
Setelah sarapan di balkon, Valentino kembali ke kamarnya, namun langkahnya terhenti melihat bunga mawar Leyka yang di belinya di Ludwig's Roses, ia pun kembali mengambil satu picther air mineral di meja sarapannya, lalu di siramkan perlahan ke dalam pot itu. Setelah meletakkan teko kaca itu kembali di meja, ia kembali memasuki kamarnya.
Ia duduk di sofa di dekat perapian lalu membuka ponsel dan memeriksa email demi email yang memenuhi kotak masuknya. Kontrak demi kontrak berdatangan dan memenuhi pundi pundi rekeningnya, lalu membalas pesan demi pesan email dari Jared.
JARED --- Kau harus menyempatkan ke Capetown karena Bertha Rafaello di pecat. Kau harus menanda tangani berkas di sana. Kalau Bertha tidak melakukan kesalahan, Bertha bisa memberikan kontraknya sekaligus padamu. Kau tahu apa yang terjadi?
VALENTINO --- Entahlah, Jared. Aku tidak tahu. Sepertinya dia ada scandal dengan atasannya. Aku akan ke Capetown 5 hari lagi, aku akan mengurusnya nanti. Apa tidak ada proyek di Barcelona? Aku ingin menanganinya bila ada?
JARED --- Kita belum deal harga.. Apa kau yakin kau mau menanganinya?
VALENTINO --- Aku sangat yakin. Aku akan mencari disana bila perlu.
JARED --- Jadi Leyka pemenangnya?
VALENTINO --- Entahlah, wanita sangat sulit di tebak.
Valentino mengakhiri berbalas Email dengan Jared saat Jared membalasnya hanya dengan emoticon tertawa. Ia malas meladeni Jared yang seolah mengejeknya. Ia justru membuka Galeri ponselnya yang di penuhi foto Leyka, ia tersenyum melihat deretan foto Leyka dengan berbagai pose. Satu foto Leyka di jadikan wallpaper ponselnya kemudian.
"Leyka kenapa kau belum datang juga? Kau pasti menginap di hotel murah? Tapi bagaimana bisa? Atau kau menginap di rumah sahabat Ayahmu?" Valentino masih tersenyum penuh kemenangan. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi jalan jalan dan ia memutuskan menunggu Leyka di kamarnya. Valentino takut bila ia pergi, Leyka justru akan datang dan tidak menjumpainya di hotel Castello Di Monte.
Valentinopun bangkit berdiri dan berjalan kearah ranjang dan merebahkan tubuhnya, lalu mengambil bantal yang biasa Leyka gunakan dan dipeluknya dengan erat sambil melihat foto Leyka lagi. Hingga ia tertidur kemudian.
Satu jam..
Dua jam..
Tiga jam..
Waktu berlalu di kamar itu. Hingga siang menjelang Valentino di kejutkan dengan dering ponsel dari Jared.
Halo Gallardiev.. Bertha, mau menyerahkan berkas yang ada di tangannya, sebagai tugas terakhirnya.. Jadi kau tidak perlu ke Capetown..
"Mengganggu saja, dimana dia akan menemuiku?" Valentino bangun dan melihat ke arah jam dinding, hatinya cemas saat bangun tidur, Leyka tidak kunjung datang.
Dia mengirimkan pesan dan kau tidak membalasnya.. Karena itulah ia mengirim pesan kepadaku dan aku mengatakan kalau kau menginap di hotel Castello Di Monte.. Dia sedang dalam perjalanan menuju hotel..
"Baiklah akan aku tangani" kata Valentino menutup ponselnya kemudian. Ia pun membuka pesan Bertha dan membaca pesan itu tanpa membalasnya.
"Ley.. Kau tidak datang? ****! Kau pasti menggunakan kelicikanmu! Hingga kau tidak datang! Aargh!" Valentinopun bangkit berdiri dan mengganti pakaiannya, setelah menggunakan sepatunya ia menyambar arloji, tas tangannya, kunci mobil dan kacamata. Setelah ia meraih jaket kulitnya,.ia pun keluar meninggalkan kamarnya menuju lift yang akan membawanya ke lobby hotel itu.
Aku akan menunggumu di lobby, Ley.. Bila Bertha datang dan menemuiku di kamar.. Leyka bisa salah paham.. Aku bisa makan siang diluar.. Bertha tidak boleh menemuiku di hotel..
Sesampainya di Lobby ia duduk di tempat yang strategis agar bila Leyka datang ia bisa langsung melihatnya. Ia menunggu hingga bosan dengan jutaan perasaan yang tak menentu. Hingga ia membuka tas tangannya yang berisi uang dan passport miliknya dan milik Leyka, saat ia ingin melihat passport Leyka, Valentino melihat pecahan uang dollar yang belum di tukar sebagian ke dalam mata uang Rand Afrika. Valentinopun membelalakan matanya! Ia bergegas menutup tasnya dan menyambar jaket lalu berlarian kearah parkir mobil. Dengan pecahan seratus dollar itu, Valentino tau keberadaan Leyka.
"****! Kau ada disana Leyka! Sudah pasti kau ada disana! Sampai kiamat aku menunggumu, kau tidak akan datang! Karena hanya hotel itu yang menerimamu! ****! Kenapa aku terlalu percaya diri! Apartemen Waterkloof! Kenapa aku tidak terpikir sebelumnya!" Sepanjang jalan Valentino menggerutu dengan meluapkan kekesalannya pada setir mobil. Valentinopun mengirim pesan kepada Bertha untuk menemuinya di sebuah cafe di daerah Waterkloof.
Hanya sekitar 20 menit Valentino tiba di Apartemen Waterkloof, Valentino mengabaikan pesan Bertha yang mengabarkan ia telah sampai. Tujuan Valentino adalah Leyka terlebih dahulu. Valentino tidak tau untuk apa ia mencari Leyka sementara ia sendiri masih kesal karena menunggu Leyka yang tidak kunjung datang.
Dan kekesalannya memuncak ketika Valentino mendapati Leyka pergi. Setelah perdebatan yang panjang karena pihak hotel tidak mau memberikan infornasi pada awalnya, akhirnya Valentino mengeluarkan Passport Leyka dan Valentino mendapatkan informasi bahwa benar Leyka menginap di hotel itu dan Leyka pergi dari pagi untuk berwisata.
Namun para petugas tidak mengetahui Leyka berwisata dimana. Leyka hanya menanyakan beberapa tempat wisata terdekat di daerah sekitar Waterkloof. Dengan geram Valentino meninggalkan Apartemen Waterkloof menuju Life Grand Cafe, dimana Bertha menunggunya. Hanya 5 menit perjalanan untuk mencapainya.
Sesampainya disana Valentino memilih tempat terbuka, yang menghadap ke pinggir jalan. Padahal Bertha memilih tempat private, namun untuk menghindari kelicikan wanita, Valentino memilih di tempat umum yang ramai di penuhi pengunjung saat itu.
Aku menunggumu seperti orang gila dan kau malah berwisata! Awas saja kau Leyka! Tapi apa masalahnya? ****! Harusnya aku tidak memperdulikannya..
__ADS_1
"Mister Gallardiev, apa tidak sebaiknya kita duduk di dalam saja? Aku telah memesan tempat di dalam" kata Bertha masih berdiri dengan canggung.
"Disini saja!" Bertha pun pias mendengar Valentino berkata dengan menaikkan suaranya, ia pun duduk berhadapan dengan Valentino. Kemudian ia memanggil seorang pelayan. Bertha melihat mood Valentino tidak baik dan ia memilih untuk menjaga sikap dan bicaranya.
...*...
Kembali ke Freedom Park, dua insan itu masih berdiri tegak di ketinggian, pagar benteng di Isivivani, Freedom Park.
"Hei tangkaplahh!" Leyka melemparkan satu kaleng bir kepada laki laki berkulit hitam yang memperkenalkan dirinya sebagai Matthew Ford.
Salah satu cicit dari pendiri produk mobil buatan Amerika itu, menangkap kaleng bir yang diberikan Leyka dan membukanya. Leyka mengangkat kaleng bir itu kearah laki laki berkulit hitam itu dan Matthew pun melakukan hal yang sama.
"Untuk kebebasan di Freedom Park!" seru Leyka dengan lantang dan senyum lebar yang memperlihatkan barisan gigi putih yang berbaris rapi di bingkai bibirnya yang sensual.
"Untuk membebaskan hati di Freedom Park!" pekik Matthew dengan senyum khasnya. Mereka menenggaknya secara bersama, kehangatan itu menyebar kemudian, diiringi angin yang berhembus sepoi sepoi. Leyka pun duduk bersila di pagar beteng bebatuan dan di ikuti Matthew yang duduk kembali di posisi semula.
"Jadi Matt, apa rasanya menjadi salah satu cicit Henry Ford? Apa hidupmu seperti di sangkar emas? Sepertinya kau berdarah campuran bukan orang asli Amerika" Leyka membuka obrolan itu dengan santai sambil menenggak kembali kaleng birnya. Matthew hanya tertawa mendengar keingintahuan Leyka, namun ia berusaha ingin menanggapi obrolan itu.
"Tidak ada yang istimewa, setelah selesai kuliah aku bekerja di Ford Company. Hidupku bebas dan tidak ada sangkar emas-- dan aku berada di Afrika karena nenek moyangku adalah orang Afrika Selatan. Kau benar aku berdarah campuran" jawab Matthew dengan menggenggam bir kaleng dan sesekali meminumnya. Leyka hanya manggut manggut mendengarnya.
"Dan kau Leyka, sepertinya hatimu sedang tidak baik"
"Hatiku lebih baik sekarang. Kau benar. Aku mungkin mematahkan hatiku sendiri. Cinta seperti air dan udara, bisa menghancurkan tapi kita tidak bisa hidup tanpa itu semua, bahkan itu semua ada gunanya" Leyka mengangkat kaleng birnya kearah Matthew kemudian dan Matthew mengangguk mempersilahkan minum.
"Kau seperti sedang jatuh cinta?"
"Aku? Jatuh cinta?-- Leyka tertawa begitu saja dengan ringan tanpa beban, sementara Matthew tersenyum tipis, ia terus mengamati Leyka ---Aku tidak tahu jatuh cinta itu seperti apa, karena aku tidak mau mengenalnya"
"Karena kau tidak mempercayai Cinta Leyka, karena itulah kau tidak tahu jatuh cinta seperti apa, bahkan mungkin kau telah jatuh cinta tapi kau tidak menyadarinya"
"Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?" Leyka menggedikkan bahunya dan menghabiskan bir kaleng kemudian mere*mas kaleng itu.
"Kita bisa bebas mencintai sekalipun cinta itu akan pergi" kata Leyka menatap nanar keindahan tumpukan bebatuan, hatinya sangat nyeri.
"Mencintai dengan bebas, membiarkan pergi bila memang hatimu bukan pemiliknya tapi hati bebas mencintai Leyka, hatimu berhak menerima cinta yang lainnya. Karena cinta adalah Kebebasan, sama seperti air dan udara"
"Bagaimana kita tau kalau kita adalah pemiliknya?" pertanyaan Leyka terdengar berat nada suaranya, matanya seakan memanas.
"Ketika kau berdebar hanya dengan mengingat wajahnya, ketika kau sesak nafas saat mendengar suaranya, ketika kau INGIN menangis, saat menyebut namanya"
"Val-- Leyka menyeka sudut matanya. Mendengar perkataan Matthew seakan Leyka menghanyutkannya, ia mengingat Valentino.
"Kau bahkan sudah menangis, Leyka!" kata Matthew tertawa sumbang.
"Aku menangis? Ini hanya debu yang masuk ke mataku" dan Matthew masih terkekeh.
"Katakan perasaanmu padanya, bebaskan hatimu Leyka, bila kau mengurungnya itu sama saja kau mematahkan hatimu sendiri" Matthewpun mendorong kakinya yang menjuntai hingga ia duduk bersila.
"Aku tidak bisa, ada yang akan tersakiti bila aku mengatakannnya, ada kehidupan baru yang akan tiada, dia akan punya anak"
"Mencintai dalam diam memang menyakitkan Leyka, karena itulah kau tidak mau menyentuh Cinta karena pasti akan ada Luka. Benarkah?"
"Benar Matt, karena Cinta begitu memiliki kebebasan sekalipun menghancurkan"
"Kau bisa mencintainya dengan kebebasan, dengan cara bebasmu sendiri. Mencintai tanpa ikatan, tanpa sangkar emas tanpa belenggu. Karena Cinta tidak harus memiliki Leyka. Yakin saja ada banyak Cinta yang membawa warna dan kebahagiaan"
"Mencintainya dengan caraku sendiri?" Leyka menyeka matanya, ia tidak mau membiarkan airmatanya turun membasahi pipinya.
"Benar, dengan begitu kau tidak akan terluka-- Ayo naiklah lagi" Matthew bangkit berdiri dari tempat ia duduk. Leykapun mengikutinya. Di ketinggian Freedom Park di langit biru semburat kemerahan, Leyka menghela nafas panjang. Rambutnya yang berkibar seakan menari diterbangkan angin yang lembut menerpa.
"Katakan kau cinta padanya, Leykaaa!"
__ADS_1
"Aku tidak bisa Matt!"
"Cobalah seperti ini-- Madelineeee.. Aku mencintaimuuuuuu! Ayoo Leykaa!!" Leyka terkekeh mendengar Matthew memekikkan nama seorang wanita.
"Vaall!!!-- Leyka memanggil nama Valentino namun terhenti ---Aku tidak bisa Matt!"
"Madelineeee! Aku sangat mencintaimuuuu!-- Ayo Ley kau bisaaa!! Bebaskan hatimuuu!"
"Vallll!! Akuuu!!-- Leyka justru menyeka matanya --ini tidak akan berhasil Matt, aku tidak bisa!"
"Leykaaa.. Ini Freedom Park!! Kebebasaaan para budak! Lepaskan diri dari budak ketakutanmu!! budak keegoisanmuu!! Budak belenggu masa lalu! Lepasskaann Leykaa!!-- Aaaaaa!! Madelineeee akuu mencintaimuuuu!! Aku merindukaaanmuuuuuu!! Huuuuuu!!"
"Vaaall! A...akuu.. Mencin..taimu!" Leyka mencoba menjerit namun ia tidak sanggup, hatinya telah porakporanda karena pria asing yang baru ia kenalnya.
"Katakan dengan lantang Leyka jangan lemas begitu! Katakan dengan penuh kekuatan! Madelinee Aku mencintaimuuu! Tenanglahh di Surgaaaaa!! Aku baik baik sajaaaa!! Aku bebaaasss Maddy!! Aku mencintaimuuuu!!" Leyka membelalakan matanya mendengar jeritan Matthew, ternyata kekasihnya telah tiada.
"Matt, Maafkan aku.. Aku turut berduka cita"
"Tidak masalah Leyka, kejadianny sudah lama. Dua tahun yang lalu. Aku kesini untuk membebaskan diriku. Terima kasih telah menemaniku! Mari kita lepaskan belenggu bersama Leykaa!" Dua tahun bahkan Matthew masih terbelenggu dengan kepergian sang kekasih. Sementara ia baru beberapa hari, Leyka menelan getir salivanya. Melihat Matthew penuh semangat melepaskan belunggu di hatinya.
"Maattt--
"Katakan sebelum kau menyesalinya! Pejamkan matamu dan katakan Leyka!! Cinta tentang rasa. Rasa ada di dalam hati kita, kita bisa melepaskan dan biarkan bebas memilih, kita bisa mencintai dengan cara kita sendiri. Kita Bebassss Leykaaa!!" Matthew merentangkan kedua tangannya memejamkan matanya dengan tersenyum mengembang.
"Val-- Leyka memejamkan matanya, dadanya bergemuruh, ia membiarkan airmata mengalir di sudut matanya --Aku mencintaimu" kata Leyka dengan suara parau.
"Katakan lebih keras lagi!!!" pekik Matthew membuat Leyka terdorong.
"Vaaall!! Aku mencintaimu!" pekik Leyka.
"Lagi Leyka!"
"Val, aku mencintaimmmuuuuu!! Aku mencintaimuuuu! Val, aku mencintaimuu!!" hati yang penuh gumpalan, penuh belenggu kini terurai. Leyka menjerit sekuat tenaga. Dari senyuman hingga ia tertawa. Leyka membebaskan dirinya. Hatinya terasa ringan.
"Bagus Leykaaa!!"
"Aku mencintamuuuu Val!! Aku mencintaimuu!! Shiiittt Val!! Damn, i Love youuuu Vaallll!!" Matthew tertawa dan akhirnya Leykapun tertawa.
"Freedom Park!! Graciaaass!! Matthew!! Graciaass!!" pekik Leyka lagi. (Gracias; terima kasih; Spanyol)
"Thank you Leykaaaaa!! Thank you Freedom Park!" Matthew tertawa saat melirik Leyka. Mareka pun turun dan meneriakkan cinta mereka dengan berlarian mengelilingi batu prasasti yang terukir nama orang orang yang terlibat dalam pembebasan perbudakan.
Freedom Park, dipercaya orang orang Afrika untuk membebaskan diri dari belenggu masalalu disana adalah tempat segala bentuk pembebasan hati manusia dari belenggu apapun. Disana tempat merenung dan setelah dari sana, hati siapapun akan merasa tenang dan ringan.
"Matt-- Aku berhenti disini saja, aku mau beli makanan untuk makan malam sekalian-- terima kasih ya atas tumpangannya" kata Leyka saat mobil yang Leyka tumpangi memasuki jalan Waterkloof. Matthew menawarkan memberi tumpangan, hanya sekitar 30 menit mereka sampai Waterkloof. Namun Leyka memilih berhenti di cafe untuk makan malamnya nanti.
"Baiklah Ley, semoga kita bertemu di lain waktu dan kesempatan, aku akan mengirimkan foto foto kita via email" Leyka turun dan menutup pintu mobil Matthew saat Matthew mengatakannya.
"Baiklah aku tunggu! Gracias, Matt!!"
"Sama sama Leyka, sampai jumpa!" Matthew berlalu dan Leyka berjalan ke arah cafe yang memiliki menu terbanyak yang selalu ramai di kunjungi, Life Grand Cafe. Restauran yang menyediakan menu dari semua penjuru dunia.
"Leykaa?" Suara itu Leyka mengenalnya, ia mencari sumber suara, yang tertutup rimbunnya pagar dari tanaman cafe itu, Leyka menunduk dan melompat mencari suara yang memanggilnya. Posisi suara itu terdengar dari atas.
"Val?" Leyka menengadahkan wajahnya ke atas sambil berjalan kearah Cafe.
"Ley! Kau bersama siapa?!" Valentino bangkit berdiri dari kejauhan dengan wajah geram.
"Lalu kau bersama siapa?!" Berthapun menoleh ke arah Leyka yang tertegun menatap kearahnya, dua langkah mundur akhirnya Leykapun berlari meninggalkan tempat itu.
Valentinopun buru buru menyambar semua barang barangnya juga berkasnya, setelah meletakkan beberapa lembar uang di meja, Valentinopun berlari kearah parkir mobil. Lebih dulu mana kira kira? Karena Valentino tau tujuan Leyka. Apartemen Waterkloof.
...-...
...-...
__ADS_1
...-...
Aku sedih nulis ini, karena part freedom park itu, adalah part perbudakan. Kalau baca dan lihat perbudakan jaman Afrika dulu, aduh aku nangis bombay, itu tuh sadis bgt ampe ke ubun2 nyeseknya. jadi kalian kl merasa di perbudak dan dibelenggu masa lalu cinta yang menyakitkan bebaskan saja. berteriaklah dengan lantang. kdg berteriak lantang itu membuat hati ringan dan bebas... 🥰