
Double P
Leyka membuka sebuah Kedai kopi pada akhirnya, dengan berbekal uang pensiun Ayahnya, juga uang sewa selama Apartemen yang di beli Pacho untuknya di sewakan kamarnya, Leyka membeli sebuah store yang berukuran 20m². Seiring waktu berlalu dari satu store akhirnya menjadi dua store yang bersebelahan sehingga kedai kopi itu menjadi sangat luas. Leyka memperluas kedai kopinya dengan hasil jerih payahnya, ia mengembangkan usaha kecilnya dan kini Double P sangat populer.
Di antara banyak bar, cafe bahkan restauran yang mengelilinginya, Leyka bertahan dengan kedai kopi yang menonjolkan esensi masyarakat Barcelona. Double P, terletak di sudut Distrik Golden. Tepatnya di seberang Distrik Miel yang di pisahkan jalan utama dua jalur. Setengah dari Distrik Golden adalah perkantoran dan sisanya adalah Apartemen dibagian blok belakang.
Bila dilihat dari Distrik Miel, maka Double P terlihat menonjol karena ukurannya paling luas dibanding bar yang mengelilinginya. Double P buka 24 jam, bukankah Barcelona adalah kota yang tidak pernah tidur? Dengan 4 orang Karyawannya yang salah satunya adalah seorang Barista, Pedro dan 3 karyawan lainnya, Maria, Penelope, Simon. Kerabat dekatnya dari keluarga Besar Fernandez.
Perekonomian di Distrik Miel sangat lesu awal mulanya, banyak lansia yang mengandalkan gaji pensiunan bahkan dari pemerintah setempat, namun ide cemerlang Leyka melesat bak meteor. Sehingga ia di juluki el meteoro brillante, si meteor yang terang. Bagaimana tidak, berawal dari Dolores yang gemar membuat kue, berawal dari kue kue yang berdatangan ke rumahnya saat ia menginjakkan kakinya di Distrik Miel, Leyka akhirnya menawarkan siapa saja untuk membuat kue dan menjualnya di kedai kopinya.
Awalnya Leyka mengambil kue kue dengan berbagai jenis itu dari pintu ke pintu, saat kehamilannya di usia tua mereka mengantarnya karena merasa kasihan pada Leyka dan akhirnya selama 8 tahun ini menjadi budaya, setiap pagi warga Distrik Miel, mengantar kue kue ke kedai kopi Double P milik Leyka. Mereka mendapat penghasilan tambahan untuk itu. Perekonomian mulai menggeliat saat itu hingga sekarang. Semua mendapatkan keuntungan dan semua saling ketergantungan pada akhirnya.
Di acara festival yang sering di gelar dan memenuhi jalan, omset kedai Double P selalu meningkat. Leyka selalu kewalahan melayani pengunjung. Di hari biasa setiap paginya banyak warga sekitar yang berkerumun mencari sarapan dan Kedai Double P menjadi sasaran pencarian.
Leyka akan berada di Kedai setiap pukul 06.00, setelah mengurus putranya lalu Train akan di titipkan pada Dolores atau terkadang pada Ibu dan Ayah baptisnya, Manuella dan Diego.
Pukul 08.00 Train akan diantar Dolores atau Ayah Ibu baptisnya, ke Double P lalu Leyka akan membawanya bersekolah. Terkadang beberapa tetangga menitipkan anaknya kepada Leyka untuk di bawa ke sekolah, karena Leyka adalah seorang Guru.
Leyka akan mengajar di sebuah sekolah yang tidak jauh dari Distrik Golden, hanya 3 blok dari Kedainya yang bisa di jangkau dengan berjalan kaki. Leyka menjadi Guru sekolah dasar tingkat 2. Untuk memudahkan dirinya menjaga putranya, Trainpun bersekolah di sana.
Berbeda dengan Indonesia yang wajib belajar 9 tahun dengan 6 tahun SD (Elementary), 3 tahun SMP (Junior High School), plus 3 tahun SMA (Senior High School) jadi total 12 tahun. Di Spanyol bahkan di sebagian Eropa hingga daratan Amerika, 5 tahun untuk SD (Elementary), 3 tahun untuk SMP (Middle school) dan 4 tahun untuk SMA (High school) dengan sebutan kelas 9 sebagai ‘Freshmen’, kelas 10 ‘Sophmore’, kelas 11 ‘Junior’ dan kelas 12 ‘Senior’. Dan Perbedaaannya kalau di Indonesia lulus SMA mendapat Ijasah, kalau di sana sudah mendapat gelar Diploma.
Dan Sekolah Esperanza, disanalah Train bersekolah di tingkat 1 dan disanalah Leyka mengajar sebagai guru Elementary tingkat 2. Sekolah Esperanza, adalah salah satu sekolah terbesar di Barcelona, selain tingkat Elementary hingga Senior High School, disana ada Playgroup dan Day Care atau penitipan anak yang sebagian besar kota padat penduduk itu, menitipkan anaknya di Sekolah Esperanza.
Saat Train berusia 3 tahun, Leyka selalu membawanya ke sekolah itu. Selain menitipkan selama Leyka bekerja, Train telah bersekolah di Playgroup. Tidak perduli ia tidak memakan kue red velvet tapi bagi Leyka sekolah Train yang utama. Mengingat Sekolah Esperanza sangat mahal biayanya dibanding sekolah lain dan beruntungnya Leyka menjadi Guru eksekutif yang memiliki kelas sendiri dengan gaji yang cukup untuk kehidupannya bersama Train.
Leyka merupakan sosok yang berhasil dan sukses menjadi Guru dan pebisnis. Leyka bisa saja membeli rumah megah tapi ia lebih suka tinggal di Apartemen Casa De Miel, Leyka bukan tipe wanita yang suka menghamburkan uang. Apartemen dengan dua kamar itu sudah cukup membuatnya hangat dan nyaman. Ia bahagia menjalani hidupnya bersama Train. Walaupun saat musim dingin tiba, hatinya selalu mencekam, kesedihan masih saja menggerogoti hatinya, saat salju pertama turun di Barcelona, ia selalu bertanya di dalam hatinya Apakah kau berada di Swiss, Val.. Mengapa kau berada disana saat salju pertama turun di Barcelona..
Dan kehampaan demi kehampaan, kekosongan demi kekosongan selama 6 tahun kini terisi perlahan dengan kehadiran Damian Vreygano. Pria berdarah Jerman, sahabat Henry. Seorang Fotografer yang memilih bekerja di Barcelona disebuah Kantor Majalah. Ia telah 2 tahun berada di Barcelona.
Damian tinggal di Distrik Golden, dimana Kedai Double P berada. Double P berhadapan langsung dengan jalan utama yang dilindungi trotoar pejalan kaki, sehingga sangat strategis untuk membangun dan mengembangkan usaha. Berbeda dengan Distrik Miel yang berhadapan dengan taman di rimbunnya pepohonan sehingga bila membuka usaha disana, kurang strategis. Karena itulah di Distrik Miel sebagian besar para penghuni membuka usaha kebutuhan pokok saja.
Damian meninggalkan Paris setelah kontrak 5 tahun berakhir, sementara Henry masih berada di Paris memperpanjang kontrak kerjanya. Damian memilih mengakhiri kontrak kerjanya dan hidup di Barcelona, agar berdekatan dengan pujaan hatinya. Damian rela berkorban demi Leyka setelah tragedi dua tahun silam.
"Guten Morgen mein Sonnenschein (selamat pagi, matahariku; Jerman)" Senyum Damian mengembang, rambutnya masih terlihat setengah basah, wajahnya berkilau, aroma parfum sangat menusuk begitu maskulin dan mendebarkan hati Leyka.
Damian menghampiri dan mencium pipi Leyka, yang sedang menuangkan biji biji kopi robusta juga arabica kedalam grinder yang berada di mesin pembuat kopi.
"Guten Morgen mein Lieber (selamat pagi, kekasihku)" Leyka berbalas menjawab Damian dengan bahasa Jerman, Damian sering mengajarkannya sedikit demi sedikit. Leykapun membersihkan tangannya dengan serbet yang berada dalam kantong celemeknya, ia mencium pipi Damian dengan melingkarkan tangannya di pinggang Pria itu.
"Kau mau sarapan apa?"
"Apapun yang kau berikan, Carino" ujar Damian berbalas menggunakan bahasa Spanyol, dengan mendekap pundak Leyka, ia menciumi kening Leyka, ritual pagi saat Leyka berada di Double P dan Damian selalu menghabiskan waktu sarapannya, bersama pujaan hatinya sebelum ia berangkat bekerja.
"Duduklah dan aku akan membuatkanmu kopi, seperti pelanggan yang lain"
"Hmm-- apa ada tambahan layanan menemaniku sarapan?" tanya Damian dengan menggoyangkan tubuh Leyka hingga rambut Leyka yang tergerai meriapkan ke kiri dan ke kanan.
"Pasti, Handsome"
"Awas saja kau berikan tambahan layanan ke pelanggan yang lain" bisik Damian dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Leyka dan lagi lagi mendaratkan bibirnya di pelipis Leyka.
__ADS_1
"Nur für dich (Hanya untukmu; Jerman)" Damian berbunga mendengar Leyka kembali mengatakannya dengan bahasa Jerman. Ia kembali mencium kening Leyka dengan teramat dalam.
"Ehem!-- Bisakah aku menempelkan tulisan dilarang berciuman karena bisa mengakibatkan orang yang melihatnya terkena iri dengki yang fatal, sehingga orang yang tidak laku sepertiku, bisa mencium gay bila terpaksa?" ujar seorang Barista yaitu Pedro. Leyka dan Damian terkekeh dengan menoleh ke arah Pedro secara bersamaan. Merekapun mengurai pelukan dan Damian mengambil tempat duduk di dekat kaca yang menghadap ke jalan, dimana Leyka berdiri memunggunginya, karena menghadap mesin kopi dan mesin pemanggang.
"Kau bisa mencium Elbara, gay di Distrikku, aku dengar ia sedang patah hati" kata Damian membuat Leyka tertawa. Leykapun membuatkan kopi untuk Damian, ia kemudian memanggang roti isi daging, kesukaan Damian.
"Menjijikkan-- Manusia setengah jadi itu selalu mondar mandir bila malam" kata Pedro sambil menyiapkan nampan nampan kosong untuk kue kue yang akan segera berdatangan, diantar para penghuni Distrik yang menitipkan kue kue yang akan disajikan disepanjang rak di dalam kedai itu.
"Mommy!!" Train muncul bersama Dolores dengan keranjang berisi kue yang siap disajikan, Train bersedekap dengan wajah cemberut dan tatapan mata sinisnya tertuju pada Damian lalu membuang topi dan juga tasnya, yang mengenal tabiat Train hanya tertawa.
Pagi itu, Train di antar ke Double P oleh Dolores dan Leyka akan membawanya pergi ke sekolah Esperanza.
"Akan terjadi perang dunia" komentar Pedro, semakin membuat Train mendelikan matanya.
"Ohh Train-- Leyka menghela nafas panjang --Pedro, layani Damian!" Pinta Leyka lalu ia menghampiri Train yang berulah setiap harinya dan Leyka diuji kesabarannya.
"Baby-- Leyka baru mendekat dan Train justru menjauhi Leyka dengan melotot ke arah Leyka. Damian melihat itu justru tergelak dan ikut menghampiri Train.
"No Mommy!"
"Train-- bahkan Damian juga mendapat perlakuan yang sama. Sementara Leyka memunguti topi dan tas Train lalu mengibas ngibaskannya, menghalau debu akibat ulah Putranya itu, yang tiba tiba datang dengan marah.
"Nooo Damian!"
"Train! Kau ini kenapa?" tanya Leyka dengan menahan kesabarannya. Leyka memberikan tas dan topi Train kepada Damian yang berdiri disampingnya, lalu Damian menerimanya dan di letakkan di meja yang tidak jauh darinya.
"Kalian berciuman! Kalian tidak sopan! Aku melihatnya dari jauh! Kalian berciuman sangat lama! Apa tidak bisa kalian berciuman seminggu sekali saja?! No me gusta (aku tidak suka; spanyol)!" Pedro terbahak bahak mendengarnya sementara Damian menahan tawanya, lalu Leyka? Ia seperti melihat Valentino di diri Train, tatapannya, matanya yang menyala terang pagi itu, membuat Leyka ingin menghindarinya, Leyka ingin sekali mengabaikannya.
"Damian-- Train benar, kita tidak sopan dan kita tidak akan melakukannya, Train sangat benar. Damian, jangan menciumku lagi" saat opini anak merasa paling benar, saat ada kecemburuan, Leyka hanya bisa mendukung opini itu. Secara Pskologis itu membuat Train merasa di bela. Anak seusia Train harus banyak di dukung selama itu masuk akal.
Damian adalah Pria yang sabar dan ia cepat sekali mengerti perasaan Leyka. Walaupun ada rasa tersengat namun ia menyadari menakhlukkan Leyka dulu bukanlah hal yang mudah. Apalagi menghadapi dan meraih hati Train tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semakin besar, Train semakin mengerti siapa Damian dan siapa Daddynya.
"Padahal aku sudah menutupinya dengan keranjangku, mata cucuku sangat jeli" sahut Dolores terkekeh dengan berbisik kearah Pedro yang masih terbahak.
"Ohh, kering sekali hidup ini tanpa ciumanmu, Tuan Putri!-- Dan Pedro terbahak mengejek Damian --Aku bilang juga itu membuat iri dengki, Sobrina (keponakan perempuan)!" Dan Leyka semakin mendelikan matanya ke arah Pedro.
"Carino, Lo siento (sayang, maafkan aku).. Mommy, tidak akan melakukan hal yang memalukan lagi. Gracias (terima kasih), Train sudah mengingatkan, Mommy" kata Leyka dengan lembut lalu menghampiri Train yang terpaku, ia tidak menghindari Leyka lagi dan memilih menurut saat Leyka menggendongnya.
"Vergib mir, Train" kata Damian dengan menahan tawanya, mata bulat Train yang masih melotot kearahnya yang berada di gendongan Leyka, justru sangat menggemaskan.
"Bahasa apa itu-- Apa artinya!" Train masih ketus dan membuat Leyka gemas, ia menciumi putranya yang berada di gendongannya. Ia berusaha membuat Train menghilangkan kemarahannya. Wajah Train yang marah dengan nada ketusnya membuat wajah Valentino melintas dibenaknya samar samar.
"Kau lupa? Itu bahasa Jerman, Itu artinya Lo siento. Maafkan aku" Leykapun membawa masuk ke dalam dan mendudukkan Train di meja, disamping mesin kasir.
"Huhh, aku tidak mau bahasa Jerman! Aku mau bahasa Italy!" Senyuman Leyka pudar, Dolores dan Pedro juga terdiam. Leyka menatap mata Damian dengan perasaan tidak enak. Namun Damian justru tersenyum hangat.
"Baiklah. Perdonami, Train" kata Damian dengan senyuman dan membelai rambut Train.
"Mommy apakah bahasa Damian benar?" mata itu, mata milik Valentino membulat, Leyka berdebar melihatnya.
"Iya Carino (sayang), itu benar. Perdonami, artinya maafkan aku" dan Leykapun membelai rambut Train lalu mencium kening putranya dengan terpejam dan berbisik,
__ADS_1
"Blue Train.. Blue Train.. Blue Train" Damian terkesima melihatnya, ada rasa nyeri dihatinya saat Leyka melakukannya. Perasaannya tidak mudah di tipu, namun ia berusaha menekan rasa nyeri itu, karena Cintanya kepada Leyka begitu menguasai hatinya.
Apa kau mengingat laki laki yang meninggalkanmu? Kapan kau melupakannya Leyka. Aku tahu walaupun kau sangat membencinya tapi itu hanya permukaannya.. Di dalam hatimu kau masih mempunyai rasa itu. Damian.
"Damian kau bisa bahasa Italy!" Train membuyarkan lamunan Damian, Leyka menjadi salah tingkah dibuatnya. Leyka tahu dan bisa menebak pikiran Damian, karena ia pernah mengatakan kepada Damian sebelum menjadi kekasihnya, menyebut Train 3x saat menciumnya, ia selalu membayangkan Ayah dari Putranya.
"Sedikit-- Apa kau mau belajar denganku?" kata Damian dengan merentangkan Ibu jari dan jari telunjuknya secara berdekatan, memberi tanda bahwa jumlah atau kapasitas yang sedikit.
"No, Damian. Aku akan belajar dengan Daddyku saja. Walaupun entah kapan" Semua sedih mendengarnya, terlebih lagi Leyka.
"Y cuando ese hombre venga lo mataré (Dan ketika pria itu datang, aku akan membunuhnya!" kata Pedro dengan kesal kearah Leyka. Ia mengatakannya dalam bahasa Spanyol, yang Train belum paham sepenuhnya.
"Ese hombre nunca vendrá, Pedro (pria itu tidak akan pernah datang, Pedro)!" balas Leyka dengan mendengus ke arah Pedro.
"Hei kalian bicara apa! Huh, pasti Rahasia! No me gusta, Mommy-- No me gusta (aku tidak suka)!" pekik Train kembali marah. Leyka memendam kekesalannya, ia tidak ingin bertengkar dengan Putranya, ia mencoba bersabar menghadapi Train seperti menghadapi Valentino.
"Train, Mommy ada Rapat Guru dan nanti kamu pulang lebih awal. Pedro akan menjemputmu, Carino. Tidak ada rahasia, benar kan Pedro?" Leyka menatap Pedro penuh arti dan sementara itu Damian hanya tersenyum mendengar percakapan itu.
"Si (iya)!" jawab Pedro dengan kesal.
"Apa perang petisi kalian dengan para pembangun gedung di samping sekolah Train kalah Ley?" tanya Dolores menghampiri Leyka setelah menata kue kue di rak, lalu memberikan sepotong ragout daging kepada Train dan anak itu selalu bersorak.
"Gracias Abuela, (terima kasih Nenek) !" pekik Train.
"Ayo kita duduk disana dan temani aku sarapan" kata Damian sambil menurunkan Train dari meja kasir dan menggandengnya ke mejanya. Leyka tersenyum saat matanya beradu dengan Damian.
"Iya kami kalah Tia Dolores, yang lemah pasti kalah. Pemerintah Kota menyetujui pembangunan Gedung pencakar langit di sebelah Sekolah Esperanza. Sepertinya Pemerintah Kota tidak perduli dengan nasib anak anak. Mereka akan terganggu. Suara suara mesin akan memecahkan konsentrasi anak anak-- Sepertinya pemilik Gedung itu memberi suap ke pemerintah kota" kata Leyka dengan nada kecewa, ia menyiapkan kotak bekal Train untuk dibawanya ke sekolah.
"Sepertinya aku akan membuat kue kue dua kali lipat. Para pekerja pasti akan menyerbu Double P saat sarapan atau jam istirahat. Kita akan di untungkan" kata Dolores sambil meletakkan keranjangnya dan mengambil secangkir kopi dengan menekan tombol di mesin kopi.
"Iya tapi belajar anak anak akan terganggu, kami mengusulkan anak anak di pindahkan sementara tapi belum di setujui Pemerintah dengan alasan tidak ada tempat-- Gedung Pencakar langit itu hanya akan menyumbangkan debu setiap harinya di sekolah. Bikin kesal saja. Seandainya aku bertemu dengan investor dan perancangnya, aku akan memakinya! Bisa bisanya ia menyetujui membangun gedung di samping sekolah tanpa berpikir dampaknya!" kata Leyka memancing Pedro untuk usil.
"Semoga perancang itu seorang Pria tampan dan aku ingin melihat bagaimana kau memakinya, Sobrina (keponakan perempuan)!" celetuk Pedro dengan nada sindirian, bermaksud membuat Damian terbakar. Pedro terkekeh saat Damian melempar tisu kearahnya. Train tertawa senang melihatnya.
"Si Pedro, Si (iya Pedro, iya) ! Tampannya melebihi Damian!" pekik Train membuat Leyka dan Dolores tertawa.
"Jadi kau ikut menggodaku, seperti Pedro?" Train menjerit dan berlarian saat Damian menggerak semua jemari tangannya tanda ia ingin menggelitiki Train. Dan mereka kejar kejaran pagi itu, hingga Damian menangkap Train dan menggelitikinya.
Jeritan Train, mengingatkan Leyka pada jeritannya di Pretoria saat Valentino menggelitikinya, ia buru buru menepis bayangan itu, lalu ia bersiap saat beberapa murid yang dititipkan kepadanya untuk berangkat ke sekolah bersama, telah memasuki Double P yang mulai ramai oleh para pelanggan yang berdatangan. Kepulan asap kopi mulai tercium tajam, harumnya kue kue khas Barcelona yang berdatangan mulai memenuhi ruangan itu, menggugah para penikmatnya yang mulai hilir mudik memilih tempat duduk di spot terbaik mereka.
-
-
-
Akhirnya Train dan Valentino bertemu.
(Tuh udah aku tulis kan? 👆🤣 udah lega kan.. udah aku tulis untuk memuaskan kalian, yg pengen mereka ketemu 🤣)
udah bisa nebak kan, Valentino yg merancang gedung pencakar langit di sebelah sekolah Esperanza.. Ketemu tuh kudu diranjang eh dirancang alurnya.. 😎🤣
__ADS_1
Thanks u utk yang udah ngasih vote senen dan hadiahnya, disini.. uhh bikin semangat menggempur Valentino.. 😘😘