
Apartemen Golden
Guaddalupe berjalan menyusuri lobby Apartemen Golden di Distrik Golden, dengan bersungut - sungut setelah ia menyelesaikan sesi wawancaranya. Benaknya penuh tanya, apa gerangan yang akan dilakukan Pallazo dengan mengancamnya ketika bertanya dimana Valentino akan melakukan acara makan malam bersama keluarga kecilnya. Rasa cemas pun menyelinap di dalam hatinya, kegundahan menyelubungi hatinya.
Bagaimanapun kita dibesarkan bersama.. Ohh.. Shitt.. Apa yang akan dilakukan wanita itu.. Leyka bagaimana kau akan menghadapinya.. Ini pasti akan seru.. Hahaha.. Apa aku melakukan kesalahan ?
Hati Guaddalupe menjadi gundah, pikirannya berkecamuk, pandangannya nanar saat ia berjalan keluar mencapai lobby hingga ia tidak memperhatikan ada jalan berpavling block yang sedang digali untuk memperbaiki saluran air. Perawatan rutin yang biasa dilakukan menjelang musim dingin. Mereka harus memastikan saluran air bebas dari genangan air dan sampah karena musim dingin bisa membekukan apa saja menjadi es yang bisa menyumbat semua saluran air di semua wilayah Distrik.
Padahal, tanda dan pembatas bahwa jalan itu sedang diperbaiki terlihat jelas namun ia terus melangkahkan kakinya hingga salah satu kakinya nyaris terperosok ke dalam lubang dan membuat Adda kehilangan keseimbangan. Ia nyaris terjerembab ke arah depan bila tidak ada seorang pria yang menyambar tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Aaaaaaaw!" jerit Adda ketika kedua tangan pria itu menarik pinggangnya ke arah belakang hingga keduanya terjerembab yang mengakibatkan Adda menindih pria itu. Kejadian itu memancing perhatian orang - orang yang berlalu lalang disekitar tempat kejadian.
Guaddalupe terpana melihat pria yang menolongnya itu memiringkan kepalanya dan mengembangkan senyumnya yang menawan. Mata coklat berwarna hazelnut itu begitu tajam menghunus jantung Guaddalupe hingga berdetak cepat, oksigen serasa lenyap dari paru parunya. Wajah Guaddalupe memerah melihatnya.
Ohh shittt... Tampan sekali Pria ini. Batin Guaddalupe dengan mata berbinar.
"Apa nyawamu ada 13 seperti kucing, Nona Patah Hati?" tanya pria itu masih dengan senyumnya yang kian menawan.
"Egh.. Ehmm.. Aku.. Lo siento (Maafkan aku)--- Adda menjadi gugup seketika hingga tak mampu meneruskan perkataannya namun ia tak juga bangkit berdiri, Adda masih terkesima dengan senyuman pria yang baru saja menolongnya.
"Apa kau sangat menikmati berada diatas tubuhku? Apa kau akan menindihku sampai esok hari? Mereka melihat kita seperti melihat adegan ranjang di film panas. Lihat sekitarmu!" ujar pria itu dengan tatapan teduh, wajah pria itu pun kemerahan melihat kecantikan Adda yang dilanda kegugupan luar biasa.
"Ohh.. Shiitt.. Lo.. Lo siento.. Aku.. Aku.. Ehmm.. Gracias, telah menolongku" sontak Adda bangkit berdiri dengan pipinya yang bersemu kemerahan, setelah ia mengedarkan pandangannya.
Orang orang melihat kejadian itu memilih melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. Lalu Adda mengibaskan debu yang melekat di mantelnya untuk menutupi kegugupannya. Rasanya memalukan sekali, pikir Adda bila mengingat kejadian barusan.
"Damian Freygano" ujar Pria itu mengulurkan tangannya kearah Adda setelah ia turut mengibaskan debu di celana jeans birunya. Si (iya), pria itu adalah Damian yang sedang menunggu Henry di lobby Apartemen Golden. Damian bekerja dari pagi seperti biasanya hingga Damian meninggalkan Henry di Apartemennya, lantai 10. Namun mereka akan makan siang bersama hari itu.
Damian? Batin Adda lagi.
"Guaddalupe Manuello Felipe. Kau bisa memanggilku Adda" ujar Guaddalupe memperkenalkan dirinya seraya menyambut uluran tangan Damian dengan tersenyum manis.
Damian melebarkan senyumnya. Damian terkejut saat Adda menyebutkan nama belakangnya yang tak asing lagi. Namun ia segera mengendalikan dirinya dengan masih menggenggam erat jabatan tangan itu.
"Jadi kau seorang bangsawan, Nona Patah Hati?-- Adda mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Damian-- Jadi kau salah satu keluarga Felipe dan kau pasti saudari atau mungkin kerabat dari Leyka Paquito. Hahaha, lucu sekali hidup ini" ujar Damian membuat Adda membeliakkan matanya. Ia mengingat bagaimana Keluarga Fernandez menceritakan kisah Leyka yang hampir menikah dengan pria berkewarganegaraan Jerman itu.
"Jadi kau mantan kekasih Leyka yang ditinggalkan begitu saja di acara Visscountess? Hahaha-- senang bisa berkenalan denganmu" kata Adda seraya terkekeh, ada nada ejekan pada pertanyaan Adda yang membuat Damian tersenyum dengan mendengus.
Damian semakin mengeratkan genggaman tangannya dan Adda merasakan kegetiran di hati Damian lalu ia buru - buru menarik senyumnya hingga menghilang dari wajahnya.
"Si, aku mantan kekasih Leyka. Senang bertemu denganmu, Nona Patah Hati" kata Damian masih tersenyum menawan.
"Aku tidak patah hati. Jadi berhenti memanggilku Nona Patah Hati. Baiklah, aku tidak akan membuang waktumu. Adios (selamat tinggal) " ujar Adda dengan nada datar.
Adda terlihat canggung karena ia berhasil membuat Damian tertikam hatinya mengingat hubungan asmaranya bersama Leyka kandas ditengah jalan. Adda berusaha mengurai jabatan tangan itu namun Damian semakin erat menggenggam jemari tangannya, Adda sudah pasti bingung dengan sikap Damian.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau saudari dari Leyka? Katakan apa hubunganmu dengannya" ujar Damian masih enggan melepaskan jabatan tangannya dan Adda semakin menikmatinya dalam kebingungan.
"Aku dan Leyka bersaudara. Ibuku dan Tia Rosemary bukan saudari kandung. Mereka berbeda Ayah. Secara garis keturunan aku bukan bangsawan. Kakekku seorang turis dari Polandia, tapi Kakek Manuello-- Ayah dari Tia Rosemary memberikan nama belakangnya kepada Ibuku dan berakhir kepadaku. Apa kau sudah mengerti? Lalu sampai kapan kau akan melepaskan genggaman tanganmu? Apakah sampai esok hari?" tanya Adda membuat Damian terkekeh. Mata coklat hazelnutnya kian berbinar siang itu saat Adda berbalas menyindir dengan menggunakan bahasanya.
"Sampai aku memastikan sesuatu. Apa kau tidak mengingatku?" Damian menjawab kemudian bertanya dengan memiringkan kepalanya dan menatap Adda dengan tajam. Lagi - lagi, Damian mengumbar senyum menawannya. Ia tidak perduli orang disekitarnya berlalu lalang melihatnya.
__ADS_1
"Mengingatmu? Hahaha-- Aku mengingatmu kaulah yang baru saja menolongku" kata Adda dengan tergelak.
"Apa kau lupa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Damian seraya menoleh kearah samping dimana Henry berjalan kearahnya dari kejauhan.
"Bertemu sebelumnya? Tentu saja tidak. Aku baru saja bertemu dan melihatmu sekarang" ujar Adda semakin mengerutkan alisnya.
"Syal merah? Hotel di Madrid belum lama ini? Sekitar kurang lebih dua bulan yang lalu jika aku tidak salah menghitung. Setelah acara Viscountess aku terbang ke Madrid dan aku bertemu seorang wanita yang sedang patah hati" ujar Damian membuat jantung Adda berdegub kencang.
Jangan jangan dia.. Ohh.. Shitt.. Ini tidak mungkin.. Ini tidak mungkin Damian.. Setelah dari Madrid aku pulang ke Palma.. Aku bertemu keluarga Leyka dan keluarga Fernandez.. Shitt.. Kebetulan yang tidak menyenangkan.. Shitt Mengapa harus dia dan mengapa harus Leyka.. Shitt! Umpat Adda dalam hatinya.
"Kau salah orang!" seru Adda seraya menarik genggaman tangan Damian secara paksa.
"Apa kau yakin wanita patah hati itu adalah Nona ini, Damian?" tanya Henry setelah tiba diantara mereka.
"Aku tidak pernah salah Henry! Dia Nona Patah Hati yang aku cari!" seru Damian membuat jantung Adda kian berdebar debar. Matanya semakin membulat saat mendengar perkataan Damian.
Dia mencariku? Shitttt... Setelah malam itu dia mencariku? Itu hanya hubungan satu malam, kenapa dia seserius ini.. Ck, mantan kekasih Leyka.. Mengapa harus Leyka? Kau selalu selangkah lebih unggul dariku, Ley.. Shittt..
"Kau salah, Damian. Aku tidak pernah bertemu denganmu dan aku tidak memiliki syal merah seperti dugaanmu!" pengakuan Adda membuat Damian mendadak kesal, bukan pengakuan tapi penyangkalan yang membuat Damian harus bertindak dengan tegas.
"G.M.F bukankah itu Guaddalupe Manuello Felipe?-- Damian menatap Adda lekat - lekat hingga membuat lidah Adda kelu lalu Damian menoleh kearah Henry --Berikan kunci kamarku, Henry!" Secepat kilat Henry melempar kunci apartemen, pun secepat kilat Damian menangkapnya setelah ia memintanya.
"Ikut denganku sekarang dan menurutlah! Aku harus memastikan sesuatu!" Damian dengan sigap menyambar lengan Adda. Setengah menyeretnya, Damian kembali membawa Adda memasuki lobby Apartemen.
"Hei! Lepaskan aku! Lepaskan aku atau aku akan berteriak! Ini kriminal!" seru Adda seraya meronta dan berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Damian, namun rasanya semua sia - sia ketika Damian justru mencengkeram lengannya semakin kuat.
"Kau sudah melakukannya! Kau sudah berteriak dan berteriaklah sesuka hatimu! Aku juga bisa mengatakan kepada semua orang bahwa kau merampokku di Madrid!" seru Damian dengan penuh penekanan, ia terus membawa Adda dengan langkah lebarnya menuju pintu lift hingga sulit sekali Adda menyamai langkah Damian.
"Damian! Kau tidak boleh memaksanya!" seru Henry mengikuti langkah keduanya dengan mendengus kesal. Henry terpaksa mengikutinya dan memastikan Damian tidak melakukan sesuatu yang melewati batas.
"Dia menyangkalnya Henry! Aku bisa melihat dari kegugupannya! Aku tidak pernah salah mengenali wanita ini sekalipun aku dalam keadaan mabuk!" seru Damian tanpa menoleh. Adda semakin panik, pandangannya tertuju pada Henry dan meminta belas kasihan melalui tatapan matanya. Henry tak tega melihat Adda yang terlihat menghiba walaupun tak terucap dari mulut Adda.
Saat itu mereka tiba di depan pintu lift. Damian membulatkan matanya mendengar perkataan Adda. Ia mengingat beberapa uang berserakan di meja bersama secarik kertas yang ditinggalkan Adda malam itu. Damian merasa tertampar harga dirinya, ia semakin kesal dibuatnya. Wajah Damian memerah saat beberapa orang menahan senyumnya mendengar pertikaian itu.
"Apa?! Jadi.. Jadi uang yang berserakan di meja itu adalah uangmu?! Shittt!! Aku pikir itu adalah uangku! Jadi kau masih mau menyangkal bahwa wanita mabuk yang menangis, yang kutangkap dan yang tiba - tiba mencumbuku adalah bukan dirimu?!" seru Damian membuat senyum orang - orang disekitarnya menghilang. Kini Adda yang memerah wajahnya.
Mereka yang berlalu lalang hanya mampu mendengar dan pura - pura tidak melihat, mereka memilih untuk tidak ikut campur karena mereka takut melanggar privacy dimana disana sangat dijunjung tinggi. Adda memerah wajahnya mengingat samar - samar apa yang ia lakukan dulu, Damian mempermalukannya dan itu tidak ada bedanya dengan dirinya sebelumnya. Mereka berdua saling mempermalukan dirinya sendiri.
"Apa masih kurang?" tanya Adda lagi seraya menegakkan kepalanya, ajaran Rosemary begitu melekat di dalam kepribadiannya, dimana-- ketika seseorang menghinamu dan itu benar adanya, kau harus tetap menegakkan kepalamu karena kau adalah bangsawan.
"Kauuuu!-- Damian menghentikan perkataannya saat kedua bola mata mata Adda terlihat basah pun terlihat tegar dalam tatapannya. Damian menghela nafas panjang saat Henry justru meledakkan tawanya.
"Hahaha-- Aku tidak percaya Nona Patah Hati ini justru membayarmu-- Hahaha!" tawa Henry pecah, dimana mereka menunggu di depan pintu lift yang menuruni lobby.
"Pergilah Henry! Aku akan menyusulmu setelah aku memastikan sesuatu!" seru Damian.
"Hahaha-- Tidak perlu menyusulku! Dan aku tidak akan menunggumu! Bereskan saja urusanmu! Hahaha!" seru Henry memutar langkahnya meninggalkan Damian dan Adda, tawanya masih terdengar keras saat itu.
"Henry!-- panggil Adda dengan panik saat pintu lift terbuka dan Damian mendorongnya masuk. Sementara Henry hanya melambaikan dan masih saja terdengar terbahak -- Damian.. Kita mau kemana.. Damian.. Damian aku mohon.. Kita bisa berbicara secara baik - baik" kata Adda dengan wajahnya yang kian pias. Pasalnya Damian menghimpitnya di sudut lift dimana pintu lift menutup sempurna dan bergerak naik menuju lantai sepuluh.
"Diam dan menurutlah!" seru Damian penuh penekanan. Satu tangannya merentang pada dinding lift, pun satu siku tangannya menumpu disana. Ia mengungkung Adda yang kian gelisah dengan berjarak. Perlahan Damian mengusap wajah memerahnya dengan kasar.
Wanita ini... Kegugupannya.. Shitt.. Membuatku ingin.. Mengulangnya.. Apa aku sudah gila? Shitt..
"Kau.. Kau mau membawaku ke-- Kemana?" tanya Adda dengan gugup namun ada rasa ngeri menyelinap di hatinya. Aroma maskulin Damian membuat Adda memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya. Barisan bulu matanya yang terlihat basah berkeriap dengan binaran bola matanya menatap mata Damian tanpa berkedip.
__ADS_1
"KE KA MAR KU!" ujar Damian nyaris berbisik namun penuh penekanan. Damian menatap Adda lekat - lekat, bibirnya mengatup rapat dengan mengetatkan rahangnya. Adda semakin berdebar melihatnya, lututnya terasa lemas.
Matilah aku.. Guaddalupe.
"A..apa yang akan kau lakukan?" tanya Guaddalupe nyaris kehilangan suaranya. Namun Damian melengos ke samping, ia enggan menjawab pertanyaan Adda. Damian memilih diam untuk mengendalikan dirinya karena lift itu kian menaiki lantai demi lantai dan beberapa penghuni apartemen hilir mudik keluar masuk ke dalam lift.
Beberapa saat kemudian, dentingan pintu lift terdengar mengguncang lamunan Damian, angka 10 menyala di sisi atas lift yang menunjukkan mereka telah sampai tujuan. Damian kemudian menyambar pergelangan tangan Adda lalu kembali menyeretnya keluar dari dalam lift.
"Damian.. Lepaskan aku!" teriak Adda seraya meronta dan Damian tetap tak bergeming. Langkahnya semakin lebar menuju kamarnya.
"Damiann!" Adda masih berusaha meronta agar genggaman tangan Damian terurai.
"Diamm!" hardik Damian membuat Adda tersentak, nyalinya menjadi ciut seketika. Adda memilih diam saat Damian membuka pintu apartemen dengan satu tangannya. Hatinya semakin berdebar saat kaki Adda melangkah masuk ke dalam Apartemen ditambah lagi Damian menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Vamos masuk ke kamarku!" ujar Damian seraya mengeratkan genggamannya. Adda semakin kalang kabut dibuatnya.
"Kau tau ini pelanggaran!" seru Adda membuat Damian tersenyum tipis seraya melepaskan cengkeraman tangannya karena Damian benar benar membawa Adda ke kamarnya.
Kamar itu tertata rapi, Adda mengedarkan pandangannya seraya memijat pergelangan tangannya yang terasa kesemutan. Senyuman sinis Adda terlihat diwajahnya manakala melihat sebuah bingkai foto yang terdapat di nakas. Foto Leyka yang memeluk Train dan Damian memeluk keduanya dari belakang membuat kegetiran tersendiri dihati Adda.
"Sepertinya kau tidak bisa melupakan sepupuku. Apa dia begitu mencuri hatimu?" tanya Adda mengambil foto itu dan menatapnya lekat lekat. Senyuman khas Train membuat Adda turut mengulas senyumnya.
"Aku memintamu kesini bukan untuk mengkritikku! Tapi untuk ini-- Damian mengulurkan sebuah testpack --Kamar mandi disana cepat kau test apakah kau hamil atau tidak! Aku harus memastikan sebelum aku meninggalkan Barcelona! Karena aku tidak mau percintaan semalam kita dulu membuat batu sandungan di kemudian hari" ujar Damian membuat Adda terbahak seketika.
"Hahaha.. Jadi kau pikir aku akan melakukan kebodohan dengan mengandung anak yang tidak ku ingat siapa yang telah menanamkan benihnya ke rahimku? Hahaha.. Apa kau pikir aku sebodoh itu?" tawa Adda pecah seketika melihat kekonyolan Damian.
"Cepatlah sebelum aku menurunkan celanamu saat ini juga!" seru Damian membuat tawa Adda lenyap seketika. Ia pun menyambar test pack dari tangan Damian dan buru buru meletakkan tasnya lalu memasuki kamar mandi. Sementara Damian mengeluarkan syal merah milik Adda yang pernah di tinggalkannya di Hotel Madrid dari almari. Ia masih mengingat aromanya dan ia masih menyimpannya dengan baik.
Satu menit,
Dua menit,
10 menit berlalu, Damian menunggu dengan cemas. Adda tak kunjung menampakkan gejala keluar dari kamar mandi dan memberikan hasil. Hanya suara gemericik air terdengar meresahkan hati Damian. Hatinya berdebar debar, aliran darahnya mengalir cepat, entah dari mana datangnya tapi Damian memiliki firasat yang tidak beres yang tengah dialami oleh Adda.
"Shiitttt!! Apa apaan ini! Tidak mungkin!" maki Adda saat menatap test pack ditangannya.
"Matilah aku!" imbuh Adda lagi.
"Adda! Cepatlah keluar atau aku akan merobohkan pintu ini!" seru Damian dari luar pintu.
Dengan pandangan nanar, Adda melangkahkan kakinya ke arah pintu dan tangannya dengan reflek memutar handle bulat pada pintu, seperti robot yang diperintah dengan remote control. Tangannya gemetar memegang testpack dan Damian menyambarnya begitu saja sebelum Adda mengulurkan kearahnya.
"Shitttt! Benar sekali dugaanku! Instingku tidak pernah salah! Shitt!" seru Damian dengan membelalakkan matanya saat melihat hasil testpack itu menunjukkan dua garis merah.
Sementara Adda terus melangkahkan kakinya mencapai tepian ranjang, kemudian ia duduk disana. Rasanya semua tubuhnya gemetar, lututnya lemas hingga pijakan kakinya serasa goyah. Ia butuh duduk agar tak terjatuh. Buliran keringat mulai muncul di permukaan kulitnya, pun kulitnya memucat melihat kenyataan itu.
Pikirannya mendadak buntu. Pandangannya beralih pada syal merah yang di genggam erat oleh Damian. Kepingan ingatannya terbang pada kejadian malam itu. Malam yang menyesakkan hatinya di sebuah Hotel di Madrid. Mata Adda mulai berkaca - kaca.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus membuangnya? Tanya Adda dalam hatinya.
-
-
-
__ADS_1
hai im back ya, di September Ceria, setelah sekian lama.. semoga aku belum dilupakan.. karena aku belum lupa gimana caranya meminta kopi, vote dan like komennya.. 🤣🤭
kita coba lagi ya.... yukk bisa yukkkk 🤣