
...Part Two...
Vatikan memiliki nama resmi Stato della Citta del Vaticono. Jika diterjemahkan secara bebas, nama tersebut artinya Negara Kota Vatican. Vatikan merupakan negara terkecil di dunia, dan sering juga disebut sebagai negara di dalam negara. Kata Vatikan merupakan saduran dari Bahasa Latin, yakni Vates. Vates dalam Bahasa Latin berarti pengkabar masa depan. Kota ini merupakan tempat kabar baik Tuhan yang dikumandangkan ke seluruh dunia.
Luas negara ini hanya berkisar 44 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak kurang lebih 1000 orang. Letaknya sendiri berada tepat di dalam negara Italia, dekat kota Roma. Sistem politiknya merupakan monarki, dan Paus memegang legislatif, eksekutif dan yudikatif. Salah satu alasan mengapa penduduk Vatican jumlahnya sedikit karena kewarganegaraan diperoleh berdasarkan penunjukan. Jadi orang yang bekerja di kediaman Paus ini nantinya diberikan kewarganegaraan. Setelah masa kerja selesai maka hak atas kewarganegaraan kembali dicabut.
Gereja Basilica St. Peter di Vatikan merupakan Gereja terbesar di Dunia. Tempat kediaman Paus ini merupakan negara yang tidak memiliki kekuatan militer. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada penjagaan yang dilakukan. Di tempat ini pengawal didatangkan dari negara Swiss, yang disebut dengan Papal Swiss Guards. Pengawal tersebut mengenakan seragam khas Renaissance, dan sudah ada sejak tahun 1506.
Saat itu Paus Julius II menilai bahwa tentara dari Swiss merupakan pekerja yang patuh dan sangat setia. Sejak saat itu tentara Swiss berjanji untuk mengorbankan diri melindungi Paus hingga saat ini. Hal itu dikarenakan tentara Swiss dikenal juga sebagai salah satu kekuatan militer yang paling disegani di seluruh dunia.
Seluruh peraturan Dasar agama Katolik berkiblat pada Vatikan yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Salah satunya yaitu sebuah pedoman dan prinsip yang mendasar pada pasangan suami istri adalah bahwa segala sesuatu yang disatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan atau diceraikan oleh manusia.
Vatikan tidak akan pernah mengabulkan atau menanda tangani surat perceraian, hitam diatas putih bahkan dalam bentuk lisan, apapun alasannya. Karena seberat apapun masalah yang dihadapi oleh pasangan suami istri, sepelik apapun, sedalam apapun luka yang ditimbulkan, dan seberapa besar permasalahan itu berdampak, semua pasti ada jalan keluarnya.
Namun jika pasangan suami istri itu menyerah pada situasi yang buntu, pada umumnya pasangan yang ingin bercerai atau berpisah bisa melakukannya secara hukum negara. Secara hukum agama dan di mata Tuhan, pasangan suami istri masih Sah dalam sebuah ikatan janji suci. Karena hukum agama di Katolik, janji suci yang terucap hanyalah kepada satu orang saat mereka mengucapkannya di Altar. Tidak bisa menjadi dua janji ataupun lebih, karena paham idealisme di Vatikan adalah "satu untuk selamanya".
Manusia rata - rata menceraikan dirinya sendiri untuk membenarkan tindakannya dengan berpindah gereja agar bisa menikah lagi atau hanya menikah melalui hukum negara. Karena itulah banyak orang di negara barat yang belum siap untuk menikah melalui hukum Agama, mereka memilih tinggal bersama sebelum mereka menikah. Bahkan ada yang telah memiliki anak dan hanya mendaftarkan pernikahannya pada hukum Negara.
Kontroversipun berkembang hingga saat ini, mengingat hak asasi manusia di junjung tinggi dan delik hukum untuk mengganggu privacy sangat di terapkan, oleh karena itu masyarakat disanapun memilih untuk tidak mengambil pusing atau mempermasalahkan jika seseorang tinggal bersama dan mengusik pribadi satu kepada pribadi yang lainnya. Berbeda di negara asia tenggara khususnya, yang menganut adat ketimuran yang masih di junjung tinggi.
...***...
"Lalu ceraikan aku sekarang juga ke Vaticann!!" Pallazo terdiam seketika. Bahkan Jared dan Torres menjadi beku mendengar suara Valentino yang begitu keras menggelegar. Mudahkah seorang bercerai melibatkan Vatican? Pallazo kembali duduk karena lututnya serasa lemas. Mengingat Vatican tidak akan pernah menceraikan pasangan yang telah mengikat janji suci. Ia pun menangis pilu. Harapan itu tidak pernah ada.
Hilang sudah harapanku selama ini.. Harapan yang aku bangun bertahun lamanya.. Bagaimana dengan Miu.. Apa Putriku bisa menerimanya. Pallazo.
"Apa kau ingin aku bercerai dan meninggalkan Istri dan Putraku! Katakan!!-- lanjut Valentino --Selama ini aku hanya diam! Apa kau tahu mengapa?! Karena aku sangat tempramen! Hingga terkadang aku tidak bisa mengendalikan diriku! Aku selalu mengatakan untuk tidak melewati batas! Karena beginilah aku saat kau melewati batasanmu!" seru Valentino mekakakan telinga Torres yang masih menahan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakannya Pall! Jangan membuat masalah dengan manusia kutub ini dari dulu!" imbuh Torres dengan kesal.
"Jadi aku sudah tidak memiliki kesempatan? Bagaimana dengan Miu yang begitu berharap agar kita menjadi keluarga yang utuh? Bagaimana ini? Aku.. Aku menutup diriku dan mengabdikan hidupku untukmu dan juga Miu selama tujuh tahun ini. Apakah ini balasannya?" Pallazo membiarkan airmatanya berlinang - linang kembali mengalir membanjiri wajahnya. Tatapannya nanar kearah tisu yang ia pegang dan telah basah.
"Apa kepalamu berisi batu, hah!! Aku laki laki yang menghargai wanita dengan caraku! Apa pernah aku memberimu harapan?! Bukankah dengan jelas selama ini sikapku begitu dingin kepadamu! Apa kau tahu, aku berkencan buta dengan beberapa wanita karena aku ingin membangun hidupku bukan bersamamu! Dan untuk menghindarimu!" Valentino memuntahkan isi hatinya yang selama bertahun lamanya ia pendam dengan penuh kekesalannya.
"Jadi selama ini kau dingin itu bukanlah sikapmu yang sesungguhnya? Dan kau tahu pasti aku sangat menyukaimu dari awal kita bertemu. Kebaikanmu bukankah karena aku juga? Atau hanya balas budi semata?" ucap Pallazo semakin lirih disela isak tangisnya.
"Apa kau pikir aku tertarik kepadamu! Apa kau pikir aku mau berurusan dengan Keluarga Pallazo! Apa kau pikir kau layak bersanding di sisiku, sekalipun tidak ada Leykaa!!" seru Valentino dengan meledak - ledak. Amarahnya semakin melebar luas tanpa memikirkan atau menjaga perasaan seorang wanita, Valentino berada di titik jengahnya ketika Miu berada satu Daycare dengan Train dan Pallazo sengaja melakukannya.
Pallazo serasa ditampar, ia memberanikan dirinya untuk mengangkat kepalanya dan menatap mata Valentino yang telah memerah, guratan kemarahannya masih terlihat sangat jelas. Pallazo mengingat sikap Valentino selama ini, sikap diam cenderung dingin dan tidak banyak bicara. Ia bisa dekat dengan Valentino karena Miu yang selalu berusaha mendekatkannya. Pallazo diam - diam merenungi kebodohannya selama ini.
"Kau kembali padanya karena dia Bangsawan, kan? Karena itulah kau menganggap aku tidak layak. Jika aku tidak layak, itu sama saja Miu pun tidak layak untukmu" ujar Pallazo kembali menundukkan kepalanya seraya menyeka airmata di pipinya.
"Jadi kau menganggap dirimu layak?! Apa kau tidak tahu bahasa tubuhku yang selalu saja menghindarimu?! Apa kau tahu berapa banyak yang aku pertaruhkan demi mendapatkan izin mengadopsi sekaligus menjadi Ayah Baptis untuk Miu?! Aku harus menentang keluargaku! Jika bukan karena Kakekku, apa kau pikir aku bisa memberi nama Elara Miuccia pada anak yang terlahir bukan dari darah dagingku! Shittt! Bodoohh! Aku membuat Miu layak berada di sisiku!" Pallazo terdiam, ia menyadari dirinya begitu kecil mengingat siapa Valentino Gallardiev di Italy.
Pallazo mengingat bagaimana perjuangan Valentino untuk menjadi Ayah Baptis dan mengadopsi Miu tidaklah mudah secara hukum. Pertentangan antara sang ayah, yaitu Alfonso terjadi begitu pelik pada saat itu. Alfonso harus mengeluarkan Valentino dari daftar surat wasiatnya. Beruntung sang Kakek yang kini tergolek di rumah sakit yang menolongnya.
"Aku memintamu untuk menyerah. Ribuan kali aku mengatakannya" ujar Jared dengan lembut, ia mengusap punggung Pallazo seraya menghela nafas dalam - dalam.
"Jadi selama ini-- Kau memendam sampah yang ada di kepalamu lalu kau luapkan sekarang? Jika Leyka bukan bangsawan, aku tidak yakin kau masih mau kembali kepadanya" celetuk Pallazo setelah meneguk air minum yang disodorkan Jared. Airmatanya mulai menipis, namun sakit hatinya karena perkataan Valentino membuat Pallazo belajar untuk selalu mengangkat wajahnya.
"Si! Kau benar! Aku memendamnya karena kau adalah orang yang terpenting untuk Miu ! Aku tidak pernah menegurmu dengan cara yang lembut, aku tidak pernah melirikmu bahkan aku tidak tergoda dengan baju tipis yang selalu kau pakai! Aku tidak pernah minum kopi buatanmu ataupun menyantap makanan yang kau sajikan! Apa kau tidak peka bahwa aku sama sekali tidak ada perasaan untukmu?! Jika bukan karena Miu kau pikir aku mau menginjakkan kakiku di Labaro setelah kejadian delapan tahun yang lalu?! Dan asal kau tahu, siapapun Leyka aku akan terus kembali kepadanya! Karena hanya dialah yang aku inginkan selama ini! Hanya dia yang aku cintai! Dia adalah Cintaku! Leyka, Leyka, Leyka yang selalu memenuhi pikiranku!" Pallazo tertunduk sesaat, mendengar perkataan Valentino yang tajam menghakiminya membuat ia serasa dikuliti dengan sikapnya yang berusaha menjebak Valentino selama ini.
Wajah Pallazo memerah dengan menahan malunya, namun semua sudah terlanjur basah. Pallazo tidak mungkin mundur atau mengelak dengan semua tuduhan yang diarahkan kepadanya. Pallazo mengakuinya dalam hati, karena selama ini, ia memang sering memancing dan mencari perhatian hingga ia harus menggunakan Miu sebagai senjatanya.
"Bahkan kau tidak sekalipun memanggil namaku sejak kau datang.. Hahaha-- Pallazo tertawa sumbang, disela airmatanya yang kian surut --Apa sejijik itu kau padaku?" tanya Pall kemudian dengan tatapan menghiba.
__ADS_1
"Aku hanya menjaga jarak aman agar tidak terjadi kesalahpahaman! Dan itu yang aku lakukan dari dulu! Karena semua perhatianku hanya untuk Miu! Tidak lebih!" Tatapan Pallazo membuat Valentino mendorong Torres dan ia memutuskan untuk duduk.
"Kau hanya menganggapnya boneka dan pelarian! Kau selalu mencuci otak Miu dengan cerita bodohmu bersama Leyka!" seru Pallazo kemudian ia memijat pangkal hidungnya. Ada yang ia sesali dan ia pun bingung mengartikannya.
"Kebodohan yang manis adalah saat aku di Pretoria! Tapi berbuah indah sekarang! Kau tahu bagaimana aku membagi kisahku pada Miu, itu tandanya aku tidak bisa berpaling dari Leyka karena dia selalu berputar dikepalaku bertahun lamanya! Aku bisa saja mengejar Leyka saat itu juga, tapi aku tidak mau karena ia pernah mengatakan akan menikah dengan sahabatnya! Dan dia membohongiku! Aku pikir aku juga mempunyai Miu" ujar Valentino melunak, sedikit.
"Andai saja aku tahu dari awal Leyka adalah Istriku, mungkin aku sudah membawa Miu ke Barcelona! Dia tetap Putriku bahkan Leyka tidak bisa mengubahnya! Bahkan Train! Dia tetap Putri Baptisku! Semua penting bagiku! Karena akupun mencintai Leyka dan Train lebih dari nyawaku!" lanjut Valentino dengan menatap kearah Pallazo yang mere*mas tangannya sendiri.
"Karena itulah kau melupakan Miu selama kau di Barcelona? Putriku selalu bertanya setiap hari dan aku selalu menutupinya! Hanya Jared dan Torres yang selalu menghadapinya!" ujar Pallazo kembali membuat Valentino menegang.
"Aku tidak melupakan tanggung jawabku dan melupakan kalau dia adalah Putriku! Aku hanya menyingkirkan dia sejenak dan aku ingin fokus merebut Istri dan Putraku yang berada di tangan laki laki lain! Delapan tahun aku tidak tahu kalau aku ternyata memiliki seorang Putra! Leyka hampir menikah dengan laki laki lain dan apakah aku akan diam saja?! Tentu saja tidak! Aku melupakan Miu?-- Iya, aku harus melupakannya sebentar! Karena aku harus merampas apa saja yang menjadi milikku dan kembali ke tanganku! Dan aku akan memberikan segalanya untuk Istri dan Putraku walaupun terlambat!" seru Valentino seraya memukul sandaran tangan sofa dengan kesalnya. Matanya yang memerah menahan amarah, juga kesedihannya kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Putramu pasti akan menguasaimu. Dia akan menjadi pemilik seluruh hatimu dan kekayaanmu hingga kau bisa menyingkirkan Miu kapanpun kau mau" kata Pallazo kembali menitikkan airmata.
"Itu tidak benar! Kami bukan orang seperti itu! Gallardiev tidak sepicik itu! Jadi yang kau takutkan hanya kekayaan Miu yang terampas karena kehadiran Train? Ohh Shitt! Kau dan Miu masih bisa hidup mewah di Italy tanpa bekerja, Pall! Gallardiev tidak akan mengambil sepertiga kekayaannya yang telah diberikan pada Miu!" seru Torres terpancing angkat bicara.
"Bukankah itu yang ada dikepalanya? Memberikan segalanya untuk Putranya? Aku hanya mengutip perkataannya. Segalanya itu berarti semua kasih sayangnya dan juga kekayaanya!" sanggah Pallazo membuat Valentino tersenyum sinis seraya memijat pangkal hidungnya.
"Dia memang pemilik segalanya! Seluruh hidupku adalah milik Putraku! Semuanya dan apapun yang aku miliki! Dan itu masih tidak sepadan dengan apa yang aku miliki! Setiap malam aku tersiksa! Yang membuatku tersiksa adalah aku tidak tahu bagaimana Putraku berkembang! Bagaimana ia merangkak! Bagaimana ia berjalan! Kata pertama apa yang diucapkan! Apa kau tahu bagaimana tersiksanya aku hingga detik ini?! Blue Train, tidak mendapatkan apapun! Dan Miu? Dia mendapatkan segalanya dariku! Dari Torres dan Jared! Kasih sayang, keberadaanku, perhatianku, waktuku selama tujuh tahun tercurah sejak ia diserahkan kepadaku!"
Perkataan Valentino penuh ketegasan lewat bahasa tubuhnya, tangannya yang selalu menunjuk kearah Pallazo yang menyeka pipi dan hidungnya dengan tisu, entah berapa helai yang telah ia habiskan namun yang pasti disamping, tepat dimana ia duduk di sofa banyak tisu berserakan.
Pallazo terdiam, ia tidak cukup memiliki keberanian menatap mata Valentino yang memerah dengan sesekali ibu jarinya menyeka sudut mata biru itu. Suara Valentino terdengar serak, ia menekan getirnya perasaan bersalah saat wajah Train melintas begitu saja dalam benaknya. Valentinopun melanjutkan perkataannya.
To Be Continued
-
__ADS_1
-
-