
PESTA DI DISTRIK MIEL
Tuhan, terima kasih atas Keajaiban yang kau berikan bahkan jauh sebelum ulang tahunku. Tapi, aku anggap ini kado ulang tahunku. Apa aku boleh minta bonus? Aku ingin membuat hubungan 3 bulan itu menjadi selamanya.. Selamanya jangan memisahkan Mommy dan Daddyku,.. Aku hanya ingin bersamanya.. Bisakah kau membuka hati Mommyku.. Kau lihat aku membawa Mommyku yang Atheis itu ke Gereja.. Bukan kah itu kemajuan? Bukalah hati Mommyku untuk bisa menerimaMu dan juga menerima Daddy.. Mommy takut KAU melukainya dan Daddy melukainya.. Lo siento, aku banyak meminta.. Tapi aku bahagia melihat mereka berdua saling melempar senyum dengan banyak lampu lampu kecil di mata mereka..
Train mengingat doanya di chapel, ia tersenyum melihat Leyka menari bersama teman temannya dengan segelas cocktail di tangannya. Teman teman sesama guru yang datang ke pesta itu. Pesta yang Valentino buat setelah drama panjang yang Blue Train ciptakan. Kabar begitu cepat menyebar, dari Dewan Guru hingga satu Distrik Miel. Pesta di gelar sangat meriah, bersama seluruh penghuni Distrik Miel. Makanan minuman semua berdatangan dari tetangga, selain yang di siapkan sendiri oleh si empunya pesta.
Train duduk di pangkuan Valentino yang tengah memandangi Leyka, tertawa penuh canda bersama teman temannya. Valentino terdiam dengan merapatkan rahangnya, pikirannya melayang mengingat perkataan Leyka di serambi Gereja saat menunggu Train berdoa di Chapel.
Kau tidak boleh menyentuhku! Semua yang kita lakukan hanya untuk dan demi Train.. Kau harus menjaga jarakmu bila tidak ada Train! Sejauh mungkin Val.. Sejauh mungkin! Karena aku milik Damian.. Aku memperingatkanmu.. Ada hati yang harus kita jaga.. Hati Damian dan hati Keluargamu.. Kau jangan berharap lebih pada hubungan tiga bulan ini.. Karena kita adalah sesuatu yang tidak mungkin.. Seberapa keras kau membuktikan perasaanmu padaku, aku hanya menganggap, semua yang kau lakukan hanya karena Train..
Sebuah kalimat terakhir adalah kalimat pengunci, dan itu membuat Valentino berpikir dengan keras, bagaimana ia meyakinkan Leyka bahwa ia memang mencintainya. Karena semua usahanya akan dianggap karena Train. Seberapa keras Valentino mengungkapkan perasaannya Leyka akan mengacuhkannya.
Wanita Siluman, bagaimana caranya memberi pengertian bahwa aku memang mencintainya dari dulu hingga sekarang. Ahh itu semua salahku.. Aku terlalu gengsi mengakuinya.. Pertama kali aku datang dengan cara yang salah. Itu karena aku tidak tahu jati diri Train. Setelah tahu aku baru mengakuinya.. Shitt.. Wajar bila Leyka tidak mempercayaiku.. Dia pasti berpikir semua yang aku lakukan demi Train.. Dia tidak mengerti bahwa aku menginginkannya.. Apa yang terjadi bila Leyka tau kalau kita telah menikah.. Dia pasti akan marah besar.. Aku akan memaksanya sedikit saja.. Mana tau dia akan secantik ini.. Setelah Viscountess, aku akan menghamilimu.. Bahkan setiap tahunnya.. Habis kau Wanita Siluman..
"Daddy, bukankah Mommy sangat cantik?" tanya Train membuyarkan lamunan Valentino yang selalu melingkarkan tangannya di perut Train.
Train seakan tidak di ijinkan bernafas dengan bebas, Valentino mulai mengambil alih sebagian besar tugas Leyka. Bahkan tugas yang tidak perlu seperti, menunggu Train mandi hingga menyiapkan baju yang mana Train biasa melakukannya sendiri. Dimana kaki Train melangkah disitu jugalah kaki Valentino mengikutinya, seperti ekor yang menempel di tubuh Train yang selalu dibawa Train kemana mana.
"Hmm-- Sangat cantik" ucap Valentino sambil menciumi rambut Train.
"Kau sangat mencintainya, Daddy?" tanya Train sambil menoleh menatap Valentino.
"Si, sangat mencintainya" Valentino membalasnya dengan tersenyum lalu mencium kening Train.
"Tapi, sepertinya Mommy sulit dilawan. Dan mirar (lihat)!-- tawanya sangat lepas. Ini tidak biasa!" ujar Train dengan penuh semangat.
"Tapi Mommy sangat cantik, dia seperti itu saat di Pretoria. Dia tidak pernah membosankan, sangat memukau dan mempesona" kata Valentino dengan menatap nanar, sosok Leyka yang sangat ceria. Leyka sesekali melirik kearahnya namun bila mata mereka bertemu, Leyka membuang muka dengan sinis.
"Uhss Daddy! Kita akan memikirkan bagaimana mengubah 3 bulan menjadi selamanya! Uhss! Daddy justru selalu terpesona. Sepertinya aku harus bekerja sendiri!" Valentino terkekeh melihat Train mendengus kesal.
"Daddy masih memikirkan bagaimana caranya masuk ke pesta Viscountess itu, Blue" ujar Valentino. Train menyangga kepalanya dengan satu tangannya yang menumpu pada meja.
Jermarinya mulai mengetuk ngetuk meja, dan berpikir keras. Undangan itu memang tidak sembarang, seseorang tidak bisa masuk begitu saja ke dalam perjamuan makan malam Kerajaan. Train mengedarkan pandangannya. Ia melihat Maria dan Matthew sedang bercengkerama, menari bersama dengan tawa mereka. Train mengerutkan alisnya lalu matanya berbinar. Tubuhnya menjadi robot, kaki tangannya yang sedari tadi bergerak, kini diam.
"Dia! Si (ya)! Uncle Matthew! Aku mau turun, Daddy!"
"Ada apa dengannya?-- No, kau tidak boleh turun, Blue!" Valentino mendekap erat tubuh Train, sedetikpun Train tidak diijinkan menjauh darinya.
Train pun mendengus kesal dengan bersedekap, "Uhsss! Daddy! Aku ada perlu dengannya!"
"No Blue! Biar dia yang kesini! Ayo panggil dia! Vamos (ayo)!" Train mau tidak mau menurut. Tidak seperti Train yang biasanya selalu saja membangkang. Itu semua karena Leyka selalu menanamkan, bila suatu hari Daddynya datang Train harus menurut padanya agar sang Daddy tidak pergi lagi.
Dan menjadi dilema bagi Leyka adalah Valentino memiliki keluarga dan itu yang membuat Leyka tidak mau membuka hatinya, awal pertemuannya dengan Valentino, Leyka mulai membangun benteng bak setinggi gunung Himalaya. Butuh waktu untuk mendakinya.
"Uhhhss-- Unclee Unclee Unclee Maaatthew! Uncleeee!!! Kemarilah! Uhss!" Train mendengus dengan memukul meja, ia meletakkan kedua tangannya kembali ke meja dan menyangga kedua pipinya dengan kedua siku tangan menumpu pada meja, ia kemudian menggoyangkan kedua kakinya.
Matthew dan Maria menghampiri meja Train dan Maria terkekeh melihat wajah Train yang di tekuk tekuk, ia tahu Valentino dengan sangat posessif menjaganya.
"Hola (halo) setan cilikku yang menggemaskan, sepertinya Raja Setan mengurung kenakalanmu-- Aku sangat tenang, bahkan seluruh Distrik Miel ini, sangat tenang" Maria terkekeh sambil mencubit hidung Train dan Valentino tersenyum lebar sambil menciumi rambut Train.
"Uhss!" dengus Train semakin membuat Maria dan Matthew tertawa.
"Kau memanggilku?" tanya Matthew dengan menarik dua kursi, ia mempersilahkan Maria duduk kemudian ia duduk di seberang Train yang masih di pangku Valentino.
"Si! Aku mau menagih janjimu!" semua saling berpandangan dengan pandangan penuh selidik.
"Janji?" Matthew kembali bertanya.
"Si, kau pernah mengatakan kalau aku boleh meminta bantuanmu kan, Uncle?" tanya Train mengubah posisi duduknya, Valentino semakin mendekapnya sambil menciumi Train hingga anak itu terasa risih.
"Apapun itu" jawab Matthew dengan cepat.
"Buatlah Daddy masuk ke acara Viscountess! Itu saja" ujar Train dengan lantang.
"Hanya semudah itu?" tanya Matthew dengan mengerlingkan matanya.
"Si! Apakah itu mudah?" Train berbalas bertanya, ia mulai serius menanggapi Matthew.
"Apa kau yakin bisa, Matt?" Valentino menegaskan kembali karena ia masih merasa ragu.
"Mudah saja, tapi apa yang akan kau lakukan?" tanya Mathhew lagi.
"Sesuatu untuk menghentikan, Istriku terpilih menjadi Istri Viscount" Maria, Matthew dan Train membulatkan matanya, ia tidak yakin dengan apa yang mereka dengar.
Dan Matthew kembali menegaskan, "Istrimu?"
"Apa maksudnya, Daddy!" seru Train, ia memutar posisi duduknya hingga Train menghadap ke arah Valentino.
__ADS_1
"Kau tau cerita di Festival Valentine kan?" tanya Valentino dengan mencolek hidung Train yang telah duduk menghadap kearahnya, dan masih berada di pangkuannya.
"Si, Mommy selalu mengulang cerita itu! Umm-- tapi karena memintanya" Train cekikikan kemudian.
Valentino tersenyum, Maria dan Matthew terlihat menunggu dengan rasa penasaran, "Itu bukan acara Valentine biasa, Blue. Itu acara Pernikahan Massal yang di gelar tiap tahunnya, beberapa tahun belakangan ini! Dan kita menikah disana tanpa kita tahu" ujar Valentino sambil membelai pipi Train setelah itu ia menyunggar ke belakang, rambut Train yang memenuhi dahinya.
"Noo!! Noo! Eso no es posible (itu tidak mungkin) !" ujar Train dengan lantang.
"Itulah kenyataannya. Hanya Daddy yang bisa menghentikan acara itu!" Valentinopun tertawa sambil mencium tangan Train, karena wajah Train begitu lucu dan menggemaskan ketika ia terlihat terkejut.
"Daddy!" Train menangkupkan tangannya pada kedua pipi Valentino agar Valentino menghentikan tawanya.
Valentino akhirnya mendekap tubuh Train namun masih berjarak, ia berkata dengan sangat meyakinkan, "Mommy dan Daddy sudah menikah, Blue!" Matthew dan Maria saling melempar pandangannya, mereka tidak pernah menyangka bahwa selama ini Leyka telah menikah, sungguh sungguh menikah dan suaminya adalah Valentino Gallardiev.
"Tapi kau mengatakan kalau istri Daddy berpetualang dan dia meninggalkan-- Espera un minuto (tunggu sebentar)! Maksud Daddy itulah Mommy?" Valentino kembali tertawa, melihat binar bola mata Train yang membulat dengan telunjuknya mengetuk ngetuk bibirnya sendiri membuat Valentino semakin gemas.
Train merangkai kepingan ingatannya tentang perkataan Valentino kepada Leyka. Dengan kecerdasan yang ia miliki, Train dengan cepat menyusun kepingan puzzle demi puzzle, dan ia menemukan jawabannya.
"Si" ujar Valentino dengan sepatah kata namun penuh penekanan. Train kemudian memeluk Valentino dengan menjerit, bersorak sorai namun matanya menghangat dan siap mencurahkan airmata.
"Daddy Daddy Daddy! Te Quiero! Te Quiero (aku mencintaimu)!" pekik Train dengan rasa bahagianya.
"Ini tidak bisa dipercaya" gumam Maria dan Matthew hanya mengangguk - anggukan kepalanya, ia tidak bisa berkata apapun. Karena ia juga tak menyangka dengan kenyataan itu.
"Kau tahu Daddy, aku memikirkan bagaimana saat Ibu Manuella dan Ayah Diego menikah, aku juga akan membuat kalian menikah. Aku berfikir berat-- Tapi, ternyata aku tidak perlu memikirkan itu lagi" wajah Train memerah dengan menurunkan airmata bahagia, ia mencium pipi Valentino kemudian kembali memeluknya dengan erat. Maria terharu namun ia juga tertawa melihat Train.
Valentino mengusap punggung Train yang menangis di ceruk lehernya, "Ohh, My sweet Pretoria, Te quiero (Pretoriaku yang manis, aku mencintaimu)" bisik Valentino.
"Kita harus merahasiakan ini dari Mommy, agar Mommy bisa terbebas dari peraturan Kerajaan. Dan Locki tidak bisa menyakitimu dan Mommy, Apa kau mengerti Blue?" Train hanya mengangguk berulang ulang sambil mengeratkan pelukannya. Maria menyeka pipinya dan Matthew meraih pundak Maria dan memeluknya.
"Apa yang kau lakukan pada Train? Dia menangis? Mengapa Train menangis?" Leyka tiba tiba datang dengan wajah memerah karena ia terlalu banyak minum, wajahnya terlihat letih dan berkeringat.
"Si, aku menangis Mommy.. Tapi menangis bahagia" ujar Train dengan terus menyembunyikan wajahnya di pelukan Valentino.
"Aku hanya bercerita bagaimana kita dulu di Pretoria, Leyka" ujar Valentino dengan gugup.
"Kau juga menangis Maria?" tanya Leyka seraya menarik kursi dan duduk disamping Maria, ia membuka sebotol bir yang ada diatas meja sebagai suguhan siapapun yang datang dan mau meminumnya.
"Bukanlah setan cilikku baru saja membuat satu Distrik ini menangis? Tentu saja cerita Daddnya membuatku menangis, aku masih terbawa suasana tadi sore" Maria menutupinya. Leyka tersenyum dengan mendengus.
Langkah pertama, aku telah mendapatkan tiketku. 'Matthew' dia adalah tiketku.. Tinggal langkah kedua dan langkah terakhir.. Kau akan jatuh kedalam pelukanku selamanya Leyka. Batin Valentino.
Dengan caranya Valentino mengajaknya ke tengah pesta, bernyanyi dan menari malam itu. Train melompat kesana kemari, ia bergabung dengan anak anak seusianya dan berlarian di area terbuka Distrik Miel, Valentino mengawasinya dari dekat.
"Dia tahu bagaimana menangani Putranya" ujar Leyka sambil meneguk bir di tangannya. Dan Maria mengangguk membenarkan, mereka melihat kearah Valentino dan Train yang bercanda ria penuh tawa.
"Baru kali ini aku melihatnya seperti itu" ujar Maria tersenyum kecil.
"Valentino seperti itu saat kecil, sama seperti Train" Rhosana menyambar perkataan Leyka lalu duduk.
"Madre (ibu)"
"Akhirnya kau terbiasa dengan panggilan itu. Begitulah seharusnya menantu kepada mertuanya-- Uhm. maksudnya.. Anggap saja aku Ibu mertuamu, karena Gallarrdiev akan menjadikanmu Istrinya selamanya" Bila Maria tidak mendelik kearah Rhosana hampir saja, sang mertua itu kelepasan berbicara.
"Pasti Madre (ibu) sangat kerepotan menjaga Valentino kecil" sambung Leyka dan Rhosana tersenyum mengamati menantu cantiknya dari dekat.
"Sangat kuwalahan, tapi dia putraku yang tidak pernah merepotkan hingga saat ini, dia menyelesaikan segala sesuatu sangat tepat dan sempurna" ujar Rhosana kembali mengumbar senyumnya dan mengarahkan pandangannya pada anak dan cucunya yang tengah berlarian bersama anak anak sebayanya.
Pesta itu semakin meriah, musik khas Spanyol, minuman khas Spanyol yang lembut dan memabukkan, ditambah panasnya minuman khas Italy yang mengguncang malam indah itu.
Hampir seluruh Distrik Miel mabuk malam itu, alkohol memang menciptakan perasaan yang lain, mengalihkan rasa sakit, bahkan rasa benci yang lenyap begitu saja untuk se-saat. Leyka dan Valentino bernyanyi bersama, menari bersama sama seluruh penghuni Distrik Miel. Mereka membaur dan menciptakan keharmonisan, ciri khas yang sangat klasik kehidupan sederhana di Spanyol. Kehidupan yang Leyka inginkan.
"Jared, ternyata kehidupan seperti ini sangat menyenangkan.. Jauh lebih mengasikkan di banding kehidupan bangsawan ataupun Red Velvet. Ini kehidupan yang Istriku inginkan" ujar Valentino dengan menyesap satu gelas whisky ditangannya, setelah ia lelah menari. Matanya masih mengawasi Train. Sementara Leyka masih bersendau gurau dengan saudaranya, di sisi lain teman temannya mulai menghilang satu persatu.
"Ini malam terbaik, minuman terbaik dan makanan terbaik. Keluarga Fernandez sangat hangat dan ramah, karena itulah mereka bisa menjaga Leyka dan Train dengan baik. Mereka banyak bercerita bagaimana kehidupan mereka bisa berwarna. Kau tau-- Leyka adalah si Pengetuk Pintu" kata Jared dengan tersenyum.
"Pengetuk Pintu?" Valentino mengerutkan alisnya.
"Dia mengetuk pintu apartemen orang yang memiliki keahlian membuat kue, keahlian yang tersembunyi lebih tepatnya. Leyka mengetuk pintu apartemen mereka di pagi hari, untuk mengambil kue kue di seluruh Distrik Miel dibantu saudaranya, lalu Leyka menjualnya di Kedai Double P yang tidak pernah sepi oleh pengunjung" Jared menghentikan ceritanya saat menuang whisky ke dalam gelasnya dan ia melanjutkan ceritanya.
"Karena kehamilannya, akhirnya Leyka berhenti mengetuk pintu, mereka yang kepada Leyka. Setelah putramu lahir, orang orang yang memiliki keahlian itu, mengetuk pintu kedai untuk mengantar kue kue yang akan di jual. Dan itu menjadi budaya, Diev. Roda perekonomian di Distrik ini berputar, dan akhirnya kue kue mereka dikenal oleh banyak orang. Dia sangat keren!"
Cerita Jared menggetarkan hati Valentino, dadanya bergemuruh melihat Leyka tengah menari bersama Damian yang datang di penghujung acara. Ia menarik sudut matanya agar airmata yang mengembang disana tidak jatuh di pipinya. Valentino dipenuhi keharuan, ia membayangkan kehidupan Leyka dulu, sangat membuatnya terkesan.
"Leyka sangat canggung bersama kekasihnya, kau tidak boleh mengingkari perkataanmu, bahwa kau mengizinkan mereka tetap bersama. Kau harus lebih banyak menahan diri, menekan emosi juga egomu, Diev."
"Tenanglah Jared, aku memiliki cara tersendiri untuk menghadapi Istriku. Dan aku telah berubah. Setan cilikku merubah segalanya dalam sekejap" Valentino meletakkan gelasnya dan menepuk pundak Jared, lalu beranjak dari sisi Jared yang meneguk segelas whisky ditangannya.
__ADS_1
"Blue! Vamos, kau sudah terlalu lelah-- Train mendekat dengan berkeringat --Mira (lihat) Bajumu basah, kita harus kembali, ini sudah malam. Daddy akan membersihkan tubuhmu" Semua mata melihat kearah Valentino yang begitu tenang, Leyka mundur satu langkah menjauh dari Damian. Ia takut Valentino akan meledakkan amarahnya seperti biasanya.
"No! Tapi Mommy-- Valentino memotong perkataan Train, ia tahu Putranya ingin menjaga Mommynya seperti yang selalu dilakukannya dulu.
"Tidak masalah, vamos Carino (ayo sayang)" ujar Valentino dengan tersenyum dan meraih tangan Train.
"Ada Damian!" Train memperingatkan dan Damian menghela nafas panjang. Leyka berdebar melihat Valentino yang menatap kearahnya, ia bisa membayangkan kemarahan Valentino yang akan meluap karena alkohol menguasainya.
"Tidak apa apa Blue, Daddy mengizinkan Mommy menjalin hubungan dengan Damian" dan senyuman Valentino justru memukau Leyka. Entah karena alkohol atau memang ia terkesima dengan sikap Valentino yang tak biasa, Leyka semakin berdebar melihatnya.
"Jaga Leyka dengan baik, bila mabuk dia suka memeluk pohon" Valentino tersenyum kearah Damian dan berlalu dengan menggandeng tangan Train. Namun Train tidak protes, karena ia melihat tangan Valentino yang mengepal, Train tersenyum melihatnya.
Leyka menjadi serba salah, ditambah Valentino dan Putranya yang berjalan menjauh dengan mengucapkan kata perpisahan dengan para tetangga dan keluarganya.
"Buenas noches (selamat malam)! Gracias! Untuk malam ini!" seru Valentino.
"Buenas noches! Buenas noches! Buenas noches!" seru Train dengan berjalan sambil melompat lompat.
Shitt mengapa dia tidak cemburu? Shitt.. Dia tidak cemburu?? Hahaha.. Tentu saja kau menahan sikapmu dihadapan Train.. Shitt.. Bagaimana bila dia memang tidak cemburu ? Leyka menepuk nepuk pelipisnya dengan telapak tangannya, ia rasanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Leyka menyambar satu sloki Tequilla ditangan Penelope, Pedro dan Simon. Tiga sloki, ia minum dengan cepat. Lalu ia mencium pipi Damian, dan berkata, "Sampai jumpa besok, hubungi aku, Baby. Buenas noches" Leyka berlarian menyusul Valentino dan Train sambil mengucapkan kata perpisahan malam itu kepada para tetangga dan kerabat yang masih sebagian ada disana.
Leyka terus berlari dengan tubuh yang seakan melayang layang. Saat Valentino mencapai lift ia terkejut karena Leyka justru berlarian kearahnya dengan wajah yang memerah.
"Yeaay Mommy!" pekik Train, sambil melompat.
"Istriku, dia berlari kearah kita, Blue. Dia memilih pulang" kata Valentino tersenyum dengan menahan tombol lift agar pintu itu tetap terbuka, menunggu Leyka memasuki lift.
Dan Leyka masuk, dengan sempoyongan. Ia menahan tubuhnya dengan bersandarkan pada dinding lift. Namun rasanya dinding itu tidak kuat menahan tubuhnya, Valentino menangkapnya.
"Setan.. Cilikku.. Kau.. Tidak.. Memprotes Mommy.. Maa..maabuk?-- Tumben" ujar Leyka dengan mata sayunya menatap Valentino yang didalam bayangannya adalah Train. Tangannya mencubit cubit pipi Valentino yang dianggapnya Train.
"Karena ada Daddy!" Train tertawa melihat sikap Mommynya.
"Train, tutup matamu!" pinta Valentino karena Leyka menciuminya bertubi tubi dengan ciuman yang biasa ia lakukan pada Train, ciuman gemas hingga berbunyi. Train tertawa girang sambil menutup matanya membelakangi kedua orangtuanya, ia masih mendengar ciuman berbunyi ala Leyka karena dalam bayangannya Valentino adalah Train.
Suara itu terhenti ketika bibir Leyka menempel di bibir Valentino. Tangan Leyka merayapi wajah Valentino, hingga jemari Leyka menyentuh hidung Valentino. Sesaat Leyka diam dengan mata terpejam.
Valentino berbisik dibibir Leyka yang menempel dibibirnya "Aku Pinokiomu"
Dan Leyka menekan kepala Valentino, ia membuka bibirnya dan mema*gutt bibir Valentino dan mendapat balasan yang cukup panas dari Valentino. Karena mengingat ada Train, Valentino mengurai ciuman itu.
"Damian..
Bisikan Leyka membuat Valentino mendidih, Train membulatkan matanya, hati Valentino terbakar seketika saat bibir Leyka justru menyebut nama Damian. Valentino meregangkan pelukannya, bahkan cenderung melepaskan dan ia memalingkan wajahnya. Tubuh Leyka kembali bersandar pada dinding.
"Ohh Noo Mommy" gumam Train
Namun rasa sakit itu lenyap seketika saat Leyka meneruskan bisikannya pada dinding lift.
"Jangan.. Damian.. Jang..an.. Aku.. Milik.. Val.. Valentino.. Si Raja.. Setan.. Itu... Damian.. Jangan.. "
"Daddy" gumam Train.
"Leyka!" Valentino kembali menyambar tubuh Leyka dan memeluknya dengan sangat erat.
"Damiann.. Jangan..
"Aku Pinokiomu!" seru Valentino, seraya menekan kepala Leyka kedalam dadanya.
"Aku..milik...Valentino.. Damian..
"Aku Pinokiomu! Aku Toro!" seru Valentino dengan mata terpejam. Menahan gejolak dihatinya yang naik turun dihempaskan gelombang gairah yang Leyka ciptakan.
"Damian.. Jangan..
"Dia Daddy! Dia Daddy! Dia Daddy!" Train seakan ikut andil menyadarkan Leyka, ia meloncat senang melihat kedua orangtuanya berpelukan dengan sangat erat.
"Damiann.. aku milik Valentino.. Jangan..
"Aku Pinokio, Peach.. Aku milikmu" bisik Valentino sambil mencium kening Leyka.
-
-
-
__ADS_1
Kalau besok ga Up.. Itu bukan berarti libur atau ga ditulis.. Tapi mgkn saja ga lolos Review.
Kopi dan Votenya boleh di setor dimejaku dengan kembang setaman, jangan lupa kemenyan sekarung 🤣