
Maria dan Train memasuki halaman Gereja yang begitu luas, beberapa orang merapikan tanaman, memotong rumput, menyapu dedaunan yang gugur di musimnya. Mata Train bersinar terang saat melihat sebuah mobil hitam mengkilap terparkir disana.
"Wow! Maria itu.. Itu.. Ford Mustang Shelby, El Eleonor!" pekik Train mengayuh sepedanya dengan cepat dan Maria berlarian kecil mengikutinya.
"Ckk, kau tahu?" tanya Maria sambil berlari.
"Si si si! Itu GT 500 di juluki El Eleonor. Hanya ada tiga yang memiliki El Eleonor. Vladimir Putin, Keluarga Kerajaan Inggris dan Raja Carlos sebelum Felipe. Tidak mungkin ketiga orang itu ada disini, kecuali pemilik Ford itu sendiri. Aku akan kesana melihatnya!" Train semakin cepat mengayuh dan sepedanya melaju cepat.
"Traiiinnnn!" Pekik Maria karena Train meninggalkannya.
"Un momento (sebentar), Maria!" Train berbalas memekik.
"Isshh, anak ini!" dan dengan sekuat tenaga Maria mengejar Train.
Train menekan tuas rem di stang sepedanya lalu membiarkan sepedanya jatuh begitu saja. Ia berlarian ke arah mobil itu. Train langsung duduk dan mengamati mobil itu, ia menunggu Maria yang berlarian semakin mendekat ke arahnya.
"Maria mirar (lihat) ! Ini lampunya sangat keren. Dan Velg-nya, ini masih asli, sepertinya ini selesai di poles" Train memegangi Velg mobil itu dengan terkesima, ia terus berkicau dengan penuh kekaguman karena mobil langka itu.
"Jangan sok tau-- Siapa yang memberitahumu" tanya Maria dengan terengah engah, ia memegangi lututnya dengan mengatur nafasnya karena ia baru saja mengejar Train.
"Damian! Saat di Madrid mobil mustang untuk foto para modelp, Maria" Train pun mengelilingi mobil itu dan sesekali menunduk memperhatikan inci demi inci.
"Train, Damian baik. Mengapa kau tidak bisa menerimanya sebagai Daddymu?" tanya Maria sambil meraih sepeda Train agar berdiri dengan tegak.
"Uhhs! Maria aku sudah mengatakan berkali kali, Damian tidak pantas! Uhss, Vamos kita masuk Gereja!" ujar Train dengan ketus. Train selalu kesal bila ia ditanya segala sesuatu tentang Damian disaat ia sedang seru dengan apa yang ia lihat. Maria tersenyum simpul, dan Train kembali mengayuh sepedanya.
Mereka pun menyusuri jalan hingga teras Gereja yang memiliki banyak pintu di semua arahnya. Train memarkirkan sepedanya dibawah pohon lalu Maria menggandeng tangan Train melewati tangga berundak undak dari bebatuan. Train melompat lompat saat melewatinya.
Gereja Katedral ini adalah sebuah basilika semu, berkubah di atas lima lorong, dua yang di bagian luar terbagi menjadi kapel. Ujung timurnya adalah sebuah chevet ( bagian bangunan yang melengkung ke dalam dan berbentuk setengah bundar yang tertutup oleh semi-kubah atau kubah setengah bulat). Disana ada sembilan kapel yang berpendar yang terhubung dengan sebuah Altar agung yang ditinggikan, dan memungkinkan pandangan jelas ke ruang bawah tanah katedral.
Katedral ini didedikasikan untuk Eulalia dari Barcelona, santa pelindung bersama Barcelona, seorang perawan muda yang menurut tradisi Katolik, wafat sebagai seorang martir pada zaman Romawi di kota tersebut. Sebuah cerita mengatakan bahwa dia ditelanjangi di lapangan umum dan hujan salju yang menakjubkan di pertengahan musim semi menutupi ketelanjangannya. Orang-orang Romawi yang marah memasukkannya ke dalam tong dengan pisau yang tertancap di dalamnya dan menggulingkannya ke sebuah jalan (menurut tradisi, yang sekarang disebut Baixada de Santa Eulàlia). Tubuh Santo Eulalia dimakamkan di ruang bawah tanah katedral.
Setelah melewati kolam dengan beberapa angsa disana, Maria dan Train memasuki sebuah Chapel yang berdekatan dengan kolam, dari jendela yang sangat besar Train melihat Pastur Gilberto sedang memberi makan angsa angsa itu dan Train mengembangkan senyumnya.
"Pastor Gilberto!" pekik Train seraya menepis genggaman tangan Maria dan berlarian kearah Pastor Gilberto dengan merentangkan tangannya. Maria melemparkan senyumnya kearah Pastor Gilberto dan mengikuti Train.
"Train? Kau datang?" Pastor Gilberto meletakkan wadah pakan untuk angsa angsa itu, lalu merentangkan tangannya dengan berjongkok menyambut Train. Mereka berpelukan dan Pastor Gilberto mencium kening Train.
Maria menyapa dan mencium tangan Pastor Gilberto lalu berpamitan, "Pastor Gilberto, aku akan membantu menyiapkan Misa dan kau Train. Tunggu aku ditempat biasa" ujarnya setelah berbicara dua arah.
"Si si si Maria! Aku akan kesana sebentar lagi" jawab Train.
"Dia akan bersamaku" ujar Pastor Gilbertio, lalu Maria berlalu dari hadapan mereka.
"Pastor Gilberto? Apa kau sehat? Bagaimana kabarmu?" tanya Train, membuat Pastor Gilberto menghentikan gerakan tangannya, yang akan kembali mengambil wadah pakan angsa yang berada di meja kecil dekat jendela.
Pastor Gilberto dengan penuh kehangat membelai rambut Train dan menjawab pertanyaannya, "Manis sekali-- Kabarku tentu saja baik. Dan aku sangat sehat. Biar aku tebak, apakah ada surat ke delapan?"
"Yeaayy! Pastor benar! Ini surat ke delapan-- Train bersorak seketika karena tebakan Pastor Gilberto benar, ia kemudian mengambil sepucuk surat dari sakunya dan diserahkan kepada Pastor Gilberto --Tapi ini surat terakhirku" dan raut wajah Train berubah seketika.
"Mengapa begitu?" tanya Pastor itu dengan memiringkan kepalanya.
"Sepertinya Tuhan hanya membacanya. Atau mungkin mengabaikan semua suratku. Tuhan, tidak menyayangiku. Mungkin ada yang lebih Tuhan sayangi dan itu bukan aku. Daddy-ku, tidak akan pernah muncul"
Pastor Gilberto meraih tangan Train dan dibawanya duduk di pinggir jendela itu, melihat angsa angsa berenang di seputar kolam.
Pastor Gilberto kembali tersenyum, dan meraih wadah pakan yang sebelumnya ia letakkan dan kembali memberi makan angsa angsa itu, "Apa kau kehilangan keyakinanmu? Bukankah aku memintamu untuk percaya"
__ADS_1
"Salju pertama akan segera turun, Pastor. Tapi keajaiban itu tidak ada, sebentar lagi aku 8 tahun. Sepertinya tidak akan ada keajaiban. Atau memang benar kata Mommy. Tuhan itu tidak ada" Train meraup pakan dan dilemparkan dengan kesal kearah kolam.
"Sstt-- Kemarilah" Pastor Gilberto menepuk tangan Train yang kotor karena pakan angsa lalu meraih tubuh Train dan dipangkunya.
"Apa kau tahu? Keajaiban itu akan datang bahkan di detik terakhir. Kau tidak boleh kehilangan Kepercayaan, Keyakinan dan Harapanmu pada Tuhan. Kau harus bergantung padaNya, Train. Keajaiban selalu ada. Bahkan kau sendiri adalah Keajaiban" kata Pastor Gilberto dengan lembut.
"Aku?" Train menoleh kearah Gilberto dan memandang lekat lekat. Ia mengerutkan alisnya lalu menggosok hidungnya.
Dengan penuh keharuan, Gilberto membelai rambut Train dengan penuh kelembutan, ia kemudian memberi pengertian pada Train, "Si-- Kau Keajaiban bagi keluargamu. Jadi Keajaiban akan datang dan selalu ada. Semua hal yang baik adalah Keajaiban. Hanya manusia tidak pernah menyadarinya. Bahkan suratmu ini adalah Keajaiban"
"Bagaimana bila Daddyku tidak pernah datang-- Train memalingkan wajahnya kearah kolam dan memandangi angsa yang berenang dibawah sana, satu angsa kecil diapit dua angsa besar --angsa saja bersama Ayah dan Ibunya. Tapi aku tidak seberuntung angsa itu" Train menunjuk kearah angsa itu.
Pastor Gilberto adalah tempat meluapkan isi hatinya yang terkadang ia simpan sendiri. Sejak hadiah itu datang, Train tidak pernah menyinggung Daddynya dihadapan Leyka dan keluarga Fernandez, Train hanya akan meluapkan isi hatinya pada Pastor Gilberto yang Train anggap, Gilberto sangat dekat dengan Tuhan.
"Jangan pernah ragu Train. Jangan pernah ragu sedikitpun. Keajaiban akan datang, karena kebaikanmu. Kau akan seperti angsa kecil itu, dengan syarat kau tidak boleh ragu. Kau harus percaya-- Percaya tanpa keraguan sedikitpun" Train sangat tenang dan begitu lega mendengar ucapan Gilberto. Ia pun turun dari pangkuan Gilberto dengan melompat, lalu ia menggenggam tangan Pastor itu lalu Train mencium tangannya.
"Uhm-- Tidak pernah ragu. Train tidak boleh ragu! Baiklah aku akan ke tempat Maria menungguku! Pastor, Que tenga un lindo día (semoga harimu menyenangkan)!" ujarnya dengan mata berbinar dan senyum yang mengembang. Train berpamitan kemudian.
"Tuhan selalu bersamamu, anak pintar" Pastor Gilberto tersenyum kemudian mencium kening Train dan Train berlarian dengan hatinya yang seketika bahagia. Train berlarian menuju sebuah ruang, tempat Train selalu menunggu Maria.
Ruangan itu menjadi pusat semua umat merayakan juga ritual keagamaan. Altar begitu megah dengan tangga bebatuan, dan dialasi karpet. Dan juga pernak pernik, relief terpasang di atap Gereja itu, begitu megah.
Train mengedarkan pandangannya, ia berjalan melewati kursi demi kursi yang berjajar rapi. Beberapa orang sibuk membersihkan ruangan itu, ada yang menata lilin juga bunga segar di pot pot yang telah disediakan. Ia melihat sepasang nenek dan kakek di kejauhan tengah duduk berdampingan, dimana Maria berada tidak jauh dari kedua pasangan itu.
Maria melambaikan tangannya dan Train membalasnya. Ia melangkah menuju Chapel, ruang doa yang berada di ruangan itu. Chapel itu memiliki dua pintu yang bisa di akses dari dalam ruang altar dan dari luar, yang mana pintu dari arah luar terhubung dengan koridor. Pintu dan jendelanya melengkung, dan ditaburi ukiran bergaya kejayaan Victoria.
Di sebuah jendela yang besar dan terbuka, langkahnya terhenti. Ia melihat seorang laki laki yang tengah duduk di kursi, yang terletak pinggir jendela. Laki laki itu memegang satu buket bunga lily putih dan ia menengadahkan kepalanya ke atas mengagumi atap gereja yang menjulang tinggi dengan berbagai lukisan kuno. Train melihat dari atas sampai bawah, laki laki itu mengenakan kemeja dan jas berwarna hitam dengan sepatu mengkilapnya. Arlojinya berlogo Ford, salah satu brand mobil kenamaan, arloji itu hanya dipakai oleh keluarga Ford. Train membulatkan matanya.
Dia pemilik Mustang Ford -el eleonor.. Pasti dia.. Aku yakin dia. Batin Train.
Rasa ingin tahunya begitu besar, kemudian ia duduk disamping laki laki itu, "Itu Saint Michael, dia malaikat. Itu lukisan yang sama yang berada di Vatikan" ujar Train menunjuk sebuah lukisan yang laki laki itu pandangi, suara mungil Train membuat laki laki itu menoleh dan tersenyum ramah.
"Aku juga tahu. Katedral ini indah" ujar laki laki itu.
"Iya, aku berdoa untuk kekasihku. Aku selalu mampir di gereja manapun untuk mendoakannya" Train semakin tertarik dengan cerita laki laki itu, rasa penasarannya begitu tinggi, dan keingintahuannya membuat adrenalinnya seakan terpacu.
Sementara itu Valentino berlarian menyusuri koridor demi koridor dengan jantungnya yang kian menusuk nyeri. Airmatanya kembali berderai setelah melihat sepeda Train terparkir dibawah pohon.
Tidak perduli begitu banyak orang berlalu lalang disana, Valentino terus berlarian. Di iringi Jared juga Torres hingga tak perduli rasa sakit di dada kirinya kian menikamnya. Hingga langkahnya terhenti pada suara mungil Train yang membuat sekujur tubuhnya seakan membeku.
Perlahan, Valentino melangkahkan kakinya kearah Chapel, ia memilih memasuki Chapel itu melalui pintu luar. Lututnya bergetar mendengarkan celoteh Train, ia luruh ke lantai dan menyandarkan tubuhnya di Chapel dengan tembok melengkung mengikuti langit langit kubah. Ia hanya bisa kembali menangis dengan suara tertahan.
Jared dan Torres, karena memiliki rasa penasaran yang tinggi akhirnya ikut duduk mendampingi Valentino. Mereka mengerti bahwa Valentino belum siap, karena tujuannya adalah surat Train.
"Kau harus menulis surat kepada Tuhan, Uncle. Seperti aku" ujar Train, membuat laki laki itu tersenyum lebar.
"Surat untuk Tuhan?" laki laki itu mengernyitkan alisnya.
"Si! Seperti aku-- Aku menulis surat untuk Tuhan dan Pastor Gilberto akan memberikannya" jawab Train membuat laki laki itu semakin tertarik pada perbincangan itu.
"Ha..ha..ha-- aku penasaran, apa yang kau tulis" kata laki laki itu. Dan itu membuat Valentino juga bertanya tanya, ia hanya bisa menangis dengan lututnya yang kian lemas. Tangannya lemah lunglai menyangga dadanya.
"Diev, kau harus ke rumah sakit" bisik Jared dan Valentino hanya meletakkan jari telunjuknya, di mulutnya dengan berurai airmata.
"No, tidak penting. Itu hanya keinginanku saja-- Lalu apa yang membuat matamu tidak ada lampunya?" tanya Train dengan suara mungilnya, Valentino mengusap airmata dan hidungnya. Ia memejamkan matanya dengan wajah Train yang kian memenuhi kepalanya.
"Ha..ha..ha.. Mungkin tidak ada listrik, jadi aku belum memasangnya, Ha..ha..ha.. Kau lucu sekali!" laki laki itu tertawa, Torres tersenyum dengan menarik satu sudut bibirnya, begitupun Jared. Sementara Valentino, airmatanya mengalir begitu deras.
"Kau pasti sangat mencintai kekasihmu, Uncle" ujar Train menggeser tubuhnya lebih mendekat.
"Sangat-- tapi itu sudah lama berlalu mungkin sudah 10 tahun yang lalu" ujar laki laki itu.
__ADS_1
"Wah lama sekali" kata Train menggoyangkan kakinya. Ia penasaran dengan arloji dengan simbol 'Ford'
"Namaku Matthew Ford-- laki laki itu mengulurkan tangannya dan Train menyambutnya dengan membulatkan matanya --dan kau siapa?"
"Wooooww! Matt.. Matthew Ford! Jadi benar. Kau pemilik Mustang Shelby El Eleonor! Aku mengingatmu! Kau anggota keluarga pendiri Ford!" Train sontak turun dari kursi dan menyambut uluran tangan laki laki bernama Matthew Ford. Tiga laki laki yang bersembunyi pun saling pandang, dengan mata penuh selidik. Hanya Valentino yang mere*mmas rambutnya, karena kepalanya serasa berat.
"Kau mengingatku?" tanya Matthew dengan heran, Train mengatakan mengingatnya sementara ini baru pertama kalinya mereka bertemu. Matthew berpikir keras mencoba mengingat namun tetap saja buntu.
"Si-- Apa pernah kau ke Pretoria?" Matthew semakin antusias dan berpikir keras. Valentino membuka matanya dan berhenti mere*mmas kepalanya. Ia ingin menghampiri Train tapi mengurungkan niatnya saat Train menyebut kata Pretoria. Hati berdebar debar, jantungnya naik turun dengan detakannya yang sudah tidak lagi beraturan.
"Carikan aku obat jantung.. Semacam Aspilet atau Isosorbide dinitrate.. Dadaku sakit sekali" bisik Valentino kepada Jared dan tak banyak kata, Jared dan Torres bergegas pergi. Isosorbide dinitrate adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan meredakan angina (nyeri dada) akibat penyakit jantung koroner yang cara penggunaanya, diletakkan di bawah lidah. Secara turun temurun memang Keluarga Gallardiev, sebagian besar memiliki riwayat penyakit jantung. Jared dan Torres berlarian secepat mungkin, ia juga tidak ingin kawannya terkena serangan jantung.
"Pretoria? Iya aku pernah kesana. Tapi, itu sudah lama sekali" jawab Matthew semakin penasaran.
"Yeaayy aku sudah menduganya! Kau cucu pendiri Ford karena itulah kau menggunakan Ford Shelby yang hanya ada 3 di dunia kalau ada itu sudah pasti milik pendiri Ford itu sendiri! Kau pernah ke Freedom Park kan?" Train bersorak dan melepaskan jabatan tangannya yang sedari tadi tangan Mattew tak kunjung di lepaskan. Matthew semakin mengernyitkan alisnya.
Sementara, Valentino berusaha bernafas sekuat tenaga, ia mengingat pertengkarannya di Pretoria dan membuat Leyka pergi dari hotel Castello De Monte, Valentino sangat percaya diri bahwa Leyka akan kembali, ia seharian menunggu di hotel dan Leyka tidak muncul. Leyka pergi dan menginap di Apartemen Waterklaaf.
Pertengkaran yang di picu karena perbedaan cara pandang di usia yang masih terbilang muda, membuat mereka selalu saja berdebat. Cara pandang Valentino yang begitu kolot membuat Leyka dengan gejolak mudanya, dan jiwa bebasnya tidak ingin meninggalkan Barcelona, untuk mengikuti Valentino ke negaranya, Italy.
Valentino mengingat, keegoisan yang menguasainya saat itu, pengorbanannya yang dituntut Leyka memang sudah seharusnya. Seharusnya Valentino mengejarnya, seharusnya Valentino merelakan karirnya, seharusnya dan seharusnya kata itu memenuhi pikiran Valentino dengan segudang rasa penyesalannya.
Laki laki itu.. Matthew Ford, orang yang bersamamu di Freedom Park.. Kau menceritakan pada Train.. Putraku terlalu pintar untuk mengingat hal hal yang begitu membekas dalam ingatannya. Train, Daddy tidak sanggup melihatmu.. Daddy harus membaca suratmu. Batin Valentino nelangsa. Ia hanya bisa menangis mendengar percakapan Train dari dalam Chapel yang berdekatan dengan Altar Agung.
"Apa aku mengenalmu?" Matthew kembali bertanya.
"No kau tidak mengenalku! Tapi aku mengenalmu lewat cerita Mommyku" ujar Train membuat Matthew meletakkan bunga yang masih di genggamnya. Ia mencondongkan tubuhnya dengan kedua sikunya menumpu pada kedua lututnya, Matthew memperhatikan Train lekat lekat.
"Ha..ha..ha Mommymu? Aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, apalagi di Spanyol-- Kau jangan mengaku ngaku, bahwa Mommymu menjalin hubungan denganku dan punya anak seperti dirimu-- Ha..haa..haaa!" Matthew masih tergelak, Train pun ikut tertawa penuh keakraban.
"Aahahaha.. Kau sangat lucu Uncle! Mommyku pernah bertemu denganmu di Pretoria! Uhss Namanya.. Uhmm.. Tempat kebebasan para budak!" Train meletakkan jari telunjuknya di pelipisnya, mengingat nama tempat dimana Leyka pernah bercerita bahwa di Pretoria bertemu salah satu cicit pendiri Ford.
"Isivivani, Freedom Park!" Train berseru dengan lantang.
"Isivivani, Freedom Park"
Mereka menyebutkan Isivivani, Freedom Park secara bersamaan, dengan mata berbinar dan mereka tertawa bersama. Keakraban terjalin begitu saja, hanya karena Train melihat Mustang Ford.
"Siapa namamu?" tanya Matthew membuat Valentino membuka matanya, ia menyeka lagi dan lagi airmatanya.
Train kemudian kembali duduk di sebelah Matthew dengan jarak lebih dekat. Lalu ia menggoyangkan kakinya maju mundur bergantian kemudian menjawab pertanyaan Matthew, "Tapi kau bukan paparazi kan? Karena aku adalah bangsawan. Aku dilarang memberitahukan identitasku, kepada orang asing!"
Dan Matthew justru meledakkan tawanya, walaupun begitu Valentino semakin teriris, airmatanya tidak bisa berhenti mengalir.
"Ha..ha..ha... Baiklah Tuan bangsawan, aku berjanji! Aku pemilik saham sebagian perusahaan Ford! Pekerjaan paparazi sangat melelahkan dan aku tidak menyukainya. Aku penasaran, siapa dirimu? Kau sangat lucu" ujar Matthew mengacak rambut Train.
"Namaku Blue Train, Mommy biasa memanggilku Train-- Kata Mommy, aku di buat di kereta api" dengan ceria Train mengatakannya. Valentino serasa dihempaskan lagi dan lagi ke dasar bumi. Sekujur tubuhnya terasa mati, hawa dingin menjalari tubuhnya dengan detak jantung yang kian berkejaran, hatinya porak poranda seketika. Ia menangis tersedu dengan membungkam mulutnya.
"Ha..Haa.. haa.. Benarkah? Berapa umurmu, Boy?" Matthew kembali terbahak, dan Valentino melepas jasnya untuk membenamkan wajahnya.
Leykaa... Leykaa.. Leykaa.. Perdonami.. Leykaa.. Aku sangat.. Menyesal.. Leykaa.. Ampuni aku.. Leykaaa.. Leykaa.. Aku bersalah padamu, Ley.. Kau pantas membenciku..
Hati dan jiwa Valentino, hanya bisa memanggil nama Leyka dan sebuah kata maaf yang mungkin saja terlambat. Apakah terlambat? Karena Cinta bukanlah menjadi hal yang utama saat ini. Maaf dari Leyka adalah Tujuannya.
-
-
-
Hayo siapa yg nebak jared dan torres yg ngobrol ama train 🤭 Dan dia siapa hayo 👆🤣 kan aku bilang perjalanan di pretoria itu akan kembali ke barcelona. ada yg bilang membosankan krn isinya nyelup bae, jadi pd nguber cepet berpisah, saat itu 🤣 pdhal ya org asing itu kl liburan ya emang isinya nyelup ga pake berhenti, dimanapun dan kapanpun. kl ga percaya, dtg aja ke gili trawangan 🤭. itu dua pelampung di adu ama jagung bakar afrika selatan di jernihnya air laut, dan itu bertebaran disana. salah satu adegan di pantai di novelku Perasaan Tak Terbendung, terinspirasi tambahan dari sana. ngintip bule nganuan trs besok paginya mata merah, ya krn pasir sih 🤣🤭
ohh iya.. cowok diatas ada di bab Gracias Freedom Park 🤭
REAL LIFE SEDANG MEMISAHKAN, antara aku dan Kalian.. Sorry Bosqyu Pembaca.. Aku berusaha semampuku untuk tetap eksis.
__ADS_1
Aku belom revisi bab ini.. kl ada typo atau apapun.. Maklumin yah.. Senin aku perbaiki..
Aku kan lelah ni, kmrn dadakan ada acara tahlilan. Belom bantu bantu ponakan mau nikahan. Kayanya aku hanya mau kopi dr kalian deh 🤭🤣 (Malak maning).