FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Kau Tidak Akan Bisa Tidur Malam Ini


__ADS_3

Di temaramnya lampu di sudut jalan, Leyka menyeberangi jalan raya, ia menuju Distrik Miel. Leyka melangkah dengan segenap kekecewaannya. Damian terus mengikutinya, ia ingin berlari tapi kakinya seakan terikat oleh janjinya kepada Train. Walaupun janji itu terucap di dalam hatinya, tapi Damian adalah orang yang sangat berkomitmen.


"Leykaa, aku mohon berhentilah!" mereka memasuki taman Casa De Miel, dan disambut rimbunnya pepohonan setelah melewati pintu gerbang. Damian kembali menangkap tangan Leyka dan menahannya.


"Aku tidak mengenalmu!" Leyka menepisnya dan kembali melangkah.


"Leyka, Baby-- Es tut mir leid, Baby (maafkan aku, sayang; Jerman)" Damian mengejar dan baru beberapa langkah Damian mendekapnya dari belakang, Leyka menghentikan langkahnya.



Leyka memandangi pohon yang pernah dipeluknya malam itu, saat ia mabuk dan menyerang Valentino dengan bertubi tubi, Valentino justru terlintas begitu saja di dalam benaknya dan ia merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.


"Baby? Aku siapa?!-- Aku siapa bagimu?!" Leyka hanya menoleh hingga terlihat siluet dari samping, Damian mendekap dengan kedua tangannya, ia menyandarkan pipinya di kepala Leyka, Damian merasa sangat bersalah.


"Baby--


"Mengapa kau lakukan ini padaku, Damian?" dan Leyka kembali memalingkan wajahnya menatap pohon itu yang menjadi salah satu saksi bisu pertemuannya dengan Valentino.


"Lo siento. Kau tahu aku sangat--


"Apa kau sudah bosan denganku?" potong Leyka membuat hati Damian berdebar debar.


"Tidak tidak-- Kau tau aku dengan baik" ujar Damian semakin mengeratkan dekapannya ia menciumi puncak kepala Leyka dengan penuh kerinduan.


"Mengapa kau menghindariku?"


"Aku tidak bermaksud--


"Apa kau tidak merindukanku? Apa kau tidak merindukan Train?"


"Baby, aku sangat merindukanmu. Jadilah aku satu menit saja dan kau akan tahu rasanya" Damian mengurai dekapannya dan meraih lengan Leyka agar menghadap kearahnya. Leyka terkesima melihat mata Damian yang hilang keteduhannya, matanya semburat kemerahan.


Leyka sangat kecewa ketika mempertanyakan tentang kerinduan Damian pada Train, Damian tidak mengutarakannya. Ia semakin sedih, karena kerinduan Damian hanya untuk dirinya. Leyka semakin kacau pikirannya, apalagi perasaannya.


Ia semakin dipenuhi keraguan, membayangkan bagaimana jika Damian hanya mencintainya, bukankah itu hanya akan menciptakan neraka bagi Train dan dirinya. Apa bedanya dirinya dan Ibunya. Pikir Leyka.


"Satu menit? Bahkan kau telah menjauh 10.080 menit, Damian! Kau tidak menjawab teleponku! Dalam satu hari kau hanya membalas pesanku satu kali dan kau memintaku menjadi dirimu satu menit? Mengapa kau tidak bisa menjadi diriku satu detik saja? Kau berputar di kepalaku dan aku percaya kepadamu bahwa kau masih berada di Madrid! Satu detik saja, apa kau bisa merasakan kekecewaanku?!" Damian tersenyum pahit lalu ia meraih jemari Leyka dan ia menciuminya bertubi tubi. Ia membenarkan ucapan Leyka, seharusnya memang ia tidak perlu menghindar dan membohongi Leyka.


"Aku tahu, aku seharusnya menemuimu. Tapi aku sangat-- Ahh, aku bingung menjelaskannya!" Damian meletakkan satu telapak tangan Leyka dipipinya, lalu satu tangan yang lain digenggamnya dengan erat. Leyka sangat tersentuh tapi juga sangat kecewa.


Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, berbagi cerita, berbagi kisah, mengiringi perjalanan hidup Leyka yang tidaklah sempurna. Kehadiran Train mengubah segala impiannya, masa peralihan remajanya menjadi seorang wanita dewasa, memaksanya menjadi seorang Ibu. Kekecewaannya pada sosok pria yang ditemuinya di Pretoria, semakin menjadi jadi saat mengetahui dirinya hamil.


Pria pertama yang memperkenalkannya pada Kisah yang manis dan pria itu jugalah yang memperkenalkannya pada Luka. Cinta yang bersahabat dengan Luka. Karena Leyka dari kecil sangat berdekatan dengan Luka dan segala bentuk penindasan. Karena itulah hatinya membentuk cangkang yang sangat keras, namun Pria itu dan hanya dia yang mampu memecahkannya. Valentino Gallardiev.


Bermusim lamanya, Damian datang membawa udara segar. Dari sebuah persahabatan yang berkhianat menjadi percintaan. Bagai angin di musim semi, kehadiran Damian mencair salju di musim dingin.


Penolakan Train mengubahnya menjadi wanita yang bijak dalam membangun hubungannya, Train membawa kebahagiaan dan sekaligus menjadi benteng, gairah dan hasrat hidupnya di usia yang masih terbilang muda.


"Berpikirlah-- Apakah masih ada yang harus kita perjuangkan. Kau bahkan tidak mengatakan kau merindukan Train. Dan Train benar, kau hanya mencintaiku" Leyka memandangi mata Damian dengan matanya yang berkaca kaca, ia menepis perlahan tangannya dari pipi Damian.


"Baby, sudah pasti aku merindukannya" Leyka menyeka sudut matanya, ia menjauh selangkah kemudian membalikkan tubuhnya, kemudian ia mamalingkan wajahnya kearah samping, ia tidak sanggup melihat Damian lagi.


"Kau tidak bertanya kabarnya?"


"Apa dia baik baik saja?" Damian semakin kebingungan, ia terlalu fokus dengan Leyka sehingga melupakan Train.


"Kau cari tau sendiri saja. Kalau kau masih perduli dan menganggap kami ada. Tapi, jika kau memang ingin meninggalkanku dan Train, katakan saja secara baik baik. Bukan seperti ini. Aku tahu, mungkin aku dan Train hanya menjadi bebanmu saja. Dari kecil aku selalu berpijak pada kakiku sendiri dan sekarang-- aku pun bisa melakukannya tanpamu" Leyka melangkahkan kakinya dengan menyeka pipinya, ia kemudian menegakkan kepalanya.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Damian dari kejauhan.


"Apakah itu penting?" Leyka berhenti sesaat tanpa menoleh.


"Leyka-- Damian melihat tangan Leyka mengepal ia tidak sanggup lagi meneruskan perkataannya, ia mengenal Leyka bukan hanya 11 hari, akan tetapi bertahun tahun, ia mengetahui dengan pasti Leyka sangat terluka.


"Pulanglah, karena Train menungguku" Leyka meneruskan langkahnya tanpa menoleh.


"Aku merindukanmu!" pekik Damian dan Leyka terus berjalan menghilang di rimbunnya pepohonan di taman Casa De Miel.


"Leykaa!" Suara itu masih sayup terdengar di telinganya. Leyka sangat kecewa, ia seperti kehilangan sandaran. Kekasih dan juga Sahabat laki laki yang paling dekat dengannya selain Diego dan juga Henry.


Suara Damian yang memenuhi kepalanya lenyap dan tergantikan suara cekikikan anak kecil yang terdengar terbungkam disertai bisik bisik, Leyka menghentikan langkahnya saat tiba di depan air mancur, itu tandanya ia tidak jauh menuju lobby Apartemen Casa De Miel. Ia mengenal suara itu. Leyka mengedarkan pandangannya dan ia tidak menemukan siapapun, namun bau parfum Armany begitu menyengat, Leyka mengerutkan alisnya.


"Kalian! Keluarlah! Aku tau kalian disini! Dasar penguping!" Dan dari arah kiri, dibawah pohon dengan semak semak tanaman pagar, dipinggir kolam dengan air mancur, kepala Train muncul terlebih dahulu dengan menggigit jari telunjuknya dan melebarkan senyumnya, diiringi Valentino yang tersenyum meringis kearah Leyka yang bersedekap dan mendengus berulang ulang. Kesedihannya berubah menjadi kekesalan.



"Kita ketauan, karena kau terus tertawa" kata Valentino sambil menggendong Train.


"Aaahahaha-- kumismu membuatku geli Uncle, kau terus menciumiku dan aku mencoba membuat wajahmu tidak tegang! Melihat Mommy dan Damian-- Aahaha, Uncle sangat lucu Mommy" Train tertawa dan berbicara dua arah dengan menepuk nepuk pundak Valentino, jari telunjuknya tidak lepas dari mulutnya. Train sangat suka menggigit jarinya, ia seperti menahan adrenalinnya.


Terlalu senang secara berlebihan, terkadang Leyka melakukan berbagai macam terapi pengalihan. Seperti membuat kue, mengajaknya berkebun di balkon atau mencuci baju di tempat pencucian baju umum yang terdapat di semua apartemen yang menjadi fasilitas umum. Walaupun ada mesin cuci di apartemennya, terkadang Leyka mengajak Train sesekali untuk menyalurkan adrenalinnya yang meledak ledak. Karena bila tidak, Train akan marah marah tanpa sebab.

__ADS_1



"Kalian menguping? Kalian membuatku bertambah kesal!" ujar Leyka kembali berjalan menuju lobby apartemen.


"Tadi Uncle kesal dan sekarang Mommy kesal! Uhhs!"


"Kalian tidak sopan! Ide siapa ini, hah?!" Leyka menghentikan langkahnya dan seketika membalikkan tubuhnya.


"Dia" keduanya menjawab secara bersamaan namun mereka berdua saling menunjuk, Valentino menunjuk Train begitupun sebaliknya. Leyka menggelengkan kepalanya dengan kesal lalu kembali meneruskan langkahnya.


"Kau yang memintanya mengikuti Mommymu, kau yang memaksa" ujar Valentino mencubit hidung Train dengan gemas.


"Karena Uncle mengatakan padaku, sepasang kekasih banyak tergoda di malam hari. Dengan suasana tenang, suasana remang remang, air kolam yang gemericik. Itu suasana romantis" Valentino mendelik kearah Train lalu dengan hidung dan bulu bulu di disekitar mulutnya ia menggesek gesekkannya di dada Train hingga Train kegelian penuh tawa dan menjerit jerit.


"Noooo Uncleeee!!" jeritan dan tawanya melengking di taman itu.


"Jadi kau memanfaatkan Putraku, Gallardiev!!" kata Leyka dengan ketus. Leyka kembali menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


"Si si si (iya)" Ujar Train penuh semangat.


"Aku hanya bercerita kisah romantis sepasang kekasih. Banyak pasangan kekasih tidak hanya dirimu!" Valentino tak kalah ketus karena ia terbakar cemburu.


"Uhhs! Uncleee-- Train mencubit kedua pipi Valentino dengan kedua tangan mungilnya, Train sangat gemas --Uncle bertanya siapa yang akan menjaga Mommyku! Karena itu aku minta menyusul Mommy! Uhhss!" dan Valentino terbahak melihat ulah Train kepadanya. Dalam hatinya pun kekesalan Leyka sedikit memudar melihat kedekatan Train dan Valentino.


"Hahaha aku hanya bertanya lalu dimana salahku?"


"Kalian benar benar keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan! Kalian tidak tahu malu! Kalian tidak punya sopan santun!" gerutu Leyka kembali berjalan dengan menghentak- hentakan kakinya.


"No Mommy! Aku sangat sopan! Aku Red Velvet! Dan aku bangsawan-- Mommy jangan marah padaku, aku sedang sakit Mommy" Leyka menghembuskan nafasnya dengan kasar, suara mungil Train membuatnya luluh, walaupun ia tau Train hanya berakting agar ia kasihan padanya. Leyka menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya lagi.


"Kita sama, aku juga Red Velvet. Uangku lebih banyak dari bangsawan. Karena hidup mewah itu menyenangkan!" ujar Valentino dengan menciumi pelipis Train. Ia mulai terbiasa.


Leyka bertambah tambah rasa kesalnya karena mereka berdua mengakui diri mereka adalah Red Velvet. Karena susah payah Leyka mendidik Train dengan naluri Red Velvet yang melekat karena Valentino menurunkan hampir seluruh sifat yang bertentangan dengan dirinya.


"Jadi kau sakit? Lalu mengapa kau keluar malam malam! Sudah tau kau sakit!-- Dan kau Red Velvet Basi! Kau tidak boleh membawa anak asma berlama lama di bawah pohon di malam hari! Dia bisa lemas! Pepohonan melepaskan karbon dioksida untuk respirasi!" dan Leyka berhasil membuat Valentino panik dan diliputi ketakutan.


"Ohh No Boy! Kau harus menghirup inhalermu!" Dengan cepat Valentino menurunkan Train dan mengambil inhaler yang berada di saku celananya ia langsung menyemprotkan ke dalam mulut Train. Leyka menghentikan langkahnya dan menoleh, ia tersenyum tipis.


"Solo dos veces (dua kali saja)" ujar Train sambil menjulurkan lidahnya disekitar mulutnya, Valentino kembali menggendongnya.


"Mommy, jadi benar kan Damian hanya mencintaimu. Dia tidak merindukanku. Aku selalu memikirkan Damian, mengapa dia tidak menemui kita" Leyka kembali menghentikan langkahnya.


"Bukankah kau senang Mommy bertengkar dengannya? Bukankah itu tujuan kalian?" tanya Leyka dengan mendengus.


"Si!-- jawab Valentino nyaris bersamaan namun bertentangan dengan Train --Karena dia tidak pantas untukmu! Dia tidak pantas menjadi Ayah Train! Mau maunya kau dipeluk peluk, di cium cium tanganmu! Bisa bisanya kau menghitung 10.080 menit dengan cepat! Sama sekali tidak romantis! Dia pecun*dang! Untuk apa dia menghindarimu?! Sadarlah dia sudah bosan denganmu! Dia sudah tidak merindukan Train! Dia tidak perduli pada Putramu! Untuk apa kau pertahankan hubungan yang tidak mungkin?!" perdebatan itu, membuat Train senang. Train sangat unik, dia menyukai perdebatan orang dewasa. Dia seperti melihat sebuah pertunjukkan.


Ini sangat seru!!! Batin Train melonjak.


"Tidak mungkin?! Kenapa tidak mungkin! Aku melalui banyak hal dengannya! Dan semuanya manis!" ujar Leyka dengan mendengus ia kembali meneruskan langkahnya dan Valentino semakin kesal dibuatnya.


"Hahh manis? Bagaimana kau bisa menjalani hubungan dengan laki laki yang Putramu tidak bisa menerimanya! Jadi itu tidak mungkin terjadi! Manis Manis Manis-- Itu hanya untukmu tapi tidak buat Train! Kalau kau bersatu dengannya kau hanya akan menciptakan neraka! Train hanya akan menjadi Leyka kecil! Apa kau tidak menyadarinya?! Huhh!" Leyka merasa tersentil dan lagi lagi ia menghentikan langkahnya dan mendelik kesal.


"Mommy jangan sakiti Damian karena Damian mencintaimu dan Mommy tidak" dan setan cilik itu ikut terpancing dalam perdebatan. Tangannya mulai mencari rambut Valentino yang panjang dibagian belakang lalu memainkannya dengan memutar mutar jari telunjuknya, hingga rambut ikal Valentino melilit di jarinya. Valentino terbiasa menggunakan foam pada rambutnya agar mudah diatur, akhirnya Train membuat rambut Valentino berdiri tegak tapi sangat kusut.


"Karena Cinta tidak penting, Train!" kata Leyka dengan lantang.


"Nooo!! Mommy tidak akan bahagia! Aku tidak akan senang dan Damian juga tidak! Kita nanti tidak akan senang! Damian hanya mencintaimu! Dia tidak menjengukku! Dia berubah!" Train tak kalah lantang.


Valentino merasa senang, dengan menunjukkan wajah kemenangan dan Leyka sangat kesal dengan wajah itu, rasanya Leyka ingin mencakarnya.


"Lalu Mommy haruss bagaimanaa?! Dia memberi banyak kebahagiaan selama ini! Katakan Mommy harus bagaimana?!" Leyka semakin lantang dengan nafas mendengus kasar.


"Diaammm!! Jangan membentak Trainn! Jangan pernah membentaknya hanya karena laki laki payah itu!" Valentino mendahului langkah Leyka dengan kesal, sementara Train justru menjulurkan lidahnya ke arah Leyka. Train senang ia merasa dibela, ia merasa nyaman hingga ia merebahkan dagunya di pundak Valentino.


Tapi entah mengapa hati Leyka menghangat seketika, ia justru terpesona dengan sikap Valentino yang tanpa sadar membela Train. Leyka mengaguminya, satu hal yang tidak pernah Leyka temui di diri Damian. Dari belakang ia mengembangkan senyumnya karena itulah Train menjulurkan lidahnya.


Shittt! Dia belum tahu Train putranya, dia sudah bersikap seperti itu!! Apalagi kalau dia tahu! Ohh Shitt! Raja Setan itu akan sangat mengerikan.. Menyebalkan sekali..


"Apa seperti ini bila kau cemburu?!" tanya Leyka dari belakang.


"Siii (iya)!" jawab Train, dengan berseru.


"Iyaaa!! Eh Tidaakk!" Jawaban Valentino spontan lalu ia meralatnya, Leyka tersenyum tipis. Valentino menghentikan langkahnya dengan wajah memerahnya karena kesal. Hatinya benar benar terbakar malam itu.


"Aku memegang jawaban pertama-- Bilang saja kau cemburu" dan Leyka tetap berjalan melewati Valentino dengan santai. Ia bisa tersenyum kembali pada akhirnya.


"Heii Heii-- Untuk apa aku cemburu?! Dia tidak sebanding denganku! Dia berkaki pendek! Lembek! Terlalu lembut seperti Marikita (banci)! Dia tidak tampan! Dia tidak bisa dipercaya! Dia membohongimu! Kau tidak pantas untukmu!" Leyka justru hanya menahan tawanya, saat mendengar gerutuan Valentino sepanjang lobby menuju lift, tetangga di hunian itu yang masih berlalu lalang, memandang Valentino dengan menggelengkan kepala, suaranya menggelegar memenuhi lobby itu.


"Lalu siapa yang pantas untukku?" Leyka mendekatkan dirinya dihadapan Valentino saat memasuki lift dengan tangan bersedekap dan memiringkan kepalanya.


Lift itu membawa mereka ke lantai 7. Wajah Leyka yang begitu menantang, Valentino menjadi gugup seketika, ia berdebar debar dan tidak bisa menjawab. Namun Train cekikikan dengan mengangkat tangannya keatas menunjuk nunjuk kepala Valentino dari belakang agar Valentino tidak melihatnya. Leyka menahan tawanya melihat Valentino diam dengan wajah memerah.

__ADS_1


Shitt!! Beraninya dia mempertanyakan itu di depan Train.. Tentu saja aku! Bodoh.. Dasar wanita siluman. Gerutu Valentino dalam diam.


Mereka pun sampai di lantai 7, seperti pasangan keluarga yang harmonis, Valentino menggendong Train dan Leyka berjalan disampingnya dengan berpegangan tangan Train.


"Uncle, Gracias untuk malam ini. Buenas noches, (selamat malam; Spanyol), Uncle" ujar Train, lalu ia mengecup manis pipi Valentino, Leyka menekan bel agar Manuella atau Diego membukanya.


"Oh so sweet-- Buenas noches (selamat malam) Boy" setelah Valentino membalas mengecup manis dikening, Train merentangkan tangannya kearah Leyka dan Leyka menyambut dalam gendongannya.


"Ehh, sebentar-- Uncle, mau menciummu lagi" Valentinopun menciumi Train berulang ulang dengan mendorong wajahnya sedikit demi sedikit kearah Leyka. Valentino mencari lengah Train yang kegelian dengan ciumannya. Saat pipinya bergesekan ke pipi Leyka, Manuella membuka pintu dan Leyka mendorong wajahnya menjauh, dengan mendelik.


"Apa? Jangan berprasangka, kau pikir aku mau mencium wanita siluman? Jangan terlalu percaya diri"


"Pipimu mengenai pipiku!" kata Leyka seraya menendang kaki Valentino, lalu ia menurunkan Train dan Manuella menyambutnya dengan menggelengkan kepalanya. Valentino meringis.


"Cuci kaki dan tanganmu lalu gosok gigimu! Jangan mengunci pintu kamar mandi" ujar Leyka memiringkan kepalanya kearah Valentino.


"Si Mommy Mommy.. Si Mommy Moommy" Train berlarian dengan riang, Manuella mengikutinya dari belakang.


Ahh manis sekali anak itu.. Rasanya aku ingin meniduri Mommynya.. Eiishh.. Shiitt! Kacau sekali pikiranku..


"Kalau kau tidak suka pipiku bergesekan, lalu kembalikan! Ayo! Cepat kembalikan!" Valentino menyodorkan pipinya, dengan trik kotor. Leyka menahan senyumnya.


"Noo! Karena ciuman Damian ditanganku, bisa menghapus jejak pipimu!" Leyka buru buru masuk dan menutup pintunya.


BLAMM!!


"Wanita Siluman, dasar!"


"Raja Setan!" Leyka membuka pintunya dan menutupnya lagi.


Valentino sangat kesal, Ia meluapkannya dengan meninju ninju angin di depan pintu Leyka lalu melakukan gerakan menendang nendang, dengan kesal. Ia tidak sadar Leyka masih melihatnya melalui Lubang Intip, Leyka membuka pintunya kembali saat Valentino melakukan gerakan menendang. Valentino terkejut bukan kepalang. Hingga celana kerjanya yang ketat yang membalut kakinya yang panjang mengeluarkan suara khasnya.


BREEEETTT!!


Valentino membulatkan matanya begitu pun Leyka namun hanya berlangsung dua detik kemudian Leyka meledakkan tawanya. Ia tertawa terpingkal - pingkal.


"Hahahahaha-- Kau sudah tua jangan banyak tingkah, Val-- Hahahahaha" Leyka tertawa lepas. Selepas beban hati yang selalu dipikulnya, untuk pertama kalinya ada seseorang yang membuatnya tertawa sampai lupa diri, dan seseorang itu justru si Pembuat Luka.


"Shittt! Celanaku!!" Gumamnya dengan menutup celananya dengan kedua tangannya. Ia semakin geram melihat Leyka yang tertawa hingga mengeluarkan air matanya, hingga ia lupa kalau ia berada di luar pintu dan pintu menutup secara otomotis.


Valentino menyeringai. Leyka menyadarinya. Valentino mendekatinya dengan tatapan tajam, dengan seringaiannya yang membuat tawa Leyka terhenti seketika. Leyka merinding, hawa disekitarnya serasa dingin. Leyka tahu, Valentino pasti akan melakukan sesuatu kepadanya.


"Oohh Shiitt!!" Dengan cepat Leyka membalikkan tubuhnya dan tangannya segera meraih bel pintu namun tangan Valentino terlalu cepat menangkap dan menariknya ke samping pintu dan itu adalah dinding. Kedua tangan Leyka di tarik ke atas dan ditekan pada dinding, Valentino menghimpitnya kemudian.


"Ayo tertawalah Leyka Paquito Fernandez Felipe! Karena tawamu membuatku sangat sangat-- Valentino mendekatkan bibirnya ke telinga Leyka --Teeraang*ggssaangg" Leyka membulatkan matanya, bisikan Valentino seketika membuat hatinya berdesir desir sehingga memacu detak jantungnya.


"Val-- Val.. Ayo kita berdamai saja ya-- Dan jangan macam macam atau aku akan berteriak"


"Berteriaklah, karena aku akan menghapus jejak Damian dari tanganmu dengan ini" Leyka membulatkan matanya, saat tangan Valentino mengarahkan tangannya pada Jagung Bakar Afrika Selatan, walau terbungkus underwear Leyka bisa mengingat sesuatu yang bervolume dan menggairahkan.


"Val--


"Berteriaklah, kau tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini, Nyonya Gallardiev" Bisik Valentino sangat menggoda.


"Ohh Shitt!" gumam Leyka dengan menelan salivanya. Valentino menyeringai dengan tatapan tajamnya. Sesuatu didalam diri Leyka mulai bergejolak dan berlarian menyerang pangkal pahanya, Leyka justru memiringkan kepalanya dan Valentino menyerang bibir sensual itu.


Valentino melu*mmatnya, menyapu setiap sudutnya dan tak di sangka lidah Leyka melesak kedalam rongga mulut Valentino lalu menangkap lidah pria 11 harinya itu lalu mulai menyesapnya dengan ganas, Leyka mencengkeram milik Valentino dan khayalannya terbang ke masa itu. Pretoria.


Namun seseorang membuka pintu, Leyka mendorong tubuh Valentino sekuat tenaga dan Valentino dengan cepat mengambil kuncinya, ia juga menyadari kehadiran seseorang.


"Kau juga tidak akan bisa tidur malam ini" ujar Leyka. Valentino tersenyum dengan menggigit bibirnya.


"Mommy Mommy-- kenapa tidak masuk dari tadi" tanya Train mengedarkan pandangannya dan Leyka menghalanginya.


"Ayo masuk, Mommy melakukan gencatan senjata, dengan Uncle" Leyka menghadang pandangan Train. Kepala Train terus kesana kemari mencari celah agar ia bisa melihat ke arah pintu Valentino.


"Kenapa itu celana Uncle?" Train celingukan dan Leyka mengumpat dalam hatinya.


"Memang modelnya seperti itu" ujar Leyka datar.


BLAAMM!


BLAAMM!


Pintu merekapun tertutup!


Dan menyisakan jantung mereka yang berdetak cepat.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2