
...One Day Left......
Leyka membuka matanya, kepalanya sangat berat, serasa palu godam berkilo kilo beratnya, menghantam kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya, ia melihat baju yang ia kenakan telah terganti dengan kaos oblong Valentino yang terlihat kedodoran di tubuhnya. Br*a dan underwearnya terlihat utuh, ia menoleh kesebelahnya dan terlihat Valentino masih terlelap memunggunginya. Leykapun melepas br*anya dan bangkit berdiri menuju kamar mandi dengan mata setengah terbuka. Setelah lega karena buang air kecil, ia menyambar botol minum dan diteguknya, lalu ia kembali menuju ranjang dan memasuki selimut.
Leyka mengingat apa yang terjadi tapi nihil. Ia tidak mengingat apapun. Ia kembali menoleh kearah Valentino, menatap punggung Valentino dengan goresan kukunya terlihat masih disana. Leykapun merapatkan dan memiringkan tubuhnya, lalu memeluk Valentino dari belakang.
"Ley, kau bangun?" Valentino mengerjapkan matanya dan menoleh kearah Leyka yang memejamkan matanya. Ia kemudian menghadap kearah Leyka dan memeluk erat tubuh Leyka, mengungkungnya dengan kaki dan tangannya. Valentino sesaat mencium puncak kepala Leyka dan kembali terlelap. Leyka kemudian membuka matanya.
Nanti malam, hari terakhir aku tidur seperti ini dipelukanmu dan setelah besok pagi, aku tidak bisa lagi melihat wajahmu di pagi hari. Hari ini genap 10 hari aku bersamamu, tapi rasanya seperti bertahun lamanya.. Bagaimana membunuh perasaan ini? Ohh Shitt! Seharusnya aku tidak berangkat ke Afrika..
"Aku tahu kau sudah bangun, Ley" ujar Valentino dipuncak kepala Leyka dengan suara serak.
"Buongiorno amore mio (selamat pagi, cintaku; Italy)" Leyka tersenyum dan menengadahkan kepalanya keatas lalu Valentino mengecup bibir Leyka dan membalas ucapan salam pagi itu dengan bahasa Spanyol "Buenos días, mi amor" lalu Valentino tersenyum dan mengeratkan pelukannya, Leykapun membalas senyuman itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Valentino.
"Val, kita kembali jam berapa dari Springbok? Aku tidak mengingat apapun" Leyka meregangkan pelukannya dan memberi jarak.
"Sekitar jam 08.00 malam. Kau mabuk dan tertidur. Dasar!" Valentino kembali memeluknya.
"Apa aku bertingkah loco (gila; Spanyol)? Apa aku mengatakan sesuatu? Atau bertingkah loco?" Leyka kembali mendorong tubuh Valentino dengan penuh selidik dan lagi lagi Valentino memeluknya.
"Semua pemabuk menjadi gila dan berkata yang tidak seharusnya-- Jangan percaya perkataan orang mabuk, kau pernah mengatakannya" Di dada Valentino, Leyka tertegun. Ia memutar mutar jari telunjuknya membentuknya menjadi lingkaran, dan berpikir keras apa yang ia lakukan namun Leyka tidak mengingatnya. Alkohol membuatnya lupa.
"Tapi, mengapa matamu sembab?" Leyka kembali mendongakan kepalanya. Valentino pun mendorong tubuh Leyka perlahan dan ia bangkit berdiri sambil menguraikan tali yang melingkar di pinggangnya dan menyatu di celana tidurnya.
"Beginilah mataku saat aku bangun tidur setelah mabuk. Apa kau pikir hanya dirimu yang mabuk? Kita berdua mabuk, Ley" jawabnya sambil berlalu menuju kamar mandi. Leyka hanya tersenyum lega, bahwa tidak terjadi apapun semalam.
Leyka kembali memejamkan matanya, namun langkah kaki Valentino keluar dari kamar mandi kembali mengusiknya. Di tambah lagi, Valentino kembali memeluk dari belakang setelah ia meneguk satu botol air minum.
"Hari ini terakhir kita di Pretoria, apa yang akan kita lakukan?" bisik Valentino sambil menciumi pundak Leyka, tangannya menjalari pinggang, perut hingga menuruni paha mulus Leyka, dimana kaos oblongnya tidak bisa menutupi semuanya.
"Aku mau packing ulang, mengambil laundry di binatu Hotel-- Ehm, aku tidak punya ide apapun, aku malas kemana mana. The Blue Train akan menuju Capetown pukul 10.00 pagi dari Pretoria. Kita akan berangkat lebih awal" Leykapun menangkap tangan Valentino yang menggerayanginya, lalu menautkan jemarinya di jemari Valentino dan diarahkan tepat di bawah buah dadanya. Valentino merasa itu penolakan secara halus, atau mungkin Leyka masih memendam kekecewaan karena pemaksaan yang ia lakukan.
"Hmm, kita masih punya waktu sekitar dua hari, 1 hari di Pretoria dan 1 hari di kereta, 27 jam lagi perjalanan kita ke Capetown. Aku merindukan kereta api itu" Valentino pun mencium tengkuk Leyka dengan rasa kecewa karena penolakan itu. Hasratnya kembali tiarap saat penyesalan melingkupi hatinya.
Val, sebaiknya kau tidak usah tau. Aku tidak berhenti di Capetown tapi di Johannesburg, hanya 1 jam dari Pretoria. Besok pagi, kita akan berpisah di Johannesburg. Besok pagi adalah hari terakhir kau melihatku, begitupun aku.. Kecuali ada keajaiban.. Aku sangat yakin, kau tidak akan pernah mau turun denganku.. 1 hari lagi Val.. bukan 2 hari..
Semoga saat tiba di Capetown, aku bisa membujukmu Ley.. Aku masih punya waktu 27 jam di Blue Train.. Aku akan mengubah pandanganmu.. Aku akan membuatmu berubah pikiran dan kau akan bersamaku..
"Apa kau tidak mau bercinta denganku lagi?" tanya Valentino sangat hati hati. Leykapun tersenyum kemudian memalingkan tubuhnya menghadap kearah Valentino dan mencubit hidung Pinokio.
"Aku lapar dan aku tidak punya kekuatan untuk melayanimu, Pinokioku" senyum Valentino mengulas mengembang, ia kembali mengeratkan pelukannya dan mencium kening Leyka.
"Apa sudah tidak sakit, Ley?"
"Asal kau lembut, aku akan baik baik-- mereka diam saat mendengar tapak kaki di luar kamar mereka, bunyi gelas dan piring berdentingan ---Sarapan sudah datang!" Leyka pun mencium bibir Valentino sesaat lalu bangkit berdiri dengan menyambar piyama kimononya. Valentino hanya tersenyum saat Leyka mengerlingkan matanya dan berlalu menuju balkon kamar mereka. Ia pun bergegas menyusul Leyka.
"Aku sudah gila! Padahal wujudnya masih ada disini, tapi aku sudah merindukanmu, Ley" gumam Valentino dengan mengusap wajahnya.
__ADS_1
...*...
"Aahh Val!"
"Aku merindukanmu, Ley"
"Val, kita belum mandi--- Aaahh"
"Aku tidak perduli, aroma pagimu ini yang akan aku ingat dan tidak akan aku lupakan"
"Vaaaalll.. Uuhhmm"
Setelah sarapan pagi, Valentino menyeret Leyka ke tempat tidur dan menghempaskan perlahan tanpa kekuatan. Namun tidak seperti biasanya, Valentino meminta izin dan Leyka memberinya lampu hijau. Valentino telah berjanji, ia tidak akan memaksa Leyka atau berbuat sesuka hatinya. Kejadian kemarin membuatnya hilang kendali, Valentino memaksa dengan kasar, bisa dibilang itu pemerkosaan, walaupun Leyka tidak menuntut atau mempermasalahkan kejadian itu permohonan maaf Valentino sudah cukup baginya. Valentino sangat menyesalinya, perlahan Leyka mengetahui sisi tempramen pria Italy yang membuat perasaannya hambar bila mengingatnya. Toh kejadian itu akibat dari perbuatannya sendiri yang sengaja, agar Valentino menjauh dan memupus harapannya pada hubungan sesaat yang tidak akan mungkin terjadi. Leyka berniat menyelamatkan satu kehidupan dan tidak akan mencurinya.
"Sshh.. My dear, Leyka.. Il mio amore.. Aaahh.. Aku sangat merindukanmu" setiap nafasnya, saat bibir Valentino menelusuri leher Leyka, ia mengumandangkan kerinduannya. Tangan kekar dan lincah itu berhasil membuat tubuh Leyka polos tanpa sehelai benangpun. Lum*atan yang menikam disetiap inchi tubuh Leyka melukiskan kerinduannya.
Dengan cepat, Valentino melucuti pakaiannya, dan membuat dirinya telanjang. Leyka bergidik saat melihat tubuh Valentino yang begitu sempurna dengan senjata miliknya yang tegak menjulang. Nalurinya seakan tergerak, Leyka bangkit dan duduk lalu menangkap milik Valentino yang menjulang bak jagung bakar Afrika Selatan kemudian diku*lumnya berlahan.
Valentino melemparkan kaosnya dengan mata terbelalak, tidak menyangka Leyka akan berbuat seperti itu.
"Aaaahhh.. Leykaa.. Sssh.. Aaahh.. Ley..." Valentinopun mengurungkan niatnya untuk mendorong tubuh Leyka, ia tetap berdiri tegak dengan menumpu pada lututnya. Valentino memandang dari atas seraut wajah Leyka yang memejamkan matanya. Ia pun mencengkeram kepala Leyka, mengusap rambutnya, sesekali mere*masnya saat lidah Leyka bermain menikmati di puncak miliknya. Perasaan diinginkan, perasaan dipuja, perasaan digilai, seirama seiring luma*tan demi luma*tan dari sentuhan yang Leyka berikan.
"Oohh Ley.. Aahhh.. Stop Ley.. Aaahh Leyka.. Stop it Ley!" Leykapun melepaskan aksinya saat Valentino memintanya. Leyka tersenyum dan mendorong tubuhnya mundur, seiring Valentino merangkak kembali di atas tubuhnya. menangkap kedua buah dadanya dan menyesapnya lembut.
"Aaaaahhh" suara itu membuat dada Valentino semakin berdegub kencang, suara yang memicu hasrat, dan pasti suara yang akan dirindukannya. Valentino terus mendorong tubuhnya menuruni buah dada Leyka setelah ia puas meninggalkan tanda kemerahan di sekitar pu*ting Leyka yang masih belum menonjol. Payu*dara seorang gadis belia yang masih murni, lingkar kemerahan yang puncaknya tidak terlihat. Dalam benaknya Valentino membayangkan bagaimana bila itu akan menonjol suatu saat nanti, dan itu membuatnya semakin gila.
"Vall.. Aaaahh"
"Apa aku menyakitinya?" Valentino bertanya dengan mendongakan kepalanya, nafasnya yang hangat menerpa permukaan kulit miliknya. Leyka setengah bangun dan menumpu tubuhnya pada siku lengannya, menatap mata Valentino yang selalu membayanginya.
"Tidak, tapi pelan saja. Jauhkan brewokmu itu.. Aaahh Val" Valentinopun mengerti dan ia kemudian hanya menjulurkan lidahnya, berputar dan bermain disana. Leyka menegang melihatnya.
"Apakah perih?"
"Uhhhmm.. Ti.. Aahh.. Tidak.. Ooughh Val" Leykapun kembali menghempaskan tubuhnya dan mere*mas bantal, tubuhnya meliuk liuk membuat Valentino semakin ingin memasukinya dan menyatu dalam gairah yang memanas pagi itu.
Ia pun bangun dan menghampiri pangkal paha Leyka, ia membentangkan kedua paha mulus itu dan mengarahkan miliknya. Tangan Leyka spontan menahan perut Valentino, ia menggigit bibir bawahnya dan menatap ketampanan Valentino yang membuatnya tertikam belati sangat dalam.
"Ley, katakan kalau sakit" perlahan Valentino melesakkan miliknya, Leyka menatap mata abu abu kebiruan yang membuat matanya berkaca kaca, disaat seperti ini ia ingin menangis tapi entah apa yang membuatnya ingin menangis.
"Ley.. Aaahhh.. Apa sakit? Mata memerah. Apa kau menahan sakit? Aku bisa menghentikannya" Valentino berhenti menekan pinggulnya dan mengusap pipi Leyka.
"Keringat masuk mataku. Uhmm.. Tidak sakit Val, aku sangat nyaman-- Aaahhh Valll" kata nyaman membuat Valentino melesakkan miliknya seutuhnya dan Leyka menjerit lirih. Leykapun menarik lengan Valentino agar ia bisa memeluk tubuh Valentino, dengan menindih tubuh Leyka, Valentino menelusupkan tangannya ke belakang leher Leyka dan mencengkeram kuat. Valentino merasakan perbedaan pelukan Leyka saat ini, sangat erat seakan tidak ingin terlepas, seakan pelukan itu pelukan perpisahan.
Dengan mengayun perlahan pinggulnya, Valentino menatap dagu Leyka yang menjulang menengadah keatas, desahan Leyka dengan mata terpejam dan tangan Leyka yang menaut si punggungnya, membuat Valentino enggan untuk terpejam.
Aku ingin wajah ini, selalu berada disisiku.. Tapi bagaimana bisa.. Apa aku tidak cukup baik bagimu Ley.. Sehingga kau masih menginginkan Diego.. Karena itulah kau ingin di Barcelona? Karena itukah kau menolak ke Italy bersamaku?
__ADS_1
Valentinopun memejamkan matanya yang terasa pedas, ia pun melu*mat leher jenjang itu. Belati yang menikam di hatinya terasa nyeri. Mereka sama sama nyeri.
"Aahh Val.. Mi Carino (sayangku; spanyol)" Valentino membuka matanya dan saat itu juga pun Leyka membuka matanya. Kedua mata itu bertatapan seakan membeku, mata yang berkaca kaca yang sudah saling merindukan dan saling memendam kekecewaan namun perpisahan yang akan mereka hadapi adalah hal yang memenuhi pikiran mereka.
"Aaahhh.. Mi Carino.." desah Leyka.
"Iyaa.. Il mio amore.. Aaahh.. Apa sakit, dolcezza mia (manisku; italy) ?" Valentino terus memacu perlahan dengan gerakan melambat, ia takut melukai Leyka.
"Aaaahhh.. Val--- Leykapun melingkarkan satu tangannya di leher Valentino lalu mere*mas rambut ikal nan hitam ciri khas pria Italy itu kemudian satu tangannya mencengkeram rahang Valentino ---I'm coming, Mi carino" bisik lembut itu membuat mata Valentino membulat, saat Leyka menyergap bibirnya kemudian.
Leyka melu*matnya dan mengerang. Valentinopun kalang kabut dibuatnya, milik Leyka seakan menikamnya erat, getaran itu membuat sekujur tubuhnya menegang. Ia membalas luma*tan Leyka dan meledakkan benihnya, aroma strawberry dimulut Leyka membuatnya semakin kuat mengerang dan menyesap mulut sensual itu. Lidahnya menangkap lidah Leyka dan menghisapnya lembut seiring erangannya diantara nafas yang memburu.
"Aaaa...aa..aahh, Val"
"Aaarrghhhh Ley.. Sshhh.. Haahft.. Il mio Amore.. Huuhhft" dengan tersengal Valentino mengatur nafasnya setelah melepas pagu*tannya, mereka tidak kunjung mengurai pelukan itu. Mereka saling tersenyum dan saling menatap teduh. Sesekali mereka berciuman.
"Uhhm.. Kita bau sekali" Valentino terkekeh mendengarnya.
"Bau yang akan aku rindukan, yang akan aku kenang. Bahwa ada gadis bar bar yang masuk kamarku dan menarik handukku" Leyka tercekat mendengarnya, ia mengingat pertama kali bertemu Valentino.
"Semua karena tiket sialan itu" senyum tipis itu mengembang dengan dengusan kecil Leyka.
"Kau menyesal?"
"Entahlah"
"Ini kenangan yang membahagiakan" Valentinopun mengecup kening Leyka sambil menyeka keringat yang bermunculan di pori pori permukaan kulitnya.
"Dan aku tidak ingin membuat kenangan. Aku akan melupakannya. Kenangan tidak akan membuat bahagia, karena mengingatnya hanya akan membuatku semakin gila" Leykapun menghindari tatapan mata Valentino dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher Valentino.
"Leyka, apa kau masih membenciku?" dan Valentino dengan hati yang kembali gusar, meraih dagu Leyka agar menatap matanya.
Seberapa ingin aku membenci pemerkosa sepertimu, apa kau pikir aku bisa? Aku memang sengaja ingin melukaimu tapi justru akupun ikut terluka.. Mengapa kau tidak mau berkorban untukku? Karena memang tidak ada rasa cinta dihatimu kan? Kau hanya merasa nyaman.. Dan itu tidak akan pernah abadi Val.. Tapi, anakmu pun menunggumu.. Dan aku harus melupakanmu.. Ini hanya sepenggal kisah cinta yang terlupakan, Val..
"Val-- Leyka menatap mata Valentino lekat lekat --seandainya bisa, aku akan membencimu" titik airmata di sudut mata Leyka turun membasahi pelipisnya, Valentino menyesapnya dengan kepiluan hatinya.
"Amore mio, perdonami (cintaku, maafkan diriku; Italy)" Valentino.
"Amore mio ti perdono (cintaku, aku memaafkan dirimu; Italy)" Leyka.
-
-
-
Jangan lupa likenya disini! Jangan lupa 20 peringkat besar di novel OOH DIANA GADIS HUJANKU. Jangan Lupa seminggu lagi GA akan berakhir tgl 04 JULI 2021.
__ADS_1
Pernah ga sih bercinta penuh perasaan sampai pengen nangis saking cintanya, saking kangennya, saking uueeenaknya poll wkwkwkwk gebleg 🤣 eh yang jomblo minggir dulu ke pojokan 🤣🤣🤭