
"Itu artinya dia adalah-- Damian tidak sanggup meneruskan perkataannya, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
"Damiann! Tunggu! Aku bisa menjelaskan-- Damian!" Leyka berlarian menyusul Damian, baru akan meraih tangan Damian, Leyka terjatuh.
"Aaaaaww! Aaaa Shiitt!!" pekiknya dengan meringis kesakitan dan berhasil membuat Damian berbalik kearah Leyka dan menolong sang Kekasih hatinya.
"Leykaa!! Apa kau baik baik saja!"
"Aaaaa!! Sepertinya kakiku terkilir dan jempol kakiku berdarah! Aaaaww, Shiitt!!" Leyka terus meringis kesakitan.
"Ayo aku akan membawamu pulang" Damianpun menggendong Leyka yang terus meringis menahan sakitnya.
-
-
-
Masih di Taman
"Damian menggendong Mommymu? Mereka tidak bertengkar? Mereka tidak berpisah? Mau kemana mereka?!" kata Valentino saat melihat Damian menggendong Leyka dari kejauhan.
"Ooohh Nooo, Uncle! Rencana kita gagal!" pekik Train mengundang perhatian semua keluarga Fernandez. Mereka semua mulai berbisik! Pedro dan semuanya menatap sinis kecuali Maria dan Dolores.
"Uncle!! Ayo kita menari saja!" Trainpun menarik tangan Valentino dan membawanya ke tengah taman dimana orang orang sedang menari disana. Train bersorak, melompat lompat penuh tawa, sementara pikiran Valentino terbang kemana mereka berdua akan pergi. Bayangan Leyka dan Damian bercinta di dalam mimpinya kembali menghantuinya.
Disisi lain,
BRAAKKKK!!
Pedro menggebrak meja di samping pemanggang dengan menancapkan pisau di talenan kayu. Ia mendengus kesal.
"Jadi laki laki itu! Kita harus mengusirnya dari Distrik ini!" kata Pedro dengan lantang.
"Aku akan membantumu menyeretnya!" kata Simon menepuk pundak Pedro.
"Hei, sebelum kalian berbuat sesuatu terlalu jauh dan melewati batas, lihatlah tawa cucuku. Coba lihatlah! Apa kalian semua bisa membuatnya tertawa seperti itu? Jangan ikut campur, Leyka meminta kita untuk diam. Dan kalian semua jangan pernah menghilangkan tawa cucuku itu, itu saja permintaanku" ujar Dolores kembali meletakan sosis di tungku pemanggang.
Mereka melihat tawa Train, tawa bebas lepas dengan mata yang berbinar binar, rasanya ia tidak tega menghilangkan keceriaan itu.
"Si (iya) Tia Dolores" Mereka menjawab bersahutan. Termasuk Pedro juga Simon.
-
-
-
Di Apartemen Lantai 7
"Jadi saat itu, saat malam terakhir kita di Pretoria. Itu adalah dirimu? Aku ragu ragu mengenalimu. Karena saat aku melihatmu malam itu di rumah Henry, aku dalam keadaan mabuk. Dan paginya saat kita berkenalan kau sendirian, tidak bersama laki laki itu. Jadi aku pikir kau bukanlah wanita yang sedang berciuman di Palace of Justice. Kita hanya berkenalan sekilas. Lalu kita lama tidak bertemu lagi, jadi aku tidak ambil pusing dan aku tidak perduli" ujar Damian sambil melepas tali flat shoes Leyka.
Damian menurunkan Leyka dari gendongannya di balkon, di kursi malas yang berada disana. Leyka meminta Damian untuk membawanya ke balkon. Musik masih menggema dibawah sana. Angin masih berhembus, membawa kelopak kelopak mawar itu berguguran.
"Oughh Shitt!! Ini sakit sekali" Leyka masih meringis kesakitan.
"Kenapa kau sangat bodoh, kenapa harus berlari?"
"Damian, aku bermaksud mengatakannya malam ini, aku meminta Manuella dan Diego merahasiakan dulu darimu, aku akan mengatakannya langsung padamu. Aku juga tidak tahu mengapa dia datang, tapi dia membangun gedung telekomunikasi di sebelah sekolah Train dan aku rapat kemarin karena dia merelakan gedungnya untuk anak anak. Locomotive Machine, semua setuju memindahkan anak anak kesana dalam waktu satu minggu" kata Leyka menggigit bibirnya menahan sakitnya, kuku ibu jari kakinya nyaris terkelupas.
"Locomotive Machine, tentu saja. Fotoku banyak di beli oleh perusahaan itu sebagai hadiah untuk para koleganya. Shitt!! Dibalik kesuksesanku ternyata-- Apa Train, tau dia adalah-- lagi lagi Damian tidak sanggup meneruskan, tenggorokannya tercekat, hatinya sangat sakit. Berjuta ketakutan dan pertanyaan muncul di benaknya.
"Tidak, bahkan dia juga tidak tahu bahwa Train adalah Putranya. Aku menyembunyikannya karena dia sangat menghinaku saat aku ingin mencoba mengatakannya. Dia mengatakan hobiku bersenang senang dengan pria Asing. Pe*cundang itu benar benar menyebalkan! Aku membencinya. Dia benar benar merendahkanku. Dia tidak berubah sama sekali. Aku pernah menceritakan bagaimana dulu kami berpisah kan? Kau lihat tadi? Dia sangat arogan dan menyebalkan! Dia sangat bisa membuatku seakan berhenti bernafas hanya dengan dia mengingatkan kisah sialan itu di Pretoria! Shitt!! Aaw, ini sakit sekali Damian!" tanpa sadar Leyka membuat Damian teriris, namun ia masih bisa tersenyum untuk menyembunyikan lukanya.
"Membuatmu seakan berhenti bernafas?" tanya Damian dengan pandangan nanar, ia tersenyum kecil dengan menahan luka. Leyka tidak menyadari, bahwa gerutuannya justru mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Leyka sangat terluka dengan mengingat kisah mereka.
Bukankah itu berarti kau masih tidak bisa melupakannya? batin Damian menelan pahit salivanya.
"Si (iya).. Sshh, ini sakit sekali" Damian terhenyak, lalu ia berlalu mengambil kotak medis yang berada di lemari kaca, ruang tengahnya.
"Jadi dadamu sesak saat mengingatnya?" tanya Damian sambil membuka kotak medis dan memeriksa luka Leyka.
"Si (iya) Damian si (iya)-- Aaaw! Sshh, ini sepertinya akan lama sembuhnya" gerutu Leyka masih meringis kesakitan.
"Itu karena kau tidak bisa melupakannya" Damian menarik kursi dan duduk, ia kemudian membersihkan darah di sekitar luka dengan sangat hati hati.
"Damian-- Maksudku bukan seperti itu. Aku.. Aku bukan sesak karena tidak bisa melupakan tapi aku-- Ahh, bagaimana aku menjelaskannya" Damian kembali tersenyum, mendengar kegugupan Leyka.
"Leyka, mungkin Henry benar. Seharusnya aku mendengarkannya. Mencintaimu akan berakhir buruk" ujar Damian menatap nanar luka itu.
"Damian--
"Leyka, sebaiknya kau mengatakan yang sebenarnya kepada Train" ia pun menghentikan aksinya membersihkan luka di kaki Leyka, karena Leyka telah menegakkan sandaran duduknya dan meraih tangan Damian agar lebih mendekat kepadanya.
"Aku takut Train terluka dan kecewa. Valentino bahkan menghinaku saat itu. Bagaimana bila Valentino tidak bisa menerima Train, bukankah itu akan menyakiti Putraku? Apa kau mau melihat Train terluka? Damian aku mohon, biarkan Valentino menyadari dengan sendirinya bahwa Train putranya. Biarkan mereka dekat dan terikat, sehingga Valentino bisa menerimanya" Leyka meletakkan dahinya di dada Damian, ia tertunduk lesu lalu Damian membelai rambut Leyka dengan lembut. Sesekali ia mencium puncak kepala itu dan mengusap lembut punggung Leyka, sikap Damian selalu menenangkan.
"Bagaimana bila kau salah. Apakah Train akan memaafkanmu bila tau kau berbohong padanya?"
"Maka biarkan aku yang menanggungnya" Leyka mengangkat wajahnya dengan mengerutkan keningnya, ia merasa lelah dan sedih.
"Leyka, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya Damian sambil membelai pipi Leyka dengan lembut.
"Aku?"
"Kau dan dia, Ley" Leyka mendorong perlahan dada Damian dan mendengus. Ia menegakkan posisi duduknya dan melemparkan pandangannya kearah rimbunnya bunga mawar dari Ludwig's Roses yang memenuhi pagar balkonnya.
"Ehm-- Aku.. Aku membencinya. Aku Kekasihmu dan akan selalu seperti itu" kata Leyka tanpa menatap mata Damian. Dan Damian kembali tersenyum menutupi lukanya.
"Ley, jangan memaksakan dirimu. Kau tidak akan pernah bisa menemukannya, di dalam diriku" kata kata Damian seketika membuat mata Leyka memerah, ia kembali menyandarkan kepalanya di dada kekar itu.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana? Membuang segalanya apa yang telah kita lewati? Damian-- Selama dua tahun ini, kau selalu menjadi bagian dari diriku dan Train. Aku membutuhkanmu, Damian. Aku tidak bisa menjalani ini sendiri saja bersama Train-- Aku bahkan tidak tau tujuannya, kau dengar sendiri kan? Valentino memiliki Istri dan kita semua tahu dia juga memiliki seorang putri. Aku juga tidak tahu bagaimana bila Valentino tahu kalau Train putranya, pecu*ndang itu bisa saja memisahkan aku dan Train"
"Damian, sejak Rebecca mengirimkan foto Miu, saat aku mengandung Train 9 bulan, aku telah mengubur semua perasaanku di rumah sakit itu. Saat itu Train lahir, tepat dimana salju pertama turun di Barcelona. Miu berusia 3 bulan, matanya seperti mata Train dan itu milik Valentino. Aku sangat terluka, tapi bukankah aku telah menyelamatkan satu kehidupan?" Airmata Leyka mengalir hangat. Damian meraih dagu Leyka dan mengarahkan kepadanya. Damian menatapnya lekat lekat.
"Ley, aku hanya bisa mencintaimu dan Train. Selebihnya aku tidak bisa, karena dia Ayahnya. Bahkan Ayah yang selalu dinantikannya. Ley, ini akan sulit. Apapun itu, mereka berdua sangat berhak untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan aku berhak untuk mundur" Damian tersenyum, namun matanya kian memerah, ia menyeka airmata Leyka dengan lembut lalu mencium kening Leyka.
"Damian, tetaplah bersamaku. Aku mohon. Apakah aku membebanimu?" kata Leyka nyaris berbisik, ia memejamkan matanya. Jiwanya benar benar bersandar sepenuhnya kepada pria Jerman yang selalu menemaninya dan menjadi luapan keluh kesahnya.
"Tidak Baby, tapi menjauhi kalian adalah beban yang sangat berat. Aku mencintai kalian, walaupun Train sulit menerima kehadiranku"
"Damian" Leyka memeluk Damian dan sambutan pelukan Damian tidak kalah hangat malam itu.
"Baby-- Aku mencintaimu"
"Aku juga, Damian" senyuman Damian dengan mendengus lembut selalu saja terdengar di telinga Leyka. Ia tidak tahu sesungguhnya Damian sangat keberatan dengan jawaban Leyka.
Dari dulu kau tidak pernah mengatakan cinta padaku, kau hanya menjawab 'aku juga'. Aku tahu Leyka, sulit bagimu untuk mencintaiku, dan kau bersusah payah untuk itu. Aku tidak bisa menuntutmu, karena bersamamu sudah cukup bagiku.. Aku tahu, resiko ini dari awal..
"Aku tidak tahu apakah sekarang ini kita bisa terus seperti ini. Kehadirannya akan merubah segalanya bila Train dan Ayahnya tau kebenarannya"
"Kita akan tetap seperti ini" Leyka beringsut dari pelukan Damian dan kembali menengadahkan wajahnya menatap teduhnya mata Damian.
Damian tersenyum, wajah mereka sangat dekat, hidung mereka bersentuhan. Damian memiringkan wajahnya, Leyka menangkupkan tangannya di pipi Damian dan tersenyum, hembusan nafas mereka begitu hangat menerpa bersahutan dan rasa ingin mencium bibir sensual itu begitu menguasai Damian. Namun Leyka memekik keras.
"Ooohh Shiiitt!! Aaaww Damian, kau menyentuh kakiku! Aaaw!" Dan jarak itu terurai seketika. Leyka memegangi kakinya dan ia sangat kesakitan.
"Ohh Sorry sorry Leyka! Apakah sakit?" Damian Panik, ia tidak sengaja menghimpit kaki Leyka dengan bokongnya karena ia ingin menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Leyka.
"Sangaaatt! Aaaww!" Leyka memukul lengan Damian dengan kesal, Damian terkekeh melihatnya.
"Aku akan merendam kakimu dengan air hangat, agar higienis. Aku akan mencucinya sebelum aku menyiramnya dengan alkohol dan cairan antiseptik. Mungkin saja sepatumu banyak kumannya" Damian pun berlalu dengan hati penuh debaran.
-
-
-
Sementara itu Valentino dan Train menaiki lift, mereka tergesa gesa dan tidak banyak kata. Leyka di gendong Damian dan menghilang dari pesta, itu membuat mereka resah. Mata mereka menajam, alis mereka berkerut. Mereka kesal. Mereka berjalan menyusuri koridor apartemen setelah keluar dari lift. Sesampainya di pintu apartemen, suara yang tak lazim terdengar.
Aaaahhh.. Shitt.. Damian.. Aahh.. Ini nyaman sekali..
"Boy, tutup telingamu dan menjauhlah" Trainpun menurut, ia mundur sejauh mungkin hingga mencapai dinding apartemen Valentino.
"Itu Mommy kesakitan, Uncle" kata Train dengan menyandarkan tubuhnya di dinding dengan menutup telinganya. Dan Valentino menempelkan telinganya di pintu dengan hati yang memanas.
Ley, apakah nyaman? Apakah enak Baby.. Valentino mengerutkan alisnya, masih menajamkan pendengarannya.
Aahh.. Enak sekali.. Tapi.. Aahh.. Ini perih, Damian..
"Shit!!" desis Valentino kesal.
Baby, satunya lagi sekalian.. Menurutlah.. Ini akan membuatmu nyaman.. Enak kan?
"Sakit, perih-- Memangnya sebesar apa? Tidak ada yang lebih besar dari milikku" gumam Valentino kesal.
Ini sudah terlalu basah.. Bersiaplah Baby.. Ini Akan sedikit sakit.. Bila kau tidak kuat, kau bisa menggigit ini
Aahhh.. Tunggu.. Huuuhhff.. Aku mengambil nafas dulu.. Ahh.. Berhenti membuatku geli, Damian..
Rasa geli akan mengalihkan rasa sakitmu, Baby..
"Basah, bersiap, sedikit sakit dan geli? Apa yang Leyka gigit?" gumam Valentino semakin kesal dibuatnya. Nafasnya memburu dengan menahan amarah. Matanya kemerahan seakan menyala nyala.
"Uncle, itu Mommy kesakitan-- Aku panggil Mommy saja" ujar Train kembali mendekati Valentino dan menggaruk lehernya, ia sudah terasa lelah.
"Bukan, itu bukan kesakitan dan jangan dipanggil kita akan menangkap basah mereka-- tutup telingamu, Boy!" bisik Valentino penuh penekanan dan membuat Train menyerah.
"Uhhss" Train mendelik dengan menutup telinganya walaupun ia masih bisa mendengar sayup sayup jeritan Leyka.
"Kau tidak punya kunci cadangan, Boy?"
"No" jawab Train sambil menguap.
"Kita akan memergoki mereka, bagaimana caranya ini" Valentino berpikir keras, ia menempelkan kembali telinganya dan mendengar aktifitas di dalamnya.
"Buka saja seperti detektif!" ujar Train memberi ide.
Damiann tunggu.. Ini pasti sangat perih.. Sshhh.. Aaahhhh..
Lihat aku, jangan lihat kebawah, Baby..
Ahhh Damiann..
Kukumu menyakitiku, Baby..
"Bagaimana ini?!" dan Valentino semakin panik, pikirannya semakin kacau.
"Cepat buka seperti detektif, Uncle!" pinta Train tak kalah berbisik. Ia marah karena mendengar Damian memanggil Leyka dengan sebutan 'Baby'.
"Mundurlahh!" Train mundur dan Valentino mundur beberapa langkah, mengambil jarak yang untuk mendobrak pintu itu. Train membulatkan matanya, saat Valentino sekuat tenaga menghempaskan tubuhnya ke pintu itu sekuat tenaga. Train menutup mulutnya.
Aaaaaaaa.. Sakiittt...
BRAAAAAKKKK!!!
Pintu terbuka dan engsel terlepas, parahnya pintu itu nyaris lepas semua dengan posisi miring. Satu engsel bawah masih mengikat pintu itu, dengan cepat Valentino menegakkan pintu itu dan mencari sumber suara. Valentino terbelalak matanya bahkan Leyka juga Damian sangat terkejut, akan kehadiran Valentino dan Train dengan cara mendobrak pintu.
"Kaliaannn?! Apa yang kalian laku-- eehhh. Ehmm, kau kau.. Kalian.. Sedang apa? Kau?" Valentino terpana melihat sebuah baskom di kaki Leyka dan Damian memegangi alkohol di tangannya. Kotak medis terlihat di dekat Damian, wajah Leyka memerah karena menahan sakit dan meluap amarahnya melihat ulah Valentino.
__ADS_1
Shiitt! Leyka terluka.. Ternyata kakinya terluka.. Ini.. Ini tidak seperti yang aku bayangkan.. Oohh Shitt.. Aku pikir mereka sedang.. Sedang bercinta..
"Astagaaa!! Kauuu!! Kau merusak pintukuu!! Gallardiev! Apa yang kau lakukan di apartemenku!" pekik Leyka dengan mata melotot kearah Valentino.
"Aku sudah bilang Mommy terluka!" ujar Train mendengus dengan kesal, ia memperlihatkan wajah cemberut kearah Damian.
"Itu aku-- Train yang menyuruhku membuka dengan cara detektif" kilah Valentino membuat Train menggeleng gelengkan kepalanya. Sementara Damian terpana dan hanya menyaksikan perdebat itu, pikirannya justru memperhatikan kemiripan Valentino dan Train dengan hati yang terluka.
Aku pernah berjanji padamu Train. Bisakah aku menepatinya? batin Damian.
"Uhhhss! Si (iya), seperti detektif, yang memakai jepit rambut atau kawat lalu di masukan ke lubang kunci lalu sedikit sihir maka pintu akan terbuka" Train menepuk dahinya dan berjalan kearah Leyka dengan mendengus.
"Boy, detektif yang sesungguhnya mendobrak pintu" Valentino mendengus kesal, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"No-- aku melihatnya memakai jepit rambut!" bantah Train membuat Valentino merasa bersalah dan tentunya kalah.
"Kau benar benar keterlaluan Gallardiev!" ujar Leyka dengan lantang.
"Maafkan aku! Aku akan memperbaikinya!"
"Sekarang!! Kau perbaiki pintu itu! Atau kau akan memegangi pintu itu sampai pagi!" ujar Leyka dengan terengah engah, kekesalannya sangat memuncak karena ulah Valentino.
"Si si si (iya iya iya)! Karena banyak orang jahat, yang bisa masuk. Dan pintu itu kau rusak, Uncle! Uhhss!" ujar Train memprovokasi.
"Iya baiklah aku akan memanggil orang untuk memperbaikinya tapi setelah-- membalut kakimu!" Valentino membuka mantelnya dan berjalan kearah Leyka, semua tersihir melihatnya.
"Apa-- Apa yang kau lakukan?" Leykapun membelalakan matanya saat Valentino duduk berjongkok, Damian terpana dengan menggenggam alkohol di tangannya.
"Diaammm!! Ini harus cepat kau bisa infeksi!" ujar Valentino mengejutkan dan membuat Leyka terkesima dengan membuka mulutnya. Namun Train justru tertawa kecil, ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
"Boy, ambil air minum buat wanita siluman ini" ujar Valentino kelepasan dengan ucapannya tanpa ia sadari, Train terkekeh dan berlalu mengambil air minum seperti perintah Valentino.
"Antiseptik" Valentino meminta pada Damian dan Damian mengulurkan apa yang Valentino minta untuk mengobati kaki Leyka.
"Kau--
"Diammm!" sentak Valentino lagi dengan mata garangnya dan Leyka tidak bisa berkata apa apa, Valentino melakukannya dengan cepat, hingga membuat Leyka dan Damian seakan tersihir.
"Kapas" pinta Valentino. Damian tersenyum tipis dan memberikan kapas. Setelah menuangkan antiseptik ke kapas, Valentino meletakkan kapas itu pada ibu jari kaki Leyka, kemudian sedikit demi sedikit Valentino menuangkan cairan antiseptik itu hingga meresap ke dalam luka. Dan Leyka menjerit dengan menjambak rambut Valentino dan menggoncang goncangkannya.
"Aaaaaaaa! Sakitt bodohh!! Aaaaaw!" Valentino meringis karena Leyka menjambaknya sangat kuat.
"Mommy apa sangat sakit?" tanya dengan membawa segelas air minum.
"Traaainn.. Sakit sekali, Sshhh..Huuhh!" jawab Leyka dengan meringis. Valentinopun mendekatkan wajahnya, ia menggenggam kaki Leyka dengan kuat lalu meniup ibu jari kaki Leyka perlahan lahan. Valentino meniupnya dengan menatap tajam kearah mata Leyka, ia mengusap usap kaki Leyka dengan penuh perasaan.
Hati Leyka tergetar, Damian menelan pahitnya pemandangan di hadapannya, debaran dihati Leyka muncul meluruhkan kekesalannya dan rasa sakitnya. Train menutup mulutnya karena ia ingin bersorak melihat semuanya itu, senang karena ulah Valentino dan senang karena ia sedikit demi sedikit bisa memisahkan Damian dari Leyka tanpa memainkan trik.
Seandainya Uncle adalah Daddyku.. Seandainya dia mau menggantikan Damian.. Aku menyukainya.. Tapi, kata Ayah dan Ibu baptisku, dia bisa saja jahat..
"Perban" pinta Valentino dan itu mengejutkan Leyka, ia mendengus dengan bernafas lega. Seakan terbebas dari kungkungan mata Valentino yang memenjarakannya.
"Plester"
"Gunting"
"Obat penahan rasa sakit" ujar Valentino kembali menatap mata Leyka dan menguasainya. Damian mengulurkan permintaan Valentino dan Leyka merasakan kecanggungan saat Valentino menyuapkan satu butir obat penahan rasa sakit. Sikapnya yang tiba tiba dengan mata yang mengintimidasinya membuat Leyka tidak sanggup berkata atau bersikap apapun.
"Boy, air minum" Train dengan lincah mengambilkan air minum yang ia letakkan di meja lalu Valentino meraihnya dan memberikannya kepada Leyka.
"Aku akan menghubungi pegawaiku, tapi bila tidak ada jawaban maka aku akan mengerjakannya besok. Aku akan menunggu pintu dan menginap disini. Aku akan tidur di sofa" ujar Valentino bangkit berdiri dan meraih ponselnya yang ada di mantelnya. Train bersorak.
"Apa kau tidak takut tidur di apartemen wanita siluman, Uncle? Bagaimana kalau Mommy menggigitmu lagi. Bukankah kau mengatakan bahwa kau di gigit wanita siluman? Jadi pasti itu Mommyku" dan semua terdiam membeku untuk sesaat, seperti tersihir. Namun Train justru tertawa renyah.
Shitt! Anak ini! umpat Valentino dengan wajah memerah.
"Ehhm-- Ehh. Tidak perlu. Kekasihku akan menginap disini" ujar Leyka dengan canggung, Damian membaca situasi itu, ia menghela nafas panjang kemudian.
Iya salahku sendiri, Henry.. Salahku sendiri tidak mendengarkanmu.. Kini aku tahu rasanya, mencintai Leyka sama saja mendekati Luka.
"Ley, besok jam 04.00 pagi aku harus ke Stadion Camp Nou. Jadi aku harus berada disana sebelum jam 04.00. Aku akan pulang, setelah selesai aku akan menemuimu" ujar Damian sambil membereskan kotak medis.
"Tapi--
"Ley, aku besok pagi pagi sekali, mengertilah" Damian mengecup kening Leyka dan menggendong Train. Leyka kembali mendelik kesal ke arah Valentino yang meletakkan ponsel di telinganya dan memunggunginya, Valentino menghubungi salah satu pegawai di proyek pembangunan.
"Sebelum aku pulang, kau harus mencuci kaki dan tanganmu, lalu apa?" Damian membawanya masuk kedalam, ia tahu apa yang harus ia kerjakan, karena Damian terbiasa mengurus Train.
"Menggosok gigi! Yeeeyy!" Damian senyum dan mencium pipi Train.
"Dan ganti bajumu dengan piyama" kata Damian lagi dengan hati teriris.
"Damian, Gracias (terima kasih) Kau sangat baik" ujar Train sambil mencubit cubit kedua pipi Damian dan Valentino mendengarnya.
Aku akan bersikap lebih baik, Boy.. batin Valentino.
-
-
-
Terurai kan, misteri Leyka tau si Miu. Dan ga ada hubungannya ama Damian.
Damian itu murni laki laki yg menjadi San_Ti Sandaran Ti---- Hati tak iyeee *madura 🤣🤣🤣 (maaf yg namanya santi, canda gaes) hidup sekali buat becanda aja gaes 🤣🤭
Yang nyangka Damian jahat, kirim kopi segentong oiii oiii denda 🤣
-
__ADS_1
-
-