejut saat membalikkan tubuhnya telah ada Valentino di belakangnya dan Leyka menabraknya.


"Val"


"Jika kau memakai gaun merah ini, kau akan menyenangkan orang yang akan memilihmu! Dan artinya kau memberi harapan padanya Ley" ujar Valentino setengah berbisik dengan penekanan, ia tidak ingin membangunkan Train karena ia merasa kesal dengan jawaban Leyka.



Valentino mencengkeram lengan Leyka, lalu menatap tajam kearah Leyka. Dan lagi lagi, Leyka tersihir oleh sikap Valentino. Sikap yang membuatnya merasa di lindungi, di perhatikan, di kuasai dan di miliki. Sikap itu pernah berada dan menjadi bagian saat mereka bertemu di Pretoria. Leyka membuat emosi Valentino naik turun kala itu, dan Leyka selalu sengaja melakukannya, memancing dan mencuri perhatiannya. Karena menyatakan lewat sikap, adalah sesuatu yang pada umumnya di gilai oleh sebagian kaum hawa.


"Aku tidak janji" Leyka sengaja lagi mengatakan hal yang sebaliknya, ia menunggu reaksi Valentino apakah marah atau tidak. Namun Leyka tidak menduga sama sekali, tindakan Valentino justru di luar prediksinya. Valentino meluapkan kekesalannya dengan menyambar tengkuknya lalu melum*matt bibirnya. Leyka melihat sosok Valentino di Pretoria dulu, kini berada di Barcelona.


Leyka tidak mungkin menolak pesona itu, pertahanannya begitu lemah, gerakan tiba tiba itu mengalir dan melumpuhkan benteng Leyka yang telah ia bangun, Leyka dari awal tidak mempersiapkan dirinya menghadapi Valentino.


Valentino menghimpitnya, ia menyusupkan tangannya dan mengurai tali piyama dengan cepat. Leyka memundurkan langkahnya dan Valentino mengikuti pergerakan langkah kaki Leyka hingga mencapai kearah pintu kamar mandi dengan bibir yang menaut.


Leyka memberi dorongan kecil pada dada Valentino dan tubuh tegap serta kekar itu tak mampu bergeming, Valentino justru semakin menekan tubuh Leyka dengan mencengkaram rambut Leyka dengan kedua tangannya, agar ciuman panas itu tak mudah lepas.


Tangan Leykapun merayapi daun pintu lalu menarik ke bawah, tuas daun pintu hingga terbuka. Valentino justru mendorong Leyka masuk dan Valentino kembali menghimpitnya di wastafel. Lidah Valentino memainkan seluruh perannya, ia memenuhi rongga mulut Leyka, menghisap lidah lembut itu dengan kuat lalu mema*gut kedua bibir Leyka secara bersamaan.


Berulang kali Leyka nyaris kehilangan nafasnya, ciuman ala Pria Italy, Leyka tidak melupakannya. Hanya saja, delapan tahun berlalu dan menyisakan kenangannya saja dan tidak pernah sedikitpun, Leyka mencari atau mengulangnya pada siapapun.


"Hahh...Aahh.. Vall" nafas Leyka tersengal sengal, saat Valentino melepaskan jeratannya. Dengan ibu jarinya, Valentino menyeka sudut bibir Leyka dan mulas semua bibir yang memerah karena Valentino melahapnya . Valentino bisa merasakan nafas Leyka yang sangat hangat.


"Aku merindukanmu, Leyka" bisik Valentino masih memulas bibir Leyka dengan ibu jarinya, lalu merayapi mata sayu yang telah berair karena Valentino menghi*ssap lidah Leyka tanpa ampun. Valentino mengecup hidung Leyka yang menantang kearahnya, lalu menggesekkan dagunya ke pipi Leyka yang terkesima dengan mengatur nafasnya.


"Aku ingin mengukir kisah di Kerajaanmu, Nona Bangsawan" imbuh Valentino dengan mata terpejam, gesekan bulu kasar diwajahnya membuat tenggorokan Leyka tercekat.


"Aku.. Aku.. Tidak merindukanmu. Ini.. Tidak boleh Val. Aku milik.. Damian. Dan kau memiliki istri.. Kau memiliki keluarga" bisik Leyka membuat Valentino menghentikan ulahnya.


Tak perduli penilaian Leyka pada dirinya, namun Valentino justru menyusupkan tangannya ke pinggang Leyka, menekan kearahnya dan satu tangannya kembali menahan tengkuk Leyka. Valentino menccu*mbui leher Leyka, memulasnya dengan lidahnya dan kumpulan bulu - bulu kasar yang menghiasi sebagian wajahnya.


"Aahh.. Vaall.. Jangan.. Aahh"


"Kau milikku Ley.. Selamanya!" tak perduli Leyka menancapkan kukunya di punggung Valentino, tak perduli jemari Leyka mere*mass kuat rambutnya, justru semakin kuat Valentino menjelajahi leher jenjang itu dan menuruninya perlahan. Hingga Leyka tidak sanggup melawan tangan kokoh itu menelusup kian jauh, merayapi punggungnya.


Tanpa ampun Valentino perlahan luruh ke lantai, menumpu pada lututnya, ia melewati buah dada Leyka yang tersembunyi, Valentino menghargai sikap Leyka yang masih malu untuk menunjukkan bentuknya yang tidak lagi sama seperti dulu. Gigitan manis dan kemerahan disematkannya di perut Leyka, tangan Valentino dengan gesit menurunkan underwear hitam yang membalut area irisan buah peach yang menenggelamkan segala hasratnya.


"Aahh.. Vall.. Nooo.. Aahh.. Val.. Jaa..aa..aangan. Aahh" Valentino tak perduli, tangan Leyka terus mencengkeram rambutnya kuat kuat, Leyka berusaha sekuat tenaga menjauhkan wajah Valentino dari miliknya yang kian memanas, hanya hembusan nafas Valentino saja membuat Leyka tenggelam dalam gelenyyarr yang menyeretnya dalam gelombang gairah yang kian menerbangkannya di ketinggian.


Valentino menciumi paha Leyka lalu mengangkat paha mulus itu perlahan lahan dan meletakkannya di pundaknya. Ia menatap Leyka dari bawah dan berbisik "Pelankan suaramu, il mio amore.. Jangan membangunkan putra kita disaat seperti ini" Leyka membelalakan matanya, ia menahan nafasnya saat Valentino perlahan dengan lembut menggesekkan bulu bulu kasar di sekitar mulutnya.


"Vall.. Aaahh.. Vaa..aa..ll.. Ohh Noo.. Vaa..aall" Dan tak perduli lagi permohonan Leyka yang memohon, Valentino menangkap tangan Leyka yang menjambak rambutnya, lalu dengan satu nafas Valentino melu*mmat segalanya yang ada di hadapannya.


"Oohh Shiit.. Aaaahh Vaall!" Leyka memekik lirih, lalu menutup mulutnya sendiri, ia memejamkan matanya, menggigit bibirnya. Nafasnya tertahan dan dihembuskan kasar, dadanya terlihat naik turun, nafasnya tersengal saat lidah Valentino dengan cepat berputar putar bermain di lekuk demi lekuk miliknya yang begitu menggoda.


"Uhhmm.. Il mio amor.. Shh.. Aahh.. Aku merindukanmu Peach.. Perawatan Kerajaanmu benar benar menyenangkan.. Sshh.. Oohh.." Jika tidak ada Train, mungkin Leyka akan menjerit jerit seperti di Pretoria, karena Valentino melesakkann lidahhnya terperosok kedalam kehangatan yang mengalir lembut seiring pinggul Leyka yang menari seirama mulut Valentino yang menyesap dan menghissap perlahan.


"Vaaa..aa...aall.. Aa.. aaa.. aahh.. Oughh.. Mi amor.. Stopp aahhh!" Valentino menghentikan gerakan lidahnya, ia menikmati dan menunggu getaran hebat yang berdenyut manis serta menghimpit lidahnya. Leyka merem*mass kuat rambut Valentino dan menahan kuat agar Valentino menghentikan gerakannya karena Leyka melepaskan hassratnya dipuncak ketinggian gairrahh yang membumbung tinggi.


Dengan kepuasan Valentino melepaskan cengkeramannya. Ia bangkit berdiri dan memeluk Leyka, ia menekan kepala Leyka ke dalam dadanya, "Lo siento, aku hanya ingin membuatmu tidak stres" Leyka terdiam dan mengatur nafasnya. Dengan kelembutan Valentino membelai rambut Leyka lalu menciumi puncak kepalanya.


Rasanya tak adil bila Leyka hanya berdiam diri saja, dan rasanya ada yang kurang bila permainan panas itu hanya di nikmati satu pihak saja, tangan Leyka akhirnya menyusup kedalam celana bahan yang dikenakan Valentino. Leyka membuka pengaitnya dan menurunkan resletingnya.

__ADS_1


"Ekhh.. Ehm.. Ley?" dan Leyka hanya terdiam, ia mencengkeram milik Valentino yang telah mengeras dan mengeluarkannya. Leyka meletakkan bokongnya di bibir wastafel lalu membentangkan kedua pahanya, lalu Leyka mengarahkan milik Valentino ke dalam miliknya. Naluri Valentino mengerti, saat jagung bakar Afrika Selatannya, mencapai irisan buah Peach, Valentino mendorong pinggulnya perlahan.


"Ooouughh.. Ley.. Sshh.. Ooohh Shitt!! Aah Ley!"


"Aaaa..aahh Val!"


Mereka memekik lirih secara bersamaan dan bersahutan saat milik Valentino menukik dan melesak seutuhnya, tenggelam dalam jeratan milik Leyka yang menjepitnya kuat kuat, serasa mengunci gerakan Valentino.


"Aku tidak boleh melihatnya?" tanya Valentino nyaris berbisiik, saat tangannya mengge*rayangi buah dada Leyka sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur secara perlahan namun penuh penekanan.


"Aahh.. Val.. No.. Ughh.. Vaal" Valentino hanya tersenyum, Leyka belum mengizinkannya. Dengan bertumpu pada tangannya di bibir wastafel, tubuh Leyka meliuk meliuk. Valentino mendorong tubuh Leyka menjauh dan mencengkeram pundaknya. Satu tangannya mencengkeram paha Leyka yang menaut di pinggangnya, Valentino dengan cepat memacu gerakan pinggulnya, memacu milik Leyka dengan segala kekuatannya.


Ia memandangi wajah Leyka yang sangat mempesona, mulutnya yang terbuka sesekali ia menggigitnya, matanya yang terpejam dan sesekali terbuka, juga wajahnya yang sesekali menengadah keatas, dengan dagu yang menantang menggelitik hasratnya untuk mencumbbunya.


Sementara Leyka semakin memanas, keringat mengucur menuruni lehernya, melihat Valentino juga berkeringat membuat Leyka memperat tautan kakinya di pinggang Valentino.


Dorongan Valentino yang menekan miliknya kian dalam semakin itu membuat Leyka kembali terpacu hingga ia menjatuhkan pernak pernik yang ada di wastafel.


"Aaa..aa..aahh.. Mi amor" memanggil, hasrat Leyka memanggil Valentino untuk terbang di puncak kerinduan bersamanya, bola mata Leyka yang membuat dan derak bulu matanya yang basah, adalah ajakan saat menatap mata Valentino.


"Ohh Ley.. Vamos carino (ayo sayang)" bisik Valentino dengan memacu cepat hingga pinggul Leyka terangkat, Valentino mencodongkan tubuhnya, lalu membenamkan mulutnya diceruk leher Leyka.


"Aaaa..arrgh Il mio amor (cintaku).. Sshh.. Ley.. Aaaahh Ley.. Mi Carinho (sayangku)"


Keringat berpadu, des*sahaan saling bersahutan memanggil nama mereka, mencapai puncak hasrat bersama sama. Valentino semakin mengerat pelukannya, menggesekkan hidungnya diceruh leher Leyka. Sementara Leyka terkulai dengan nafas yang memburu.


"Mommy.. Daddy! Kalian dimana. Ufh.. Ish.." suara mungil selalu saja terdengar disaat yang tidak tepat. Mereka selalu kehilangan after se*xx yang selalu mewarnai hari hari mereka di Pretoria.


"Sebentar Blue, Daddy sedang mencabut duri. Mommy terkena duri!" Leyka memukul lengan Valentino yang tersenyum ketika menyelesaikan perkataannya dan Valentino benar benar melepaskan miliknya.


"Rasanya memang perih! Minggir!" Leyka turun dari wastafel, meraih underwear yang tergeletak di lantai dan menuju closet untuk membersihkan miliknya. Valentino buru buru keluar dari ruang ganti dan menghampiri putranya yang menguap dan telah duduk di ranjang. Valentino kemudian merebahkan tubuhnya dan Train mengikutinya. Leyka keluar dari ruang ganti lalu menuju ke arah ranjang.


"Apa sakit Mommy? Kenapa bisa kena duri?" tanya Train dengan mata terpejam.


"Sangat perih-- Leyka menatap mata Valentino yang tersenyum kearahnya --Mommy meletakkan kardus Versace dari Daddy di almari kayu" jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Tadi ada suara tikus Mommy" mata Train masih terpejam.


Ya tikus itu adalah Daddymu. Leyka.


Itu Mommy yang menggemaskan. Valentino.


Mereka saling tersenyum dan melempar pandangannya, menguncinya diantara rambut Train yang mereka ciumi. Valentino menyematkan ciuman di kening Leyka. Dan mengucapkan, "Buenas noches Cariño, que tengas un lindo sueño (selamat malam sayang, semoga mimpi indah)"


Leyka menjawabnya dengan kata yang sama, dengan tersenyum simpul Leyka mengubah posisinya membelakangi mereka, Leyka memeluk guling dan menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Tidurlah.. Mommy.. Tidurlahh.. Kasian Mommy.. Terkena duri... Kasian.. Mommy Mommy" Train mengusap usap punggung Leyka dengan lemah, di ambang tidurnya. Leyka menoleh dan menahan tawanya lalu ia kembali memeluk guling kemudian ia memejamkan matanya.


"Si Mommy kasian terkena duri" bisik Valentino sambil menciumi Train, ia pun menahan tawanya, Valentinopun memeluk Train hingga tangannya mencapai punggung Leyka dan mengusapnya. Valentino bersenandung kemudian.


-


-

__ADS_1


-


Semangat ngopiin akuh di novel manapun 🤣🤣


__ADS_2