FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Ketampanannya Adalah Bencana


__ADS_3

Kekacauan justru terjadi dan tidak seperti harapan Leyka. Raja Setan dan Setan Cilik itu justru asik saling melumuri tubuh mereka dengan cat dan Leyka justru semakin di abaikan. Mocktail buah tidak cukup meredam sikap dingin Valentino. Akhirnya, Leyka memilih pergi ke kedai Double P.


"Sebelum malam hari, aku mau semua beres. Sebaiknya aku bekerja saja. Mocktail ada dimeja" Leyka berlalu. Valentino dan Train terdiam dan saling pandang. Setelah memastikan Leyka pergi. Mereka kembali membuat kekacauan dan kerusuhan lainnya. Tawa Valentino dan Train seakan memenuhi Distrik Miel.


Maafkan aku Leyka.. Perdonami.. Aku harus mengalihkan kemarahanku.. Ehh, tapi ke Double P apakah harus secantik itu.. Hahh! Aku harus mengendalikan diriku. Kata Valentino merasa kesal sendiri dalam hatinya.


Leyka hanya mengikat tinggi rambutnya, dengan celana jeans ketat mencapai betisnya, kaos oblong berwarna kuning lembut dan digulung lengannya kiri dan kanan. Leyka hanya mengenakan sepatu boot rata, agar nyaman bergerak. Bukan seperti bangsawan, melainkan Leyka yang sederhana dan biasa saja, tapi justru disitu kadang kadang letak kecantikannya yang mempesona. Hati Valentino berantakan seketika.


Valentinopun memutuskan memanggil beberapa pegawai proyek untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya bersama Train, lalu ia membersihkan dirinya dan menyuruh Train mandi. Ia akan menyusul Leyka ke Double P. Valentino, akan beraksi mencuri hati Leyka lagi.


-


-


-


Kedai Double P



Saat menjelang sore di akhir pekan, Double P sangat ramai bahkan disemua cafe dan bar di sekitarnya. Hingga Leyka terkadang harus turun tangan menghadapi para pelanggan yang berdatangan tiada hentinya. Pedro, Penelope, Maria dan Simon, rasanya tidaklah cukup.


"Double P adalah Pacho dan Pachito. Pacho adalah Grandpa-ku. Dan Pachito adalah--


"Nama Mommymu waktu kecil, itu karena Mommymu tidak bisa menyebut Paquito dengan benar" ujar Valentino menyambar perkataan Train.


"Woow! Kau tau itu Daddy!"


"Si si si! Tentu saja Daddy tau!" ujar Valentino meniru gaya Train. Mereka menyusuri jalan ke arah Double P, Valentino menggandeng tangan Train dan sesekali anak itu melompat lompat.


Train menggenggam dua choco-oat ditangannya, selama satu minggu Train hanya boleh makan makanan yang mengandung coklat tidak boleh lebih dari 100 gram. Leyka sangat ketat mengatur cemilan untuk Train, ia lebih banyak memberi asupan buah.


Karena gula dan coklat adalah salah satu pemicu adrenalin Train. Bila sudah terpicu, gerakan Train tak terkendali, dan bila kelelahan, asma Train akan kambuh di kelembaban udara tertentu, terkadang dini hari ataupun pagi hari.


Mereka tiba di Double P. Train langsung menuju mejanya yang berada di dalam area meja kasir dimana Leyka berada. Sementara Valentino mengikuti Train. Tentu saja Leyka terkesima dengan penampilan Valentino yang biasa saja. Kaos oblong dan celana jeans dengan sepatu booth pendek menutupi kakinya.



Tidak seperti biasanya, dan semua saling pandang melihat kehadiran Valentino.


"Tetap dalam jangkauan Daddy. Tidak boleh kemanapun karena Daddy akan membantu Mommy" ujar Valentino sambil mencium Train dan bangkit berdiri, ia menyambar celemek barista dari dalam laci meja barista tanpa bertanya. Valentino mengetahuinya karena pintu laci terbuat dari kaca.


"Si Daddy! Wow! Daddy kerenn!" seru Train mengundang semua mata keluarga Fernandez melihatnya. Leyka berdebar debar saat melihat Valentino, ia buru buru memalingkan wajahnya.


"Train sudah mengerti apa yang harus dia lakukan" ujar Leyka dan Valentino hanya terdiam. Lebih tepatnya mendiamkan Leyka. Valentino menuju meja barista dimana ada Pedro dan Penelope disana. Sementara itu Maria sibuk hilir mudik membawa nampan dan melayani pesanan demi pesanan kepada pelanggan.


"Katakan padaku, di meja mana kopi kopi itu harus aku antar. Aku akan membantu Maria" kata Valentino membuat mata Leyka membulat, namun ia tidak mau melihat kearah Valentino.


"Ehh.. Ehmm.. Apa kau yakin?" tanya Pedro saling pandang kearah Penelope.


"Berikan padaku dan katakan di meja mana. Aku akan membantu kalian saat waktuku senggang" kata Valentino mengulangnya dan memberi penekanan. Leyka melirik sesaat, kemudian ia menggigit bibirnya, ia menghampiri Train untuk menghindari pesona Valentino dengan celemek barista. Leyka tak menduga sama sekali, seorang Valentino mau membantu dan menjadi pelayan dan melayani pelanggannya.


Cihh.. Dia sexy.. Dia semakin tampan.. Pecunddang itu masih mendiamkanku.. Huh, menyebalkan. Batin Leyka, bergejolak.


"Hummp-- Leyka mencium Train dengan gemas dan meletakkan satu botol sari buah apel yang telah dikemas dan berada di lemari pendingin di dekat meja kasir --wangi sekali, Tuan Bangsawan yang tampan"


"Si, Daddy mengurusku dengan baik" ujarnya dengan choco-oat memenuhi mulutnya.


"Uhss! Mommy sangat cemburu!" Leyka meniru gaya Train dan menciumi pipi Train dengan gemas.


"Uhss Mommy! Tidak boleh mengganggu bangsawan sedang makan! No me gusta! No es educado! (aku tidak suka! Itu tidak sopan)!" Leyka terkekeh mendengarnya, Valentino memuji dalam hatinya, Leyka mendidik putranya. Hatinya merasa bahagia, mendengar percakapan itu. Kehangatan mengaliri hatinya dan perlahan melenyapkan kekecewaannya, karena Leyka membohonginya, perihal pertemuannya dengan Damian hari ini.


"Lo siento, Carino! Salahkan dirimu sendiri, mengapa kau sangat tampan hari ini" ujar Leyka mengeraskan suaranya sambil menciumi Train.


"Kau tidak biasanya memujiku, Mommy. Seperti itu lebih tepat untuk Daddy!" dan skak mat, Leyka melepaskan Train dari jeratannya. Ia memilih menyingkir daripada Train membuatnya mati kutu dan bertambah serba salah.


"Ckk, habiskan sari buah apel itu. Setelah itu, bacalah buku ini-- Leyka membuka laci meja Train dan memberikan sebuah buku --ensoklopedia untuk anak anak" ujar Leyka kembali mencium Train dan beranjak dari sana.


"Si si si! Aku menyukainya buku ini!" ujar Train bersemangat. Saat kembali ke meja kasir, tatapan matanya kembali bertemu dengan mata tajam Valentino, Leyka tersenyum tipis dan Valentino membalasnya. Namun Valentino buru buru memalingkan wajahnya karena ia harus bekerja, mengantar pesanan kepada pelanggan. Leyka lagi lagi berdebar melihatnya, ia terkesima. Biasanya Damian yang membantunya, kini Valentino yang sungguh tidak ia sangka.

__ADS_1


Valentino, si pria arogan, yang memiliki lidah bak pisau bermata dua, siap menyayat hati siapapun, segala sesuatu yang diinginkannya, ia akan mengejarnya dan menyelesaikannya sampai akhir. Ambisinya, egonya yang begitu besar, kini serasa hanyalah sepenggal kisah, ketika celemek barista menempel ditubuh kekarnya.


Ia berjalan kesana kemari dengan nampan di tangannya, membawa pesanan ke meja demi meja, mengangkat semua piring, gelas, mangkok kotor dan membawanya ke ruangan Simon, yaitu dapur. Senyumnya terlihat menawan diwajahnya, menyapa dengan ramah semua pengunjung, dan akhirnya Valentino menjadi pusat perhatian orang orang yang berlalu lalang di trotoar jalan, khususnya para wanita.


Hanya dalam hitungan menit, pengunjung memenuhi Kedai Double P yang sebagian adalah para wanita. Leyka mulai resah, karena ia juga akhirnya menjadi sangat sibuk. Penelope harus membantu Simon dan Leyka harus membantu Pedro. Mau tidak mau Valentino dan Leyka saling bersinggungan, saling bersentuhan dan saling bertatapan.


"Hai tampan-- Aku baru melihatmu. Apa kau pegawai baru?" tanya seorang pengunjung wanita, saat Valentino meletakkan kopi di sebuah meja yang dipenuhi para wanita.


"Si, aku baru. Aku pemilik kedai ini" ujar Valentino dengan ramah. Leyka dan Pedro saling pandang dengan membulatkan matanya mendengar pengakuan Valentino.


"Wah kau pemilik kedai ini dan kau mau turun melayani kami?" tanya salah satu wanita yang lain sambil membusungkan dadanya, hingga belahan dadanya terlihat dengan jelas.


"Lebih tepatnya, kedai ini milik Istriku. Semua milik Istriku adalah milikku, begitupun apa yang aku miliki. Dan aku siap melayani pesanan kalian semua" kata Valentino dengan tersenyum ramah. Leyka terlihat biasa saja saat Valentino menyebut kata 'istri' namun Pedro membulatkan matanya, dan melihat kearah Leyka yang terpaku memperhatikan Valentino memindahkan isi nampan ke atas meja pengunjung.


Leyka tidak merasa aneh, karena saat di Pretoria mereka terbiasa memainkan peran sebagai kekasih yang sesungguhnya saat kehadiran Rebecca di Pretoria.


"Wah kau mematahkan hatiku, Guapo (tampan)" sahut salah satu wanita yang lain, sambil menurunkan blousenya hingga memperlihatkan pundaknya kiri dan kanan.


"Para wanita itu benar benar tidak tahu malu" dengus Leyka dengan menggerutu di meja barista, Pedro mendengarnya.


"Dia mengatakan kau Istrinya" bisik Pedro merasa aneh, Leyka terlihat santai dan tidak bereaksi.


"Kami terbiasa melakukannya, saat di Pretoria" bisik Leyka dan Pedro manggut manggut.


Padahal dia mengatakan yang sebenarnya. Batin Pedro.


"Jika kau merasa kesepian dan Istrimu kurang mengurusmu dengan baik, hubungi aku" kata seorang wanita meletakkan tisu yang berisi nomor teleponnya.


"Aku saja! Aku belum bersuami! Dia telah bersuami!" seorang lagi meletakkan tisu di nampan.


"Aku pernah bersuami dan aku sangat berpengalaman, Guapo" tisu itu di letakkan dinampan oleh salah wanita yang lain sambil memperbaiki letak br*anya hingga belahan dadanya menyembul keluar.


Valentino hanya tersenyum, dan Leyka memanas hatinya, "Ketampanannya adalah bencana, kedai ini bisa kacau karena mereka" gerutunya dan Pedro terkekeh mendengarnya.


"Kau mengakuinya?" tanya Pedro terkekeh.


"Mi amor! Meja nomor 18 menunggumu!" ujar Leyka dari meja barista. Valentino melemparkan senyumnya ke arah Leyka. Semua mata wanita itu melihat Leyka, lalu Valentino kembali tersenyum ramah dan berkata, "Lo siento, Istriku memanggilku dan aku mengembalikan tisu tisu ini. Istriku bisa membakar Kedai ini" ujar Valentino sambil berlalu.


Manis sekali.. Mi amor, kau memanggilku mi amor.. Sejuk sekali sore ini.. Ahh, menyenangkan melihatmu bersandirwara.. Kau tahu Peach? Ini bukan sandiwara, karena kau Istriku.


Valentino menatap Leyka yang mendelikkan matanya, Valentino mendekatinya dengan tersenyum, "Mi esposa (Istriku; Spanyol), mana kopinya untuk meja 18?"


"Tidak ada! Kau pasti menikmati pemandangan itu. Kau pasti membayangkan tenggelam di dadanya yang besar itu! Dasar laki laki!" Leyka melepaskan celemeknya dan membantingnya dimeja lalu beranjak pergi. Pedro bingung, Valentino apalagi.


Namun baru satu langkah, Valentino menarik lengan Leyka dan berbisik, "Aku penasaran dengan milikmu yang membesar, ukurannya tidak sama seperti dulu. Aku hanya tertarik dengan milikmu. Bukan hanya tenggelam, tapi aku ingin mati disana. Lain kali aku akan melihatnya dengan sedikit paksaan" Valentino mencium pelipis Leyka agar Leyka tenang, tapi bagi Leyka itu hanyalah sandiwara.


"Train letakkan bukunya. Vamos a casa (ayo kita pulang)" pinta Leyka dan Train menurut. Karena ia mengenali intonasi Leyka saat kesal.


"Daddy akan menyusul, Blue!"


"Ya Daddymu, akan menikmati sorenya dengan para pelanggan" sindir Leyka sambil membereskan tasnya tanpa melihat Valentino, hatinya berantakan seketika.


"Uhhss Daddy!"


"Daddy tidak seperti itu, Blue-- Mommy hanya cemburu" Valentino duduk berjongkok dan menciumi Train, ia tak ingin membuat Putranya salah paham.


"Aku cemburu? Cihh, ambil saja semuanya, memang apa perduliku! Bila itu Damian maka aku akan mencincangnya!" ujar Leyka berlalu begitu saja seraya menggandeng tangan Train.


Rasanya aku ingin menyumpal mulutmu dengan jagung bakar Afrika Selatan-ku, agar kau tidak bisa lagi menyebut nama Damian.. Huhh.. Aku harus tenang.. Huhh. Batin Valentino terbakar.


-


-


-


CASA DE MIEL


Leyka menghela nafas panjang berulangkali, celotehan Train tak dihiraukan, ia masih kesal dengan kejadian di Kedai. Leyka menggandeng tangan Train yang sesekali meloncat loncat bila berjalan. Dan tangan itu terurai ketika Valentino tiba tiba datang menyambar tubuh Train dan menggendong di pundaknya, hingga anak itu memekik dengan kerasnya, kemudian Valentino menurunkan kembali lalu menggandeng tangan Train dan juga Leyka.

__ADS_1


Leyka pun terkejut karena ternyata Valentino benar benar menyusulnya. Hatinya sedikit mencair melihat senyum Valentino.


"Daddy Daddy Daddy!" Train berseru dengan gembira, Valentino mengeratkan genggaman tangannya dan Leyka membiarkannya. Dalam diam, mereka menikmati kehangatan yang mengalir dari hati mereka.


Hingga tibalah mereka dihalaman Apartemen, mereka berdua menatap sebuah pohon, dimana Leyka pernah memeluknya saat mabuk. Mereka tersenyum melihat pohon itu, namun saat mata mereka bertatapan senyum itu menghilang. Mereka saling canggung dan gugup.


"PACHITO" suara itu membuyarkan segalanya. Seorang wanita bangsawan dengan mantel bulu melekat hingga memenuhi lehernya, sanggulan tinggi dengan berlian menempel di semua sudut anggota tubuhnya. Lehernya, telinganya, pergelangan tangannya bahkan jemarinya, menunjukkan kelasnya.


Ia menegakkan kepalanya di sertai dua orang pengawal kiri dan kanannya. Dia adalah Rosemary. Tidak jauh dari sana seorang laki laki dan seorang perempuan seumuran Leyka, berdiri tegap menatap Leyka dengan mengangkat satu sudut bibirnya, mereka adalah Locki Gusmo dan Ella Gusmo.


"Ibu?!" Leyka terkejut melihatnya, ia langsung memeluk Ibunya dengan erat, namun matanya sinis mengarah pada Locki dan juga Ella. Train melepaskan genggaman Valentino dan berkacak pinggang, raut wajahnya berubah seketika.


"Pachito, Ibu membawakan gaun. Ibu tadi ke Apartemenmu, tapi kau tidak ada. Ibu meninggalkan gaunmu untuk acara makan malam keluarga Kerajaan. Kita memakai warna yang sama, Carino-- tadi ada pegawai di Apartemenmu, Ibu menitipkan padanya" ujar Rosemary dengan tersenyum dan membelai pipi Leyka.


"Uhss! No me gusta!" dengus Train dan Valentino berdiri dibelakang Train dan mengelus elus rambutnya. Pandangannya membaca situasi, ia mengamati Locki dan Ella, yang memandang ke arah Leyka dan Ibunya.


"Mi nieto (cucuku), kau tidak memberi salam pada GrandMa (Nenek)?" tanya Rosemary dengan memiringkan kepalanya.


"No! Rosemary Noo! No No No!" jawaban Train dengan memekik sekerasnya, wajahnya memerah dengan urat kemarahan muncul di permukaan lehernya. Train bersiap mengamuk.


"Train-- No es educado (itu tidak sopan)" ujar Leyka dengan kelembutannya.


"No Mommy Noo Mommy!" Train justru semakin menunjukkan sikap marahnya, namun matanya mengincar Locki yang terlihat tidak tenang, Locki terlihat gusar dengan tatapan Setan Cilik yang terus mengamati.


"Tidak apa apa Mi Nieto (cucuku)" ujar Rosemary seraya menyentuh kepala Train namun Train menepisnya.


"No Nieto Nieto! Noo Rosemary No!" Rosemary menghela nafas panjang, ia mengamati Valentino yang menjulang tinggi dan mencoba tersenyum tipis, tapi sama halnya setan cilik, Raja Setan menampakkan wujud dinginnya.


"Blue-- Carino, tenanglah" suara itu terdengar tegas dan dingin, karena Train menunjukkan sikap aktifnya ia memukuli paha Leyka untuk meluapkan kekesalannya.


"Rosemary membawa Loco dan Nenek Sihir itu, Daddy!! Nooo!!" dan Train bahkan memukul paha Valentino meluapkan emosinya. Lalu Valentino mendekapnya.


"Ada Marlin-- Jadi Nemo tidak usah takut. Kau harus tenang, karena kalau tidak Blue Train bisa menggagalkan rencana Daddy" bisik Valentino dengan lembut dan Train terdiam, ia menyeka airmatanya yang meleleh dan menggosok hidungnya.


"Daddy" Valentino menggendongnya, memberi pelukan erat karena Train meluapkan rasa takutnya dengan kemarahan.


Rosemary terhenyak, ia memandangi Leyka dengan sejumput pertanyaan dimatanya yang tak terucap.


"Si Ibu" hanya satu kalimat Leyka, bisa menjawab mewakili pertanyaan Rosemary yang tidak terucap dari mulutnya. Hubungan Ibu dan Putrinya ini memang cukup dekat sekalipun tidak tinggal bersama. Leyka tetap mempererat hubungannya. Karena bagaimanapun, Train ada berkat pertolongan Rosemary yang melepaskannya kala itu. Karena bila tidak, Locki bisa menangkapnya dan setelah itu ia tidak sanggup membayangkan apa yang akan diperbuat Locki kepadanya.


"Pria Italy yang sangat tampan, aku masih mengingat wajahmu 8 tahun lalu di sebuah foto yang di pamerkan Leyka di storynya. Ternyata Leyka menyembunyikannya agar aku tidak bisa merebutnya" Ella, mendekati Rosemary dengan mengumbar tawanya. Leyka mengepalkan tangannya, ia menahan dirinya.


"Senora (Nyonya) Rosemary, Gracias-- telah melahirkan putri secantik ini, sampai 8 tahun lamanya aku tidak bisa berpaling darinya" Valentino justru mencium pelipis Leyka, ia sama sekali tidak menanggapi kicauan Ella. Leyka membiarkannya karena Leyka menganggap itu hanyalah sebuah peran yang Valentino mainkan.


"Jadi kau rupanya" hanya sepatah kata, Rosemary menegakkan kepalanya dan Rosemary menyambut jabatan tangan Valentino yang telah terulur kepadanya.


"Mommy suruh mereka pergi! Uhhs! Aku tidak mau melihat Loco (gila) dan Nenek sihir ini Mommy!" seru Train sembari mengepalkan kedua tangan mungilnya dan matanya benar benar memburu tatapan Locki dan Ella dengan sinis.


"Ibu dan anak sama saja! Tidak memiliki sopan santun! Kau gagal mendidik putramu! Seperti Ayahmu yang gagal mendidikmu!" Locki menyahut akhirnya, dan itu memanaskan suasana sore itu.


"Mo!" hardik Rosemary dengan mendelikkan matanya.


"Kau--- dan Leyka kembali menahan dirinya, ada Train dalam gendongan Valentino, lagi pula tangan Valentino menahannya. Seolah tangan itu sebuah perintah untuk tenang.


"Blue-- bisakah kau pergi ke Apartemen Abuella, Daddy akan menjemputmu sebentar lagi" ujar Valentino menurunkan Train dalam gendongannya dan Train berlari kearah Apartemen Dolores.


Dan setelah Train lenyap dari pandangannya. Tanpa di duga, hantaman Valentino begitu keras menyambar rahang Locki Gusmo dengan telak.


"ITU UNTUK LEYKA DAN PUTRAKU YANG AKAN KAU SINGKIRKAN 8 TAHUN YANG LALU!"


-


-


-


Ughhh.. nanjak duhh.. menjelang viscountes..


dan vote juga kopi, boleh dong di setor ke mejaku yg kosong mlompong ini *malak syantik 🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2