
Valentino menyambar tubuh Train, lalu menggendongnya. Nalurinya sebagai Ayah telah terlatih sejak kehadiran Miu dalam hidupnya. Train yang menangis histeris, Train yang terus mengamuk, karena ketakutan terbesarnya adalah seseorang yang bukan Daddynya merampas darinya.
Train akan memukul siapa saja atau apa saja yang ada didekatnya, dengan tangan mungilnya. Entah Leyka, Manuella, Diego atau Damian bahkan keluarga Fernandez, mereka semua tidak asing dengan gaya Train bila mengamuk. Mereka pernah menjadi sasaran kemarahan Train dari kecil. Sikap mudah marahnya sesungguhnya menurun dari Valentino.
Kau lihat kan bagaimana putramu mengamuk? Kendalikan dia.. Hanya Diego, Damian, dan Pedro yang mampu menanganinya.. Kini giliranmu, Val.. Aku lelah bertahun lamanya, menghadapinya..
Walaupun masih memukuli dadanya, Valentino mendekapnya erat dan membawanya ke dapur. Dan sikap Diego yang membiarkannya justru membuat Valentino bertanya tanya, mengapa Diego tidak bertindak cepat melihat amukan Train. Diego yang telah mengetahui jati diri Valentino, memang sengaja membiarkan Train mengamuk memukuli paha Leyka secara beruntun. Ia ingin melihat reaksi Valentino dan ia juga otomatis merasa tidak berhak sejak tahu siapa Valentino.
"Pukul aku Boy, ayo tunjukkan kekuatanmu. Pukul aku sampai asmaku kambuh! Ayo! Kau akan menjadi laki laki kuat nanti! Pukulanmu lemah! Ayo pukul aku!" Valentino mendudukkan Train di meja kitchen set, ia masih berdiri dan mendekap Train yang perlahan melemah pukulannya.
Train membenamkan wajahnya dengan menangis di dada Valentino kemudian ia mengusap ngusap kepala Train, tangisannya terdengar lirih, ia membiarkan airmata dan ingus Train membasahi kemejanya. Valentino menatap Leyka dari kejauhan yang tengah menyeka pipinya berulang ulang. Leyka melihatnya dan malingkan wajah juga tubuhnya, lalu ia mengangkat kedua kakinya di kursi yang berada di dekat jendela. Ia membelakangi aquarium bulat yang kini menghiasi meja teleponnya.
Ia menekuk kakinya hingga mencapai dadanya, sosoknya terlihat membentuk siluet dari samping, Valentino trenyuh melihatnya, wajah kesedihannya yang maksimal baru pertama kali ini Valentino melihatnya, dulu saat bersamanya, Leyka mudah kesal, mudah sedih lalu mudah sekali ceria. Tapi ini berbeda, mendung kelam menaungi wajah cantiknya.
Leyka, aku tidak akan membiarkanmu menjadi Viscountess! Tidak ada yang bisa menikahimu.. Karena, kau telah menikah denganku.. Tenang saja Leyka, jangan takut.. Suka atau tidak, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk membuka pernikahan kita dihadapan Raja dan Ratu Spanyol.. Sehingga jika beruntung, kau akan terbebas dari kodratmu sebagai Putri Mahkota.. Karena kau adalah Nyonya Gallardiev.. Aku akan lakukan semuanya demi Train, setelah itu kau dan aku bisa bercerai. Valentino kemudian menghela nafas panjang.
"Miss Leyka-- kata Valentino memanggil Leyka dan Train memotongnya dengan cepat lalu Leyka menoleh kearahnya.
"Aaaa! No Miss Leyka!! Itu di sekolah!" seru Train disela tangisannya yang tak kunjung mereda dengan memukul dada Valentino. Leyka akhirnya tidak melepaskan pandangannya, ia ingin tahu bagaimana Valentino menangani putranya sendiri, dimana Valentino belum juga menyadari bahwa Train adalah Putranya.
Membuat Valentino dekat dengan Train adalah misinya, agar suatu saat nanti ketika Valentino menyadarinya, ia tidak melukai perasaan Train. Karena tabiat Train sangatlah unik, ia mudah membenci juga mudah mencintai, pola pikir anak itu sangat polos di usianya yang masih abu abu.
"Ok, aku akan memanggilnya sesuai keinginanmu, yang namanya kau ketik dan kau simpan di ponselku-- Mi amor! Mi amor! Mi amor!" Valentino melihat senyum tipis menghiasi wajah Leyka, ia seperti menembak satu sasaran dan mengenai dua sasaran. Train sasaran utama dan disisi lain Leyka bisa terhibur. Bukankah Train dan Leyka adalah satu kesatuan?
"Si si si si si!" dan Diego yang menjawabnya, dengan ala Marikita (banci) di Spanyol, yang melenggak lenggokkan kepala dengan lemah gemulai hingga dadanya ikut bergoyang goyang. Train tertawa dengan menyeka mata dan hidungnya namun ia menangis lagi lalu memukul dada Valentino. Ia tahu, Valentino dan Ayahnya hanya menggodanya.
"Hahaha-- Ohh Nooo! Ayahmu menjadi Marikita (banci)!" Valentino melambaikan tangannya seperti Marikita di Spanyol, mengikuti gaya Diego dan Train kembali tertawa, tangisnya mulai lenyap hanya menyisakan isakan tanpa airmata saat Train menghela nafasnya.
Manuella tertawa terbahak dan Leyka melebarkan senyumnya hingga deretan gigi putihnya terlihat menjadi satu kesatuan yang manis diwajahnya. Valentino berdebar melihatnya dari kejauhan.
"Mi amor! Putramu yang tampan ini, mengotori kemejaku dengan ingusnya! Kau harus mencucinya" Dan Train justru sengaja menjadikan kemeja Valentino sebagai tisu.
"Heii-- kau Little Toro (banteng kecil) yang jorok-- Train tertawa, lalu ia kembali menyeka ingusnya dengan lengan kemeja Valentino --Hahaha, kau berani melawanku!! Rasakan Little Toro!" Train menjerit penuh tawa saat Valentino menggelitikinya, Valentinopun mengubah tangis Train menjadi tawa, matanya berbinar binar. Leyka dan Manuella terpana melihatnya. Mereka terharu melihat pemandangan itu.
"Mungkin sudah saatnya mereka mengetahui yang sebenarnya" bisik Manuella. Sementara Diego hanya sesekali melirik kearah mereka dengan rasa trenyuh karena ia disibukkan memasang perlengkapan aquarium bulat itu.
"Iya, aku akan mengatakannya lagi. Dugaanku, Valentino melihat fotoku bersama Train di kamarnya. Karena Train mengatakan, terakhir ia melihat kearah meja belajarnya" bisik Leyka kemudian.
"Nemo pasti ketakutan melihatmu mengamuk seperti banteng liar. Aku sudah memesan Clawnfish (ikan badut) yang besar dan kuat anggap saja itu Marlin, Ayah nemo untuk menemaninya dan melindunginya" ujar Valentino melepaskan Train, lalu ia kembali melanjutkan memasaknya, ia mengenakan celemek yang telah Leyka siapkan.
"Agar Nemo tidak sendirian dan tidak ketakutan melihat little toro mengamuk" lanjut Train dengan sendirinya.
"Si, karena bila little toro mengamuk, ia bisa meruntuhkan gedung bahkan saat kau memegangi kaca aquarium di toko ikan hias kemarin, kau hampir memecahkannya" ujar Valentino berlebihan dan membuat Train terkekeh, ia mengamati Valentino yang sedang memecahkan telor satu persatu.
"Tapi-- aku bukan Little Toro, aku Nemo yang ketakutan" kata Train membuat Valentino terharu.
"Dan aku Marlin, Ayah Nemo yang akan melindungimu agar kau tidak takut pada apapun termasuk Locki. Kau harus jadi Nemo si pemberani. Kita akan bersatu melawan Locki. Apa kau mau? Karena aku akan menghajar Locki untukmu dan Mommymu" Valentino memandangi Leyka yang sedang berjalan kearahnya, Valentino menatapnya namun Leyka terlihat begitu dingin, Leyka menggunakan celemeknya kemudian.
"Uncle, Te quiero (aku menyayangimu)-- Kita belum lama berkenalan tapi kita seperti telah lama saling mengenal-- Mungkin, duluuuuu sekali, kita pernah bertemu" dan Train merasa dibela, merasa aman, merasa tenang, merasa di lindungi, dan Train mengagumi sosok itu.
"Te quiero, Boy. Si, mungkin dulu sekali" Valentinopun mengecup kening Train lalu membelai rambutnya. Valentino benar benar melupakan Miu.
Mengapa aku sangat menyayangi anak ini.. Aku benar benar jatuh cinta pada anak ini.. Padahal dia, anak Leyka dari laki laki lain.. Ohh shitt!.. Ini tidak mungkin.. Aku harus kembali secepatnya.. Setelah pesta itu aku akan kembali ke Italy, aku bisa gila berada disini..
"Carino" Leyka mencium dan memeluk Train. Ia menciuminya bertubi tubi hingga berbunyi, hingga Train cekikikan karena kegelian.
"Mommy-- Lo siento. Apa pahamu sakit?" tanya Train setelah Leyka melepasnya, ia mengikat rambutnya kemudian lalu membantu Valentino memasak. Ia membuka kacang polong kaleng lalu mencucinya.
"Si (iya), sangat sakit. Bukankah ibu jari kaki Mommy belum sembuh benar, Carino--
"Dadaku juga sangat sakit, tangannya sangat kuat dan kau Mi Amor (cintaku; Spanyol)-- Kau jangan nakal padanya" potong Valentino dengan gugup saat Leyka melihatnya ada api kemarahan dimatanya. Tapi itu membuat Train sangat senang, ia menutup mulutnya dan tertawa.
Valentino memanggil Leyka 'mi amor', yang berarti cintaku. Buat Train itu lelucon, namun buat Leyka dan Valentino adalah sesuatu yang mendebarkan saat mata mereka beradu.
"Tuan Marlin, aku tidak akan nakal padanya. Karena dia Putra kita yang terbaik sejagat raya! Aku Ibu Nemo, Coraall! Yeaay!" Leyka bersorak sambil melirik kearah Valentino, ia ingin melihat reaksi Valentino, namun Valentino hanya tersenyum tipis dengan menarik satu sudut bibirnya.
Dia biasa saja, tidak bereaksi. Batin Leyka kecewa.
Apa kau ingin aku menerima anak ini? Kau pembohong, kau penipu yang ulung. Batin Valentino masih memendam kekesalan.
"Aku benci Rosemary" ujar Train tiba tiba, Leyka menghampiri Train dan menarik kursi lalu ia duduk dihadapan Train.
__ADS_1
"Justru Grandma memberitahukan kabar itu, tanpa Locki tahu. Itu agar Mommy berjaga jaga dan membuat rencana. Kita bisa pindah ke Bilbao ke tempat nenek moyang Keluarga Fernandez atau kemana saja, asalkan kita tidak terpisahkan" ujarnya sambil memeluk Train dan Leyka menyandarkan kepalanya di pangkuan Train namun ia menghadap ke arah Valentino yang tengah memasak.
"Mommy, kita tidak akan pindah. Ada Uncle Gallardiev yang bisa menghajar Locki. Damian tidak pernah mengatakannya" ujar Train membuat Valentino dan Leyka saling melemparkan pandangannya.
"Si (iya), dia sangat payah" mata Leyka tertuju pada Valentino, dan Valentino tau perkataan itu untuk dirinya, Valentino diam dan menyelesaikan masaknya.
" Si (iya), Damian sangat payah-- Train mengulangnya --Dia menghindarimu, tadi pagi aku melihatnya saat naik bus sekolah. Ehm, dia lewat belakang Distrik Golden. Mommy-- sepertinya Damian mempunyai kekasih model, kau harus menangkap basah Damian" dan Leyka menegakkan tubuhnya dan menatap mata Train.
"Apa kau yakin? Damian mengatakan kalau dia masih di Madrid semalam"
"No, Damian sudah kembali" Train sangat meyakinkan dan Leyka mempercayainya.
"Baiklah, Mommy akan memastikan kau makan malam dan minum obat, lalu Mommy akan ke Distrik Golden dan menangkap basah dia" kata Leyka sambil mencolek hidung Train. Valentino tersengat mendengarnya, ia menunjukkan sikapnya dengan mengetuk ngetuk spatula kayu di penggorengan saat menumis. Ia meletakkan botol botol bumbu hingga berbunyi yang menandakan kekesalan dan aksi protesnya.
"Mommy, mengapa matamu tidak berkabut. Mengapa kau tidak terluka. Dia sudah disini, tapi tidak menemuimu-- Mommy, mengapa kau tidak merindukannya?" Pertanyaan dibenarkan oleh Leyka dalam hatinya, ia meraih tangan Train lalu di ciuminya.
"Seorang anak bisa menghilangkan kerinduannya kepada seseorang. Bahkan sebuah cinta, bisa lenyap begitu saja karena seorang anak yang genius seperti dirimu"
"Iya benar-- Mommy benar. Karena Uncle pernah mengalaminya. Uncle melupakan Istri Uncle yang berpetualang" kata Valentino menambahkan dengan melirik sinis, ia sangat kesal. Namun, batin Leyka teriris mendengarnya.
"Mommy, I Love you"
"Kau memakai bahasa inggris? Kau pintar-- I Love you too, my lover. Dan sekarang ayo ke meja makan, karena Frittatamu sepertinya sudah matang" ujar Leyka melirik Valentino yang telah menyelesaikan masakan buatannya, kemudian ia menggendong Train.
"Iya benar, apa tidak ada ucapan cinta untukku!" kata Valentino sambil melepas celemeknya dan meletakkannya dengan kasar.
"I love you Uncle-- Mommy, giliranmu" pinta Train. Dan Leyka mendengus.
"I Love you, my lover" jawab Leyka sambil mencium gemas, pipi Train.
"Kenapa bukan namaku, My lover kan artinya kekasihku, itu sama saja kau mengatakannya kepada Damian!" kata Valentino menggelengkan kepalanya. Hatinya semakin panas.
Dasar wanita siluman! Kau masih saja licik.. My lover my lover, Fu*cckk Damian!!
"Mommy, kau menipunya" Train berbisik.
"Karena dia memang pantas mendapatkannya" ujar Leyka mengeraskan suaranya, ia kesal karena Valentino menyebut 'Istriku' dan Valentino menahan kekesalannya karena niat Leyka menemui Damian.
Mereka pun duduk dimeja dan siap menyantap makanan buatan Valentino, Train sangat bersemangat.
"Carino, ayo makan makananmu" kata Manuella saat menuang masakan Valentino.
Perasaanku tidak enak, pasti akan terjadi sesuatu. Batin Valentino curiga.
"Boy, makanlah. Apa mau aku suapi?" ujar Valentino
"Noo!! Kalian dulu, aku sebentar lagi!" Train berseru dengan menutup mulutnya.
"Dia memang susah makan kalau sakit, dia akan berselera saat kita makan" ujar Diego, secara tidak langsung ia mengatakan kebiasaan Train yang harus Valentino pahami.
Dan merekapun menyuap makanan secara bersamaan hasil dari masakan Valentino, Frittata dari Itally. Train menutup mulutnya dan memandangi orang dewasa menyuap satu sendok penuh Frittata itu. Saat Frittata itu masuk mulut, mereka membulatkan matanya lalu mengeluarkannya kembali ke tangan mereka.
"Masakan apa ini!!" pekik Manuella.
"Aaaa--Hahaha.. Bingo! Aaahahaha!" Trainpun tertawa terbahak bahak.
"Vall!!! Kau mau membunuh kami!" pekik Leyka dengan memukul lengan Valentino menggunakan serbet.
"Aaaa--Hahaha.. Aaaa--Hahaha" Train masih terbahak.
"Oohh Shhh-- Valentino ingin mengumpat tapi ia mengurungkannya, karena ada Train. Ia ingin benar benar memberi contoh yang baik --Aku.. Aku.. Mengapa seperti ini.. Maafkan aku! Ini pasti ada kesalahan pada bumbu yang kau beli!" tuduh Valentino kelabakan dan membereskan masakannya yang berada di meja Train.
"Kau menyalahkan bumbu yang ku beli!!" Leyka ikut bangkit berdiri dan memukuli lengan Valentino masih dengan serbet makan.
"Aww! Leyka! Aw! Mi amor! Hei! Aku akan memasaknya lagi! Aw! Mungkin kau salah beli bumbu! Aw!" Valentino menghindar dengan memutari meja dan Leyka terus menyerbunya meluapkan kekesalannya.
"Kurang ajar!! Aku tidak pernah salah!! Aku tidak butuh masakanmu lagi!! Kau mau membunuhku, hah?!" dan serangan bertubi tubi itu, mau tidak mau Valentino harus menghentikannya dengan merebut serbet itu dengan menangkap tangan Leyka dan menekan pinggang ramping itu, kearahnya hingga tidak ada jarak. Tapi Leyka memundurkan wajah dan dadanya.
"Aku akan memesan makan malam di luar Aku akan menyuruh pegawaiku untuk membelinya di restauran di samping Hotel Marriot, Lo siento Mi amor" ujar Valentino semakin mengeratkan cengkeramannya dipinggang Leyka.
"Fu*cck you-- umpa Leyka dengan bisik, lalu ia kembali berseru --Yaa! Dan kau harus mengganti bahan bahan yang kau buang sia sia! Dan lepaskan aku! Karena kekasihku dan Putraku akan marah bila melihat kau melakukan ini padaku!" Leyka menatap sinis dan Valentino justru semakin gemas.
"Aaaa--Hahaha-- No Mommy aku tidak marah! Aku sangat terhibur!" ujar justru sangat senang hingga ia bertepuk tangan.
Shiittt!! Traiinn!! Kauu terhibur?! Kau setan cilik! Mengapa kau tidak berada dipihakku. Mata Leyka mendelik kearah Train yang masih tertawa dengan menggoyang goyangkan kakinya, Train sangat senang bisa mengerjai orang dewasa.
"Ohh Gracias, Boy. Tapi Mommymu bertingkah seperti wanita siluman! Aku harus menangkapnya-- Mi amor, aku akan menyerahkan kartuku, beli apapun yang kau mau!" Valentino melepaskan Leyka dan dengan cepat ia mengambil kartu dari dompetnya.
__ADS_1
Valentino meraih tangan Leyka lalu merampas serbet ditangan Leyka, kemudian ia meletakkan kartu itu dan menutup jemari Leyka hingga mengepal. Valentino menggengamnya agar Leyka tidak menolaknya.
"Aku serahkan semua uangku, Mi amor" bisik Valentino membuat Leyka tertegun.
"Tunggu, mengapa kau tadi tidak mau makan buru buru, kau pasti tau akan hal ini!" Manuella menunjuk dengan garpu ditangannya dan Train semakin tertawa.
"Aaaa--Hahaha! Uncle menaruh garam-- ehm, Siete (tujuh)!" Train merentangkan jemarinya.
"Tujuh sendok?" Leyka mendelik kearah Valentino dengan meringis.
"Lalu-- bubuk bubuk merah dengan gambar paprika-- Siete (tujuh)!"
"Bubuk cabai 7 sendok? Kau ingin membunuh kami?" tanya Manuella dengan menggelengkan kepalanya. Sementara Diego ikut tertawa karena tawa Train menularinya.
"Lo siento-- Lo sientoo.. Aku tidak tahu kenapa, biasanya juga tidak, Leyka. Aku akan memesan makan malam" Valentino akhirnya melepaskan cengkeramannya dan mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi pegawainya. Dengan singkat ia memesan beberapa menu makanan agar di kirim ke apartemennya.
"Boy, Lo siento. Makan malam gagal karena kesalahanku" ujar Valentino memasukkan ponselnya kemudian dan menghampiri Train.
"Uncle, katakan padaku. Apa kau kesal saat Mommy ingin menemui Damian?-- Hingga kau menaruh banyak garam dan cabai dalam masakanmu tanpa kau sadari. Apa kau menyukai Mommyku? Karena Mommy sangat kesal saat kau menyebut Istrimu" hanya Manuella dan Diego yang tertawa sangat keras melihat gaya putranya, yang menyangga kepalanya dengan posisi miring dan siku tangannya menumpu pada meja. Jemarinya mengetuk mengetuk meja seakan menunggu jawaban.
Sementara Valentino dan Leyka membulatkan matanya dengan saling pandang, dengan wajah mereka yang memerah. Berdebar, malu, canggung dan merasa ditelanjangi oleh setan cilik yang semakin aktif menggoyangkan kakinya.
Firasatku benar! Pasti pasti pasti, dia akan melakukannya lagi dan lagi.. Anak ini benar benar pintar membuka aib orang.. Shiittt!! Batin Valentino
"Kau tau jawabannya tanpa perlu aku katakan, Karena kau sangat pintar sama seperti aku" Valentino tersenyum licik dan mengacak rambut Train, lalu ia membereskan meja.
"Uhhhs!" Train mendengus kesal.
Aku tidak bisa bayangkan, kalau kalian bersatu melawanku, Huff. Batin Leyka sambil berjalan ke arah lemari pendingin, ia mengantongi kartu yang di genggamnya, wanita siluman itupun tersenyum licik.
-
-
-
...Distrik Golden...
Di dalam Distrik Golden ada kolam buatan dengan jembatan melengkung ke atas, yang menuangi kolam itu. Ruang hijau itu di kelilingi apartemen yang dinamai apartemen Golden, ada sekitar 20 apartemen disana karena selebihnya adalah perkantoran yang mana telah di jelaskan sebelumnya, Kedai Double P milik Leyka berada disana.
Damian melangkahkan kakinya dengan terburu buru, dengan jaket hoddie (penutup kepala) yang menutup seluruh kepalanya, tas ransel terlihat dipunggungnya serta tas kamera yang menyilang di pundaknya. Damian menyusuri taman itu dengan mengedarkan pandangannya, ia lebih banyak berjalan dengan menundukkan kepalanya, sesekali ia menggaruk hidungnya untuk menyamarkan pandangan orang yang berlalu lalang di sekitar taman. Hingga saat ia tiba di kolam, menuju Apartemen Golden dengan ornamen keramik kebiruan, seseorang menabraknya.
Ia tersentak saat melihat Leyka yang menatapnya dengan pandangan sinis. Leyka terus berjalan seakan tidak mengenalnya.
Shitt!! Aku ketahuan. Batin Damian dengan wajah piasnya. Ia kemudian berbalik arah dan berlarian menyusul Leyka yang berjalan meninggalkannya tanpa kata, setelah dengan sengaja menabraknya.
"Leykaaa!" Damian menarik pergelangan tangan Leyka dan mata bening yang berkilau diterpa sorot lampu taman, menatap tajam dan begitu menusuk hati Damian. Ia berdebar melihatnya. Damianpun membuka hoddie-nya dan mengembangkan senyumnya.
"Aku baru akan menemuimu, aku baru saja tiba. Aku sangat me--Merindukanmu, Baby" ujarnya sambil membelai pipi yang berkulit lembut itu.
"Apa aku mengenalmu?" Leyka menepis tangan Damian dan kembali berjalan. Se-saat Damian memejamkan matanya dan memandangi punggung Leyka. Damian kembali menyusulnya.
Sepertinya Leyka tahu aku berbohong kepadanya. Lo siento Leyka.. Bagaimana aku menjelaskannya padamu.. Kantorku telah menerima acara makan malam Kerajaan, dan aku akan meliputnya dan aku tahu kau pasti akan hadir disana.. Baby, aku sangat merindukanmu, kau pasti butuh seseorang untuk berada di sampingmu.. Tapi aku telah berjanji.. Bagaimana aku mengingkarinya..
-
-
-
Kalian tuh harus banyak sabar membaca novel ini, karena aku sendiri menganggap Novel ini novel terbengkalai dari tahun 1999 jaman krisis moneter setelah Tragedi Semanggi 1998. Aku memoles ulang dengan observasi tentunya. Dan semua di luar ekspektasiku mendapatkan jambutan yang biasa diluar hahaha ya memang tumbuhnya diluar ga di dalem thorrr 🤣🤭
Aku ga ngulur waktu karena semua sesuai kerangka awal, dimana endingnya hanya sampai perpisahan di Pretoria (sad story). Sinopsisnya sudah pasti bukan percakapan Train. Selebihnya hanya kerangka yg harus di godog.
Valentino di kisah ini harus menunjukkan kebaikannya karena itu sangat sangat berhubungan dengan Surat surat yang Train tulis. Kalau kalian membaca ke 7 surat Train nanti, maka kalian akan paham mengapa cerita ini ga buru buru terungkap.
Hanya orang2 yg sabar dan kuat mental yg sanggup membacanya, aku udah nyaranin utk meninggalkan novel ini saat kisah mereka di Pretoria, kalau kalian inget. Karena jujur aku menyepelekan novel ini, ini novel terburuk yg ga seharusnya netes di indonesia yang budayanya sangat berbeda. Sulit memahami pemikiran orang barat, dan itu menjadi nyata di novel ini. Kehidupan disana beginilah adanya.
Yang sabar yaa *sambil ngelus ngelus buah dada pembaca ehh ga pake buah deng* 🤣
Pengen nyruput kopi kok abis yak (kode jingga) 🤣🤣🤭
-
__ADS_1
-
-