FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Ibu Terbaik Sejagat Raya


__ADS_3

Diego dan Damian terlihat berbincang hangat, menikmati secangkir kopi robusta terbaik dari Brazil buatan Double P. Seperti biasanya mereka pulang bekerja dan menanti pujaan hati mereka masing masing. Namun, decit ban mobil yang bergesekkan dengan aspal akibat Manuella melakukan rem mendadak membuat mereka terkejut terlebih lagi, Leyka dan Manuella menutup pintu mobil dengan kasar dan mereka berlarian memasuki Double P.


"Hei! Kalian ada apa!" Diegopun berdiri diikuti Damian yang melihat kedua wanita itu panik bukan kepalang.


"Dimana Train?!" pekik Manuella saat ia sampai di depan meja kasir.


"Penelope, dimana Pedro!" pekik Leyka secara bersamaan kepada salah satu karyawannya, yang merupakan salah satu keluarga Fernandez.


"Mereka di Apartemenmu, Ley" jawab Penelope sambil membawa beberapa gelas kotor ke mesin pencucian elektric. Di Eropa, hampir semua restauran cepat saji menggunakan mesin itu, dan itu adalah salah satu cara memudahkan karyawan bekerja dan pemilik restauran dapat menghemat gaji kepada karyawan. Sang pemilik restauran tidak perlu mempekerjakan banyak pegawai. Efisien adalah motto di semua restauran disana.


"****!" Leyka mengumpat dan berlarian hingga ia tidak sempat menjawab pertanyaan Damian.


"Leyka, ada apa?!" Leykapun terus berlari. Menyeberangi dua ruas jalan dan menuju Apartemennya, Casa de Miel.


"Nanti aku jelaskan! Aku harus memastikan Train baik baik saja!" dan Manuella yang menjawab sambil bergegas berlarian menyusul Leyka.


Diego menyambar dompetnya dan mengeluarkan uang dan di letakkan di meja, walaupun usaha itu milik Leyka, mereka tetap saja pelanggan. Teman adalah teman, bisnis adalah bisnis. Itu menjadi budaya yang sangat melekat disana, hingga detik ini.


"Damian, aku sudah membayarnya!" Diego dan Damianpun bergegas berlarian menyusul Leyka dan Manuella, ingin tahu apa yang telah terjadi. Mereka tertular panik bila menyangkut Train.


Sementara setelah mandi Train ke ruang Apartemen Dolores, ia meninggalkan Pedro yang membereskan kekacauan mereka. Bermain video game hingga ruangan tengah berantakan. Train mengetuk pintu seraya memanggil Dolores dan membukanya setelah Dolores mempersilahkan masuk. Ia melihat Dolores sedang duduk di sofa panjang dekat dengan balkon, Dolores memijat kakinya dan menoleh ke arah Train yang mendekatinya.


"Abuela, apa kau lelah?" tanya Train duduk ditepian sofa dan langsung memijat kaki Dolores.


"Iya kaki tuaku terkadang tidak bisa diajak bekerja sama-- Hmmph, seandainya Apartemen ini laku, Abuela akan pindah ke lantai 1 saja" jawab Dolores dengan tersenyum dengan wajah lelahnya.


"Si (iya) lantai 1 tidak membuatmu lelah. Tapi aku suka di lantai ini, aku bisa melihat semuanya dari atas. Apa Ibu Baptisku sudah pamer di kantornya, kalau Apartemen ini di jual?" tanya Train lagi dan membuat Dolores tertawa.


"Bukan pamer, tapi iklan" jawab Dolores terkekeh.


"Es lo mismo (itu sama saja)" ujar Train membuat Dolores gemas lalu menciumnya.


"Tapi di lantai bawah sangat mahal. Dulu Abuela pikir semakin atas semakin mahal tapi justru sebaliknya" Train manggut manggut sambil terus memijat kaki Dolores, entah dia mengerti atau tidak.


Ya, Manuella bekerja di sebuah perusahaan Properti yang cukup terkenal di Barcelona. Pekerjaannya mengurus semua properti di semua Distrik yang dipercayakan kepadanya. Ia mengatur jual beli dan juga penyewaan di semua Distrik. Manuella sangat ulung di bidang itu. Sementara Diego bekerja di sebuah perusahaan event organizer yang mengurus berbagai macam acara. Mereka tinggal satu atap tanpa Pernikahan, hal yang lazim di lakukan bagi pasangan di berbagai belahan dunia di negara maju, bila menemukan kecocokan satu sama lain.


"Hmm-- kata Kakek Takeshi orang Jepang itu. Di lantai 1 lebih aman. Seandainya ada kebakaran di Apartemen, lantai bawah akan terselamatkan daripada di lantai atas" ujar Train membuat Dolores kembali tertawa, Train suka mendengar pembicaraan orang dewasa dan apa saja seluk beluk di sekitarnya pasti Train tahu di seluruh Distrik Miel.


"Yang pasti, lantai bawah tidak harus menggunakan lift atau naik tangga bila lift sewaktu waktu dalam perbaikan-- Ah entahlah, apa uang penjualan ruangan ini, bisa cukup untuk membeli lantai 1" kata Dolores sambil membelai rambut Train.


"Bagaimana kalau tidak cukup, Abuela?" tanya Train menyelidik, bertingkah sok dewasa.


"Abuela akan membeli pemukiman penduduk di pinggir Barcelona" Senyum Dolores membuat Train berdiri melompat dari tempat duduknya.


"Nooo! No Abuela No! Abuela tidak boleh pindah! Aku akan pergi ke Pastor Gilberto, aku akan mengirim surat kepada Tuhan agar menolongmu! Seperti selama ini aku mengirim surat agar Daddyku turun dan mencariku!" Dolores menegakkan duduknya lalu menurunkan kakinya, kemudian ia menarik pinggang Train lalu memangkunya.


"Train-- Kau mengirim surat pada Tuhan?" tanya Dolores dengan hati teriris mendengarnya, anak sekecil Train membuatnya terharu. Namun apa yang bisa ia lakukan untuk Train, ia hanya bisa mendoakan tanpa mampu berbuat apapun.


Sejak sepeninggalan Pacho adik laki laki terdekatnya, hidupnya terasa sepi. Dolores adalah salah satu keluarga Fernandez yang tidak pernah menikah. Saat perang dimana mana, ia hampir menikah dengan seorang Prajurit namun naasnya, sebuah ranjau membuat sang kekasih pergi untuk selamanya, meninggalkan sejumput kisah yang memilukan hingga ia menutup hatinya hingga saat ini. Cinta itu tak tergantikan. Dolores semasa hidupnya menjadi Ibu Baptis bagi keponakan keponakannya dan itu sudah cukup. Kehadiran Leyka membuat hidupnya berwarna terlebih lagi sejak kelahiran Train, cucu Pacho.


"Si (iya) Abuela, aku menitipkannya pada Pastor Gilberto-- Apa Tuhan akan menerima suratku dan membacanya?" mata Train berbinar dan itu membuat Dolores kian trenyuh.


"Tentu saja, Tuhan pasti Membaca surat dari anak baik seperti dirimu, Train. Berapa yang sudah kau kirimkan kepada Pastor Gilberto?" tanya Dolores dengan mata berkaca kaca.


Surat untuk Tuhan bagi anak kecil seperti Nyata, mereka berpikir sang Pastor akan memberikan surat surat yang mereka tulis kepada Tuhan. Namun bagi orang dewasa itu sebentuk doa yang dituliskan lalu sang Pastor akan mendoakan.


"Hmm, ini--- Train menghitung dan mengingat kemudian merentangkan jemarinya --Siete (tujuh)! Aku memberikannya saat Ibu Baptisku mengajakku ke gereja, Mommyku kan Atheis, Abuela" ujarnya dengan tawa riang dan lantang. Matanya berbinar dengan kepolosan.


Aku berjanji cucuku, bila Daddymu datang.. Aku akan membuatnya menemui Pastor Gilberto dan agar ia membaca suratmu..


"Ohh Train-- Peluklah Abuela. Kamu manis sekali. Abuela janji tidak akan pindah dan tetap di lantai 7, bila uang Abuela tidak cukup untuk membeli apartemen di lantai 1" Dolorespun memeluk Train dengan erat, dibalik pundak Train, Dolores menyeka airmatanya agar Train tidak melihatnya.


"Aku sayang padamu, Abuela. Jangan pergi. Seperti Daddyku!"


"Tidak akan, mi guapo nieto (cucuku yang tampan)... Eres muy dulce (kamu sangat manis)" ujar Dolores memeluk Train dan menciuminya bertubi tubi dengan menggoyangkan tubuh Train.

__ADS_1


Pedroo!! Dimana Train!!


Sayup sayup Train dan Dolores mendengar suara Leyka dengan nada lantang dan panik.


"Wow, Abuela-- Mommy pulang" bisik Train dengan setengah bersorak gembira.


Di Apartemen Abuela...


"Sepertinya Mommy marah-- tadi aku bertengkar dengan temanku, Abuela" Train menggigit jemarinya. Train mengira Leyka akan marah karena pertengkarannya di sekolah, hingga ia ketakutan.


Tiaaaa Dolores... Tiaaa.. Apa Train ada..


Leyka mengetuk pintu dan memanggilnya, ia rasanya tidak sabaran, terdengar dari cara Leyka mengetuk pintu dengan begitu cepat dan berulang ulang.


"Laki laki sejati harus menghadapi kesalahannya dan mempertanggung jawabkan perbuatannya" kata Dolores mencium Train dengan membelai lembut rambutnya. Dan Train hanya diam lalu menganggukkan kepalanya.


"Masuklah, pintu tidak di kunci!" seru Dolores dan secepat kilat Leyka masuk. Entah dikuasai ketakutan atau kecemasan yang berlebihan Leyka menyambar tangan Train dan dibawanya keluar dari Apartemen Dolores.


"Leyka ada apa!" Dolores langsung bangkit berdiri mengikuti Leyka yang membawa Train pulang.


"Train! Katakan dimana hadiah itu! Dimana Train! Dimana! Kau pasti membukanya!" tuduh Leyka sambil melepaskan genggamannya, Train takut melihat Leyka yang melotot kearahnya dengan marah, bahkan Train melihat mata Leyka telah melelehkan airmatanya. Train bingung, ia terpaku dan terus menggigit jemarinya.


"Leyka, jangan kasar" kata Dolores di ambang pintu.


"Mommy--


"Dimanaaa!!! Dimanaa Hadiah yang diberikan Nyonya Lorena! Apa kau membukanya!!" sentak Leyka membuat Train terkejut dan disaat yang bersamaan Manuella datang dan disusul Diego juga Damian. Leyka terus mengguncangkan lengan Train, agar membuat Train berbicara.


"Katakaann cepat!!" pekik Leyka membuat Train berkaca kaca, antara takut dan sedih melihat Leyka menangis, ia memikirkan banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya.


Hadiah? Nyonya Lorena? dan mengapa Ibunya marah.


"Mommy--


"Kau mencari ini?!" seseorang keluar dari kamar Leyka dan membawa Hadiah yang ia cari. Pedro baru mengerti apa yang Leyka maksud dan mencarinya karena Pedro meletakkannya di tas Train.


"Pedro?" Leyka menoleh dan merampas Hadiah itu dari tangan Pedro.


"Seharusnya kau bertanya padaku! Bukan Train!" Pedropun menendang kaki sofa dengan kesal dan berlalu pergi. Leyka akan berhadapan dengan semua orang bila ia memarahi Train, anak itu tidak berAyah karena itulah keluarga Fernandez sangat menyayangi Train ditambah lagi Train adalah anak yang menyenangkan. Bukan hanya keluarga Fernandez, perangainya juga pembawaannya yang periang juga ramah membuat Train di sukai di seluruh Distrik Miel.


"Leyka kau membuat Train ketakutan" kata Diego bergantian memeluk Train dan menenangkan tangisan Train.


"Leyka-- Apa semua baik baik saja?" tanya Damian saat Leyka justru menatap nanar hadiah yang telah usang itu. Leyka terdiam dan perlahan membuka hadiah yang justru muncul dari masa 8 tahun yang lalu.


Sebuah foto quotes yang pernah menghiasi kamar di kereta api The Blue Train dan foto itu di bingkai indah dengan taburan batu permata sirkon dan swarovski, satu buah kartu ucapan dengan tulisan tangan terdapat didalamnya.


Foto Quotes itu diambil Valentino saat terakhirnya di Johannesburg, kata kata itu menggambarkan sebuah perasaan Cintanya yang tidak pernah bisa terhentikan begitu saja seperti kereta api.



Leykapun membukanya perlahan dengan berdebar, semua pasang mata melihatnya dan Leyka tidak menyadari bahwa Train melihatnya. Train perlahan mengurai pelukan Manuela dan perlahan selangkah demi selangkah mendekati Leyka dengan rasa takut.


Tulisan di kartu itu membuat airmatanya mengucur begitu saja, Leyka membaca tulisan itu. Tulisan tangan Valentino Gallardiev.



"Kenapa kau datang? Mengapa kau memberikan ini?-- Lirih Leyka dan airmatanyapun berjatuhan, ia meremas kartu ucapan itu. Hatinya kembali merasakan sakit yang pernah bertahun lamanya ia rasakan. Sakit hati, benci dan kemarahanpun memuncak --Kau pecundang! Mengapa kau datang dan kau berikan ini padaku!!" Leykapun mengangkat bingkai foto itu dengan kemarahan, ia ingin melihat hadiah hancur di tangannya. Namun suara itu, suara mungil yang terisak dengan tangan kecil penuh keajaiban memegangi kakinya.


"Noooo Mooommy! Nooo!" pekik Train membuat Leyka membelalakan matanya, ia baru menyadari Train memeluk kedua kakinya dengan berurai airmatanya. Tubuh Leyka terasa limbung dan luruh kelantai, Damianpun menangkap lalu memeluknya. Leyka terduduk di lantai dan menangis sejadi jadinya di pelukan Damian.


Bingkai foto dan kartu itu meluncur dari tangannya. Dan Train mengambilnya. Train membacanya perlahan, matanya berbinar dan bercahaya, Manuella melihat itu lalu menghampiri Train.


"Train, apa kau baik baik saja?" tanya Manuella duduk bersimpuh menyejajarkan dirinya dengan Train yang menatap bingkai foto quotes itu. Train mendekapnya dan melipat kartu ucapan itu.


"Apa Daddy datang? Daddy, mengapa kau tidak datang lagi?" Dolores, perlahan duduk saat Diego memeganginya dan menuntunnya kearah sofa. Mendengar pertanyaan Train siapapun tidak akan sanggup. Ia hanya terdiam, menyaksikan dan menangis.

__ADS_1


"Trainnn!" Leykapun mengurai pelukan Damian dan menyambar tubuh putranya. Leyka memeluk tubuh Train yang masih mendekap bingkai itu.


"Train-- Maafkan Mommy. Lo siento, Carino (maafkan aku, sayang). Apa Mommy menyakitimu?" bertubi tubi Leyka menciumi wajah Train seraya menyeka airmata putranya, mata biru keabuan milik Valentino itu membuat Leyka semakin dirundung kesedihan, Leyka selalu tidak tega bila Train menangis. Karena Mata itu mengingatkan mata Valentino yang menangis saat Johannesburg.


"Si (iya)" jawab Train masih menyisakan isakan tangisnya. Leyka kembali memeluknya dengan hangat. Sehangat mata orang orang di sekitarnya yang melihat kejadian itu.


"Lo siento.. Perdonami (maafkan aku; Italy)" bisik Leyka dengan dua bahasa Spanyol dan Italy, Train tersentuh akhirnya.


"Si (iya)" jawab Train lirih kemudian menengadahkan wajahnya ke arah Leyka.


"Mommy, Daddy datang kapan?" tanyanya lagi.


"Ini lama sekali Train, bahkan kau belum lahir" jawab Leyka sambil tersenyum dan mengusap rambut Train, ia kembali mencium dalam kening Train.


"Mommy ada di Palma waktu itu bukan?-- Train mendorong kepala mundur dan kembali menatap mata Leyka --apa boleh aku menyimpan ini? Bila Daddy tidak datang, aku akan mencarinya kalau aku sudah besar, Mommy. Dan aku akan memberikan ini. Aku Blue Train yang tidak terhentikan seperti di kartu ini" semua berpandangan dan menelaah jalan pikiran Train.


The Blue Train yang di maksud di kartu ucapan adalah kereta, sedangkan Train menangkap itu adalah dirinya. Valentino kala itu bermaksud mengingatkan Leyka tentang pertemuannya dan perpisahannya di kereta api dengan route 27 jam perjalanan menuju Pretoria. Itu karena Leyka pernah mengatakannya dan selalu mengatakan bahwa ia akan melupakan semua kisah tentang Valentino. Untuk itulah Valentino mengirimkan sendiri hadiah itu ke Barcelona dengan usaha terakhirnya untuk membawa Leyka ke Italy, agar Leyka selalu mengingatnya.


"No Train! Kita harus membuangnya! Buat apa menyimpan barang sampah ini dari pe*cundang itu! Mommy membencinya! Itu tujuannya agar Mommy selalu mengingatnya!" sesungguhnya Leyka terluka mendengar perkataan Train, hingga Leyka justru bereaksi yang memancing emosi Train.


Leyka serba salah, bila ia berkata dengan halus ataupun kasar, itu tidak akan berpengaruh bagi Train. Karena bila menyangkut Daddynya, Train akan bertentangan dengan Leyka. Memberi pengertian pada Train sangatlah sulit, karena sejatinya sifat Train adalah Valentino itu sendiri. Like Father like son.


"Leyka! Jangan bicara seperti itu pada Train!" kata Damian dengan mencekal lengan Leyka.


"Mommy tidak boleh membenci Daddy!" Train mendorong tubuh Leyka agar ia bisa bangkit berdiri, Train menggenggam kartu ucapan itu dan mendekap foto berbingkai itu.


"Train, laki laki itu pantas di benci! Dia arogan! Sombong! Dan tidak pernah mencintai Mommy! Berikan pada Mommy Train!" saat Leyka mendekat, Train memundurkan langkahnya menjauh dan semakin menjauh.


"Noo!! Mommy Noooo!! Mommy jahat!" Train menjerit dan berlari kearah kamar dan menghempaskan pintu itu dengan kuat. Train mengunci kamar Leyka karena kamarnya walaupun ada pintu namun Leyka tidak pernah memasangkan kunci. Itu karena Train memiliki riwayat asma yang suatu waktu bisa kambuh.


"Trainn!! Traiinn!! Buka pintunya, Carino (sayang)!" Manuellapun menyusul Train dan mengetuk pintu namun Train diam saja.


"Trainn!! Jangan mengunci pintu Train!" Diegopun tak kalah panik.


"Nooo!! Mommy jahat! Mommy benci Daddy! Sama saja Mommy benci Train!!" Sahut Train dengan menjerit, ia meledakkan tangisnya.


"Leyka, jangan memaksakan dirimu yang membuat Train memaksakan kehendaknya. Jangan memperlihatkan kebencianmu pada Daddynya karena itu akan membuatnya semakin menjauhimu. Jangan memaksakan kehendak Train-- Aku akan membuatkan Red Velvet kesukaannya" ujar Dolores bangkit berdiri, perkataan Dolores membuatnya berpikir dan mencerna perkataan itu. Leyka memang tidak bisa memaksa Train untuk sama seperti dirinya, yang membenci Valentino. Leyka kesal, emosi dan sakit hatinya masih menyelimuti dirinya bahkan bertahun lamanya.


"Train, Abuela pulang! Abuela akan membuatkan Red Velvet untukmu-- dan Abuela akan menjualnya besok di Double P, kau bisa makan sepuasnya" Train masih diam. Namun ia mendengarkan dengan baik. Sementara Leyka masih duduk dilantai dengan terus menyeka airmatanya.


"Hanya sebuah foto dan kau sampai memarahi Train? Apa kau sadar kau telah melukai perasaannya?" ujar Damian mengusap wajahnya. Leykapun bangkit berdiri dan mendekati pintu.


"Train buka pintunya" kata Leyka melembut


"No Mommy! Mommy membenciku!" pekik Train dari dalam.


"Train! Mommy hanya membenci Daddymu!" Manuella mendengus kesal melihat Leyka.


"Es lo mismo (sama saja) !! Mommy jahat!" Train menjerit jerit hingga suaranya melengking dan meraung menangis histeris. Trainpun mengamuk dan menjatuhkan apa saja di dalam kamar, tabiat itu yang di miliki Valentino yang terkadang membuat Leyka tidak bisa menahan dirinya.


"Apa kau tidak bisa berpikir, bagaimana membuat Train menghentikan tangisannya? Asmanya bisa kambuh, Leyka!" Manuella mendengus kesal.


"Lalu aku harus bagaimana? Memberinya harapan bahwa suatu hari Daddynya akan datang? Pe*cundang itu tidak akan pernah datang Manuella! Hatiku sangat sedih ketika Train selalu berharap! Aku benci harapan! Karena harapan itu tidak akan pernah terwujud! Keajaiban itu tidak pernah ada!" Leyka kembali menangis dan luruh di depan pintu. Train terdiam, mendengar dan mencerna perkataan Leyka, Ibu terbaik sejagat raya ini, bagi dirinya.


Trainpun mengingat segalanya, semua kasih sayang Leyka yang tercurah penuh kepadanya.


Lo siento Mommy.. Te quiero, Mommy (Maafkan aku, Mommy.. Aku mencintaimu, Mommy)...


-


-


-


Spoiler : drpd kalian nebak nebak ga ada yg bener, baiklah... Valentino nanti akan jd tetangganya Leyka diem diem.. Dia yg akan beli apartemennya Dolores, dengan harga tinggi biar bisa pindah ke lantai 1 yg harganya lebih mahal. Disana tuh gitu.. semakin tinggi apartemen semakin murah gaes, justru yg bawah malah mahal.. apalagi di California yang sering kebakaran, apartemen atas paling murah. Sekian.. aahh tisu mana tisu.. 🧻

__ADS_1


__ADS_2