FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Si Setan Cilik Yang Menggemaskan


__ADS_3

"TENTU SAJA TIDAK, TRAIN! Mereka akan tinggal bersama dan bila mereka tidak mau, mereka bisa ke Divisi Hak Asasi Manusia. Dan aku akan melawannya SAMPAI AKHIR!" ucap Judith dengan penuh penekanan, matanya yang mendelik kearah Leyka dan Valentino seakan menjadi perintah yang harus dijalankan.


Bagus Bluee.. Bukan hanya tiga bulan, tapi SELAMANYA. Valentino.


Hak Asasi Manusia, hak kebebasan setiap individu yang selalu bertentangan dengan Dinas Sosial yang melindungi Hak anak anak. Di dunia barat, itu hanya terpisah benang tipis yang terkadang kusut. Leyka dan Valentino harus memilih, hak kemerdekaannya secara individu ataukah mementingkan kepentingan anak.


Valentino sudah pasti memilih menyetujui, permintaan Train yang notabene Leyka adalah Istrinya. Secara garis besarnya adalah itu yang Valentino inginkan, ia tidak perlu bersusah payah berjuang untuk mendapatkan tempatnya di sisi Leyka.


"Daddy?" suara mungil itu memanggilnya. Valentino berdebar debar, airmatanya mengalir saat Train memanggilnya. Dengan segenap kekuatannya Valentino mendekati Train yang tidak jauh darinya. Valentino menjatuhkan tubuhnya lalu menumpu pada lutut, ia memeluk Train seeratnya.


"Panggil Daddy lagi, Blue!" pinta Valentino terdengar parau, suaranya nyaris menghilang.


"Daddy"


"Lagi" Valentino melepaskan pelukannya, menyentuh setiap inci wajah putranya, menatapnya mata abu abu kebiruan yang berbinar binar.


"Daddy"


"Lagi" pintanya lagi dan Train mengusap usap pipi Valentino dengan merayapi wajah yang belakangan ini Train kagumi. Train pun juga tidak menyangka, ia menambatkan keraguan hatinya, ia menguasai adrenalin yang bergejolak karena ikatan batin itu, kini ada di hadapannya, sedang menangis dan tangan Daddynya seakan memenuhi wajah serta tubuhnya. Seperti membelai bayi kecil yang memang tidak pernah Valentino lihat.


"Daddy, Daddy Daddy Daddy Daddy Daddy! Uhs! Aku lelah!" Valentino terkekeh, bahkan semuanya.


Distrik Miel, sore itu dipenuhi keharuan, di suatu sore yang cerah di balut angkasa semerah saga. Semua berpelukan, menyaksikan kebahagiaan itu. Dolores berpelukan dengan Manuela dan Diego. Alfonso dan Rhosana. Pedro dan Simon. Torres yang tak sengaja berangkulan dengan Penelope, namun buru buru mereka saling melepaskan. Jared bersedekap dengan menyeka sudut matanya. Takeshi lebih memilih memeluk satu botol arak atau sake. Sementara Damian tersenyum menatap Leyka dengan menyeka pipinya yang telah basah. Semua melihat pemandangan indah itu.


Valentino, kembali memeluk Train dan ia bangkit berdiri lalu melambungkan Train seakan melesat ke cakrawala. Ia menjerit jerit. Valentino meluapkan kebahagiaannya dengan lantang, "Il mio amor!! Mio bel figlio!! Sei la mia vita!! Sei il mio respiro!! Tu sei il mio cuore!! Sei tutto per me!!" pekik Valentino, dengan tawa seiring jeritan Train saat Valentino menangkapnya.


"Mommy!! Aaa!! Artinya!! Stopp Daddy!!" Train meminta terjemahannya dengan menjerit jerit.


"Cintaku, Putraku yang tampan, kamulah hidupku, kau adalah nafasku, kau adalah hatiku, kamu adalah segalanya untukku!!" teriak Leyka dengan lantang.


Kau sangat bahagia Leyka.. Bagaimana ini? Sepertinya kau sudah tidak membutuhkanku..


Valentino berhenti melambungkan Train lalu menciuminya bertubi tubi, ia memandangi mata Train dengan penuh keharuan, "Matamu banyak lampu bahkan banyak bintangnya, Daddy akan membuat matamu selalu seperti ini" ujar Valentino.


Train pun menciumi wajah Valentino dan bersorak bahagia, "Daddy Daddy Daddy Daddy Daddy Daddy--- 3 bulan Daddy, bisakah kita--


Valentino memotong permohonan Train, tentang keinginannya untuk tinggal bersama, "Apapun yang kau inginkan. Apapun yang kau mau. Bahkan selamanya. Beribu ribu tahun Blue. Bukan hanya tujuh kehidupan Blue, tapi di ribuan kehidupan, Daddy mau Blue Train. Hanya Blue Train.. Te quiero (Aku mencintaimu)"


Trainpun memeluk Valentino sesaat lalu menoleh kearah Leyka meminta persetujuannya, "Mommy?"


"Tidak! Ini tidak mungkin Train! Bagaimana mungkin kita bisa tinggal bersama sementara dia memiliki istri! Dia memiliki keluarga, Carino. Mengapa tidak berbagi saja. Kau bisa bersama Daddy di siang hingga sore hari, dan kau bersama Momny di malam hingga pagi hari. Kita bertetangga. Jadi kita bisa bersama dan saling berbagi" Semua membulatkan matanya dan saling pandang. Leyka menolak dengan keras persyaratan Train.


Leyka mempunyai Damian dan tinggal bersama, pasti akan menimbulkan gejolak dan juga kecanggungan, itu tidaklah baik. Cinta yang akan membawa luka, Leyka tidak akan mendekatinya sekalipun tubuh dan fisik Valentino, Leyka tidak ingin mendekatinya.


Sontak Train turun dari gendongan Valentino dan berjalan kearah kursi taman, dimana ada tas dan kaleng harta karun. "No! No! No!" ujarnya dengan kesal.


"Trainn!!"


"Nooo! Nooo! Noo!" Leyka memanggilnya, namun dibiarkannya, Train terus berteriak dan bahkan menjerit.


Dolores tak tahan lagi mendengar Train berteriak, akhirnya angkat bicara, "Pachito, bisakah kau mengalah?"


"Tia.. Ini tidak mungkin!" sanggah Leyka secepatnya.


"Valentino Gallaediev, bisakah kau menjelaskan statusmu? Tinggal bersama adalah ide Train, tapi bagaimana dengan keluargamu?" tanya Judith membuat Valentino berdebar, satu saja kesalahannya menjawab Judith, maka rencana Valentino akan berantakan. Ia harus memutar kata.


"Istriku meninggalkanku, Judith kita telah lama berpisah! Aku menjamin tidak akan ada yang datang! Karena hanya dia, satu satunya wanita yang aku cintai!" Valentinopun menunjuk Leyka, dengan tangannya tanpa melihat, matanya fokus pada mata Judith tanpa berkedip.


Ya.. Istriku turun dari kereta itu dan meninggalkanku.. Dia tidak akan datang, karena aku yang datang. Batin Valentino dengan berdebar debar.


"Pembohong! Kau begini karena kau ingin membuatku jatuh" Leyka mendekati Valentino dan menampik tangan yang menunjuk kearahnya, Leyka masih bersikukuh dengan pendiriannya bahwa ia tidak mau menerima persyaratan itu.


"Kau benar, aku akan membuatmu jatuh-- jatuh cinta kepadaku dan setelah itu, kau tidak akan pernah aku lepaskan!" seru Valentino dengan lantang.


"Aku memiliki Damian!" dan Leykapun tak kalah lantang.


"Tia Judith bisakah kita pergi?" suara mungil Train menghentikan pertengkaran itu.


"Blue!" Valentino panik. Baru saja ia mengetahui kebenarannya tapi harus berpisah dengan Train, bila Train ikut Judith.

__ADS_1


Dengan mendekap kotak harta karunnya dan kantong kertas berwarna coklat, berisi uang yang diambilnya dari Pedro, Train menarik tangan Judith dan melangkah pergi.


"Trainn!" Leyka seketika menjadi panik. Begitupun Valentino. Leyka ingin menyusul Train yang baru beberapa langkah di depannya, namun Valentino justru meraih lengan Leyka, dan berlutut dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Leyka, Valentino memohon dengan airmata yang terburai di perut Leyka.


Leyka membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Seorang Valentino kini bertekuk lutut dihadapannya, di saksikan semua orang di Distrik Miel. Valentino sangat takut kehilangan Train lagi, ketakutannya membuat Valentino menangis.


"Leyka, Il mio amore.. Aku mohon, kita tidak punya pilihan-- Leyka, aku mohon padamu. Maafkan aku. Perdonami, Lo siento. Aku akan lakukan apapun untukmu. Apapun itu! Kehidupan sederhana, aku akan berubah Leyka. Aku akan memakan roti tanpa butter, bahkan roti tidak beragi. Aku akan membahagiakanmu, dan juga Blue. Setidaknya mari kita bahagiakan Putra kita Leyka. Hanya tiga bulan. Bahkan kau boleh menjalin hubungan dengan Damian. Kau boleh menyakitiku, sesuka hatimu. Kabulkan saja permohonan Putra kita. Hanya tiga bulan Leyka!"


"Damian" gumam Leyka dengan memandangi Damian yang hanya bisa tersenyum getir.


Leyka menatap nanar ke arah Damian dan bergantian kearah Train yang menghentikan langkahnya dengan mulut terbuka. Tiba tiba airmatanya kembali mengalir.


"Leyka, aku mencintaimu. Ti amo. Te Quiero. Biarkan aku tiga bulan saja memenuhi permintaan Blue. Ley, berikan aku kesempatan. Kau boleh membenciku. Dan aku tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu. Leyka, jangan biarkan Judith mengambilnya dari kita" Leyka menyentuh rambut Valentino, ia pun menundukkan kepalanya melihat Valentino, yang membasahi bajunya. Hatinya tergetar.


"Ley, tidak usah memikirkan aku" Leyka, mengangkat kepalanya dan menatap Damian tanpa bisa berkata apapun. Posisi yang sangat rumit bagi Leyka.


Antara menyingkirkan ketakutan kehilangan Putranya, ia pun juga takut berdekatan dengan Luka. Laki laki asing yang selalu saja melukainya dengan perkataannya, arogannya, bahkan masa lalunya. Sementara Damian sang pembalut luka.


Saat foto Miu dan Valentino datang untuk kali kedua, Leyka kembali terluka. Dia membawa luka itu ke Pamplona ke sebuah acara Festival Banteng. Disana Leyka meluapkan kemarahannya dengan banteng banteng yang dianggapnya Valentino.


Dan disanalah, karena alkohol ia seakan melihat wujud Valentino dalam diri Damian, yang membalut lukanya, yang meniup angin kesejukan, yang memberinya tiang yang kokoh untuk bersandar, dan kini Leyka harus merobohkan tiang itu sebagai sandarannya selama ini. Bagaimana ia bisa berdiri tegak?


Miu, Bagaimana bila Train tahu.. Ini sangat rumit nantinya. Bagaimana aku bisa berdiri dengan kuat, Damian? Ohh Shitt..Tapi, kehilangan Train sama saja aku akan tumbang, siapapun tidak akan bisa membuatku kuat. Train kelemahanku.


Oohh Shitt, aku harus bagaimana, selain mengalah tidak ada pilihan lain. Aku hanya perlu menjaga diriku. Aku harus kuat..


"Damian" suara mungil itu membuyarkan lamunan Leyka, suara itu begitu menenangkan. Leyka kembali menatap Valentino yang juga menatapnya dengan pancaran penuh permohonan, ia tidak menyadari jemarinya membelai rambut Valentino.


"Bangunlah kau tidak boleh seperti ini. Jadilah Valentino yang aku kagumi" Leyka meraih lengan Valentino yang bangkit berdiri dan berhamburan memeluknya. Leyka menyambut pelukan itu selayaknya robot, begitu kaku, dingin dan tidak bernyawa.


Shitt.. Perkataan macam apa ini. Batin Leyka menggerutu.


Sementara mereka berpelukan, mereka mendengar percakapan Damian dan Train.


"Si, Train-- tidak usah meminta apapun. Kau akan mendapatkannya selama tiga bulan" ujar Damian. Train menarik tangan Damian, agar ia duduk dan sejajar dengan pandangannya, dan Damian pun melakukannya.


Train memeluk Damian dengan mengurai airmata, dan Valentino menelan salivanya yang terasa pahit. Ia memandang Damian dari sudut pandangnya sebagai laki laki. Ia mengurai benang kusut atas pemikirannya yang keliru. Sesekali ia melirik ke arah Leyka yang menyeka pipinya.


"Aku pernah bertanya pada Pastor Gilberto apa itu neraka dan apakah tempat itu enak. Kata Pastor, tidak ada yang enak disana. Hanya ada ratapan, airmata dan kertak gigi, katanya sangat menyakitkan. Aku tidak suka menangis karena dadaku sesak, Damian. Aku tahu kau selalu ingin membuat Mommy tersenyum dan tertawa. Dan kau berhasil, tapi tidak ada lampu di matanya. Aku tahu kau mencintai Mommyku dan mencintaiku. Aku tahu kau sayang padaku Damian, tapi Mommy tidak. Mommy selalu berusaha tapi tidak bisa--


"Train" suara terdengar tercekat dan memotong perkataan Train dan membuat Train mengurai pelukannya, ia menoleh ke arah Leyka kemudian.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Mommy. Mirar! (lihat)-- lampu lampu dimatamu ada di kotak harta karunku!" Train meletakkan kantong kertas berisi uang di bawah kakinya dan membuka kaleng harta karunnya. Semua memandangi Train dengan terkesima.


"Mira! (lihat)-- Ada origami berbentuk hati, ini uang kertas 100 dolar, isinya ada cap bibir Mommy. Saat itu Daddy, mengganti uang muka hotel yang sudah Mommy booking saat di Pretoria. Mira! Ini ada dua bunga jacaranda yang telah mengering, satu yang jatuh di Festival Valentine dan yang satu ini yang jatuh di Palace of Justice saat Mommy berciuman dengan Daddy. Aku sudah curiga foto Daddy di kantornya, itu foto Mommy kan?" Vallentino terpukau ia memandangi Leyka dengan airmata yang mengalir.


"Iya Blue, itu Mommymu" mata kebiruan milik Valentino tak berkedip memandangi Leyka sementara yang di pandangi, memalingkan wajahnya menatap tingkah Train yang seakan membongkar segalanya.


"Train" panggil Leyka dengan lirih.


"Mira! Ini batu di freedom pak, Mommy menulisnya dengan huruf-- Uhhs! Kini aku tau, ini sebenarnya huruf V bukan segitiga. Mommy membohongiku, Uhhs-- Uncle Matthew, bagaimana Mommy berteriak? Apakah 'Vall, aku mencintaimu' ataukah 'Toro, aku mencintaimu'? Mana yang benar Uncle, katakan yang sejujurnya. Karena bila tidak aku akan membuat kau dan Maria berpisah!" dan mata sengit itu adalah milik Leyka, saat mengerjap saat mata itu menyipit atau mendelik kesal, itu adalah milik Leyka dengan warna bola matanya seperti milik Valentino.


"Kau mengancamku?" Matthew terkekeh mendengarnya.


"Si! Aku bisa membuatmu bersatu dan aku bisa memisahkan kalian. Tanya saja pada Damian, tanya saja pada Penelope, bagaimana dia dan Ramos berpisah. Tanya saja bagaimana Simon dan Odella berpisah. Tanya saja bagaimana Maria dan--


Maria dengan cepat memotong perkataan Train karena bila tidak, semua orang yang ada di situ dibongkar perlahan satu demi satu, "Cepat berkatalah dengan jujur. Aku sudah mengatakan padamu, dia adalah Setan Cilik tapi sangat menggemaskan" ujar Maria dengan senyuman yang dibuat buat tapi hatinya kesal karena ulah Train.


"Val. Mommy mu berteriak dengan memanggil nama orang yang di cintainya dengan nama Val-- Valentino-- Lo siento, Leyka. Aku baru berkencan dengan Maria. Aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi" ujar Matthew menggedikkan bahunya kearah Leyka yang mengepalkan tangannya.


"Si! Aku telah menduganya Mommy berteriak 'Val, aku mencintaimu!'-- Aku sudah menduganya!" seru Train dengan lantang. Valentino dengan dadanya yang bergemuruh, meraih pinggang Leyka dan mencengkeram tengkuk Leyka, ia memandanginya dengan mata berkaca kaca.


"Bahkan kau telah mencintaiku? Kau telah mencintaiku?" tanya Valentino dengan mengulangnya.


"Itu dulu, Val! Cinta itu pergi seiring salju pertama turun di Barcelona, dan musim semi mencairkannya dan membuat rasa cinta itu pergi dan menghilang" ujar Leyka dengan menatap tegas mata Valentino yang telah menurunkan buliran hangat, Leyka diluar akalnya menyambut airmata itu dengan jemarinya yang merayap lembut di pipi Valentino.


"Mira! Ada benang jahit, ada jarum ada kancing baju. Mommy menjahit kancing kemeja Daddy yang lepas disana. Mommy masih menyimpannya-- Mira! Ada bunga mawar yang mengering, Daddy membelikan di Ludwig's Roses dan Mommy menanam juga dibalkonku. Ini bunga Daisy, ini rantingnya, ini batu di Springbok. Mommy melihat hewan Springbok, dan mitosnya adalah bila melihatnya maka sama saja akan bertemu cinta sejatinya! Si, Mommy melihat ke awan awan saat bercerita dengan mata yang basah"


__ADS_1


Train membuka satu persatu cerita di dalam kaleng harta karunnya, suara itu menjauh. Hanya ada Leyka di hadapan Valentino dan hanya ada Valentino di hadapan Leyka. Suara di kelilingnya senyap padahal Train masih berkicau, tentang banyak hal. Mereka kembali terbang ke taman Springbok dengan lautan bunga Daisy. Leyka berdebar melihat mata Valentino yang menikamnya. Sementara Valentino telah memiringkan kepalanya dan melu*maat bibir Leyka. Mata mereka terpejam dan kembali pada kenangan indah disana.



Val, turunlahh aku melihat Springbok.. Aku menemukan cinta sejatiku, Vall. Leyka mengingat perkataannya di Springbok Park.


Aku membencimu, Pretoriaaa. Dan Valentino mengingat perkataan Leyka. Kini Valentino tahu, saat itu Leyka membenci Pretoria karena ingin menahan perasaannya.


Valentino mengeratkan pagu*tan, ia semakin menekan kuat punggung Leyka, masuk ke dalam pelukannya, tangannya mencengkeram tengkuk Leyka agar pagutannya tak lepas begitu saja. Valentino ingin meluapkan segalanya hingga ia menitikkan airmata, diantara barisan bulumatanya.


Leyka memberi perlawanan, dengan mendorong dada Valentino, tapi Valentino sangat kuat menguncinya.


"Yeaaayy!!! Ahahaha-- Paksa Mommy Paksa Mommy! Itu bagus! Itu bagus!" Train melompat lompat bahagia melihat kedua orangtuanya berciuman. Orang mulai membubarkan diri. Drama itu berakhir, hanya tinggal beberapa gelintir orang dan keluarga Fernandez serta Judith.


Jeritan Train membuat Valentino membuka matanya dan ia tersadar bahwa Leyka meronta sedari awal Valentino menciumnya, ia melepaskan pagu*tan dan Leyka mendorong Valentino.


"Kau menciumku di depan Damian! Beraninya kau!" bisik Leyka dan Valentino kembali meraih pinggang Leyka dan berbalas berbisik.


"Kekasihmu telah pergi, mungkin hanya aku yang menyadarinya" bisik Valentino.


"Damian" Leyka mengedarkan pandangannya dan Damian memang benar benar telah menghilang dari tempat itu.


"Kau akan menjadi Istriku selamanya" bisik Valentino mengarahkan wajahnya ke telinga Leyka.


"Bermimpilah! Perbanyak tidurmu!" ujar Leyka memukul dada Valentino dengan mendengus. Valentino terkekeh dengan memegangi dadanya.


"Mommy! Noo! Jangan memukul dada Daddy! Mom, Daddy terkena serangan jantung. Dia tidak menghilang!" Train menatap tajam kearah Leyka sambil menutup kaleng harta karunnya.


"Apa maksudmu?!" Leyka membulatkan matanya menatap Valentino. Leyka seakan di serang kepanikan yang luar biasa, ia membayangkan Valentino tiada dan itu bisa menghancurkan hati Train. Leyka tak sanggup membayangkannya.


"Aku membaca surat Train dan aku tiba tiba tidak sadarkan diri" jawab Valentino.


"Untung aku memberinya obat jantung, kalau tidak, dia pasti tidak bisa berdiri dihadapanmu Ley, karena itulah setelah pulang sekolah aku langsung pergi, karena dia kabur dari rumah sakit. Dia ingin buru buru menemuimu dan Train" Jared menegaskan namun membuat Leyka semakin panik.


"Apa kau tidak pernah membaca surat Train?" tanya Valentino dengan lirih.


Leyka justru membuka kancing mantel Valentino dengan panik, lalu membuka kemeja Valentino seakan kondisi jantung Valentino bisa dilihat dari balik kemejanya, sambil berkicau dengan kepanikan, "Tangisan Train adalah suratnya, rengekannya, kerinduannya, pertanyaannya, tawanya, tangisnya, senyumnya adalah surat yang selalu aku baca! Mana! Mana jantungmu! Apa semua baik baik saja?! Apakah sakit?! Apakah Dokter menanganimu dengan baik?!" Valentino bahkan semua terkekeh melihat Leyka yang melakukan kebodohan, dan sekarang giliran Leyka untuk pertama kalinya, setelah beberapa kali kebodohan yang Valentino lakukan sebelumnya.


"Apa kau ingin melakukannya disini, il mio amore?" bisik Valentino dengan senyumnya yang khas. Dan tawa Train membuat Leyka tersadar apa yang tengah ia lakukan. Leyka membulat matanya, wajahnya memerah, ia kembali mengancingkan kemeja Valentino lalu Leyka mendorong dada Valentino dan menendang kaki laki laki yang tengah tertawa bersama yang lainnya.


Manis sekali, Istriku.. Sangat menggemaskan. Batin Valentino dengan pikiran liarnya.


"Judith pulanglah! Dan kau setan cilik-- Vamos (Ayo)! Mommy akan mengantarmu ke Gereja untuk memberikan uang itu, sebelum Mommy meratakan tempat ini!" Leyka mendelik kearah Pedro yang tertawa paling keras.


"Astaga! Simon kita mengunci pelanggan di Kedai! Semoga mereka masih hidup!" Ujar Pedro mencoba berkelakar, Train tertawa dan semuanya. Saat mendapat kabar Train kabur, Pedro mengunci pintu begitu saja para pelanggan yang masih menikmati kopi di Double P.


"Pedro! Tutup saja kedainya, siapkan pesta untuk nanti malam! Kita akan merayakan hari indah ini! Pakailah untuk membeli apapun untuk keperluan pesta! Untuk seluruh Distrik Miel-- Valentino menyodorkan kartu Gold setelah mengambilnya dari dompet --kau tau kan, ulang tahun saudarimu? Pin-nya adalah ulangtahunnya" Leyka berdebar mendengarnya, namun ia seolah tak perduli.


"Tentu aku tau, Yeaayy!!" Pedro bersorak dan berlarian bersama Simon, Maria, Penelope dan Matthew mengikuti mereka.


"Mommy, jadi Mommy setuju persyaratanku?" Leyka mendengus kesal, wajahnya masih memerah. Ia kemudian duduk melepaskan tas Train dan memberikan pada Manuella dan juga kaleng harta karunnya. Train tersenyum berbinar kearah Judith dan Judith tersenyum kemudian berlalu pergi setelah berpamitan.


"Kau tahu jawabannya dan kau harus frente a la pared bila sampai apartemen! Karena kau sangat nakal hari ini. Kau membongkar semuanya! Vamos (ayo)!" Leyka menggandeng tangan Train dengan membawa kantong kertas berisi uang. Sesuai janjinya, Train akan memberikan semua celengannya kepada Tuhan. Dan Leyka berusaha memenuhinya.


"Jared bawa Madre dan Padre ke apartemenku! Aku akan menyusul mereka!" Valentino melempar kunci kearah Jared dan Jared menangkapnya.


"Blue, Daddy akan menemanimu saat Frente A la Pared (hukuman menghadap ke dinding)!" Valentino berlarian kearah Leyka dan Train yang telah berjalan meninggalkan tempat itu menuju Gereja. Valentino menyambar tubuh Train dan digendongnya diatas pundaknya. Semua menitikkan aimata kebahagiaan untuk mereka yang perlahan menjauh. Hanya kicauan Train dan tawa Valentino yang terdengar.


-


-


-


Happy Reading Bosqyu.. Vote, Kopi, Bunga boleh diletakkan di mejaku.. 🤩😍😘🥰


-


-

__ADS_1


__ADS_2