
Hati Leyka gundah, Valentino tidak kunjung kembali. Sementara ia terus mencengkeram kuat amplop yang di titipkan padanya. Amplop putih di lem rapi. Leykapun keluar lobby dan perlahan ia membuka amplop itu setelah ia menimbang nimbang dan berpikir panjang kali lebar.
Setelah mengeluarkan isinya dan merentangkan kertas itu lebar lebar, Leyka membacanya.
Diev, aku hamil anakmu. Kau tau saat kau mabuk di apartemen, kau marah dan tidak sadar melakukannya. Dan aku sangat yakin ini anakmu, karena bila anak Ricardo aku pasti akan hamil dari dulu. Kau tau dengan baik Ricardo adalah pecandu.
Aku tidak menuntut tanggung jawabmu, tapi aku hanya ingin bertanya, Apa kau menginginkan anak ini? Bila tidak aku akan melakukan aborsi. Aku juga tidak mau di repotkan dengan anak ini, Aku ada di kamar 5015.
Datanglah dan kita bisa membicarakannya, sebelum aku pulang ke Italy. Dua hari lagi aku pulang ke Italy dan minggu depan adalah batas waktu Aborsi karena kehamilanku menginjak 3 bulan. Kau tahu kan ketentuan Aborsi tidak boleh lebih dari 3 bulan.
Datanglah dalam waktu dua hari ini, berikan jawabanmu, agar saat di Italy aku bisa membuang anak ini. Ingat Diev, jangan lebih dari satu minggu. Karena bila lebih, maka aku akan kehilangan hak Aborsiku, mau tidak mau aku akan menjaga kehamilan ini.
Kau harus tau ini karena aku tidak mau, kau menyalahkanku. Atau menuntutku. Aku harus tahu kau menginginkan anak ini atau tidak. Temui aku, agar aku yakin bahwa aku bisa menggunakan hak Aborsiku.
REBECCA PALLAZO
Leyka bersandar pada pilar seketika, lututnya terasa lemas, ia meremas surat itu. Matanya berkaca kaca dan ia menghela nafas dalam dalam.
"Shit!! Jadi ada kehidupan yang kini ada di tanganku? Apa yang harus aku lakukan? Anak itu akan di aborsi dalam waktu satu minggu. Val, kau akan punya anak? Bila di aborsi, maka kalian akan jadi pembunuh dan aku juga akan menjadi pembunuh secara tidak langsung.. Apa yang harus aku lakukan?" Leyka terus meremas kertas itu menahan rasa sakit yang menusuk nusuk hatinya.
"Kenapa hatiku sakit? Tidak tidak.. Ini tidak boleh! Apa yang harus aku lakukan? Satu minggu.. Sebaiknya aku tidak memberitahukan hal ini kepada Valentino, bagaimanapun aku menentang aborsi. Anak punya kehidupannya sendiri, sekalipun terlahir bukan karena cinta. Mereka punya Hak untuk Hidup" Leyka menegakkan tubuhnya dan melihat di kelamnya langit yang mencurahkan gerimis kecil.
"Siapapun kau nanti, berterima kasihlah padaku karena aku membiarkanmu hidup. Jangankan satu minggu, Valentino akan berada di Afrika selama 3 minggu. Kau akan kehilangan hak Aborsimu Becca. Kau akan menjaga anak seorang Gallardiev" Leyka terus meremas kertas itu sehingga menjadi bulatan di genggamannya lalu ia membuangnya ke tong sampah.
"Kau tidak perlu menemuinya Val. Tidak perlu! Kau tidak akan menemuinya. Setelah liburanmu berakhir kau akan mendapat kejutan. Entah apa yang terjadi nanti setelah kau tahu. Tapi itu bukan urusanku!"
"Hei!-- Apa yang kau lakukan disini!"
"Awww! Shit! Kau mengagetkanku, Val!" Valentino tiba tiba datang dan memeluk Leyka dari belakang. Lalu reflek Leyka menepiskan tangan Valentino dan mendorong tubuhnya dengan kasar.
"Hei, ada apa? Kasar sekali"
"Maaf aku terkejut Val!-- Mana mobilnya?"
"Apa semua baik baik saja? Kau menangis? Kau sedih? Aku menyuruh tinggal di dalam mengapa di luar dingin begini?"
"Kau perlu membelikanku airmata bila kau ingin aku menangis! Aku baru saja menerima telepon dari Ibuku, itu saja" kilah Leyka.
Disaat yang bersamaan sebuah mobil datang dari arah basement dan berhenti di depan lobby, di antar salah satu petugas vallet parking. Dan Valentino menggandeng Leyka menuju mobil itu. Sebuah Range Rover putih keluaran terbaru terparkir sempurna sebagai ganti Mercedes-bens, Valentino mengulas senyumnya dan membukakan pintunya untuk Leyka yang memasang wajah datarnya. Valentinopun melajukan mobil itu meninggalkan Hotel Maslaw menuju Hotel Castello Di Monte.
"Kau menyukai mobilnya?"
"Apapun itu aku suka selama bukan aku yang menyewanya" Valentino terkekeh kecil mendengar jawaban Leyka yang melihat ke arah jalanan sejak ia menaiki mobil itu.
"Ley, apa ada masalah? Apa kau tidak sakit leher melihat kearah sana? Ayolah aku hanya melihat rambut saja. Tidak asik"
"Diamlah Val, aku melihat suasana Pretoria di malam hari. Mungkin aku akan melupakannya besok atau nanti, sebelum aku lupa aku ingin memandanginya" kata Leyka semakin berkaca kaca matanya.
Apa yang membuat mataku perih begini? Apa yang membuat hatiku sakit begini? Karena kau punya anak Val? Atau kenyataan kita akan berpisah. Ini yang aku tidak suka! Aku benci Luka! Aku sangat benci! Leyka Paquito Fernandez tidak boleh begini.. Tidak boleh ada Luka yang menyentuhku dan itu artinya tidak boleh ada CINTA..
"Apa yang dikatakan Ibumu?" kata Valentino membelai rambut Leyka.
"Dia hanya ingin aku pulang. Itu saja" jawab Leyka datar. Valentino terdiam. Ia membiarkan Leyka dan tidak mau mengusiknya karena mobil itu tidak lama memasuki parkir Hotel Castello Di Monte setelah menempuh jarak 15 menit karena suasananya sangat lengang dini hari itu.
Masih dalam diam merekapun bergegas memasuki kamar mereka yang telah kembali rapi. Mereka langsung melepaskan semua balutan tubuhnya karena pakaian mereka basah.
__ADS_1
Valentino mengisi air di bathup sementara Leyka menyalakan shower dan mencuci rambutnya. Hatinya semakin bergemuruh dan Valentino bertanya tanya dalam hatinya mengapa Leyka bersikap tidak seperti biasanya. Seiring busa shampo menuruni tubuhnya, airmatanya pun menuruni wajahnya dengan mata terpejam.
Leyka menangis, ia ingin meraung ia ingin menjerit tapi tidak bisa. Leyka tidak pernah bisa bersuara bila menangis.. Dan itu terjadi sejak Ema Gusmo yang telah menguncinya di almari pakaian saat Ayahnya meninggal dan di semayamkan di rumahnya saat ia kecil ditambah Locki Gusmo yang selalu membentaknya saat menangis.
Jangan bersuara! Kau jangan bersuara! Menangislah tapi jangan bersuara! Kalau bersuara aku akan memotong lidahmu! Sebaiknya kau tidak menangis! Kau memilih diam atau ku potong lidahmu!
Suara itu memenuhi pikirannya. Suara yang sangat jelas terkadang hadir disaat ia merasakan kesedihan. Leyka terbiasa menangis tanpa bersuara pada akhirnya.
"Ley" bisik Valentino dengan lembut dan kembali mengejutkan Leyka, tanpa menyentuhnya.
"Hah! Val!" Leykapun membalikkan tubuhnya dan Valentino menautkan kedua tangannya ke pinggang Leyka.
"Apa kau baik bai--- dengan ganas Leyka melu*mat bibir Valentino, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Valentino. Leyka memejamkan matanya dan terus melu*mat bibir Valentino.
Tangannya kini mulai menyunggar rambut Valentino dari bawah ke atas dengan lembut kemudian mere*masnya. Valentino sesaat mengerutkan alisannya, melihat sikap Leyka yang tidak biasa. Namun kebuasan Leyka membuat Valentino mengikuti iramanya. Ia pun mere*mas kedua bok*ong Leyka dan membalas serangan luma*tan itu dengan tak kalah ganas.
Leyka menghi*sap kasar lidah Valentino kemudian menggigit lembut bibir Valentino secara bergantian. Dengan berjinjit Leyka terus mencumbu dagu dan menuruni leher hingga perut Valentino. Meninggalkan banyak kissmark ditubuh itu. Jemarinya menjalar kebawah perut Valentino dan menangkap senjata milik Valentino yang telah menegang. Leyka mencengkeramnya dan mengusapnya naik turun.
"Ohh Shit Leyka! Ooohh...Leey" Valentino pasrah dengan keganasan Leyka, ia menikmati gigitan dan hisa*pan lembut di dadanya. Leyka terus merayapinya hingga memerahi perut six pack Valentino tanpa melepas cengkeraman pada kokohnya jagung bakar Afrika Selatan yang mengeluarkan aura kejantanannya.
"Oohh Leyka.. Aaahh.. Kau kenapa il mio amore (cintaku; Italy) !"
"I want you, Val (aku menginginkanmu).. Uuhmm"
"Leykaa!! Aargh! Shit! Aarrgh Leykaa!!" Valentino membelalakan matanya saat Leyka tiba tiba mendorong tubuhnya hingga bersandar ke tembok dan setelah Leyka menghi*sap perut Valentino, Leyka mengu*lum milik Valentino tanpa ampun.
Leyka kuwalahan saat menghi*sapnya, mulutnya sangat penuh hingga terasa pedas di kedua sudut bibirnya. Dengan menumpu lututnya Leyka memejamkan matanya, dan mengu*lum keluar masuk, sesekali ia menji*lat dari puncak hingga pangkalnya.
"Aaargh Leyka.. Ssshhff.. Aargghh Ley.. Aargh Il mio amore.. Aargh.. Leyka" tidak perduli Valentino mencengkeram rambutnya, Leyka terus melu*mat senjata milik Valentino yang menegang, Valentino terus menegang saat Leyka menji*lat kedua buah sensitif di area pangkal pahanya.
"Aarrgh! Shit! Leykaaa! Aargh.. Aargh!" Valentino tidak kuasa menahannya lagi. Permainan lidah Leyka yang berputar putar dan menghanyutkan di kehangatan mulutnya membuat Valentino melambung hasratnya hingga ia harus menahan kepala Leyka lalu mencengkeram rambutnya.
Valentino luruh ke lantai kamar mandi dan memeluk Leyka diraihnya perlahan kepala Leyka lalu direbahkan di dadanya. Leyka tersenyum dan merayapi bulu bulu di dagu Valentino. Dan Valentino meraih rahang Leyka diarahkan ke wajahnya lalu mencium kening Leyka, Valentino merasakan Leyka yang tidak seperti biasanya. Leyka menjadi lembut menatapnya, ada sesuatu yang tersirat dibalik tatapan yang meredup.
"Il mio amore" bisik Valentino. Dan Leyka memeluk erat Valentino dengan memejamkan matanya. Untuk beberapa saat mereka terdiam, Valentino mencoba menyelami apa yang terjadi namun buntu.
"Leykaa--
"Val, aku lapar" Leyka buru buru memotong perkataan Valentino dan bangkit berdiri. Namun Valentino menangkap paha Leyka dan menyergap irisan buah peach yang ranum itu.
"Aaaahh Val.. Aku lapar Val.. Aaaa.. Shit! Kau membalasku?! Aaaah Val" Leyka memekik lirik. Rasa yang begitu dahsyat menyerang pangkalnya tiba tiba, kaki Leyka seakan terpaku tak bergerak.
"Nikmatilah Il mio amore" bisik Valentino parau.
"Aaaaahhh Val" tubuh Leyka memanas seketika, hingga ia menumpu kan kedua tangannya di tembok dan Valentino terus melu*mat perlahan, menyesap buah mungil yang selalu membuatnya penasaran. Valentinopun tak kalah ganas, ia menyusupkan lidahnya kedalam sambil menggesekkan hidungnya berulang ulang dan berputar putar, tangannya menekan kuat pinggul Leyka lalu mere*masnya perlahan.
"Aahh.. Val.. Aa..aaa...aah.. Val" Desahan Leyka terdengar merintih rintih, seperti memohon atas hasratnya yang kian meluap yang sulit di bendung.
Valentino menjil*ati dengan penuh nafsu, hingga ia kembali menegang. "Uhhmm.. Ssh.. Uhhmm Ley.. Uhmm Peach.. Aahh"
"Aaahh.. aaahh shit.. Vaall.. stoopp.. Aarhg"
"Oohh.. Uhmm peach.. aahhmm.. Uuhhmm" Melihat Valentino menjil*atinya dengan mendambanya, Leyka seakan di pompa, hasratnya dipacu hingga diketinggian dan irisan buah peach itu berdenyut. Valentino menahan lidahnya dengan memejamkan matanya, menikmati jepitan intim milik Leyka yang menghangatkan lidahnya.
"Aaaaa..aaaaa...aaaahhh.. Val" Leyka tersengal nafasnya, pahanya yang menegang kini mengendur dan Valentino melepas cengkeramannya, lalu mengusap perlahan milik Leyka. Lalu ia pun bangkit berdiri memeluk tubuh Leyka dan menggendongnya ke arah bathup, kemudian mereka berendam di dalamnya. Mereka berhadapan dan saling memandang.
"Liar" desis Valentino dengan tersenyum dan membelai pipi Leyka sangat lembut. Leyka menumpangkan telapak tangannya di telapak tangan Valentino yang mendarat di pipinya dan tersenyum manis. "Nakal" bisik Leyka lirih, membalas.
__ADS_1
Valentinopun meraih tubuh Leyka dan memeluknya hangat, lalu Leyka menyandarkan kepalanya kembali di dada bidang pria Italy itu dan memainkan jemarinya di telinga pria itu.
"Ley, kenapa kau jadi pendiam? Dan bersikap tidak biasanya? Apa aku boleh tau sebabnya?" dengan lembut Valentino bertanya sambil mengecup kening Leyka dan menyingkirkan anak rambut lalu menyelipkan di balik telinga gadis Spanyol yang membuatnya melayang beberapa saat yang lalu.
"Val, apa kau setuju dengan Aborsi?"
"Apa kau hamil?" Valentino terkejut dan mendorong perlahan tubuh Leyka agar memberi jarak, wajah Valentino mengerutkan alisnya.
"Dalam 6 hari kau bisa menghamiliku? Jangan becanda Val" dengan terkekeh Leyka kembali menyandarkan kepalanya di dada Valentino.
"Iya juga yaa-- lagi pula kau meminum ramuan kontrasepsi suku xhosa-- Apa ada hubungannya dengan Ibumu atau anak loco itu mau aborsi?" Valentinopun menduga duga, karena pengakuan Leyka Ibunya menghubungi Leyka. Dan Valentino yakin itu yang membuat Leyka bersikap tidak biasanya.
"Anggap saja begitu" kata Leyka ambigu.
"Apa yang membuatmu bersedih?" tanya Valentino lagi.
"Tidak ada-- Aku hanya tanya pendapatmu tentang Aborsi. Kau tau kan di benua kita aborsi di perbolehkan"
"Pendapatku-- Aku tidak menyetujuinya. Ley, bila kau hamil anakku, apakah kau akan Aborsi?" Entah apa yang ada di pikirannya, Valentino selalu mudah berandai andai sejak bersama Leyka.
"Pasti Val-- Leyka terkekeh menggoda Valentino --jangan berandai andai yang tidak mungkin. Aku belum siap punya anak dan aku tidak terpikir untuk punya anak. Anak hanya akan merepotkan aktifitas kita" ujar Leyka dengan memutar mutar jari telunjuknya di kissmark yang ia buat di dada Valentino hingga merah kehitaman.
"Aku akan membunuhmu bila kau membuang anakku, ini seandainya Ley" mereka tertawa di iringi tangan Valentino mengusap perut Leyka layaknya ibu hamil. Mereka mengandai andai yang menurut mereka hal yang tidak mungkin terjadi. "Aaww Val!" rengek Leyka saat Valentino menggigit kecil hidung mancungnya di sela sela tawa mereka.
"Apa yang ada dipikiranmu? Apa yang membuatmu sedih? Ella Gusmo hamil oleh Diego?" Leyka terdiam, maksud Leyka bukan itu tapi Valentino menduga dengan sendirinya.
"Tidak ada-- Val, bila tiba tiba kau punya anak, apa yang akan kau lakukan? Tapi kau tidak mencintainya-- Ahh anggap saja Rebecca itu hamil anakmu dan kau tidak mencintainya. Apa yang akan kau lakukan?"
"Lalu siapa yang di cintai Diego? Apakah dirimu? Apa kau yakin bukan Ibumu yang meneleponmu?"
"Val, ayo jawablah-- Kau bisa memeriksa ponselku bila kau tidak percaya" entah arahnya kemana pembicaraan itu, Valentino merasa lega dengan jawaban Leyka.
"Ehm, Mungkin aku akan menyarankan Aborsi bila Rebecca hamil. Tapi itu tidak mungkin terjadi, Peach. Karena aku tidak pernah menyentuhnya"
"Hist.. Kau jahat sekali Val. Bisa saja kau melakukannya saat kau mabuk dan tidak sadar. Kau pasti mabuk parah saat kau mengetahui perselingkuhannya"
"Hahaha.. Leyka, dugaanmu benar tapi aku tidak mabuk sampai kehilangan kesadaranku. Ada Jared yang menemani dan mengurusku. Bukan wanita" Valentino mencubit kecil hidung Leyka dan mengecup sekilas bibir Leyka. Ada rasa hangat mengalir dalam hati Leyka perlahan lahan.
"Bila Jared sama sama mabuk bukannya sama saja kalian seperti orang buta menuntun orang buta" Valentino kembali terbahak mendengarnya.
"Aku tidak mau anak dari wanita yang tidak aku cintai, Ley" Dengan tegas Valentino meraih dagu Leyka dan di tatapnya mata coklat madu itu lekat lekat, Valentino mengatakannya dengan sangat serius dan itu sangat menghunus hati Leyka, matanya perih seperti ada debu yang menerpanya.
"Kenapa kau mau aku punya anak dariku sementara aku hanyalah orang asing, Val. Padahal tidak ada cinta diantara kita" Leyka menelan salivanya dan mengerjapkan matanya. Menekan perlahan debaran yang mengacaukan perasaannya.
"Bagaimana bila ada?" sangat lembut suara Valentino saat itu. Lalu Leyka memiringkan wajahnya dan melu*mat bibir Valentino sekejap lalu ia lepaskan dan menjauh bersandar pada bibir bathup yang berseberangan dengan Valentino.
"Hmm? Ada? Kita hanya mempunyai rasa nyaman Val-- Kau dari katolik ortodok, yaa aku tahu orang Italy sebagian besar katolik ortodok dan mereka tidak akan bercerai. Mereka menikah hanya sekali atau tidak sama sekali-- Bagaimanapun kau seorang Italy dan baru mengenal beberapa hari dan kau mengatakan itu Cinta? Apa kau ingin menikahi dengan serius di Vatikan?" Leyka tertawa sumbang. Dan Valentino kembali berpikir untuk sesaat.
"Kau benar Ley, di dalam cinta harus ada sesuatu yang lebih besar-- Bagaimana kita mengujinya?"
"Tinggalkan aku, Val" Bukan hanya Valentino yang berdegup jantungnya, Leykapun bergemuruh di dalam hatinya saat mengatakannya.
...-...
...-...
...-...
__ADS_1
maaf yaa jarang up, mau lebaran nih jd sibuk. Pokoknya aku usahakan Up sesempetnya. Karena aku ngutamain Ohh Diana yang mau tamat. Itu aja juga Kacau jadwalnya karena acc admin. Lebaran sebentar lagi Gengs! Semoga berkah bulan Ramadhan kita rasakan bersama.
yg adegan 21++ paling lama 5 hari jadi upnya tergantung dari admin NT MT nya.. Sabar ya gengs.. orang sabar nganunya lebar kok.. 🤣🤣🤣🤭