
[ Disarankan : Mohon searching lagu Bon Jovi yang berjudul ALL ABOUT LOVING YOU di You*tube dan lihat videoclipnya, sebelum membaca bab ini ]
...♡♡♡♡♡...
...Pretoria Railway Station...
Disebuah sudut Lounge untuk menunggu keberangkatan kereta The Blue Train, seorang laki laki terlihat lusuh, dengan menyandarkan kepalanya di sofa dengan mata terpejam dan berselimutkan jaket kulit, sampai ke dadanya. Dua koper terlihat di sampingnya. Dua botol bir kosong sisa semalam dengan secangkir kopi yang masih hangat terlihat dimeja. Valentino Gallardiev, terlihat lelah dan terlebih dahulu sampai di Lounge keberangkatan kereta api The Blue Train. Suara samar samar Leyka terdengar lembut dan rasa kantuknya menyerang hingga ia tidak sanggup membuka matanya. Ia berpikir ini hanya mimpi.
"Aku telah mengurus tiketmu yang hilang, kau tidak perlu menabrak petugas lagi" Leyka terkekeh saat Helbert mengacak rambutnya.
"Leyka, aku serius. Kontrak kerjaku dan Damian 5 tahun. Bila kau ada kesempatan ke Paris kau harus menghubungi aku" Henry pun memeluk Leyka dan mendapat sambutan yang hangat dari teman masa kecilnya walaupun hanya dua kali bertemu kala itu. Pertama saat Ayah Leyka meninggal dan kedua saat peringatan satu tahun kepergian mendiang Ayah Leyka.
"Entah kapan aku kesana lagi, terakhir 5 tahun yang lalu, tapi aku pasti akan mampir bila kesana. Aku akan mengirimkan emailku nanti" Leyka mengurai pelukannya dan menepuk nepuk lengan Henry.
"Uncle, terima kasih atas segalanya. Akan aku sampaikan salammu nanti untuk Bibi Dolores. Aku akan sangat merindukanmu. Suatu hari nanti aku akan mengunjungimu. Kau harus tetap sehat dan menjaga badanmu. Jangan bekerja terlalu letih, Uncle" Leykapun memeluk Helbert dengan erat penuh keharuan. Helbert dan Henry mengantar Leyka sementara Rhamona dan Damian menunggunya di luar, Rhamona mengantar Damian membeli souvenir yang berada di luar stasiun namun masih di area Pretoria Railway Station.
"Ohh My sweet Pachito. Seandainya Henry tidak berjodoh dengan wanita Inggris itu, aku ingin sekali kau menjadi menantuku" Helbert mengecup puncak kepala Leyka dan mengurai pelukannya, Leyka hanya tertawa sumbang mendengarnya.
"Tidak, Vader. Aku bukan tipenya. Dan aku tidak suka gadis bar bar namun cengeng" Leyka tertawa sambil memukul lengan Henry hingga Henry meringis menahan sakit.
"Ley-- Lihatlah" Helbert menunjuk kearah sudut lounge itu dan Leyka menoleh kemudian ia membelalakan matanya. Ia melihat Valentino yang tertidur disudut ruangan itu dengan mata terpejam, hatinya berdesir lembut, sekujur tubuhnya terserang hawa dingin seketika. Detak jantungnya kembali tidak beraturan dengan wajah yang pias.
"Baiklah Uncle aku akan langsung masuk ke kereta saja"
"Kalau dia macam macam dan menyakitimu, tolong katakan padaku!" ujar Henry dengan mengertakkan jemarinya yang mengepal hingga berbunyi. Leyka tersenyum melihatnya.
"Henry, sudahlah. Aku tidak ingin membuat keributan dan di deportasi ke Palma. Rencanaku ke Barcelona bisa gagal-- Baiklah aku pamit" Leyka kembali mengulas senyumnya dan membawa kopernya berlalu.
"Bicara saja baik baik" Helbert kembali mengacak rambut Leyka dan membiarkan Leyka berlalu dari hadapannya dengan senyum pahit yang sangat dipaksakannya. Matanya berkaca kaca menatap kearah Helbert dan putranya Henry yang melambaikan tangan ke arahnya.
Decit koper itu menyusuri ruang boarding dan melewati Lounge khusus penumpang The Blue Train. Mata Valentino terbuka saat mendengar koper itu perlahan menjauh. Ia menyesap kopinya dan meneguk seluruhnya. Ia meregangkan otot lehernya yang seakan kaku. Di saat itulah Valentino melihat Leyka. Walaupun dari belakang ia mengenali Leyka.
"Leykaaaa?--- Valentino membulatkan matanya dan buru buru meletakkan cangkirnya. Secepat kilat ia mengenakan jaketnya dan menyambar dua kopernya dan berlarian menyusul Leyka --Leykaaaa!! Leykaaa!!" Leyka menoleh dengan wajah kemerahan, ia hanya tersenyum datar saat petugas memeriksa pasport dan visanya. Ia melangkah ke arah kereta api The Blue Train yang telah menunggu para penumpangnya.
Sesaat Leyka melemparkan pandangannya kearah kereta di hadapannya dengan gerbong yang begitu panjang. Keramahan, kehangatan para petugas menyambut para penumpang termasuk Leyka, dengan senyum bersahabat. Karpet merah dengan rangkaian bunga terlihat berada dipintu masuk kereta disisi kiri dan kanannya.
Entah kerinduan atau kenangan, entah Afrika Selatan atau Pretoria, entah perkataan Valentino atau keegoisan laki laki itu, perasaan Leyka seakan diaduk aduk. Leyka buru buru menyeka airmatanya sebelum berjatuhan. Karena ia mendengar dan mengenali suara langkah kaki yang berlarian kearahnya dengan memanggil namanya. Seiring semaraknya lagu khas Afrika terdengar penuh semangat menggema di seluruh gerbong kereta api The Blue Train.
"Leykaaa!" Leyka terdiam di ambang pintu, tanpa melihat kearah Valentino yang menyambar kopernya dan meletakkan di trolley bersama dua kopernya yang dibantu petugas. Leyka terdiam tanpa melawan, karena dalam hatinya ia pun merindukan sosok laki laki dengan wajah kusutnya yang tengah sibuk melepas jaket kulitnya dan diselipkan di handle kopernya. Valentino menyerahkan tiketnya dan menggenggam erat jemari Leyka.
Merekapun dipersilahkan naik, dan Valentino menggandeng tangan Leyka dengan setengah menyeretnya. Valentino berjalan dengan cepat mengikuti petugas yang membawa kopernya dengan trolley barang, ia seakan ingin cepat sampai kamarnya. Jantung Leyka berdetak tak karuan. Berulangkali ia menghela nafas panjang dan sesekali Valentino menatap mata Leyka dan ia selalu mengalihkan pandangannya.
Setelah sampai dan memasuki kamarnya, Valentino melepas genggamannya dan membantu petugas meletakkan semua barang barang mereka dan berlalu pergi setelah Valentino memberikan tip. Valentino menutup pintu dan menguncinya, ia berjalan kearah Leyka yang masih berdiri terpaku mencengkeram ujung jaketnya.
Valentino melepas tas ransel yang ada di punggung Leyka, benih bunga mawar dari Ludwig's Roses berada di dalamnya. Satu bunga rontok dan hanya terlihat dua kuncupnya. Daun daun itu terlihat layu namun masih terlihat segar dan hidup. Valentino meletakkan di meja dan melepas jaket Leyka kemudian. Leyka tidak mampu menatap mata Valentino yang tanpa berkedip memandanginya. Valentinopun melemparkan jaket Leyka di sofa panjang yang terletak di kaki ranjang lalu memeluk Leyka seeratnya.
Leyka tidak sanggup berontak, Leyka tidak mampu melawannya. Ia lebih memilih membenamkan wajahnya di dada Valentino yang seakan meraup tubuhnya dengan penuh kerinduan.
"Ley! Aku mencarimu dari semalam! Aku mengetuk semua pintu hotel! Dari semua kelas Hotel-- aku mencarimu! Mengapa kau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal langsung padaku! Aku tidur di lounge Blue Train, karena kau pasti akan melewatiku" enggan rasanya Valentino melepas pelukannya, sementara Leyka seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Pengakuan Valentino membuat lututnya bergetar seakan tak mampu menopang tubuhnya.
Suara parau Valentino begitu menyayat hatinya, ia hanya terdiam, hanya mengucurkan airmata dan terisak dengan tubuh yang terguncang karena sesak di dadanya, tangisan tak bersuara itu begitu melukai hati Valentino. Dada Leyka naik turun, nafasnya tersengal dengan tertahan, suaranya tercekat, ia ingin berteriak namun tidak bisa. Valentino kalang kabut dan membopong tubuh Leyka ke ranjang.
"Leyka, maafkan aku" Valentino meletakkan Leyka di tepian ranjang, dengan tertunduk dan meremas baju, tangannya mulai berkeringat. Valentinopun bergegas memberinya air minum, ia perlahan menyeka pipi Leyka dengan mata berkaca kaca.
"Menangislah Ley, dengan bersuara lepas" ujar Valentino dengan suara lembut.
"Ti..tidak" isaknya dengan suara yang sangat dipaksakan. Leyka butuh dorongan untuk melakukannya, ia berusaha melepaskan tangisnya, semua suaranya bila menangis tertahan di tenggorokannya.
"Pukullah aku. Tamparlah aku lagi. Aku pantas mendapatkannya" Leyka hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Peluklah aku kalau begitu. Aku merindukanmu, Ley. Apa kau merindukanku?" saat Valentino merentangkan tangannya Leyka memeluknya. Dan pelukan itu adalah jawaban. Valentino mendorong tubuh Leyka ke ranjang, lengan kekarnya menjadi bantalan kepala Leyka. Wajah Leyka terbenam di ceruk lehernya.
Valentino membelai lembut rambut Leyka kemudian. Memberi kenyaman dan ketenangan. Leyka masih mengunci mulutnya dengan mata terpejam, dan perlahan lahan ia mengatur nafasnya seiring irama detak jantungnya.
"Kau.. Men..mencariku?" tanya Leyka lirih.
"Iyaa, Il mio amore" jawab Valentino setengah berbisik seraya membelai rambut Leyka.
"Ke semua hotel?" tanya Leyka lagi.
"Hemm-ehm" jawab Valentino semakin mengeratkan pelukannya. Leyka terdiam, namun jemarinya menekan kuat punggung Valentino, seakan ia ingin membeku dipelukan itu.
"Aku bodoh, kenapa aku tidak terpikir ke rumah Paman Helbert? Aku sangat bodoh, Leyka-- Apa itu tadi anaknya?"
"Namanya Henry-- Kau melihatnya?"
"Hanya sekilas. Seandainya aku ingat, aku akan menyusulmu kesana. Aku sangat panik seperti orang gila. Aku minta maaf, Leyka" mereka saling memiringkan tubuhnya dan berhadapan saling berpelukan sarat dengan kerinduan. Padahal baru satu malam mereka berpisah.
"Henry akan menghajarmu, bila kau ketahuan menyakitiku" Leykapun mengurai pelukannya, rasa sedihnya menguap begitu saja.
"Aku rela babak belur, aku pantas mendapatkannya, Ley" lembut, namun penuh penyesalan, itulah yang terucap dari mulut Valentino yang terdengar manis. Entah berapa kali Leyka terluka namun hatinya kembali luluh. Apakah Cinta sebia*dab ini?
Leyka meletakkan telapak tangannya di pipi Valentino, dan mengusap usapnya lembut dengan jemari tangannya. Mereka saling menatap dengan penuh kelembutan, tatapan yang meneduhkan hati, tatapan yang berbicara tentang puisi kerinduan.
Hati mereka penuh debaran saat sayup sayup terdengar, lagu Afrika yang memenuhi gerbong kereta api berakhir dan diganti dengan lagu yang mendunia. Sebuah lagu dari Bon Jovi dengan judul All About Loving You, menggetarkan hati mereka seakan menandai arti perasaan mereka yang sesungguhnya. Mereka mengingat videoclip lagu itu yang pernah menduduki nomer 1 chart top 10 dunia, videoclip itu pernah di putar di Wallstreet New York bahkan di Las Vegas, dan membuat takjub bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan di seluruh dunia pernah memutarnya di tempat iconic dunia. Sebuah adegan lamaran ekstrem dengan terjun dari ketinggian sebuah gedung yang tinggi, dimana semua penonton mengira itu adalah adegan bunuh diri.
"Ley" Bait itu lirik itu, membuat Valentino mengerjapkan matanya, serasa kehangatan, tapi pedih menerpa matanya dan seakan lirik itu menamparnya.
"Va--Val" nyaris berbisik Leyka memanggil nama Valentino yang terbungkam, telinganya menangkap jelas lagu itu. Dan Leyka sangat tersiksa dengan keadaan itu. Mata Valentino mengatakan penuh Cinta, Leyka cemas. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan bila Valentino mengatakan Cinta padanya.
Bukan hanya mengelilingi satu blok yang di ibaratkan, bahkan mereka berdua mengelilingi Pretoria, kenangan itu berputar dikepala mereka. Nafas mereka berdengusan kasar namun serasa hangat.
"Ley, aku-- Valentino melihat Leyka samar samar menggelengkan kepalanya, dan matanya kembali berkaca kaca. Leyka tahu Valentino ingin mengungkapkan perasaan cintanya ---aku.. Aku mencintaimu, Leyka" bisik Valentino membuat airmata Leyka mengalir hangat menyentuh tangannya yang menangkup dipipi Leyka dengan jarak yang saat dekat.
"Ti..dak" Leyka semakin memperjelas gelengan kepalanya, suaranya begitu lembut, lirih terdengar seiring lagu itu melantunkan lirik yang memilukan.
"Jangan"
"Leyka, aku mengingingkanmu lebih dari sebelumnya" bisik Valentino sambil menyeka arimata Leyka.
"Ja..jangan" bisik Leykapun dengan tergetar lidahnya.
"Mengapa?" pertanyaan Valentino nyaris tak terdengar, suaranya parau melihat Leyka menggelengkan kepalanya lagi dan lagi.
"Aku milik Diego dan kau hanya melihat Rebecca dalam diriku" dan sudut mata Valentino itu telah basah, ia menyadari bahwa kesalahannya tidak terampuni.
"Leyka, aku tidak--
"Val, kita hanya berlari mengelilingi Blok itu dan tidak kemanapun. Kenangan ini hanya akan berputar disini. Tidak kemanapun" Valentino terdiam sementara lagu itu terus berputar.
Semakin memiliki makna mendalam, lagu itu menguras hati mereka. Orang asing yang terjebak dan terus berputar dalam labirin yang tidak menemukan jalan untuk pergi.
"Aku mencintaimu.. And makes me want you, more than before, Leyka!" (dan membuatku menginginkanmu lebih dari sebelumnya). Di bait itu, Valentino meraih tengkuk Leyka dengan lembut, dipandanginya sesaat wajah Leyka. Seperti merekam dalam pikirannya dan tak ingin ia lupakan.
"Val"
"Ley"
Merekapun saling menautkan bibir mereka. Meluapkan cinta yang tidak akan pernah bertepi. Cinta orang asing, yang tidak mungkin bersatu. Cinta yang justru akan memisahkan mereka. Diantara lagu yang bergema di seluruh gerbong kereta api The Blue Train, Valentino melu*mat bibir Leyka, iya terus menekan tengkuk Leyka.
Sementara gadis Spanyol itu telah melingkarkan kedua tangan di leher Valentino, dan menautkan kakinya dipinggang pria Italy itu. Mereka terus bergumul dengan panas, membelai dengan ero*tis, menyesap meresapi bagaimana lagu itu mengatakan dan berbicara di iringi desahan nafas mereka, yang memanggil jiwa yang saling merindukan.
Biarkan lagu itu mengatakan isi hati mereka masing masing, kadang lagu dijadikan pesan agar tersampaikan isi hati manusia. Lewat kata yang tidak terucap, lewat ungkapan hati yang tak tersampaikan. Lagu yang berkumandang itu, melukiskan cinta yang dipagari keraguan, bahkan sebuah penghinaan dengan dua prinsip yang berseberangan. Satu benua namun berada di belahan negara yang berbeda dan tidak sejalan.
__ADS_1
"Ley, Aku benar benar mencintaimu" bisik Valentino, setelah melepas luma*tannya.
"Val--
"Aku ingin selalu bersamamu, Leyka" Mereka saling memandang dengan penuh perasaan, Leyka memiringkan kepalanya dan Valentino kembali melu*mat bibir mengarah kepadanya. Seiring lagu itu berkumandang, seiring jemari mereka saling mengurai balutan pakaian mereka yang berlapis, helai demi helai.
"Vaaalll"
"Hmm?" Leyka mendorong wajah Valentino dengan kedua tangannya yang menangkup di rahang kokoh itu, dan memandanginya. Mata mereka beradu, masing di iringi lagu yang menggema di gerbong yang bersandar di bantalan rel kereta api, menunggu kehadiran para penumpang yang akan menuju ke Capetown.
"Jawablah, bila kau harus memilih. Mana yang akan kau pilih-- Valentino menunggu dan mendorong wajahnya semakin mundur --bila kau menjadi seseorang yang bijaksana. Dan atas nama CINTA, mana yang akan kau pilih. Menyelamatkan satu kehidupan atau membunuh satu kehidupan. Ingat, atas nama CINTA. Mana yang akan kau pilih?" kembali mata Leyka berkaca kaca, kehangatan menyelimuti matanya, kegetiran kembali ia rasakan.
"Apa yang terjadi? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
"Val, jawab saja. Aku mohon jawablah"
Valentino menghela nafas panjang dan membelai pipi Leyka, menyibakan rambut yang berkeriap menutupi daun telinganya.
"Aku akan memilih-- MENYELAMATKAN SATU KEHIDUPAN ATAS NAMA CINTA" ujar Valentino dengan lantang.
"Aku mengerti" Leyka tersenyum penuh keharuan dengan hati yang teriris sebilah belati.
"Apa Diego sekarat? Apa karena itulah kau akan menikah dengannya?" Valentino menduga duga
"Val, mari keluar dari Neraka ini Val. Diego cinta pertamaku. Kembalilah pada Rebecca. Jangan pernah menginjakkan kakimu di Barcelona. Kita hanya orang asing yang berkeliling dan berputar di Neraka ini, Pretoria" airmata Leyka yang mengalir seiring lagu yang melantun, membuat hati Valentino mencekam.
"Leyka aku--
"Aku tidak bisa mencintaimu. Karena, Cinta butuh kerendahan hati. Cinta bukan kesombongan. Cinta HARUS ADA SESUATU YANG LEBIH DARI SEKEDAR RASA NYAMAN, Cake Red Velvet menantimu"
"Ley--
Leyka membungkam mulut Valentino dengan luma*tannya. Dan menarik lengan Valentino agar tubuh telanjang itu menindih tubuhnya yang tidak terbalut apapun juga. Lagu terus berputar dan hampir berakhir.
"Aku benar benar mencintaimu, Leyka. Tidak ada siapapun. Hanya mencintaimu" bisik Valentino masih tidak menyerah, seiring bait terakhir All about Loving You milik Bon Jovi berkumandang. Leyka sangat tersentuh tapi jawaban Valentino dan niat terbesarnya, menyelamatkan satu kehidupan sangatlah kuat. Lagi lagi Leyka harus menghancurkan hati Valentino bahkan hatinya sendiri.
"Jangan buang buang waktu, Val. Karena waktuku tinggal satu jam"
"Apa!" mata Valentino membulat seketika.
"Val--
"Waktu kita 27 jam lagi, Leyka!"
"Tidak, Val. Aku tidak turun di Capetown. Tapi di Johannesburg. Tambo International Airport, aku akan terbang ke Spanyol dari sana. Aku mengubah jadwal penerbanganku tanpa kau tahu. Sejak pertengkaran kita yang berakhir di klinik, saat kau membuang cincin itu dan aku mencarinya semalaman. Apa kau ingat?"
"Ley..kaa? Satu jam lagi?" Remuk sudah hati Valentino. Dengan menindih tubuh Leyka ia mencengkeram kuat sprei menahan amarahnya, ia tidak ingin memaksa, ia tidak mau menyakiti Leyka lagi. Valentino sangat kecewa, harapannya pupus sudah. 27 jam dalam benaknya kini tersisa 1 jam berada di kereta api The Blue Train.
Lagu itu selesai diputar, dan pengumuman jam keberangkatan berkumandang. Valentino mendengus kasar dan menatap kearah jendela yang masih tertutup tirai transparan.
The Blue Train mulai merayap perlahan, meninggalkan PRETORIA. Hati mereka tergerus. Mereka keluar dari Neraka terindah. Pretoria nan eksotis. Kenangan itu kembali memenuhi benak mereka, sering nafas yang saling berkejar. Valentino kembali melampiaskan kekesalannya, namun Leyka sangat menikmatinya.
Selamat tinggal, Pretoria.. Aku sangat Mencintaimu.. I Love You so much, Pretoria.. Leyka.
Selamat tinggal, Pretoria.. Aku sangat membencimu.. Kenangan itu akan aku tinggalkan disini.. Tidak akan pernah aku bawa.. Aku akan terus melangkah, menginjak duri ilalang.. Kau hanya duri ilalang bagiku, Leyka Paquito.. Gadis Bar bar yang kejam dan aku laki laki yang kejam, arogan, sombong, anggap saja aku seperti itu.. Karena memang kau hanya sekeping roti tidak beragi dan aku RED VELVET.
Kebencian dan nafsu, mengembara liar memenuhi hati Valentino. Kekecewaannya atas keputusan Leyka begitu menghancurkan hatinya. Valentino terus mencumbu dengan mata terpejam, tidak sekalipun ia membuka matanya. Ia tidak ingin mengeluarkan buliran airmata.
-
-
-
harap kentang... harap kentaaang!! 🤣 eh tenang
Ini bijian! Ini bijiaaannn! 🤣 eh ujian 🤣
__ADS_1
ada 3 bab ONe Hour ya.. Kenapa? Karena ini kunci saat di Barcelona. Dan beneran, lihat videoclipnya bon jovi, aduhhh memeleet deh benaran 🤣 videoclipnya merontohkan bulu sumpah dah 🤣 aku rekomendasiin bgt deh. Nyesel kl ga liat. soalnya bikin emess teles (bas..aahh) 🤭🤣
jangan harap ada kreji up, kalian tuh ga bs dipercaya, kl kreji up tuh likenya ga rata, biarkanlah wajahku saja yg rata, untung dada enggak 🤣 kadang maen scrol jd lupa kaya aku gt lahh, kl baca komik. kdg inget kdg enggak. Ya udah gete aja.. jangan lupa vote dan hadiah di OD aja dan raih rangking umum 20 besar ada hadiah menantimu!! Jangan lupita yey *ngondek 🤣🤭