FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Sangat Bahagia, Malam Ini


__ADS_3

Valentino kembali mengendap endap setelah ia melompat dari balkonnya. Ya! Perkataan Leyka benar, Valentino tidak bisa tidur. Keresahan merejamnya! Ia benar benar tergila gila pada sosok wanita Spanyol yang memiliki satu anak itu.


Sejak kejadian Valentino mendatanginya saat ia tidur, Leyka selalu mengunci jendela dapur dan memindahkan sebagian pot pot bunga mawar ke balkon kecil yang menghubungkannya ke ruang dapur.


Balkon itu memang bukan untuk ruang bersantai karena memang berukuran kecil. Biasanya sebagian besar penduduk Spanyol balkon dapur di peruntukan menanam tanaman bumbu di pot, seperti allium, basil, oregano, peterseli, tyme, mint, rosemary, selada, yang tidak memerlukan perawatan secara intensif.


Setelah mengetahui jendela dapur terkunci, ia kembali ke balkon yang menghubungkan ruang tengah, dan ada dua pintu kaca yang menjadi aksesnya. Ruangan di dalamnya gelap namun kamar Leyka masih menyala. Itu artinya Leyka juga tidak bisa tidur. Segala posisi tidurnya seakan salah, semua bantal guling selimut semua dianggapnya tidak memberi kenyamanan. Ia berputar, berguling kesana kemari. Memeluk Train, menciumi Train hingga ia lelah dengan sendirinya. Leyka meminta Train tidur diranjangnya, karena Train masih dalam pemantauannya sejak ia tiba tiba demam.


Leyka menendang selimutnya dengan kesal lalu ia bangun dan bangkit berdiri. Malam kian larut dan hari telah berganti. Waktu menunjukkan pukul 00.05 waktu Barcelona. Ia menguap dan merengut kemudian. Ya! Valentino benar, ia tidak bisa tidur. Ia kemudian mengikat rambutnya, menyambar piyamanya. Ia merapikan selimut Train, kemudian ia menciumnya lalu ia keluar kamar tanpa menutupnya.


Saat akan menuju dapur, ia dikejutkan dengan suara kaca balkon di ketuk. Ia melangkah perlahan kearah sumber suara. Di balik tirai tembus pandang, Leyka melihat seorang yang sudah pasti dikenalnya dengan jelas. Valentino. Sesekali ia menggaruk lengan dan kakinya karena nyamuk nyamuk menggigitnya.


"Leykaa-- Ley, buka pintunya!" bisik Valen menurunkan volume suaranya.


"Val?" Leyka kemudian membuka pintu sambil mengikat piyamanya.


"Ley aku-- aku kehabisan bir" ujarnya dengan menggaruk hidung dan jambangnya, ia tersenyum khas dengan matanya yang masih terlihat segar. Berbeda dengan mata Leyka yang telah menunjukkan mata ngantuknya.


"Ckk, apa kau tidak bisa mengetuk dan lewat pintu dengan cara yang benar? Sikapmu tidak menunjukkan, seorang tetangga yang kehabisan bir-- Duduklah, aku akan mengambilkannya" kata Leyka membuka tirainya lebar lebar.


"Beserta pembukanya-- Ehm, aku tidak berniat pulang buru buru. Apa Train baik baik saja? Aku sangat khawatir padanya dan aku juga-- Ehm, sudah ingin bertemu, denganmu. Tapi bukan itu-- Aku hanya tidak bisa tidur-- Dan karena aku, ingin bertemu saja-- denganmu. Aku tidak--


"Katakan saja 'Already miss you' (sudah merindukanmu)-- kenapa bahasamu berputar - putar dan kau ulang ulang? Duduklah" potong Leyka merasa lelah mendengar perkataan Valentino yang berbelit belit.


Valentino sangat gugup dengan pikirannya yang berputar putar sambil mencari alasan yang tepat untuk bertamu larut malam. Valentino hanya menggaruk hidung pinokionya hingga sebagian senyumnya tersembunyi dibalik tangannya.


"Iya, already miss you, Leyka. Padahal baru beberapa jam yang lalu kita bertemu-- bahkan berdebat" gumamnya sambil duduk di sofa. Ia kemudian bangkit berdiri dan duduk lagi. Tapi rasanya tidak nyaman, ia melihat bantal berukuran besar, tergeletak di atas karpet, karpet yang sama yang diinjaknya, ia meraihnya kemudian. Dan ia juga bingung untuk apa.


Seperti ada duri di sofa yang ia duduki, ia pun duduk di karpet bulu agar rileks dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia mengedarkan pandangannya dan ia melihat Playstation milik Train. Ia tersenyum begitu saja tanpa sebab.


Langkah kaki Leyka terdengar mendekat, Valentino menegakkan duduknya dan tangannya mengulur ketika Leyka membawa sebotol bir berukuran sedang. Bir itu telah terbuka dan di tangan lainnya, Leyka menggenggam sekaleng soft drink. Leyka ikut duduk di karpet dan bersebelahan dengan Valentino yang di halangi satu bantal berukuran besar. Mereka melakukan tos dan meminum minuman mereka masing masing.


Leyka menyambut Valentino, ia ingin berusaha ramah, ia ingin berdamai agar semua rencananya berjalan dengan baik. Ia ingin mengungkapkan padanya bahwa Train adalah putranya. Ia ingin mencobanya sekali lagi. Mereka terlibat pembicaraan yang hangat, dengan suara yang setengah berbisik. Karena malam kian larut dan takut membangunkan Train.


"Jadi disinilah kita-- kita tidak bisa tidur. Humm, Train baik baik saja. Gracias (terima kasih), telah mengkhawatirkannya" ujar Leyka menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Kau mengakuinya?" Valentino mengubah posisi duduknya. Ia menghadap kearah Leyka. Tubuh bagian samping hingga ketiaknya bersandar pada sofa dan menumpukan lengan kekarnya diatas sofa lalu menekuknya agar telapak tangannya yang mengepal bisa menyangga kepalanya. Ia menekuk satu kakinya kesamping dan satu kakinya di tekuk ke atas hingga mencapai dadanya, ia meletakkan tangannya diatas lutut dengan sebotol bir ditangannya.



"Kau masih mau menyangkalnya?" tanya Leyka sambil meneguk softdrinknya.


Valentino terkekeh, "Aku mengaku, aku memang tidak bisa tidur. Bahkan sejak 8 tahun yang lalu. Aku tidak bisa tidur nyenyak" dan Valentino meneguk birnya. Leyka tersenyum dengan mendengus. Rasanya ia tidak mempercayainya.


Leyka menoleh kearah Valentino, "Apa istrimu tidak pernah menghangatkanmu?" Valentino menatap botol bir ditangannya lalu ia tersenyum, ada rasa getir yang Leyka tangkap dari raut wajah Valentino.


"Tidak pernah, dia berpetualang" bir itu kembali diteguknya, lalu ia meletakkannya di meja terdekat lalu kembali ke posisi semula, dan menatap raut wajah Leyka dari pandangan yang cukup dekat.


"Aku sudah mengatakannya-- Tidak ada yang mau mendiami sangkar emasmu, kau ingat?" Valentino tersenyum, setelah melihat Leyka meneguk kembali soft drink, Valentino meraih kaleng softdrink itu dari tangan Leyka, dan meletakkan di meja bersama sebotol birnya.


"Aku selalu mengingatnya" ujar Valentino sambil mengambil sehelai rambut di pundak Leyka yang jatuh di piyama pinknya. Leyka pun memalingkan wajahnya dengan hati yang penuh debaran.


"Dimana dia berpetualang" tanya Leyka dengan memberanikan diri menatap Valentino.


Valentino menghela nafasnya, "Barcelona, dia mencintai kebebasan"


Leyka manggut manggut dan menggedikkan bahunya. "Sama seperti aku-- Jadi itu alasanmu ke Barcelona. Apa kau sudah menemukannya?" tanya Leyka dengan menatap Valentino. Ada rasa kecewa yang menyelinap dihatinya, ia menutupi dengan senyuman tipisnya.


"Sudah" ujarnya singkat.


Aku ingin mengatakan padamu, bahwa kau istriku.. Entahlah ini tepat atau tidak.. Tapi mengapa, aku tidak sanggup mengatakannya..


"Lalu?"


"Dia-- memiliki anak dari kekasihnya-- Menurutmu aku harus bagaimana?" Valentino meraih jemari tangan Leyka yang menghangat. Sementara Leyka tersenyum dengan perasaan iba. Ia tidak menyangka jalan hidup Valentino begitu buruk sama seperti dirinya. Ia membiarkan Valentino memainkan jemarinya.


"Kalau kau mencintainya, kau harus menerimanya. Tapi bila tidak, maka lepaskan saja. Sesimpel itu" ujar Leyka membuat Valentino menghela nafasnya.


"Hanya itu?"


"Memang apalagi?" Leyka balik bertanya.


"Entahlah"


"Apa kau tidak menyukai anak anak? Sepertinya kau terlatih merawat anak" Leyka menguap dan memiringkan posisi duduknya menghadap Valentino, dengan posisi yang sama yaitu menyangga kepala dengan tangannya.


"Iya keadaan memaksaku terbiasa"


Oh shitt.. Apa aku harus cerita tentang Miu sekarang? Arrgh.. Rumit sekali... Jangan jangan ia mengira, Istriku adalah Rebecca.. Ini harus diluruskan.


"Jadi akhirnya kau menikahi Rebecca?" tanya Leyka merentangkan tangannya kearah soft drinknya, tanpa meminta Valentino tahu, Leyka ingin meminumnya.


Bingo! Untung saja kau bertanya. Batin Valentino.


"Tentu saja tidak-- Aku tidak menikah dengannya. Dia menikah dengan Ricardo" Valentino mengulurkan soft drink dan meneguknya. Valentino akhirnya mengambil botol birnya dan meneguknya. Se-saat Leyka terdiam.

__ADS_1


Lalu apa maksudnya, Rebecca mengirimkan foto Miu dan mengatakan-- Shitt.. Itu anak Valentino dan Rebecca.. Surat itu, berarti benar. Valentino, menidurinya saat mabuk dan marah besar, di Apartemen yang telah dijual. Ohh Shitt.. Pantas saja kau tidak mau mengakui padaku bahwa kau memiliki anak.. Karena kau membenci anak itu.. Ohh Val, apa yang kau alami?..


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Valentino sambil membelai rambut Leyka.


"Tidak, Aku senang mendengar Rebecca dan Ricardo akhirnya menikah-- Jadi istrimu wanita lain?" Leyka balas bertanya.


"Iya, wanita lain-- Ceritakan tentang Damian" Valentino mengalihkan pembicaraan, dengan mengacungkan botol bir ke arah Leyka dan meneguknya.


"Hahaha-- kau bisa melompat dari balkon kalau aku cerita. Atau justru sebaliknya kau melempar aku ke balkon" Leyka spontan tertawa lalu membungkam mulutnya lalu menengok ke arah kamar. Ia takut membangunkan Train.


"Hahaha-- Karena itulah aku butuh bir" Valentino nyaris berbisik dan meneguk sisa birnya, ia menghabiskannya dalam sekejap.


"Damian tahu aku tidak mencintainya, dia tahu aku dulu pernah mencintai seseorang-- Ehm. Dia adalah-- Hanya seseorang dari masa lalu. Aku dan Damian bersahabat, tapi dia sangat menyukaiku saat pertama kali kami bertemu di acara penobatanku di Palma" Ada rasa sesal kemudian setelah ia mendengar cerita Leyka, ia menyesal menanyakan Damian. Leyka benar, Valentino rasanya ingin melempar wanita siluman itu dari balkon. Valentino tersenyum tipis.


Valentino meletakkan botol kosong itu dimeja seraya berkata, "Beritamu ada dimana mana. Dan kau kabur bersama tunangan saudaramu"


"Cihh, dia bukan saudaraku-- semua berita itu sengaja dibuat Ella untuk menghancurkan reputasiku"


"Saat itu aku ke Barcelona"


"Itu artinya kau sudah menikah saat itu. Lalu mengapa kau mencariku?"


"Untuk menjadikanmu Nyonya Gallardiev-- Dan ternyata saat itu kau sudah menjadi Istriku. Seandainya aku tahu dari dulu " lanjut Valentino dalam hati.


"Hahaha-- Tidak masuk akal, lalu istrimu?" Leyka tertawa dengan suara kecil, mereka terus menahan volume suara mereka.


"Dan sekarang aku punya keinginan yang sama" kata Valentino memiringkan wajahnya dan menatap Leyka lekat lekat.


Leyka tersenyum dan berkata sangat gugup, "Val-- entah bercanda atau karena bir yang kau minum. Aku tidak mungkin menjadi Nyonya Gallardiev. Karena kau mempunyai istri dan aku akan menjadi Nyonya Vreygano. Dua tahun Val. Aku menjalin hubunganku bersama Damian, dan kami telah melewati banyak hal. Train hanya butuh waktu. Seperti hubunganmu dan Rebecca, aku hanya butuh rasa nyaman" mata Leyka membulat saat tangan Valentino mengulur ke arah leher belakangnya. Valentino mere*massnya dan memberikan sentuhannya.


"Tidak akan ku biarkan" bisik Valentino mendekatkan wajahnya ke wajah Leyka yang memerah.


"Tapi ini salah. Dan jangan membuatku menambah kesalahanku" Leyka balas berbisik.


Dan hidung Pinokio itu, kini menyentuh ujung hidung Leyka dan berbalas berbisik, "Lalu mengapa kau tidak menolaknya?"


Karena kau adalah Daddy Train.. Kalau bukan, aku sudah menendang bokongmu hingga sampai Italy.. Cintaku yang dulu, telah diwarnai Luka, Val.. Luka yang tidak ingin aku sentuh lagi..


"Aku sudah menolaknya kan? Tapi kau selalu berbuat sesuka hatimu. Kau pemaksa dan aku--


Perkataan Leyka terhenti, karena Valentino telah melu*matt bibirnya, Valentino menyesapnya dengan lembut lalu meraih kaleng softdrink dari tangan Leyka lalu meletakkan dimeja tanpa melepas luma*tannya karena Valentino menarik tubuh Leyka kedalam pelukannya.


"Katakan kau menolakku" gumam Valentino dengan menempelkan bibirnya ke bibir Leyka, lalu ia melu*maatnya lagi. Dengan lidahnya Valentino memenuhi rongga mulut Leyka dan perlahan ia membelit lidah Leyka dengan lembut.


"Aku menolakmu" gumam Leyka pun masih menempelkan bibirnya dengan nafas memburu saat Valentino kembali melu*maatnya, Leyka menyambutnya. Mata itu saling menatap, tangan Valentino merayapi pinggang Leyka dan Valentino menarik tubuh Leyka hingga berada di pangkuannya.


Pesonanya memang tidak bisa dihindari, aku selalu jatuh dalam gairahnya...Shitt..


Valentino membuka matanya, ia membelai mata Leyka yang terpejam menikmati setiap luma*taannnya, ia menyentuh bulu mata Leyka lalu pipinya dan telinganya. Leyka bisa merasakan, milik Valentino mengeras dan ia mendudukinya. Dengan gerakan lembut, Leyka menggoyangkan pinggulnya, Valentino semakin menekan pinggul Leyka dan saat itu juga, Leyka mengurai segalanya dan ia mendorong tubuhnya sendiri menjauh.


"Ahh Shiitt!! Ini tidak boleh" ujar Leyka terengah engah dan menyandarkan kepalanya di bibir sofa.


"Hahhmmm-- Valentino menggigit bibirnya dan menghela nafas panjang --Ohh Shitt! Kau membuatku pusing kepala, Ley" ujar Valentino sambil membelai rambut Leyka.


"Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tanggamu dan aku akan memperbaiki hubunganku, aku akan jujur pada Damian. Semoga dia memaafkanku" Valentino tersenyum melihat benteng Leyka. Ini seperti bukan Leyka yang ia kenal dulu, dalam hatinya ia mengagumi kesetiaannya, walaupun itu bukan untuk dirinya.


Dan tapak kaki mungil itu berjalan keluar kamar dengan merengek. Mereka menegakkan tubuhnya. Dan Leyka merentangkan tangannya kearah Train.


"Mommy.. Huu.. Mommy.. Uhmm.. Mommy.. Hiks.. Mommy..


"Oh my Baby, Carino-- Kemarilah. Apa kau mimpi buruk. Mengapa kau bangun" Leyka meraih tubuh Train dan dibawanya kedalam pelukannya.


"No baby baby.. Hiks.. No.. Hiks.. Mommy" rengek Train, membuat Valentino terkekeh lirih, disela rengekannya ia masih saja menolak dipanggil 'Baby'.


"Ah iya Mommy lupa, Carino. Mi amor (cintaku).. Mi anhelo (Rinduku).. Mi aliento (nafasku).. Mi vida (hidupku)" Leyka dengan gemas menciumi Train dengan menggoyang goyangkannya.


"Kenapa dia tidak suka dipanggil 'Baby', apa hanya karena tidak suka Damian?" tanya Valentino ikut mengusap dahi Train.


"Karena aku selalu ingin mencium Damian saat dia memanggilku Baby, aku hanya mengingat seseorang yang aku cintai. Tapi dia hanya masalalu" Valentino ingin bertanya siapa gerangan seseorang itu tapi Train menguap dan tangan mungilnya menggosok gosok hidungnya.


Train membuka matanya dan merengek, "Uncle.. Hiks.. Hu.. No.. Mommy"


"Apa aku mengganggu tidurmu? Kemarilah, mau tidur denganku?" Train merentangkan tangannya lalu Valentino meraih tubuh Train dari pangkuan Leyka lalu didekapnya dengan erat kedalam dadanya. Train kembali terpejam.


"Biasanya dia tidak akan bertahan lama, dia akan mencari aku atau Manuella" bisik Leyka.


"Tentu saja buah dada wanita adalah bantal terbaik" Valentino terkekeh, ia kemudian menepuk nepuk bokong Train.


"Cck! Tidurkan saja di bantal-- Aku akan mengambil selimut" Dan Valentino merebahkan tubuhnya bersama Train dan meletakkan kepalanya di bantal.


"Hush-a babe, don't you cry.. Go to sleep you little baby.. When you wake, you will have cake.. And all the pretty little horses.. Blacks and bays, dapples and greys, A coach and six white horses


Hush-a-bye, don't you cry Go to sleep you little baby" Valentino bersenandung, dia menyanyikan lagu 'nina bobo-nya' yang familiar di keluarganya. Leyka tersentuh dan bahkan ia tidak tahan mendengarnya, hingga ia berurai airmata. Ia mendengar dan duduk di kamar, menghabiskan airmatanya.


[ Diamlah Sayang, jangan menangis. Tidurlah kau bayi kecil, Ketika kau bangun, kau akan memiliki kue dan semua kuda kecil yang cantik. Hitam dan merah kecoklatan, belang - belang dan abu-abu, seorang pelatih dan enam kuda putih ]

__ADS_1


"Way down yonder, down in the meadow, There's a poor little lamby, Birds and butterflies flitting 'round his eyes, He's crying out for his Mama"


[ Diamlah Sayang, jangan menangis. Tidurlah kau bayi kecil. Jauh di sana, di padang rumput Ada domba kecil yang malang. Burung dan kupu-kupu beterbangan di sekitar matanya, Dia menangis untuk ibunya ]


"Mommy.. Mommy" Leyka buru buru menyeka airmatanya lalu keluar kamar dengan selimut. Ia mengetatkan rahangnya menahan keharuannya.


"Ini Mommy" Leykapun mengurai rambutnya dan merebahkan tubuhnya, ia tau Train akan memainkan rambutnya. Valentino berdebar melihat keibuan Leyka, tapi kali ini ia merasa aneh. Kecemburuan yang selalu ia rasakan sejak mengetahui Train putranya dari pria lain, mendadak lenyap. Valentino merasa ia menjadi bagian keluarga ini.


Leyka menyadari, Valentino memandanginya dengan senyuman dan membuatnya bertanya, "Kenapa?"


"Tidak, aku-- aku hanya sangat bahagia, malam ini-- Lihatlah rambutku. Train melakukannya" Valentino memalingkan wajahnya agar Leyka bisa melihat kepala belakangnya. Leyka melihat rambut Valentino tegak berdiri dan menggumpal kusut, Leyka menyadari ulah Train beberapa jam yang lalu, Leyka tertawa tanpa bersuara, dan Valentinopun tertular.


"Apa dia selalu seperti ini?"


"Hanya padaku, Manuella, dan semua rambut panjang keluarga Fernandez dan terakhir kau, bahkan Damian tidak pernah dibuat kusut rambutnya" Valentino tersenyum, dengan hati yang bergejolak, kemudian ia mencium Train dan kening Leyka.


Mereka berbicara hangat tentang kesukaan Train dan masa kecilnya. Hingga mereka lupa tujuannya masing masing. Mereka mengapit Train dalam kehangatan hingga Leyka lelah bercerita.


"Jadi, siapa yang menang perang salju?" tanya Valentino sambil memainkan rambut Leyka seperti Train.


Lama Leyka menjawabnya saat Valentino menoleh dan menimbulkan gerakan Leyka menjawab, "Nggh,, Train" lalu Leyka benar benar terlelap.


"Tidurlah Nyonya Gallardiev, Tidurlah Istriku" Velentinopun mengecup kening Leyka.


"Mommy.. Hiks.. Mana.. Daddyku.. Hikks.. Mommy" dengan terpejam, Train mengigau.


"Sshhh.. Disebelahmu" ujar Leyka tanpa sadar. Ia kemudian terlelap. Valentino tersenyum mendengarnya, padahal Leyka mengatakan yang sebenarnya. Tapi bagi Valentino, ia telah menerima Train dan rela menjadi Ayah sambungnya. Karena ia tahu, Train memberi tempat untuk kekasih Mommynya di Pretoria.


"Aku akan menjadi Daddymu, Boy" bisiknya dan mengecup Train, ia menarik selimut lalu memeluk keduanya. Ia pun kembali bersenandung, dengan menepuk nepuk paha Leyka yang menindih kaki Train hingga mencapai kakinya. Entah berapa kali Valentino bersenandung dengan menyanyi lagu All The Pretty Little Horses yang terus ia ulang ulang, hingga suaranya menghilang samar samar.


"Leyka.. Istriku.. Selamat tidur.. Il Mio Amore (cintaku)" lirih Valentino dan ia terlelap.


...***...


Dan sebuah lampu blitz dari kamera instan polaroid membuat ketiganya silau dan saling berpelukan menyembunyikan wajah mereka. Namun kamera dan lampu blitznya tidak kunjung berhenti. Kamera itu terus menyala dan mengeluarkan kertas foto yang membidik objek yang langka. Foto itu langsung tercetak dan bisa dilihat setelah mengibaskan atau meniupnya.



Train memincingkan matanya dan melihat sang Ibu baptisnya telah menjepretnya dengan tawa yang mengusiknya.


"Ibu nakal uhss!"


"Bangunlah dan bersiaplah, karena Nyonya Judith dari DINAS SOSIAL akan datang berkunjung, kau harus memberikan jawaban yang menyenangkan, karena bila tidak dia siap membawamu kapan saja" Train diam dan Manuella tidak berhasil membangunkan Train.


"Apa kau yakin tidak mau melihatnya? Ini wajah jelek kalian" goda Manuella. Dan Train sontak bangun dan berlarian kearah Manuella.


"Biar aku saja! Biar aku saja!" Train melompat lompat meraih kertas foto yang masih belum muncul gambar ditangan Manuella. Lalu Manuella menyerahkannya.


"Wooow Ini tidak jelek! Ibu ini bagus! Aku akan memberikannya pada Damian! Yeeyyy!" Trainpun berlarian kearah dapur mengikuti Manuella dengan mengibas ngibaskan, kertas foto ditangannya. Pagi yang hiper-aktif, dengan adrenalinnya yang memuncak, itulah TRAIN!


Sorak tawa Train dan kata 'Damian' membuat Valentino dan Leyka yang tidur berhadapan dengan berjarak, membulatkan matanya seketika.


"Ohh Shitt!" gumam Valentino.


"Ohh No!" gumam Leyka membalikkan tubuhnya dengan posisi telentang dan menepuk nepuk dahinya dengan tangan mengepal, matanya terpejam memikirkan apa yang akan ia jelaskan pada Damian bila Train memberikan foto itu.


"Hiss Manuella!" Leyka bangun dan ia menyadari bahwa semalam mereka tidur bersama. Ia menoleh kearah Valentino yang telah tersenyum kearahnya.


"Buenos dias mi esposa, (selamat pagi, istriku)"


"Hisss! Jangan bermimpi!" Leyka menyambar bantal kecil di sofa dan memukul wajah tampan yang tertawa melihat rambut kusut Leyka karena ulahnya dan Train.


Train kembali datang dengan sepotong roti, "Mommy, semalam Uncle bilang. 'Leyka istriku.. Nyonya Gallardiev.. Menikahimu' entahlah.. Sepertinya Uncle melamarmu! Yesss!! Aku akan mengatakan pada Damian!" Train kembali berlarian kearah dapur. Valentino semakin tertawa terbahak dan Leyka semakin menghajarnya dengan bantal.


"Pulang sana!"


"Ohh, Shitt Leyka. Aku tidak membawa kunci! Aargh! Aku harus melompat lagi!" Valentinopun bangkit berdiri sambil menyambar pipi Leyka dengan ciumannya lalu secepatnya ia pulang melalui balkon.


"Aku pulang dulu, Mi Esposa (istriku)" Valentino menggoda Leyka.


"Fu*cck you!" desis Leyka


"Boy, Uncle pulang dulu!"


Si Uncle!! Jawab Train dari dapur.


-


-


-


Diperkirakan Up, SeninKarenaOTWSolo.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2