
Mata Train bernatap tajam lurus kearah mata Matthew, yang melihatnya namun sesekali Mattew melirik kearah Maria yang selalu saja melihat kearah Matthew dan Train, dengan tatapan penuh selidik dari kejauhan. Entah mengapa hati Matthew berdebar debar. Melihat gadis tomboy dengan mata bulatnya yang menata lilin demi lilin di meja perjamuan dengan mendorong trolley yang berisi bunga bunga segar yang akan diletakkannya di berbagai sudut.
Maria Fernandez, memang sosok yang rajin ikut perkumpulan remaja Gereja Katedral yang membantu para Pengerja Gereja. Di bandingkan dengan saudara yang lain, Maria memang paling tekun dengan acara keagamaan.
"Benar Uncle, aku dibuat di kereta api-- Uhm, Kereta api dengan route terpanjang di Afrika Selatan, route 27 jam-- Ehm, umurku siete (tujuh)-- Train merentangkan jemarinya -- 7 tahun!" seketika Matthew kembali berpikir dan mengingat kejadian 8 tahun lalu di Freedom Park.
DEG !
Dan Valentino semakin menangis tersedu, ia mere*mmas jasnya dengan kuat. Jantungnya berdebar debar mendengar penuturan Train. Matanya sampai terlihat bengkak. Dadanya naik turun menahan isak tangis yang tertahan oleh suaranya.
Leykaa.. Mengapa.. Kau tidak mencariku.. Leyka.. Kau memiliki sesuatu yang indah.. Kau benar.. Sesuatu yang indah menantimu disana adalah untukmu.. Kau memiliki Train.. Leykaa.. Perdonami..
8 tahun? Itu artinya aku ada disana.. Anak ini tidak mengada ada. Usia 7 tahun dan anak ini dibuat di kereta api? Ha..ha..ha.. Itu artinya pasangan bulan madu dan langsung diberi anak. Tapi pasangan yang mana? Aku hanya berbicara pada seorang gadis dan itu adalah.. Ehm, Leyka.. Leyka Paquito di Pretoria.. Ya, hanya dia.. Aku bertemu dengannya, bukan sepasang yang honeymoon. Matthew menduga secara logika. Karena banyak wisatawan ke sana karena bulan madu, Ia belum menduga bahwa Train adalah anak Leyka.
"Lalu dimana Papamu?" Tanya Matthew sambil melirik ke arah Maria yang berjalan kearahnya.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Maria dengan mendorong trolley penuh bunga dan menatap sinis kearah Matthew.
Train pun langsung bangkit berdiri layaknya jagoan dengan merentangkan kedua tangannya, seolah ingin melindungi Matthew, padahal ia seorang anak kecil. Matthew tersenyum menahan tawanya dan Maria semakin dingin menanggapinya.
"No Mariaa No! Selesaikan tugasmu, kita sedang mengobrol! Dia pemilik mobil Mustang! Aku benar benar beruntung!-- Sana pergilah!" usir Train dan Maria mendengus dan berlalu melanjutkan pekerjaannya.
Putraku benar benar jagoan.. Ahh, Train.. Mengapa aku tidak menyadarinya.. Pantas saja Leyka membenciku.. Perdonami Leyka, Perdonami il mio amore (maafkan aku cintaku)..
"Siapa dia?" bisik Matthew, karena Maria masih melihatnya seiring menjauh pergi.
"Dia ponakan Mommyku-- Tadi kau bertanya dimana Papaku?" tanya Train kembali duduk. Dan Valentino menegang mendengarnya.
"Iya benar" jawab Matthew singkat.
"Kalau Uncle menanyakan dimana Papaku-- Mommyku selalu menjawab 'Daddymu ada disana dan tidak mau turun" Matthew membulatkan matanya namun Valentino memejamkan matanya dan menjambak rambutnya sesekali memukul kepalanya sendiri. Rasanya sangat sesak dadanya mendengar jawaban Train.
Leyka.. Aku turun Mi amor.. Aku turunn.. Leyka.. Seandainya aku tidak seegois itu.. Leykaa.. Kau harus tau kalau aku turun.. Daddy turun Train.. Daddy turun.. Perdonami.. Leykaa. Batin Valentino menjerit jerit dengan airmatanya yang kian deras berjatuhan.
"Ma-maksudmu? Kau tidak bersama Papamu?" kini mata Matthew hanya tertuju pada mata bulat berwarna abu abu kebiruan yang tidak lagi berbinar. Sinar mata Train meredup dan itu membuat Matthew di penuhi jutaan tanda tanya.
"No Uncle, Papaku tidak pernah mau turun. Dia memilih membangun Capetown Town Square-- Kau tahu Uncle, aku ingin punya banyak uang dan menjemput Papaku.. Aku ingin sekali naik kereta itu dan membawanya turun" ujar Train dengan datar. Matthew tersentak dengan penuturan itu dan begitupun Valentino yang justru hatinya tambah hancur berkeping keping.
"Si-siapa nama Mommymu!" tanya Matthew dengan perasaan bercampur aduk. Perasaannya mulai tidak enak.
Jangan katakan kalau itu Leyka. Batin Matthew.
"Leyka Paquito.. Aneh kan? Percayalah Uncle orangnya lebih aneh, tapi Mommyku yang terbaik dijagat raya ini!" dan Matthew membulatkan matanya, ia menatap Train tanpa berkedip, ia mengusap pipi Train dan menyingkirkan rambut Train di dahinya. Sementara Train hanya cekikikan melihat keterkejutan Matthew.
Leyka!! Apa yang terjadi? Kau memiliki anak setelah dari sana? Dan... Apakah ini anak dari laki laki asing yang kau ceritakan padaku? Batin Matthew.
"Apa?! Le-Leyka?"
"Kau ingat?" tanya Train menegaskan, senyumnya kembali ceria dan matanya kembali berbinar.
"Iya aku mengingatnya-- Siapa nama Papamu?" tanya Matthew dengan menatap wajah Train lekat lekat.
"Namanya Toro. Daddy Toro (banteng)! Apa kau pernah bertemu dengannya?" Matthew menggelengkan kepalanya, ia mencoba mengingat dengan mengerutkan alisnya.
Angin menghembuskan parfumnya melewati jendela. Train mengedarkan pandangannya dan mengendus perlahan.
"Train-- Jadi kau tidak pernah sekalipun bertemu Daddymu?" tanya Matthew lagi.
"Noo" jawab Train singkat ia masih mengedarkan pandanganya.
Seperti parfum Uncle Gallardiev. Batin Train.
"Bahkan wajahnya atau fotonya?" tanya Matthew meraih dagu Train agar mengarah kepadanya.
"Noo! Mommy membuang ponselnya ke laut saat dikejar Locki Gusmo. Dia orang jahat-- Apa kau tidak tahu, bahwa Mommyku adalah Putri Mahkota? Dia seorang bangsawan tapi Mommy tidak mau tinggal di rumah besar!" jawabnya dengan menatap mata Matthew. Leyka memang selalu beralasan bahwa ia tidak memiliki foto Valentino karena membuang ponselnya kelaut. Itu memang benar adanya tapi ia tidak bercerita kepada Train, bahwa ia menyimpan memori card yang menyimpan foto fotonya saat di Pretoria.
"Sangkar Emas-- Mommymu menyebutnya sangkar emas" Matthew menimpali, lalu ia menyandarkan tubuhnya di kursi, ia lemas seketika, ia bahkan lupa apa tujuannya ke Gereja itu. Yaitu untuk berdoa.
Matthew memang selalu mendatangi Gereja bila ia berkunjung ke suatu negara, Madeline adalah cinta sejatinya, yang pergi meninggalkan cinta yang begitu manis untuk selamanya. Matthew bukan menutup hatinya, tapi memang tidak ada wanita yang membuatnya berdebar. Ia menjadi orang yang mengasingkan diri dari dunia luar. Hidupnya hanya bekerja di Ford Company yang bercokol di London.
Leyka.. Apa yang terjadi denganmu.. Pantas saja aku tidak bisa menghubungi lewat email yang kau berikan saat aku mengantarmu pulang ke Apartemen Waterklaaf..
"Itu nama asli Papamu? Bukankah itu artinya banteng?" Matthew menghela nafas panjang.
Kau menyembunyikan nama Daddynya, kau pasti memiliki alasan Leyka.. Ya Tuhan Leyka, apa yang terjadi..
"Si! Kata Mommy, Daddy Toro sangat tampan, menyenangkan dan sangat baik. Dia sangat kuat, dia menggendong Mommyku di sepanjang kebun anggur, yang luuuuu..aass-- ujar Train sambil merentangkan kedua tangannya --dia seperti banteng, sampai merusak kebun anggur. Mommy dan Daddyku di kejar oleh kepala suku saat itu bulan purnama. tapi Daddyku nakal, dia selalu meminta Mommy muchos besos (ciuman yang banyak)-- Uuhss, mucho mucho mucho (banyak banyak banyak)!" kata Train bercerita dengan menggelengkan kepala. Matthew terkekeh mendengarnya, ia pun sangat terharu dengan keadaan Train. Hatinya yang begitu lembut sangat tersentuh oleh kisah Train.
"Apa kau yakin itu nama Daddymu?" tanya Matthew dengan membelai rambut Train dan itu membuat Train senang karena Matthew adalah bagian dari cerita kedua orangtuanya di Pretoria.
"Si-- Mommy tidak pernah berbohong!" jawab Train dengan berseru. Matthew tertunduk dan mengingat saat bertemu Leyka di Freedom Park tepatnya di Isivivani.
[ Leykaaa.. Ini Freedom Park!! Kebebasaaan para budak! Lepaskan diri dari budak ketakutanmu!! budak keegoisanmuu!! Budak belenggu masa lalu! Lepasskaann Leykaa!!-- Aaaaaa!! Madelineeee akuu mencintaimuuuu!! Aku merindukaaanmuuuuuu!! Huuuuuu!!
__ADS_1
Vaaall! A...akuu.. Mencin..taimu!
Katakan lebih keras lagi!!!
Vaaall!! Aku mencintaimu!
Lagi Leyka!
Val, aku mencintaimmmuuuuu!! Aku mencintaimuuuu! Val, aku mencintaimuu!!
Bagus Leykaaa!!
Aku mencintamuuuu Val!! Aku mencintaimuu!! Shiiittt Val!! Damn, i Love youuuu Vaallll!!
Freedom Park!! Graciaaass!! Matthew!! Graciaass!!
Thank you Leykaaaaa!! Thank you Freedom Park! ]
"Disana aku dan Mommy-mu, meneriakan orang orang yang kita cintai"
Val.. Kau menyebutnya Val.. Aku mengingatnya Leyka.. Tapi aku tidak mau memberitahu Train.. Mungkin saja kau punya alasan untuk menyembunyikan identitas Daddynya Train.. Aku menghargai itu.. Dan itu bukan hakku. Matthew
"Kau berteriak 'Madeline aku mencintaimuu' dan kau mengajarkan Mommy berteriak, untuk membebaskan hatinya 'Toroooo Aku mencintaimuu'-- Ahahahaa, kalian menjerit di ketinggian! Aku juga akan kesana nanti dan berteriak 'Daddy, turunnlahhh dari keritaa api The Blue Train! Daddy aku menunggumuu!'-- Ahahaha, kau tahu Uncle, nama lengkapku adalah BLUE TRAIN VALENTINO. Karena saat itu adalah hari Valentine! Daddyku ulang tahun disana dan Mommyku juga, tanggal 15 Februari dan 5 hari kemudian adalah ulang tahun Mommyku, tanggal 20 Februari. Itu keajaiban!" celoteh Train dengan seru diantara tawa dan kepolosannya, namun itu mengiris hati Matthew juga Valentino.
VAL.. itu Valentino.. Ya Tuhan Leyka!! Apa yang terjadi denganmu?
Matthew memalingkan pandangannya, ia telah berkaca kaca, ia memilih melihat kearah Maria yang selalu saja melihat kearahnya mengawasi Train dari kejauhan. Sementara Valentino membulatkan matanya, ia sangat terluka dengan kenyataan demi kenyataan itu.
Leyka.. Kau mencintaiku? Dulu kau mencintaiku? Tidak, ini tidak benar.. Leyka.. Aku sangat bodoh.. Ohh Shittt.. Aku bodoh.. Aku bodohh.. Leyka, bila sekarang kau membenciku, maka aku akan membuatmu kembali memcintaiku.. Leyka perdonami. Jerit tangis pilu Valentino dalam hatinya.
Valentino tidak tahan mendengarnya ia bangkit berdiri dan berlari kearah luar Chapel. Ia mencari ruang terbuka untuk bernafas, pilar pilar gereja yang menjulang tinggi yang memiliki sirkulasi yang bagus, seakan tidak memberi oksigen yang cukup untuknya. Pilar pilar itu seakan runtuh menimpanya. Valentino terus berlari mencari ruang terbuka, hingga ia sampai di pinggir kolam dengan angsa angsa yang berenang disana.
"Aaaaaaarrghhh!! Traaiinnnn!!" pekik Valentino mengejutkan Pastor Gilberto yang masih memberi makan angsa angsa yang berada di kolam buatan. Burung burung gereja yang berada di pelataran, beterbangan menjauh. Ia membanting jas-nya dan menendang satu kursi taman disana. Ia menangis tersedu sedu dan meluapkan segalanya, Valentino pun duduk di kursi itu dengan menangis menyembunyikan wajahnya, dalam kedua tangannya yang menggenggam jas hitam yang sebelumnya ia lepaskan. Kepalanya tertunduk dan punggungnya terguncang guncang, penuh rasa penyesalan.
Sementara Train disana, mulai tidak enak hatinya ia menduga perkataannya melukai Matthew, "Uncle, lo siento. Apa aku mengingatkanmu pada kekasihmu Madeline?" tanya Train saat melihat Matthew menyeka sudut matanya.
"No. Aku sudah lama melupakannya. Toro, itu seperti nama julukan atau panggilan kesayangan. Dia pasti tampan, setampan dirimu" ujar Matthew tersenyum dengan mengusap punggung Train.
Train tertegun, dan berpikir.
Nama panggilan? Nama julukan? No.. Itu nama Daddy-ku kan, Mommy? Uhss, Aku harus menanyakannya.. Aku akan menghukummu dengan Frente a la pared (menghadap ke tembok), jika Mommy berbohong..
"Train ayo kita pulang, banyak pesanan kopi. Aku harus membantu Penelope" ujar Maria tiba tiba datang dari arah belakang mereka. Dan Matthew menoleh ke arah Maria yang menatap sinis kearahnya.
"Uncle, aku pulang dulu. Mampirlah ke kedai Mommyku di Double P yang berada di sudut jalan Distrik Golden-- Aku senang bisa berbicara dan mengenalmu" ujar Train bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun, Matthew mengenggamnya.
Train menjawab dengan menganggukkan kepalanya, "Si! Dan Mommyku juga seorang guru di Sekolah Esperanza!"
Dan Matthew memutar otaknya, berpikir agar ia bisa berbicara dengan Train dan menemui Leyka, "Wahh! Itu sangat keren!-- Ehm, bagaimana jika aku ikut denganmu ke kedai Mommymu. Kebetulan aku belum minum kopi sejak pagi"
"Bolehh!" Sahut Train dengan cepat dan lantang.
"Train-- tidak boleh mempercayai orang begitu saja! Tidak mungkin orang yang menyukai kopi, dan melewatkannya sejak pagi!" mata Maria tajam menghujam jantung Matthew, dan itu membuat Matthew berdebar.
Dia semakin cantik bila dilihat dari dekat.. Hmm.. Matanya itu membuat gugup saja.. Huuhf..
"Aku baru turun dari pesawat dan aku di jemput oleh sopir dan aku mengambil mobil Mustang dari Mansion Ford untuk berkeliling dan aku tiba disini akhirnya" ujar Matthew bangkit berdiri. Ia merasa gerah dan tidak tenang.
"Seorang Ford datang ke Barcelona?" tanya Maria dengan mata yang mengintimidasi.
Matthew menggaruk lehernya, dengan membalas tatapan mata Maria dan ia buru buru membuang pandangannya, menatap Train dengan tersenyum, "Iya, aku akan menghadiri acara perjamuan makan malam kerajaan Spanyol"
Train membulatkan matanya, dan semakin mendekat kearah Maria yang berdiri disamping kursi dimana Train dan Matthew duduk, dan Train kembali berkicau, "Oohh Noo! Mommyku akan datang. Uncle-- bisakah kau menyimpan ceritaku tadi untuk dirimu saja? Karena identitasku di rahasiakan"
Matthewpun tersenyum, sambil melirik kearah Maria dan menjawab Train, "Tenanglah, aku tidak akan mencelakaimu. Bahkan bila ada yang nakal padamu, aku yang akan menghadapinya!"
"Yeeeaayyy! Gracias Uncle!" Trainpun bersorak sorai, dengan kedua tangan terangkat keatas.
"Trainn-- kata Maria.dan Train buru buru memotongnya.
"Maria dia kawan Mommy yang bertemu di Pretoria! Dia bukan paparazi! Dia Matthew Ford! Salah satu cicit dari Henry Ford! Pemilik mobil Mustang tadi Maria! Uncle-- Train meraih tangan Maria dan di sodorkan kearah Matthew yang sontak membuat Maria dan bahkan Matthew gugup seketika --kenalkan, dia adalah Maria Fernandez!" ujar Train melebarkan senyumnya.
"Ak--Aku Matthew Ford"
"Ma-ria Fernandez"
Mereka berjabat tangan dan Train tertawa cekikikan dengan membungkam mulutnya sendiri, pikiran liciknya kembali muncul dengan segudang rencananya. Adrenalinnya bergerak memacu pergerakan imun (kekebalan tubuh) dalam tubuhnya bergejolak.
Sampai di kedai aku akan membuatkan susu untuk setan cilik ini. Batin Maria dengan mendengus kesal.
"Ehm, Train? Apa kau mau naik Mustang bersamaku dan kau bisa mengajak Tia Maria bersama-- tidak baik kau hanya memanggilnya nama" ujar Matthew membuat Maria, apalagi Train membulatkan matanya.
"Aku akan memanggilnya Tia, bila Maria sudah memiliki Uncle" jawab Train begitu ambigu, kata Uncle yang di tangkap Matthew dan Maria adalah kekasih sementara maksud Train adalah Matthew itu sendiri.
"Tidak perlu! Kau hanya orang asing-- belum sempat menyelesaikan perkataannya, Train buru buru memotongnya seraya meraih tangan Matthew lalu menariknya kearah parkir mobil.
"No Maria! Nooo! Aku mau naik mobil Mustang! Percayalah Mommy akan senang bila aku mengajak Uncle Matt kesana! Vamoss Uncle!" Train terus mempercepat langkahnya, Maria mendengus kesal. Ia memanggil Train, namun tak dihiraukan, "Trainnn!!"
__ADS_1
"Vamoss Maria!" pekik Train, Matthew terkekeh melihat tingkah Train.
"Heii!! Bungamuu!!" Pekik Maria saat melihat bunga di kursi yang Matthew duduki.
"Ehm, untukmu.. Untukmu saja, karena kau mau ikut naik Mustang bersamaku! Aku-- Aku akan mengantarmu!" jawab Matthew dengan berlalu bersama Train. Mariapun menyambar bunga itu lalu menyusul Train yang semakin menjauh dari pandangannya. Hanya kicauan Train yang masih terdengar.
Shiitt.. Trainnn kau ini benar benar-- hissst.. Menyebalkan.. Dasar setan cilik..
"Uncle bagaimana sepedaku!"
"Tenang, Uncle akan mengikatnya di belakang"
"Yeeeaayyy!" sorak Train dengan melompat lompat.
Sesampainya di parkir gereja, Train melihat sebuah mobil yang terparkir disamping Mustang. Mercedes-benz Maybach berwarna hitam.
Bukankah ini mobilnya Uncle Gallaediev? Trainpun tidak perduli, karena Mustang Shelby El Eleonor lebih menyita perhatiannya. Dan Train benar, itu memang mobil Valentino yang di kendarai Jared dan Torres yang telah kembali membawa obat jantung yang di minta Valentino.
-
-
-
Di Kolam Angsa
Tangan yang hangat dan penuh kasih itu, menyentuh lembut pundak Valentino. Dan Valentino seketika menengadahkan wajahnya.
"Kau memanggil Train?" suara itu terdengar menenangkan dan senyum itu membuat hati Valentino merasakan kedamaian. Dari cara berpakaian Valentino sudah bisa menebak siapa yang berdiri kemudian duduk disampingnya.
"Apakah anda Pastor Gilberto?" Tanya Valentino dengan suara serak karena ia terlalu banyak menangis. Dan Pastor itu menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
" Tia Dolores--
"Kau ingin membaca surat Train?" potong Pastor Gilberto dengan tersenyum dan bertutur kata penuh kelembutan.
"Aku aku-- Tia Dolores hanya mengatakan, agar aku menemui anda dan menyebutkan nama lengkap Dolores Fernandez saat bertemu Pastor Gilberto" ungkap Valentino seraya menyeka wajahnya.
"Aku mengerti. Ikutlah denganku. Tapi, siapkan hatimu terlebih dahulu" Pastor Gilberto pun bangkit berdiri, namun Valentino justru masih duduk dengan memegangi dadanya. Hatinya yang hancur bergejolak kembali, bulu kuduknya meremang, aliran darahnya berpacu kian cepat.
Valentino menghela nafas panjang dan memanggil Pastor yang menoleh kearahnya, "Pastor"
"Semua akan baik baik saja. Kau hanya perlu percaya dan meyakininya" ujar Pastor Gilberto dan melangkahkan kakinya. Mau tidak mau Valentino mengikutinya.
Keresahan, kecemasan dan rasa penasaran merejamnya, Valentino tidak tahu harus bahagia ataukah sedih, tapi hatinya kian ciut saat langkah langkah kakinya memasuki ruangan, dimana Pastor Gilberto mengabdikan dirinya sebagai Imam Besar di Gereja itu.
Saat melewati koridor demi koridor, Jared dan Torres melihatnya lalu mereka bergegas menyusul Valentino dengan setengah berlari.
"Masuklah" ujar Pastor Gilberto mempersilahkan dan Valentino beserta budak setan julukan Leyka itu, memasuki ruang kerja Pastor Gilberto.
"Duduklah" Pastor Gilberto mempersilahkan kembali lalu mereka duduk. Pastor membuka laci kerjanya kemudian meraih satu bendel surah Train yang diikat tali yang terbuat dari serat nanas. Pastor Gilberto mendekati Valentino dan duduk, ia kemudian menyerahkan ke tujuh surat Train.
"Aku mengurutkan dan memberi tanggal, saat Train memberikannya padaku. Surat yang pertama yang paling atas dan ini-- Pastor Gilberto, mengambil surat ke delapan Train dan memberinya tanggal juga nomor --ini surat ke delapan" Valentino menerimanya saat Pastor Gilberto memberikannya.
Dengan berdebar debar, Valentino membuka surat pertama Train, ia menyeka hidung dan matanya terlebih dahulu. Dan Valentino membacanya.
Tuhan yang baik, apa kabarmu? Kata Abuella Dolores, KAU mengenalku bahkan sebelum aku dilahirkan.. KAU juga tahu namaku Blue Train Valentino.. Aku dibuat di kereta api dengan route perjalanan terpanjang 27 jam, dari Capetown menuju Pretoria.. Bagaimana aku mengatakannya? Begini.. Kata Pastor Gilberto, KAU bisa mengabulkan keinginan lewat doa, tapi aku lebih suka menulisnya lewat surat karena aku sudah bisa menulis.. Aku tahu KAU bersahabat dengan Pastor Gilberto, karena itu bacalah suratku.. Aku hanya meminta, satu saja.. Buatlah Daddy Toro turun dari kereta api, katakan ada aku.. Katakan padanya, bahwa dia memiliki Putra yang menunggunya.. Bolehkah aku berkenalan dengannya? Bisakah aku bertemu dengannya sekali saja? Aku menunggu jawabanMU.
Train.
Hati Valentino tercabik cabik rasanya. Airmata dari sudut matanya kembali meleleh.
"Bluuueee" ucapnya lirih sambil meletakkan surat Train di meja, ia menangkupkan kedua telapak tangan diwajahnya, yang kembali dibanjiri airmata. Jared menepuk pundaknya dengan mata berkaca kaca. Torres mengusap wajahnya yang telah memerah.
"Bahkan seumur hidupku, Daddy ingin mengenalmu, dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Blue" kata Valentino lirih.
-
-
-
Maafkeun ya Bosque.. karena ada acara pernikahan ponakanku, aku jd bolong2 up nya. Cek IG @authorgendeng.. untuk tau infornasinya.
Kenapa Matthew di hadirkan? Ya karena dia dpt undangan dari Kerajaan dan di Real Life-nya, pada kenyataannya, emang keluarga Ford yg berasal dari Amerika (secara Ford dari sana) dan tinggal di London, memang bersahabat ama keluarga Kerajaan Spanyol. Tapi Juan Carlos sih bukan Felipe. Sampai Juan Carlos memang punya Mustang Shelby El Eleonor, generasinya itu lohhh yang di film Fast and Forius 🤭 Dan susah menggabungkan kenyataan dan kehaluan Novel, karena itulah butuh kopi bertoren2 🤣🤣🤣 (ngapa ujungnya malak maning sih) 🤣
Dan Valentino itu kan dari Italy, dia ga punya akses untuk masuk acara itu yang notabene kerajaan Spanyol. Walopun org berduit ga gampang masuk kesana.. Mau sii ihhh oohhh kek.. ga bisaaa.. Nah, Matthew di hadirkan untuk, membawa Valentino dan Train masuk, tanpa sepengetahuan Leyka. Udah paham ya..
Walaupun sekedar novel receh yg bertele tele, tetep harus masuk akal dong.. 😎😎 🤭🤭
"Zughhh Zughhh.. Bluee Trainn mau lewaatt... Tuuttttt... Vote kopi boleh gak?" tanya Train 🤣
-
-
__ADS_1
-