FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Pernahkah Kau Mencintainya ?


__ADS_3

Maria berjalan menyusuri ruas jalan berpavling block, yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan itu juga jalur bersepeda. Sementara Train mengayuh sepedanya. Sore itu, banyak orang orang bersepeda di sepanjang jalan jalur hijau yang begitu teduh.


"Bukankah itu temanmu?" tanya Maria sambil menunjuk kearah seberang jalan dimana ada seorang anak laki laki seusianya, sedang belajar bersepeda bersama Ayahnya menggunakan sepeda beroda dua. Tidak seperti dirinya yang menggunakan roda tambahan di usianya yang hampir 8 tahun.



Sepedanya juga terlalu kecil, Train tidak mau bila Leyka akan mengganti sepedanya, Train lebih memilih meminta uang yang akan digunakan untuk membeli sepeda dan di masukkan ke dalam celengannya. Dan prinsip itu seperti pemikiran Leyka, selama semua barang masih bisa digunakan, tidak perlu membeli yang baru. Karena Train pikir ia juga tidak bisa menggunakan sepeda beroda dua.


Train mengarahkan pandangannya kearah temannya yang dituntun dan dijaga sepedanya oleh sang Ayah dari belakang, setelah mengayuh perlahan sang Ayah melepaskan sepeda sang anak namun masih menjaganya dari belakang. Ayahnya berkicau untuk tetap fokus dan menjaga keseimbangan. Train tersenyum usil melihatnya, ada rasa iri dalam hatinya melihat temannya dibimbing sang Ayah untuk belajar bersepeda beroda dua.



"Holaaa! Miguell Hollaa!!" Pekik Train membuyarkan konsentrasi temannya dan akhirnya temannya terjatuh karena Train memanggilnya. Fokus anak itu buyar, karena menoleh ke arah Train, sang Ayah hanya berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya.


BRUGGHH!


"Aaaawwww! Traiiinnn!" pekik temannya yang di panggil Miguel itu. Miguel menjerit dengan mendengus, ia menabrak tanaman pagar, hingga terjatuh.


"Ahahahaha-- Lo Sientooo (maafkan aku), Miguel!" Train justru menertawakannya sambil terus mengayuh sepedanya menuju Gereja.


"Zuughh.. Zugghh.. Tuuttt.. Zuughh.. Zuughh.. Tuttt!! Blue Trainnn lewatt! Zugghh Zughh Tuutttt!" kicau Train sambil mengayuh sepedanya.


"Kenapa kau nakal sekali?" tanya Maria tersenyum kearah Train yang berada didepannya.


"Nooo! Aku hanya menyapanya Maria" ujar Train.


"Huhh! Kau pikir aku tidak tahu niatmu?" Maria kemudian menyamakan langkahnya dan mengacak rambut Train. Maria, si gadis tomboy kedua di keluarga Fernandez. Maria selalu mengikuti gaya Penelope namun hanya dalam berpenampilan karena mereka saudara sepupu terdekat, mereka saling berbagi dan meminjam apa saja dan mereka sangat terbiasa seperti para gadis pada umumnya. Tidak ada tattoo tidak ada tindik, hanya itu yang membedakannya.


"Ahahahaha-- Si, aku memang nakal" Train mengakui dengan tertawa lepas. Maria teriris melihatnya. Di banding Penelope, hati Maria lebih lembut walaupun penampilannya tomboy.


"Aku tahu kau iri padanya. Hmm-- Mengapa kau tidak mau belajar? Mau sampai kapan kau menggunakan roda tambahan?" Maria pun memberondong pertanyaan yang membuat Train mendelikkan matanya.


Ia mengingat siapa saja yang pernah mengajarinya bersepeda dan selalu saja gagal, Leyka akan marah besar jika Train terluka. Karena itulah Train malas belajar. Train kemudian menjawab Maria dengan menggerutu, "Uhs Maria! Pedro membuatku jatuh! Simon membuatku jatuh! Ayahku tidak sabar! Mommy apalagi tidak punya waktu untuk mengajariku bersepeda! Damian membuatku jatuh! Ibuku tidak suka aku bersepeda! Uhhss! Semua tidak bisa mengajariku!"


"Sepertinya aku bisa" goda Maria mencoba menawarkan diri.


"Nooo! Uhhs! Aku tidak percaya pada siapapun!Aku menunggu Daddyku sendiri!" Mariapun tersenyum dengan penuh keharuan, hatinya nyeri bila Train mengungkit Daddynya. Hatinya semakin teriris melihat surat di saku celananya, yang akan di berikan kepada Tuhan melalui Pastur Gilberto.


Maria mengacak rambut Train dan berkata, "Hmm-- kalau Daddymu datang, dia akan membuang roda tambahan di sepedamu bahkan sepedamu yang jelek ini! Dia akan mengganti dengan sepeda roda dua dan agak lebih besar. Dia akan melakukannya, lihat saja! Aku bisa menilai orang itu!"


Train menghentikan sepedanya dengan menekan tuas rem lalu ia menatap mata Maria lekat lekat dan bertanya, "Bagaimana kau tahu Maria? Kau seperti mengenal Daddyku saja. Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?"


Astaga, aku lupa.. Setan Cilik keponakanku ini sangat jeli..


Mariapun menghentikan langkahnya dan mencari segenap alasan, ia menutupi rasa gugupnya dengan membalikkan tubuhnya dan mengajak Train kembali berjalan, "Ckk, aku hanya mengira ngira saja! Vamos (ayo)!"


"Maria-- Aku tahu kau berbohong padaku" Train masih terdiam di tempatnya, dan Maria menghentikan langkahnya, ia menghela nafas lalu kembali kearah Train dan duduk berjongkok.


"Mommymu hanya bercerita, tetangga arogan di samping Apartemenmu mirip Daddymu kelakuannya-- Isshhh, dia memecahkan satu pot dan mengganti semua pot di balkonmu!" Dengan gemas Maria mencubit hidung dan pipi Train. Anak kecil mudah di tipu memang benar, tapi Maria memang mengatakan yang sebenarnya. Beberapa saat yang lalu, memang Valentino mendatangkan dua orang pegawai dengan membawa pot serba putih dengan berbagai ukuran. Valentino mengganti semua pot Leyka yang telah usang, dan Leyka tidak diberi kesempatan untuk menolak.


"Aaahahaha.. Si! Dia memang tetangga yang baik Maria-- Train kembali mengayuh sepedanya dan berkicau --Dia menolongku bersandiwara sebagai Daddy Palsu, untuk mengusir Tia Judith.. Aaahahaha!" Maria ikut tertawa, namun ia merasakan nyeri dihatinya. Melihat Train mengayuh sepedanya dengan keceriaannya, Maria melihat mata Train berbinar dan kebahagiaan tersirat diwajah Train.


Leyka, aku tidak tahan.. Aku harus bicara padamu.. Aku tidak tega.. Train harus tahu, tetangganya itu adalah Daddynya.. Leyka kita harus bicara.. Aku tidak tahan lagi Leyka.. Ini sudah cukup. Maria menghela nafas dalam lalu dihembuskannya perlahan. Matanya berkaca kaca, melihat tawa Train.


"Sepertinya kau sangat senang" Maria mengacak rambutnya.


"Si! Dia sepertinya menyukai Mommyku! Dan Mommy tidak pernah bersikap sangat dekat dengan orang asing Maria! Tapi mata Mommy seperti ada lampu saat bersamanya. Berbeda saat bersama Damian. Mommy serba memaksakan! Seandainya Daddy-ku tidak pernah datang, aku akan menjodohkan Mommy dengannya. Entah mengapa aku sangat menyukainya"


"Seperti ada lampu? Ada ada saja istilahnya" Maria tersenyum tawar dan menggelengkan kepalanya.


"Si! Tapi Maria, dia memiliki istri-- sayang sekali. Bila tidak.. Menurutmu Maria, apakah dia mau menerimaku sebagai anaknya?" Maria terasa tercekik rasanya, ia pun berlari kecil mendahului Train. Agar Train tidak melihat sudut matanya telah basah.


Dan Maria menjawab pertanyaan Train dengan berteriak, "Semua Ayah di dunia, ingin memiliki anak seperti dirimu Train! Kau sangat pintar! Kau sangat menggemaskan! Kau percaya keajiban kan?! Percayalah padaku! Kau akan mendapatkan keajaiban! Yeaayy! Bluee Traaiinn mau lewaaatt! Minggir keponakanku mau lewat.. Zughh.. Zugghh.. Zugghh.. Tuuttt!!" Maria bersorak dengan berlarian, sesekali ia menoleh ke belakang dengan tawanya untuk menutupi kesedihannya.


"Ahahahaha-- Si si si Maria! Aku percaya Keajaiban! Yeaayy Aku Blue Train yang menggemaskan! Aku Blue Train yang pintar Yeaayy! Blue Traaiinn mau lewaatt! Zugghh.. Zuuughhh.. Tuuttt.. Zzuughhh.. Zuuuggh.. Tuttt"


Train mengayuh sepedanya dengan penuh semangat, ia bersorak mengejar Maria yang berlari kecil di depannya. Hingga ia berpapasan dengan musuh bebuyutannya di sekolahnya, yang sedang menertawakan sepedanya dengan roda tambahan. Train tak perduli, dengan bersorak penuh keceriaan dan kebahagiaan, Train justru menyapanya dengan matanya yang berbinar kebiruan.

__ADS_1



"Holaaa Pepitooo! Que tenga un lindo día!"


(Halo Pepito! Semoga harimu menyenangkan)


"Holaaa Dave! Que tenga un lindo día!"


(Halo Dave! Semoga harimu menyenangkan)


"Holaaa Martinus! Que tenga un lindo día!"


(Halo Martinus! Semoga harimu menyenangkan)


"Holaa Holaaa Holaaa.. Que tenga un lindo día"


(Halo.. Halo.. Halo.. Semoga harimu menyenangkan)


Teman temannya sangat bingung, tawa mereka yang mengejek terhenti seketika. Dan bahkan di sepanjang jalan, Train menyapa siapapun, dengan membunyikan bel kecil pada sepedanya dan terus mengulang sapaannya dengan riang gembira. Senyumnya yang mengembang sempurna, Train sangat ceria. Maria turut bahagia namun juga terharu melihatnya. Mereka terus berlarian menuju Gereja.


...-...


...-...


...-...


Apartemen Dolores


"Dia Putra Baptisku!" ujar Manuella dengan lantang, dan membuat Valentino limbung. Ia menyandarkan tubuhnya dipintu dengan memegangi dadanya. Dolores mendekatinya dan Valentino seketika memeluknya dan meledakkan tangisnya.


"Tiaa.. Tiaaa.. Apa yang terjadi Tia.. Mengapa.. Mengapa.. Begini? Aaaa.. Tiaaa.." Valentino menangis sekuat tenaga, tidak perduli siapa Dolores, tidak perduli berapa lama ia mengenal wanita tua yang merupakan Ibu dari semua keluarga Fernandez tapi hati Valentino hanya ingin memeluknya layaknya anak kecil yang ingin mengadu dan meluapkan segalanya.


Rasa keibuan Dolores muncul begitu saja, padahal ia tidak pernah menjadi seorang Ibu. Ia menyambut pelukan itu layaknya seorang Ibu kepada Putranya. Tangisan Valentino, membuat airmatanya berjatuhan, Dolores memeluk Valentino dengan erat dan mengusap rambutnya.



"Manuella, tolong ambilkan air" pinta Dolores dan Manuella bergegas mengambil segelas air untuk Valentino. Hatinya berkecamuk dengan penuh praduga, namun ia meyakini pasti seseorang telah mengatakan sebuah kebenaran. Namun ia mengingat perkataan Leyka, di awal kedatangan Valentino.


"Jika suatu hari nanti, Valentino datang padamu dan bertanya siapa Train maka katakan saja. Dia tidak akan mudah mempercayaiku. Karena, Valentino masih terkurung di Pretoria, dia masih menganggap aku Leyka yang sama seperti di Pretoria.. Aku akan menerima kedatangannya dengan baik, agar Train dan Valentino saling menerima, khususnya Valentino agar menerima keberadaan Train, semoga Damian mengerti"


"Tiaa! Tiaa! Aku sangat bersalah! Tiaa!! Benarkah Tia.. Benarkahh Trainn.. Adalah.. Putraku?" Valentino menatap foto itu, ia mengerjapkan matanya, menyibak airmata yang menutupi pandangannya.


Dolores yang duduk di sampingnya, membelai lembut rambut Valentino dan memberi sedikit nasehat, "Gunakan kata hatimu, Valentino. Bolehkah aku memanggilmu Valentino?" tanya Dolores kemudian.


"Tiaaa" jawabnya lirih dengan mengangguk. Ia meremas dadanya kuat kuat, ia merasa panas dari dalam tubuhnya semakin menusuk dada kirinya namun sekujur tubuhnya serasa dingin.


Manuella datang dengan segelas air mineral lalu menyerahkannya pada Valentino. Lalu Manuella bertanya, "Minumlah! Siapa yang memberitahumu?"


Valentino dengan gemetar menerimanya lalu meneguk segelas air mineral itu sampai habis, Dolores meraih gelas kosong itu dari tangan Valentino seraya mengusap punggungnya.


"Leyka.. Mengatakannya pada.. Damian. Aku.. Aku mendengarkan.. Pembicaraan mereka, Manuella" jawab Valentino dengan terbata bata.


Manuella pun duduk di seberang Valentino dan menghela nafas panjang kemudian ia bercerita, "Blue Train Valentino-- Leyka menamai Putranya 8 tahun yang lalu. Saat salju pertama turun di Barcelona, putramu lahir dan tangisannya melengking sangat keras, seakan meruntuhkan angkasa. Sangat keras Gallardiev! Sehingga salju turun begitu saja, angkasa seperti takut dengan lengkingannya"


Manuella tersenyum getir, ia meraih tisu di meja dan melipatnya karena matanya telah berkaca kaca, lalu ia menyeka pelupuk matanya. Mendengar itu, Valentino semakin hancur hatinya berkeping keping.


Valentino menatap foto Train yang dirangkul Dolores, lalu mendekap foto seolah mendekap Train. Valentino meratapi Putranya, dan tidak aneh bagi Dolores, karena ia pernah melihat jantung hatinya, kekasih hatinya menangis pilu saat meninggalkan Dolores dan pergi berperang.


"Apaa?? Blue.. Train.. Valentino?? Tidak Tidak.. Aaaaaa! Aaaaa!! Blue.. Trainn.. Ohhh.. Tidakk Leykaaa.. Mengapa.. Kau.. lakukan.. Ini.. Padaku? Tiaaa.. Ini.. sangat.. sakit.. Tiaa" Dolores menangis lalu memeluk Valentino yang meledak ledak tangisannya, yang masih saja mendekap foto Train, airmata Manuella pun ikut meleleh menyaksikan kepiluan Valentino.


Manuella melanjutkan ceritanya, "Leyka menantimu. Dia melewati hari demi hari saat hamil dengan menantimu. Mungkin bukan Leyka tapi anak yang di kandungnya saat itu, Leyka sangat sensitif, aku tidak pernah melihatnya menangis. Kau tahu kan dia bar bar. Tapi saat hamil ia mudah sekali menangis"


Valentino teriris, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, isi kepalanya berputar putar, jantungnya berdetak tak beraturan, "Bagaimana bisa.. Jelas jelas Leyka meminum ramuan itu di depan mataku, Manuella. Ohh shitt! Ini gilaa.. Ini sangat gila" Valentino meremas rambutnya, kepalanya serasa berat, foto yang di cengkeramnya seakan menyatu ke dalam tangan menembus tulang tulangnya.


Tapi justru dibalik sebuah kebenaran, Valentino merasakan hatinya menghangat. Rasa bahagia yang meluap mengetahui jati diri Train semakin membuatnya menginginkan Leyka juga Train lebih dari apapun.


Manuella melihat Valentino tenang, kemudian ia melanjutkan ceritanya, "Diev, apa kau tidak tahu? Di Afrika Hari Valentine adalah Perayaan Dewa Kesuburan. Dewa yang di percaya memberi segala kesuburan pada dunia. Tanahnya akan subur, air akan mengalir berlimpah, menanam tanaman apa aja di bulan Februari dipercaya akan mendatangkan panen yang luar biasa berlimpah bahkan Panen hasil bumi di bulan Februari hasilnya berlipat ganda, termasuk anak"

__ADS_1


"Anak?" tanya Valentino melempar pandangannya kearah Dolores yang tersenyum dan mengangguk perlahan.


"Leyka bercerita segalanya dan kami mencari tahu ke beberapa kawan Diego dan beberapa situs di Afrika. Di hari itu, Leyka meminum Ramuan Kesuburan Diev, bukan pencegahan kehamilan atau kontrasepsi. Ramuan itu bila di minum, wanita akan sangat subur. Dan rahimnya akan kuat, tak heran bila di Afrika wanita memiliki belasan anak. Di hari raya Dewa Kesuburan Suku Xhosa dilarang keras menjual ramuan pencegah kehamilan. Kau boleh membelinya di lain hari tapi bukan di saat Festival. Mereka bisa dikutuk. Entah apa yang kalian bicarakan sehingga tabib Suku Xhosa memberi kalian Ramuan Kesuburan--


Cerita Manuella terhenti karena seseorang yang tiba tiba muncul dari arah pintu yang terbuka, memotong penuturan Manuella. Dan itu adalah Diego.


"Dugaanku karena Leyka memanggil nama Valentino dengan 'Val' disaat yang bersamaan. 'Val' berarti gugur. Mungkin Leyka di kira akan menggugurkan kandungan. Karena itulah Tabib itu memberi Ramuan Kesuburan, dia harus menyelamatkan jiwa agar mendapatkan keberuntungan" ujar Diego sambil meletakkan tas kerjanya


"Diegooo! Kau Kauu-- Valentino seketika bangkit berdiri dan meletakkan foto yang berada dalam genggamannya di meja, lalu ia mencengkeram kedua lengan Diego.


"Aku adalah Ayah Train. Ayah Baptisnya. Leyka memintaku bahkan kami semua merahasiakan jati diri Train karena penghinaan yang kau lakukan. Leyka takut kau menolaknya dan itu bisa melukai perasaan Putraku" ujar Diego dengan tersenyum.


"Ohh Tidak! Ini.. Ini sulit dipercaya!" Valentino melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk. Dan Diego menghempaskan bokongnya di sofa, ia mencium Manuella yang duduk di sampingnya. Ciuman itu ciuman selamat datang.


Diego melanjutkan perkataannya, "Kau pikir Leyka juga percaya? Sama halnya denganmu, Leyka tidak percaya! Saat janin itu tumbuh, bahkan saat Train lahir, kami semua tidak percaya-- Tapi, Train sangat mencuri hati kami. Dia sangat lucu Diev! Dia akan terdiam di pelukanku saat Ibu dan Mommynya tidak bisa membuatnya berhenti menangis"


"Ini sulit sekali dipercaya. Train menungguku... Train.. Aaaa.. Trainn.. memberi tempat untukku.. Dia menabung untuk ke Pretoriaaa.. Aaa.. Tiaa rasanya aku mau mati saja!" Berulang kali Valentino memukuli dada kirinya, bukan hanya sesak tapi memang rasa sakit itu, kian lama kian menikam jantungnya.


"Si-- karena kau tidak mau turun.. Dan dia akan membawamu turun.. Bukankah itu menggelikan?-- Dia akan meruntuhkan Capetown Time Square.. Rancangan yang kau bangun, karena kau memilih pekerjaanmu bukan Mommynya" imbuh Manuella, Valentino mengusap wajahnya dengan kasar, sentuhan tangan Dolores di punggungnya membuat hati Valentino semakin runtuh.


"Tidak.. Tidak.. Itu tidak benar.. Manuella itu tidak.. Benar.. Percayalah padaku.. Aku turunn.. Manu..eellaa.. Aku.. Turunn" suaranya terdengar parau, airmatanya menganak sungai dan tak henti hentinya Valentino menyekanya.


Dolores pun angkat bicara sambil membelai rambut Valentino, "Kami semua menyayangi Train. Keluarga ini-- Keluarga Fernandez, keluarga yang hangat. Keluarga yang kompak yang mensupport dan melindungi satu sama lain. Valentino, cucuku mendapatkan segalanya dan hanya satu yang ia tidak pernah dapatkan yaitu kasih sayang seorang Ayah. Jadi, letakkan ego-mu.. Dan sayangilah Train dengan baik. Dan Leyka-- ada banyak hal yang tidak kau tau. Kau bicaralah padanya. Leyka sangat membencimu, mungkin dia hanya pura pura baik di hadapanmu. Semua demi Train. Kau harus membagi kasih sayangmu antara keluargamu dan Train. Kau harus memberi pengertian, karena Leyka sudah pasti tidak akan mau merusak rumah tanggamu"


"Tidak.. Rumah tangga apa Tia-- Keluarga yang mana.. Aku bahkan tidak mempunyai keluarga selain Madre Padre dan saudara kandungku"


Mendengar penuturan Valentino, Manuella langsung menyambar perkataan Valentino dengan tegas, "Tentu saja Istrimu yang sedang berpetualang di Barcelona dan meninggalkanmu!"


"Ulangi perkataanmu Manuella.. Istriku berpetualang di Barcelona! Kau pikir itu siapa!! Itu Leyka Paquito!!" sanggahnya dengan lantang dan membuat semuanya membulatkan matanya.


"Valentino?" Dolores menegaskan dengan membungkam mulutnya sendiri dan ia sangat terkejut.


"Apaa?!" Diego dan Manuella saling memandang.


"Apaa?! Itu tidak mungkin!" dan Manuella menunjukkan ketidak percayaannya.


"Tia! Aku baru mengetahuinya. Karena itulah aku datang" ujar Valentino dengan wajah tertunduk, ia menggosok hidungnya berulang kali.


"Diev tolong bicaralah dengan benar!" seru Manuella.


"Kami tidak sengaja menikah setelah kami dari tenda Suku Xhosa dan Leyka meminum ramuan itu.. Kami mengikuti sebuah pesta, dan ternyata itu pernikahan Massal, Manuella!"


"Oohh Shiitttt!" umpat Manuella dengan lantang.


"Manuella" Dolores pun memperingatkan, bahkan ia akan menarik telinga siapapun yang mengumpat di depannya.


"Tia maafkan aku.. Lo siento.. Ini gila.. Ini.. Diego.. Aaaaa.. Aku tidak tahu.. Apakah aku harus menangis bahagia atau sedih.. Aaaa.. Mengapa aku menangis.. Aaaa.. Diego.. Tia.. Train.. Trainn.. Anak kita akan bahagia mendengarnya.. dan Leyka-- Ya Tuhan Leyka, dia diaa sangat membencimu, Diev" Diego pun menarik Manuella ke dalam pelukannya dan Manuella menangis sejadi jadinya. Kenyataan itu membuat semuanya menjadi bingung.


"Tapi tolong rahasiakan ini, sampai acara makan malam kerajaan untuk pemilihan Viscountess! Karena bila sampai ini bocor maka Locki Gusmo, akan menceraikan kita sebelum makan malam itu dengan berbagai cara. Lalu, dihadapan Raja dan Ratu Spanyol, Leyka akan di pilih langsung menjadi Viscountess. Aku, bahkan kalian semua akan kehilangan Leyka bahkan Train! Leyka akan dibawa ke Inggris! Bukankah semua kerajaan tau bahwa Train adalah putra kalian? Bila kalian bisa bersandiwara untuk Leyka maka bersandirwaralah untukku! Demi melindungi Istri dan Putraku!" kata Valentino dengan tegas. Dan semua terkesima melihatnya.


"Ohh Valentinoo-- Tia percaya padamu, Nak! Semoga kebaikan Tuhan selalu bersamamu!" Dolores membelai pipi Valentino kemudian memeluknya sesaat. Ia menaruh harapan yang begitu besar pada sosok laki laki yang terlihat begitu lemah. Dolores menyadari, ia tidak bisa melawan keluarga Kerajaan.


Valentino pun mengurai pelukannya, ia merasa tenang setelah mendapat kepercayaan dari keluarga Fernandez. Yang ada di benaknya kini adalah Train. Ia mengingat Leyka memberi perintah pada Train untuk ke Apartemen Dolores agar tidur siang dan menanti Manuella, Valentino mengingat jadwal mereka karena itulah Valentino berlarian saat melihat Manuella. Karena Valentino yakin, Manuella akan bergantian menjaga Train hingga makan malam.


Valentinopun menanyakan Train, "Sekarang katakan dimana Train, Tia? Apakah di masih tidur atau ke Gereja?"


Dolores tersenyum simpul, ia menatap Valentino dengan hangat, ia mengagumi sosok Valentino dan menilai pribadinya, "Rupanya kau dengan cepat belajar menghafal kebiasaan Putramu-- Dia mengirimkan surat ke 8 untuk Tuhan-- Valentino aku sudah menyuruhmu kesana, menemui Pastor Gilberto. Katakan Dolores Fernandez menyuruhmu datang"


Valentino kemudian menggenggam tangan Dolores dan memohon maaf dengan bahasa Spanyol dan Italy sekaligus seraya mencium tangan Dolores, "Tiaaa Perdonami.. Lo siento.. Tapi aku melupakan yang satu itu. Aku justru terbuai dan jatuh pada ponakanmu yang bar bar itu! Dia membuatku gila, Tia!"


"Hmm.. Apa kau mencintainya atau pernahkah kau mencintainya? Dan bila kau mencintainya-- Mengapa kau tidak mau berkorban untuknya?" tanya Dolores membuat Valentino kembali tertunduk. Rasa bersalah. Penyesalan. Rasanya bagai jutaan anak panah yang seketika menyerbunya.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2