FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Aku Si Pria Tampan


__ADS_3

"Pi.. Pi.. No.. Kio.. Kau kah itu?" Leyka justru menempelkan bibirnya ke bibir Valentino yang setengah terbuka. Jemari Leyka basah karena airmata Valentino, di ambang kesadarannya di kacaunya pikirannya, hati Leyka yang kalut juga resah mulai memiliki keyakinan bahwa itu adalah Valentino, hidung itu Leyka sangat mengenali.


"Ley, ini aku-- Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu" bisik Valentino membuat matanya menghangat, bahkan berulang kali ia menelan salivanya.


"Pulang..lahh.. Ke.. Rumah.. Kakek.. Geppeto" ujar Leyka dengan ceracuannya di iringi airmatanya, lalu Valentino menyekanya.


"Leyka, maafkan aku.. Ley.. Ini aku.. Kau mengenaliku?" tanya Valentino dalam bisikannya.


"Val-- Mengapa.. Kau.. Kembali..?" Leyka menusuk nusuk pipi Valentino, kedua jemari tangannya memenuhi wajah Valentino, layaknya orang buta yang meraba agar mengenali wajah itu.


"Karena kau adalah Milikku, Kau Istriku" bisik Valentino


"Hahaha.. Kau.. Pecu*ndang.. Kau.. Pinokio.. Yang takut.. Miskin.. Takut lapar.. Karena roti.. Tanpa butter.. Tidak membuatmu.. Kenyang.. Kauu.. Kauu membuatku.. Membencimu" Valentino berurai airmata mendengar ceracauan itu, ia sangat sedih, hatinya kian tersayat. Ada rasa penyesalan terdalam dari lubuk hatinya.


"Jadi.. Karena itu?" Valentino kian berbisik lirih, Ia memandangi wajah Leyka yang matanya sesekali terbuka, sesekali tertutup.


"Aku.. Aku milik.. Damian.. Kau milik ja*lang itu! Kau.. Kau.. Pulanglah"


"Tidak! Dari awal kau milikku dan aku milikmu! Kau istriku!" Leyka hanya manggut manggut dengan tawa mabuknya.


Saat Valentino menekan tengkuknya, Leyka menyusupkan jemarinya ke rambut kehitaman ciri khas pria Italy itu, lalu Leyka berhenti tertawa. Ia membuka matanya dan memiringkan wajahnya. Kemudian mereka saling berpandangan dengan nafas saling memburu.


"Pinokioo!" lirih Leyka dengan penuh penekanan, dengan dada bergemuruh.


"Peach!" dan satu tarikan nafas Leyka membuat nafas Valentino seakan terhenti. Leyka melu*mat bibirnya dengan mere*mas rambut hitam itu, Valentinopun memeluk Leyka seerat eratnya. Airmata Leyka menuruni sudut matanya, ia seperti berada di Pretoria setelah perpisahan itu dan ia seakan bertemu kembali di Barcelona. Di alam bawah sadarnya ia terus mengatakan kerinduannya.


Aku merindukanmu, Val.. Sangat merindukanmu.. Kau kemana saja.. Aku menantikanmu, hingga musim demi musim selalu berganti..


Dan Valentino menyambutnya, Ia menekan tengkuk Leyka dan satu tangannya menekan punggung wanita Spanyol yang selalu ia cari sosoknya pada wanita manapun di kencan butanya, namun tak satupun ia menemukannya.


Valentino melu*matnya dengan penuh kerinduan. Ini adalah mimpinya, ini adalah harapannya saat ia datang ke Barcelona dengan sebuah hadiah. Walaupun kenyataannya ia tidak menemukan Leyka di Casa De Miel, Leyka justru berada di Palma saat itu. Rasanya seperti kemarin, Valentino berdiri di Distrik Meil 8 tahun yang lalu.


Ley, tinggalkan Damian.. Tetaplah bersamaku.. Aku tidak perduli sejauh apa hubungan kalian.. Tapi kau adalah milikku.. Hanya milikku.. Karena kau adalah Istriku..


Seperti peraturan nomor 7 yang dibuat oleh Leyka, mereka dibuang di padang gurun yang gersang namun menemukan jernihnya air kolam, mereka melampiaskan kerinduannya.


"Pinokio.. Uhmm.. Pinokio" desis Leyka disela luma*tan panasnya.


"Iya Ley, ini aku.. Ughm, Pinokiomu" balas Valentino sambil melu*mat bibir sensual yang selalu menghiasi benaknya selama 8 tahun lamanya.


Leyka mengangkat satu kakinya hingga menaut dipinggang Valentino. Dan Valentino mendorong perlahan tubuh Leyka lalu menghimpitnya di pepohonan di taman itu, diantara temaramnya lampu tangan mereka saling merayapi wajah yang mereka dambakan. Dan sesaat Leyka melupakan Damian juga Train.


"Aku merindukanmu, Leyka" bisik Valentino, sambil menyingkirkan rambut Leyka yang mengganggu leher Leyka, ia membelainya dengan lembut leher bak pualam. Lidahnya terus menari menghisap lembut dan menekan tengkuk leher wanita Spanyol itu.


"Uhm.. Pinokio.. Aku.. Merindukanmu.. Shh.. Aku merindukanmu" desah Leyka lirih disela ia mengambil nafas yang seakan direnggut oleh Valentino. Desahan yang memabukkan jiwa Valentino, desahan yang mengganggu tidurnya selama 8 tahun dan kini ia mendengarnya seakan tak percaya.


"Aah.. Il mio amore (cintaku; Italy)" panggilan itu, menyeruak di telinga Leyka, dan memanaskan ciuman itu.


"Sshh.. Mi amor (cintaku; Spanyol)" dan perlahan Valentino terbakar mendengar rintihan Leyka. Jantung berdetak semakin tak terkendali.


Tak terasa tubuh mereka kian menghangat, mereka berciuman dan melepaskan kerinduan, tangan Leyka mulai nakal menekan dan memberi pinjatan sensual di dada Valentino. Ia melepaskan tautannya dan menikam leher Valentino, lalu tangannya menjalari perut Valentino.


"Aaarghh.. Sshh.. Ley" Dan tangan kekar Valentino menelusup menjalari punggung Leyka dengan rintihan mendamba, ia kembali bertekuk lutut dan melupakan kesombongannya.


"Uhhmm.. Val" Dua tanda kepemilikan tersemat di leher Valentino, Leyka melupakan segalanya, ia hanya mengingat aroma maskulin yang membuatnya semakin menggila.


"Ley.. Jangan melakukannya disini-- Kau mau aku Ley? Ley, aku milikmu dan kau milikku-- Ohh Shit Leyka, jangan disini il mio amore (cintaku)" bisik Valentino menahan dirinya. Leyka menghisap lehernya dan Valentino membiarkannya.


Saat dada Leyka mendarat di dadanya, Valentino hanya bisa menelan salivanya, perlahan ia menyentuh lalu merabanya, walaupun terbungkus pakaian yang di membalutnya, Leyka bisa merasakannya dan Leyka justru meraih tangan Valentino agar mendarat di bokongnya. Leyka bisa merasakan betapa kerasnya milik Valentino, menekan miliknya.


"Aku merindukanmu.. Uhm.. Kau pinokio kan.. Kauu.. Bukan.. Damian.. kan" Valentino terkejut mendengarnya, ia mengerti Leyka mabuk, ia mengerti Leyka meyakinkan dirinya, siapa yang berada dihadapannya.


Apakah aku harus membawamu ke Hotel? Ohh tidak tidak.. Aku tidak mau bercinta denganmu dalam keadaan seperti ini.. Aku tidak mau Ley.. Ini kesalahan.. Aku bukan baji*ngan dan memanfaatkan keadaan mabukmu..


"Aku Valentino-- Aku pinokiomu.. Ingatlah ini Leyka" Valentinopun kembali menangkupkan kedua tangannya, meraih rahang Leyka dan diarahkan ke wajahnya, dengan memiringkan kepalanya Valentino menyesap bibir Leyka, melu*matnya dan menghi*sap lidahnya. Leyka membuka matanya, ingatannya seakan terbang ke sebuah kamar di kereta api The Blue Train. Dimana kisah cinta itu dimulai, dimana ciuman itu berhari lamanya selalu bersamanya. Leykapun justru kembali menangis. Dan Valentino kembali menyekanya, ia bisa merasakan hangatnya airmata Leyka. Valentino kembali berkaca kaca.


"Uhhmm.. Val" bisik Leyka dan Valentino melepas tautan bibirnya, lalu memandangi wajah Leyka lekat lekat.


"Kau mengingat ku, Ley?" tanya Valentino dengan mata yang memohon, dengan airmata yang mengalir perlahan.


"Uhhm-- Leyka ingin menjawab namun perutnya seakan diaduk aduk dan ---Hooeeekk!" Leyka mendorong tubuh Valentino dan membungkuk kearah kesamping.


"Ohh Shit! Untung kau tidak mengenaiku!" Valentinopun memegangi tengkuk Leyka dan setelah selesai Valentino menggendong tubuh lemah karena alkohol itu. Ia membawanya ke Apartemen, tepatnya Apartemen Dolores. Valentino tidak ingin terjadi sesuatu pada Leyka dan ia tidak ingin melakukan kesalahan. Ia menjamin seratus persen Leyka akan berulah bila bersamanya dan ia bukanlah Malaikat yang bisa menahan dirinya.


Sepanjang jalan ia menciumi kening Leyka, menghirup aroma shampo yang Valentino rindukan, yang menemani hari harinya di Pretoria. Sesampainya di Apartemen Dolores di lantai 1, Valentino mengetuk pintu sambil menciumi kening, mata dan hidung Leyka yang tertidur di dadanya dengan penuh perasaan.


Dolores mengintip adegan itu dari lubang pintu Apartemennya, lubang kecil yang terdapat kaca cembung di semua pintu untuk melihat dari arah dalam. Dolores terkejut bukan kepalang, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Antara bahagia ataukah sedih, karena laki laki yang menggendong Leyka bukanlah Damian, melainkan laki laki yang di lihatnya pagi tadi di Double P.


Aku tidak salah, dia pasti orangnya.. Train, surat cintamu untuk Tuhan, telah dibalas.. batin Dolores.

__ADS_1


Ketukan pintu itu, membuyarkan lamunan Dolores lagi, iya mengatur nafasnya dan mengusap dadanya lalu membukakan pintu.


"Maaf mengganggu malam anda, Nyonya. Aku yakin ini keponakan anda. Aku tidak tahu membawanya kemana, aku membawanya kesini. Aku takut terjadi apa apa padanya" ujar Valentino dengan gugup. Dengan tersenyum Dolores membuka pintu lebar lebar lalu menyuruh Valentino masuk.


Bagaimana dia tahu tempat tinggalku. tanya Dolores dalam hatinya.


"Letakkan saja di kamar ini-- Maaf, apartemenku masih berantakan, aku baru saja pindah dari lantai 7" kata Dolores tergopoh gopoh dan membuka pintu kamar, lalu Valentino meletakkan tubuh Leyka diranjang. Tangan Leyka menaut kuat dan Valentino tersenyum canggung melihat kearah Dolores.


"Ley, kau sudah sampai ditempat yang aman" bisik Valentino sambil melepaskan tautan tangan Leyka yang melingkar di lehernya.


"Pino..kioo.. Kau.. Jahat" Valentino kembali tersenyum canggung kearah Dolores yang menyeka wajahnya, ia mudah menangis bila melihat kisah cinta keponakannya itu.


"Aku akan mengambilkan selimut" ujar Dolores ke arah almari dan mengambil selimut. Valentino melepas sepatu dan tas Leyka dan mengulurkan tangannya kearah Dolores yang telah berdiri dengan selimut di tangannya. Kemudian, Valentino menyelimuti tubuh Leyka.


Ia menyalakan pendingin ruangan dan di setelnya ke angka 23⁰. Dolores kini yakin, Valentino mengenal Leyka melebihi dirinya.


"Selamat tidur, Il mio amore (cintaku)" ujar Valentino sambil mengusap pipi Leyka lalu mengecup keningnya. Ia membiarkan Dolores melihatnya. Valentino kemudian keluar kamar dan berpamitan.


"Apa kau ingin minum kopi dulu?" Dolores menawarkan dengan sedikit canggung, setelah Valentino diambang pintu keluar.


"Tidak terima kasih, ini sudah larut malam, Nyonya Dolores" ujar Valentino dengan menyentuh dadanya dan menganggukkan kepalanya, cara pria bangsawan bersikap dalam menolak secara halus.


"Apa Leyka bercerita tentang ku?" tanya Dolores dengan tersenyum, ia mengingat Train saat Valentino berbalas tersenyum.


"Dia bercerita sekilas" kata Valentino masih dengan sikap canggung, ia mulai resah dan ingin cepat menghilang dari interograsi Dolores, dan Dolores bisa membaca sikap itu.


"Baiklah aku tidak ingin menahanmu lebih lama-- Aku tau kau pria Italy yang bersamanya 8 tahun yang lalu di Pretoria, panggil aku Tia Dolores. Dan terima kasih telah mengantarkan Leyka pulang. Aku sangat menghargai sikapmu. Dan bila ada waktu, sempatkan dirimu ke Gereja. Temui Pastor Gilberto, sebut saja Dolores Fernandez menyuruhmu kesana" Valentino tersentak dengan perkataan Dolores, ia tidak menyangka bahwa Dolores tau tentang dirinya 8 tahun yang lalu.


"Aku-- Aku akan menyempatkannya. Aku tidak mengira Leyka akan bercerita tentang aku" kata Valentino dengan hati berdebar tak karuan.


"Siapa namamu?" tanya Dolores dengan mata berkaca kaca.


"Valentino Gallardiev, semua orang memanggilku Gallardiev-- Saya permisi, Tia Dolores" ujarnya membuat Valentino memiliki perasaan tidak enak. Valentino tidak menyangka keluarga Fernandez terutama Dolores bisa menebak bahwa ia bersama Leyka di Pretoria. Pikiran Valentino dipenuhi jutaan tanya.


Leyka apa kau menceritakan tentang kita? Mengapa wajah bibimu sedih? Apa yang terjadi Leyka.. Apa yang terjadi denganmu.. Kau masih mengingat permintaanmu padaku.. Saat salju pertama turun di Barcelona.. Leyka.. Apa yang kau sembunyikan dariku.. Mengapa aku sangat sedih melihatmu tadi.. Sepertinya aku harus menyelidikimu lebih dalam.. Sepertinya ada misteri selama 8 tahun, aku bisa melihat dari tatapan mata Bibimu.. Leyka.. Ohh Shit! Mengapa perasaanku tidak enak..


-


-


-


Dan di ruang kamar yang masih berantakan, Leyka tidur di apartemen Dolores dan Valentino tidur di apartemen barunya di lantai 7. Kegaduhan membangunkan mereka, siang itu. Leyka terbangun karena semua keluarga Fernandez datang membantu menata ruangan Dolores dan kicauan Dolores yang memarahi pasukan keluarga Fernandez yang meninggalkan Leyka sendirian ditambahan amukan Train yang tidak dijemput oleh Mommynya.


Hmmpht.. Mengapa aku sangat bodoh.. Shitt.. Apa yang ada di dalam pikirannya? Pasti dia sedang menertawakan ku hingga kepalanya mengeluarkan tanduk iblis.. Aku ingat nafsumu kebuasanmu.. Tapi kau menahannya dan tetap tidak berbuat terlalu jauh denganku.. Berbeda saat di Pretoria.. Kau justru mengantarku di Apartemen Tia Dolores.. Kau tidak memanfaatkan keadaan saat aku mabuk.. Tidak seperti Damian, dua tahun yang lalu.. Ahh, saat itu aku sangat kacau.. Semua karena foto itu, Elara Miuccia.. Val, mengapa kau ke Barcelona dan meninggalkan Putrimu.. Hmm.. Bagaimana Train menghadapinya, bila mengetahui tentang ini.. Rebecca, mengapa kau mengizinkan Valentino ke Barcelona.. Apa yang terjadi.. Aahh semalam itu benar benar kacau! Shitt.. Aku bodoh sekali.. Batin Leyka yang merutuki dirinya sendiri.


Sementara Valentino terbangun karena pertengkaran Leyka dan Train, anak itu mengamuk di sepanjang lorong apartemen di lantai 7 dan tanpa sengaja melempar sepatunya dan mengenai pintu tetangga baru dan itu adalah Valentino, hingga menimbulkan suara yang begitu keras, karena itulah Valentino bangun dan mengintipnya.


Hai Istriku selamat siang.. Ahh wajahmu itu, wajah bangun tidur aku merindukannya.. Dan kau setan cilik! Kau nakal sekali.. Kau mengganggu tidurku.. Kepalaku sampai pusing karena kau mengejutkanku..


"Ambil sepatumu Train!" kata Manuella membuat Train menurut, saat mengambil sepatunya ia melihat bayangan kaki mendekati pintu.


"Hei Senor (tuan) Sergio! Maafkan aku! Aku tidak sengaja!" Pekik Train masih dengan kesal.


"Train kau tidak boleh berkata kasar! Ayo bicaralah yang baik! Ulangi!" pinta Manuella dan Train kembali menurut. Sementara Leyka masih mencari kunci Apartemennya di tas.


"Senor (Tuan) Sergio, Lo siento (maafkan aku; Spanyol). Perdonami (maafkan aku; Italy) Aku tidak sengaja. Aku marah pada Mommy dan aku melempar sepatuku ke pintumu-- sudah Ibu" kata Train pada pintu dan pada Manuella dengan lemah lembut.


Leyka, kau mengajarkan bahasa Italy pada putra baptismu? Lucu sekali anak itu.. Dia sangat menurut pada Ibunya..


"Dia berdiri dibelakang pintu, tapi tidak mau menjawabnya" ujar Train kesal.


"Yang penting kau sudah meminta maaf Train, siapa tahu Senor Sergio tidak memakai alat untuk pendengarannya, mungkin saja dia Senor Sergio bisu" ujar Leyka masih mencari kunci di semua sela tasnya.


Shit Leyka! Kau mengatakan aku tuli dan bisu.. Shit!!


"No Mommy! Aku tidak mau bicara denganmu! No! Mommy tidak menjemputku! Mommy tidak pulang! Mommy mabuk! Tidak ada me time lagi!" pekik Train membuat Manuella memijat pelipisnya.


Hahaha.. Anak itu berani melawanmu, pantas saja karena kau Ibu Baptisnya, kehidupanmu sangat menarik Leyka.. Aku akan masuk perlahan dalam hidupmu.. Leyka, apa kau mau memaafkanku?


"Aku serahkan Putraku padamu, ambil alih dia Ley, sepanjang jalan dia terus berkicau dan marah marah karena kau tidak menjemput kami di bandara- Huufft" Leyka terdiam saat Manuella berkicau kepadanya, sesungguhnya ia masih pusing karena alkohol yang menderanya.


"Apa kau mencari ini?" tanya Diego dari kejauhan dan berjalan kearah mereka dengan menggoyangkan kunci ditangannya. Tangannya terlihat penuh dengan koper dan paperbag.


"Astaga Diego, aku mencarinya dari tadi"


"Kau selalu ceroboh, kau menjatuhkannya di kamar Tia Dolores" ujar Diego melempar kunci dan Leyka menangkapnya.


Apa kau ingat kejadian semalam, Ley. Valentino

__ADS_1


Leykapun berhasil membuka pintu dan semua memasuki ruangan kecuali Train. Ia masih bersedekap diluar pintu dan marah. Leyka meletakkan tasnya dan menghampiri Train.


"Mommy, mabuk Ayah! No me gusta (aku tidak suka)!" kata Train hampir menangis.


"Percayalah Mommy akan menyesalinya, kita akan menghukumnya!" ujar Diego mengacak tambut Train dan Leyka mendelik kesal kearahnya. Diego meletakkan koper dan menyerahkan Paperbag kearah Leyka.


"Aku membelikan dress Prada untukmu" ujar Diego lalu ia duduk dengan satu lututnya menumpu ke lantai.


"Wow Graciaass, Diego" kemudian Leyka mencium pipi Diego. Setelah meletakkan paperbag diruang tamu ia kembali menghampiri Train. Sementara Manuella telah menuju dapur menyiapkan makan siang yang telah dibelinya dari Madrid. Kalkun Panggang yang sangat terkenal disana dan dibawanya ke Barcelona sebagai buah tangan, mereka akan menyantapnya dengan kentang panggang dengan taburan oregano.


Mereka itu apakah three*some? Shit!! Hubungan macam apa ini.. Tentu saja mereka sahabat, memang apa yang aku pikirkan?! Shit, Leyka benar, aku terlalu berlebihan.. Entahlah hatiku terbakar melihat Istriku mencium laki laki lain..


"Ayo masuk, Carino (sayang)-- bagaimana kalau kita hukum Mommymu dengan frente a la pared (menghadap ke dinding)" bujuk Diego dan Leyka memukul lengan Diego.


"Pergilah, aku akan ambil alih Putra kita tercinta ini!" Leykapun mendorong Diego yang terkekeh, karena memberi ide pada Train hukuman frente a la pared. Diegopun berlalu dengan tawa dan menyusul Manuella ke dapur.


FRENTE A LA PARED, adalah sebuah hukuman di masa perang untuk pendisiplinan. Seorang prajurit yang melakukan kesalahan akan menghadap ke tembok berwarna putih. Hanya berwarna putih. Seorang Prajurit diharapkan merenungi kesalahannya, menemukan kesalahaannya serta menyadari kesalahannya dengan memandangi tembok berwarna putih. Hingga ratusan tahun berlalu, cara ini digunakan secara turun menurun kepada anak anak disana.


Leyka sering menghukum dengan frente a la pared bila Train melakukan kesalahan, hukuman itu lebih efektif dari pada memukul, karena anak akan bosan selama berjam jam didepan tembok, mau tidak mau ia merenungi kesalahan dan menyadarinya. Tapi tidak bagi Train. Ia terkadang justru tertidur menghadap tembok, hukuman itu kadang kadang tidak berlaku kepadanya.


"Mommy sangat merindukanmu, Carino (sayang)" ujar Leyka menyandarkan kepalanya kusen pintu dan menciumi tangan Train.


"No! Mommy está mintiendo (Mommy bohong)!" ujar Train dengan ketus namun ia membiarkan Leyka menciumi tangannya.


Leyka.. Kalian.. Kalian sangat manis sekali.. Dia sangat cocok menjadi anakmu, Ley.. Aku jadi ingin punya anak denganmu.. Shit! Apa yang aku pikirkan


"Salahkan Pedro, Mommy di tinggal pulang. Untungnya ada orang asing yang mengantar Mommy-- Tapi orang itu sudah tua, jelek, bau dan tidak tampan! Dia sangat baik dan membawa Mommy ke apartemen Abuela-mu (nenekmu)" Leykapun meletakkan tangan mungil itu di pipinya, dan menepuk nepukkannya, Train diam saja.


Shit Leyka! Ajaran sesat apa yang kau tanamkan padanya! Shit!


"Karena itulah aku tidak suka kau mabuk, Mommy. Kata Ayah alkohol akan membuat orang berciuman! Kau dan Damian menjadi kekasih karena alkohol! Sayang sekali orang itu tidak tampan, kalau tampan aku akan mengatakan pada Damian agar kau putus saja dengannya!" kata Train membuat Leyka terbahak dan Diego juga Manuella terdengar tertawa terbahak mendengarnya dari dalam.


Shit! Karena alkohol? Kau menjadi kekasih Damian karena alkohol? Shit!! Apa ini! Aku jelek! Bau dan tidak tampan? Aku tahu kau sengaja mengatakan pada anak itu agar anak itu tidak menyampaikan pada Damian.. Shit.. Aku harus bertindak.. Mudah sekali membuatmu berpisah dengan Damian..


"Hahaha-- Tidak Carino (sayang), semalam itu orangnya sangat jelek, tua dan sangat bau. Mommy muntah karena tidak tahan baunya-- Lo siento (maafkan aku), Mommy tidak akan mabuk lagi, sesedih apapun, Mommy akan mengingatmu Carino, karena dengan mengingatmu-- apa?" Leykapun meraih tubuh Train dan di peluknya.


Shit!! Aku tidak ingin muncul sekarang! Tapi kau membuatku emosi, Leyka!! Penyiksaanmu di mulai!! Kau menghinaku? Shit.. Dasar wanita siluman! Aku pikir kejadian semalam membuatmu berbaik hati kepadaku.. Ternyata kau benar benar membuatku kesal.. Baiklah aku akui aku kesal karena kau dan Damian menjadi kekasih karena alkohol? Shit! Apa yang terjadi dengan kalian! Shitt!!


"Si (iya) kesedihan Mommy hilang dengan mengingatku" Trainpun membalas pelukan Leyka dan Train menciumi pipi Leyka dan kembali bertanya "Apa kemarin Mommy bersedih?"


"Si (iya), tapi ini masalah orang dewasa" kata Leyka mematahkan keingintahuan Train, itu agar Train tidak bertanya terlalu jauh.


"Yang mengantarmu semalam, apa Mommy mengingatnya? Aku akan berterima kasih padanya" tanya Train sambil memainkan rambut Leyka, sesungguhnya itu yang membuat Train sangat rindu.


"No Carino-- Mommy hanya melihat sekali karena dia sangat jelek, wajahnya sangat buruk! Baunya membuat Mommy muntah, dia hanya kakek kakek tua yang baik hati! Tidak tampan sama sekali! Badannya sangat lembek" Leykapun menegakkan tubuhnya dan akan bangkit berdiri membawa Train masuk tapi suara pintu terbuka mengejutkan keduanya.


CEKLEK!!


DAN PINTUPUN DI BUKA!


"Apa orang sepertiku tidak tampan? Tua? Jelek? dan Bau? juga LEM BEK?-- Hai Boy! Aku yang semalam menolong Mommymu!" ujar Valentino, tanpa memakai baju dan hanya menggunakan celana tidur sampai semata kaki, ia berdiri menjulang tinggi dengan bersedekap.


Leyka membulatkan matanya, mulutnya terbuka hingga ia terduduk kembali memeluk Train. Ada rasa sakit di dadanya, semakin menikam kuat dan membuatnya sesak. Leyka seperti disambar kereta api hingga ia terhempas ber-mil mil jauhnya.



"Wooowww Mommy! Dia sangat tampan!!" dan Mata Train berbinar terang seperti mata pria yang berdiri dihadapannya.


Shit!! Dia Tetangga baru itu?! Ohh Shit! Ini tidak mungkin.. Apa rencananya.. kata Leyka dalam hatinya..


"YA ! AKU SI PRIA TAMPAN YANG MENOLONG MOMMYMU"


-


-


-


Tuh kan udah ktm, ga gimana gimana emangnya mau gimana 🤣🤣🤣 dibilang jauh dr ekspektasi kalian 🤣🤣


Dan ternyata Leyka tahu Elara Miuccia.


Dan Sinopsis depan itu, bukan pertama kali mereka bertemu, itu tuh Train mengungkap Jati dirinya lhooo. itu kan cuma cuplikan.


Aku tau mgkn banyak yg berpikir mereka akan khilaf tp kalau jagung bakar maen nleeseeepp ke irisan buah peach, udeh pasti leyka semakin kesel. aku pengen bikin Leyka kagum sama Valentino 🤤🤣 kl aku sih ga kagum tapi basaahh gaes.. berkedut2 🤣🤭


ooii yg doain aku khilaf bakal kreji up, denda 10 cangkir kopi oiiii.. 🤣


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2