FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
PRETORIA : Persetan Dengan Cinta


__ADS_3

...3 Day's Left...


Kedua tubuh telanjang itu tergolek di ranjang, perapian terlihat padam dan menyisakan abu yang menyelimuti sebagian arang yang masih membara. Selimut elektrik yang mengeluarkan hawa yang hangat, masih menyelimuti mereka. Castello Di Monte, di ketinggian Pretoria menebarkan hawa yang kian dingin di pagi hari. Apabila di musim gugur hingga musim dingin, kota itu bisa berada di titik 0⁰ Celcius.


Waktu menunjukkan jam 10.00 pagi dan mereka masih saja tertidur pulas setelah, pertempuran yang panjang. Sudah pasti, permainan sesaat mereka di dalam mobil, di bawah rindangnya bunga magnolia, di tepian danau, di Magnolia Dell Park, tidak membuat mereka puas setelah menghabiskan waktunya di Cafe Huckleberry.


Seperti guling, Valentino memeluk tubuh Leyka dari belakang. Efek obat penurun demam yang di minum Leyka sebelum tidur, membuatnya terlelap diantara kelelahannya karena ulah Valentino. Bahkan eksistensi jagung bakar Afrika Selatan di pagi hari yang mengganjal di pinggul belakangnya, Leyka tidak merasakan apapun. Dia sangat terlelap seperti putri tidur.


Valentino mengerjapkan matanya saat hawa dingin menerpa tengkuknya, sekilas ia melihat punggung mulus tubuh Leyka yang dijadikan guling olehnya, ia menarik selimut pemanas elektrik hingga menutupi kepala belakangnya, ia kemudian mengeratkan pelukannya, rasa tidak nyaman saat miliknya menegang di pagi hari mulai meresahkannya.


Tanpa pikir panjang dan dalam keadaan mata terpejam, Valentino mengarahkan miliknya dimana semalam ia bersarang. Ia mengangkat paha Leyka dari belakang lalu memasukkan miliknya perlahan, Valentino mendorong pinggulnya kemudian melesakkan ke dalam sekat demi sekat lorong sempit yang begitu lembut didalamnya.


"Ssshh.. Ley" desah Valentino di tengkuk Leyka saat miliknya terbenam seluruhnya.


"Ngghh" lenguh Leyka dengan menutup matanya.


Valentinopun menggerakkan pinggulnya maju mundur memacunya lembut penuh penekanan. Nafasnya terdengar kasar mendengus liar di tengkuk Leyka yang hanya bisa pasrah dan melenguh, matanya enggan sekali terbuka.


"Oohh.. Sshh... Ley" bisiknya lirih.


"Hmmm.. Nghh.. Nggkk.. Hmmm" Leyka tidak berdaya, ia hanya melenguh dengan merapatkan tubuhnya seiring dorongan milik Valentino yang melesat jauh kedalam. Posisi dari belakang secara otomatis membuat milik Leyka mencengkeram kuat milik Valentino.


"Haaahh... Ley.. Aaahh.. Sshh.. Ley.. Maafkan aku.. Sshhh.. Aaarrghhh" dan tidak membutuhkan waktu yang lama Valentino meledakkan hasratnya, ia mendekap dada Leyka dan mengerang ditengkuk Leyka dengan memberi gigitan juga hisapan disana. Leykapun meremas lengan Valentino sekuatnya, saat ia justru menegang, dengan dorongan Valentino yang melemah di sisa tenaganya. Kaki Leyka justru mengejang dan menggigit tangan Valentino yang melingkar di dadanya, Leykapun meledakkan gairahnya yang memuncak.


"Aku bisa merasakan denyutanmu" bisik Valentino dengan tersenyum puas. Ia pun hanya menarik bathrope memberi pemisah antara pinggul belakang Leyka dan senjata miliknya yang telah bersembunyi di rimbunnya hutan Amazonnya. Namun justru Leyka membalikkan tubuhnya dan tenggelam semakin dalam di hangatnya tubuh Valentino yang dipenuhi bulu bulu kasar. Sesekali ia menghirum aroma sexy pria ini, parfum yang telah bercampur keringat bekas percintaannya semalam, Leyka sangat menyukainya. Dan akan merindukannya.


...*...


Waktupun bergulir dimana kedua orang asing itu telah bersantai di balkon yang terpisah dengan kamarnya, tempat untuk menikmati makan pagi, siang atau malam bila mereka tidak kemana mana. Mereka bermalas malasan dan tidak punya rencana apapun di hari itu. Mereka menyantap makan siang di hotel Castello Di Monte setelah Leyka memesan menunya. Cuacanya sangat cerah, matahari bersinar cukup banyak di siang hari, namun udara disekitarnya tetap saja dingin.


"Leyka, dua hari lagi kamu yakin akan kembali? Kau bisa menundanya, aku akan menanggung biayanya dan kita bisa mengurusnya ke kedutaan" Valentino meneguk minuman anggur putih, setelah menelan beberapa potong steak domba ala Afrika kemudian ia memotong kembali bagian demi bagian steak itu.


"Val-- Leyka meletakkan pisau steaknya dan Valentino buru buru memotong perkataan Leyka.


"It's Okay, aku tau jawabanmu. Kau akan ke Barcelona. Kau akan menghabiskan waktumu di sana lalu kembali ke Palma mengambil semua barang barangmu dan kembali ke Barcelona untuk menetap"


"Kau tau jawabannya Tuan Asing, kita telah membahasnya ribuan kali, kau tau pasti aku hanya 10 hari di Pretoria, setelah itu aku akan kembali" setelah menanggapi perkataan Valentino, Leyka melahap makanannya. Valentinopun terdiam dan merasakan ulu hatinya sangat nyeri.


Tuan Asing, seperti inikah rasanya saat aku memanggilmu Nona Asing. Sakit sekali.. Tidak.. Apa kau juga merasakan sakit di ulu hatimu, Ley.. Batin Valentino.


"Leyka, apa yang kau rasakan saat aku memanggilmu Nona Asing?" tanya Valentino penasaran.


"Seperti sebuah peringatan bahwa aku tidak boleh melampaui sebuah batasan" jawab Leyka sambil memotong kembali irisan daging domba dan dilahapmya kemudian.

__ADS_1


"Jadi seperti itu-- Ley, apakah kau mau berjanji? Ehm, maksudnya kita"


"Berjanji? Untuk??"


"Kita jangan saling memanggil dengan sebutan Nona dan Tuan Asing, entahlah aku tidak menyukainya" Leyka tersenyum dan mengangkat gelasnya kearah Valentino.


"Aku tidak akan memanggilmu Tuan Asing" Valentinopun menyambutnya dan mendentingkan gelasnya.


"Aku juga tidak akan memanggilmu Nona Asing" kata Valentino kemudian. Merekapun menyesap anggur putih itu secara bersamaan.


"Kau akan kemana setelah dari Pretoria?" tanya Leyka, meletakkan garpu dan pisau steaknya setelah suapan terakhir.


"Aku akan mengantarmu ke Capetown dan menghabiskan waktuku disana selama dua minggu dan aku akan kembali ke Italy"


"Hmm, aku dengar Port Elizabeth bagus kau bisa menyeberang ke Madagascar dari sana" ada nada kesedihan disana, Leyka menyiapkan penutup mulut, mengambilkan untuk Valentino dan diletakkan di dekatnya, ia pun mengambil untuknya lalu ia menyantapnya. Rasanya seakan pahit saat Leyka menyantap creme bruelle dengan taburan kismis.


"Aku mau menyelesaikan proyekku saja di samping Ludwig's Rose, kantor pusatnya ada di Capetown. Bertha di pecat karena itulah aku kemarin bertemu dengannya. Ada berkas yang harus aku tanda tangani, sebenarnya itu bukan berkas penting, aku hanya mencoba liburan sambil bekerja saat kau pulang-- Ley, aku ingin ke Namibia, ada tempat eksotis disana. Tapi, aku harap itu denganmu" Valentino memandang sangat serius wajah Leyka, di tatapnya dengan sangat dalam. Matanya tak berkedip bahkan saat Valentino menyesap white wine dari cawan kaca yang digenggamnya itu.


"Maafkan aku, Val" Leyka menghela nafas berat dan menoleh ke samping untuk sesaat lalu kembali melemparkan pandangannya kearah Valentino yang selalu menatapnya lekat lekat.


"Ke Italy tidak mau dan menunda kepulanganmu, kamu juga tidak mau" keluh Valentino dengan nada putus asa.


"Val, aku harus menyiapkan segala sesuatunya, tempat tinggalku, pekerjaanku, kehidupanku. Aku harus mengenal keluarga Ayahku, Val. Aku harus mengosongkan Apartemen yang di berikan padaku agar aku bisa menempatinya" Valentino terdiam dan menyeka mulutnya dengan serbet dan menyesap white wine terakhirnya. Ia butuh makanan manis untuk menekan perasaannya karena itulah Valentino langsung menyantap creme bruelle yang Leyka siapkan.


"Leyka, kau tidak pernah mengatakan se detail ini, karena itulah keprawananmu adalah malapetaka?"


"Val, Ibu akan mengurungku kalau sampai aku pulang. Dan kau tau, salah satu keturunan Keluarga Kerajaan Juan Carlos I, ada yang berusia 48 tahun dan belum menikah. Dia salah satu junior Locki di Chambrige, mereka berkawan baik dan dia ingin di nikahkan denganku-- Apa kau bisa bayangkan bila aku kembali ke Palma sebelum Ibuku pergi ke Madrid? Mereka akan memberikan aku padanya, pesta pernikahan akan di gelar, Val" Valentino berdebar mendengarnya, ia pun bangkit berdiri dan duduk di sebelah Leyka lalu di raihnya jemari Leyka kemudian digenggamnya.


"Pergilah bersamaku ke Italy dan aku akan memberikan kehidupan yang lebih baik disana" Valentino menciumi kedua jemari Leyka secara bergantian ada perasaan yang kian menikam hatinya saat Valentino mengatakannya.


"Val, apa kau tahu mengapa aku dengan mudahnya memberikan keprawananku padamu?" Valentino terdiam dan menggelengkan kepalanya, ia masih menciumi tangan Leyka dalam genggamannya.


"Val, itu karena bila aku tertangkap di Palma dan di nikahkan. Setidaknya laki laki tua itu tidak mendapatkan apapun dariku, walaupun itu tidak setimpal. Dia bisa menceraikanku dan aku akan kembali bebas, Val"


"Bagaimana bila dia jatuh cinta padamu dan tidak perduli kau virgin atau tidak? Leyka, kau bisa membuat laki laki manapun jatuh cinta padamu" Valentino memberi satu kecupan di pipi dan belaian lembut di rambut Leyka kemudian.


"Maka pilihanku ada dua. Bertahan atau kabur. Aku akan meminta suaka dari Inggris atau Belanda"


"Kenapa kau tidak meminta suaka ke Italy?"


"Karena disana tidak ada kerajaan yang mengenal keluarga Felipe"


"Ada Leyka-- Raja Pinokio. Kau tau kan Pinokio berasal dari Italy. Akulah Rajanya" Kelakar Valentino berhasil menghadirkan senyuman dan tawa seorang Leyka Paquito bak matahari terbit. Valentino berdebar melihatnya.

__ADS_1


"Val, kenapa kau selalu memintaku ke Italy. Mengapa bukan kau saja yang ke Barcelona" Valentino melepaskan genggamannya perlahan dan menghela nafas panjang.


"Ley, apa yang kau tawarkan bila aku di Barcelona bersamamu? Kau bekerja dan aku bekerja dari titik nol, kita akan tinggal di Apartemenmu yang sempit itu? Kehidupan apa yang akan di tawarkan Barcelona sampai aku harus meninggalkan negaraku. Italy telah memberikanku kehidupan yang sangat baik Leyka. Karirku, Usaha Keluargaku. Apa kau tau Locomotove Machine terbesar di Benua Eropa dan kini merambah ke Asia adalah milik Keluargaku. Itu akan diwariskan kepadaku dan kakak kakakku kelak" Leyka terdiam dan hanya tersenyum sinis.


Tersinggung? Sudah pasti. Mulut orang Italy tulen sangat terkenal meremukkan bahkan menghancurkan. Mereka sangat tidak mengenal basa basi. To the point, tegas, lugas dan sangat berprinsip kuat bahkan cenderung sangat idealis. Leyka kembali melahap hidangan penutupnya, menutupi wajah memerahnya karena Valentino berhasil menamparnya dengan kata katanya.


"Kau tau kan? Pendapatan perkapita di Spanyol jauh di banding Italy. Seandainya aku mencari pekerjaan disana, mereka tidak bisa menggajiku seperti di Italy, Leyka. Income di Spanyol sangat kecil, mungkin dengan kau bekerja, gajimu habis untuk hidup sehari hari. Ayolah Leyka, jangan naif. Tidak mungkin kita hanya akan makan roti saja dan berpikir harus menghemat!" sekali lagi Valentino menampar Leyka dengan perkataannya, Leyka seakan menahan bongkahan batu di tenggorokannya.


"Apa uangmu tidak cukup untuk hidup di Barcelona? Apa kau sangat miskin sekarang?" Pertanyaan Leyka begitu dingin, namun Valentino justru tertawa.


"Uangku memang banyak Leyka, tapi aku belum mencapai targetku. Penthouse, mobil yang aku punya sekarang, itu belum memenuhi mimpiku, aku ingin membangun rumah di pinggir pantai-- Leyka mengerutkan alisnya dan meletakkan sendoknya, sekujur tubuhnya seakan dingin --Ehm, maksudku tidak harus dipantai. Pokoknya rumah yang megah, dari tanganku sendiri bukan uang keluargaku"


"Rumah di pinggir pantai, jadi itu mimpimu bersama Rebecca, kau masih ingin mewujudkannya? Aku lebih baik tinggal di gubuk daripada tinggal rumah di pinggir pantaimu itu" Dan lagi lagi Valentino meremukkan hatinya, Leyka menyadari siapa dirinya, hanya wanita asing yang sesaat datang kemudian pergi. Leyka akhirnya mengingat tentang aborsi yang akan di lakukan Rebecca, pedih rasanya mengetahui Valentino masih ingin membangun mimpinya sekalipun itu hanyalah sebentuk rumah.


"Daripada di Apartemenmu, aku lebih memilih rumah di pinggir pantai sekalipun itu mimpi Rebecca. Kau bangsawan Leyka dan kau bisa tinggal di apartemen sesempit itu? Itu dua kamar tipe studio Leyka, bagaimana kau akan bernafas?" Sekujur tubuh Leyka seakan kaku. Dan Valentino berhasil menancapkan belati di hati Leyka dengan sangat dalam. Valentino berhasil membenamkan seluruhnya dan itu sangat menyakitkan.


"Apakah Oksigen bisa memilih antara gubuk dan rumah pantai, Val?" dan Valentino terdiam.


"Hidup liar dan bebas, aku menyukainya, Val. Kita tidak akan pernah sejalan. Kejarlah mimpimu dan aku akan mengejar mimpiku walaupun aku tidak punya mimpi. Kita hanya orang asing yang saling memanfaatkan, Val. Kita sama sama lari dari rasa luka dan dipertemukan disini" Menolehpun tidak. Bahkan saat Valentino menggenggam tangan Leyka, ia hanya menatap bunga mawar dari Ludwig's Roses di kejauhan, dari tempat duduknya.


"Leyka, perusahaanku ada proyek di Barcelona tapi belum menemukan titik terang, aku minta di kirim ke sana, aku akan menemuimu nanti" Valentinopun mencium tangan robot itu, Leyka telah membeku dengan mengeratkan rahangnya.


"Semoga saja aku masih mengenalimu, aku takut kau tidak bisa bernafas bila melihat Apartemenku tipe studio dengan dua kamar"


"Ley, maksudku--


"Val, kau tidak bisa hidup seadanya, apa kau bisa makan roti hanya di olesi butter?" lagi lagi Valentino terdiam.


"Kau tidak bisa menjawabnya? Val, kau mungkin masih mencintai Rebecca hanya saja itu tertutup keegoisanmu dan rasa luka yang di berikan wanita itu. Kau masih ingin membangun rumah di pinggir pantai dan itu impian kalian. Val, aku tidak bisa hidup denganmu, dengan laki laki yang masih memendam mimpinya kepada wanita lain. Kau akan semakin membenamkan luka padaku bila aku di Italy" dan Valentino menyadari satu hal dan itu terlambat.


"Leyka, tapi aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya"


"Karena kau tidak menyadarinya. Setelah kau pulang kembali ke Italy, kau akan menyadarinya" Leyka telah bangkit berdiri dan menyambar satu pitcher berisi air putih dan berjalan menuju pot bunga mawar dari Ludwig's Roses.


"Kau akan bernafas bersamaku, di apartemenku. Percayalah disana ada oksigen" kata Leyka kepada mawar itu, airmatanya mengalir seiring air bening menyiram seluruh pohon mawar itu. Valentino melihat punggung Leyka tampak tenang, ia melihat dari belakang Leyka menyelipkan sulur rambutnya, gerakan penipuan yang Valentino tidak pernah tau, di sela sela Leyka menyelipkan sulur rambutnya ia pun tengah menyeka airmatanya.


Apa aku telah mengiris hatimu, Leyka..


Jangan datang ke Barcelona, Val.. Karena kau akan punya anak.. Aku juga yakin kau tidak akan pernah datang.. Aku akan membuatmu membenciku.. Seperti rasa benciku sekarang kepadamu.. Perse*tan dengan Cinta..


...-...


...-...

__ADS_1


...-...


__ADS_2