
"Kau sangat hebat dan pemberani" puji Rosemary dengan rasa kagumnya.
Leykapun tersentuh dan tersenyum penuh keharuan saat Train melewatinya dan mencium perutnya seraya berbisik lembut, "Adios mi muneqita (sampai jumpa boneka kecilku). Semua akan baik - baik saja. Daddy hanya bercanda, banyak yang Daddy pikirkan dan itu bukan karena dirimu-- jangan kuatir" Trainpun keluar dari pintu Apartemen Raja. Valentino menatap perut Leyka dan ia tersadar bahwa Leyka tengah mengandung anaknya.
Sementara Train tidak menghilang begitu saja dari pandangan mereka. Train masih berdiri diluar pintu untuk memastikan bahwa Daddynya meminta maaf pada Mommynya dan sang Mommy memaafkan Daddynya dengan hati yang berdebar - debar.
Apa yang kulakukan? Leyka dengan baik mendidiknya. Miu, aku justru salah mendidiknya. Aku terlalu memanjakannya. Dia tidak akan sehebat Blue Train. Bagaimana jika Miu mengetahui keluargaku? Ini pasti sangat menyakitinya. Lalu bagaimana dengan Blue Train? Sampai kapan aku harus menyembunyikannya? Apa Putraku bisa menerima kisahku bersama Miu? Munequita, apa aku melukaimu?
"Putramu sangat hebat dan tentu saja itu adalah didikan Putriku yang berada ditengah - tengah keluarga Fernandez-- Si (iya), Putriku yang selalu menolak dan menyangkal status Bangsawannya. Kau tahu Mi Yerno (menantuku), kadang kadang aku membenci sifatnya itu, tapi ada sosok laki laki bersahaja dan sederhana yang berada di dalam diri Putriku. Dan itu adalah Pacho, Ayahnya. Mi yerno, aku harap kau memikirkan dan segera memperbaiki sikapmu. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, jangan pernah meluapkan pada istri dan anakmu. Kalian belajarlah terbuka satu sama lain tanpa ada yang ditutupi. Ibarat ruangan yang pengap, kau tinggal menyingkirkan tirainya agar cahaya dan udara segar memasukinya" nasehat Rosemary menancap begitu saja dalam benak Valentino. Matanya tertuju pada wajah Leyka dan bergantian kearah perut Leyka, wajah cantik itu dan bersinar itu bersedih karena ulahnya.
Rosemary yang berada di dekat Valentino pun berlalu seraya membelai pundak menantunya. Ia yakin Valentino sedang menghadapi masalah yang cukup pelik. Setelah bergantian membelai lengan Leyka, Rosemary bergegas pergi. Sesampainya di ambang pintu ia tersenyum melihat Train masih berdiri menguping dengan menggenggam tangkai sapu dan Rosemary membiarkannya lalu ia memilih kembali memasuki Apartemen Ratu.
"Leyka.. Mi amor.. Lo siento.. Perdonami.. Ini tidak akan terulang! Ampuni aku! Ampuni Daddy mi munequita-- Valentinopun kembali bangkit berdiri lalu berlutut mendekap perut Leyka seeratnya dan menciuminya bertubi - tubi --Mi munequita, apa kau terkejut? Daddy bersalah, Daddy berjanji tidak akan membuatmu dan Mommymu bersedih" ujar Valentino kemudian bangkit berdiri dan memeluk Leyka yang merasa tenang. Train lega mendengarnya.
"Pekerjaanku sangat membuatku pusing! Leyka, Perdonami. Aku bersalah-- Tapi ada hal lain yang ingin aku katakan.. Bisakah kita makan malam bersama. Kita ajak Putra kita makan malam dan aku akan membicarakan sesuatu yang penting. Kita akan bicara banyak hal" ujar Valentino seraya mengecup kening Leyka dan melu*mat bibir Leyka sesaat. Jemarinya liar membelai dan menjalari wajah Leyka dengan penuh keharuan.
Kau mencintai pekerjaanmu, Daddy. Tidak mungkin karena pekerjaan.. Pasti ada hal lain, aku akan mencari tahu.. Pasti sesuatu hal yang mungkin menyakiti.. Uhm, hati Mommy..
"Apa itu?" tanya Leyka kemudian.
"Katakan apa kau memaafkanku?" tanya Valentino seraya menyeka sisa airmata yang membasahi bulu lentik milik Leyka.
"Si Mi amor" jawab Leyka nyaris berbisik.
"Gracias.. Gracias telah memaafkanku. Banyak hal yang aku pikirkan Leyka, ijin tinggalku hanya tersisa satu minggu. Kita akan bicara banyak hal. Tentang kewarganegaraan, status kita terutama aku dan-- Hmmpht, bisakah kita makan malam? Mintalah dan pilihlah restauran yang kau inginkan, apapun itu Leyka" kata Valentino seraya menangkupkan telapak tangannya di kedua pipi Leyka dan serasa mencakup seluruh wajahnya. Valentino menatapnya kian dalam tanpa berkedip dan itu membuat siapapun yang melihatnya berdebar debar.
"Jika kau memintaku meninggalkan negaraku maka kau meminta sesuatu hal yang tidak mungkin. Banyak perempuan rela meninggalkan keluarga dan Negaranya demi seorang laki laki yang sangat dicintainya. Tapi kau tahu aku. Laki laki yang mencintaiku harus meninggalkan negaranya dan aku pernah mengatakannya di Pretoria!" kata Leyka dengan bergetar. Matanya kembali nampak semburat kemerahan.
"Leyka! Aku tidak bisa berjanji banyak hal tapi aku hanya bisa berjanji untuk tetap berada disisimu-- sekalipun aku harus memenuhi janjiku pada Miu --kata Valentino meneruskan perkataannya dalam hati --tentang kewarganegaraan, kau tahu itu tidaklah mudah bagi keluargaku. Kita akan membicarakannya dan melihat bagaimana baiknya" ujar Valentino kembali membuat hati Leyka seketika gelisah.
Apa tidak boleh Daddy tinggal di Barcelona oleh Abuella Rhosana dan Abuello Alfonso.. Hmm.. Aku harus bicara pada mereka.. Tapi bagaimana caranya. KataTrain dalam hatinya, ia berpikir memutar otaknya dan mencari akal.
Promise is promise.. Janji adalah janji yang tidak bisa diubah.. Aku laki laki dan aku harus menepatinya kecuali Miu yang mematahkan janji itu.. Tuhan, bisakah Kau memberiku jalan dan membebaskan aku dari janji itu.. Biarkan aku bahagia bersama seseorang yang aku cintai.. Bukankah Kau sendiri yang telah mengikat kami? Bisakaahhh...
Valentinopun melu*mat bibir Leyka, menyesapnya sangat kuat untuk melepaskan kelegaannya karena sebuah kata maaf, kata pengampunan dari Leyka. Train menghela nafas dalam lalu perlahan lahan berjalan menuju lift. Tapak kaki Train yang menyeret sapu terdengar dan Valentino melepaskan jeratannya.
"Aku akan menyusul Putraku. Tunggu aku. Aku akan memikirkan bagaimana daun dan kelopak bunga mawar tanda cinta kita itu tidak akan pernah menyentuh halaman Tia Lucita" ujar Valentino mengurai ciumannya dan membelai pipi Leyka dengan tersenyum.
"Tidak menyentuh halaman?" tanya Leyka dengan mengerutkan alisnya.
"Aku arsitek, Mi amor. Serahkan padaku.. Aku ahlinya. Lihat saja nanti" kata Valentino seraya mengecup kening Leyka dengan teramat dalam lalu ia berjalan kearah langkah kaki Train. Senyumnya yang hangat terlihat samar - samar dan menyejukkan hati Leyka, rasanya sangat nyaman.
"Hei Bluueee!" Seru Valentino dan Leyka mengikuti hingga ambang pintu untuk melihat apa yang terjadi karena Valentino memanggil Train dengan cukup keras. Train yang berada di lorong Apartemen menoleh dan melihat wajah usil Daddynya membuatnya bersiap untuk berlari.
"Kau menguping! Dasar setan cilik! Rasakan Daddy akan menghukummu!" seru Valentino siap menggelitiki Train dengan menggerakan semua jemarinya, membentuk gerakan gurita, seperti itulah Train menyebutnya.
"Aaaaaaa! Nooooo! Noooo! Aku hanya memastikan Daddy meminta maaf! Aaaaaa!" Train pun berlarian menjauh dan Valentino mengejarnya hingga menangkapnya lalu memanggulnya keatas pundaknya. Kumis dan jenggot Valentino menyerbu pinggang Train dan sudah pasti Train menjerit - jerit penuh tawa karena kegelian hingga suaranya memenuhi Apartemen Casa de Miel. Miel yang berarti madu, madu yang manis, semanis pagi itu.
"Mommmmmyyyy!! Aaaaaaaa! Hahahha-- Nooo Daddy.. Ampunnnn!" pekik Train dengan melihat kearah Leyka dari kejauhan seolah meminta pertolongan. Leyka tersenyum bahagia melihat pemandangan itu, namun ia menjadi gelisah kemudian. Pikirannya tertuju pada ponsel yang Valentino sembunyikan.
Apakah aku harus memeriksanya? Tidak tidak.. Bukankah itu lancang dan mengganggu privacynya? Entahlah tapi aku ingin sekali memeriksanya.. Hmmpht.. Jika kau melukai Putraku lagi.. Entahlah, apakah aku bisa memaafkanmu lagi, Val.. Sebaiknya aku tanya Madre.. Aku akan meminta pendapatnya..
-
-
-
Apartemen Ratu
"Belakangan ini Valentino seperti itu. Cepat sekali dia marah, Madre" ujar Leyka ketika tiba di ruang tengah dimana Rosemary sedang merajut selimut berwarna kuning muda untuk cucu keduanya, sesekali ia melihat kearah televisi yang menyajikan telenovela kesayangannya. Sebuah telenovela yang di gemari sebagian besar wanita Spanyol.
"Pachito, sepertinya pekerjaan Valentino sedang ada masalah" ujar Rosemary tanpa melihat kearah Leyka karena matanya masih tertuju pada gulungan benang wool yang mengait di jemari tangannya.
"Tidak mungkin Madre, Valentino selalu sempurna mengerjakan pekerjaannya. Dia pasti bercerita kepadaku. Ehm-- Train pernah mengatakan bahwa ada seorang wanita yang menangis di sudut jalan dan selalu melihat kearah Kedai. Aku tidak tahu, tapi sejak saat itu Valentino menyembunyikan ponselnya dari pandangan mataku. Madre, bagaimana jika aku memeriksa ponselnya? Apakah itu benar? Bagaimana menurut Madre?" tanya Leyka yang duduk disamping Rosemary.
"Hahaha-- Rosemary terbahak mendengar penuturan Leyka, Putrinya menjadi wanita pencemburu ketika sedang mengandung, pikir Rosemary. Lalu ia melanjutkan perkataannya agar tidak menyinggung kekonyolan Leyka --Kau tau Pachito, ketika dua orang disatukan di dalam sebuah pernikahan, mereka menjadi Satu, mereka di sebut Satu bukan Dua. Jadi, segala sesuatu yang menjadi milik Valentino adalah milikmu dan semua milikmu adalah milik Valentino. Keterbukaan menjadi dasar sebuah hubungan" ujar Rosemary.
"Keterbukaan? Aku selalu terbuka pada Valentino dan tidak ada yang aku sembunyikan darinya tapi entahlah apakah Val--
"Dan kepercayaan, Pachito-- Rosemary memotong pengakuan Leyka --Kepercayaan itu tanpa keraguan, tanpa berpikir negatif, tanpa menduga dan berprasangka. Hanya seorang wanita menangis kearah kedai jangan membuatmu berpikir negatif. Kita bukan Tuhan, kita tidak tahu apa yang wanita itu lakukan. Bagaimana bila wanita itu tidak ada hubungannya dengan Valentino? Tapi bila ternyata wanita itu ada hubungannya dengan Valentino, ingatlah selalu bahwa sebagai wanita yang bermartabat kita harus menghadapi segala sesuatu dengan kepala dingin. Bukan dengan emosi dan hadapilah dengan tenang. Apa kau memiliki kepercayaan pada suamimu?" tanya Rosemary di sela - sela nasehatnya.
"Kepercayaan. Si Madre, aku percaya padanya. Gracias Madre, Gracias untuk nasehat yang indah ini. Aku tidak akan memeriksa ponselnya karena aku percaya kepadanya" kata Leyka dengan meletakkan kepalanya dipundak Rosemary, senyum Leyka terlihat hangat dan penuh kelegaan setelah berbicara sesaat dengan Ibunya. Mungkin itu yang dirasakan semua wanita yang telah menikah dan ketika ada kegelisahan, hanya seorang Ibu yang mampu menenangkan hati Putrinya.
"Pachito sejujurnya Madre juga sedikit merasa aneh dengan sikap Valentino. Ehm, Madre punya pertanyaan untukmu karena ada sedikit hal yang mengganjal di hati Madre. Apakah Valentino memiliki keraguan kepadamu?" Rosemary menyingkirkan rajutan dan alat rajutnya dari pahanya.
__ADS_1
Biasanya Leyka akan tiduran dipangkuannya dan tanpa menunggu lama Leyka melakukan kebiasaannya, meletakan kepalanya dipangkuan Ibunya. Rosemary tersenyum hangat dan membelai puncak kepala Leyka dengan penuh kelembutan.
"Keraguan?" Leyka menengadahkan kepalanya dan mencari wajah lembut namun terpancar ketegasan, ia menatap wajah Rosemary yang menunduk menatapnya, jemarinya yang lembut mulai memainkan rambut Leyka seperti yang Train lakukan.
Ternyata kebiasaan Train menurun dari Madre.. Ah Madre, suamiku juga melakukan hal yang sama, senang sekali memainkan rambutku.. dua gabungan sifat antara Madre dan Valentino.. Hahaha.. pantas saja anak itu sangat jahil. Leyka tergelak dalam hatinya.
"Kehamilanmu, Pachito. Madre merasa kehamilanmu terlalu cepat dan Madre pikir itu pemicunya" ujar Rosemary dengan hatinya yang gundah. Tarik ulur, maju mundur selama ini Rosemary ingin menanyakannya, akhirnya Rosemary meluapkan kegundahan hatinya.
"Pemicunya?" Leyka mengerutkan alisnya.
"Pachito, bolehkan Madre bertanya?" tanya Rosemary dengan sangat hati - hati.
"Silahkan Madre" Leyka menyimak dengan sangat antusias di pangkuan Ibunya.
"Apa anak yang kau kandung adalah anak Valentino?" tanya Rosemary dengan cemas, ia takut Leyka akan tersinggung dengan pertanyaan yang lugas dan langsung pada keresahannya yang ia simpan selama ini dan itu adalah ciri khas Rosemary.
"Madre? Hahaha-- pertanyaan macam apa ini Madre. Tentu saja ini anak Valentino dan siapa lagi kalau bukan dia pelakunya--- Hahaha, Madre ada - ada saja" dan diluar dugaan Rosemary, Leyka justru menertawakan pertanyaannya. Ada rasa lega terpancar dari matanya. Ia kemudian menunduk dan mencium kening Leyka.
"Lo siento, Mi carina (sayangku)-- Tapi kita dulu sangat berjauhan, Madre tidak bisa menjadi temanmu atau sahabatmu. Madre sangat buruk tapi itu semua karena untuk melindungimu" ujar Rosemary semakin mengembangkan senyumnya.
"Wajar seorang Ibu dan Putrinya berbincang seperti ini. Madre tidak perlu minta maaf. Delapan tahun Madre-- delapan tahun menggerus hubungan kita dan Madre tidak mengenal keseharianku disini" kata Leyka seraya membenamkan wajahnya di perut Rosemary dan menghirup aroma khas Ibunya yang selalu ia rindukan.
"Masalahnya Valentino mengetahui hubunganmu dan Damian. Apa kau yakin kemarahan Valentino meledak - ledak bukan karena kehamilanmu?" tanya Rosemary mencoba memastikan agar ia merasa yakin.
"Ya Tuhan Madre meragukanku? Madre, bisakah Madre berhubungan in*tim dengan Loco?" Leyka membalikan pertanyaan.
"Tentu saja tidak. Madre berpura pura sakit kela*min-- Hahaha.. dan laki laki bodoh itu percaya begitu saja padaku" jawab Rosemary dengan tergelak hingga membuat Leykapun tertawa.
"Madre, kita sama Madre. Selama hampir dua tahun aku menjalin hubungan dengan Damian, aku tidak pernah disentuh olehnya. Aku selalu menggunakan Train sebagai alasan. Aku tidak bisa Madre, aku tidak bisa melakukannya tanpa rasa cinta. Naluri dan insting di tubuhku selalu saja menolak Damian secara halus. Ah, Damian.. Semoga Tuhan mempertemukan seseorang yang lebih baik" tutur Leyka dan wajah Damian melintas begitu saja di dalam benaknya.
"Kita berjauhan saat itu, Pachito. Madre tidak pernah ada untukmu bahkan datang berkunjung pun tidak. Kita hanya bertemu secara diam - diam. Madre percaya padamu. Madre sangat lega mendengarnya. Hmm.. Berarti ada hal lain yang Valentino pikirkan" kata Rosemary seraya membelai wajah Putrinya dengan tatapan penuh keibuan dan senyumnya yang begitu manis.
"Dia mengatakan tentang ijin tinggalnya dan kami akan makan malam bersama untuk membicarakannya. Bagaimana bila Valentino menginginkan aku untuk menjadi warga negara Italy. Aku tidak sudi Madre" ujar Leyka mengerutkan dahinya lalu menatap langit langit plafon, pikirannya terbang ke masa delapan tahun yang lalu bagaimana Valentino bersikeras menginginkannya tinggal di Italy bersamanya.
"Valentino adalah kepala dan kau adalah ekornya" kata Rosemary seraya mengusap perut Leyka yang telah kelihatan menyembul.
"Maksud Madre?" tanya Leyka, kemudian ia memalingkan wajahnya menatap Rosemary dengan mengernyitkan alisnya dan ia menunggu penjelasan Rosemary yang menggunakan sebuah peribahasa yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Ekor akan mengikuti kepalanya ketika berjalan. Sekalipun itu ekor cicak, Pachito" kata Rosemary dengan tersenyum. Dan Leyka mengerti bahwa kepala yang dimaksud adalah Suami sebagai kepala rumah tangga dan ekor adalah seorang Istri yang akan mengikuti langkah seorang suami kemanapun.
"Madre" gumam Leyka.
Ia menerungi ucapan Ibunya dan dalam hatinya, Leyka mengakuinya bahwa Istri tanpa disadari adalah pemegang kendali dan sang Suami adalah pelindung yang saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan dalam menjalani kehidupan di dalam sebuah pernikahan.
"Hmmpht, aku tidak mau di Italy Madre" ujar Leyka seraya menghela nafas dalam.
"Ikuti katamu hatimu Pachito. Cinta akan menyingkirkan semua kendala yang ada. Cinta rela membuatmu melakukan apa saja. Sekalipun kau menyentuh kaktus dan menggenggamnya" kata Rosemary membuat lidah Leyka menjadi kelu.
"Madre" gumamnya lagi.
"Itu akan sangat sakit tapi-- Cintapun yang akan menyembuhkan segalanya. Madre tahu kau tidak mau jauh dari Spanyol khususnya Barcelona, itu karena kau tidak bisa keluar dari bayang bayang Ayahmu. Pachito, dimanapun kau berada, Padre akan tetap ada dihatimu. Pacho selalu membayangimu, Madre percaya itu" entah gangguan hormon kehamilan yang naik turun, Leyka menitikkan airmata.
"Madre aku menyayangimu. Madre tahu apa yang aku rasakan" kata Leyka seraya memeluk pinggang Rosemary dan membenamkan wajahnya di perut Ibunya.
"Si Madre lebih menyayangimu, Pachito" ujar Rosemary dengan mata yang berkaca - kaca. Ia membelai rambut Leyka dan menyeka sudut matanya.
Rosemary memahami apa yang membuat Leyka enggan meninggalkan Barcelona karena cintanya pada kenangan Pacho yang selalu menemaninya. Ada banyak keluarga, sahabat, kerabat keluarga Fernandez di Distrik Miel. Mereka selalu bercerita dari hal kecil tentang Pacho dimasa lalu yang membuat Leyka merasa sang Ayah selalu menemaninya walaupun hanya berbentuk kenangan. Tanpa Leyka sadari kenangan Ayahnya bersama hangatnya keluarga Fernandez, membuat Leyka kuat menjalani hidupnya bersama Train tanpa Valentino.
"Lalu bagaimana bila sebuah kepercayaan itu dikhianati setelah kita membangunnya susah payah?" suara Adda terdengar dari arah kamar dan tiba di ruang tengah dengan dua koper besar di tangannya.
"Adda" Leyka menoleh kearah Adda seraya bergumam.
"Jika kau masih mencintainya maka kau hanya perlu memaafkan dan membangunnya kembali, Adda" kata Rosemary dengan menegakan kepalanya dan menatap tajam kearah Guaddalupe.
"Bagaimana sebuah kepercayaan yang hancur dan yang tersisa hanyalah puing - puing? Sangat sulit untuk menyingkirkannya bahkan membangunnya" kata Adda menggenggam erat tangkai koper. Seperti ada luka yang ia tahan.
"Dengan Cinta kau sanggup melakukan segalanya bahkan kau sanggup tinggal diantara puing - puing kehancuran, banyak wanita di dunia ini memilih bertahan diantara luka dan banyak juga yang mengatakannya Bodoh. Seperti aku, Adda. Banyak yang mengatakan Tia mu ini Bodoh, tapi demi Cintaku kepada Putriku Tia (bibi) memilih bertahan. Apakah kau akan melakukan hal yang sama bila kau berada di posisi Tia? Demi cintamu kepada anakmu kelak, apa kau bisa bertahan?" senyuman Rosemary serasa menyejukan. Ada kehangatan mengalir di hati Adda saat nelihatnya.
Aku sangat iri memiliki Ibu seperti dirimu Leyka, begitu hangat dan penuh kelembutan.. Tia Rosemary, aku sangat menyayangimu, apa kau tahu itu.. Hanya kau yang aku hormati dari dulu, aku sangat menyukaimu Tia. Adda.
"Hmmmpht, aku akan mengingat nasehatmu Tia" ujar Adda setelah ia menghela nafas panjang lalu meneruskan langkahnya.
"Ehm.. Adda aku tidak serius mengatakannya. Jangan pergi. Tapi aku hanya ingin kau merubah sikapmu. Bisakah kau menjaga perasaan orang - orang disekitarmu?" Leyka pun bangun dan duduk untuk mencegah Adda pergi. Guaddalupe pun menghentikan langkahnya.
"Kau tidak perlu mengasihaniku dan simpan saja ceramahmu. Tapi baiklah, aku akan menitipkan koper ini. Setelah mendapatkan pekerjaan aku akan pindah" kata Adda memutar kopernya kembali kearah kamar.
__ADS_1
"Lo siento (maafkan aku) apa aku terlalu keras menarik tanganmu?" tanya Leyka mengamati lengan Adda yang memerah Rosemarypun melihat kearah yang sama.
"Tentu saja aku kuat. Aku tidak lemah. Justru kau menarik tanganku tanpa kekuatan. Kau sangat lemah dan tidak bertenaga. Permisi" ujar Adda dengan dingin dan menghilang dari pandangan mata mereka.
"Ckk, keras kepala. Jelas jelas tangannya memerah" ujar Leyka seraya menggelengkan kepalanya.
"Kau harus bersabar menghadapi sepupumu yang satu itu. Adda sebenarnya anak yang baik, hatinya sangat lembut, dia juga juga penurut dia mengingat setiap didikan Madre daripada Ibunya" kata Rosemary seraya membelai rambut Leyka. Adda memiringkan kepalanya mendengar sayup sayup perkataan Rosemary hatinya kembali menghangat.
Entahlah mengapa aku tidak menyukai Leyka, padahal dari kecil dia selalu tertekan. Adda.
-
-
-
Daycare
"Nanti siang aku akan kembali membawakanmu makan siang. Kau tidak boleh jajan sembarangan" kata Pedro dihalaman Daycare. Sebuah gedung perkantoran property dimana Manuella bekerja.
Daycare itu berada ditengah perkotaan yang dikelilingi gedung perkantoran. Tujuannya adalah agar para wanita bisa berkarir dengan rasa aman. Pada umumnya, anak akan berangkat bersama Ayah atau Ibunya lalu mereka akan dititipkan di Daycare lalu para orangtua akan menjemputnya di sore hari usai para orangtua selesai bekerja. Kehidupan yang sangat dinamis begitulah di sebagian Negara Eropa.
"Ihss.. Kau seperti Pappaku, Tio. Melarang ini dan itu" kata Miu seraya menggenggam kedua tali tas ransel yang melilit di pundaknya.
"Pappa yang mana?" tanya Pedro kemudian berjongkok dan memasukan bekal sarapan Miu ke dalam tasnya.
"Pappa Diev, kalau Pappa Torres tidak masalah aku mencicipi semua jajanan yang dijual di sekolah. Tapi setelah itu tidak boleh. Minimal aku pernah mencobanya satu kali" kata Miu seraya menyelipkan sulur rambut keemasannya dibelakang telinganya saat Pedro menutup resleting tasnya.
"Jadi aku seperti Pappa Diev?" tanya Pedro dengan tersenyum.
"Si, seperti Pappa Diev-- Tio Pedro, aku akan berkata jujur tapi nanti siang. Bel telah berbunyi. Ada sesuatu yang tidak aku katakan dengan jujur, ehm.. Itu karena Mammaku yang memintanya" kata Miu membuat senyuman Pedro menghilang.
"Tentang apa?" tanya Pedro seraya membelai rambut keemasan milik Miu, matanya berbinar begitu kagum akan kecantikan Miu. Pedro selalu ingin menyentuh dan membelai rambut keemasan itu.
"Tentang Pappa Diev. Pappaku yang diambil oleh wanita bangsawan" ujar Miu membuat Pedro berdebar. Pedro menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun atau membuat pembelaan. Pertama, itu bukan ranahnya untuk membuka kebenaran. Kedua, Pedro tidak tega menyakiti hati Miu karena perkataannya.
Ada rasa yang ingin ia luapkan, sebuah amarah yang ia tahan. Mengapa Miu adalah anak Valentino? Mengapa Valentino tidak pernah mengatakannya? Berjuta pertanyaan menghantui pikirannya. Ia kemudian membelai pipi Miu dengan lembut dan menatap wajah Miu lekat lekat dengan senyuman khasnya.
"Elara Miuccia.. Elara-- Shitt, bukankah namanya yang tertulis di belakang sebuah foto? Foto seorang bayi mungil yang tidak sengaja aku temukan di apartemen Leyka. sekitar tujuh tahun yang lalu. Apa Leyka mengetahuinya? Apakah ini.. ini.. ini.. Miu.. Bayi itu. Pedro menatap nanar wajah Miu --Miuccia" lanjutnya kemudian.
"Tio-- Mengapa kau diam? Apa kau jatuh cinta padaku?" tanya Miu seraya menarik hidung Pedro kemudian ia tertawa.
"Nakal" dengan gemas Pedro mencubiti pipi Miu dengan tawanya. Bel berhenti berdering, Miu dan Pedro diam lalu menoleh kearah pintu gerbang Daycare secara bersamaan. Miu mencium pipi Pedro yang masih diam terpaku dan berlarian kearah pintu gerbang Daycare
"Aku masuk dulu Tio! Sampai nanti makan siang! Aku menunggumu!" seru Miu seraya berlari dan melambaikan tangannya. Rambut keemasan itu berkeriap dan memancarkan kilaunya, Pedro tersenyum seraya bangkit berdiri lalu melambaikan tangannya.
"Selamat belajar, Angelita!" balas Pedro dengan berseru.
Haruskah aku menanyakannya pada Leyka bahwa Miu adalah anak dari Valentino? Tapi Leyka sedang hamil, aku tidak mau kejadian delapan tahun yang lalu terulang.. Leyka mengalami masalah saat mengandung Train.. Apa yang harus aku lakukan?
"Pedro!-- seseorang menepuk pundaknya hingga Pedro terkejut --Apa yang kau lakukan disini?" Pedro menunjukan wajah kesalnya seketika.
Ia memilih memalingkan wajahnya tanpa membalas teguran seseorang yang sangat Pedro kenal, dia adalah Valentino yang berjalan kearah parkir dan berpapasan dengan Pedro. Valentino pun baru saja mengantar Train ke Daycare dan Manuella yang bekerja di Gedung Property, bedanya Valentino mengantar Train hingga memasuki kelas Putranya.
"Bukan urusanmu! Sebaiknya kau urus dirimu sendiri!" ujar Pedro mendadak emosional.
"Pedro? Ada apa denganmu? Apa kau mau ikut pulang bersamaku?" tanya Valentino dengan kebingungan melihat sikap Pedro.
"Ada apa denganku itu bukan urusanmu! Apa kau ingin tahu mengapa aku disini? Aku mengantar Putrimu.. Elara Miuccia!" ujar Pedro mengejutkan Valentino. Mata biru keabuan itu membulat, rasanya Valentino seperti disambar petir. Valentino terdiam begitupun Pedro, mereka saling menatap dengan kebekuan.
"Jadi.. Jadi yang merepotkanmu adalah--
"Aku tidak mau ikut campur urusanmu-- Pedro menyambar perkataan Valentino dengan cepat --Tapi bila kau menyakiti hati Leyka untuk kesekian kalinya maka aku tidak segan - segan mengusirmu dari Barcelona bahkan aku bisa membunuhmu dengan tanganku" ujar Pedro seraya berlalu. Hati Valentino kembali berkecamuk.
"Heiii Peee! Kau salah paham!" seru Valentino dengan mendengus kesal namun Pedro terus berlalu tanpa menggubris celotehan Valentino yang terdengar kesal.
Jadi Miu dan Mammanya menyewa apartemen di Distrik Golden dan Pedro selalu direpotkan oleh--Ternyata Pallazo yang selalu merepotkannya.. Shitttt.. Wanita itu benar benar mencari masalah denganku.. Fu*ckkk..
Valentino menendang ban mobil dan menggebrak badan mobil untuk meluapkan kekesalannya setelah ia tiba di parkir dimana mobilnya berada. Dengan secepat kilat ia melajukan mobilnya dengan segenap amarahnya. Tujuannya adalah Distrik Golden.
-
-
-
__ADS_1
Coffee timee ya Bosqyu.. 🤣 (mau malak ga berani) 🤣🤣
Update diperkirakan Senin.