
Butik La Rose
Butik milik Rosemary adalah butik yang menjual pakaian pria dan wanita dengan berbagai macam brand yang mendunia. Dan Butik La Rose adalah tangan kedua dari semua perancang dari seluruh manca negara yang sangat menguasai bisnis fashion. Brand ternama sudah pasti ada di Butik La Rose. Rosemary menekuni bisnis warisan itu, sejak ia duduk dibangku perguruan tinggi.
Bersama Ibunya yang selalu berkeliling dunia, meninjau beberapa cabang butiknya, Rosemary akhirnya bertemu Pacho di Barcelona yang merupakan pria biasa. Seorang masinis dengan mimpi kecilnya yaitu menciptakan konsep kereta api yang digunakan untuk berwisata seperti di Pretoria. Namun mimpinya itu, harus ia kubur dalam - dalam sejak Pacho mengenal Rosemary, wanita dengan jutaan pesonanya yang membuat hatinya mengharu biru-- Rosemary, si penyuka warna biru karena namanya diambil dari bunga rempah, rosemary.
"Hmmmm.. Lo siento, Perdonami.. Apa perkataanku menyakitimu, Mi amor?" bisik Valentino membuat Leyka yang sedang merentangkan gaun pilihannya pun terkejut. Valentino diam diam memeluk Leyka dari belakang dan menciumi pundaknya saat Leyka berdiri di samping patung manekin dengan sederet gaun di gantung di sebelahnya.
"Ckk, iishh... Kau mengejutkanku!" wajah Leyka yang terkejut membuat Valentino terkekeh kemudian ia tersenyum seraya menciumi pipi Leyka, masih dari belakang. Valentino semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di perut Leyka, sesekali Valentino mengusapnya. Menyapa calon buah hatinya, lewat sentuhannya.
"Munequita, hanya kau yang membuat Daddy tenang. Setelah bertemu denganmu dan hanya dengan menyentuhmu Daddy sangat senang, tentram dan damai. Apalagi--- menyapa melalui irisan buah peach. Daddy sudah merindukanmu" ujar Valentino diakhiri dengan bisikan mautnya yang mendebarkan hati Leyka.
Satu tangan kekar Valentino kemudian mendekap tubuh Leyka hingga memenuhi dadanya dan satu tangannya enggan beranjak dari perut Leyka yang terlihat tak rata lagi. Bisikan itu mengalun lembut di telinga Leyka dan membuat kekesalannya --saat beberapa saat yang lalu mereka berbincang di telepon, --berangsur angsur menghilang. Mata Valentino terpejam sesaat, seraya menghirup aroma tubuh Leyka bak madat yang membuatnya kecanduan untuk menyembunyikan sejenak kemelut di hatinya.
"Hish, cepat kau nilai gaun yang kupilih" Leyka mengurai rengkuhan Valentino dengan wajah memerah, banyak pasang mata yang melihat kearahnya dan Leyka merasa risih karenanya.
Valentino justru berjalan kearah deretan gaun dan mengabaikan Leyka yang merentangkan gaun pilihannya. Leyka menggelengkan kepalanya dengan menghela nafas dalam, pasalnya gaun yang Leyka pilih tidak dilirik sama sekali oleh Valentino yang langsung mengambil satu gaun berwarna lembut yaitu soft peach dan satu mantel bulu berwarna senada dari rancangan designer kenamaan. Valentino segera menuju kasir tanpa bertanya ukuran atau Leyka setuju atau tidak. Karena lewat senyuman Leyka dan binaran matanya, Valentino mengetahui Leyka setuju dengan pilihannya.
Si, Leyka tersenyum tipis namun sangat manis melihat pilihan Valentino, elegan namun menunjukkan sisi sexy dan juga mantel bulu yang menunjukkan sisi posessifnya yang sulit dihilangkan. Mantel itu bentuk perlindungan bagi mata orang lain yang menikmati tubuh bagian atas Leyka. Sementara itu, Leyka akhirnya meletakkan gaun yang telah ia pilih lalu mengikuti langkah Valentino yang menuju ke meja kasir. Belanja cepat namun akurat dalam memilih itulah Valentino.
"Kau tidak perlu membayar gaunku. Aku boleh mengambil apapun yang aku inginkan. Ini Butik Madre dan suatu saat akan menjadi milikku" ujar Leyka saat tiba disamping Valentino dan merapatkan tubuhnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang belakang Valentino.
"Aku laki laki yang tidak pernah menyukai barang gratis apalagi untuk Istriku. Apa Damian dulu senang barang gratis dan diberikan kepadamu?" tanya Valentino seraya menyerahkan kartu debet masternya pada pelayan.
"Cck, dia tidak pernah begitu hish" jawab Leyka dengan mencebikan bibirnya.
"Ah, aku tadi bertemu Damian dan Henry. Dan aku telah mengatakan kalau kau sedang mengandung anakku. Mereka harus tahu ke per ka sa an ku" kata Valentino seraya menempelkan bibirnya di telinga Leyka dengan mengakhiri kalimatnya dengan bisikan yang penuh penekanan.
"Ckk, aku bisa bayangkan sikapmu pasti kekanak- kanakan, sombong dan arogan. Kau jangan meniru Daddymu Munequita" ujar Leyka seraya menunduk dan mengusap perutnya, seolah berbincang pada calon bayinya.
"Kau pun mengakuinya. Ayolah kau mengaku saja atau aku akan buktikan di kamar pas" bisik Valentino diakhir kalimatnya dengan terkekeh kemudian menciumi Leyka bertubi tubi dengan tatapan yang serasa menikamnya. Bukan hanya wajah Leyka yang memerah namun wajah salah satu kasir dan satu orang pelayan memerah melihat adegan manis itu. Berulang kali mereka membuang muka dan pura pura tidak melihat dengan apa yang mereka saksikan di hadapan mereka.
"Ckk, Val. Jangan macam macam! Huhh, si (iya) aku mengaku!" ujar Leyka mengurai dengan menjauhkan wajah Valentino yang setengah wajahnya dipenuhi bulu kasar dan selalu saja menyerangnya tidak memandang waktu dan tempat.
"Dimana Madre?" tanya Valentino seraya menekan enam digit pin pada card mechine setelah seorang kasir menyodorkan kearah, ia masih merangkul pundak Leyka lalu menarik kearahnya kembali tanpa jarak, lalu mengecup kening Leyka.
"Ckk, tentu saja bersama Senor Alfredo untuk makan siang. Huh, dia sering ke Barcelona hanya untuk menemui Madre dan mengambil semua perhatian Madre dariku, cihh!" Leyka pun lagi lagi menarik kepalanya menjauh dari wajah Valentino yang serasa mengungkung pandangannya.
"Hmmm, sampai kapan kau akan menerima--
"Aku tidak akan pernah menerimanya! Ingat, tidak ada yang bisa menggantikan Padre" potong Leyka secepatnya dengan menurunkan volume suaranya namun penuh penekanan matanya beredar untuk memastikan tidak ada yang mendengarnya.
"Hmm, Padre tidak akan tergantikan Mi Amor kau hanya membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk membuat Madre bahagia di sisa hidupnya-- Ingat di sisa hidupnya" kata Valentino membuat Leyka terdiam membisu.
"Mengapa kau tidak fokus melihat Madre saja, Madre membutuhkan teman bicara untuk menemani kesehariannya. Karena kau, aku dan cucu - cucunya tidak akan pernah cukup untuk mengisi kesepian di hari tuanya. Cinta Madre tetap untuk Padre yang tidak pernah menghilang, Madre pasti menempatkan Padre, khusus dihatinya dan membingkainya sangat indah -- Vamos, kita jemput jagoan kita!" ujar Valentino seraya membelai puncak kepala Leyka.
Leyka masih terdiam mendengar ucapan Valentino seraya tersenyum pada seorang kasir yang menyerahkan kartu debetnya, sementara seorang pelayan yang lain menerima dua kotak kemasan gaun belanjaannya dan siap mengantarkannya ke mobil. Bahkan Leyka tak juga bicara dan menurut saat Valentino menggamit pinggangnya lalu membawanya keluar dari Butik La Rose.
"Di sisa hidupnya-- gumam Leyka ternyata mencerna perkataan Valentino --Apa aku terlalu egois?" tanya Leyka kemudian dan itu membuat Valentino tersenyum saat menoleh kearah Leyka yang selalu terlihat cantik, segar, dan selalu mempesona.
Wajahnya itu wajah yang selalu membayanginya dan tak pernah membosankan, semakin lama menatapnya semakin membuat Valentino tergila - gila . Valentino semakin erat, merengkuh pundak Leyka seraya berjalan menuju parkir mobil yang terletak di depan butik. Mendung mulai bergelayut diangkasa, angin dingin di musim gugur berhembus kencang, namun Leyka merasakan kehangatan dalam rengkuhan Valentino.
"Semua anak yang tidak memperhatikan kebahagiaan orantuanya sudah pasti egois. Tapi aku memaklumi sikapmu. Karena anak perempuan biasanya mempunyai hubungan khusus dengan Ayahnya dan sudah pasti mereka tidak ingin siapapun mengganti posisinya" ujar Valentino membuat Leyka gelisah.
Apa itu juga yang kau rasakan pada Putrimu.. Mengapa kau tidak pernah bercerita tentangnya atau mengatakan keberadaannya, Val..
"Kau pasti mempunyai hubungan yang spesial dengan Putrimu-- ehm, maksudku jika calon anak kita adalah perempuan" ujar Leyka memancing namun buru - buru juga ia meralatnya. Valentino yang merasa Leyka tidak pernah mengetahui siapapun tentang Miu, ia pun tetap tenang dan tidak berpikir kearah sana.
__ADS_1
"Sudah pasti, semua anakku nantinya sangat spesial. Ingat, aku ingin menghamilimu setiap tahunnya" ujar Valentino mengurai pelukannya.
Leyka mendelik mendengarnya lalu Valentino terkekeh seraya mencium bibir Leyka lalu meraih kunci mobil dari saku celananya untuk membuka bagasi mobilnya. Valentino mengarahkan seorang pelayan meletakan dua kotak kemasan gaun yang bertulis La rose Boutique berwarna keemasan diatasnya ke dalam bagasi kemudian.
Ohh tidak, aku tidak mau memikirkannya.. Aku tidak mau berpikir macam macam, aku tidak mau saat aku hamil Train dulu terulang.. Sangat menyakitkan bila diingat.. Aku tidak perlu takut, Valentino suamiku dan tidak akan ada yang bisa merebutnya dariku.. Siapapun termasuk.. Miu.. Ataupun Rebecca.. Tidak ada yang boleh menghancurkan kebahagiaanku dan Train saat ini..
"Kau melamun?" tanya Valentino seraya menutup pintu bagasi mobilnya.
"Aa, tidak.. Tidak-- Ehm, dimana kau bertemu Damian dan Henry?" tanya Leyka mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Di Apartemen Golden" jawab Valentino tanpa berpikir. Ia berjalan kearah Leyka setelah pelayan itu pergi lalu meraih tangan Leyka dan menuntunnya kearah pintu depan kemudian membukakan pintu mobil untuk Leyka.
"Apartemen Golden? Untuk apa kau kesana?" tanya Leyka menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Valentino hingga memunggungi pintu mobil.
Shittttt! Aku kelepasan berbicara..
"Menemui Jared dan Torres yang mengunjungi teman kami" jawab Valentino datar. Leyka mengerutkan alisnya lalu ia menutup pintu. Ia menyandarkan tubuhnya ditepian mobil dengan bersedekap.
"Kami?" mata Leyka menyelidik dengan memiringkan kepalanya dan membuat Valentino terdiam.
"Itu artinya dia juga temanmu? Siapa? Kau tidak mengatakannya" Valentino berdebar menatap mata Leyka, Valentino melihat reaksi Leyka yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Cemburu? Pernahkah Leyka cemburu kepadanya saat di Pretoria? Valentino mengingat - ingat satu demi satu sikap Leyka. Sikap bar bar yang selalu mendorongnya menjauh, sikap yang penyayang namun selalu menganggapnya pria asing yang selalu membuatnya salah paham dan salah menilai perasaan Leyka. Padahal, Leyka sangat pandai menutupi perasaan dan Leyka pandai menghindarinya.
Leyka adalah Bangsawan bar bar yang tidak ingin jatuh pada Cinta yang salah seperti Ibunya. Pria asing yang ditemuinya di Pretoria adalah kesalahan dan Leyka tidak ingin menciptakan neraka pada hatinya dengan Cinta yang salah. Namun, Cinta itu justru semakin kuat menggerogoti hatinya, hanya saja Leyka mampu berdamai dan mengatasinya karena kehadiran Train dalam hidupnya. Cintanya pada Valentino diluapkannya pada Putranya.
"Apa kau sedang cemburu?" tanya Valentino menyisakan satu langkah di hadapan Leyka lalu merentangkan tangannya di kap mobil hingga mengungkung tubuh Leyka yang membuang wajahnya kearah samping dengan merengut.
"Aku juga baru tahu dia sedang di Barcelona. Dulu dia hanya pegawai konstruksi biasa-- Hei, jadi kau melamun dari tadi memikirkan Damian? Apa kau merindukannya?" Leyka mendengus dan menoleh kearah wajah Valentino yang condong kearahnya.
Lo siento Leyka, aku terpaksa berbohong.. Ini belum saatnya.. Sebentar lagi Il mia amor, saat makan malam nanti aku akan mengungkapnya..
"Aku tidak merindukannya" jawab Leyka datar.
"Kau melamun dan kau pasti memikirkannya kalau tidak kau tidak akan tiba tiba menanyakannya. Dua tahun kau bersamanya sudah pasti kau masih mengenangnya" ujar Valentino mengalihkan kecurigaan Leyka dengan berakting seakan akan Valentino yang cemburu dan Valentino sukses mengalihkan kecurigaan Leyka.
"Kau tidak percaya padaku?" tanya Leyka dengan lembut seraya menangkupkan kedua tangannya di dagu Valentino kemudian ia mengusap bulu bulu kasar yang tumbuh rapi disana. Mata biru itu menatap mata coklat milik Leyka lekat - lekat.
"Aku-- Valentino menghentikan jawabannya, matanya terlalu tajam mengagumi wajah Leyka yang bersinar terang siang itu lalu ia meraih tengkuk Leyka dan menariknya begitu dalam kearahnya wajahnya. Tanpa meneruskan perkataannya, Valentino melu*mat bibir Leyka dengan segenap perasaannya, sepenuh hatinya.
Leyka menyambutnya tanpa berpikir mereka sedang berada ditepian jalan. Beberapa orang menyaksikan adegan itu dengan perasaan kagum dan tersipu dengan menebarkan senyum mereka yang mengagumi pasangan yang romantis, yang meluapkan rasa cintanya.
Valentino menghimpit tubuh Leyka tanpa jarak, di sisi lain Leyka yang mencengkeram punggung kekar itu kuat - kuat saat Valentino menghi*sap lidahnya seakan ingin melahapnya. Kuku Leyka serasa menusuk punggungnya hingga Valentino mengurai pagu*tannya. Mereka saling menoleh ke kiri dan ke kanan dengan tersipu. Si, mereka baru menyadari bahwa mereka berada di tepian jalan.
"Aku percaya padamu, Senora Gallardiev. Hanya aku yang ada dihatimu, seperti halnya hatiku yang selalu ada dirimu. Kau bertahta delapan tahun yang lalu" ujar Valentino dengan senyum khasnya yang mendebarkan hati Leyka. Jemari tangan Valentino menyelipkan sulur rambutnya yang menjuntai meriap diterpa hembusan angin, di belakang telinganya. Senyum mereka masih sama. Begitu hangat dan mengunci hati mereka, senyum yang begitu membayangi langkah kehidupan yang terus berjalan sejak mereka berpisah di Pretoria.
"Valentino Gallardiev, aku pun percaya padamu" pun Leyka seraya tersenyum seraya membelai rahang kokoh Valentino dengan punggung tangannya. Bulu mata lentik milik Leyka seakan meriap seiring ia melemparkan senyuman yang memikat hati Valentino yang begitu gersang dan tanduk.
"Jangan menatapku seperti ini. Shittt!! Aku menginginkanmu Mi Esposa (Istriku). Ayo jemput Train dan kita cari hotel di sekitar Sekolah Esperanza. Kita habiskan siang ini hingga makan malam tiba-- te deseo mas (menginginkanmu lebih)" Bisik Valentino di akhir kalimat seraya menyambar bibir Leyka dengan kecupan manis. Kemudian Valentino menarik dirinya dan membuka pintu untuk Leyka yang terkesima karena bisikan Valentino, layaknya bisikan Raja Setan yang turun ke dunia dan siap membakarnya.
-
-
-
Valentino memasangkan sabuk pengaman pada Train yang duduk di jok belakang, ia duduk bersama Leyka. Setelah itu ia tersenyum seraya mengecup kening Train lalu menuju kemudi mobilnya setelah ia menutup pintu.
Di Negara maju, wanita hamil dan anak dibawah umur mendapat larangan keras untuk duduk di depan disamping kemudi. Kamera cctv lalu lintas terpasang disetiap tepi jalanan dan bila melanggar tentu saja Valentino bisa terkena sanksi. Kemudian Valentino melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan Daycare dengan bergegas. Ia takut bila Miu tidak sengaja melihatnya dan memanggilnya. Train mengetahui sikap Valentino yang tidak tenang dan ia memilih menilai sikap Valentino seperti yang biasa ia lakukan di kesehariannya dengan kejeliannya. Train kemudian memilih membuka sisa kotak bekalnya lalu perlahan lahan ia melahapnya dengan tenang.
"I don't offer my lunch to mommy and daddy-- Sorry (aku tidak menawarkan makan siangku pada Mommy dan Daddy-- maaf)" Leyka dan Valentino saling melempar pandang melalui kaca spion dan mereka tersenyum mendengar ucapan Train yang menggunakan bahasa Inggris.
"Its okay, Blue. No Problem! (tidak apa apa Blue. Tidak masalah)!" balas Valentino dengan terkekeh, ia turut menjawab singkat perkataan Train yang menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
"Daddy apakah-- kau memiliki anak selain aku di Italy? Ohh tidak aku tidak mau langsung bertanya. Dan mungkin pertanyaanku menyakiti Mommy. Oh No! Hei Blue Train hentikan rasa penasaranmu!" Train menghentikan pertanyaan yang ingin ia sampaikan.
Perbincangannya dengan Miu membuatnya penasaran. Train melanjutkan pertanyaan dalam hatinya, ia memperingatkan dirinya sendiri yang terlalu ingin tahu urusan orang dewasa. Kemudian ia menoleh kearah Leyka yang juga menunggu melanjutkan pertanyaannya.
"Apakah apa?" tanya Valentino membuat Train memutar otak cerdasnya ia sengaja memenuhi mulutnya dengan makanan agar memberi jeda untuknya berpikir hingga justru ia sibuk mengunyah makanan.
"Apakah seperti itu cara Bangsawan Red Velvet makan?" tanya Leyka menyambar tisu lalu diulurkan kearah Train dan Train menerimanya untuk menyeka mulutnya. Ia sebenarnya sangat gemas dengan wajah Putranya bila sedang makan tapi Leyka tidak menunjukkannya.
"Uhs Mommy, Train sangat lapar! Tadi aku bertemu sahabatku jadi aku lupa menghabiskan kotak bekalku karena kami asik bercerita! Uhs, aku malas sekali ke kelas drama!" keluh Train dengan bersungut seraya menyeka mulutnya.
Valentino berdebar mendengar perkataan Train, hingga ia mengenggam erat kemudinya dan Train melihatnya dengan jelas. Ia bisa merasakan kegundahan hati Valentino dengan sikapnya saja.
Ohh Shitt.. Jangan sampai Train bertemu Miu.. Bagaimana bila aku bertanya saja.. Aah, sebaiknya aku bertanya. Valentino.
"Apa kau bertemu sahabat baru atau teman baru di Daycare baru - baru ini?" tanya Valentino membuat Train menguluum senyumnya dan Leyka tidak menaruh rasa curiga sedikitpun tentang pertanyaan Valentino.
"No no no! Aku bertemu sahabat baru di bandara saat kita akan ke Palma namanya Ella" jawab Train membuat Valentino merasa lega. Ia pun memiliki segudang rencana untuk mengenalkan Train pada Miu setelah ia menceritakan siapa sosok Miu dan Ibunya saat makan malam nanti. Leyka yang pernah mendengar Train bercerita tentang Ella yang bertemu Train dibandara, pun tak merasa curiga ia justru cenderung tidak menanggapinya.
Aku tidak berbohong kan? Aku bertemu Ella sahabat baruku dibandara bukan di Daycare.. Aku tidak bersalah kan? Aku hanya ingin tau siapa Daddyku di Italy dulu..
"Sahabat? Apa Paolo ikut kelas Bahasa Inggris di Daycare?" tanya Leyka mencoba menanggapi Putranya.
"No no no! Bukan Paolo Mommy, dia perempuan" ujar Train kembali melahap makanan di kotak bekalnya.
"Oh jadi Kimberly" jawab Leyka seraya merapikan rambut Train.
"No no no! Mommy dan Daddy belum mengenalnya" ujar Train menegaskan dan berusaha berputar putar.
"Lalu kau mau bertanya apa pada Daddy, Blue?" sahut Valentino masih mengejar pertanyaan Train yang tertunda.
"Ehm-- apakah Daddy atau Mommy pernah berselingkuh?" tanya Train membuat Valentino terkekeh. Sementara Leyka membulatkan matanya mendengar pertanyaan yang tak terduga yang keluar begitu saja dari mulut Putranya.
To be continued....
-
-
-
Behind The Scene
Ahhh 3000 kata dengan up ku yg bolong2 ya Bosqyu, kesibukan menjelang lebaran yang menyita waktu dan pikiran. Nyiapin pernak perniknya dan serba serbinya belom lagi.. Saudara dan para sahabat berdatangan ke kota Solo tercinta yang bikin buyar alur demi alur yg aku bangun sedemikian rupa.
"eh eh lu msh suka baca komik ga?" tanya ponakannya si 187cm (yg ga ngerti 187cm baca aja Mencintaimu Yang Tak Terlihat alias rudal balistik Rusia)
"kadang - kadang" jawabku
"lo baca novel deh.. gilaa ada novel yg bikin gw banjir coy! Judulnya Forgotten Love On The Train! cari deh author Alsib, dia gendeng kaya lo, Shi! Hobinya malak dan kl gw liat komen2nya sih.. semuanya tuh suka dipalak! Eh sumpah lo kudu baca, Shi!"
Dan seketika aku ngangkanggg ehh ngakakk, terbeehaa kendor ehh terbahak mksdnya dan aku no komenng tetep ga ngaku kl aku penulisnya 🤣🤣🤣🤣🤣
"ga ahhh gw langsung praktek aja! Ga suka gw baca yg gitu2, gw kan kalem" seketika pada teriak "bacccoot bacoott" kondisikann wooii secara lo bok*eepp numeero uno, Shi!" 🤣🤣🤣
(baiklah aku ngaku, panggilanku Sishi)
wuahahahhahahaha... cerita temen2ku geng som*plak dikeluarga si 187cm dan aku.. yg ga tau aku ini siapa.. berharga bercangkir - cangkir kopi lohh, dan vote tentunya.. Eh satu lagi, Butik La rose itu beneran ada loh disana.. Info lagi tuh 🤣🤣
Walaupun up ku kaya nunggu durian runtuh kalian tuh tetep kudu harus harus ngopiin aku dan ngevote.. uhsss!! cepeeetttt!! 🤣🤣🤣🤣 #malak kalemm (ga mgkn itu yak) 🤣
-
__ADS_1
-
-