FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Terkena Serangan Jantung !


__ADS_3

...PRESENT DAY : ITALY...


...( 8 Year Later )...


Di Sebuah Apartemen


Pukul 04.00


"Pappa-- gadis kecil dengan boneka di tangannya berdiri diambang pintu dengan menggaruk kepalanya, matanya masih setengah terbuka dan ia sesekali menguap --Pappa mau kemana sepagi ini" Valentino menghampiri gadis itu seraya menyematkan arloji di tangannya, ia membawa serta ikat pinggang yang telah berusia 8 tahun namun masih saja terlihat baru. Setelah mengenakan dipinggangnya, Valentino menggendong gadis kecil itu.



"Miu, Pappa akan menemui Kakeknya Papa-- kembalilah tidur" kata Valentino sambil menciumi pipi gadis kecil itu. Elara Miuccia. Valentino membawa kembali, putrinya itu ke kamarnya dan menidurkan di ranjang yang lembut, nuansa pink dan tosca mewarnai kamar itu.


"Apa Miu tidak boleh ikut, Pappa?" tanya gadis kecil itu saat Valentino menyelimutinya.


"Di rumah sakit tidak boleh anak secantik dirimu masuk, Sayang" jawab Valentino sambil mencium kening Miu. Ia tersenyum dan memandangi wajah mungil yang menghiasi hari harinya. Sejak kehadiran Miu, hidupnya berubah drastis. Kesedihan dan kekecewaannya kehilangan Cinta di Pretoria, teratasi dengan kehadiran gadis cilik itu. Ia merasakan kebahagiaan saat ia berada di sisi Putrinya.


"Kenapa aku tidak boleh masuk? Aku kan cantik" Lagi dan lagi Valentino menciumi kening Miu dengan terkekeh. Melihat keimutan Miu membuatnya gemas.


"Karena disana banyak virus. Papa tidak mau kamu sakit" ujar Valentino membelai wajah Miu, matanya yang abu abu kebiruan seperti miliknya, membuat Valentino tidak tega meninggalkannya, namun ia harus pergi. Kakeknya masuk rumah sakit lagi dan itu membuatnya harus menemuinya, pesan Ibunya melalui ponselnya, membuat Valentino tidak tenang.


"Ada Papa yang melindungi Miu" Valentino merasakan kehangatan saat mendengarnya. Merasa dibutuhkan dan merasa berarti adalah hal yang membahagiakannya.


"Cara Papa melindungimu adalah dengan membuatmu tidak ikut, Miu. Karena virus tidak terlihat. Papa akan langsung bekerja. Kita bisa makan siang bersama di sekolahmu. Apa kamu setuju?" bujuk Valentino membuat mata Miu berbinar.


"Ehm, apa aku boleh makan ice cream?" Miu mulai menawar.


"Kalau Mama marah bagaimana"


"Maka Papa harus melindungiku-- Deal?" Miu merentangkan tangan meminta pelukan, dan itu membuat Valentino luluh.


"Deal" Valentino kembali mencium dan memeluk Miu, ia memejamkan matanya menghirup lembutnya aroma strawberry yang sangat khas.


"Kau mau pergi sekarang? Apa tidak sebaiknya sarapan atau minum kopi?" Valentino mengurai pelukannya, saat seorang wanita memasuki kamar Miu dengan piyama transparan melekat di tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian dadanya. Valentino tersenyum melihatnya.


"Aku sangat buru buru" Valentino memalingkan wajahnya dan kembali menatap wajah Miu.


"Miu, Papa berangkat dulu. Ingat, sampai ketemu nanti siang" Valentino mencium kening Miu dan membelai rambutnya.


"Papa hanya menciumku, kenapa tidak mencium Mama" Valentino kembali terkekeh dengan pertanyaan putrinya yang polos, terkadang sangat kritis namun Valentino tidak kalah menjawab pertanyaan yang di lontarkan Miu, ia mencoba memberikan nilai yang baik pada Miu.


"Papa sudah mencium Mamamu, ribuan kali sebelum kamu bangun, Miu-- Dan anak kecil, di larang melihat orang dewasa berciuman, itu tidak baik" ujar Valentino sambil mencubit hidung mungil putrinya itu.


"Papa tidak mandi dulu? Sepertinya Papa masih memakai baju kemarin"


"Papa akan mandi di kantor Sayang. Kakek menunggu Papa-- dan Papa harus sampai disana secepatnya"


"Ya sudah Papa pergilah. Salam untuk Kakek buyutku. Katakan aku ingin bertemu dengannya" kata Miu sambil memeluk bonekanya dan menguap kembali.


"Hmm-- Ci vediamo (sampai jumpa lagi)" Valentinopun bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu kamar.


"Ti amo (aku mencintaimu), Pappa" ucap Miu sambil memiringkan tubuhnya dan lagi lagi ia menguap.


"Ti amo, Miu"


"Aku akan ke sekolah Miu saat makan siang, biarkan Miu makan siang bersamaku-- Aku pergi dulu" kata Valentino dengan tersenyum lalu menutup pintu kamar Miu.


"Baiklah" balas wanita itu.


"Lain kali buatlah Papa minum kopi, Miu" ujar sang Mama merebahkan tubuhnya di ranjang Miu. Ia membelai wajah Miu dengan menyingkirkan anak rambut gadis kecil itu. Ia mencium kening Miu kemudian.


"Si Mamma (Iya Mama; Italy)" Valentino mendengarnya dan ia hanya tersenyum. Sesaat ia menatap ruangan itu, sebuah foto pernikahan berukuran besar terpampang sangat besar disana, Valentino menatapnya lekat lekat lalu tersenyum, ada kesedihan saat menatap Lukisan itu. Ia menyambar jasnya lalu beranjak pergi dengan tergesa gesa. Hatinya kembali hampa. Kosong. Dan kebahagiaannya hanyalah sesaat.

__ADS_1


...*...


Valentino ke rumah sakit menemui Kakeknya, setelah ia membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian di Apartemen pribadinya. Ia tampak tergesa gesa dan semua keluarga terlihat disana, menunggunya. Sepanjang koridor rumah sakit, Valentino mendengar para perawat berbisik bisik, pesonanya tidak pernah memudar. Semakin bertambahnya umur, Valentino semakin tampan, walaupun ia terlihat tirus dari sebelumnya, Valentino tetaplah Valentino si Pria Italy yang di gilai wanita yang bertebaran di sekelilingnya. Namun pikirannya hanya satu, Elara Miuccia, gadis manis yang memanjat gunung es di hatinya. Walaupun tidak mencairkannya, Miu berhasil menduduki hati Valentino.



"Nonno (kakek; Italy) terkena serangan jantung pagi pagi? Apa Nonno tidak mau melihat matahari lagi?" Kakeknya tersenyum melihat kedatangan Valentino, sang pendiri Locomotive Machine ini terlihat pias dengan lingkar mata kehitaman. Ia tampak letih dan tidak berdaya.


"Berandalan, apa kau sudah siapkan dirimu dengan perintah Kakekmu?" Valentino hanya menggedikkan bahunya ketika Alfonso bertanya.


"Padre, aku belum bisa memenuhi keinginan Nonno" ujar Valentino dengan menghela nafas berat.


"Diev, itu perintah Kakekmu. Dia tidak akan tenang sebelum kau mengabulkannya" sela Rhosana, sang Ibundanya.


"Mamma, aku rasa aku belum siap"


"Diev, Diev-- Panggil sang Kakek dengan terbata bata. Ia berusaha bangun dari tidurnya, ia akan merasa nyaman dengan duduk. Ia pun dibantu untuk duduk oleh Valentino dan Ayahnya.


"Nonno? Jangan bangun dulu" kata Valentino dengan menopang tubuh sang Kakek, ia tetap saja ingin duduk. Kakek yang pemaksa ini sangat sulit di hindari segala perintahnya.


"Aku lelah Diev. Apa permintaanku sangat sulit?" tanya sang Kakek dengan nafas tersengal.


"Padre, berandalan ini tidak bisa berbuat apa apa. Hal kecil saja ia tidak bisa lakukan apalagi menangani hal besar" kata Alfonso dengan kesal.


"Padre aku bekerja. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku demi usaha keluarga yang tidak aku kuasai sama sekali" kilah Valentino kepada Ayahnya.


"Tapi itu permintaan Kakekmu yang terakhir, Diev. Pabrik kita di Barcelona benar benar terbengkalai" kata Rhosana sambil mengusap rambut Valentino.


"Apa kau bisa, membuat sketsa interior gerbong kereta api? Seperti Rovos Trail atau Blue Train?" Valentino berdebar ketika Kakeknya menyebut nama Blue Train, kereta yang penuh kenangan yang telah ia kubur dalam di lautan es, begitu dalamnya hingga terkadang ia sulit menemukan cinta yang pernah ia rasakan. Valentino duduk pada kursi yang mengelilingi ranjang pasien, kakinya terasa lemas. Ia menggenggam tangan Kakeknya dengan kepala menunduk.


"Nonno, aku--


"Kau hanya perlu membuat rancangannya dan kau tinggal memamerkannya, lalu kau bisa menjualnya. Bila rancanganmu bagus, mereka akan mencarimu. Seperti kau merancang gedung pencakar langit yang selalu kau buat. Hanya seperti itu mekanismenya, menjalankan perusahaan Locomotive Machine" ujar Kakeknya dengan membelai rambut Valentino.


"Berandalan ini, selalu berbeda Padre. Kakak kakaknya mengabdikan seluruh hidupnya di keluarga tapi anak ini sama sekali tidak perduli. Tidak ada sumbangsihnya kepada keluarga, dia memilih untuk keluar dari Locomotive Machine. Sebaiknya dia tidak usah mendapatkan warisan apapun dari Locomotive Machine" sahut Alfonso dengan nada geram, namun sang Kakek hanya tersenyum.


"Valentino Gallardiev!" hardik Alfonso memotong perkataan Valentino dan mengejutkan semuanya. Rhosana sontak berdiri dan menghampiri Alfonso untuk menenangkannya.


"Amor, ini rumah sakit. Kau bisa membuat jantung Padre berhenti berdetak! Apa kau tidak bisa tenang?" ujar Rhosana dengan menepuk punggung suaminya.


"Berandalan ini membuatku kesal!" dengus Alfonso sambil menghempaskan tubuhnya di kursi, menjauh dari Valentino. Ia menata emosinya.


"Alfonso, itulah yang aku sukai dari anak yang kau sebut berandalan ini. Dia bisa meraih kesuksesannya dengan tangannya sendiri. Karena itulah, aku memberikan Locomotive Machine yang berada di Barcelona. Aku yakin Valentino bisa mengelolanya" kata sang Kakek kepada anaknya, Alfonso.


"Nonno, beri aku waktu lagi untuk berpikir. Karena meninggalkan perusahaan yang telah mendidik dan menjadikanku sukses adalah sesuatu yang tidak mudah-- Aku akan melakukan perjalananku ke Rusia selama satu minggu, ada proyek disana. Setelah aku pulang, Nonno akan mendapatkan jawabanku" sang Kakek hanya tersenyum, dengan nafas tersengal.


"Setelah 8 tahun kau akhirnya melakukan perjalanan ke luar negeri?" Tanya Rhosana dengan rasa penasaran.


Selama 8 tahun semenjak ia mendarat di Bandara Italy setelah dari Barcelona, Valentino yang terluka karena tidak mendapati Leyka di Apartemennya, Valentino enggan pergi kemanapun. Saat itu Valentino mengetahui Leyka justru berada di Palma dan di nobatkan sebagai Putri Mahkota dengan menyandang gelar Felipe.


Terlebih lagi ia mendapati Leyka kabur bersama Diego membuat hatinya patah hati. Liburan yang selalu dirancangkannya tidak pernah ia lakukan. Ia memenjarakan dirinya di Italy, mengurung dirinya dan menikmati kebahagiaannya bersama putri kecilnya, Elara Miuccia. Walaupun kadang kadang saat salju turun di Italy ia selalu bertanya tanya dalam hatinya, Apakah salju turun juga di Barcelona? Apakah kau mengingatku? Seperti aku mengingatmu saat jalan panjang yang aku lalui di Italy yang terkadang mengingatkanku seperti berada di Pretoria.


"Proyek ini terbesar dari semua yang pernah aku dapatkan. Lebih besar dari Capetown Time Square yang pernah aku buat. Investornya ingin bertemu denganku di Rusia, Mama" Ujar Valentino dengan lesu.


"Bawakan wisky terbaik untuk Padre" ujar Rhosana sambil berbisik kemudian melirik kearah Alfonso.


"Bawakan satu juga untukku" sahut Kakeknya, dan Valentino terkekeh mendengarnya.


"Maka tunggulah aku, Nonno. Jangan pernah pergi saat aku tidak ada di Italy" ujar Valentino seraya menciumi tangan Kakeknya.


"Pada akhirnya semua orang akan pergi, Valentino" kata kata sang Kakek mendebarkan hatinya. Hatinya mulai gusar.


...*...

__ADS_1


Di Kantor


"Hahaha.. Valentino Gallardiev.. Hahaha" Jared meledakkan tawanya saat memasuki ruangan Valentino, dan itu membuat Valentino bingung, tidak mengerti apa yang membuat Jared tiba tiba tertawa terpingkal pingkal saat memasuki ruangannya.


"Apa kau salah makan?" Valentino kembali menatap laptopnya dan mengutak atik hasil rancangannya gedung pencakar langit untuk proyek di Rusia. Ia mengkoreksi sebelum ia membawanya kesana bertemu dengan Investornya.


"Sejak kapan kau tidak memperbaiki data pribadimu" tanya Jared masih tergelak lalu ia duduk di sudut meja dengan separuh bokongnya mendarat disana. Ia pun meraih ganggang telepon dan menekan tombol yang dituju. Ia menelepon seseorang.


"Torres, bawa berkas pengajuan Visa dan Passport Gallardiev kesini, aku tunggu di ruangannya" Jaredpun meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya dan kembali berdiri tegak di seberang meja Valentino. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyingkirkan laptop Valentino.


"Jared! Apa yang kau lakukan!" teriak Valentino dengan kesal.


"Tunda dulu pekerjaanmu, dan dengarkan aku. Kau akan mati berdiri bila kau tahu ini" kata Jared dengan terbahak. Valentino semakin tidak mengerti, namun ia hafal pada kawannya ini, bila tidak ada sesuatu yang penting, Jared tidak mungkin mengganggunya.


"Shit! Apa lagi!" Valentino merebahkan tubuhnya bersandar pada kursi kerjanya yang nyaman. Terkadang Valentino bisa tertidur di kursi itu bila lembur.


"Siapkan hatimu, Torres sedang mengurus Passportmu yang sudah habis masa berlakunya dan Visamu ke Rusia, dia menemukan kendala. Kau harus membuat ulang Passportmu, kan?" tanya Jared membuat Valentino bermalas malasan menanggapi dan menjawab pertanyaan Jared, ia memainkan pulpen di tangannya dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Sudah pasti, aku tidak kemanapun selama 8 tahun ini. Terakhir aku ke Barcelona menemui Wanita Siluman itu, tapi dia justru di Palma. Passportku masih berlaku saat itu dan kita tidak perlu Visa hanya untuk ke Barcelona, karena aku hanya satu hari disana!-- Lalu apa kendalanya?" Jared kembali terbahak bahak dan membuat Valentino kebingungan.


"Apa kau tahu pernikahan antar Negara?"


"Tentu saja tidak dan untuk apa aku tahu pernikahan dua negara! Tidak penting!" Valentino merasa di usik dan Jared semakin meledakkan tawanya.


"Diev saat itu, 8 tahun yang lalu saat kau di Pretoria-- Apa kau tidak berniat menikahi Leyka saat kau memintanya ikut ke Italy?" Jared masih terbahak dengan bertanya, dan membuat Valentino semakin kesal.


Ia tidak mengerti maksud Jared, yang terus tertawa seolah menertawakan dirinya, di tambah Jared menyebut nama Leyka tiba tiba. Jared berhasil membuat suasana hati Valentino memanas.


"Aku tidak berniat menikahi Wanita Siluman itu bahkan sejak awal atau pun di masa mendatang!" Jared semakin meledakkan tawanya lagi mendengar jawaban Valentino. Namun ia merasa Jared mengejeknya dan ia semakin kesal oleh pertanyaan yang tidak ia mengerti. Antara Visa dan Passportnya versus pertanyaan Jared seputar pernikahan lalu menyangkut Leyka. Valentino semakin muak mendengarnya.


"Hahaha... Iya..Iyaa.. Kau tidak perlu melakukannya Gallardiev! Hahaha.. Ohh.. Shit! Aku tidak bisa menahan diriku.. Hahaha.. Mataku sampai berair.. Ohh.. Shit! Hahaha!" Jared terus terbahak dan itu membuat Valentino semakin habis kesabarannya.


"Sebenarnya apa yang kau tertawakan?!" Valentino di puncak kekesalannya.


"Lalu untuk apa kau meminta Leyka ikut bila kau tidak berniat menikahinya? Hahaha.. Ohh Tidak Gallardiev.. Perutku sakit sekali.. Hahaha" Jared semakin terbahak dan tidak ada kata puas untuk tertawa. Jared memegangi perutnya yang terasa kaku karena tawanya sulit dihentikan, sementara Valentino semakin sengit menatap Jared.


"Bukankah tinggal bersama lebih baik dari pada menikah. Apa yang terjadi sampai kau menjadi gila seperti ini! Aku hanya ingin menjadikannya simpananku saja! Apa masalahmu?!" belum Jared menjawab pertanyaan Valentino, pintu di ketuk lalu di buka setelah mendapat izin dari Valentino. Sekretaris terlihat membuka pintu dan mempersilahkan seseorang yang di nantikan Jared memasuki ruangan itu.


Torres, bagian Human Resources Department (HRD), banyak divisi terdapat disana. Namun Torres berada di sebuah Divisi Umum yang mengurus perjalanan karyawan di bawah pengawasan HRD. Semua Passport dan Visa bagi semua karyawan yang ingin melakukan perjalanan Divisi Torres yang mengurusnya termasuk menyiapkan tiket, booking Hotel, serta biaya akomodasi dan juga transportasi, Torres lah yang membawahi Divisi Umum, anak buahnya yang akan mengerjakan tugas itu.


"Torres, apa kendalanya?" Jared masih terbahak saat Torres masuk. Jared seperti sudah mengetahui kendalanya hingga ia terbahak, seakan mengejek Valentino yang masih saja kebingungan dengan sikap Jared.


"Diev, kau harus ke kedutaan Italy. Ini berhubungan dengan datamu. Seharusnya kau melakukannya 8 tahun yang lalu" ujar Torres membuat Valentino semakin bingung.


Torres menyerahkan sebuah map yang berisi beberapa lembar surat menyurat perihal pengajuan Visa dan pembuatan ulang Passport Valentino karena masa berlakunya telah habis. Torres meletakkan di meja lalu Valentino membuka map itu, dan ia memeriksanya dengan sangat cermat.


"Kenapa aku harus mengubah data pribadiku?" Valentino semakin mengerutkan alisnya.


"Diev! Bodoh! Hahaha... --Jared masih tertawa terpingkal pingkal --Diev! Selamat atas pernikahanmu! Kau telah menikahi Wanita Siluman-- Leyka Paquito Fernandez! Hahaha.. Kau tidak perlu menikahi Leyka dimasa mendatang, Karena dia sudah menjadi ISTRIMU DI MASA LALU! Kau harus mengambil surat pernikahanmu yang dikirim Kedubes Afrika di Kedubes Italy! Hahaha.. " Jared dan Torres terbahak bahak.


Namun Valentino melompat dari kursinya, rasanya ia seperti tersambar petir hingga ia berdiri sambil menyambar map itu dengan gemetar, matanya membulat seakan ingin lepas dari tempatnya. Data pribadinya telah berubah dan Valentino di minta salinan surat nikahnya sebagai persyaratan pengisian data pribadinya.


"SI.. SI.. WANITA SILUMAN ITU-- IS..ISTRIKU??" Seperti Gunung berapi Fagradalsfjall di Islandia yang meletus dan laharnya mencairkan salju abadi disana, Valentino sangat terkejut hingga ia hampir terjatuh, Ia berpegangan pada meja yang ada di hadapannya, map itu terburai isinya dan ia memegangi dadanya dengan nafas memburu.



Wajah Leyka melintas di benaknya. Jantungnya serasa ingin meledak! Jared benar, Valentino rasanya bisa mati berdiri saat ini. Tawa mereka menghilang di ganti kepanikan. Valentino terkena serangan jantung!


Leyka.. Kau Istriku? Selama ini kau Istriku? Ini tidak mungkin.. 8 tahun Leyka.. Apakah ini mimpi..


-


-

__ADS_1


-


Oiii kmrn yg nebak Kakeknya nyuruh nikah itu siapa.. Bariss cepet!! pengen tak ci*pok pake jagung bakar Afrika Selatan deh rasanya 🤣🤣🤣🤣🤣 Di bilang ini tuh bukan novel ceo ceoan yang dipaksa nikah ama kakeknya, neneknya, bapaknya, emaknya, kakaknya, adiknya, bahkan anaknya.. eett dahh.. di bilang aku tuh othor gendeng yg kalem dan tidak sholehah, ga bakalan sama deh, wkwkwk ngakak.. Aku tuh belom bikin novel perjodohan.. iisshh.. 🤣🤣


__ADS_2