
...CASA DE MIEL...
Lantai Satu
Train langsung memasuki kamar yang biasa ia gunakan untuk tidur siang. Satu kamar untuk umum, siapapun keluarga Fernandez yang menginap di Apartemen Dolores akan tidur dikamar itu.
Dan Apartemen Dolores adalah rumah kedua bagi Train. Ia akan tidur siang lalu mengejarkan tugas sekolahnya di Apartemen Dolores setelah bangun tidur. Setelah itu Manuella atau Diego akan menjemputnya, untuk dibawa ke Apartemennya di lantai delapan.
Saat makan malam Manuella akan mengantar Train ke lantai tujuh atau Leyka akan menjemputnya. Karena saat makan malam, pergantian shift jaga di Double P. Dan tugas Leyka setelah itu adalah menyiapkan makan malam dan menjadi guru di rumah setelah itu.
Menemani Train belajar,.memeriksa tugasnya, dan mengajarkan materi materi yang akan di pelajarinya esok hari di sekolah. Sehingga saat guru menerangkan materi pelajaran, Train sudah menyerap sebagian. Karena itulah Train pintar dalam hal akademiknya, ia selalu menduduki peringkat pertama di setiap ujian harian di sekolahnya, bahkan di sekolah non akademik.
Semester pertama Train menduduki tingkat pertama, bahkan nilainya peringkat nomor satu di lima sekolah yang mengadakan perlombaan akademik di akhir musim panas. Leyka boleh merasa bangga bahkan Valentino, bila mengetahui usaha keras Leyka dalam mendidik anak kesayangan mereka.
Blue.. Daddy merindukanmu.. Daddy datang Blue..
Sayup sayup suara itu memenuhi mimpinya, baru ia memejamkan matanya, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Yaitu tetangga barunya. Train bersorak dan menjerit.
Uncle.. Tangkap aku.. Unclee...
Valentino menangkap Train dan memeluk seeratnya, Valentino menciuminya lalu berbisik, "Blue, ini Daddy.. Ini Daddy Toro.. Daddy datang untukmu, Blue"
Uncle.. Kau kemana saja..
Blue.. Daddy merindukanmu.. Sangat merindukanmu, Putraku..
Train tersentak dan membuka matanya, saat terdengar pintu luar di tutup di iringi langkah kaki Dolores dan juga Manuella. Train mengenal suara itu, ia memukul ranjang karena ia kesal saat tidurnya terganggu.
"Jadi kau mengajukan cuti?" tanya Dolores pada Manuella yang pulang di tengah hari. Wanita pekerja keras yang satu ini, jarang mengajukan cuti bila tidak ada hal yang mendesak. Karirnya di dunia property sangat bagus. Dan ia benar benar menggapai apa yang di impikannya
Merantau ke Barcelona dari pulau Palma yang sebagian besar adalah perairan. Manuella melakukan sebuah pencapaian di dukung oleh Diego dan sahabat bahkan seluruh keluarga Fernandez yang menjadi keluarganya selama 8 tahun meninggalkan Palma.
"Si, Tia. Aku mengurus beberapa dokumen pernikahanku di gereja-- Tia dari mana?" tanya Manuella meletakkan tasnya di sofa ruang tengah dan menghempaskan bokongnya disana.
"Aku dari tetangga sebelah. Nenek tua Lunna, meminta diantar macaroni schotel yang ia pesan. Padahal hanya disebelah. Dasar manja" gerutu Dolores menuju dapur. Ia meletakkan keranjangnya di meja lalu mengambil satu pitcher mocktail dingin dari dalam lemari pendingin lalu mengambil dua gelas kosong lalu membawanya kearah ruang tengah dimana Manuella berada disana.
Manuella menampakkan wajah cemasnya sesekali ia memeriksa ponselnya. Ia tidak tenang dan menggoyangkan satu kakinya dengan ritme yang cepat. Ada sesuatu yang ingin meledak dari diri Manuella tapi ia cukup pintar menahannya.
Dolores duduk dan menyajikan mocktail buatannya, potongan lecy dan buah mangga dengan syrup kayu manis khas Bilbao, Spanyol.
"Tia apa Train sudah diantar?" Dolores langsung menengadahkan wajahnya keatas melihat jam dinding yang menempel diatas dinding sejajar dengan Manuella duduk dibawahnya.
"Seharusnya sudah" kata Dolores sambil meletakkan satu gelas mocktail untuk Manuella. Dan ia mengenal Manuella yang dirundung kecemasan.
"Atau mungkin sudah di kamar. Aku akan memeriksanya. Dia kurang tidur belakangan ini dan selalu tidur siang tanpa disuruh" ujar Manuella seraya bangkit berdiri. Ia berjalan kearah kamar yang tidak jauh dari ruang tengah, ia berjalan dengan tergesa gesa.
Train yang mendengar itu langsung bangun dan bersembunyi, ia akan mengagetkan Manuella dan Dolores saat mereka minum mocktail. Train menyembunyikan sepatunya dan juga tasnya ia berlarian dan bersembunyi di sudut dinding dimana ada lemari kayu berada, yang menghalangi pandangan Manuella. Ia terkekeh kecil dengan menutup mulutnya.
Manuella membuka pintu dan mengedarkan pandangannya lalu menutupnya kembali. Ranjang terlihat rapi dan tidak ada barang barang Train di dalam kamar itu. Manuella menutup pintunya dan kembali ke ruang tengah.
"Sepertinya Train belum diantar" ujar Manuella kembali menghempaskan bokongnya lagi dan meraih satu gelas mocktail yang sudah disajikan Dolores, ia menyesapnya kemudian. Ia membutuhkan asupan gula agar sedikit mengurangi rasa cemasnya.
"Manuella, apa yang kau cemaskan?" tanya Dolores membuat Manuella berhenti meneguk mocktail itu lalu ia meletakkan gelasnya dimeja. Delapan tahun, adalah waktu yang cukup lama bagi Dolores untuk mengenali Manuella yang notabene adalah sahabat Leyka yang menjadi dekat dengan keluarga Fernandez.
Train meletakkan sepatu dan tasnya diam diam, ia kemudian berjalan kearah pintu. Ia ingin mengejutkan Manuell dan Dollores. Ia siap memegang handle pintu namun ia mendengar sebuah percakapan yang membuat Train seakan tak percaya.
"Gallardiev Tia-- dia tidak menghilang menghindari Train atau Leyka seperti dugaan kita. Dia terkena serangan jantung setelah membaca surat Train" ujar Manuella mengejutkan Dollores bahkan Train.
"Ya Tuhann!" Dollores meletakkan gelas yang ada digenggamannya dan menutup mulutnya yang menganga, matanya berkaca kaca seketika.
Train membulatkan matanya, ia mengurungkan niatnya membuka handle pintu, karena kakinya seakan terpaku dan tangannya tidak bisa melepaskan handle pintu. Seperti ada magnetnya Train justru mencengkeram kuat handle pintu untuk pegangannya.
Pintu depan terbuka dan terlihat Diego datang, ia juga pulang lebih awal karena besok ia akan menemani Manuella mengurus surat dokumen untuk pernikahannya. Dibelakang Diego ada Penelope yang tanpa sengaja datang secara bersamaan.
Melihat situasinya mereka bertanya tanya dengan kebingungan. "Tia Dollores apa ada?" tanya Penelope duduk di disebelah Dollores.
"Tia? Apa semua baik baik saja?" dan Diego bertanya lalu duduk disebelah Manuella sambil merangkul lalu mencium pelipis Manuella.
"Apa ada dokumen kita yang menghambat di Gereja?" tanya Diego dan Manuella menggelengkan kepalanya.
"Aku tadi bertemu dengan Pastor Gilberto dan beberapa staff gereja, aku meminta persyaratan dokumen pernikahan kita. Tapi Pastor bertanya apakah Train baik baik saja atau tidak" tutur Manuella membuat Train berdebar debar.
"Lalu?" tanya Diego dan semua menunggu jawaban lengkap dari Manuella.
"Aku bingung dengan pertanyaanya, aku hanya mengatakan bahwa Train sulit tidur? Dan Pastor bertanya apakah Train sudah bertemu Daddynya. Karena Valentino datang dan membaca semua surat Train. Selain Valentino mendengar percakapan Leyka dan Damian, ia juga mendengar percakapan Train dengan Matthew. Dia terkena serangan jantung setelah membaca surat Train. Shh.. Dia sangat terpukul. Beruntung Jared dan Torres memberinya obat jantung dan saat ambulance datang, ia dengan cepat dapat tertolong" cerita Manuella dengan terisak, ia menyeka pipinya karena airmata telah mengalir begitu saja dari sudut matanya.
Train melepaskan cengkeraman tangannya pada handle pintu. Rasanya Train ingin jatuh, dan ia kemudian duduk dengan mendekap lututnya. Airmatanya membasahi pipinya. Ia mengucek matanya lalu menggosok hidungnya. Ia menundukkan kepalanya dan entah apa yang ada di kepalanya, entah apa yang dipikirkan Train.
__ADS_1
"Ya Tuhann" Diego menghela nafas panjang ia kemudian mengacak rambutnya sendiri. Penelope menghela nafas dan merangkul Dolores yang menangis mendengar penuturan Manuella.
"Kau ingat kan saat dia datang bertanya kepada kita di Apartemen ini, Valentino memukuli dadanya. Dia sangat kesakitan saat itu. Dan kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa Valentino menghilang karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Train adalah putranya. Ternyata dia-- Ya Tuhann! Aku tidak bisa bayangkan bila Valentino tiada dan bagaimana Train menghadapinya. Ia masih terlalu kecil" Manuella terisak dan menangkupkan kedua tepalak tangan diwajahnya lalu Diego merangkul pundak Manuela dan dibawanya ke dalam pelukannya.
Train terus mencengkeram lututnya, ia pun menahan agar suara tangisnya tidak terdengar. Dengan bajunya ia menyeka airmata yang tidak berhenti mengalir.
"Sudahlah. Semua akan baik baik saja" Diego menguatkan Manuella dengan menciumi puncak kepala Manuella yang menangis di dadanya. Ia menangisi keadaan Train bila Valentino tidak tertolong, ia tidak bisa membayangkan betapa sedihnya hati Putra Baptisnya.
"Ini membuatku gila! Sampai kapan kita semua menyembunyikan ini dari Train!" ujar Penelope sambil menuang mocktail ke dalam gelas Dolores lalu meneguknya. Train mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap sepatunya. Perlahan ia merangkak dan memakainya.
"Leyka menunggu saat yang tepat. Dia menunggu Valentino datang. Dia selalu menunggunya setiap malam. Dia bahkan tidak bisa tidur sama seperti Train. Leyka sangat ketakutan karena Viscountess itu. Sementara aku meyakinkan Leyka, Valentino bisa menolongnya. Tapi Valentino justru menghilang berhari hari, aku hampir saja menyerah dan membiarkan Leyka akan membawa Train pergi dari Barcelona. Dia akan menjadi pelarian bersama putranya. Karena itulah dia menerima Damian kembali. Leyka tidak mencintainya! Tapi kepada siapa dia menggantungkan ini semua, sementara Valentino menghilang dan hanya Damian yang selalu ada disisinya" bukan sebuah pembelaan kepada sahabatnya, tapi Manuella melihat hal yang sangat logis.
Mommy.. No. Train.
"Kita tidak tahu awalnya mengapa Valentino menghilang. Akan sangat menyakiti hati Train bila Leyka mengatakan siapa Daddynya, sementara Valentino menghilang, seakan tidak menginginkan Train. Leyka menunggunya, bahkan dari delapan tahun yang lalu. Aku mengenal Leyka bukan hanya satu atau dua hari saja. Walaupun dia bar bar tapi dia tidak pernah menuntut pada keadaan apalagi pada Valentino. Itu semua karena Leyka terbiasa menerima perlakuan tidak adil sejak kecil. Aku kasian padanya. Karena itulah aku sangat menyayanginya. Kita tidak bisa menyalahkan Leyka. Dia hanya ingin melindungi perasaan Train. Leyka bisa gila bila Train terluka!" Manuella semakin tersedu sedu.
Mommy.. Mommy.. Mommy. Batin Train. Hanya itu yang ia ucapkan dalam hatinya seraya mengenakan sepatunya. Ia pun perlahan meraih tas punggungnya, lalu ia mencari inhalernya. Ada seutas tali pada pegangan ujung inhaler itu, lalu Train mengalungkannya.
"Sshh.. Sudahlah" ujar Diego kembali menenangkan Manuella. Ia bisa merasakan, wanita yang didekapnya ini sangat menyayangi Leyka, persahabatan mereka sangatlah indah.
"Mengapa takdir begitu tidak adil" desis Dolores yang telah berhamburan airmata.
"Apa Train masih di kedai??" tanya Diego kepada Penelope kemudian.
"Train di kedai? Leyka sudah membawanya kesini seharusnya" jawab Penelope dan Manuella menghentikan tangisnya. Ia beringsut dari pelukan Diego. Sementara Train mengenakan tas ransel dipunggung lalu bangkit berdiri. Ia menghadap pintu dan menatap handle itu.
"Tapi aku menghubungi Leyka beberapa saat yang lalu bahwa Train sudah diantar ke apartemen Tia dan dia sedang berada lift menuju lantai tujuh saat aku bertanya, 'dimana'-- Lalu dimana Train?" ujar Manuella dengan wajah paniknya.
Ceklek!
Train membuka pintu dan keluar kamar, "Aku sebenarnya bersembunyi karena ingin mengejutkan Ibu dan Abuella. Tapi aku yang mendapatkan kejutan"
"Traiinnnn?" gumam Manuella dengan serba salah, ia tanpa sengaja membuka tabir itu tanpa sengaja.
Semua bangkit berdiri dengan terkejut. Mereka terpana melihat wajah Train dengan mata dan hidungnya yang memerah. Manuella berhamburan menghampiri Train tapi Train berjalan dan menunjukkan sikap dinginnya.
"Trainn!" seru Penelope dan Train terdiam. Train berjalan kearah nakas dimana ada sebuah bingkai foto meja dengan gambar dirinya bersama Dollores. Train memandanginya dan dan berbicara, "Tidak apa apa.. Aku tidak apa apa.. Train, tidak apa apa.. Aku baik baik saja!"
"Trainn" panggil Diego dan semua mengikutinya. Saat Diego menyentuh pundaknya, Train menepisnya.
"No-- No Ayah" ucapnya lirih. Biasanya ia akan bersuara lantang tapi kini, sikap Train sangat berbeda.
"Carino-- panggil Manuella dan Train memotongnya dengan cepat.
"No Ibu.. Kalian pembohong.. Kalian membohongiku. Kalian jahat. Mengapa orang dewasa jahat. Aku tidak mau menjadi orang dewasa. Saudara tidak boleh berbohong. Apa aku bukan saudara kalian? Gracias, sudah baik padaku" ujarnya lirih dengan menahan tangisnya. Airmata Train kembali meleleh, dan itu sangat melukai mereka semua yang melihatnya.
Train pun berlari dan semua mengejarnya dengan memanggil namanya.
"Train, kamu mau kemana. Lo siento, Carino!" pekik Manuella sambil berlarian.
"Penelope hubungi Leyka atau Pedro! Mungkin Leyka sudah di Kedai!" pinta Diego sambil berlari mengejar Train.
"Biar aku saja!! Penelope kejarlah cucu. Traiiinn.. Ya Tuhann Trainn.. Yaa Tuhan jangan biarkan sesuatu terjadi pada cucuku!" isak Dollores berhenti berlari dan kembali menuju Apartemennya untuk menghubungi Leyka dan Pedro.
Train terus berlari menuju kearah taman, ia sengaja berlarian dirimbunnya pepohonan dan tanaman semak pagar untuk mengecoh orang orang dewasa yang mengejarnya. Tujuannya hanya satu yaitu ke lantai tujuh, menemui Leyka tapi ia tidak ingin mereka mengkutinya. Train memilih memutar jalannya dan memasuki pintu samping Apartemen Casa De Miel.
-
-
-
Lantai Tujuh
Sementara itu, Valentino memeluk Leyka dari belakang setelah memasuki ruang Apartemen Leyka. Valentino menangis tersedu, Leyka membiarkan kedua tangan Valentino, mengungkung, memenuhi dadanya dan ia membiarkan airmata Valentino membasahi rambutnya dengan airmata.
Disaat yang bersamaan Train keluar dari pintu lift, ia berjalan sesekali berhenti sambil memegangi lututnya, ia lelah karena berlarian. Ia menghirup inhaler yang mengalung dilehernya. Train berdebar manakala mendengar isak tangis seorang laki laki. Ia berjalan mengendap endap, di sepanjang lorong lantai tujuh, Train menghimpitkan tubuhnya di dinding selurus dengan pintu apartemennya.
"Ley.. Mengapa kau tidak menghubungiku?" Leyka, mengapa kau menjalani ini bertahun lamanya dan mengapa kau lakukan ini padaku? Mengapa kau jahat sekali Leyka.. Separah inikah kau membenciku?" Leyka terdiam. Train kembali membulatkan matanya, langkahnya terhenti beberapa langkah dari pintu Apartemennya.
Ia mengurai tas di punggungnya kemudian mendekapnya, ia berdiri dengan menyandarkan punggungnya. Airmatanya kembali berlinang.
"Apa kau lupa? Bahwa aku menunggumu, saat salju pertama turun di Barcelona? Bisakah kau mengingat saat terakhir kita di Johannessburg?" Valentino semakin mendekap erat, walaupun tidak melihatnya ia merasakan airmata Leyka begitu hangat menetes ditangannya.
"Kau mengubah jadwalmu tanpa memberitahuku! Seharusnya kau bersamaku 27 jam tapi kau mengubahnya menjadi satu jam!" isak Valentino terdengar merengek. Leyka menghela nafas dalam.
__ADS_1
Tubuh Train merosot dan akhirnya ia duduk di lantai dengan mendekap tasnya lalu membenamkan wajahnya disana, ia menangis tapi tanpa bersuara.
Leyka mengurai pelukan itu dan mengubah posisinya berhadapan dengan Valentino, ia memandanginya dan bertanya, "Apa hanya itu yang kau ingat?"
Valentino mencengkeram lengan Leyka, mata Valentino yang dipenuhi airmata seakan menenggelamkannya, suaranya begitu keras menampar wajahnya, "Karena itu membuatku sangat kecewa! Itu akarnya Leyka! Itu akarnya dari semua yang terjadi di Johannesburg!"
"Itu akarmu! Apa kau tahu darimana sumbernya? Dari dirimu sendiri dan Masalalumu! Aku pernah mengatakannya, bila kau tidak mempunyai ketegasan, maka selamanya Masalalumu akan menyakitiku! Bahkan siapapun yang bersanding denganmu, dia tidak akan pernah bisa bertahan!" dan Leykapun membentengi dirinya dengan mengepalkan kedua tangannya. Menahan rasa sakit bila mengingat satu jam di Johannesburg.
Rebecca.. Miu.. Shittt.. Jadi karena surat yang kau terima di Pretoria.. Shitt..
"Kau tidak tahu apa yang terjadi Leyka!"
"Dan kau juga tidak tahu apa yang aku alami!"
Mata mereka beradu dan sesaat mereka terdiam mencoba memahami satu sama lain, Valentino melembut kemudian, "Tapi aku datang dengan Hadiah itu, Leyka" Valentino berjalan kearah Hadiah figura foto quotes yang menempel di dinding lalu mengambilnya.
Valentino memandanginya sambil berbicara dengan suara yang menahan tangisnya, "Aku ingin menjemputmu. Agar kau diam selamanya disangkar emasku. Ada surat didalam figura itu dan kartu namaku. Mengapa kau tidak menghubungiku? Kau membiarkan Train hidup tanpaku. Dia menungguku Leyka! Dia memberikan dan bahkan menjaga tempatku disisimu! Aarghhh!!"
Leyka tersentak bahkan Train mengangkat wajahnya dan menyeka pipinya, ia pun terkejut karena Valentino berteriak histeris akhirnya. Leyka kembali terpancing, "Kau ingin aku merangkak dan mengetuk seluruh pintu di Italy?! Kau memberikan Hadiah ini, pada Nyonya Florence! Dia menderita Hoarding disorder dan Alzheimer, Val! Ini Gila! Seandainya kau memberikan pada Tia Dolores! Dia penyewa ruangan apartemen ini! Hadiahmu datang baru baru ini, setelah Nyonya Florence meninggal, Val! Train yang meminta diletakkan disini!" ujar Leyka sambil menunjuk dinding dimana foto itu semula berada.
[ Hoarding disorder adalah perilaku menimbun barang-barang yang tidak terpakai karena barang-barang tersebut dianggap akan berguna di kemudian hari, bersejarah, dan memiliki nilai sentimental. ]
[ Alzheimer adala penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental penting lainnya. ]
"Ohh Shiitt! Ini tidak mungkin!" Valentino melempar foto itu di sofa, ia kembali mencengkeram kedua lengan Leyka.
"Apa kau lupa aku meminta nomor ponselmu di Johannesburg? Apa kau ingat jawabanmu? Itu tidak penting kan? Apa kau ingat betapa kau sangat menamparku dengan kata katamu yang sangat menyakitkan? Dua juta dollar, kau pikir aku barang yang bisa kau beli? Apakah pantas aku membencimu? Mengapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri, mengapa kau harus repot repot datang ke Barcelona untuk membawaku ke Italy?"
"Oohh Shitt! Itu.. Itu yang kau ingat?" tanya Valentino dengan penuh penekanan, ia kembali berurai airmata.
"Apa aku harus mengingatkan semuanya yang kau lakukan padaku? Rasa sakit yang kau berikan karena sikap dan ucapanmu? Bukankah kita hanya orang asing? Orang asing banyak yang bertukar nomor ponselnya, mengapa kau tidak mau memberikannya, hanya karena aku mengubah jadwalku?"
Valentino kebingungan menjawab pertanyaan Leyka, karena Valentino masih enggan mengakui dan meminta maaf. Di mata Leyka, Ego-nya masih menguasainya, ia pun asal menjawab, "Karena.. Shitt!! Karena tadinya aku pikir! Kita hanyalah KISAH CINTA YANG TERLUPAKAN di kereta api sialann itu!!"
"Ada anakmu dikereta api itu! Tapi kau benar! Mungkin kita hanyalah kisah cinta yang terlupakan!! Karena memang tidak ada cinta diantara kita!" Leyka memekik sekerasnya dan Valentino membulatkan matanya.
Shiitt.. Apa yang aku katakan.. Yaa Tuhan, aku kembali melakukan kesalahan.
"Leyka.. Bukan seperti itu--
"Mengapa kau tidak bisa menurunkan egomu agar aku bisa menurunkan egoku! Egomu itu-- Hanya membuatku selalu ingin lebih keras lagi membentengi diriku! Menjauhlah dari Train, kau hanya akan menyakitinya" Menangis sudah Leyka hingga terduduk disofa, punggungnya berguncang guncang dengan tangan menangkup menutupi wajahnya.
"Leykaaa-- Valentino memeluknya kemudian.
Train bangkit berdiri dan menyeka pipinya, ia berjalan dan berdiri diambang pintu, ia melihat Valentino memeluk Mommy-nya. Train menahan tangisnya dan bertanya, "Jadi, aku hanyalah kisah cinta yang terlupakan dikereta api sialann itu? The Blue Train? Mengapa aku diberi nama Blue Train? Tenang saja aku akan mengganti namaku" Bola mata bening itu mengerjap, dengan deretan bulu mata yang terlihat basah.
"TRAIINNNN??!!
"BLUE??"
Gedung itu rasanya runtuh, Leyka dan Valentino sontak bangkit berdiri dengan membulatkan matanya lebar lebar, ia seakan tak percaya Train mendengar segalanya. Dada mereka bergemuruh, ego itu pun meledak. Seiring derasnya airmata mereka mengalir disertai kepanikan mereka.
Train menyambar Hadiah foto quote itu, lalu ia berlarian menuju kamar dan menutup pintu lalu menguncinya. Sambil berderai airmata Train membereskan barang barang yang menjadi favoritnya hingga tasnya menjadi penuh. Ia tidak perduli Mommy dan Daddynya menggedor pintu dengan memanggil namanya berulang ulang.
"Blueee!"
"Trainn!"
Blue Train pun bersiap pergi.
-
-
-
SMALL BOY. Adalah Film dokumenter dan dimainkan oleh Train waktu dia masih kecil. Aku jatuh cinta padanya saat itu. Dan RIVERDALE adalah film yang dibintanginya saat udah rada gedean 8 tahun apa 10 thn gt deh kl ga salah.
Jangan sedih seperti aku, karena Train akan memberi syarat 3 bulan pada Mommy dan Daddynya untuk tinggal bersama dalam satu atap, untuk sebuah kata maaf, karena dia akan mengubah 3 bulan menjadi SELAMANYA dengan penuh kelicikan dan itu adalah Spoilernya.
Up diperkirakan Kamis. Karena kita butuh menata hati. ☹☹
-
-
-
__ADS_1