FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Belajar Melupakan


__ADS_3

Hospital


"Anakmu hamil dan aku tidak salah dengar-- Kau tau Alfredo mau menerima Leyka karena ia seorang Putri Mahkota. Dia tidak akan mempermasalahkan kesucian Leyka. Dan Itu menguntungkan bagi kita. Lakukan aborsi saja, dia setuju atau tidak-- Leyka harus aborsi!" ujar Locki di koridor rumah sakit malam itu.


"Aku tidak setuju Mo, Leyka menginginkan anak itu, dan aku tidak mau menjadi pembunuh! Aborsi dilakukan Sah bila atas persetujuan si calon ibu bayi. Bila tidak, maka itu kriminal. Itu kejahatan tingkat tinggi" sanggah Rosemary dengan bersedekap dan memijat pelipisnya.


"Rose! Kita tidak punya pilihan lain! Alfredo menagih janjiku. Hutangku sudah di hapus Rose! Tapi aku belum memenuhi janjiku!" kilah Locki pun tak kalah sengit.


"Gusmo, aku masih bisa mentolerir bila kau menikahkan Putriku dengan bangsawan keturunan Felipe ke V, tapi aborsi-- Di keluarga Kerajaan itu dilarang! Lagi pula Leyka tidak mau melakukannya, dia menginginkan anaknya"


"Rose, itu anak dari pria asing yang tidak jelas asal usulnya! Dia Putri Mahkota! Apa kau gila Rose? Ini mencoreng Rose, sadarlah!" Lockipun mencekal lengan Rosemary, Locki semakin buntu dengan argumen Rosemary yang seakan membela Putrinya.


"Kau yang harus sadar! Itu pembunuhan, Mo! Aku tahu itu akan mencoreng Keluarga Kerajaan, karena itu aku akan menikahkannya dengan pria yang mau menerima Leyka. Mungkin saja pelayan atau pengawal atau sopir atau siapapun yang mau menerima Leyka dan anaknya, aku akan membayarnya demi nama baik Keluarga Kerajaan! Yang pasti Leyka tidak hamil di luar nikah! Kecuali, Alfredo mau menerima Leyka dan anaknya!"


"Rose--


"Katakan apa adanya pada Alfredo! Aku tahu Alfredo jatuh cinta pada putriku! Cinta sanggup menerima apapun kekurangan Leyka, Mo-- Aku akan berpamitan pada Putriku lalu pulang! Besok aku akan kembali membawakan makanan kesukaanya" Rosemary melepas cekalan tangan Locki dan berjalan kembali menuju kamar Leyka.


"Kalau kau tidak mau menurut, maka sebaiknya aku pergi dari mansion itu!" ancaman Locki selalu membuat Rosemary luluh, ia takut kesepian. Sejak kepergian mendiang suaminya, Lockilah teman pengusir sepinya bahkan ketika Pacho jatuh sakit, Locki selalu ada untuknya. Tapi kali ini ancaman Locki tidak berlaku lagi. Karena menyangkut kehidupan cucunya, Rosemary tidak akan tunduk.


Rosemary menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah samping, tanpa melihat Locki berdiri di belakangnya.


"Maka pergilah kalau itu maumu!" Rosemarypun melanjutkan berjalan menyusuri koridor menuju kamar Leyka dengan menegakkan kepalanya. Locki seakan tersengat, ia tidak percaya dengan apa yang Rosemary katakan. Ia bingung kenapa Rosemary tiba tiba berubah.


Lockipun mengedarkan pandangannya, lalu ia mengambil ponsel dari balik saku jas yang ia kenakan, untuk menghubungi seseorang.


"Hei, panggilkan seorang Dokter kandungan untuk mengaborsi secara diam diam di rumah sakit veteran di kota Palma"


"................"


"Kau ada kenalan?"


"................"


"Baguslah"


"................"


"Besok Malam? Baiklah. Jam 11 Malam. Aku akan siapkan uangnya" Locki menutup ponselnya, dan mengedarkan pandangannya. Lalu ia kembali berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Leyka, mengikuti Rosemary.


Sementara di dalam kamar Leyka, Rosemary kembali duduk ditepi ranjang pasien dimana Leyka berada. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Rosemary memandangi Leyka lekat lekat lalu menyingkirkan anak rambut yang terberai di leher Leyka.


"Ibu" Leyka membuka matanya.


"Kau belum tidur? Apa ada rasa tidak nyaman? Kau mau sesuatu?"


"Ibu, Pachito tidak mau apapun. Pachito mau memeluk Ibu saja" Leyka menggeser tubuhnya dengan hati hati lalu Rosemary merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, beralaskan tangannya yang ditekuk Rosemary tersenyum dan membelai pipi Leyka. Kehamilan Leyka membuat Rosemary bersikap lembut, ia ingat ketika ia hamil Leyka dan Pacho selalu ada untuknya, tapi apa yang terjadi pada Putrinya, benar benar membuatnya berbelas kasih. Ia ingin mencurahkan kasih sayangnya kembali.


"Apa dia tampan? Apa dia dari Italy?" Leyka mengangguk dan merebahkan kepalanya di dada Rosemary lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang Ibu.


"Hidungnya seperti Pinokio"


"Apa dia tukang bohong?" Rosemary terkekeh.


"Entahlah-- Tapi di sangat tampan, matanya terkadang berwarna abu abu bila malam hari, dan seperti menyala terang kebiruan saat pagi hari. Dia-- dia tidak mau berkorban untukku. Mungkin aku tidak penting baginya, dia-- Leyka tidak sanggup meneruskan kata katanya, airmata terlalu banyak menghalangi pandangan matanya hingga ia memilih terpejam, tenggorokannya pun seakan terhalang.


"Sstt, Cinta tanpa pengorbanan hanyalah keegoisan-- Pachito, apa kau mencintainya?" tanya Rosemary sambil mengusap punggung Leyka, memberi sentuhan yang terkadang Leyka butuhkan dan juga Leyka rindukan.


"Seperti apa cinta Ibu kepada Ayah?" Leyka justru berbalas bertanya.


"Seperti menatap matamu dan Ibu tidak sanggup melihatnya. Leyka-- Mungkin Ibu terlalu kejam padamu. Ibu melukai perasaanmu. Tapi tidak ada yang tahu dalamnya hati Ibu. Ibu terlalu cepat kehilangan Cinta dan Ibu tidak mau meratapinya. Hidup ini tidak adil Leyka, jiwa Ibu penuh kemarahan. Setiap melihatmu Ibu seperti melihat Pacho yang begitu cepat meninggalkan Ibu. Karena itulah Ibu selalu menghindarimu. Ibu mengabaikanmu" Leyka mencerna perkataan Rosemary, Ia mengingat bagaimana Ibunya merawat Ayahnya dan mengalami pergolakan batin.


Antara takut kehilangan dan juga menghadapi kematian orang yang dicintainya sangatlah sulit, Rosemary butuh sandaran kala itu. Ia menghindari Cintanya hingga Pacho tiada, Leyka menangis di pelukan Ibunya kemudian.


"Ibu--


"Leyka, merawat anak sendirian tidaklah mudah. Kau butuh tempat bersandar. Kau akan kesepian dan manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia itu serakah. Anak saja tidaklah cukup. Ada sisi ketidak puasan akan jalan hidup yang akhirnya manusia memilih jalan untuk bertahan. Ibu lelah menghadapi Ayahmu, Ibu tidak sanggup kehilangan, menghadapi kematian orang yang kita cintai tidaklah mudah, lebih baik menghadapi kematian kita sendiri, Leyka. Karena itulah Ibu melukai diri sendiri dan melukaimu. Kau pikir Gusmo adalah Pria yang Ibu cintai? Tidak Leyka, Gusmo hanyalah Ibu anggap sebagai teman kesepian Ibu. Karena Ibu tidak sanggup menatapmu. Menatapmu rasanya seakan Pacho hidup kembali. Tapi Ibu tidak bisa meraihnya. Dan itu menyakitkan, Leyka" dan Leyka semakin membenamkan wajahnya di dada Rosemary.

__ADS_1


Menghadapi kehamilannya sendiri, Leyka bertanya tanya pada dirinya. Apakah ia bisa? Apakah ia sanggup? Dan sisi batin mengatakan, aku bisa sendiri. Bukankah seperti itu pergolakan batin dalam sekat hati manusia?


Saat salju pertama turun di Barcelona, kau harus ada disana Val.. Bila tidak, aku tidak akan pernah mengenalmu.. Kau akan aku anggap masalalu.. Aku bisa menghadapi sendirian.. Aku tidak mau seperti Ibuku.. Bahkan kehamilanku ini, membuatku sangat bahagia, bagiku itu sudah lebih dari kata Cukup..


"Ibu-- Aku tidak mau seperti Ibu. Bersama anakku saja itu sudah cukup" Rosemary semakin mendekap Leyka, ia tidak sanggup melihat Leyka menangis, ia hanya akan menghindari Leyka bila melihatnya, lebih baik ia tidak melihat putrinya menangis asalkan ia bisa memeluknya.


"Kau akan mengerti suatu saat nanti. Ada banyak wanita hidup bersama anaknya, tapi tetap saja ada sisi kewanitannya yang begitu kosong dan membutuhkan sentuhan. Hubungan tidak hanya sekedar se*x, Leyka. Tapi terkadang kita butuh teman bicara yang bisa leluasa berbicara melebihi sahabat, dan itu pasangan kita. Kau tidak tau rasanya tersiksa kehampaan ketika orang yang kau cintai pergi untuk selamanya. Bahkan anakmu akan menyiksamu dengan wajah pria yang kau cintai dan saat itu, KAU AKAN BERLARI. Berlari mencari sandaran dan itu bukan Cinta. Karena itulah, menikahlah atau cari pria itu, katakan padanya kau mengandung anaknya. Leyka, mengapa Ibu melarangmu ke Barcelona. Itu karena Ibu takut kehilangan cinta Pacho dan itu ada padamu" menghirup aroma Putrinya, Rosemary memejamkan matanya, bayangan Pacho melintas di pikirannya dan kembali menyayat hatinya. Airmata turun di celah matanya sekalipun ia mengeratkan pejamannya. Rosemary wanita bangsawan yang terluka, dan menjadi angkuh, kini menangis untuk Putrinya.


"Apa Ibu bisa meninggalkan Loco demi aku?"


"Pachito, Ibu butuh teman" jawab Rosemary dengan lembut.


"Maka selamanya Pachito akan tinggal di neraka" ujar Leyka dengan dada yang kian sesak.


"Pachito"


"Ibu, aku menyayangimu. Mari kita tinggalkan Palma dan mari kita hidup di Barcelona" Leyka mengurai pelukannya dan menatap Ibunya lekat lekat.


"Maafkan Ibu, Pachito. Ibu bukanlah Ibu yang baik. Ibu tau semua kesalahan di Mansion itu, dilimpahkan kepadamu. Mengapa kau mirip Ayahmu? Mengapa kau mirip Pacho, matamu, hidungmu, tatapanmu, senyumanmu, aroma mu bahkan bulu matamu-- Oohh My Lovely Pacho. Mengapa begitu cepat kau meninggalkanku. Ini tidak adil" Rosemary kembali memeluk Leyka seeratnya dengan terisak isak dan Leyka membalasnya dengan lebih erat.


"Bahkan saat itu, usia Ibu sama seperti dirimu sekarang ini dan Ayahmu hanya sebentar saja bersama kita. Pachito, bukankah Ibu terlalu muda saat itu? Pachito, jangan seperti Ibu. Hidupmu akan seperti di neraka bila kau memberikan ayah sambung bagi anakmu. Kau akan menciptakan neraka bagi dirimu sendiri dan anakmu. Seperti yang Ibu lakukan. Cari dia bila kau mencintainya, atau tetaplah sendiri selamanya seperti Bibimu Dolores. Tapi bila tidak, menikahlah hanya untuk menutupi dari keluarga Kerajaan. Kau tidak harus bersama, hanya untuk status saja" Rosemary mencium kening Leyka, ia tidak sanggup lagi dan memutuskan bangun sambil menyambar beberapa lembar tisu lalu menyeka hidungnya.


"Aku tidak bisa berpikir bahkan aku tidak berniat mengetuk pintu setiap rumah di Italy. Aku tidak segila itu Ibu. Dia tahu dimana Leyka berada, bila Valentino mencintaiku, dia akan datang padaku. Semoga saja saat itu tidaklah terlambat. Karena Leyka setengah membencinya, Leyka hanya perlu sedikit lagi mendorongnya menjauh selamamya dari hatiku. Laki laki yang tidak bisa berkorban dan mementingkan Kesuksesan, dia hanyalah Pecun*dang! Leyka hanya ingin sosok laki laki seperti Ayah. Sederhana, bertanggung jawab dan mencintai kita" ujar Leyka memandangi Ibunya yang duduk di tepian ranjang.


"Jadi namanya Valentino?" Leyka mengangguk ketika Rosemary memandanginya dengan tersenyum hangat, senyum yang Leyka lihat saat kecil, kini ia melihatnya lagi.


"Saat musim gugur menjelang musim dingin akhir tahun ini, anakmu akan lahir. Biasanya itu saat salju pertama turun di Spanyol-- Istirahatlah jangan banyak berpikir. Ibu akan kembali besok" Dengan penuh kasih sayang Rosemary mencium kening dan juga kedua pipi Leyka. Ada rasa hangat mengalir pada ciuman Rosemary, dan Leykapun menciumi tangan Ibunya.


"Apa kau sudah selesai, Rose?" Rosemary dan Leyka menoleh secara bersamaan, Locki terlihat berdiri diambang pintu dan berjalan kearah Leyka. Sementara Leyka memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya kemudian.


"Dimana temanmu itu--


"Aku disini, Tuan Locki" Manuella terlihat tergesa gesa memasuki kamar Leyka, entah dari mana namun wajahnya terlihat pias. Ia menggenggam kopi dan dua kotak hamburger. Locki menatap Manuella dengan pandangan menyelidik. Manuella gelisah bukan kepalang namun ia buru buru memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Pachito Ibu pulang dulu. Tidurlah" ujar Rosemary seraya mengambil mantelnya.


"Aku akan menemani Leyka, Tuan Locki" ujar Manuella membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana.


"Tidak perlu, karena Leyka harus istirahat. Suster dan Dokter yang akan menemaninya" pancaran mata Locki tajam dan menusuk, Manuella semakin berdebar.


"Manuella pulanglah" ujar Leyka mengerti ketakutan sahabatnya itu. Namun ia tidak mengerti mengapa Manuella ketakutan.


"Makanlah hamburger itu bila kau tidak bisa tidur, aku akan membawa kopiku. Besok siang aku akan kembali" ujar Manuella menyambar kopinya dan mencium Leyka lalu beranjak pergi. Rosemary pun mencium Putrinya kembali dan berlalu pergi. Dan efek obat yang ia minum membuat Leyka terlelap kemudian.


...*...


Pukul 05.00 waktu Palma de Mallorca


"Leykaa.. Ssttt.. Leykaaa.. Bangunlah.. Sstt" suara itu berbisik lirih.


Leyka membuka matanya, namun rasanya masih berat, Ia tidak bisa melihat dengan jelas, namun ia mengenali suara itu. Manuella mencabut jarum suntik di pergelangan tangannya dan membuat Leyka duduk. Leyka meringis merasakan pergelangan tangannya yang berdarah. Manuella melepaskan baju pasien dari tubuh Leyka dan menggantinya dengan baby dol selutut dengan bahan berbulu hangat, lalu membalutkan mantel kemudian.


"Manuella, apa yang kau lakukan"


"Sstt, diamlah. Kita akan pergi dari sini secepatnya, nanti aku ceritakan dijalan" bisik Manuella membuat Leyka semakin linglung. Matanya masih setengah terbuka, udara dingin itu membuat matanya mengajaknya terlelap.


"Apaa?"


"Sstt, ayo. Pegang pundakku" Manuella memapah Leyka dan keluar perlahan dari kamarnya. Ia harus menghindari penjaga dan ia memutar jalan kearah belakang rumah sakit. Leyka dipaksa sadar dan membuka matanya, ia terus berjalan menyusuri koridor dengan di papah Manuella hingga ia keluar dari rumah sakit itu. Sebuah mobil double-cabin dengan muatan penuh di belakangnya menunggunya dalam keadaan mesin menyala. Dan seorang pria yang sangat ia kenal, tersenyum hangat kearahnya. Ia duduk di balik kemudi dan membuka pintu untuknya.


"Diego?" Leyka tertegun dan memandangi Manuella.


"Hai" sapa Diego membuat dada Leyka berdebar.


"Masuklah cepat Leyka, tidak ada waktu untuk berdiri saja-- Ayo, cepat masuk" Dengan kebingungan Leyka masuk di baris kedua mobil itu dan Manuella bergegas masuk duduk disamping Diego. Mobil itu, melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Manuella menyodorkan sebotol air minum kearah Leyka, ia tau pasti Leyka sangag haus.


"Manuella, apa ini pelarian kita?" kata Leyka meneguk perlahan air minum itu yang menyapu dahaganya kemudian menyeka mulutnya. Ia kemudian duduk dengan rileks, tangannya merapat melindungi perutnya dengan mantel, seakan melindungi buah hatinya yang tumbuh berkembang disana.

__ADS_1


"Leyka, Loco memanggil Dokter dari rumah sakit lain untuk menggugurkan kandunganmu. Leyka, kita harus pergi"


"Apa?!" Mendengar perkataan Manuella, Leyka seakan ditampar, ia sangat terkejut. Leyka semakin mendekap erat perut, matanya mulai berkaca kaca, kesedihan melanda di rapuhnya hati yang masih lara penuh dengan luka.


"Apa kau masih ingin di Palma?" tanya Diego membuat Leyka berdebar, Palma kota yang indah tapi justru itu Neraka baginya.


"Tidak tidak.. Aku akan kehilangan anakku bila aku di sini. Loco sialan itu. Mengapa dia berambisi sekejam itu?" Leykapun buru buru menyeka airmata yang menuruni pipinya, hatinya menghangat dan kesedihannya tak kunjung menghilang.


"Ley-- Hutang Tuan Locki, sangat banyak. Hanya orang dari keturun Raja Carlos II yang bernama Alfredo, yang bisa menolongnya tapi memang kau dijadikan bahan taruhan. Kau penebus hutang. Karena harta Ibumu tidak mampu menutupi hutang Tuan Locki-- Ehm, Ella menceritakannya padaku. Dan aku sudah putus dengan Ella" ujar Diego dengan perasaan tidak nyaman. Ia mengetahui bahwa Leyka dulu saat di Universitas menyukainya namun Ella berhasil merebutnya dari incaran Leyka.


"Kau put--


"Manuella benar, ia mendekatiku bukan karena Cinta tapi karena ingin mengambil apa saja yang kau sukai-- Ehem. Itu, maksudku. Ella hanya merasa ingin bersaing dengan mu saja" ujar Diego dengan gugup.


"Diego, kita perlu memperjelas situasi kita sekarang-- Apa kau akan bersama kami ke Barcelona?" tanya Leyka dengan gusar.


"Dia memutuskan di menit terakhir, Ley. Dia, dia berkencan denganku selama kau di Afrika. Ehm, maafkan aku" ujar Manuella membalikkan tubuhnya ke arah jok belakang, dimana Leyka terkejut dengan mulut terbuka dan mata berbinar.


"Apa!! Manuella? Kau dan Diego--


"Karena chat fake yang kau inginkan untuk Pria Italy-mu itu, akhirnya aku dan Diego akrab dan kita berkencan. Sesimpel itu, toh kau telah menolak Diego mentah mentah" Leyka tertawa merasa konyol melihat ini semua, ia tidak menyangka sama sekali, sahabatnya justru berkencan dengan pria yang pernah di sukainya.


"Apa kau tertawa dengan terluka?" tanya Manuella dengan mengerlingkan matanya dan Leyka semakin tertawa.


"Shit!! Saat Diego bersama Ella Gusmo, aku telah melupakan bahwa aku pernah menyukai si breng*sek ini!" ujar Leyka sambil memukul meninju lengan Diego.


"Aku tau itu, Dear. Karena itulah aku mau berkencan dengannya" Ujar Manuella memandang Diego saat Diego mere*mas pahanya dengan melemparkan senyumannya. Leyka bahagia melihat kedua pasangan itu di hadapannya, namun ia justru melihat adegan demi adegan yang pernah dilaluinya bersama Valentino di Afrika yang kembali mengiris hatinya.



Mobil itu terus melaju ke arah matahari terbit. Leyka membuka kaca jendelanya lalu mengeluarkan tangannya seakan membelai angin yang menyapu embun pagi.


"Goodbye, Palmaaaa De Mallorca!"


"Lebih keras lagi Ley! Seperti ini-- Goodbye Palmaaaaa de Mallorcaaa!! Wuuuuuu!!" Manuella pun membuka kacanya dan memekik dengan keras.


"Goodbyeee Palma De Mallorca!" Diegopun tidak mau kalah. Mereka tertawa dan saling memandang lalu mereka menarik nafas dalam secara persamaan seperti bertelepati, mereka berteriak bersama.


GOODBYE!! PALMA DE MALLORCA!!!


Dan mobil itu melaju menuju Pelabuhan Palma De Mallorca untuk menyeberang ke Barcelona, di iringi matahari terbit, di iringi tawa canda mereka.


Barcelona, Aku datang.. Semoga kehidupanku jauh lebih baik disana.. Ibu maafkan aku.. Aku anggap semalam adalah perpisahan kita.. Val, aku akan belajar melupakanmu..


...*...


Jaret menunjukkan tabletnya kearah Valentino, dan membuka berita terviral di benua Eropa.


"Tuan Putrimu, kabur dari Palma. Semua pihak mencarinya! Menurut gosipnya ia kabur dengan sahabatnya dan kata saudara tirinya, Leyka kabur bersama tunangannya. Ini keren! Mereka memesan tiket pesawat tapi mereka tidak ada disana. Mereka mengecoh dan memilih kabur menaiki kapal feri! Tunangannya boleh juga" ujar Jared membuat Valentino tersengat, ia mengepalkan tangannya.


"Diego. Itu sudah pasti Diego!" kata Valentino dengan geram dan reflek ia melempar tablet Jared yang dipegang.


"Diev!! Kau menghancurkan Tabletku!! Fu*ck!!"


Leyka! Kau memang wanita kejam! Shitt!! Mudah sekali kau melupakanku.. Kau pikir aku tidak bisa? Kita akan sama sama saling belajar melupakan! Bahkan hanya sekedar namamu, Leyka Paquito Fernandez, aku akan melupakanmu..


Dan Valentino kembali mematahkan pensil yang ada di genggamannya. Rancangannya yang setengah jadi, tak luput dari amukannya. Ia merobeknya.


-


-


-


Sep*ongiler eh Spoiler : Besok ada tulisannya The Present Day 🤣 Heran deh eike, kemaren nanya kapan pisah. Giliran pisah nanya kapan ketemu, jangan bikin bingung apa.. minta pisah udah aku pisahin.. Giliran pisah minta ketemu.. Ini hati bang, bukan kerupuk yang kesiram kuah🤣🤣🤣🤣🤣


eh Vote senen dan hadiahnya, ke akoohhh dong 🤣🤭

__ADS_1


dan kumpulin Poinmu di rangking umum, nanti ada GA lg loh. 😁


__ADS_2