FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
PALMA : Seperti Ribuan Anak Panah


__ADS_3

Leyka menyambar bathrope yang jatuh ke lantai, ia mengenakannya sambil melompat ke ranjang lalu menarik selimut dan pura pura tertidur, sementara Valentino buru buru ke kamar mandi, saat Train masuk kamar ia pura pura menekan tombol siram pada closet lalu keluar kamar mandi. Namun Train dengan mulut yang kotor karena coklat, berlarian kearah balkon dengan wajah menegang, ia kemudian berdiri keatas kursi dan berpegangan pada pagar balkon yang terbuat dari batu marmer yang diukir klasik bergaya Victoria.


"Daddy! Miraar (lihat)! Mommy! Vamos despierta (ayo bangun)! Uhss Mommy! Coquetear (si genit) ada disini!" Leyka dengan cepat bangun dan berjalan kearah balkon disusul Valentino yang mengekor langkah Leyka.


Seorang wanita dengan baju yang sama yang mereka jumpai di gerai ice cream terlihat keluar dari mobil. Wanita itu, di antar sebuah taksi dan sang sopir menurunkan empat koper dari bagasi mobil. Di sambut oleh penjaga, wanita itu memerintahkan untuk membawa kopernya memasuki Mansion.


"Astaga itu putri dari Tia Ursula!" kata Leyka berbisiik penuh penekanan.


"Kau mengenalnya?" tanya Valentino.


"Tidak begitu dekat, tapi setauku dia pekerja keras sama sepertiku. Dia lama sekolah di Polandia" jawab Leyka.


"Untuk apa dia kesini? Pasti bukan kebetulan. Dia memiliki tujuan" ujar Train sambil menelan sisa coklat di tangannya dan membersihkan tanganya dengan mengusap usapkan di bajunya. Leyka mengernyitkan alisnya melihat itu dan menyikut lengan Valentino agar melihat ulah Putranya. Valentino melengos melihat ulah Train yang mengotori bajunya.


"Sepertinya ada yang harus frente a la pared (hukuman menghadap ke tembok)" Train sontak turun dari kursi dan pura pura tidak mendengar sindiran Valentino yang ditujukan padanya.


"Aku harus melihat untuk apa coquetear (si genit) datang, Daddy tidak boleh macam macam! Daddy tidak boleh dekat dekat!" ujar Train berjalan meninggal balkon dengan mengacungkan jari telunjuk di samping telinganya lalu menggoyang - goyangkannya. Train mencoba mengalihkan kesalahannya dan dengan memberi peringatan pada Valentino agar mendapat pujian dari Leyka.


Namun dengan cepat Leyka menyambar tangan kotor itu lalu menggandengnya memasuki kamar dan Valentino menahan tawanya dengan mengekor langkah Train yang selalu melihat kearahnya untuk minta perlindungan.


"Train nakal! Apa kau tidak tahu mulut dan pipimu sangat kotor! Lalu lihat bajumu! Sangat kotor!" Leykapun mengomel dengan setengah menyeret Train yang berjalan dengan melompat lompat sesekali kearah kamar mandi.


"Uhs Mommy! Train tidak membawa cermin kemanapun!" kilahnya dan Valentino bersedekap, lagi lagi menahan tawanya melihat ulah putranya.


"Bisa saja kau menjawabnya! Vamos, masuk kamar mandi! Cuci mulutmu sendiri dan gosok gigimu!" ujar Leyka setelah memasuki kamar mandi dan Valentino mengikutnya lalu berdiri dibelakang Leyka.


"Aku gosok gigi sekarang dan nanti setelah makan jadi sudah dos veces (dua kali)!" kata Train dengan berkicau sambil merentangkan dua jarinya lalu ia mengerlingkan matanya kearah Valentino untuk mencari pembelaan. Namun Valentino memilih diam sesekali ia tersenyum.


Apa kau dulu selalu seperti ini.. Kalian sangat manis bila bertengkar.. Aku melewatkan banyak hal.. Mengapa aku dulu tidak menunggumu sampai kau datang ke Barcelona setelah melarikan diri dari Palma. Valentino.


"No! Gosok gigi sekarang dan nanti setelah makan malam tetap gosok gigi dos veces (dua kali)! Train nakal! Kapan seharusnya kau makan coklat?" tanya Leyka dengan alis yang beradu dan bersedekap menunggu Train yang masih berkicau di depan wastafel.


"Uhs! Train lupa!" kilahnya lagi dengan berpura pura berpikir.


"Cepat ambil sikat gigimu!" perintah Leyka dengan tegas.


"Uhs! Soy perezoso (aku malas)! Menggapa Mommy Feroz (galak) sekarang? Dulu tidak marah marah, Train cukup membersihkannya pakai tisu basah!" Train menggerutu dan Valentino menyembunyikan tawanya.


Valentino menunduk dan menempelkan dahinya di kepala Leyka yang rambutnya tergerai menutupi pundak juga lehernya lalu ia terkekeh pelan, satu tangannya melingkar di leher Leyka hingga tangan Valentino memenuhi dadanya dan satu tangan yang lain menutup mulutnya. Valentino mengamati tingkah Train, dimana bagi Leyka itu sudah menjadi makanan sehari hari yang begitu disiplin mendidik Train yang malas bila gosok gigi. Valentino terus terkekeh melihat Train mengambil sikat gigi milik Leyka dan bergantian mengambil milik Valentino, padahal Train melihat sikat giginya sangat jelas, namun ia sengaja memperlambat perintah dan itu membuat Leyka semakin tidak sabaran.


"Apa pernah selama ini, Train makan coklat sebelum makan?" tanya Leyka memiringkan kepalanya dengan menatap tajam mata Train, yang masih cekikikan saat mendengar Valentino yang terkekeh melihatnya.


"Ahahaha-- Si tidak pernah! Ini salah Daddy yang mengijinkan aku mengambil coklat!" Train tergelak dengan menggenggam sikat giginya, ia mengoper kesalahannya kepada Daddynya.


"Kau menyalahkan Daddy? Hahaha-- Kau tidak akan makan coklat selama setahun" Valentino meledakan tawanya, Train mencoba mencari pembelaan dan Train bersungut dengan mengambil pasta gigi lalu ia menggosoknya perlahan lahan.


"Apa kau tahu, meja makan itu seperti Altar Tuhan. Kau harus bersih saat duduk di hadapan Altar Tuhan. Sama seperti meja makan, ada banyak makanan dan minuman, itu semua pemberian dari Tuhan karena itulah kau harus bersih saat berada disana untuk mengucap syukur! Apa kau mengerti El Perezoso (pemalas)?" tanya Leyka dan Train berkumur lalu tersenyum lebar.


"Wow Mommy sangat religius! Aku mengerti Mommy, lo siento (maafkan aku)" ujar Train sambil meletakan sikat giginya dengan memiringkan kepalanya lalu tersenyum dalam hatinya Leyka sangat gemas tapi ia menahan dirinya.


"Jadi kapan seharusnya kau memakan coklatmu?" tanya Leyka lagi dengan melembut.


"Uhm-- Seharusnya setelah makan malam! Tapi Mommy coklat itu memanggilku terus-- ven a comerme, ven a comerme (ayo makan aku, ayo makan aku)! Aku sangat kasihan, Mommy!" kilahnya lagi dengan melambaikan tanganya, Valentino lagi lagi meledakan tawanya.


"Hahaha! Mi amor, gantilah bajumu. Biar aku yang mengurusnya" kata Valentino masih terbahak.


"Haah! Tidak ada drama drama cepat cuci muka! Lalu ganti bajumu!" Leyka membalikan tubuhnya untuk menahan tawanya, Valentino mengurai dekapannya lalu mencium kening Leyka yang berlalu meninggalkan kamar mandi.


"Uhs! Mommy, es muy feroz (Mommy sangat galak)!" ujar Train menggerutu lalu ia mencuci wajahnya kemudian membilasnya.


"Vamos, Blue. Ganti bajumu lagi!" Valentinopun menggandeng tangan Train menuju ruang ganti baju dimana koper mereka masih terlihat belum dikeluarkan isinya.


Sangat menyenangkan menjadi orangtua. Kapan kau memberiku anak lagi? Seperti apa kau saat hamil? Dan bagaimana rasanya? Ahh Leyka, ternyata berumah tangga sangat menyenangkan. Aku ingat perkataanku di Pretoria bahwa menikah hanyalah penyiksaan dan aku hanya akan menjadikanmu simpanan. Lo siento, aku akan menebus kesalahan demi kesalahanku. Valentino.


Seperti itu setiap harinya, Val.. Apakah menyenangkan? Bagaimana bila kau bosan? Apa kau bisa terus berada di sisiku? Ahh, tentu saja bisa.. Mengapa aku sangat sensitif belakangan ini.. Humm.. Miu, bagaimana cara Valentino berkomunikasi dengan Putrinya.. Ahh, sudahlah Aku tidak mau berpikir macam macam. Leyka.


-


-


-


Madam Aurora, adalah Ibu dari Ursula dan Rosemary. Aurora penduduk asli Palma tapi dia bukanlah seorang bangsawan, ia menikah seorang laki laki, turis berkebangsaan Polandia. Namun pernikahan mereka kandas dan laki laki itu memilih kembali ke Polandia meninggalkan seorang anak perempuan bernama Ursula. Selang setahun kandasnya pernikahan itu, Madam Aurora kembali di pertemukan dengan seorang laki laki bangsawan, Manuello Felipe. Keturunan dari generasi Raja Spanyol terdahulu, Felipe. Mereka menikah dan lahirlah Rosemary. Manuello Felipe sangat menyayangi Ursula, putri tirinya. Lalu ia menyematkan nama belakangnya kepada Ursula menjadi Ursula Manuello sebagai bentuk rasa kasih sayangnya. Namun setelah Madam Aurora meninggal Ursula memilih tinggal di Polandia dekat dengan Ayah kandungnya, hingga ia menikah dan memiliki seorang putri Guaddalupe Catalina Manuello. Saat Manuello Felipe meninggal, Ursula kembali ke Spanyol dan menetap di Palma menempati rumah Madam Aurora hingga kini.


Jauh sebelum Ursula ke Polandia, jauh sebelum Madam Aurora meninggal, hubungan Rosemary dan Ursula bisa dibilang dekat walaupun Ursula memilih menjauh karena Keluarga Kerajaan tidak menerimanya. Dan hubungan itu merenggang karena kehadiran Geraldo Paquito Fernandez, atau biasa dipanggil Pacho, Ayah Leyka. Seperti halnya Pacho-- kekasih Rosemary saat itu-- awalnya, mendapat penolakan keras dari kedua orangtua Rosemary, dan itu yang melatar belakangi Ursula dengan mudah mendekati Pacho. Namun Pacho terlalu mencintai Rosemary dan menikah diam diam. Singkatnya lahirlah Leyka kemudian, dan Manuello Felipe beserta seluruh Keluarga Kerajaan bisa menerima menantunya. Karena bagaimanapun, darah bangsawan Manuello Felipe mengalir di tubuh cucunya, Leyka Paquito Fernandez yang kemudian menjadi Putri Mahkota delapan tahun yang lalu dengan gelar Felipe.

__ADS_1


...*...


Setelah berkenalan singkat mereka semua berkumpul dan berada di meja makan perjamuan untuk makan malam. Train berjalan menggandeng Valentino dengan wajah waspada. Valentino hanya menahan senyumnya melihat ketenangan Train namun isi kepalanya seperti berputar dengan sangat cepat.


"Mirar! Kursimu Blue!" tunjuk Valentino dan Train menarik tangan Valentino dengan cepat. Valentino merasa Train sangat pantas menjadi pengawalnya. Leyka tersenyum bahagia melihatnya.



"Wow keren!" seru Train mengelilingi kursi kecil milik Leyka sewaktu Leyka masih kecil. Kursi itu memiliki warna dan model senada dengan meja perjamuan.


"Kursimu beda dengan yang lain, membuat Tia iri saja" kata Guaddalupe mencoba menarik perhatian Train untuk mengambil hati Valentino.


"No, bukan Tia! Aku tidak bisa memanggilmu Tia, aku akan memanggilmu Adda saja!" ujar Train dengan sikap dinginnya. Guaddalupe hanya tersenyum dan melirik kearah Valentino yang terlihat dingin saat menatapnya.



Angkuh, dingin.. Aahh, itu sexy dan sangat menantang.. Kau membuat hatiku remuk Val.. Guaddalupe.


"Train tidak boleh begitu!" ujar Leyka memperingatkan.


"Tidak masalah dia masih sangat kecil, Mi amor-- Valentino mengusap punggung Leyka, lalu mencium pelipisnya --Vamos, duduklah" Adda terkesima melihatnya, hatinya panas namun ia semakin penasaran dengan laki laki Italy itu. Valentino menarik kursi untuk Leyka sebelah Train persis namun Train bereaksi.


"Nooo Daddy duduk disebelah kananku! Mommy disebelah Daddy! Di sebelah kiriku Grandma. Adda terserah duduk dimana!" ujar Train bersedekap diatas meja. Mereka duduk sesuai perintah Train dan Adda memilih duduk di samping Rosemary, berseberangan dengan Leyka, agar bisa melihat Valentino dengan jelas.


"Train? Sopanlah sedikit, Carino!" ujar Leyka lagi.


"Biarkan dia masih anak kecil" ujar Rosemary mencium rambut Train saat melewatinya. Leyka menghela nafas panjang dan memilih menyerah saat Train mendapatkan pembelaan dari Valentino dan Rosemary, apapun yang ia lakukan akan kalah.


Beberapa pelayan memasuki ruang makan dan siap menghidangkan makan malam dengan menu lengkap, dari hidangan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup. Mereka melayani tuan rumah satu persatu.


"Adda, Lo siento" kata Leyka sambil tersenyum kepada pelayan saat menyajikan hidangan pembuka namun salad buah sebagai hidangan penutupnya lebih menggodanya.


"Aku minta tuna saja, aku tidak mau steak daging dan kentangnya digoreng tidak ditumbuk-- Gracias, Licette" pesan Leyka pada seorang pelayan dengan nada setengah berbisik. Rosemary mengamati putrinya.


"Tidak apa apa, Mi la prima (sepupuku). Aku terbiasa menangani anak kecil yang nakal, apalagi anak nakal itu sangat tampan" Adda masih berusaha, dengan mata tertuju pada Valentino yang menggenggam jemari tangan Leyka lalu menciuminya sesekali.


"Ceritakan pekerjaanmu, Adda. Apa kau masih bekerja di Kedutaan Italy?" tanya Leyka dan Valentino melihat sekilas kearah Adda yang terus menatapnya. Ia memilih menyimak dan melayani Train dengan menuangkan berbagai macam sayur dan kacang kacangan di piring Train. Sementara Leyka mengobrol sambil melayani Valentino disela pelayan menuangkan minuman satu demi satu kepada penghuni meja perjamuan itu.


"Kau tau duda tampan Luis Angelo? Aku menjadi Sekretarisnya?" ujar Guaddalupe sambil menyesap wine lalu mengiris daging dan melahapnya. Semua terlihat dan menyimak obrolan Leyka dan Guaddalupe.


"Eh.. Ehm.. Val.. Kau mau apa.. Ekh--


"Bisa bisanya kau menyebut duda jelek di meja makan, kau bilang meja sama saja Altar Tuhan, bisa bisanya kau mengagumi pria lain di hadapanku!" Leyka tersentak, Train tertawa, Rosemary menggelengkan kepala sambil menahan senyumnya, sikap Valentino mengingatkannya pada Pacho. Sementara Guaddalupe terkesima dan semakin penasaran pada sosok Valentino.


"Ckk, ishh-- Aku kira apa. Aku hanya menanggapi Adda. Aku tidak mengagumi, tampan bagi Adda bagiku tidak. Hanya kau yang paling tampan!" ujar Leyka memiringkan kepalanya ciri khas Train dan tersenyum dengan jemarinya mengusap pipi Valentino yang kian lebat bulu bulu kasarnya.


"Kau merusak selera makanku!" kata Valentino memalingkan wajahnya tak sanggup menatap mata Leyka yang membuat telinganya memerah.


"Ckk, ishh-- Vamos, kau harus makan karena nanti malam kita akan bekerja keras" Leyka pun bergelayut manja di bahu Valentino dengan rayuannya.


"Bekerja keras apa malam malam?" tanya Train membuat Valentino dan Leyka menguraikan diri lalu mereka duduk tegak kembali.


"Membereskan koper" jawab Leyka,


"Mengeluarkan isi koper" dan hampir bersamaan dengan jawaban Valentino. Mereka saling pandang dan saling melempar senyuman.


"Aku.. Mau.. Menghi*sap.. Jagung bakar.. A fri ka Se la tan mu" bisik Leyka sangat lembut di telinga Valentino sambil mengecup pipinya.



"Ehem, kita.. Kita lanjutkan makannya" kata Valentino dengan gugup, wajahnya memerah seketika. Ia memilih melirik Rosemary, yang menahan senyumnya.


"Adda lanjutkan ceritamu" kata Leyka sambil menyuap makanan.


"Tidak ada yang menarik. Luis memberiku harapan dan aku dipercaya mengasuh kedua anaknya. Lama lama aku menyukainya, dia selalu memujiku, memberi bunga, memberi coklat dan banyak hadiah. Tapi dia berbohong padaku. Dia mengajak kedua anaknya bersamaku ke Madrid. Luis mengatakan kita akan liburan, tapi dia membawa putranya dan meninggalkan aku bersama putrinya di hotel dan Luis bersama putranya menyusul Istrinya yang berlibur ke Palma" ujar Guaddalupe.


Leyka menangkap kegetiran disetiap penuturan Guaddalupe, nada kekecawaan yang mendalam, Valentino yang menyimak, mengerutkan alisnya sambil berpikir, ia pun merasa penasaran.


"Lalu?" tanya Valentino dan Train menoleh dengan menendang kaki kursi Valentino, ia bersungut. Valentino menahan senyumnya lalu mengusap punggung Train agar tenang saat makan. Train tidak suka Valentino menanggapi cerita Guaddalupe.


"Akhirnya dia kembali bersama Istrinya, Putranya bisa membujuk Ibunya. Dia tidak punya hati, dan tidak berperasaan. Dia hanya berkata terima kasih telah menjaga Putrinya selama ia pergi. Dia benar benar memanfaatkanku" jawab Adda dengan berdebar karena Valentino bertanya padanya.


"Apakah dia pernah menyatakan perasaannya padamu?" tanya Rosemary membuat Train menoleh dan Rosemary pura pura tidak melihat. Rosemary tau ketakutan cucunya.


"Ehm tidak pernah secara langsung, Tia Rose. Tapi perhatiannya sudah cukup mengatakan dia tertarik kepadaku" ujar Adda dengan percaya diri.

__ADS_1


"Pria Italy jarang sekali menunjukan ketertarikan melalui bunga bahkan coklat. Dia melakukannya dengan perbuatan dan mengutarakan isi hatinya. Setelah dia mendapatkan hati seorang wanita, ia akan memberikan semua bunga untuknya, bahkan apapun yang ia miliki" tutur Valentino justru menatap Leyka dengan senyuman, ia mengingat kisahnya di Pretoria. Leyka memerah wajahnya dan membalas senyuman Valentino lalu meraih tangan Valentino yang mendarat dipahanya lalu menciumnya.


"Te Quiero" tutur Leyka kemudian.


"Ti amo" balas Valentino dengan berbisik. Train senang melihatnya, senang saat melihat wajah Guaddalope menunjukan rasa iri. Train terus mengamati wanita yang memiliki niat tidak baik pada Mommy dan Daddynya.


"Sebenarnya itu karena kau Coqueta (genit), Adda. Kau suka mendekati laki laki yang sudah beristri. Jauhi Daddyku! Daddyku, hanya mau mengejar Mommyku sampai ke kutub utara!" ujar Train serasa menampar Guaddalupe dan Leyka terbeliak matanya mendengar perkataan Train. Namun justru seseorang meledakan tawanya memasuki ruang makan itu dengan membawa seribu kuntum bunga Rosemary hingga menutupi sebagian tubuhnya.


"Hahaha-- Itu Istilah Abuello Alfredo! Kau terlalu sering menguping pembicaraan kami. Itu karena Grandma akan lari ke tempat yang tidak ada tempat bersembunyi untuk buang air kecil, dan Abuello akan mengejar Grandma sampai ke kutub utara" seru Alfredo dengan suara khasnya, Semua berdiri dan Adda reflek mengikutinya.



"Wow Abuello Alfredo!" Train sontak turun dari kursinya dan berlarian menyongsong Alfredo, dengan membawa bunga rosemary. Train melompat kesana kemari dan menggandeng tangan Alfredo kearah meja makan.


"Flor de romero para romero (bunga Rosemary untuk Rosemary)" ujar Alfredo menyerahkan bunga dengan menatap mata Rosemary yang bercahaya. Rosemary mendekap bunga itu dengan tersenyum merekah.



"Anciano (pak tua) kau memberiku kejutan-- Thank you (terima kasih)" kata Rosemary dengan berbinar, sementara Alfredo berdebar mendengar Rosemary menggunakan bahasa Inggris.


"Denada (sama sama)" kata Alfredo meraih jemari Rosemary lalu menciumnya dengan tersenyum penuh pesona, lalu membalas ucapan terima kasihnya dalam bahasa Spanyol.


"Val, aku mau bunga itu" bisik Leyka.


"Sekarang?" Valentino mengernyitkan alisnya.


"Si sekarang. Harus sebanyak itu" rengeknya sambil berbisik.


"Dimana mencarinya? Ini sudah malam" ujar Valentino dengan mendengus.


"Hishh! Cepatlah pergi sana!" kata Leyka sambil kesal memukul lengan Valentino. Dan Rosemary mendengarnya dengan tersenyum manis.


"Pachito, apa kau ingin memeluknya? Ambil bunga ini untukmu. Aku tahu Mi Nieta (cucuku; perempuan) pasti menginginkannya" kata Rosemary membuat semuanya dan terutama Alfredo bingung.


"Untukku Madre?" Seperti ada sesuatu yang ingin meledak dalam hatinya saat bunga itu mengulur kearahnya. Matanya membulat dan mulutnya ternganga, berulang kali ia memandangi Valentino dan bunga itu secara bergantian seakan tak percaya Rosemary memberikan bunga itu untuknya.


"Si, ambillah" kata Rosemary mengangguk dan Alfredo melihat kearah Rosemary dengan penuh tanda tanya.


"Mi nieta?" gumam Train mengerutkan alisnya dan menunjuk hidungnya sendiri. Sementara Valentino masih bingung dengan sikap Leyka yang kekanakan dan bergegas menyongsong bunga rosemary setelah bersungut memukul lengannya.


Cepat sekali berubah suasana hatinya. Pikir Valentino.


"Indah sekali bunga ini! Gracias Madree!" sorak Leyka memeluk bunga itu dan menciuminya dengan rasa bahagia.


"Grandma! Train Nieto (cucu laki laki) bukan Nieta (cucu perempuan)!" seru Train dengan bingung.


"Tentu saja, Mi Nieta yang ada disini-- Grandma tahu Mi nieta menginginkannya sama persis saat Mommymu ada di perut Grandma dulu! Selalu menginginkan bunga dan selalu tidur! Mucho mucho mucho (yang banyak)" ujar Rosemary mengusap perut Leyka. Semuanya terbelalak kemudian.


"Ohhh Nooo! La hermana (adik perempuan)!" seru Train masih tak percaya dan Rosemary terkekeh.


Valentino sontak menendang kursi yang ada dibelakangnya agar menyingkir dari langkahnya dan merampas bunga itu dari dekapan Leyka lalu melemparnya ke kursi hingga beberapa bunganya berjatuhan. Ia memeluk Leyka yang terpaku dengan perkataan Rosemary.


"Apa benar? Benarkah? Apa benar? Kau hamil? Kau hamil? Apa benar? Benarkah? Benarkah? Leyka? Ley.. Il mio amor.. Benarkah?" seperti diserbu ribuan anak panah, Valentino menyerang Leyka dengan ciuman bertubi tubi. Tangan kekarnya mencengkeram kuat kepala Leyka dengan serbuan pertanyaan yang Leyka sendiri tidak tahu.


Mengapa aku lupa, kapan menstruasiku..


-


-


-


Karena org italy itu dasarnya romantis, ke tetangga aja ngasih bunga udah hal yg wajar. Ngasih coklat udah biasa karena pabrik terbesar coklat ada disana selain di Swiss, apalagi yaa industri rumahan coklat seabreg disana. Lahh yaak kl dikita dikasih bunga tetangga bisa di sleding 🤣🤣🤣


kl disana kode ketertarikan pake kedipan mata gaess, itu udah peka satu sama lain , laahh kebalik disini, dikedipin mata ampe belekan juga kaga peka 🤣🤣 dikasih bunga ama coklat baru deh terbang terbang terkiwir2 🤣


menjelang tutup tahun ini, up bolong2 udah pasti, nyiapin banyak hal apalagi byk bencana byk baksos. Natal tahun baru tggl menghitung hari, dan palakan terjadi dimana2 datang dan pergi sesuka hati. kado hadiah udah mulai nih 🤣


Lo siento, Bosqyu. RL berjalan sambil mikirin 2 novel yg ratingnya 10 besar diganggu acara demi acara. Ehh ngapa ga PPKM aja sih pak Joko Wi.. aku yg paling seneng lho kl PPKM 🤣🤣


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2