FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Sanggupkah Aku Menyentuh Luka ?


__ADS_3

Sekolah Esperanza


"Kalian semua akan libur Thanksgiving sampai tahun baru, tapi jangan senang dulu! Sekolah kita akan mengadakan pentas seni! Setiap kelas akan menunjukan bakatnya dan kalian semua harus tampil!" kata Margareth memberi pengumuman di kelas Train, setelah ia berkeliling memberi pengumuman ke kelas demi kelas. Margareth menjadi ketua dalam penyelenggaraan pentas seni setiap tahunnya. Acara tahunan di semua sekolah di belahan Eropa.


Semua murid riuh bersorak sangat senang mendengarnya. Pentas yang disaksikan semua orangtua, dewan guru adalah hal yang membanggakan. Anak anak menunggu saat itu tiba. Tapi tidak bagi Train.


"Yeeeeeaayyyyyyy!"


"Hooreeeeyyyy!" Semua riuh bersorak riang gembira.


"Uhss! No me gusta ( No me gusta )!" gumam Train mendengus dengan bersedekap, meletakan tangannya di atas meja.


"Kita akan bergabung di kelas seni. Akan ada pertunjukan drama musikal, kemungkinan akan diadakan di Ballroom Kerajaan. Kalian semua akan bernyanyi. Miss Margareth akan menunjuk salah satu diantara kalian sebagai penyanyi solo, kalian bisa menebak siapa?" semua kembali riuh seketika saat Margareth menyebut Ballroom Kerajaan, biasanya pentas seni sekolah di selenggarakan di sekolah atau di Balai Kota, tapi kali ini akan di selenggarakan di Ballroomnya Mansion Kerajaan.


Dan semua menoleh kearah Train sambil menunjuk kemudian semua kompak menyebutkan namanya.


"Traainnnn!"


"Bluuue Trainnn!!"


"Trainnnn!"


"Ya benar! Blue Train akan bernyanyi dan kalian akan tergabung di tim paduan suara bersama elemantary tingkat dua" imbuh Margareth membuat Train cemberut dengan menyatukan alisnya. Ia malas tampil di depan umum, sifat itu menurun dari Leyka.


"Uhss! Selalu aku! Apa tidak bisa yang lain saja? Tahun lalu aku menjadi pohon dan bernyanyi, Miss Margaret!" protes Train dengan bermalas malasan.


"Apakah aku akan menjadi kurcaci lagi,.Miss Margaret?" tanya anak perempuan yang duduk di depan Train.


"Tentu tidak Loonie, mungkin kau akan menjadi kupu kupu" kata Margareth dan membuat semua anak perempuan berbisik bisik dengan senang.


"Train, bukankah seharusnya kau senang. Kau pandai bernyanyi. Apa kau tidak ingin membuat Daddymu bangga dan pentas musikal kali ini akan di hadiri oleh kedua orangtuamu seperti anak yang lain" Train mengetuk ngetuk jemarinya di atas meja, merenungkan perkataan Margareth mungkin saja ada benarnya, pikir Train.


"Hmm-- Aku menjadi apa, Miss Margareth?" wajahnya yang cemberut kembali datar. Sejak tahun pertama Train duduk di tingkat Playgroup, ia ikut pentas dan ia justru sedih karena hanya Leyka yang selalu menemaninya. Train ingin seperti anak anak yang lain, saat pentas di temani oleh kedua orangtuanya di acara pentas seni tahunan.


"Di list Miss Margaret kau akan menjadi-- Miss Margareth membuka lembar demi lembar di kertasnya dan melihat tabel yang berisikan nama dan peran yang akan di mainkan anak anak --Ehmm, Matahari!" kata Margareth membuat Train kembali bersungut.


"Miss Margareth-- Apa tidak bisa aku menjadi Pangeran Bangsawan yang berkuda putih dan menjemput Tuan Putrinya?" Margareth tertawa mendengar sikap protes Train.


"Kau perlu lebih tinggi lagi. Mungkin di tingkat Senior kau bisa memerankan Pangerannya Cinderella" ujar Margareth membuat Train semakin tidak bersemangat.


"Baiklah. Kalian akan berlatih dalam seminggu ini, setelah pulang sekolah. Lalu dihari libur kalian akan tetap berlatih setelah makan siang. Baiklah kalian bisa beristirahat" kata Margareth kemudian meninggalkan kelas Train setelah mendengar bel istirahat berdering.


"Uhss! Paolo, itu sama saja tidak libur!" gerutu Train pada temannya yang duduk disampingnya.


"Kau benar. Itu sama saja tidak libur-- Train, kapan kau akan mengajaku naik buldozer! Kau pernah berjanji untuk mengajakku naik buldozer jika Daddymu datang. Ternyata Daddymu si Perancang itu" Train mengerutkan alisnya dan dengan cepat ia mengingat janjinya.


"Aku akan mengatakan pada Daddyku nanti!" kata Train.


"Apa kau pernah melihat rancangan Daddymu? Pasti keren gambarnya, rumit seperti puzzle" ujar Paolo menggelitik rasa keingintahuannya. Selama ini Train tidak pernah melihat Daddynya bekerja di Apartemen. Ia banyak menghabiskan waktunya bersama Daddynya dengan bermain dan belajar. Train ingin tahu dan berniat masuk ke ruang kerja Daddy-nya.


"Aku belum pernah melihatnya, Paolo. Tapi aku akan melihat ke ruangan kerja Daddyku" ujar Train sambil membereskan bukunya.


"Siapa tau kau menemukan harta karun" Paolo memprovokasinya.


"Kau benar aku akan mencari harta karun di ruang kerja Daddyku-- Vamos, (ayo) kita ke perpustakaan ada buku baru datang disana" Train bangkit berdiri sambil membawa bukunya lalu ia memasukan bukunya ke dalam loker seperti anak anak yang lain. Kemudian ia mengambil kotak bekalnya dan meninggalkan kelasnya bersama Paolo menuju perpustakaan yang baru dibangun oleh Valentino dari material shipping countainer.


-


-


-


Lantai 10


Leyka menggeliat saat Valentino mengunci lehernya dengan barisan bulu bulu kasar yang menyerangnya seiring mulut Valentino yang bergerak meragutnya seakan ia adalah sajian makan siangnya.


"Ngghh.. Val.. Aaaah!" Leyka tak kuasa lagi menghadapi keberingasan Valentino selain hanya menikmati sentuhan Valentino yang selalu bisa melambungkan hasratnya.


Valentino menyingkap penutup dada yang melekat ditubuh mulus itu yang menyembunyikan dua gundukan kenyal dan kian hari kian padat berisi, Valentino menyingkap keduanya tanpa melepas pengaitnya. Jemarinya lincah merayapi buah dada yang bergelayut dihadapannya, ia mengusap dan menatap kagum betapa lembutnya kulit Leyka.


"Val.. Nghhh.." de*sah Leyka dengan tubuhnya yang meliuk liuk hingga mengundang reaksi Valentino yang segera melucuti celananya. Leyka yang telentang kemudian bangun dan duduk, melepas blousenya yang basah karena air.


Saat ingin melepas pengait di belakang penutup dadanya Valentino menahannya, "Biarkan saja seperti ini.. Aku menyukai warna hitam yang sangat kontras dengan kulitmu, Ley" bisik Valentino sambil meraih pinggang Leyka dan menarik tengkuknya.


Bisikan Valentino membuat Leyka tersengat, hingga wajahnya memerah. Leyka menatap mata biru ke abu abuan yang berpijar terang di siang hari. Leyka membentangkan kakinya dan duduk dipangkuan Valentino yang masih mencengkeram tengkuknya.


"Mengapa siang ini kau sangat tampan dan aku begitu menggilaimu" bisik Leyka sambil membelai wajah Valentino yang mengulas senyuman menawan. Sesekali Valentino memejamkan matanya saat jemari tangan Leyka menyentuh alisnya, Leyka mencium lembut kelopak mata Valentino yang menyembunyikan mata biru yang selalu membuatnya meruntuh dan tanpa Leyka sadari ia jatuh cinta sejak pertama kali bertemu di kereta api The Blue Train.


Wajah Pria Italy yang bergaris tegas, menawan dan sulit dilupakan. Hidungnya yang begitu menonjol, warna bibirnya yang natural dengan garis wajah yang memancarkan keperkasaanya. Bulu bulu kasar yang menjadi ciri khas Pria Italy begitu terawat rapi dan sangat mempesona. Leyka sangat sulit melupakan bagaimana kejantananya merejam kelelahan yang panjang di Pretoria. Sesaat Leyka tersenyum dan mengecup bibir Valentino.



"Apakah hanya siang ini? Beberapa menit yang lalu kau membentakku" ujar Valentino menggigit bibirnya saat jemarinya menurun resleting di pinggul belakang dan menelusupkan tangannya, lalu mere*mas bok*ong Leyka dengan nafasnya yang kian menghangat.


"Ohh Mi Marido Guapo, Mi Amado Esposo (Suamiku yang tampan, Suamiku tercinta)-- Apa dengan membentakmu, akan menghilangkan cintamu padaku?" Valentino tersenyum lebar nyaris terkekeh mendengar pertanyaan Leyka dengan sikap nakalnya, meliuk liukan pinggulnya menekan perlahan pada jagung bakar Afrika Selatan yang menggeliat. Jemari lincahnya mengurai kancing demi kancing kemeja milik Valentino dan membelai dada bidang itu yang masih terbalut kaos dalam tanpa lengan.


"Aku hampir gila mendapatkanmu kembali. Bentak aku setiap detik, aku rela.. Aku semakin mencintaimu dan akan tetap seperti itu" bisik Valentino sambil menggesekkan hidungnya ke hidung Leyka.


Jemari Valentino kembali liar, ia menaikan rok Leyka dan menelusupkan jemarinya ke dalam underwear Leyka berwarna hitam dan terlihat transparan hingga membuat Valentino kembali menelan salivanya saat melihatnya.


"Uhmm.. Kejutan itu. Aku sangat bahagia.. Kita akan bercinta di kamarku" bisik Leyka lalu ia melu*mat bibir Valentino dan disambut ganas. Jemari tangan Leyka liar mere*mas rambut ikal sehitam arang, dan aroma maskulin menyeruak memenuhi rongga pernafasan Leyka. Valentino pun mendorong tubuh Leyka kesamping lalu menindihnya, tanpa melepas ciuman itu. Membayangkan bercinta di Mansion Leyka di Palma membuat Valentino sangat beringas.


Valentino menyingkirkan rok span yang membalut tubuh bagian atas ia melepaskan kemeja dan underwearnya, ia menyisakan kaos dalam tanpa lengan berwarna putih. Leyka menggigit bibirnya melihat tubuh Valentino memanas saat bersentuhan dengan kulitnya.

__ADS_1


"Ahhh.. Sexy" desis Leyka saat melihat rimbunnya hutan amazon dengan senjata milik Valentino yang menegang menjulang mencapai pusarnya membuat Leyka selalu berdebar debar. Karena itu yang membuat kesadarannya seakan lenyap seketika.


Valentino serasa hanyut melihat Leyka dengan wajah sayunya dan mengagumi dirinya, jantungnya terpacu, nafasnya kian memburu. Valentinopun membentangkan paha Leyka, karena underwear hitam berenda dan transparan itu tampak mengagumkan mencetak irisan buah peach, Valentino enggan melepas balutan itu.


"Aahhh.. Peach, semakin.. Sexy dengan underwear ini" desis Valentino mengusapnya perlahan lalu ia menyingkapnya dari samping.


"Nghhh.. Ahhh" de*sah Leyka saat Valentino menyibak underwear yang membalut irisan buah Peach dan Valentino mencengkeram kokohnya jagung bakar Afrika Selatan lalu mengarahkan dan menusukan perlahan.


"Aaa... Aaa... Aahh Val" pekik Leyka lirih, underwear yang tidak di lepas, mempersempit ruang masuk hingga rasanya, milik Valentino kian terjepit.


"Ooohhh.. Mi Amor (sayangku).. Aaa.. Ahhh.. Sexy sekali Peach.. Aaaarrghh" bisik Valentino dengan mende*ssah panjang saat miliknya terbenam seutuhnya dan disambut rasa panas yang mencengkeram juga menghimpitnya. Valentino pun mendorong tubuhnya luruh diatas tubuh Leyka dengan menumpukan sikunya pada sofa. Valentino memacunya perlahan.


"Aaahh.. Val.."


"Katakan jika sakit.. Mi Amor (cintaku; Spanyol).. Ugghhmm.. Shh.. Aaaahhh.. Bellisima.. Sei bellissima, Leyka.. Aahh..(cantik.. kau sangat cantik; Italy)" Wajah Leyka kian memerah hingga telinganya saat Valentino dengan tersenyum menatapnya seraya memacunya perlahan.


"Succhiami... Aahhh (hi*sap aku; Italy)" ujar Leyka sambil mere*mas buah dadanya sendiri, Valentino mengerjapkan matanya mendengar permohonan Leyka dan membuat jantungnya semakin berdetak cepat.


Br*a yang berwarna senada dengan underwear Leyka, masih menaut ketat. Valentino hanya menyingkap penutupnya hingga kebawah dan menyembulkan buah dada Leyka yang kian membesar, buah dada itu saling berhimpitan tanpa celah dan terguncang seiring Valentino mendorong pinggulnya, melesakan jagung bakar Afrika Selatan hingga ke pangkalnya. Leyka merasa sesak seakan milik Valentino memenuhinya.


Leyka mende*ssah panjang saat Valentino melu*mat puncak buah dadanya, mengul*um perlahan dan menghi*sap disekeliling hingga memerah. Valentino semakin menggila dengan memacu Leyka yang kian merin*tih rin*tih.


"Vall... Aaagghh.. Sshh.. Aaaahh.. Vall.. Fas*ter.. Aaa...aaa..aaah" Valentino pun menegang, merasakan jemari tangan Leyka mencengkeram bok*ongnya dan menciptakan gairah yang kian memuncak.


"Ley... Il mio amore.. Aaaargh-- Valentino mencengkeram rahang Leyka dan menatap wajah sayu dengan mata menghiba saat mata coklat terang itu terbuka dan membalas tatapan liarnya.


"Mi amor! Aaaa.. Aaaa.. Aaahhhh" Leyka pun liar menegang dengan tubuhnya meliuk liuk hingga pinggulnya terangkat.


"Si.. Vieni a volare con me, Mia Leyka ( Iya, Mari terbang bersamaku, Leyka ku; Italy)" Leyka membulatkan matanya saat Valentino berbisik di telinganya seraya menggigit ujung telinganya. Ia tak mampu menahan gele*nyar indah yang menyerang pang*kal pahanya. Kata kata Valentino di Pretoria dulu dalam bahasa Italy, Leyka masih mengingatnya dengan jelas, ia memeluk tubuh Valentino yang menindihnya dan melepaskan hasratnya.


"Aaa... aaaa.. aahhh.. Vaa..aalll.. Ssh... Mi.. Amor"


Valentino mengerang keras di ceruk leher Leyka yang berkeringat, tangannya mere*mas kedua buah dada Leyka dan menekan pinggulnya, Valentino pun meledakan benihnya "Aarrghhh.. Sshh.. Aarghh... Il mio amore.. Ougghh.. Aaarrgh!"


Leyka mengeratkan pelukannya di tubuh Valentino seiring denyutan di ar*ea in*timmnya memudar, ia mere*mas rambut Valentino dan perlahan semua cengkeramannya mengendur. Nafas mereka yang terengah engah dan terkendali kini perlahan mereka bernafas dengan teratur.


"Berikan anak untukku, Ley. Ayolah, aku mau anak lagi.. Mucho, Ley.. Mucho" kata Valentino masih terbenam di ceruk leher Leyka dan Leyka tersenyum dibuatnya.


"Val, awas kau berat!" Leyka mendorong lengan Valentino namun tubuh Valentino tak bergeming menimpanya.


"Ley jawab dulu" Valentino justru menggesekkan kumis dan jenggotnya diceruk leher hingga ke pundak Leyka. Ia mengecup buah dada Leyka bergantian dan ia kembali menyembunyikannya ke dalam penutup dada yang masih membalutnya.


"Siiiii Val, si.. Aku akan memberimu satu lagi"


"Mucho, Senora.. Mucho (yang banyak Nyonya, yang banyak)" Leyka terkekeh mendengarnya dengan gemas ia menciumi rambut Valentino hingga ke dahinya.


"Si Senor.. Mucho (Iya Tuan.. yang banyak).. Tapi menyingkirlah kau sangat berat.. Ughhh" Leyka mendorong tubuh Valentino perlahan dan Valentino hanya mengangkat sebagian tubuhnya dan menahan bobot tubuhnya menumpu pada sikunya.


"Si, Senora-- Ti amo (aku mencintaimu; Italy)" kata Leyka kembali memeluk Valentino. Dengan berdesakan mereka berpelukan di sofa itu dan saling memberikan ciuman bertubi tubi.


"Ley, perasaanku tidak enak. Cepat berpakaian" kata Valentino mencium Leyka dan bangun mengurai pelukan Leyka. Ia menyambar tisu dan diberikan pada Leyka yang bermalas malasan bangun. Ia kemudian berpakaian secepat mungkin.


"Perasaan apa itu?"


"Entahlah, perasaanku Putraku akan datang"


"Ckk-- Mengada ada saja" ujar Leyka sambil membersihkan pangkal pahanya dan menyambar roknya.


Apa Daddy ada?


Ada.. Ada Mommymu juga didalam.. Ketuk saja pintunya.


Si.. Gracias..


Mereka membulatkan matanya saat mendengar sayup sayup suara Train dari kejauhan. Hubungan batin Valentino dan Train kian kuat, dan Leyka memuji itu dalam hatinya.


"Aku sudah mengatakannya, Ley-- Perasaanku tidak enak" Valentino mengecup pipi Leyka sebelum akhirnya Leyka menyambar pakaiannya dan berlarian kearah kamar mandi seiring langkah kaki Train yang berlarian mendekat kearah pintu.


"Daddy! Mommy! Bukaa Bukaa Bukaaa!-- Daddy belum memberiku uang jajan! Bekalku tumpah! Pablo anak tingkat dua sengaja menumpahkan bekalku! Aku mendorongnya hingga jatuh! Dia menyebalkan! Buka pintunyaa! Cepaatt! Aaaa! Kalian sedang apa!" dan seperti biasa Train berkicau mengguncang daun pintu sambil menendanginya dengan menjerit.


"Sebentar Blue!" Valentino bergegas kearah pintu setelah ia membereskan sisa 'acara makan siangnya', yaitu merapikan sofa yang bantalnya bergeletakan dan membuang tisu tisu kedalam tempat sampah.


"Lama sekali Daddy! Uhss!" kata Train memasuki ruangan Valentino dengan bersungut.


"Kamu saja yang tidak sabaran, Blue" ujar Valentino mengacak rambut Train dan menggandengnya lalu mengajaknya duduk. Valentino memangku Train dan menyerbunya dengan ciuman.


"Uhss Daddy-- Train merasa risih dan menggeliat menepis tangan Valentino yang melingkar di tubuhnya --Mana Mommy?" tanya Train mengedarkan pandangannya dengan menyatukan alisnya.


Valentino baru mau menjawab pertanyaan Train, namun Leyka telah lebih dahulu keluar dari kamar mandi dengan bersungut. "Uhhss Daddy nakal, Daddy mengagetkan Mommy dan menumpahkan coklat di baju Mommy! Sekarang baju Mommy basah!" ujarnya masih didepan pintu kamar mandi sambil mengibaskan blousenya.


"Mi Amor-- Bukalah lemari file paling ujung, disana ada baju seragam untuk karyawan baru. Tapi ada logonya Locomotive Machine, tidak apa apa kan?" ujar Valentino sambil mengedipkan matanya.


"Tidak masalah. Lagi pula logo Locomotive Machine itu milik Putraku" Leyka membalas kedipan mata Valentino lalu bergegas berjalan kearah lemari.


"Daddy seperti Pablo! Uhss! Nakal!" ujar Train bersedekap dengan mengerutkan alisnya. Valentino tertawa dan semakin mengungkung tubuh Train lalu menciumi hingga Train menjerit jerit.


"Noo Daddy! Nooo! Aaaaa-hahaha! Noo!" gemas pada Leyka dan Valentino melampiaskan pada Train, ia menggelitiki Train lalu mendorong tubuh Train hingga merebah ke sofa.


"Blue, setelah makan bagaimana kalau kau bolos sekolah saja. Kita tidur saja sebentar dan kamu temani Daddy bekerja" bujuk Valentino masih memeluk Train.


"Noo! Nanti Blue tidak pintar, Daddy!" jawab Train menggoyangkan jari telunjuk dan kepalanya secara bersamaan.


"Hahaha-- Mengapa kau memggemaskan seperti Mommy! Uhss!"

__ADS_1


"Nooo-- Aaaaa.. Daaaaaaddyy!"


Jeritan itu terdengar diseluruh lantai sepuluh yang biasanya senyap. Leyka bahagia mendengarnya. Sangat bahagia.


-


-


-


Apartemen Raja


Yang terjadi kemudian adalah Leyka pulang. Ia lemas dan merasakan kantuk yang luarbiasa. Ia tidak bisa menahannya. Leyka mengirim pesan singkat pada Valentino dan Train saat Leyka sudah tiba di Apartemen Raja. Ia mandi dan mengganti bajunya dengan baju yang nyaman lalu ia tidur.


Entah berapa panggilan telepon tak di hiraukannya, telepon Apartemen yang berdering diruang tengah juga tidak mengganggunya. Leyka nyenyak merajut mimpinya dari siang hingga sore. Kedatangan Suami dan Putranya sama sekali tak membangunkannya.


Valentino dan Train lelah menciumi dan membangunkan Leyka yang justru marah karena mengganggu tidurnya. Bahkan Leyka menutupi wajahnya dengan selimut dan mengatakan mereka semua bau. Valentino akhirnya mengajak Train mandi lalu setelah itu Valentino menyiapkan makan malam. Trainpun bermain di ruang kerja Valentino dengan kicauannya menanyakan banyak hal yang mengundang rasa keingintahuannya.


"Ini sangat keren!" kata Train saat melihat dua buah meja gambar arsitektur, Meja Arm / Bandul dan Meja Treker.



Arm / Bandul





Treker




Setelah puas mengacak acak kedua meja itu semua seperti mainan. Train menuju meja Valentino. Ia membuka buka buku agenda yang berisi kumpulan hasil rancangannya, Train kagum dan menggelengkan kepalanya.


"Daddy keren! Wow!" gumam Train.


Sementara Valentino selesai membuat makan malam dan menuju kamarnya untuk mencoba membangunkan Leyka lagi. Leyka telah berubah posisinya dengan memiringkan tubuhnya, Valentino merangkak dan mengungkungnya.


"Mi amor, makan malam sudah siap. Aku dan Blue Train sudah wangi. Apa aku sangat membuatmu lelah?" tanya Valentino sambil menggesekan kumis dan jenggotnya dipundak Leyka lalu menciuminya.


"Hmmm.. Ck, aku ngantuk, Val" Leyka menggeliat.


"Ini sudah malam. Vamos, makan malam lalu kau bisa tidur lagi. Apa kau yakin, kau baik baik saja? Apa perlu ke dokter?" tanya Valentino sambil menatap wajah Leyka yang tidur dengan nyenyaknya.


"Aku hanya ngantuk, Val-- Vamos, tidur" Valentino tersenyum dan merebahkan tubuhnya dihadapan Leyka dan memeluk tubuh Leyka yang dibalut selimut.


"Aku akan makan malam bersama Putra kita dan menyusulmu" ujar Valentino menciumi wajah Leyka dan memeluknya sesaat.


Ahahaha Mommy-- Aku menemukan foto seorang wanita diruang kerja Daddy.. Ahahaha.. Vamos, Mommy bangun.. Aku akan kembali ke ruang kerja Daddy.. Aku akan mencari harta karun.. Ahahahha...


Seketika Leyka membuka matanya lebar lebar dan ia melihat mata Valentino membulat yang terkejut dengan pengaduan Train. Sikap bar barnya muncul, dengan cepat Leyka mendorong dada Valentino dan menendang pahanya hingga Valentino terjatuh dari ranjang.


Shitttt.. Pasti diaa.


Hati Leyka nyeri seketika. Ia kemudian mengingat perkataannya sendiri, 'Aku akan menyentuh Luka', Namun disisi lain hatinya mengatakan 'Sanggupkah aku menyentuh Luka?'


Apa semua wanita setelah memiliki anak berubah menjadi singa? Huhh. Valentino.


-


-


-




Di laporkan dari kemarin Thorman jd silikiti ehh sekuriti anak gadisnya si pirang 'agnes moNabok' ughh.. dr fiting baju, anter shooting endorse di salon, gladiresik, dan puncaknya selama 3 hari ke depan ada SOLO BATIK FASHION SHOW di SOLO PARAGON. Karena itu Up nya bolong2.. Yang setia makasih.. Yg ninggalin.. peelllisss kembalilah pada adek Baanng 🤣🤣


yang diSolo boleh merapeettt.. 🤣


tp jangan terlalu berharap foto ama aku.. karena aku lg ga pede2nya dengan bibirku yg dri kmrn tersengat semut.. aku rasa itu semutnya laki deh dan brewok.. gemes deh 🙄🙄 ga bangett bibir bener jadi jontor 😭 Train sampe ga mau aku cium.. apalagi bapaknya.. 🤣 kl buat ipokan tambah gatel.. libur tiuman nehhh.. 😒


kl hari ini liat aku pake baju garis2 kaya baju tahanan, duduk di pojokan panggung pake celana robek2 kesangkut pager.. nah itu aku.. 🤣🤣🤣


doakan bentolku ini yg Nggak bgt.. doanya simpel kok.. klik vote dan hadiah dan katakan aminnn wkakakaka 🤣🤣 (malak jontor 😭)


Sekian Laporan dari Wartawan Ģendenk plus Jontor pula.. hadehhh.. 🤣


info selanjutnya ada di IG @authorgendeng



-


-


-

__ADS_1


__ADS_2