
"Dia sangat kereenn.. Woow!" Gumam Train.
"Jadi menurutmu itu keren?" tanya Judith yang ternyata telah berdiri dibelakang Train sehingga Judith mendengar Train bergumam. Train memandangi Judith yang berdiri dengan kedua tangan menaut kebelakang, Train melepaskan jemari yang digigitnya, ia kemudian menggosok hidungnya. Train terdiam.
Si, dia sangat keren, Tia Judith.. Dia marah pada Locki.. Dia ingin menghajarnya.. Bukankah itu artinya dia sangat menyayangiku? Jawab Train dalam hatinya. Judith menghela nafas dalam, Leyka dan Valentino mendekatinya. Namun Train justru mundur dua langkah dan berdiri disamping Judith. Leyka putus asa rasanya, begitupun Valentino.
"Apa kau yakin Daddy yang kau inginkan yang seperti itu? Pemarah dan tempramen? Dan Mommy yang kau inginkan seperti itu? Membohongimu dan terkadang tidak berkata dengan jujur? Apa kau ingin---
"Judith!" Leyka memotong perkataan Judith namun Judith mengangkat telapak tangannya dihadapan Leyka, dalam arti Leyka dilarang menyanggahnya dan disuruh diam.
Judith kembali menurunkan tangannya dan menautkan kembali ke belakang lalu Judith melanjutkan perkataannya, "Apa kau ingin keluarga seperti itu? Apa kau yakin kau tidak bahagia bersama mereka semua, sekalipun mereka semua membohongimu? Apa kau yakin kau ingin ikut denganku?" Train menengadahkan wajahnya menatap Judith, ia merapatkan bibirnya, saat matanya berkedip airmatanya kembali menetes.
Train menyekanya dan terisak, ia pun bertanya kepada Judith, "Apa aku Blue Train sialan? Apakah ada keluarga utuh yang mau menerima Blue Train sialan?" Rasanya Valentino seperti terhempas ombak dan menabrak karang. Leyka mengepalkan tangannya mengingat ucapan Valentino.
"Tidak Bluee! Tidak!" Valentino membentak Train hingga tubuhnya terguncang, Valentino langsung menyambar tubuh Train dan mendekapnya dan dibawanya menjauh dari Judith. Semua panik dan karena Train meronta ronta, memukul menendang dengan menjerit jerit.
"Noo!! Unclee Noo! Aaaa!! Nooo!"
"Val, apa yang kau lakukan?!" pekik Leyka dan Valentino tidak perduli.
"Diev!" pekik Manuella menjadi ikut panik.
"Valentino Gallardiev, kau tidak boleh memaksanya!" pekik Judith menggelengkan kepalanya, entah apa yang akan dilakukan Valentino pada Train untuk meluluhkannya.
"Diamm!! Kalian semua diam!! Terutama kau Judith!" sentak Valentino. Judith tak perduli dan tetap mengikuti Valentino, ia menjaga agar sang Ayah tidak melakukan kekerasan pada anaknya, dan itu adalah tugasnya.
"Val, jangan kasar pada Putramu!" Rhosana pun berseru dengan lantang.
"Aku tahu, Madre!" sang Ibu pun tak luput dari santapannya.
"Nooo! Noo!" Train semakin meronta dan ketika didudukkan dikursi taman. Valentino mengungkungnya, Valentino duduk hingga lututnya menyentuh rerumputan dengan telapak kakinya menekuk dan dijadikan tumpuan bokongnya.
"Ayo pukul Daddy! Pukul Daddy!" pinta Valentino dengan berurai airmata.
"Noo! Aaa!!"
Train semakin menjerit dan meronta, saat tangannya lelah Valentino memeluknya, mendekapnya dengan erat, dengan airmata yang mengalir Valentino menenangkannya, "Diamlah! Bluee! Diamlah! Tenanglah! Daddy disini!"
"Noo.. Nooo.. Noo"
"Perdonami.. Lo siento, Blue. Kau tahu-- kau adalah Kejutan terbaik disepanjang hidupku. Kau tahu ini adalah takdir dan ini adalah Keajaiban. Kau adalah Keajaiban untukku. Daddy tidak pernah mendapatkan kejutan yang sangat istimewa. Kau, Keajaibanku. Bila Keajaiban ini menghilang dari sisi Daddy. Untuk apa Daddy hidup. Kau adalah Keajaiban" Tangan Train yang memukuli bahu Valentino perlahan berhenti.
Dan tangan mungil itu mulai mencengkeram kuat. Seakan tak ingin melepaskan. Valentino menangis bahagia, ia tersenyum dibalik tubuh mungil Train yang dipeluknya dengan erat.
"Dan juga untuk Mommy! Kau adalah Keajaiban untuk Mommy" ujar Leyka duduk disebelah Valentino dan membelai rambut Train yang memiliki warna yang sama seperti Daddynya, ciri khas pria Italy.
"Untukku juga!" ujar Ibu Baptisnya, Manuella.
"Sudah pasti untuk Abuella juga, mi guapo nieto (cucu lelakiku yang tampan), mi nieto es un milagro (cucuku adalah Keajaiban)" ujar Dolores dengan menyeka airmatanya.
"Apalagi Abuello Alfonso dan Abuella Rhosana, melihatmu pertama kali adalah Keajaiban. Karena mio nipotino, membuatku tersenyum" kata Alfonso membuat Train teralihkan.
"Mio nipotino?" gumamnya dan Valentino menjawabnya.
"Itu bahasa Italy, Blue. Artinya cucu laki laki" Valentino menciumi Train, menghirup aroma lembut yang sangat khas.
"Si" jawab Train lirih. Valentino semakin mengeratkan pelukannya hingga Train merasa sesak.
"Kau membuatnya sesaknya nafas, Val" dan Valentino mengurai pelukannya dan menyeka perlahan pipi Train berulang ulang dan menyibakkan rambut Train yang sebagian menyentuh alisnya.
"Si si si (iya)! Untuk kami semua!" ujar Penelope, Simon, Pedro yang saling bersahutan.
"Apalagi untukku, Tuan bangsawan!" Matthew berteriak dan merangkul Maria. Train tersenyum tipis.
"Lihat aku sudah mendapatkan Keajaiban. Aku berkencan dengan Mathhew karena Blue Train yang penuh Keajaiban" pekik Maria dari kejauhan.
"Si" gumam Train tersenyum namun senyum itu tertutup tangannya karena ia menggosok hidungnya.
"Walaupun kau pernah menggigitku, tapi kau adalah Keajaiban karena setiap aku ingin jatuh cinta pada Mommymu yang sexy itu, aku jadi ingat gigitanmu. Karena itu Torres akan menyimpan satu koin dari Blue Train yang penuh Keajaiban. Ini akan aku jadikan jimat keberuntunganku" ujar Torres mengantongi satu uang koin ke dalam sakunya dengan tersenyum. Train mendengus saat Torres mengucapkan kata 'sexy'.
"Ide yang bagus, Abuello juga akan menyimpan satu untuk jimat keberuntungan!" Alfonso pun mengantongi satu uang koin ditangannya dan yang lainnya dimasukkan kedalam kantong kertas yang dipegangi Pedro.
"Ayah juga akan menyimpannya. Karena kau adalah Blue Train yang membawa Keajaiban" Diegopun mengantongi.
"Aku juga, aku akan membawanya kemanapun. Karena Train penuh kenangan saat bersamaku" ujar Damian dan Leyka menoleh lalu tersenyum kearahnya. Damian membalas senyum itu dengan penuh luka. Train melihatnya.
"Aku juga akan menyimpannya" Jared pun tak mau ketinggalan, diiring Pedro, Simon dan juga Matthew.
"Aku menemukan satu, dan aku juga akan menyimpannya!" sahut Takeshi.
Train terdiam, dadanya naik turun tersengguk tanpa airmata, karena Valentino menyekanya berulang ulang. Ia memandangi orang orang di sekitarnya yang menatapnya penuh keharuan. Orang orang yang perduli padanya dari keluarga bahkan tetangganya.
__ADS_1
Dan akhirnya tetangganya meminta satu persatu uang koin Train bahkan Mommy dan Daddynya juga Judith. "Oh No, uang koinku bisa habis. Aku mau memberikan tabunganku untuk Tuhan" ujar Train dengan suara lembutnya.
Valentino mencium Train lalu bangkit berdiri, Ia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan semua uang pecahan kertas tanpa menghitungnya, "Ini sebagai gantinya satu uang koin milik Mommy dan Daddy"
"Ini juga! Tenang aku banyak uang, Blue Train" ujar Jared dan Torres mengikutinya. Semua orang disitu akhirnya menggantinya dengan pecahan uang kertas dengan berbagai macam nilainya. Tersenyum. Train tersenyum ketika kantong kertas yang dipegang Pedro dipenuhi uang kertas.
Valentino duduk kembali dihadapan Train dan menggenggam tangan Train, "Jadi, kau bukan Blue Train sialann.. Itu karena Daddy salah mengucapkannya, karena Daddy sangat marah. Apa kau mau memaafkan Daddy?"
"Jadi kau turun, Uncle? Bagaimana Capetown Town Square?" pertanyaan Train membuat Valentino tercengang, ia memandangi Jared dan Torres sekilas. Train bukan menjawab pertanyaan Valentino justru bertanya hal yang tidak seharusnya.
Valentino kemudian tersenyum dan menjawab, "Uncle Jared yang mengundang semua orang yang berkepentingan dipembangunan itu ke Italy. Daddy turun Blue.. Daddy turun, untuk Mommy. Daddy dideportasi karena membuat seorang petugas terluka"
"Mengapa kau menghajarnya?" suara mungil itu terdengar serak karena ia terlalu banyak menangis.
"Daddy berlarian dari tangga dengan dua koper, lalu koper itu jatuh, seperti kau menjatuhkan celengan, semuanya terburai, sangat berantakan. Daddy berlari dan menabrak orang orang yang berjalan. Lalu Daddy berkelahi dengan orang yang Daddy tabrak dan petugas melerai tapi justru terkena hantaman Daddy hingga pingsan!" cerita Valentino dengan menciumi tangan Train.
"Wow---
"Ehemmm!" Judith berdehem memotong perkataan Train, Judith tahu train akan mengatakan bahwa berkelahi itu keren. Judith berusaha mencegahnya memberi peringatan. Karena tidak baik bila seorang anak kecil menyukai perkelahian.
"Kenapa wow? Teruskan" pinta Leyka.
"Woww, itu tidak keren" ujar Train melirik Judith yang tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya. Valentino dan Leyka mengerti. Mereka berdua tersenyum bersamaan.
"Setelah Abuellomu mengeluarkan Daddy dari penjara, Daddy terbang ke Barcelona dan membawa-- Ahh iya, foto itu kau membawanya" Valentino mengurai tas ransel Train yang masih melekat dipunggungnya, Train menurut karena ia juga penasaran apa yang akan dilakukan Valentino.
Valentino mengeluarkan vigura foto Quote yang pernah diambilnya dari kereta api The Blue Train lalu memberikannya pada Leyka 8 tahun yang lalu, namun sayang sekali Leyka tidak pernah menerima.
Valentino membuka vigura itu dan mengambil sepucuk surat untuk Leyka beserta kartu namanya. "Seharusnya, surat ini, terlihat sedikit sudut amplopnya, agar Mommy-mu bisa melihatnya. Daddy tidak memasukkan semuanya. Sepertinya sudah ada orang yang membacanya dan memasukkan semua agar tidak ditemukan dan dibaca-- Hmm, tidak apa apa. Bacalah yang keras Blue" pinta Velentino setelah menyerahkannya.
Shitt, Damian yang menempellkan didinding bersama Train.. Train sangat pintar seharusnya dia menyadarinya.. Damian apa yang telah kau lakukan. Batin Leyka.
"Daddy menulisnya saat dipenjara" imbuh Valentino. Train membuka amplop itu, lalu membacanya,
Dear Leyka,
Aku selalu memikirmu. Di penjara ini. Kau tahu aku dipenjara, Peach. Ceritanya sangat panjang. Jika kau penasaran kau akan menghubungiku. Karena aku dipenjara di Italy. Aku di Deportasi. Kau mengganggu tidurku, Peach. Peluit kereta api itu begitu nyaring memenuhi kepalaku, seakan memanggilku untuk kembali naik kesana dan mengulang kisah kita selalu disana.
Peach, kereta itu adalah saksi kisah indah kita. Dua orang asing dalam pelarian dan jatuh cinta. No, tepatnya aku jatuh cinta padamu Peach. Entahlah dengan dirimu. Aku ingin datang padamu setelah keluar dari penjara ini. Peach, Aku sudah merindukanmu, sesuatu yang indah akan menantimu dan itu aku. Aku akan membawa kenangan kita dari Pretoria menuju Barcelona. Peach, maukah kau menikah denganku?
Ada kartu namaku, dan bila kau menghubungiku itu artinya kau menerima lamaranku. Aku akan terbang kembali kesana secepatnya. Jangan pernah melupakan Blue Train dan Pretoria, karena disanalah kisah cintaku yang akan aku ingat selamanya dan akan aku bawa sampai mati.
VALENTINO GALLARDIEV "TORO"
Valentino memandangi Leyka yang berlinang airmata, Valentino menyekanya. Mereka saling bertatapan, rasanya Valentino ingin memeluknya. Dan rasanya Leyka ingin menangis berhamburan kedalam pelukan laki laki yang, dahulu membuatnya selalu menginginkannya.
"Mana kotak harta karunku! Dimana Dimana Dimana!" Train membuyarkan tatapan kedua orangtuanya itu. Train panik, ia hanya memikirkan uang koin yang berjatuhan, ia melupakan kotak harta karunnya.
"Ada bersama Ibu" ujar Manuella dengan tersenyum dan mengulurkan kotak harta karun miliknya.
"Gracias" ujar Train masih dingin dan Manuella menitikkan airmata. Ia sedih melihat Train seakan membencinya.
Diego kembali memberi pelukan, "Putra kita masih marah, dia membenciku" isak Manuella dengan berbisik. Diego hanya menghela nafas panjang dan mengusap usap punggung Manuella dengan penuh cinta yang menguatkan. Train tidak mau melihat secara langsung karena ia bisa melihat dari ekor matanya.
Train membuka kotak harta karunnya lalu mengambil kartu ucapan yang ia simpan. "Kau dan aku tak terhentikan seperti The Blue Train. Aku akan menyimpannya bersama surat ini, aku akan mengingat kalian" ujar Train membuat Leyka membulatkan matanya begitupun Valentino.
"Bluee--
"Train itu artinya.. Artinya kau masih ingin berniat ikut Tia Judith dan meninggalkan kami?" Valentino terdiam karena Leyka mewakilinya.
"Kau membohongiku, Mommy! Kau selalu mengigau ditengah malam. Kau memanggil Val Val Val Val! Itu bukan Valak. Tapi itu Valentino! Seperti namaku! Kau mengatakan Daddyku bernama Toro!" Train meledak ledak dengan mata berkaca kaca, ia masih sangat terluka.
"Lalu lihatlah surat itu Carino. Toro. Daddy menulis Toro. Itulah panggilan kesayangan kami berdua" ujar Leyka di benarkan oleh Valentino.
"Mommy membohongiku! Bahkan kalian semua!" pekik Train.
Leyka mendorong Valentino agar bergeser dan Leyka duduk berhadapan dengan Train, Leyka mencoba memberi pengertian, "Carino, untuk itu maafkan Mommy dan semuanya. Mommy tidak membohongimu, Mommy ingin melindungi hatimu"
"Kau tahu-- Leyka meraih tangan Train --Ada yang mengatakan bahwa ruang hati manusia sebesar telapak kiri yang mengepal seperti ini-- Leyka membuat jemari Train mengepal dan diletakkan ditelapak tangannya --ruang hatimu sangat kecil, sangat lembut dan mudah hancur. Karena hatimu belum kuat" Leyka memberi pengertian dan Train menyimak dengan baik.
"Si"
"Lihatlah Carino, sangat kecil-- Leyka mengangkat kepalan tangan Train agar Train melihatnya --Sangat lembut --dan Leyka mengusap tangan itu dengan jari telunjuknya-- Untuk itu Mommy dan seluruh keluarga Fernandez harus melindungi, ruang hati ini karena sangat berharga. Ruang hati ini harus selalu menciptakan kebahagiaan, karena Judith bisa mengambilnya dari Mommy" Leyka menangkupkan kedua tangannya, menutupi telapak tangan mungil yang masih mengepal kedalam genggamannya.
"Jika ini hancur-- Leyka mengeratkan genggaman tangannya dan menatap Train dengan lembut --Mommy bisa menangis. Hari ini airmata Mommy masih bening. Tapi jika kau pergi, Maka-- Leyka kembali menangis.
"Maka akan mengeluarkan darah" Train menyambung perkataan Leyka.
Dan Leyka mengangguk meneruskan perkataannya, "Si, Mommy akan menangis darah--
"Hingga semua darah Mommy habis" Train mulai berlinangan airmatanya dan Leyka menyekanya.
__ADS_1
"Dan Mommy bisa tiada"
"No Mommy" lirih Train sambil terisak.
"Tapi jika Train mau ikut Tia Judith, Mommy bisa apa. Tidak ada yang memainkan lagi rambut Mommy-- Leyka menyeka pipi dan hidungnya --Mommy akan memotong rambut Mommy, seperti Penelope" Leyka menangis tersedu dan Valentino kali ini memeluknya.
"Aku tidak akan membiarkannya, Peach!" kata Valentino mengeratkan pelukannya, dan Leyka membiarkannya, ia menumpahkan airmatanya di dada Valentino.
"Tidak ada Train yang akan memijat kakiku lagi, kakiku akan bengkak seperti kaki gajah" ujar Dolores dengan menangis pilu. Train menoleh kearah Dolores lalu kembali menatap Leyka yang tersedu di pelukan Daddnya.
"Kita tidak usah menikah. Tidak ada yang memegangi ekor gaunku" ujar Manuella dengan bercucuran airmata.
"Kau benar, tidak ada yang mengantarkan cincin, untuk apa kita menikah" imbuh Diego dengan memeluk Manuella.
"Tidak ada yang bertanya tentang negara Jepang lagi. Ini sangat bagus. Padahal aku akan bercerita pesta teh dan tata cara meminum teh ala Jepang. Ahh.. Padahal aku suka bercerita. Tidak ada yang mau mendengarkan ceritaku kecuali Train" Takeshi.
"Padahal aku akan memberikan Mustankku saat Train berulang tahun ke 18. Karena itu hadiah untuknya, karena Train aku mendapat sesuatu yang bernilai dalam hidupku" Matthew menatap Maria dan Maria meneruskan perkataan Matthew, "Sayang sekali dia memilih keluarga yang lain" Maria menyeka airmatanya dan Matthew memeluknya.
"Tidak ada yang membantuku memberi makan parkit parkitku" ujar salah satu tetangga.
"Tidak ada yang meminta gendong. Ya, itu lebih baik. Dan tidak ada yang mengalahkanku dalam main game lagi" Pedro.
"Tidak ada yang mengkritikku, tidak ada yang mengawasiku. Aku bisa bersenang senang dengan laki laki mana pun! Yeeahh!" Penelope bersorak dan Train mendengus.
"Tidak ada yang mengganggu anjingku lagi" Tetangga yang lain ikut berkomentar.
"Tidak ada yang mengatakan aku cengeng. Tidak lagi yang akan mengatakan masakanku lezat selain setan cilik itu. Kita semua akan kehilangannya Penelope" Simon tersedu dan Penelope terkekeh lalu merangkul Simon yang masih menggunakan celemeknya. Saat berlarian ke Distrik Miel, Simon lupa melepasnya.
"Tidak ada yang menghalangiku lagi berkencan. Aku bisa menghibur My Baby, dan membawanya ke Jerman. Tenang Baby, aku akan membuatmu bahagia dan tidak akan menangis darah!" ujar Damian membuat Train bergejolak.
"No Baby Baby! Uhhs!" Train yang tadinya diam, ia bereaksi dengan kesal. Valentino tersenyum dengan hati yang teriris.
"Ini sangat menguntungkan, kau ikut saja keluarga yang lain. Aku bisa dengan bebas merayu Mommymu yang 'sexy'! Aku Torres yang tampan, akan merebutnya dari Damian! Yeah!" Torres bersorak dan Jared menyikutnya.
"Aaw Jared! Aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku jatuh cinta pada Leyka saat melihat artikel demontrasinya!"
"Jared!! Apa kau bisa membungkam mulut Torres selamanya!" Valentino justru bereaksi yang mengejutkan hingga Train terkejut dan Leyka sontak melepaskan diri dari jeratan pelukan nyaman itu.
"Kalau mencari mati, sebaiknya di negara kita. Jangan di negara orang!" Jared menarik kerah Torres sementara Torres hanya terkekeh.
"Padahal aku mengirimkan satu set miniatur kereta api dari Italy ke Barcelona. Kemungkinan besok datang. Kita akan memberikan kepada siapa Rhosana?" tanya Alfonso dan Train mendengus.
"Kepadaku, Abuello! Uhs!" Train bersedekap seperti biasanya, Leyka melihatnya dengan penuh binaran kebahagiaan. Karena Leyka tahu Putranya mulai luluh.
Dan seorang pegawai membawa sebuah ikan badut dengan ukuran besar, disana Jared terlihat sedang menelepon mengarahkan pegawai itu.
"Ini yang anda pesan, Senor" ujar pegawai itu.
"Marlin akan sendiri. Karena Nemo memilih keluarga lain. Sebaiknya kau bawa pergi. Percuma ikan itu disini. Kau bawa pergi saja, Maaf sudah merepotkanmu" ujar Valentino membuat hati Train bergejolak.
"Noo Daddy Nooo! Nooo! Daddy!" pekik Train, membuat Valentino terbelalak, bahkan semuanya turut membuka mulutnya kemudian tertawa tersenyum bahagia.
"Trainn apa kau bilang, Carino? Kau memanggil Daddy?" tanya Leyka dengan berurai airmata.
"Si Mommy.. Jangan menangis darah Mommy.. No Mommy.. Noo.. Lo siento!" Dan memeluk Leyka seketika dan meledakkan tangisnya. Judith pun tersenyum dengan segala kelegaannya, ia menyeka airmata dipipinya. Bahkan semua merasa lega, merasa bahagia penuh keharuan.
Leyka membalas pelukan itu dan menciumi putranya, Valentino meneteskan airmata melihatnya, kakinya seakan terpaku, mendengar Train memanggilnya 'Daddy', hatinya rasanya melompat diketinggian, tak terkatakan betapa bahagiaannya Valentino saat ini.
"Sesungguhnya aku masih ingin selalu datang. Dan menikmati cake red velvet buatan Abuelamu Train. Tapi jika kau masih ingin ikut denganku, aku bisa membelinya ditempat lain walaupun rasanya tidak enak" Judith menegaskan. Train berhenti menangis dan beringsut dari pelukan Leyka dan menghampiri Judith.
"Apa aku merepotkanmu Tia?" Judith tersenyum dan duduk menyamakan tingginya dengan Train. Lalu memeluknya.
"Tentu saja tidak. Itu adalah tugasku. Tugasku memastikan semua anak dikota ini selalu bahagia. Aku akan melepasmu, Train. Aku akan datang sesekali meminum kopi dan menikmati red velvet"
"Tiaa Tiaa Tiaa.. Kau terbaik.. Aku menyayangimu!" Train mengeratkan pelukannya. Airmata Judith kembali meleleh.
"Si, aku juga menyayangimu. Berbahagialah" ujar Judith mengurai pelukannya, lalu ia menyeka pipinya. Ia membelai dan mencium kening Train lalu bangkit berdiri.
Saat ingin beranjak pergi Train menghentikannya, "Tidak semudah itu Tia Judith!"
"Hah? Apa lagi?" Judith memiringkan kepalanya dan menghela nafas panjang, ia pikir semua sudah berakhir tapi ternyata setan cilik itu belum merasa puas.
"Apa aku boleh meminta hak-ku sebagai ANAK untuk selalu merasa bahagia?" semua saling melemparkan pandangannya.
"Tentu saja boleh" Judith mengerutkan alisnya.
"PERINTAHKAN, Mommy dan Daddyku. Hidup bersama dalam satu atap bersamaku. Aku ingin merasakan bersama mereka selama tiga bulan. HANYA TIGA BULAN! Bila mereka cocok mereka bisa bersama selamanya. Bila tidak, mereka boleh berpisah. Setidaknya aku pernah merasakan seperti apa tinggal bersama kedua orangtuaku, bila mereka memang tidak cocok dan berpisah, itu akan aku jadikan sebagai kenangan terindahku. Apakah aku berlebihan?" Judith tersayat mendengarnya. Leyka sontak berdiri dengan membulatkan matanya, begitupun Valentino. Mereka menegang, terutama Leyka.
"TENTU SAJA TIDAK, TRAIN! Mereka akan tinggal bersama dan bila mereka tidak mau, mereka bisa ke Divisi Hak Asasi Manusia. Dan aku akan melawannya SAMPAI AKHIR!" ucap Judith dengan penuh penekanan, matanya yang mendelik kearah Leyka dan Valentino seakan menjadi perintah yang harus dijalankan.
Bagus Bluee.. Bukan hanya tiga bulan, tapi SELAMANYA. Valentino.
-
-
__ADS_1
-