FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Sekarang Giliranku, Peach !


__ADS_3

Train duduk di kursi yang berada di lobby Gedung Locomotive Machine, seusai pulang sekolah, ia menunggu Daddynya. Margaretha menyampaikan pesan Leyka untuk Train bahwa Mommynya pulang terlebih dahulu, karena sakit kepala migrain. Train harus menunggu Daddynya namun tanpa Train tahu Daddynya justru telah pulang terlebih dahulu. Jared dan Torres menghampirinya setelah mereka turun dari lantai sepuluh.




"Hai Boy! Vamos a casa (ayo kita pulang)" kata Jared mengacak rambut Train yang duduk dengan mengunyah apel ditangannya.


"Mana Daddy?" tanya Train menoleh kearah Jared dan Torres sambil menggigit lagi apelnya.


"Sepertinya Daddymu menyusul Mommymu-- mungkin Mommymu tidak enak badan" sahut Torres.


"Si (iya) aku tahu Torres! Miss Margareth memberitahuku kalau Mommy tidak enak badan! Mommy migrain! Kepala Mommy mau meledak!" kata Train dengan apel di mulutnya. Jared dan Torres tergelak mendengarnya.


"Miss Margareth berkata seperti itu?" tanya Jared.


"No Uncle Jared! Miss Margareth hanya mengatakan kalau Mommy migrain! Tapi biasanya Mommy mengatakan kalau sakit kepala migrain, kepala Mommy mau meledak-- Dan aku tidak boleh nakal dan mengganggunya" kata Train masih menikmati apelnya dengan melihat beberapa siswa berlarian ke arah parkir bus kuning, bus sekolah yang berada di halaman Gedung Locomotive Machine.


"Masuk akal. Baiklah Boy-- aku akan mengatakan pada sopir bus untuk tidak menunggumu. Karena kami akan mengantarmu, kami akan minum kopi di kedaimu-- Vamos (ayo)!" ajak Torres dengan menggerakan tangannya agar Train bergegas.


"Noo No No! Uhs No!" seru Train setelah menelan apel dari mulutnya.


"No? Apa yang kau tunggu?" tanya Torres sambil mengerutkan alisnya dan menggedikan bahunya kearah Jared yang menggelengkan kepalanya.


"Kalian yang harus menungguku! Aku sedang makan apel-- kata Mommy, bangsawan tidak boleh makan sambil berjalan!" Jared dan Torres melengos, Jared akhirnya duduk disamping Train lalu Jared kembali menyandarkan tubuhnya di pilar yang menyangga teras lobby.


"Astaga! Disiplin sekali Mommymu" ujar Torres dengan bersungut sementara Jared tergelak sambil mengacak rambut Train.


"Aku bisa tersedak dan aku punya asma. Aku tidak bisa tenang kalau berjalan" ujar Train.


"Cepat habiskan apelmu, aku sudah lapar" kata Torres tak sabaran.


"Uhss! Kau akan menggoda Penelove love-- Benar kan? Ingat ya Torres, kalau kau nakal padanya maka aku akan menjatuhkanmu dari lantai 10. Kau tahu kan itu adalah gedungku!" seru Train dengan mengerutkan alisnya. Jared tertawa saat Train mengatakan Locomotive Machine adalah gedungnya. Sifat itu menurun dari Valentino tentunya.


"Benar benar-- Ayah dan anak sama saja!" Torres menggaruk kepalanya, lalu ia melepas jasnya kemudian melipat lurus dan meletakan di lenganya dengan posisi bersedekap. Ia merasa panas bila di singgung tentang Penelope.


"Hahaha-- jaga bicaramu bila berhadapan dengan anak kecil, Torres! Apa lagi pada anak genius ini!" Jared terkekeh dan mencubit pipi Train dengan gemas. Train ikut terkekeh melihat Torres yang bersungut sungut.


"Bicara Torres baik baik saja! Dia memberiku ide brilian! Memasukan Mommy dan Daddy ke dalam botol kecap! Karena itulah aku mengunci Mommy dan Daddy di Basement! Sulit sekali mencari botol kecap yang besar, mengunci mereka di Basement sama saja kan mereka tidak bisa kemana mana-- Benar kan Torres?" Train cekikikan mengingat ulahnya, tawa Jared terdengar begitu renyah siang itu.


"Ekh.. Ehmm.. Iya.. Tapi jangan katakan itu ideku! Jangan bawa bawa namaku! Mommymu bisa membunuhku tapi Daddymu pasti berterima kasih padaku!" ujar Torres melengos dengan mencebikan bibirnya.


"Jika Mommy dan Daddy berbaikan, maka aku akan memanggilmu Uncle! Tapi tetap saja kau tidak boleh nakal pada Penelove-love ku! Uhss!"


"Cihh, dia yang nakal bukan aku" jawabnya datar.


Train meraih tisu dari dalam tasnya lalu ia menyeka mulutnya, kemudian bekas tisu itu ia gunakan untuk membungkus sisa buah apel yang sudah tidak bisa makan yaitu biji apel dan tangkainya. Train bangkit berdiri dan membuangnya ke tempat sampah.


"Dia bersih, rapi dan teliti seperti Gallardiev dan kerapiannya seperti-- Miu" kata Torres dengan berbisik.


"Karena Gallardiev mendidik Miu seperti dirinya dan Train adalah Gallardiev -- Ckk, kita bersalah Torres. Kita membohongi Miu dengan mengatakan Gallardiev berada di Madrid. Aku hanya ingin membuat Train mendapatkan haknya. Delapan tahun Torres, itu tidak adil untuk Train dan Leyka. Aku terpaksa membohonginya. Sebenarnya aku tidak tega pada Miu" kata Jared menghela nafas panjang.


"Tapi jika tidak ada Miu saat itu. Ahh entahlah-- Mungkin Gallardiev sudah-- Ahh, saat itu sangat mengerikan" ujar Torres memijat pangkal hidungnya.


"Dia datang" ujar Jared bangkit berdiri kearah Train lalu Torres menegakan tubuhnya.


"Vamos a casa (ayo kita pulang)" lalu Train kembali ke kursinya. Ia mengambil botol minum lalu meneguknya. Kemudian Jared membantu Train membawakan tasnya lalu menggandeng tangan mungil itu kearah parkir bus sekolah kuning untuk meminta izin kepada petugas bahwa Train akan pulang bersama mereka.


Apa yang mengerikan? Apa yang mereka tadi bicarakan? Sepertinya ada rahasia. Train.


-


-


-

__ADS_1


...Apartemen Casa De Miel...


Lantai Tujuh


"Shiiitttt!" gumam Leyka dan ia pun membalikan tubuhnya lalu berjalan kearah pintu Apartemen Raja namun sebelum dua langkah mencapai pintu Valentino telah membukanya dengan mata kemerahan, dengan memiringkan wajahnya dan dengan senyuman hangatnya.


"Apa kau membutuhkan aspirinku?"


"Si-- Aku sangat membutuhmu" Valentino sambil melonggarkan dasinya.


"Ohh-- Shiitt Val" desis Leyka sambil menyepak pintu hingga menutup, melempar tasnya, melepas mantelnya, mengibaskan kakinya agar sepatunya terlepas dengan nafasnya yang memburu, semua berserakan di lantai.


Leyka seakan ingin berlarian kearah Valentino yang hanya beberapa langkah di hadapannya dengan melakukan hal serupa. Menarik dasinya, melepas mantel dan dibuang ke lantai, melepas jas nya lalu menginjak tumit sepatunya untuk melepasnya lalu melucuti kedua kaos kakinya. Semua kacau dan bertebaran di lantai.


"Sshh.. Leyka.. Hahhhmm-- Leyka berjinjit dan menarik kepala Valentino kearahnya lalu menahannya, hingga Valentino menunduk merengkuh punggung Leyka. Tanpa memberi kesempatan Valentino bernafas, Leyka melu*mat bibir Valentino dengan memejamkan matanya. Dengan buasnya Leyka seakan melahap segalanya melampiaskan kerinduan dan segala has*rat yang ditahannya selama ini.


Leyka semakin buas mencengkeram kuat kepala Valentino, jemarinya menelusup ke dalam rambut hitam pria Italy yang menghancurkan pertahanannya. Benteng itu runtuh seketika, dengan liar Leyka mema*gut bibir Valentino, menghirup aroma khasnya, merampas nafasnya sambil mere*mas rambut Valentino sesekali satu jemari tangannya mencengkeram dagu Valentino mengusap bulu bulu kasar yang kian melebat serta merayapi telinganya dan mere*masnya.


Sementara tangan kokoh Valentino berkeliaran mencengkeram bok*ong Leyka menekan kearah miliknya dengan gerakan erotis. Valentino meraih keatas satu paha Leyka dengan kasar, agar menaut di pinggangnya hingga merobek rok span milik Leyka.


"Ungghh.. Uhhmmm.. Sshh"


"Hhh.. Ngghh.. Sshh"


Leng*uhan demi leng*uhan mereka terdengar bersahutan dan bersambut seiring langkah kaki mereka perlahan lahan menuju kamar.


Jemari tangan Valentino yang tidak sabaran menurunkan resleting rok span dan melucutinya karena kesulitan Valentino merobeknya dengan sekuat tenaga agar terlepas karena pagu*tan Leyka begitu ketat bahkan Valentino menahan rasa perih dalam setiap gigitan manis dan his*apan lembut hingga bibir Valentino terasa kebas.


Leyka yang terlihat liar adalah Leyka yang dulu pernah berada di Pretoria, mengisi hari hari indah Valentino dan Leyka telah kembali bahkan melebihi sebelumnya. Valentino menjadi terbakar sepenuhnya, tangannya menelusup ke dalam bokong Leyka dan mere*mas bo*kong sintal itu.


Merasakan gairahnya semakin meledak, Leyka melucuti ikat pinggang Valentino lalu menurunkan resletingnya, hingga celana bahan Valentino, lolos dengan mudah. Tangannya kemudian merayapi kancing kemeja dan Leyka menguraikan kemeja itu dengan kasar, hingga kancing demi kancing bertebaran di lantai. Valentinopun membebaskan dirinya dari kemeja yang membalutnya lalu ia pun melakukan hal yang sama pada blouse yang Leyka kenakan. Kancing kemeja milik Leyka berhamburan, bahkan blouse Leyka telah robek karena kekuatan tangan Valentino.


Tidak sampai disitu, bahkan Valentino merobek renda pada penutup dada Leyka, melucutinya dan membuangnya ke lantai. Valentino mengurai ciuman panas itu dengan terengah engah ia melucuti kaos dalam berbahan tipis tanpa lengan lalu melemparkannya begitu saja.


Matanya berbinar menatap nanar buah dada Leyka yang selama ini selalu membuatnya penasaran. Valentino mengingatnya dengan jelas, buah dada Leyka tidak lagi seperti dulu. Buah dada Leyka dahulu pu"ttingnya belum menonjol sempurna hanya lingkar pink menghiasinya. Ukurannya sekarang terlihat lebih besar dan masih padat berisi.


Leyka bahkan menegakan tubuhnya, hingga buah dadanya yang menggunung dan menggantung dengan indah itu terlihat membusung ke depan di tambah nafasnya yang naik turun membuat pemandangan indah itu sangat sempurna membakar gairah Valentino.


"Kau.. Ley.. Kau.. Menyusui Putraku?" Leyka hanya mengangguk dengan tersenyum dan tersipu malu saat Valentino bertanya.


"Ini.. Ini.. Ley.. Ini.. Indah sekali Ley.. Bahkan lebih.. Indah" suara Valentino terdengar semakin berat dan terbata bata melihat kesempurnaan yang begitu menggugah itu. Mata Valentino menatap dengan menghiba, tanganya membelai permukaan buah dada itu dengan kedua telapak tangannya, berputar putar menyusuri lekuk demi lekuk.


"Benarkah lebih indah?-- Kau menyukainya Val" tanya Leyka dengan nada berbisik.


"Aku sangat menyukainya Ley.. Ini sangat se*xy.. Ohh Leyka" bisik Valentino dengan lembut.


Valentino pun mengusap bulatan mungil yang berada di puncak buah dada Leyka dengan punggung jari telunjuknya, gelenyar itu melesat dan menyerang pang*kal pahanya. Valentino terkesima melihat bulatan mungil itu terlihat mengeras.


"Ini indah.. Sangat.. Indah-- Aah.. Kau menyusui Train.. Terima kasih Mi Amor (cintaku; Spanyol)" Leyka semakin berdebar ia kembali berjinjit dan meraih kepala Valentino dan berbisik lembut, "Kau pilih mana-- aku menyeretmu ke kamar atau kau menggendongku kesana-- Il mio amor? (cintaku; Italy)" bisik Leyka di telinga Valentino lalu Leyka melu*mat daun telinga itu dan menghi*sap ujungnya hingga Valentino meremang.


"Aaarghh Leyka.. Aah Mi amor.. Te quiero.. Te quiero (Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu).. " dengan cepat Valentino menyambar tubuh Leyka dan membawanya ke kamar lalu menghempaskan tubuh Leyka diatas ranjang. Dengan gerakan cepat Valentino menyalakan pendingin ruangan, menyingkarkan bantal guling yang rasanya mengganggunya.


Valentinopun merangkak diatas tubuh molek bak gitar Spanyol, nafas Valentino memburunya dan pandangan mata tertuju pada senyum indah yang mendebarkan jantungnya, mata sayu yang melumpuhkan semua sendi dan otot tubuhnya. Leyka pun membentangkan kakinya lalu menekuk dan dengan gerakan ero*tisnya Leyka melepas underwear Valentino dengan ibu jari kakinya.


"Aahh... Ley" de*sahnya lirih. Melihat aksi Leyka, Valentino berhenti merangkak lalu melucuti underwear yang membungkus ketat jagung bakar Afrika Selatan karena Leyka telah menurunkan sebagian dengan kakinya. Leyka menggigit bibirnya, nafasnya seakan lenyap melihat betapa menjulangnya milik Valentino yang dulu selalu menerbangkan hasratnya.


Valentino duduk kemudian dan menarik underwear Leyka dengan sekuat tenaga hingga merobeknya lalu menciumnya dengan senyuman dan tatapan memikat kemudian membuangnya.


"Ohh Val" desis Leyka lirih melihat aksi Valentino. Tubuh mereka memanas padahal suhu kamar itu telah dingin.


Valentino kembali mendorong tubuhnya merangkak ke atas tubuh Leyka, menopang bobot tubuhnya dengan kedua kaki dan satu tanganya, sementara tangan yang lain merayapi wajah Leyka.


"Te quiero, mi Esposa (Aku mencintaimu, istriku) lama sekali aku menunggumu" Leyka menangkap jemari tangan Valentino yang mengusap lembut hidung dan bibir sen*sualnya lalu Leyka mengarahkan tangan kekar itu pada buah dadanya yang masih padat dan kenyal.


Valentino tersenyum namun senyum itu menghilang karena Leyka dengan liar menyambar kepala Valentino dan meremas rambutnya. Leyka kembali melu*mat bibir Valentino melenyapkan senyuman yang membuatnya semakin runtuh. Leyka menekannya kuat seiring tangan Valentino mere*mas buah dadanya dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Ngghhh.. Leyka!" Valentino melepas tautan di bibir Leyka dan meraba bibirnya dengan menahan sakit karena Leyka tanpa sadar menggigitnya.


"Ahh.. Val.. Perdonami (maafkan aku; Italy)" Leyka menggigit bibirnya dan Valentino menyeringai melihat keliaran istrinya.


"Apa yang kau lakukan saat kau ingin bercinta? Bagaimana menyalurkannya?" Leyka hanya tersenyum dengan wajah memerah.


"Jawablah il mio amore. Kau sangat liar" bisik Valentino dengan nafas memburu dan mata yang memohon.


Leyka menyentuh bibir Valentino, lalu memasukan jari tengahnya sebagai jawaban. Valentino membulatkan matanya. Pikirannya liar membayangkan Leyka. Valentino pun meraih kedua tangan Leyka lalu menariknya keatas dan menekannya di ranjang. Mengekang kebebasan mengungkung pergerakan kedua tangan Leyka.


"Ohh Shitt!! Kau harus melakukannya di depanku kapan kapan! Aku harus melihatmu dan aku akan mengganti delapan tahunmu sampai aku mati!" rasa cinta, rasa sayang, rasa kasihan, rasa haru dan bercampur dengan naf*su memenuhi hati Valentino yang menimbulkan sisi buas seorang laki laki muncul tiba tiba.


Dengan menekan erat kedua tangan Leyka yang terbentang ke kiri dan ke kanan, Valentino menerjang leher Leyka seakan mengulitinya dengan mulutnya yang di kelilingi bulu bulu kasar. Meragut telinga Leyka dengan rasa lapar akan gairah yang selama ini selalu saja tertahan. Valentino terus merayapi setiap incinya, meragut ketiak dan menghi*sapnya hingga memerah kehitaman. Tak terkira jeritan lirih Leyka bak bahan bakar yang semakin menyulut keganasan Valentino yang mengekang kedua tangan Leyka.


"Aa.. aa... aa... hhh.. Aaargh! Va... aaa.. aall! Aaaaahh!" hanya liukan tubuhnya menggeliat dengan pinggulnya sesekali terangkat keatas.


Hingga tibalah Valentino di buah dada Leyka yang menantang, menyembul sempurna dan siap menenggelamkan wajah Valentino. Perlahan Valentino melepaskan kedua tangan Leyka dan tangan itu berpindah mencengkeram kedua buah dada itu. Valentino menatap lingkar merah muda yang menggiurkan itu lalu menjulurkan lidahnya kemudian mutar lidahnya mengelilingi lingkaran di buah dada Leyka.


"Aahh.. Vall.. Aaaah" Leyka menjerit lirih dimana itu adalah letak area buah dadanya yang sangat sensi*tif. Dan yang membuat Leyka semakin menjerit lirih adalah saat Valentino meng*ulum dan menyapu pu*tingnya dengan bibir Valentino yang disertai gesekan bulu bulu kasar di sekitar mulutnya.


"Sshhh.. Aagh.. Sshh.. Uhhmm-- Aahh.. Indah sekali Ley" desis Valentino disela sela melu*mat bagian demi bagian payu*dara Leyka yang tidak pernah membuat Valentino bosan untuk terus meragutnya hingga terasa pedih.


Vall...Aaahh.. Sak..kiitt.. Oohh" rin*tihan Leyka tak dihiraukannya, Valentino terus menerjangnya.


Valentino mendorong tubuhnya menuruni perut Leyka, meninggalkan titik titik kemerahan, jejak kepemilikan yang terlampiaskan. Bukan hanya hasrat dan, na*fsu namun juga perasaan cinta, rasa memiliki, serta pengakuan banyak berbicara lewat sentuhan mereka. Perasaan mereka semakin terpaut dalam dan bebas mengembara menyambut cinta itu sendiri yang sesungguhnya telah hadir delapan tahun yang lalu.


Dengan penuh perasaan Valentino merebahkan tubuhnya saat Valentino tiba di tempat yang membuat kesadarannya menghilang untuk sesaat. Irisan buah Peach, Valentino menjuluki milik Leyka yang masih terlihat ranum.


"Aku merindukanmu, Peach" bisik Valentino mendekatkan mulutnya di irisan buah peach, nafas Valentino yang memanas membuat Leyka kembali mende*sah panjang.


"Aaa...aaa... aaaa.. aahh.. Val.. Va..aa..all"


Leykapun mencengkeram rambut Valentino menahannya agar menyingkir namun justru Valentino memainkan ujung hidung pinokionya, menghirupnya, menciumnya lalu meragutnya dan mencumbunya dengan beringas.


Sel sel darah Leyka serasa mendidih dan memanas, ia hanya pasrah saat tangan kokoh Valentino mencengkeram kuat pahanya agar terbentang. Pinggulnya meliuk liuk, Leyka tak kuasa lagi menahan menggeloranya gejolak hasrat yang kian menggebu, dengan menegang Leyka menautkan kakinya di pundak Valentino yang terus melu*mat bagian demi bagian irisan buah peachnya yang semakin memerah.


Leyka hilang kendali, ia menegang dan tak bisa mengontrol hasratnya yang tertahan. Tak perduli Valentino semakin membenamkan mulutnya, Leyka menghimpit leher Valentino dengan kedua pahanya yang menegang hebat.


"Aaaahh Val.. Aahhh.. Vall.. Ohhh.. Sshh.. Vaallll! Hentikann! Sshhh Aaaa.. aaaargh" Leyka menjambak rambut Valentino kuat kuat, pinggulnya terangkat dengan menegang, Valentino menghentikan aksinya ia tahu Istrinya mencapai titik pun*cak hasratnya. Leyka melepaskan segalanya dengan merin*tih rin*tih.


"Ley.. Ley.. Shhh.. Leyy--- Valentino berusaha mengurai paha Leyka namun sia sia, ia pasrah menahan mulutnya yang terbenam di irisan buah Peach, Valentino memilih menyelamatkan nafasnya karena himpitan kedua paha Leyka membuatnya kesulitan memperoleh udara. Ia lebih memilih menikmati getaran irisan buah Peach yang berde*nyut indah.


Shitt!! Wanita siluman ini.. Mencekikku.. Shiitt.. Torres benar..


"Aaaa.. aaaa.. aahhhh" segalanya melebur indah di puncak ketinggian, Leyka melepaskan hasrat bio*logisnya diantara adrenalinnya yang terpacu, perlahan ia mengendurkan kedua pahanya dengan terengah engah lelah.


Valentino mengurai kedua paha itu lalu ia merangkak naik dan menin*dih tubuh Leyka yang memerah, keringat mulai bermunculan. Valentino tersenyum melihat Leyka merasa puas dengan kedua tangannya masih mencengkeram sprei.


Leyka memalingkan wajahnya kearah samping saat Valentino menatap wajahnya dengan tersenyum, Valentinopun mengejar wajah itu dengan memiringkan kepalanya. Ia tahu Leyka merasa malu lalu kesempatan itu di gunakan untuk mendekatkan bibirnya ke telinga Leyka.


"Sekarang giliranku, Peach !" Leykapun membulatkan matanya dan menelan salivanya.


-


-


-


Seharusnya cuma satu bab.. cuma banyak kendala.. jadi ya diselipin Train pulang sekolah agar lolos review.. Lanjutannya besok karena batesnya HANYA 3000 KATA PER BAB NYA, BOSQYU.. Dan kalo nemu bahasa Meragut itu sastra lama yg msh dipake ya.. kl mau tau liat gugel kl males aku saranin liat kambing kl lagi makan rumput tetangga wkwkwkwk merumput bosqyu.. nyam nyam nyam kres kres kres.. 🤣🤣 nah itu gerakan bibir meragut.. halahh mbrakoot itu lohh.. ck.. nguntal 🤣🤣


VOTE GIFT BOLEH DISINI YA BOSQYU.. DARIPADA DI CEKIK PAKE PAHA VALENTINO LOHH... PELLIIIII..SSSS 🤣


(malak hot) 🤣


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2