
Kebekuan terjadi diantara mereka setelah makan siang itu, Valentino menghabiskan waktunya menangani Jared dengan segudang pekerjaan, dan terpaksa Valentino mengeluarkan laptopnya. Persiapan pembangunan Hotel di samping lahan Ludwig's Roses adalah kesibukannya saat ini.
Sebenarnya Jared telah mengirim beberapa orang yang ditunjuknya untuk terbang ke Afrika Selatan dan tujuan mereka adalah Capetown. Perusahaan Italy yang berbasis di Afrika selatan, menjalin kerjasama dengan perusahaan raksasa, dibidang Konstruksi terbesar di Eropa, Cosmir Industrial Construction dimana Valentino bekerja disana, dan baru baru ini naik jabatan sebagai pemegang kendali di divisi Konstruksi. Karir yang meroket dan cemerlang, tidak mungkin dengan mudah Valentino tinggalkan begitu saja.
Seorang Arsitek sekaligus Kontraktor yang ahli dalam menangani gedung gedung ternama di benua Eropa, Valentino Gallardiev lah perancangnya. Kini ia mendapatkan Jackpotnya di Afrika Selatan selama ia liburannya solo honeymoon, karena di tinggal sang kekasih. Di khianati, di tipu, di manfaatkan adalah luka tersendiri bagi seorang Valentino.
Bertemu Leyka si wanita asing, si wanita Spanyol lewat sebuah tabrakan tak sengaja yang kemudian menghamburkan seluruh isi tas Leyka membuat hari hari Valentino bagai rollercoaster. Hidupnya penuh warna, dari sebuah ketertarikan terselip cemburu dan menjadi rasa ingin memiliki. Sesungguhnya seperti apakah Cinta itu? Harus ada sesuatu yang lebih besar menurut Leyka. Dan Cinta hanyalah sebuah kenyamanan semata menurut seorang Valentino.
Sementara Leyka dengan sikap masabodo, cuek, seperti hidup sendiri dan menganggap Valentino tidak ada. Dia memilih Packing. Ia menurunkan gaun dan beberapa pakaian pemberian Valentino di ranjang. Ia melipatnya dan memadatkannya ke dalam koper besarnya, menata ulang agar pemberian Valentino itu masuk semua ke dalamnya.
Disela ia melipat, Leyka memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya, bunga jacaranda dari Pretoria melambangkan cinta sejati. Cinta yang sarat kutuk kadang kadang. Leyka mengingat prosesi mendapatkan cincin itu di sebuah acara Valentine yang merayakan Dewa Kesuburan dan sejatinya itu adalah pernikahan massal.
Valentino dan Leyka memilih cincin itu juga sebuah koin emas berukuran besar. Seukuran tutup selai nutella yang mendunia, pikir Leyka. Namun kemana sebuah koin itu? Kenapa tidak di berikan kepada salah satu diantara mereka. Jelas jelas Valentino membayar untuk satu koin emas berukuran paling besar itu.
Saat itu Valentino memilih koin emas seberat 100 gram, koin satu satunya yang berukuran besar. Para pengantin jarang ada yang memilih koin itu. Rata rata pengantin pria memilih koin kecil, karena bila menelisik kembali pernikahan adat di Afrika Selatan, sejatinya koin itu adalah Mahar untuk pengantin wanita. Valentino tidak mau sama dengan pasangan yang lain, karena itulah Valentino memilih yang paling besar dan satu satunya. Namun kemana mereka mengirimnya? Ataukah mereka menahannya?
Dan sejatinya, Valentino telah memberi Mahar yang bernilai fantastis. Ia merogoh koceknya hingga bernilai ratusan juta dan sesungguhnya itu nilai sepasang cincin perkawinan, koin emas dan pengurusan surat surat yang mereka juga tidak menerimanya. Semua pernak pernik, serba serbi acara itu disajikan gratis oleh penyelenggara, hanya tiket masuk yang tidak seberapa. Lalu Kemanakah semua itu berada? Karena secara teknis mereka tidak mengetahuinya bahwa mereka telah menikah.
Ruangan itu senyap, hanya jemari Valentino yang menari di keyboard laptopnya dan sesekali ia melakukan sambungan telepon jarak jauh dengan Jared. Sementara Leyka masih melipat pakaiannya, sesekali hanya terdengar Leyka menyobek plastik laundry sambil mengirim pesan kepada sahabatnya, Manuella Nachita. Sahabat karibnya dari sekolah menengah hingga di Universitas.
Nuella, apa kita bisa berakting seperti kelas drama waktu itu..
Apa maksudmu?
Yang biasa kita lakukan bila kita mengerjai pria breng*sek, aku ingin melepas laki laki yang bersamaku..
Apa dia menyakitimu! Apa dia melukaimu! Apa CHAT FAKE kita diatas belum cukup!
Ceritanya panjang.. Dia belum membacanya.. Dia sangat melukaiku.. Ehm, perasaanku..
Baiklah, berikan password wifi di ruang senat. Karena aku ada di kampus, aku mengambil semua dokumen kelulusanmu sekalian.
Gracias. Ini passwordnya : 123456789, Aku tunggu ya..
Senyum Leyka kepada ponselnya, mengalihkan perhatian Valentino saat ia mencuri pandang. Leykapun menghapus, chat barusan dan meninggalkan CHAT FAKEnya yang telah dibuat sebelumnya bersama Nuella. Yang pasti Leyka harus membuat Valentino membacanya.
Perang dingin di udara dingin, menambah kesan mencekam di ruangan itu. Hingga ponsel Leyka berdering memecahkan kesunyian. Valentino menajamkan pendengarannya dengan penasaran. Ia menghentikan jemarinya yang menari di atas keyboard laptopnya.
"Haii" satu kata dari Leyka tanpa menyebutkan peneleponnya, membuat Valentino berjalan kearah Leyka, alih alih mengambil gelas kosong di nakas dan menuang minumnya.
"Aku sedang packing, apa dokumenku sudah kau ambil? Kalau sudah aku titipkan padamu dulu" Valentino semakin penasaran, ia sampai meminum dua gelas air mineral dan berdiri tegak menjulang tinggi disamping Leyka.
"Ley, maaf-- Valentino menyela obrol itu dan Leyka menoleh kearah Valentino --bila ada bajuku, letakkan saja di sofa itu" Valentinopun menuju ke meja sofa dan duduk dengan menikmati buah buahan, jaraknya masih dekat dimana Leyka berada dan semakin penasaran dengan percakapan itu.
"Baiklah" jawab Leyka datar dan ia buru buru melanjutkan percakapannya dengan Manuella, sahabatnya itu. Namun Leyka tidak kunjung menyebutkan namanya, karena itulah Valentino menyela dan secara tidak langsung memberikan peringatan bahwa ada keberadaannya di dekat Leyka. Sebuah ke AKU-an yang menuntut pengakuan.
"Sorry, itu tadi temanku disini--Valentino menoleh kearah Leyka dan saat itu juga Leyka melirik kearah Valentino. Pandangan mereka beradu. Valentino mengerutkan alisnya dan Leyka buru buru membuang muka melanjutkan melipat bajunya --Jadi kau di luar senat? Tolong agak menjauh, jangan sampai kau ketauan mencuri wi-fi untuk meneleponku" Leyka terkekeh dengan senang saat sahabatnya juga tertawa penuh sandiwara.
"Kabar apa?" Leyka pura pura terkejut.
"Benarkah?? Apa kau becanda Nuella?-- Valentino terlihat lega dan bangkit berdiri ketika tau siapa peneleponnya, ia pun berjalan kearah perapian ingin menghampiri laptopnya namun langkah kakinya terhenti mendengar Leyka melanjutkan perkataannya --Jadi Emma dan Diego putus?? Ini tidak mungkin.. Tidak bisa di percaya!!" Leyka menyingkirkan bajunya dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang, berguling kesana kemari dengan terbahak. Valentino kembali duduk dan menyantap buah dengan kesal.
"Apa informasimu valid? Benarkahh?? Diego menampar Emma Gusmo? Wahhh ini berita yang menyenangkan Nuella! Apa kau tau aku sangat bahagia diatas penderitaan mereka!" Leyka kembali berguling dengan tawanya dan memeluk bantal, Valentino menyaksikannya lagi - lagi dengan kesal.
"Aku? Hahaha.. Dengan menjentikkan jariku, Diego bisa saja menyusulku ke Barcelona" Valentino tersedak mendengar perkataan Leyka. Kemudian ia pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah nakas di samping ranjang lalu menuang air minum dan meminumnya. Melihat tubuh Leyka yang tengkurap dengan gerakan kaki naik turun membuat Valentino semakin dirundung amarah.
"Aku akan menghubunginya nanti. Pantas saja beberapa hari ini Emma Gusmo memakai foto warna hitam di kontaknya, rasanya aku ingin menambahkan pita hitam, Nuella" Merekapun terbahak dan itu membuat nyeri hati Valentino tanpa alasan.
"Nuella, aku mohon bantuanmu. Katakan pada Diego, agar menghubungiku. Aku tidak mau mengirim pesan terlebih dahulu, aku memberikan waktu padanya untuk berduka" Leyka kembali terbahak, dan Valentinopun tanpa di duga menindih Leyka yang tengah asik berbincang di telepon dengan Manuella dengan posisi tengkurap itu.
"Sepertinya kau sangat bahagia si Diegomu itu putus. Apa itu artinya kau ada kesempatan?" bisik Valentino di telinga Leyka dan otomatis Manuella mendengarnya.
"Ehh-- Ehmm.. Nuella, nanti aku akan menghubungimu" Leykapun mengakiri panggilan itu dan Leyka membiarkan ponselnya terbuka. Saat ingin membalikkan tubuhnya Valentino mengambil ponsel Leyka dan membaca CHAT FAKE itu. Chat yang hanya sengaja di buat agar Valentino menjauh darinya, selain akan punya anak Valentino sudah sangat cukup menyinggungnya.
"Val! Apa yang kau lakukan!" Leyka meronta dan Valentino menahan kuat tangan Leyka dari belakang. Mata Valentino membulat perlahan.
__ADS_1
Jadi kau bertemu pria asing yang sangat kaya, Ley?
Hmm, sangat kaya. Aku tidak mengeluarkan uang sepeserpun selama bersamanya.
Apa kau menyukainya? Awas kau jatuh cinta padanya
Tentu saja tidak, dia bukan siapa siapa. Kita hanya orang asing. Anggap saja aku menguras uangnya dan aku membayarnya dengan tubuhku. Impas kan? Toh dia sudah mendapatkan virginku, walaupun apa yang ia keluarkan belum sebanding. Tapi sudahlah, pria seperti dia hanya uang dan nafsu yang ada di kepalanya.
Tapi bagaimana bila kau hamil?
Itu tidak akan terjadi, aku telah meminum ramuan ampuh dan bila hamil, sudah pasti aku akan mengaborsinya. Lebih baik aku hamil anak Diego si tampan itu hahahaha...
Ya ya ya.. Susah sekali membuangnya dari pikiranmu. Ya sudah aku menunggumu pulang. Jangan lupa oleh olehnya. Aku akan ke Barcelona setelah kau tiba disana.
Leyka menangkupkan kedua telapak tangannya di telinganya dan membenamkan wajahnya di bantal yang setengah mengganjal dadanya. Valentino membuang ponsel Leyka diranjang. Saling menancapkan belati, Valentino menatap tubuh tengkurap yang di tindihnya itu lekat lekat.
Valentino menahan gemuruh di dadanya, nafas amarahnya yang memburu terdengar kasar.
Apa sakit, Val.. Sangat sakit bukan? Kau memberi harapan lalu merendahkan bahkan menghina dan menyinggung perasaanku.. Apakah ini setimpal?
"Leykaaaa!!" pekiknya setelah tak sanggup lagi menahan. Valentinopun membalikkan tubuh Leyka dan ia pun kembali menindih gadis Spanyol itu lalu mencondongkan tubuhnya kedepan dan menekan kedua tangan Leyka yang terangkat keatas.
"Val"
"Kau licik! Kau penipu!! Kau sama saja! Kau sama saja seperti Rebecca!" kedua jemari Valentino yang menaut di sela sela jemari Leyka di genggamnya kuat dan di tekan hingga tenggelam ke dalam selimut yang mengalasi ranjang itu, namun Leyka terus meronta.
"Bukankah semua orang cinta uang? Hanya saja aku tidak tau password bank mu di Swiss!" Leykapun berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. Tubuhnya kakinya memberi perlawanan yang sia sia, pria Italy itu sangar kuat mencengkeram Leyka, bahkan kaki Valentino menghimpit gerakan paha Leyka.
"Tanggalnya aku ganti tahun dimana kita merayakan dewa kesuburan! Ambil sebanyak yang kau mau!!" pekik Valentino dengan amarahnya.
"Aku tidak tertarik! Lepaskan aku, Val!"
"Kau masih menyukai Diego! Kau mau hamil anak darinya di banding anakku?! Tak kusangka Leyka, kau begitu kejam padaku!!" saat kepala Leyka terangkat, Valentino menekan dahi Leyka hingga kembali mendarat ke bantal, dan Valentino mengatakan segalanya dengan sangat keras.
"Leyka, apa kau cemburu?" mendadak Valentino melembut dengan suara parau. Nafasnya masih memburu dengan amarah yang meluap luap.
"Apa aku berhak?" Leyka berbalik bertanya dengan memiringkan kepalanya, tak kalah tajam menatap mata Valentino. Buliran bening jatuh disudut matanya, menuruni pelipisnya.
"Iya. Kau berhak" jawab Valentino mengendurkan cengkeraman tangannya.
"Apa Diego membuatmu cemburu Val?" Valentino terdiam sesaat. Mengakui atau tidak pertanyaan Leyka tapi ia harus mengatakan rasa cemburunya. Padahal tidak ada komitmen apapun diantara mereka. Bukankah ini konyol, pikir Valentino.
"Apa aku berhak Ley?" Leyka melengkungkan satu sudut bibirnya dengan mendengus ketika Valentino justru balas bertanya. Membalas pertanyaan dengan pertanyaan seolah mempermainkan perasaan Leyka.
Ketika seorang lelaki tidak mengakuinya, bagaimana seorang wanita bisa mengakuinya? Bukankah itu hanyalah bagian olok olok bagi kaum lelaki pada akhirnya? Leyka pun mencondongkan wajahnya terangkat kearah Valentino dengan alis nyaris menaut sengit.
"TIDAK! Kau tidak berhak karena kau bukan siapa siapa, Val! KITA HANYA ORANG ASING!" suara lantang itu seakan menyambar amarah Valentino. Hak adalah kepemilikan dan itu tidak sejalan, itu seakan bertepuk sebelah tangan. Merekapun saling menyiksa, saling menyakiti, hanya karena sebuah pengakuan yang tidak terucap yang membuat mereka ragu.
"Shiitt!! LEYKAAAA!!" belum sempat mendaratkan kepalanya di bantal, Valentino menyambar kepala Leyka dengan kedua tangan kekarnya. Jemarinya terbenam di rambut Leyka dan mere*mas rambut Leyka lalu menekannya kearah wajahnya.
"Vall!!" Valentinopun memiringkan wajahnya dan memandang beringas wajah Leyka dengan amarah.
"Vall!! Lepaskan aku! Aaaaww!!" Valentinopun melu*mat dan menghisap bibir Leyka dan menggigitnya kemudian.
"Vall!"
"Vaall!!" Tidak perduli Leyka memanggilnya di sela luma*tan ganasnya. Valentino tidak berhenti. Meluapkan kekesalanya pada tubuh Leyka adalah pelarian kemarahannya dianggap lebih baik daripada memukul.
"Aaaargghh Vall!! Lepas!!"
"Vall"
"Kau membayar dengan tubuhmu kan, setelah ini aku akan memberimu cek, aku membooking mu sampai kau pergi dari Petroria?"
"Val!-- PLAAAKK!!" tamparan itu membuat mata Valentino terpejam hingga ia memalingkan wajahnya ke arah samping.
__ADS_1
"Val-- Leyka terengah engah, saat mata Valentino menatap kembali kearahnya dengan mata semakin memerah.
"Ma..aaf" dan semakin tidak bisa di mengerti, Leyka justru minta maaf, bukankah seharusnya Valentino?
"Va..aa..aal" bisik Leyka gemetar saat Valentino merebahkan seluruh tubuhnya menyatu erat dan tak ada jarak. Valentino melu*mat Leyka kembali dengan kasar, dengan nafasnya yang kian liar memburunya.
"Ahhh Val" Mata Leyka terus terpejam, Valentino menggigit seluruh bagian wajah bahkan menyematkan beberapa tanda kemerahan di dagunya dan yang paling parah di pipinya.
Lehernya semakin dipenuhi tanda kemerahan, Valentino terus menggigit setiap lekuk tubuh Leyka dengan sadis. Sakit hatinya melebihi rasa sakit yang di torehkan oleh Rebecca padahal baru beberapa hari Valentino saling mengenal. Amarahnya semakin meluap, saat melucuti bathrope Leyka dan mencabik underwear Leyka hingga robek.
Valentinopun dengan cepat membuat dirinya telanjang bulat dan membentangkan paha Leyka yang telah menangis. Lebih tepatnya menangis tanpa bersuara.
"Val.. Jangan seperti ini" desis Leyka lirih. Dan Valentino tidak perduli, ia menghujamkan senjata miliknya dengan kasar.
"Aaarrghh!! Shit!" Valentino menyeringai dengan mendengus, saat miliknya melesak kedalam dan tanpa ampun Valentino memacunya dengan kasar, tak perduli Leyka menikmatinya atau tidak Valentino terus mendaki hingga ketinggian.
"Berapa hargamu? Katakan! Aaarghh! Kau milikku selama kau disini!" Leyka terdiam dengan mata terpejam, ia hanya bisa menggigit bibirnya. Sudut matanya masih basah, ia menahan perut Valentino yang terus mendorong miliknya, hingga Leyka merasakan perih yang luar biasa.
"Buka matamu Leyka Paquito! Aargh!! Sshh Aargh! Berapa! 1 juta dollar? 2 juta dollar? Katakan!! Aarghh!!-- Kenapa peachmu enak sekali Leyka.. Sssshh... Oouuughh.. Shit! Katakan!" Valentino memacu milkk Leyka tanpa jeda tanpa kelembutan, bahkan ia mencekik leher Leyka.
"Du..a juta do..llar" Leykapun mencakar dada Valentino dan pria beringas itu melepaskan cekikannya hingga nafas Leyka tersengal.
*30 Milyar kurs 15.000 IDR.
"Bagus! Jadi itu nilaimu?" bisik Valentino terus memacu dengan liar.
"Tak terhingga...Nilaiku tak terhingga.. Val.. Sakit"
rintih Leyka dengan meringis.
"Aaarrgh Leyka! Aku tidak perduli! Kau menyakiti hatiku! Kau menipuku!" Leyka hanya pasrah saat Valentino mengerahkan semua tenaganya, tangannya telah letih mencakar, memukul, menjambak rambut Valentino.
"Apa kau seperti ini saat Rebecca mengkhianatimu?"
"Iyaaa Pasti! Aku seperti ini!" Valentino menjawabnya dengan lantang.
"Jadi aku bukan yang pertama bagimu kan?"
"Bukan!! Aku membohongimu! Aku menipumu Leyka!! Bahkan aku telah bercinta dengan siapapun!! Dan kau menyedihkan! Aku menang Leyka, aku mendapatkan yang pertama darimu seharga 2 juta dollar bahkan lebih!!"
"Kau brengsek Val!!"
Kau membuatku menjadi brengsek Leyka.. Aku harus memberimu pelajaran karena kau menipuku.. Giliranku aku menipumu!
Dan sayangnya Valentino Gallardiev, aku memegang ucapanmu yang pertama.. Aku yang pertama bagimu.. Itu yang sadar kau lakukan.. Tapi yang tidak sadar kau lakukan.. Bersama Rebecca dan karena itulah aku tidak ingin menjadi pembunuh kehidupan baru.. Anakmu Val.. Anakmu.. Aku tidak sekejam itu.. Kau akan bahagia.. Percayalah padaku...
"Kau mendapatkan jackpotmu 2 juta dollar!"
"Fu*ck you, Val!! Hentikann!"
"Aaaarrghh Leykaa!! Aaargh!!" Valentinopun meledakkan benihnya lalu ambruk di tubuh Leyka dan memeluknya sangat erat. Tak disangka, Valentino menitikkan airmatanya seiring buliran keringatnya memenuhi wajahnya.
"Kau tau, laki laki sejati itu bisa memuaskan wanitanya. Bila tidak, dia sama saja seperti pecundang!" ejek Leyka dalam pelukan Valentino.
"Leyka, apa 2 juta dollarmu tidak cukup memuaskanmu?"
"Bisa, Diego mampu memuaskanku. Tenang saja, Pecun*dang!"
"Shiiitt!" Dan Valentinopun kembali tersulut dikuasai amarah.
...-...
...-...
...-...
__ADS_1