
Apartemen Golden
Pedro menyapu pecahan demi pecahan yang terberai akibat ulah Valentino. Serpihan demi serpihan kristal ia kumpulkan dengan sangat teliti, ia membersihkannya dengan cermat agar tidak satupun serpihan itu dapat melukai kaki Miu. Entah mengapa Pedro mau melakukannya. Jared dan Torres yang masih berada di Apartemen Pallazo, berulang kali mereka menggelengkan kepalanya melihat sikap Pedro. Hampir satu jam sejak kepergian Valentino, Pedro masih disana hingga ia lupa ia harus berbelanja untuk keperluan Kedai Double P dan mengantar bekal makan siang untuk Miu.
"Itu sudah bersih. Mengapa kau tidak segera pergi dan membereskannya!" seru Pallazo yang berdiri tidak jauh dari Pedro.
"Sebentar lagi. Aku ingin memastikan kaki Miu tidak terluka nantinya" jawab Pedro masih santai. Pedro justru menggunakan lampu sorot untuk menyusuri disekitar pecahan itu yang berserakan di lantai. Pallazo melihat Pedro dengan hati yang gelisah, kemelut dihatinya tak juga mereda ditambah sikap Pedro yang sangat perduli dengan Putrinya, seakan memporak porandakan hatinya.
"Pergilah! Entah mengapa aku sangat muak melihatmu!" hardik Pallazo tetap saja membuat Pedro tak bergeming. Ia masih sibuk dengan pencariannya layaknya harta karun yang berharga hingga ia menemukan kembali serpihan demi serpihan. Setelah memastikan semua bersih Pedro bergegas ke dapur untuk membuangnya ke dalam tempat sampah.
Pedro melangkah dengan tenang, seakan tidak ada manusia di sekitarnya. Sesungguhnya pikirannya berkecamuk dengan segudang pertanyaan, dengan segudang puzzle dalam kepingan ingatannya yang ia rangkai satu demi satu. Ingatannya tertuju pada perkataan Valentino yang menyebut nama seseorang yang mengusik perasaannya, Rebecca Pallazo.
Foto bayi yang pernah tidak sengaja aku temukan di kamar Leyka, itu tertulis R Pallazo.. Jadi kau yang mengirimnya, Pall.... Leyka, kau tau Elara Miuccia bahkan sebelum Valentino mengatakannya.. Leyka, semoga kau bisa menerima kenyataan ini.. Kenyataan yang hadir kedua kalinya saat kau hamil.. Shittt.. Wanita ini tidak boleh menyentuh kehidupan Leyka.. Dia akan berhadapan denganku.
Pedro menghela nafas panjang, ia mencoba membuat dirinya tetap tenang, itulah Pedro Fernandez. Pedro menyeka keringatnya seraya meletakan alat pembersih lantai pada tempatnya di sudut ruangan, setelah ia membuang serpihan pecahan kaca. Kemudian ia mencuci tangannya, di wastafel dapur, matanya melirik sesaat ketika langkah kaki seseorang mendekatinya dan dia adalah Pallazo.
"Mengapa kau selalu ingin tahu kehidupan kami? Mengapa kau selalu datang di saat yang tidak tepat?! Kau sengaja melakukannya kan?!" seru Pallazo dengan berapi - api dari arah belakang Pedro yang masih tenang menyeka tangannya pada serbet yang menggantung di atas wastafel.
Pedro memutar tubuhnya secepat kilat, lalu menyambar pinggang ramping Pallazo kemudian menghimpitnya dimeja kitchen set. Pallazo tidak sanggup berteriak, ia menahan nafasnya dengan hatinya yang kian gelisah berbaur amarah yang siap meledak. Wanita Italy arogan itu terperangah saat wajah Pedro dengan senyum khasnya condong kearahnya berjarak satu jengkal, mata Pedro menyipit namun begitu teduh serasa menyapa jiwanya yang kosong dan tandus.
"Kau pikir aku datang karena dirimu? Aku datang karena perintahmu, aku datang karena Miu dan Apartemen ini adalah tanggung jawabku! Hanya kau, satu satunya penyewa yang selalu memuntahkan semua keluhanmu dan menyusahkanku! Setelah ini kau bisa menangani semua yang terjadi sendiri! Ingat.. Sendiri!" ujar Pedro dengan tegas dan penuh penekanan. Pallazo membulatkan matanya, nyalinya begitu menciut ketika Pedro seakan merampas oksigen di sekitarnya dan menghabisi kearoganannya.
"Kau.. Kau pikir aku juga mau mengeluh setiap saat? Bagaimana jika Miu membutuhkan segala sesuatu? Baiklah.. Aku.. Aku akan melakukannya semua sendiri, mulai saat ini" ujar Pallazo menjadi gugup seketika. Pedro berdebar melihat mata Pallazo yang meredup karena ia terlalu mengintimidasinya.
"Kecuali Angelita membutuhkanku" ujar Pedro nyaris berbisik seraya mencolek hidung Pallazo dengan tersenyum. Mata Pallazo semakin membulat.
"Kauuu?!--
"Miu membutuhkan aku dan bukan siapapun apalagi orang asing! Kau tidak perlu repot - repot lagi dan membuang - buang waktumu!" suara seseorang muncul begitu saja, menghentikan amarah Pallazo karena ulah Pedro mencolek hidungnya.
Pedro dan Pallazo seketika menoleh secara bersamaan, Pedro tersenyum seraya menyelipkan sulur rambutnya yang berkeriap menutupi sebagian dahinya. Lalu ia menegakkan tubuhnya dan mundur beberapa langkah dari hadapan Pallazo. Torres mendelikkan matanya. Si, Torres tiba tiba muncul di dapur untuk memastikan semuanya baik - baik saja.
"Kita lihat seberapa Angelita membutuhkanku" ujar Pedro tersenyum kearah Torres seraya memiringkan kepala, ia memasukan tangan ke dalam saku celananya dan meraih ponsel yang bergetar karena seseorang menghubunginya.
"Ahh.. Holaa (halo) Pene love - love-- Pedro tersenyum dan menatap Pall yang mengerutkan dahinya --Aku tidak lupa apa yang harus aku lakukan. Pene love - love, aku akan segera datang padamu" ujar Pedro begitu manis dan lembut, tentu saja itu membuat Penelope diseberang ponselnya kebingungan dengan sikap manis saudaranya. Padahal Penelope hanya mengingatkan untuk berbelanja siang itu.
Pene love love? Siapa wanita itu. Batin Pallazo.
Pedro berlahan melangkah mundur dengan ponsel yang masih menempel di telinga kirinya. Torres mendengus melihat sikap Pedro yang sengaja bersikap manis pada sepupunya sendiri di hadapan Pallazo. Torres tahu secara pasti bahwa Pedro dan Penelope terkadang sering bertengkar, beradu argumen hanya masalah sepele.
"Ada apa denganmu, Pedro.. Sungguh aneh.. Jangan bersikap sok manis.. Cepatlah, bahan bahan kedai sudah menipis.. Aku telah membuat makan siang untuk Angelitamu.. Dasar merepotkan" kata Penelope dari ponsel, dengusan Penelope terdengar jelas ditelinga Pedro yang terkekeh lembut, ia menertawakan sikapnya yang tidak biasanya. Pallazo semakin mengerutkan dahinya, matanya nyaris mendelik melihat sikap lembut Pedro.
"Pene love love, mi carina (sayangku).. Gracias, kau sangat baik bak bidadari hari ini.. Sangat manis.. Aku akan segera datang-- Pedro mengalihkan pandangannya ke arah Torres yang menegang dengan sikapnya-- Oh ya, Pene love love.. Jangan pernah berbicara dengan orang asing karena aku akan memotong lidahmu dan mencongkel mata siapapun yang berani menggodamu. Aku menuju kesana" ujar Pedro seraya menutup sambungan ponselnya.
Pedro lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, ia masih samar mendengar Penelope memakinya di ponsel yang ia akhiri begitu saja, karena sikapnya yang tak biasa. Kemudian Pedro berjalan melewati Torres yang merasa tersindir oleh perkataannya pada Penelope di sambungan ponsel.
"Hei aku bukan orang asing Ped!" seketika Pedro menghentikan langkahnya dengan tersenyum, senyum yang khas dan Pallazo semakin kesal melihat senyum itu. Pedro memutar tubuhnya kearah samping lalu menoleh kearah Torres yang berdiri bersedekap tidak jauh darinya.
"Apa aku mengatakan bahwa orang asing itu adalah dirimu, Torres? Dan sebaiknya jaga wanitamu itu! Jangan pernah menyentuh kehidupan Leyka seperti yang ia lakukan delapan tahun yang lalu! Kau tidak tahu betapa menderitanya Leyka saat itu karena ulahnya!" ujar Pedro melangkah pergi tak perduli wajah Pallazo memucat seketika.
Wanitaku?? Kau mengira Pall wanitaku? Hahaha.. Ini sangat menarik Pedro. Torres.
Torres mengerutkan alisnya, lalu menoleh kearah Pallazo dengan tatapan matanya yang begitu tajam mengintai dan menuntut penjelasan darinya. Pallazo menggedikkan bahunya dan berlalu sebelum Torres menginterogasinya. Torres pun turut serta meninggalkan ruang dapur dan mengikuti langkah Pedro yang berjalan dengan santai.
"Pedro tunggu! Apa yang Pall lakukan delapan tahun yang lalu?" tanya Torres dan Pedro menghentikan langkahnya. Mereka berada di ruang tengah dimana Jared berada.
"Mengapa kau tidak menanyakannya pada wanitamu? Leyka hampir kehilangan Blue Train karena ulahnya!" kata Pedro dengan tegas. Satu langkah mundur setelah Pallazo menghentikan langkahnya, ia tak percaya dengan apa yang Pedro katakan. Kakinya serasa beku mendengar tudingan yang diarahkan kepadanya.
__ADS_1
"Kehilangan Blue Train?" tanya Pallazo nyaris bergumam.
"Pall?" tanya Torres kearah Pallazo yang wajahnya telah memucat dengan pandangan nanar. Ia merenungi dan mengingat apa yang telah ia lakukan delapan tahun yang lalu.
Apa yang terjadi? Hanya mengirim foto Miu, membuat Leyka hampir kehilangan Blue Train.. Apa yang terjadi. Batin Pallazo semakin berkecamuk.
"Ada apa?" Jared bangkit berdiri melihat pemandangan itu, ia penasaran dengan apa yang di dengarnya dan itu sangat mengganggunya.
"Wanita kalian mengirim sebuah foto pada sepupuku delapan tahun yang lalu dan itu membuat Leyka terluka parah, secara fisik dan secara batin! Dia hampir membunuh Blue Train! Seharusnya kalian bertanya apa tujuannya, buon pomeriggio (selamat siang)!" kata Pedro mengakhirinya dengan bahasa Italy kemudian ia berlalu pergi seiring pintu keluar Apartemen yang terbuka, di ketuk seseorang.
"Pall! Apa aku tidak salah dengar?" tanya Jared membuat wajah Pallazo pias.
"Nanti saja, sepertinya ada tamu!" kilah Pallazo bergegas mengekor langkah Pedro menuju pintu keluar.
"Buon pomeriggio, aku ada janji dengan anda Signora Pallazo (nyonya Pallazo). Apa anda masih mengingatku Signora (nyonya; Italy)? Aku Guaddalupe dan kita ada janji untuk melakukan wawancara" dan tamu itu adalah Adda. Ia berbicara pada Pallazo yang berjalan kearahnya. Sesekali Adda melirik kearah Pedro yang melewatinya dengan acuh dan berlalu begitu saja.
"Kau berhutang satu penjelasan Pall" ujar Torres seraya berlalu.
"Aku pergi dulu" ujar Jared seraya mengusap lengan Pallazo dan mengikuti langkah Torres. Mereka meninggalkan Apartemen Pallazo dengan wajah yang begitu dingin. Bahkan sangat dingin ketika Guaddalupe melemparkan senyuman kearah mereka.
Dasar Pria Italy, mengapa semua terlihat dingin dan tampak arogan.. Huh. Batin Adda saat Pallazo mempersilahkannya masuk.
-
-
-
Hotel W Barcelona, yang terletak di pintu masuk baru Barcelona's Port muncul sebagai icon modern yang naik di atas laut Mediterania. Sebuah bangunan berbentuk layar mengembang, di lahan seluas 10 hektar yang diklaim dari laut, termasuk dalam rencana renovasi perkotaan yang ambisius di garis pantai Barcelona. W Barcelona Hotel adalah hotel bintang lima dengan 480 kamar, 67 suite, bar di atap, spa besar, kolam renang dalam dan luar ruangan, beberapa konsep makanan dan minuman serta toko ritel terdapat disana.
Hotel itu seperti berlian dimalam hari, hampir semua konstruksinya terbuat dari material kaca silver yang memberi pantulan cahaya dan membentuk banyak pendaran cahaya serta siluet siluet yang mempertegas bentuk hotel itu jika semua lampu menyala di malam hari. Permainan cahaya lampu di atur sedemikian rupa oleh seorang arsitek kenamaan dan dia adalah senior dari Valentino Gallardiev di masa kejayaannya. Ricardo Bofill sebagai arsiteknya dan Jean Pierre Carniaux yang mengepalai pengembang proyek pembangunan Hotel W.
Valentino memilih sebuah ruangan kamar yang menghadap ke laut biru, dimana dindingnya hanya terbuat dari kaca. Ranjang berbentuk bulat terletak disisi kaca hingga mereka bisa melihat indahnya laut dengan merebahkan tubuh dan disaat membuka mata maka pemandangan laut biru terhampar di depan mata seakan tanpa sekat. Biru, sebiru bunga rosemary, sebiru mata Valentino bak jantung lautan yang kini memandangi wajah Leyka yang sedingin salju.
Ruang tengah terlihat hangat dan bersahabat. Pemandangannya sungguh menakjubkan dengan satu set sofa dan juga meja makan disana. Ruangan itu adalah spot dimana para penyewa bisa makan dan minum, juga untuk menikmati matahari terbaik ketika tenggelam.
Tidak jauh dari ruang tengah adalah kamar Train, Valentino sengaja memilihnya berdekatan dengan ruang tengah untuk menghabiskan waktu bersama, mereka akan makan malam di restauran mewah yang ada di Hotel W. Restauran yang Leyka pilih dan Valentino mendapatkan ide untuk menginap. Kehadiran Pallazo dan Putrinya Miu, serta pertikaiannya dengan Pallazo di Apartemen Golden membuatnya enggan bekerja dan memilih menggoda Istrinya sembari menunggu Train menyelesaikan kelas dramanya.
"Kau mau makan apa, Mi Carina (sayangku)?" tanya Valentino seraya mendekap tubuh Leyka dari belakang setelah Leyka meletakkan tasnya di meja.
"Aku tidak berselera makan" ujar Leyka datar seraya menepis tangan Valentino agar menjauh darinya. Hati Leyka tak karuan rasanya. Rasa kesal, rasa curiga, rasa amarah tiba - tiba menguasai hatinya, menikam dalam jauh ke dalam relung hatinya.
Gambaran masa lalunya saat kehamilan Train terlintas kepingan demi kepingan. Bagaimana ia harus menghadapi kenyataan demi kenyataan yang menyakitkan hatinya dan yang jauh lebih melukai Leyka adalah, ketika ia harus menghadapi itu semua sendirian. Tanpa Valentino di sisinya.
"Apa aku akan menjadi makan siangmu? Apa hanya itu selera makanmu saat ini?" goda Valentino seraya menarik pergelangan tangan Leyka kembali kearahnya.
"Aku tidak berselera pada apapun" ujar Leyka lagi lagi menepis tangan Valentino dan melangkah menjauh. Leyka menuju balkon dengan pemandangan yang eksotis siang itu.
Angin dingin di musim gugur berhembus menerbangkan rambutnya yang terkeriap seakan menari berkejaran kesana kemari. Cuaca begitu terik di siang hari, namun angin dingin menyapu panasnya matahari itulah musim gugur di pesisir Barcelona.
__ADS_1
Valentino tersenyum melihatnya, hatinya berdebar lembut penuh rasa kagum. Kemudian ia menyambar sunblock yang tersedia di hotel lalu mengambil dua kaleng softdrink di lemari pendingin dan menyusul Leyka yang menggulung rambutnya di tepian balkon berpagar kaca.
Anak rambut Leyka di bagian belakang lehernya membuat Valentino menelan salivanya, ia masih punya banyak waktu sebelum menjemput Putranya dari kelas drama. Tersisa satu langkah Valentino mendekati Leyka namun Leyka justru melangkah menjauh tiga langkah. Valentino mengerutkan alisnya, ia baru menyadari bahwa Leyka menghindarinya dan lebih banyak diam. Valentino menjadi gusar karenanya.
"Mi Carina? Apa kau baik baik saja? Apa Munequita membuatmu tidak ingin dekat denganku saat ini? Gawat!" kata Valentino dengan membuang nafasnya kasar melihat sikap Leyka sedingin angin musim gugur saat itu.
Namun Leyka diam membisu, lamunannya justru terbang tinggi ke masa delapan tahun yang lalu saat ia nyaris kehilangan Train hanya karena sebuah foto yang datang ke Barcelona dan saat itu juga menghancurkan hatinya. Perlahan Leyka memejamkan matanya seraya menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
Leyka mencoba mengusir bayangan darah yang mengalir di sela - sela pahanya, mengusir jeritan Manuella dan keluarga Fernandez, mengusir suara ambulance yang melengking seakan memecahkan langit kelam di musim dingin, disaat salju pertama turun di Barcelona. Dan mengusir bayangan Train yang terlahir tak bergerak di meja persalinan. Tubuh Train yang membiru membuat Leyka gemetar mengingatnya.
"Leyka-- Valentino menyentuh lengan Leyka dengan punggung tangannya karena ia menggenggam sunblock ditangannya, namun reaksi Leyka yang memunggunginya sangat mengejutkannya. Seketika Leyka menoleh dan membuka kedua kelopak mata yang memerah karena airmatanya telah berderai membasahi pipinya.
"Menjauhlah!" pekik Leyka saat Valentino menyentuhnya lalu ia melangkah mundur dua langkah. Valentino terkejut bukan kepalang, matanya turut membulat melihat Leyka yang berusaha mengeringkan matanya dengan jemarinya.
"Apa yang terjadi? Ada apa?" tanya Valentino berusaha melangkah mendekat.
"Tidak apa apa.. Aku baik baik saja.. Semua akan baik baik saja" kata Leyka berusaha menahan agar ia tidak tersedu. Ia mencoba menguatkan dirinya sendiri dengan mengatakan keadaannya sangat baik. Leyka kembali memunggungi Valentino, menghadap kearah lautan lepas nan biru sebiru hatinya. Tangannya menggenggam erat pegangan pagar besi yang melindungi pagar kaca, ia mengatur nafasnya dan mengusir kepingan bayangan delapan tahun yang lalu.
"Kau tidak baik baik saja Leyka! Kau menangis! Dan kau mengatakan semua baik baik saja?! Apa aku tidak boleh mengetahuinya?! Kau lupa bahwa aku adalah suamimu yang berhak tau apapun yang terjadi dan kau rasakan! Katakan ada apa?!" seru Valentino yang menyalurkan kebingungannya dengan sikap Leyka yang mendadak berubah, melalui sebuah kemarahannya yang sangat khas dan tentu saja Leyka merasa tidak asing dengan sikap Valentino yang pernah menghiasi di Pretoria.
"Ada berapa ponselmu?" tanya Leyka dengan nada tegas.
"Ponselku? Tentu saja hanya satu!" seru Valentino masih kebingungan dengan pertanyaan Leyka. Valentino belum berpikir kearah ponsel yang berada di dasbor mobilnya.
"Lalu mengapa ponselmu yang lain berdering di dalam mobilmu?! Apa yang kau tutupi?! Kau diam - diam menyembunyikan ponselmu yang lain?! Apa yang kau sembunyikan?!" seru Leyka dengan kilatan tatapan matanya yang mengandung kemarahan. Valentino bergidik melihatnya.
"Ohh.. Shiiittt! Itu ponsel Torres!" kilah Valentino seraya mengacak rambutnya dengan mendengus kesal.
"Lalu mengapa ada nama Pallazo disana! Pallazo-- Bukankah itu adalah Rebecca Pallazo?! Kau masih berhubungan dengannya?! Katakan dugaanku salah Valentino Gallardiev! Katakan Pallazo yang baru saja menelepon di ponsel yang-- ah entahlah, mungkin kau sengaja menyembunyikannya.. Katakan dia bukan Rebecca Palazo yang hampir membunuh Putraku delapan tahun yang lalu!" seru Leyka nyaris histeris namun ia menahannya sekuat tenaga hingga nafasnya tersengal.
Seketika, semua yang ada di dalam genggaman Valentino meluncur terlepas dari kedua tangannya. Tak terkira rasanya ia nyaris kehilangan keseimbangan mendengar perkataan Leyka yang berapi - api. Uraian airmatanya membuat Valentino tidak sanggup untuk melihat lebih lama, ia melangkah maju ke arah Leyka dan tak perduli Leyka mundur menjauhinya.
Valentino menghampirinya dan berusaha meraihnya, meraih miliknya yang menghilang delapan tahun lamanya. Beda dengan apa yang ia lakukan dulu di Pretoria, Valentino selalu membiarkan Leyka pergi. Walaupun pada akhirnya Valentino mencarinya tapi Valentino selalu terlambat menyadari arti kehadiran Leyka dalam hidupnya.
Ohhh Shiitt Torres.. Mengapa.. Kau ceroboh sekali.. Mengapa kau meninggalkan ponsel itu.. Si, ponsel yang sengaja kita gunakan khusus untuk menghubungi Miu... Shittt.
"Ley.. Leykaa.. Apa maksudmu.. Rebecca hampir membunuh Putraku delapan tahun yang lalu? Tidak Leyka.. Tidak.. Itu tidak mungkin" kata Valentino terbata bata, bulu kuduknya meremang mendengar penuturan Leyka. Ada rasa marah yang ingin ia luapkan, ada rasa penasaran yang begitu besar dan membuat Valentino bertanya tanya yang bermuara pada sebuah kebuntuan. Rasa ngeri berbaur saat wajah Blue Train melintas begitu saja di dalam pikirannya.
Apakah ini yang dimaksud Pedro? Rebecca melakukan apa delapan tahun yang lalu.. Dia tidak kemanapun.. Aku tahu itu dengan pasti.. Apa Ricardo? Apa yang terjadi. Batin Valentino, berkecamuk.
"Katakan saja Pallazo yang menghubungimu bukan Rebecca Pallazo mantan tunanganmu, Valentino Gallardiev! Karena aku tidak ingin mendengar namanya lagi! Cukup sekali dan tidak boleh terulang lagi apa yang dia lakukan padaku! Berhentilah menyakitiku dengan keberadaannya di hidupmu! Jika dia masih berada di dalam hidupmu! Enyahlah kau bersamanya! Karena aku tidak ingin melihat kalian seujung kukupun! Demi Train! Demi Munequita yang kini ada di rahimku! Aku tidak akan pernah mau bersinggungan dengannya! Karena apa yang dia lakukan padaku-- lebih dari cukup Val! Lebih dari cukup, aku bersumpah!" Leyka mengakhiri perkataannya tudingan jari telunjuknya, Leyka kemudian menghembuskan nafasnya secara kasar.
Berulang kali Leyka mengatur nafasnya yang tersengal sengal. Leyka meledakkan, memuntahkan segala amarah dan juga ketakutan yang menghantuinya selama delapan tahun lamanya. Wajah Train saat bayi yang tak bergerak saat terlahir ke dunia di saat salju pertama turun di Barcelona, selalu membayangi dan mengiris hatinya sangat dalam.
"Leyka.. Bukann.. Bukann.. Itu bukan.. Tidak.. Tidak ada nama itu lagi di hidupku" ujar Valentino seraya meraih tubuh Leyka dan memeluk seerat - eratnya.
Valentino bisa merasakan airmata Leyka begitu hangat menembus kemejanya hingga menyentuh permukaan kulit di dadanya. Kini Valentino merasa kebingungan bagaimana menjelaskan yang sesungguhnya pada Leyka, jujur menjadi hal yang salah sementara berbohong hanya akan memperburuk keadaan. Valentino dilanda kebimbangan.
Aku harus mencari tahu apa yang terjadi delapan tahun yang lalu.. Aku tidak boleh menundanya.. Manuella.. Si (iya).. Manuella.. Kau pasti tahu segalanya.
-
-
-
wuahhh.. aku ga mau malak.. kasian ama Leyka soalnya.. tapi jangan lupa sih vote n kopinya.. 🤣 (authornya lagi terisak, sumpah ☹)
__ADS_1