FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Sebuah Impian Manis


__ADS_3

...THANKSGIVING...


Thanksgiving Day artinya merupakan liburan yang dirayakan di Amerika dan sebagian negara setiap tahun pada hari Kamis keempat di bulan November. Thanksgiving Day jatuh pada hari Kamis 25 November. Banyak orang menghabiskan waktu bersama keluarga mereka.


Thanksgiving Day menjadi salah satu kesempatan untuk lebih berterima kasih terhadap sejumlah hal dalam hidup. Hampir setiap orang mendapatkan satu atau dua hari libur sekolah dan kerja. Hari libur ini menandai awal musim liburan Natal.


Thanksgiving Day berawal ketika orang Eropa pergi ke Amerika untuk memulai kehidupan baru mereka. Pada tahun 1621, sekelompok orang Eropa yang kemudian dikenal sebagai 'Pilgrim' mengundang penduduk asli Amerika, yaitu suku Indian setempat untuk bergabung dengan mereka dalam sebuah pesta makan malam.


Sebelumnya, para Pilgrims mengalami kesulitan dalam bercocok tanam. Penduduk asli Amerika akhirnya mengajarkan mereka cara bercocok tanam sampai berhasil. Para 'Pilgrims' mengundang penduduk asli Amerika ke pesta makan malam sebagai cara berterima kasih atas bantuan para penduduk asli Amerika tersebut. Sejak saat itu, Amerika bahkan sebagian besar negara di dunia merayakan hari Thanksgiving. Termasuk di Indonesia khususnya di Minahasa. Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan kalkun. Kalkun menjadi tradisi dalam Thanksgiving Day karena dahulu diduga para 'Pilgrims' juga makan kalkun dalam Thanksgiving pertama.


...***...


-


-


-


Barcelona, Distrik Miel, Apartemen Casa de Miel, dan Double P berjalan selaras, kedai itu sangat ramai setiap harinya, hingga dua ruangan itu terlihat sempit. Karena demi kenyamanannya Valentino membeli dua ruangan lagi dan merenovasinya menjadi dua lantai. Kebahagiaan memenuhi pemiliknya, yaitu Leyka yang merasa mendapatkan begitu banyak perhatian dari Pria Italy yang terkenal sangat romantis.


Kebahagiaan untuknya dan untuk Putranya yang sudah pasti itu menjadi kebahagiaan milik Valentino. Banyak hal yang Valentino nikmati selama bersama Leyka dan Valentino banyak belajar dalam kesehariannya. Leyka yang dulu berada di Pretoria jauh lebih matang dan penurut. Valentino semakin mengaguminya, kehangatan, sisi kelembutan dan sisi keibuannya membuat Valentino semakin mencintai Leyka.


Banyak hal yang ia lakukan untuk menyenangkan Istri dan anaknya. Setiap hari Valentino menunjukannya walaupun pada akhirnya akan berujung kelelahan yang panjang karena Leyka harus melayani naf*su buas Suaminya yang sulit di kendalikan.



Banyak bunga setiap hari, banyak hadiah, banyak kejutan, banyak cinta, banyak ciuman, banyak pelukan hangat, untuk Leyka dan Putra sulungnya Blue Train. Semua berjalan natural, kehidupan normal dan pernikahan yang hangat yang selalu Leyka impikan.


Sederhana, tidak perlu kemewahan, tidak perlu menunjukan status di mata masyarakat bahwa Leyka adalah sang Putri Mahkota yang bekerja sebagai guru sekaligus pemilik Kedai Double P dan Valentino si perancang gedung pencakar langit sekaligus pewaris usaha keluarga 'Locomotive Machine'.


Mereka masih menempati dan merasakan hangatnya tinggal di Distrik Miel. Di sebuah Apartemen Casa de Miel. Casa de Miel memiliki arti Rumah Madu, rumah yang manis dalam bentuk Apartemen yang sederhana di Barcelona namun kehangatannya sangat luar biasa disana, dan banyak kisah yang rasanya semanis madu, mewarnai Distrik itu.


Semua masih tetap bekerja, bukan karena uang tapi karena tanggung jawab, di sisi lain seberapa banyak uang yang di miliki seseorang bila tidak bekerja, maka pajak dan biaya asuransi yang akan menggerogoti sen demi sen uang simpanan mereka, mengingat di negara barat pajak adalah pengeluaran terbesar dalam pendapatan penghasilan mereka. Pajak dan asuransi wajib dibayar yang menyedot sebagian penghasilan orang orang disana.


Mereka adalah pasangan yang independen yang membagi tugas dan tanggung jawab secara bersamaan, saling berbagi, saling memberi dan menerima. Semua aset menjadi milik anak anak dan Blue Train menjadi ahli waris tunggal.


Valentino merasa apa yang di milikinya tidak bisa menggantikan delapan tahun masa yang terlewatkan dan itu membuat Valentino memegang kendali atas Blue Train untuk mengurus hal kecil hingga hal besar.


Dari mengajarinya bersepeda, berburu, mengganti tugas Leyka menjadi guru dirumah. Bahkan hal berpakaian, menata rambutnya, mengantar dan menjemput Train, Valentino mengurus semuanya dan tidak membiarkan Leyka menggantikan tugas serta kewajibannya.



Valentino juga telah menyiapkan biaya Train sekolah sampai universitas dan diam diam Valentino merancang sekolahnya di Oxford University kelak. Ia mulai mengajukan hipotek untuk Apartemen Train di London dan mulai mencicil sejak mengetahui Train adalah Putranya. Valentino melakukannya dan merancang segalanya dengan detail, cermat dan teliti layaknya membangun gedung pencakar langit.


"Lalu apa tugasku?" Leyka pernah menanyakan hal itu pada Valentino beberapa waktu yang lalu.


"Tugasmu cukup mencintaiku dan anak anakku. Lalu kau harus melahirkan banyak bayi untukku. Tugasmu hanya setia dan tidak boleh selingkuh. Tidak boleh menyukai atau melirik laki laki lain. Tidak boleh memandang laki laki lebih dari satu detik. Tidak boleh tersenyum atau tertawa berlebihan kepada laki laki lain. Tidak boleh main sosial media karena aku juga tidak. Tidak boleh diam diam bertemu teman tanpa se-ijin aku, tidak boleh menggunakan baju sexy di belakangku, tidak boleh me time. Tidak ada me time diantara kita. Tidak boleh mengagumi laki laki lain selain aku, tidak boleh--


"Cukup, Il mio Amor-- Aku tahu apa yang harus aku lakukan" Leyka membungkam mulut Valentino dengan mulutnya agar berhenti bicara dan Valentino menahan pergelangan tangannya di sofa saat itu.


"Satu lagi-- Kau tidak boleh menolak keinginanku untuk menikmatimu setiap saat" bisikan Valentino masih membuat Leyka meremang jika Leyka mengingatnya karena setelah itu Valentino menindihnya di sofa ruang tengah saat Train berada di Apartemen Manuella yang saat itu baru pulang dari bulan madunya bersama Diego.


Leyka tersenyum mengingatnya, sebuah persyaratan yang sudah pasti mudah untuk Leyka jalani karena ia pun merasa, tidak bisa berpaling lagi dari Pria Italy yang kian hari kian possesif. Lamunan Leyka terburai saat mendengar suara mungil Train yang berkicau menemaninya di dapur pagi itu, untuk membuat sarapan.


Train selesai mandi dan siap berangkat ke sekolah, ia datang dengan dengan uang ditangannya dan sebuah celengan baru berbentuk robot Optimus Prime, salah satu tokoh kesayangannya di dalam film Transformer.


Train mendapatkan juara umum dan juara kelas di peringkat pertama. Juara umum adalah juara di yang diperlombakan oleh sepuluh sekolah terbaik di Barcelona dan Sekolah Esperanza adalah salah satunya. Di tingkat elementary satu, Train menduduki nilai tertinggi. Ya, musim sekolah akan berakhir di pertengahan musim gugur, tepatnya sebelum acara Thanksgiving.


"100 euro dari Uncle Torres, 100 euro dari Uncle Jared, 100 euro dari Uncle Damian, 200 euro dari Uncle Henry, 200 euro dari Uncle Matthew, 200 euro dari Grandma, 500 euro dari Abuelo Alfredo, 300 euro dari Ayah dan Ibuku dan dari semua Keluarga Fernandez totalnya ada 2500 euro, kira kira Daddy mau memberiku berapa, Mommy? Mirar! Uangku banyak sekali Mommy! Aku bisa membeli robot dari Jepang!" seru Train saat memasukan uangnya ke dalam celengan.


"Kau menghafal semua di luar kepala?" tanya Leyka sambil mengeluarkan tuna panggang dari pemanggang elektrik.


"Si si si!-- untung Train pintar dan juara satu di sekolah! Aku jadi punya banyak uang hari ini! Mereka semua memberiku hadiah" kicaunya lagi dengan lantang

__ADS_1


"Apa kau senang?"


"Si si si, Mommy!"


"Bagaimana jika kau memiliki ponsel?" tanya Leyka sambil mengoleskan roti dengan butter, ia akan memanggangnya kemudian.


"Bolehkah?" tanya Train dengan mata berbinar. Memiliki ponsel adalah keinginannya. Leyka sangat disiplin memperkenalkan ponsel pintar pada Putranya.


"Boleh asal kau tidak boleh lupa diri! Tidak lupa belajar, tidak lupa tugasmu, tidak lupa nasehat Mommy Daddy dan tidak boleh ada game atau sosial media di ponselmu" jawab Train bersemangat. Ia duduk di meja racik dengan menggunakan kursi kecil sebagai pijakan kakinya, tempat ia biasa menemani Leyka dari Train masih kecil. Dihadapannya ada lemari pendingin yang kini di penuhi foto anggota keluarga, ada Valentino, Train dan Leyka. Valentino sengaja menempelkannya disana.



"Si si si! Itu mudah, Mommy! Jadi aku boleh seperti anak lain memiliki ponsel?" tanya Train merasa kurang yakin.


"Sebentar lagi usiamu delapan tahun tentu saja boleh. Kau bisa menggunakan uang itu untuk membeli ponsel daripada robot" kata Leyka sambil mencium rambut Train saat melewatinya menuju lemari pendingin untuk mengambil sosis kesukaan Train.


"Uhss, bagaimana kalau itu hadiahku saja dari Mommy atau Daddy? Jika memakai uang hadiah ini-- itu sama saja aku membeli hadiah untukku sendiri! Uhss! Ini tidak adil! No me gusta (aku tidak suka)!" ujar Train merengut sambil memeluk celengannya.


"Ckk, dasar perhitungan" ujar Leyka dengan terkekeh, Train sulit di manipulasi itu membuat Leyka gemas lalu mencubit pipi Train.


"Mommy, mengapa wajahmu sangat lesu?" tanya Train saat melihat mata Leyka terlihat berkantung dengan lingkar hitam di sekitar matanya tampak samar samar.


"Mommy hanya lelah dan rasanya kurang tidur" jawab Leyka masih berkutat dengan sosis yang akan Leyka goreng dengan margarin.


"Mommy, apa Daddy membuat Mommy lelah bila malam hari?" tanya Train membuat Leyka terkesiap.


"Membuat lelah?"


"Si! Meminta susu" Leyka membulatkan matanya dengan posisi memunggungi Train. Ia memasukan sosis ke dalam penggorengan untuk menutupi kegugupannya dan bersiap siaga menyiapkan jawaban yang tepat untuk Train yang begitu kristis di usianya.


"Meminta susu?" Leyka menoleh dengan mengerutkan alisnya.


"Si Mommy, seperti aku meminta susu di tengah malam. Apa Daddy juga meminta susu di tengah malam?" Leyka tersenyum lega mendengarnya.


"Isshh, Daddy hanya minum susu di pagi hari" jawab Leyka kemudian.


"Hei pembicaraan macam apa ini?" Valentino datang, ia terlihat rapi dengan wajahnya yang berkilau. Valentino menghampiri Train dengan satu tangan tersembunyi dibelakang. Menyembunyikan sebuah hadiah untuk prestasi Putranya.


"Daddy! Semua orang memberiku uang! Daddy harus memberiku uang yang lebih besar dari pada yang lain!" Seru Train dan Valentino hanya tertawa mendengarnya.


"Kau ingin merampok Daddy pagi pagi?" kelakar Valentino sambil menciumi wajah Train.


"Si Aku perampok! Aku bajak laut!" jawab Train merengut.


"Bagaimana jika-- Uhmm, Daddy memberimu ini-- Tadaaaa!" mata Train membulat dan Leyka menoleh kearah meja racik dimana Valentino merentangkan sebuah hadiah dan diberikan kepada Train.


"Wow! Daddy! Ini ponsel untukku?" Train buru buru meletakan celengan ke meja dan menyambut hadiah itu dengan bersorak.


"Si! Untuk putra Daddy yang genius! Daddy bangga padamu!" ujar Valentino sambil memeluk dan menciumi Train bertubi tubi.


"Gracias Daddy Gracias!" Train mengeratkan pelukannya dan mencium pipi Valentino kemudian mengurai pelukannya dengan cepat karena Train buru buru ingin membuka ponsel barunya. Lalu Valentino menghampiri Leyka dan memeluknya dari belakang kemudian menciumi pipi Leyka.


"Gracias untukmu Mi amor! Semua karena kau mendidiknya dengan baik. Te Quiero-- Duduklah dan aku akan melanjutkan menyiapkan sarapan kita" ujar Valentino mengurai pelukan seiring jemarinya mengurai celemek di tubuh Leyka. Lalu Leyka memberi ciuman di bibir Valentino.


"Aku akan menata meja. Te Quiero" kata Leyka dengan senyuman hangat, baru satu langkah menjauh Valentino kembali mencium bibir sensual itu dan mereka saling menatap penuh arti.


Rosemary terlihat keluar dari kamar Leyka, ia pun baru saja menyelesaikan acara mandinya dan berjalan kearah meja makan seiring Train menuruni meja racik dengan mendekap celengan dan kardus ponsel menuju meja makan.


"Mommy siapkan lima piring bukan empat piring!" kata Train saat melihat Leyka membawa empat piring keatas meja.


"Kita hanya berempat Mi Nieto" kata Rosemary dengan melirik ke segala arah dengan gugup.


"Si-- Mommy, Daddy, Train, dan Grandma" imbuh Leyka sambil menyebar piring ke empat sisi meja.

__ADS_1


"No! Ada Abuelo Alfredo di kamar! Aku mendengar dia batuk! Aku hafal suaranya! Dia bersembunyi dikamar! Ahahaha!" celetuk Train sambil mengutak atik ponsel dengan asiknya. Mata Leyka dan Valentino membulat menatap wajah Ibunya yang serba salah dan sangat gugup.


"Madre?" tanya Leyka menuntut penjelasan.


"Ehm.. Ekh.. Itu-- Iya dia.. Ada dia" jawab Rosemary serba salah dengan wajah memerah.


Huhh.. Pak Tua itu benar benar menyebalkan, dia tidak mau pulang dari semalam.. Dia tidak tahu Cucuku sangat jeli.. Mengapa kau harus batuk.. Bodohh sekali.


-


-


-


...Locomotive Machine...


Sebuah pesan singkat, membawa Leyka memasuki lift dengan membawa bekal makan siang dan dua gelas coklat dingin ditangannya yang baru dibelinya di cafetaria.


Mi Esposa (Istriku) cepatlah naik ke ruanganku. Aku lapar. Aku ingin memakanmu.


Apa? Memakanku?


Typo, Baby (salah ketik, Sayang).. Aku ingin makan masakanmu yang kau bawa tadi pagi.


Pintu telah terbuka sesampainya di lantai sepuluh, ia memasuki ruangan Valentino dengan menghi*sap sedotan yang menancap di gelas coklat miliknya, dan baru beberapa langkah, Valentino yang bersembunyi berada dibalik pintu tiba tiba mengejutkan Leyka dengan suara pintu yang menutup dengan keras dan Valentino menguncinya. Namun karena tubuhnya terguncang, Leyka menumpahkan sebagian es coklat ke dadanya.


"Aaaa! Shitt! Vall.. Kauu--


"Mi amor maafkan aku!" Valentino buru buru mengambil gelas dan kotak makanan di tangan Leyka lalu meletakannya di meja.


"Val! Astaga! Kau ini!-- Huhhh! Seperti anak kecil saja! Aku tidak suka caramu ini!" Leyka menyambar beberapa lembar tisu di meja lalu membawanya ke toilet yang berada di ruangan Valentino.


"Mi amor Lo siento! Aku tidak tahu kau membawa coklat.. Lo siento, Baby" Valentino mendekati Leyka dan bermaksud mendekatinya namun Leyka menepisnya.


"Pergi sana!" hardik Leyka dengan kesal dan menutup pintu kamar mandi dengan keras dimana Valentino tepat berada diambang pintu.


"Pemarah sekali-- mengapa tiba tiba Istriku menjadi sangat pemarah?" gumam Valentino seakan berkata kepada pintu.


Valentino menunggu di depan pintu dan beberapa saat kemudian Leyka membuka pintu dan berjalan melewati Valentino dengan kemeja basah bagian atasnya dan kancingnya terurai dari atas hingga bawah, sehingga dada Leyka terlihat menyembul dengan penutup dadanya.


"Ley.. Ley.. Itu.. Itu.. Mana bisa begitu?" Valentino mengekor langkah Leyka dan berulang kali menelan salivanya.


"Terserah aku! Kau membuat semua basah karena tingkah konyolmu!" Leykapun duduk di sofa dan Valentino duduk di sampingnya dengan melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya.


"Lo siento, aku tidak bermaksud-- Leyka mendelik kearah Valentino --Ya baiklah aku sengaja mengejutkanmu. Jangan marah Mi amor. Aku punya kejutan untukmu" Leyka melengos membuang muka dan menyiapkan makan siang mereka.


"Ini-- Untukmu" Valentino mengambil sesuatu dari dalam saku jas yang ia letakan di sandaran sofa, lalu memberikan pada Leyka yang matanya membulat.


"Tiket ke Palma? Apa kau serius?" mata Leyka bersinar melihat empat tiket ditangannya, sementara Valentino mendekatkan wajahnya perlahan lahan kearah pundak Leyka. Valentino memberikan ciuman kecil sambil menggesekan dagunya.


"Ley.. Train mau melihat Mansion di Palma dan mengunjungi makam mendiang Grandpa-nya dan aku pun ingin mengunjungi sebagai menantunya" Valentino dengan hati hati menelusupkan tangannya ke perut Leyka sambil berbisik. Leyka teralihkan karena tiket yang terus ia pandangi dengan membaca tanggal keberangkatan.


"Minggu depan? Itu.. Itu Train telah libur" gumam Leyka masih terkagum memandangi tiket itu, hampir 8 tahun Leyka meninggalkan Palma dan ini sangat mengejutkannya. Suaminya sangat pengertian dan akan membawanya ke Palma dimana itu adalah impiannya.


"Apa kau menyukainya?" bisik Valentino dengan jemari meniti kepuncak bukit kembar perlahan lahan karena Valentino berusaha mengalihkan perhatian Leyka. Ia menggesekan puncak hidung pinokionya di leher belakang telinga hingga Leyka menahan nafasnya dan menjatuhkan tiket dengan menahan nafasnya.


"Aahh.. Kau.. Nghh.. Val..Aaahhh-- Ini sebuah.. Impian manisku bersamamu Val" Valentinopun mendorong tubuh Leyka hingga merebah ke sofa dengan pagu*tannya yang bersarang leher jenjang itu. Tubuh mereka menghangat, gelenyar indah berkejaran, seiring nafas mereka yang menderu deru. Valentino selalu saja tidak sabaran.


-


-


-

__ADS_1


Penting UP, revisi belakangan.. 🤦‍♀️ maaf bosqyu.. aku lelah.. butuh kopi diawal bulan ini 🤣 #kaga nyambung


__ADS_2